Senin, 02 Juni 2014

Pujangga Bhujangga Waisnawa

Bhujangga Waisnawa

Di dalam buku karangan Inyoman Singgih Wikarman yang berjudul leluhur orang Bali bahwa orang Baliaga dan Balimula adalah keturunan Rsi Markandeya yang disebut warga Bhujangga Waisnawa. Tetapi didalam kitab Negarakertagama dijelaskan bahwa Bujangga berasal dari kata pujangga yang artinya seorang penulis sastra agama, cendekiawan, sastrawan, ilmuwan, intelektual dan ahli sastra. Pada jaman dahulu Bujangga adalah seorang pendeta atau Wiku. Sang Bujangga dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu Bujangga Sugata, Bujangga Siwa, dan Bujangga Waisnawa. Ada juga Bujangasana, Bujangini Mudra, Bujangasaana cobra pose, dan Bujangga Prayata. Sebelumnya Bujangga juga sering disebut dengan sangguru.. Tapi kemudian Sangguru berubah menjadi Senguhu lalu Senguhan atau gelar suci. Kemudian kata Senguhu dihilangkan karena banyak masyarakat yang salah paham bahwa Senguhu sering disamakan dengan warga Senguhu versi Babad Pasek karangan Igusti Bagus Sugriwa.
        Kalau dalam Lontar Babad Pasek, dijelaskan bahwa Senguhu artinya Kasengguh dalam artian masyarakat biasa yang dikira seorang pendeta. Kembali ke topik Bujangga bahwa Bujangga arti sebenarnya adalah sebagai Pemuput atau bergelar Thirta Amerta Pratiwi Jhati. Tetapi kalau di India, Bujangga artinya seekor ular yang disembah atau disucikan. Leluhur Bujangga Waisnawa adalah seorang rsi yang bernama Ida Rsi Bujangga Mhustika yang tinggal di Sengguhan Klungkung. Mengenai pura kawitannya adalah di pura Lhuhur gunung Shari di desa Jatiluwih Penebel, Tabanan dan di pura Shegara Cangu disebelah pura Bhatu Bholong.
             Di dalam Lontar Kerta Bujangga dijelaskan dengan adanya konsep Tri Katrini atau Tri Purusa, Tri Lingga, dan Tri Sedaka yang artinya tiga pendeta atau sulinggih diantaranya siwa/bhur, budha/bwah, dan bujangga/swah.

Artikel Terkait