Selasa, 25 September 2012

Mantra sebagai Pembelajaran Orang Dewasa

Mantra sebagai Pembelajaran Orang Dewasa


Mempelajari Weda (dan atau mantra) mencakup kegiatan yang amat luas. Kita mulai dari belajar membaca, mendengar ucapan-ucapan yang benar, menterjemahkannya, mengertikan arti kata, menginterpretasikan, merenungkannya kembali, merumuskan hasil-hasil pemikiran yang terkandung dalam Weda, menjelaskan dengan melihat relevansinya dengan gejala-gejala alam, kesemuanya itu merupakan satu paket proses belajar weda.

Mengajar dan belajar mantra Weda tidaklah sama dengan membaca biasa. Sangat edialnya usaha belajar dimulai sejak usia masih muda. Ketentuan umur dalam sistem catur Asrama dapat dijadikan patokan pegangan kapan kita bisa mulai belajar Weda. Umur termuda empat tahun dan paling terlambat kalau telah mencapai umur 22 tahun. 

Salah satu faktor terpenting dalam belajar membaca dan mengajarkannya adalah pengenalan huruf dengan suaranya. Disamping itu masalah intonasi atau tekanan suara yang tepat akan ikut pula menentukan. Karena itu yang pertama-tama adalah menguasai huruf dengan baik sehingga seorang anak dapat dapat memodulisasi suara dengan baik dan dapat pula mendengar dengan jelas perbedaan suara yang dibaca orang lain. Adapun pengucapan hruf-huruf yang dimaksud itu adalah huruf-huruf (aksara) dewanegari yang dipakai dalam bahasa Sannskerta atau mantra-mantra baik ditulis dalam huruf Dewanegari mapun tulisan Latin. 


Secara umum huruf itu dapat dibagi menjadi dua yaitu hurf hidup dan huruf mati,
Huruf hidup adalah: q,q,i,i,u,u,e,ai, o, au, r, rr, lr, llrr,
huruf mati adalah:
k, kh, g, gh ng (n),
c, ch, j, jh, n,
t, th, d, dh, n,
t, th, d, dh#, n,
p, ph, b, dh, m
s, º (sn), œ (c), h#.
Ks (ksh), tra, jn. (Puja, 1985:112-113)

Dalam pengemasan kembali informasi, dosen tidak menulis bahan ajar sendiri dari awal (from nothing atau from scratch), tetapi dosen memanfaatkan buku-buku teks yang sudah ada di pasaran untuk dikemas kembali sehingga berbentuk bahan ajar yang memenuhi karakteristik bahan ajar yang baik, dan dapat dipergunakan oleh dosen dan mahasiswa dalam proses intruksional. Informasi yang sudah ada dipasaran dikumpulkan berdasarkan kebutuhan (sesuai dengan tujuan instruksional GBPP dan kontrak perkuliahan). Kemudian disusun kembali atau ditulis ulang dengan gaya gaya bahasa dan strategi yang sesuai untuk menjadi suatu bahan ajar (atau digubah). Paulina Pannen dan Purwanto (2001:13).

Bertitik tolak dari pernyataan Paulina Pannen dan Purwanto di atas, penulis ingin mengikuti jejak yang dilaksanakannya dalam usaha memahami Mantra dan Belajar Mantra. Penulis membeli buku, meminta dan meminjam diantaranya: 
  • Kusuma Dewa Utara anom, 
  • Sang Kulputi Kesmuda Dewa (Gambar I Made), 
  • Dasar Kepemangkuan (I Nyoman saruya Atmanadhi), 
  • Tri Sandya Bersembahyang dan Berdoa (Titib), 
  • Nganteb Piodalan Alit (Ida Pandita Empu Nabe Daksa Kertha Wisesa), 
  • Diktat Pelajaran bahasa Kawi (PGA Hindu Negeri Denpasar), 
  • Agem-Ageman Kepemangkuan (Jero Gede Pasek Ringganatha), 
  • Pengantar Menuju Pedoman Sembahyang Umat Hindu (K.M.Suhardana), 
  • Catur Yadnya (Upada Sastra), 
  • Tuntunan pengastawa (Ketut pasek Suastika), 
  • Puja Walaka-Pinandhita (I.B.Bangli), 
  • Weda Parikrama (G.Pudja), 
  • Puja Tri sandya dan Kramaning Sembah (I Made Bidja), 
  • Himpunan Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-Aspek Agama Hindu I-IX (Parisada Hindu Dharma Pusat), 
  • Panca sembah (Kejayaan), 
  • Gagelaran Pemangku (PHDI Kabupaten Karangasem), 
  • Fungsi Genta Bagi Para Sulinggih/ Pemangku di Bali (Toko Buku Ria), 
  • Doa metirta, Mesekar dan Mebija (Pustaka Manikgeni), 
  • Puja Stawa Penujang Pegangan Para Pemangku dan balian (Wayan Budha Gauitama), 
  • Nitya Karma Puja (IGK Adia Wiratmadja), 
  • Persembahyangan bagi Warga Hindu (Jro Nyoman Kanca), 
  • Upacara Panca Yadnya (Sri Empu Nabe Pramadaksa Gria Agung Bungkasa), 
  • Rancangan Keputuisan pesamuhan Agung, Parisada Hindu Dharma Indonesia Tentang Tri sandya (PHDI), 
  • Puja Trisandhya (I Gede Sura), 
  • Pedoman kramananing Sembah (Foto Copy dari I Nyoman Nasa), 
  • Tri sandya (Kepala kantor agama Propinsi Bali), 
  • Pedoman Sembahyang (Pemerintah propinsi Bali), 
  • Rg Weda Mandala IX (Wayan sadia dan Pudja), 
  • Dharma Sastra, Widhi Sastra, AUM Kitab Suci Kesuma Dewa (Sri Reshi Anandhakusuma), 
  • Sipta Gama (Ida Pedanda Gede Pemaron), 
  • Kidung panca Yadnya (Wayan Budha Gautama), 
  • Tuntunan Muspa Bagi Umat Hindu (I Gusti Ketut Jaker).

Buku-buku tersebut penulis kumpulkan, dan diambil hal-hal yang mudah untuk diaplikasikan, dalam kehidupan hari-hari dalam keluarga maupun masyarakat, sebagai bahan awal untuk memahami Mantra. Untuk latihan membaca Mantra, sebaiknya dilakukan setelah sembahyang barang satu jam atau dua jam. Selanjutnya apabila sudah merasa, tertarik barulah dilanjutkan dengan melakukan Mawinten untuk diri sendiri, agar dapat merafalkan mantram sesuai dengan iramanya. Apabila semakin hari-semakin tertarik baru dilanjutkan untuk mawinten dikalangan keluarga, kalau memang disepakati bahkan dibutuhkan oleh keluarga, demikian seterusnya sampai menjadi Sulinggih.

Pada hakekatnya belajar merupakan proses dinamik yang seyogyanya dilakukan seumur hidup. Namun demikian, sering kali dibedakan hanya dalam konteks usia perkembangan yaitu antara anak-anak dan orang dewasa. Dengan demikian dikenal dengan dua perbedaan belajar yaitu pendekatan paedagogy untuk anak-anak dan Anddragogy bagi orang dewasa, yang dapat dilihat dalam tabel berikut:
Anak-Anak - Dewasa 
  1. Ketergantungan - Kemandirian
  2. Fasilitas - Aktifitas 
  3. Subyektifitas -Obyektifitas
  4. Ketidaktahuan - Kejernihan berpikir 
  5. Kemampuan terbatas - Banyak kemampuan
  6. Sedikit tanggungjawab - Banyak tanggungjawab
  7. Minat terbatas - Minat luas
  8. Mementingkan diri - Altruisme
  9. Penolakan diri - Berdamai diri
  10. Identitas diri tidak jelas - Integrasi diri
  11. Kepedulian sepintas - Kepedulian mendalam
  12. Fokus pada hal khusus - Fokus pada hal prinsipil
  13. Imitasi - Original
  14. Butuh kepastian - Toleran kepada jelasan
  15. Imfulsifness - Rasional
Berangkat dari perbedaan tersebut, pada hakekatnya andragogy, asumsi dasar dalam belajar antara lain sebagai berikut:
  1. orang dewasa dihargai kemandiriannya, sehingga dapat memutuskan bagi dirinya sendiri (otonomi)
  2. orang dewasa memiliki banyak pengalaman, sehingga dapat menggali insight bagi dirinya; dapat berurun sartan lagi pembelajaran orang lain, tetapi juga dapat menghalanginya menerima hal-hal baru.
  3. orang dewasa mempunyai kesediaan belajar hal-hal relevan baginya bagi kurun waktu tertentu. Rentang kedewasaan cukup lebar, sehingga ajakan relevansi berbeda. Setidanya dapat dibedakan dalam: dewasa muda (18-30) tahun, dewasa (30 – 55) tahun danlanjut usia (> 55) tahun
orang dewasa mempunyai perspektif waktu “kekinian” yang cukup kuat:
  • apa yang dipejarinya dibutuhkan untuk menanganni persoalan kesehariannya.
  • Cendrung berorientasi pada penangan persolanan.
  • Belajar adalah proses peningkatan kemampuan menanganni persoalan kehidupan. (Sutjipta dan Kendran, 2006:2-6).
Menurut Bloon dan Kratwohl apa yang mungkin dikuasai (dipelajari) oleh siswa (orang dewasa), yang tercakup dalam tiga kawasan:

Kognitif terdiri dari enam tingkatan:
  • Pengetahuan (mengingat menhafal);
  • Pemahaman (menginteprestasikan);
  • Aplikasi (menggunakan konsep untuk memecah-kan suatu masalah);
  • Analsis (penjabaran suatu konsep);
  • Sintesis (menggabungkan bagian-bagian konsep menjadi konsep untuh);
  • Evaluasi (membandingkan nilai-nilai, ide, metode dan sebagainya);
Psikimotor, yang terdiri dari lima tingkatan:
  • Peniruan (menirukan gerak);
  • Penggunaan (penggunaan kosep untul melakukan gerak);
  • Ketepatan (melakukan gerak dengan benar);
  • Perangkaian (melakukan gerakan sekaligus dengan benar);
  • Naturalisasi (melakukan gerak secara wajar);
Afektif, yang terdiri dari lima tingkatan:
  • Pengenalan (ingin menerima, sadar akan adanya sesuatu);
  • Merespon (aktif berpartisipasi)
  • Penghargaan (menerima nilai-nilai, setia kepada nilai-nilai tertentu);
  • Pengorganisasian (menghubung-hubungkan nilai-nilai yang dipercayai);
  • Pengalaman (menjadikan nilkai-nilai sebagai bagian dari pola hidup).
Taksonomi Bloon ini, seperti yang telah kita ketahui berhasil memberi inspirasi kepada banyak pakar lain untuk mengembangkan teori-teori belajar dan pembelajaran. Pada tingkatan yang lebih praktis, taksonomi ini telah banyak membantu praktisi pendidikan untuk memformulasikan tujuan-tujuan belajar dengan bahasa yang mudah dipahami, operasonal, serta dapat diukur. (Prasetsetya, T.t. poto copy: 12-13).
dikutip dari buku belajar memantra

Artikel Terkait