Selasa, 25 September 2012

Samkhya Darsana

Samkhya Darsana


Pendiri dari sistem filsafat ini adalah Sri Kapila Muni, yang dikatakan sebagai putra Brahma dan Avatara Visnu Kata “Samkhya” itu sendiri artinya “jumlah” dan sistem ini memberikan sejumlah prinsip-prinsip alam semesta yang sebanyak 25 buah, sehingga nama Samkhya tersebut sangatlah tepat. Istilah Samkhya juga dipergunakan dalam pengertian “Vicara” atau “Perenungan filosofis”.

Pada sistem Samkhya tak ada penyelidikan secara analitik kedalam alam semesta, seperti keberadaan yang sesungguhnya, yang merupakan susunan menurut topik-topik atau katagori-katagori, namun terdapat suatu sistem tiruan yang diawali dari satu tattwa atau prinsip mula-mula yang disebut Prakrti, yang berkembang atau mengasilkan (prokaroti) sesuatu yang lain.

Seperti telah disinggung didepan, Samkhya menggunakan 3 sistem atau cara mencari pengetahuan kebenaran, yaitu:
  1. Pratyaksa (pengamatan langsung), 
  2. Anumana (penyimpulan) dan 
  3. Apta Vakya (penegasan yang benar). Kata “Apta” artinya “pantas” atau “benar” yang ditujukan kepada wahyu-wahyu Veda atau guru-guru yang mendapatkan wahyu.
Sistem Samkhya umumnya dipelajari setelah sistem Nyaya, karena ia merupakan sistem filsafat yang hebat, dimana para filsuf Barat juga sangat mengaguminya, karerna secara pasti ia menekankan dualitas dan pluralitas, karena mengajarkan bahwa ada Purusa atau Roh yang banyak sekali. 

Samkhya menyangkal bahwa suatu benda dapat dihasilkan dari ketiadaan. Prakrti dan Purusa adalah 
  • Anadi (tanpa awal) dan 
  • Ananta (tanpa akhir; tak terbatas) 
Ketidak beradaan (Aviveka) antara keduanya merupakan penyebab adanya kelahiran dan kematian. Perbedaan antara Purusa dan Prakrti memberikan Mukti (pembebasan). Baik Purusa maupun Prakti adalah Sat (nyata). 
  • Purusa bersifat Asanga (tak terikat) dan merupakan kesadaran yang meresapi segalanya dan abadi. 
  • Prakrti merupakan si pelaku dan si penikmat, yang tersusun dari atas materi dan rohani yang memiliki atau terpengaruh orah 3 guna atau sifat, yaitu Sattvam, Rajas dan Tamas. 
Prakrti artinya “yang mula-mula”, yang mendahului apa yang dibuat dan berasal dari kata “Pra” (sebelum), dan “Kri” (membuat mirip dengan Maya dari Vedanta. 
Prakerti merupakan sumber dari alam semesta dan ia juga disebut sebagai Pradhana (pokok), karena semua akibat ditemukan padanya dan ia juga merupakan sumber dari segala benda. 

Ketiga guna tersebut tak pernah berpisah dan saling menunjang satu sama lain, serta saling bercampur. Keeratan hubungan seperti nyala api, minyak dan sumbu pada sebuah lampu. Ia membentuk substansi Prakrti. Akibat dari pertemuan antara Purusa dan Prakrti timbullah ketidak seimbangan dari tri guna tersebut yang menimbulkan evolusi atau perwujudan. Guna merupakan obyek-obyek, sedangkan Purusa merupakan subyek saksi. 

Prakrti berkembang di bawah pengaruh Purusa awal dari evolusi Prakrti adalah Mahat atau Kecerdasan Utama, yang merupakan penyebab alam semesta dan selanjutnya muncul Buddhi dan Ahamkara. Badan (perwakilan) merupakan milik dari ahamkara, yang merupakan prinsip yang menciptakan kepribadian. Dari Ahamkara muncullah Manas atau pikiran, yang membawa perintah-perintah dari ke hendak melalui organ-organ kegiatan (Karma Indriya), baik yang merupakan konsep ataupun yang merupkan (Sankalpa-Vikalpa), yang menirukan data-data indra kedalam pengamatan dan dalam hal ini pikiran mengambil bagian, baik dalam pengamatan maupun kegiatan. Dalam sistem Samkhya tak ada Prana Tattwa yang terpisah, di mana 5 Udara vital dihasilkan pikiran dan organ indra.

Sistem filsfat Samkhya disebut sebagai Nir-Isvara Samkhya atau Samkhya tanpa Tuhan, yaitu tidak mempercayai adanya Tuhan atau Isvara, sehingga sifatnya Atheis. Penciptaan berasal dari Prakrti yang ada dengan sendirinya dan tak ada sangkut pautnya dengan Purusa tertentu yang menjadikannya. Karena itu, para pengikut sistem filsafat Samkhya menyatakan bahwa tak perlu adanya pencipta yang cerdas atau bahkan satu kekuatan yang mengatasinya yang secara jelas bertentangan dengan sistem filsafat Vedanta.

Samkhya menerima teori pengembangan dan penyusutan, dimana sebab dan akibat merupakan keadaan yang belum berkembang dan pengembangan dari satu substansi yang sama. Dalam sistem ini tak ada sesuatu hal sebagai penghancuran total, karena dalam penghancuran, akibat terbawa menjadi penyebab; jadi hanya itu saja masalahnya. Jadi gambaran sentral dari filsafat Samkhya adalah akibat benar-benar ada sebelumnya di dalam penyebabnya, seperti seluruh keberadaan pepohonan yang dalam keadaan terpendam atau tertidur dalam benih (biji), demikian pula seluruh alam raya ini ada dalam keadaan tertidur dalam Prakrti yaitu Avyakta (tidak berkembang) ataupun Avyakrtta (tak terbedakan). Akibat atau hasil tidak berbeda dengan materi penyusunannya.

Samkhya memberikan suatu uraian katagori-katagori yang didasarkan pada ketepatan produktif masing-masing, yaitu:
  1. Produktif (Prakrti), 
  2. Produktif dan hasil (Prakrti-Vikrti), 
  3. Hasil (Vikrti), dan 
  4. Bukan produktif maupun hasil (Anubhayarupa).
Ke-4 klasifikasi ini termasuk 25 prinsip atau Tattwa. Prakrti atau Pradhana (pokok) merupakan produktif murni dan sumber dari semuanya, Tujuh (7) prinsip berikutnya, yaitu kecerdasan (buddhi), kekuatan (Ahamkara) dan 5 tanmatra (dasar halus) adalah hasil dan produktif. Buddhi merupakan produktif, karena kekuatan (ahamkara) berasal dari pengembangannya; tetapi juga dihasilkan dari pengembangan Prakrti. Ahamkara, disamping merupakan hasil, ia juga produktif, karena menjadi sumber dari 5 dasar halus atau tanmatra. Ke-16 prinsip berikutnya, yaitu 10 organ (persepsi dan gerak), pikiran dan 5 unsur (bhuta), hanya merupkan hasil yang tak dapat menghasilkan substansi pokok lain yang berbeda dengan dirinya.

Purusa atau Roh, bukanlah hasil ataupun produk, karena purusa tanpa atribut. Jadi keseluruhan tattwa atau prinsip itu adalah: Purusa, Prakrti, Buddhi, Ahamkara, Manas, 5 tanmatra, 10 organ persepsi dan penggerak, 5 unsur (bhuta).

Penyelidikan terhadap sistem filsafat ini adalah untuk menemukan cara menghapuskan 3 macam penderitaan, yaitu: 
  • yang didalam (Adyatmika), misalnya demam dan penyakit lain-lainnya; 
  • yang bersifat surgawi atau diluar kekuasaan manusia (Adhidaivika), seperti: panas, dingin, banjir, geledek dsb; dan 
  • yang diluar diri manusia atau mahluk lain (Adhibhautika), sperti sengatan kalajengking, gigitan ular dsb, serta penyakit akibat kelahiran. 
Menurut filsafat Samkhya, mereka yang mengetahui ke 25 prinsip tersebut, akan mencapai kebesan, karena penghentian terakhir dari 3 macam penderitaan tersebut merupakan akhir tujuan kehidupan. Samkya menguraikannya sebagai berikut: Dari pertemuan antara Purusa dan Prakrti, timbulah Mahat (yang agung), yang merupakan benih alam semesta, dimana segi psikologinya disebut Buddhi, yang memiliki sifat-sifat kebajikan pengetahuan, tidak bernafsu. 

Perbedaan antara Mahat dan Buddhi adalah sebagai berikut: Mahat, merupakan asas kosmis sedangkan Buddhi merupakan asas kejiwaan, yaitu zat halus dari segala proses kecakapan mental untuk mempertimbangkan serta memutuskan segala hal yang diajukan oleh peralatan yang lebih rendah, sehingga Buddhi merupakan unsur ke-jiwaan yng tertinggi atau instansi terakhir bagi segala perbuatan moril dan intlektual.

Dari Buddhi timbulah Ahamkara, yang merupakan sas individualisasi atau keakuan, yang menyebabkan segala sesuatunya memiliki latar belakang sendiri-sendiri (kepribadian), yang merupakan segi jiwani ahamkara tersebut; sedangkan segi kosmisnya merupakan subyek dan obyek yang masing-msing berdiri sendiri.

Perkembangan kejiwaan pertama setelah Ahamkara adalah Manas yang merupakan pusat indra yang bekerja sama dengan indra-indra lain mengamati kenyataan diluar badan manusia. Tugas Manas adalah untuk mengkoordinir rangsangan-rangsangan indra, dan mengaturnya sehingga menjadi petunjuk dan meneruskan kepada Ahamkara dan Buddhi. Sebaliknya Manas juga bertugas untuk meneruskan putusan kehendak Buddhi kepada peralatan indra yang lebih rendah. Buddhi, Ahamkara dan Manas secara bersama sama disebut sebagai peralatan bathin atau Antahkarana. 

Perkembangan kejiwaan yang kedua adalah Panca Indra persepsi (Buddhendriya atau Jnanendriya), yaitu: penglihatan, pendegaran, penciuman, perasa dan peraba. 
Selanjutnya perkembangan kejiwaan yang ketiga disebut sebagai Karmendriya atau lima organ penggerak yaitu: adya untuk berbicara, daya untuk memegang, daya untuk berjalan, daya untuk membuang kotoran dan daya untuk mengeluarkan benih, yaitu sperma dan ovum. Kesepuluh indra ini tak dapat diamati tetapi berada di dalam alat-alatnya yang tampak dan harus dibedakan dengan alat-alat itu sendiri.

Perkembangan fisik mengasilkan asas dunia luar, yang disebut unsur dan perkembangannya melalui 2 tahapan, yaitu: 
Pada tahapan pertama berbentuk unsur halus (panca tan matra), yiatu: sari suara; sari raba, sari warna, sari rasa dan sari bau. 
Pada tahap kedua terjadi kombinasi dari unsur-unsur halus yang menimbulkan unsur-unsur kasar yang disebut dengan panca mahabhuta, yaitu:
  1. Unsur suara menimbulkan akasa (ether, ruang)
  2. Unsur suara + raba menimbulkan vayu (udara)
  3. Unsur suara + raba + warna menimbulkan agni (teja, panas)
  4. Unsur suara + raba + warna + rasa menimbulkan apah (air)
  5. Unsur suara + raba + warna + rasa + bau menimbulkan prhiwi (tanah)
Akhirnya dari unsur kasar ini berkembanglah alam semesta raya ini dengan segala isinya (jagat), bumi dengan gunung-gunungnya, sungai-sungai, pepohonan serta mahluk hidup lainnya, yang kesemuanya merupakan perubahan prakerti.

Segala sesuatu yang didominasi oleh tamas kebanyakan berupa alam material, diantaranya sebagian yang termasuk bagian badan kita; tetapi yang didomiasi oleh fisik, sebab semua berasal dari Prakrti. Sekalipun demikian, karena kodratnya yang lebih halus, maka segala sesuatu yang didominasi Sattwam ini membantu Purusa dalam menyatakan obyek-obyek diluar manusia, karena Purusa bersifat pasif. Dan seluruh peralatan yang terdiri dari alat-alat bathin (Antahkarana) dengan segala alat bantunya yang bermacam (sepuluh indriya dan 5 tan matra) itu bersifat fisik dan menjadi syarat mutlak bagi purusa untuk memperoleh pengalaman. Semua ini bersifat khusus pada setiap orang dan menyertainya dalam seluruh kehidupan di dunai ini (Samsara), dan disebut tubuh halus (Lingga Sarira/Suksma Sarira). Tubuh ini tidak akan terpisah setelah seseorang walaupun badan kasarnya mati dan hanya dapat dipisahkan setalah seseorang mendapat pembebasan atau Moksa.

Badan kita yang tampak ini disebut sebagai badan kasar atau Sthula Sarira, yang tersusun atas ke 5 unur kasar atau panca mahabhuta, sehingga akan selalu berubah pada setiap saat. Didepan telah dinyatakan bahwa Purusa keadaannya berlawanan dengan Prakrti, dimanaa Purusa tidak berganda akan tetapi keadaan prakrti sangatlah kompleks, Purusa bersifat statis dan Prakti bersifat dinamis.

Purusa tidak mengalami perubahan tempat maupun bentuk, akan tetapi prakrti mengalami perubahan-perubahan. Pada diri Purusa hanya berfungsi sebagai penonton atau saksi, bukan sebagai si pelaku atau si penikmat. Hindup kejiwaan disebabkan hubungan dengan perkembangan rakerti yang menjadi alat-alat bathinnya.

Jadi singkatnya Purusa atau Sang Diri itu merupakan saksi si Pengamat (Drsta), penengah (Madyastha), satu-satunya (Kailivalya), pasif dan netral (Udasina). Purusa merupakan si pengamat yang menyatukan dirinya dengan Prakrti yang tanpa kecerdasan, seperti seorang limpuh yang menaiki bahu seorang buta, agar dapat memandang gejala penciptaan, dimana prakerti sendiri tidak dapat melihatnya. Yang lumpuh (Purusa) maupun yang buta (Prakrti) akan berpisah apabila mereka sampai ketempat yang dituju. Demikian Prakrti setelah dipengaruhi pembebasan sang Diri (Purusa), berhenti berbuat dan sang Diri mencapai Kaivalya atau kebahagiaan terakhir. Maswinara (1998:41-48)

Untuk lebih jelasnya mengenai ke 25 prinsip dalam samkya tersebut, menunjukkan bawa: Prakrti atau Pradhana (pokok) merupakan produktif murni dan sumber dari semuanya, Tujuh (7) prinsip berikutnya, yaitu kecerdasan (buddhi), kekuatan (Ahamkara) dan 5 tanmatra (dasar halus) adalah hasil dan produktif. Buddhi merupakan produktif, karena kekuatan (ahamkara) berasal dari pengembangannya; tetapi juga dihasilkan dari pengembangan Prakrti. Ahamkara, disamping merupakan hasil, ia juga produktif, karena menjadi sumber dari 5 dasar halus atau tanmatra. Ke-16 prinsip berikutnya, yaitu 10 organ (persepsi dan gerak), pikiran dan 5 unsur (bhuta), hanya merupkan hasil yang tak dapat menghasilkan substansi pokok lain yang berbeda dengan dirinya.

Purusa atau Roh, bukanlah hasil ataupun produk, karena purusa tanpa atribut. Jadi keseluruhan tattwa atau prinsip itu adalah: Purusa, Prakrti, Buddhi, Ahamkara, Manas, 5 tanmatra, 10 organ persepsi dan penggerak, 5 unsur (bhuta), untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam skhema sebagai berikut: (Tim Penyusun, 1993:120)

Dari uraian di atas dapat dapat dijelaskan kembali bahwa, pada hakekatnya Asal mula alam semesta adalah sama dengan manusia, sehingga disebut dengan istilah Buana Agung (Alam) dan Buana Alit (manusia). Pada Buana Agung Tuhan itu disebut 
  1. Purusa (Pencipta) dan 
  2. Prakrti disebut Alam nyata ini (hasil ciptaannya), pada diri manusia unsur Purusa itu menjadi Jiwatman, sedangkan unsur prakrti menjadi Badan.
Suksma sarira terjadi dari : 
  1. Budhi, 
  2. Ahamkara/Ahangkara, 
  3. Manas, 
disebut Tri Antah Karana, dengan fungsinya: Budhi berfungsi untuk menetukan keputusan, Manas berfungsi untuk berpikir, Ahangkara fungsinya untuk merasakan dan bertindak. 

Dasendriya terdiri dari sepuluh bagian yaitu: 
  • Panca budindriya; (10-16): Mata, Telinga, Hidung, Lidah, Kulit, Panca Karmendriya; (11-15): Tangan, Kaki, Kerut, Kelamin dan Anus. 
  • Panca Tanmatra; (16-20): 1). Sabda tanmatra-sari suara, 2). Sparsa tanmatra-sari rabaan, 3). Rupa tanmatra-sari warna, 4). Rasa tanmatra-sari rasa, 5). Gandha tanmatra-sari bau.
Panca Mahabhuta; (21-25): 
  1. tulang belulang, otot,daging dan segala yang padat sifanya terjadi dari PERTIWI
  2. darah, lemak, kelenjar, empedu, air badan dan segala yang cair terjadi dari rasa atau APAH,
  3. Panas badan, sinar mata dan segala yang panas dan bercahya terjadi dari rupa atau TEJA
  4. Napas dan Udara dalam badan terjadi dari sparsa atau WAYU
  5. Rongga dada, ronga mulut dan segla rongga terjadi dari sabda dan AKASA.
Dengan memelihara dan memahmi kedua puluh lima unsur ini, maka kita akan sehat jasmani dan rohani, yang dapat dikatakan mencapai jiwan mukti moksah semasih hidup, dan menyatu setelah meninggal moksah diakhirat.

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon