Tampilkan postingan dengan label Dewata Pawamana Soma. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dewata Pawamana Soma. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 September 2012

Belajar meMantra atau meWeda

Belajar meMantra atau meWeda


Dilarang belajar mantra, banyak orang takut belajar mantrà,
karena belum mengerti apa itu sesungguhnya mantrà disamping itu, sering mendengar sebuah kalimat; “Aywà Wérà tan sidhi phalanià”, jangan disembarangkan, perilaku yang sembarangan itu sangat tidak baik manfaatnya. Kemudian lebih lanjut tutur-dituturkan oleh tetua kita di Bali; Dà melajahin aksarà modré/aksarà suci nyanan buduh nasé. Jangan mempelajari aksarà Modré/aksarà suci, nanti bisa gila. Dua pernyataan seperti ini sudah cukup menakutkan bagi orang Bali yang lugu dan hormat kepada tutur, orang tua dan orang yang disucikan.

Maka kita tidak cukup menerima begitu saja, tutur tetua kita dan kalimat “Aywà Wérà tan sidhi phalanià”, dan Dà melajahin aksarà modré/aksarà suci nyanan buduh nasé, kalimat ini harus ditelusuri lebih mendalam. Dari mana sesungguhnya kalimat tersebut muncul, dan dari buku mana dan apa tujuannya.

Kalimat tersebut muncul dari Purwa Adhi Gama Sesana, (Ringga Natha, 2003:3) yang menyatakan: 
Yan han wwang kengin weruhing Sang Hyang Aji Aksara,
mewastu mijil saking aksara,
tan pangupadyaya/maupacara mwah tan ketapak, tanpa guru,
papa ikang wwang yan mangkana.
Bibijat wwang ika ngaranya,

apan embas/lekad tanpa guru,
kweh prabedanya,
papinehnya bawak,
yan benjangan padem wwang mangkana,
atmanya menados entipning kawah Candra Ghomuka.
Apan lampahnya numpang laku,
kananda de para Kingkara Bala,
yan manresti malih matemahan triyak yoni,
amangguhaken kesengsaran.

Arti bebasnya, 
Jika ada orang yang ingin mempelajari Sang Hyang Aji Aksara Sastra Suci, hanya dengan mempelajari Sastra buku-buku tidak dilakukan upacara, tidak anugrahi ketapak melalui nyanjan, tidak memiliki guru, berdosalah orang yang seperti itu. Tidak memiliki Bapak dan Ibu orang yang seperti itu, karena kelahirannya tidak memiliki guru, roh-nya akan mengendap didasar neraka Candra Ghomuka. Karena perjalanannya tidak menentu, dihukumlah oleh pengikutnya Kingkara bala, kalau dia lahir kembali, dia akan menjadi kotoran air yang mendidih dan akan menemukan kesengsaraan. 

Dibenarkan belajar Mantra, kalimat yang menyatakan boleh belajar mantra menyatakan sebagai berikut: 
Kewala ikang amusti juga kawenangan wehania ri wwang durung Adiksa Dwijati, ring arep anembah Dewa, amreyogakena Sang Hyang ri daleming sarira.
Arti bebasnya, 
kalau orang berkeinginan dengan sungguh-sungguh, diperkenankan juga kepada orang yang belum Adiksa Dwijati (dinobatkan sebagai pemangku atau sulinggih), asalnya disampaikan atau di buatkan upacara kecil (Canang sari) dihadap para Dewa, sebagai bukti ketulusan hati yang paling dalam untuk memahami dan mendalami apa yang disebut dengan Mantra, bagaimana tulisan mantra yang benar, dan bagaimana reng-reng mantra harus disuarakan agar mampu menyentuh sapta petala, sapta cakra dan sapta Loka.
Widyas ca wa awidyas ca, yac ca-anyad upadesyam. Sariram brahma prawisad rcah sama-atho-yajuh.
Segala macam zat memasuki tubuh manusia seperti misalnya kebijaksanaan, pengetahuan praktis, dan setiap pengetahuan yang harus diajarkan, Tuhan yang Maha Esa Yang Maha Agung (Makhluk Teragung), Rgweda; Samaweda dan Yajurweda. (Athwaweda XI.8.23).

Kalau diperhatikan kalimat tersebut inti pokoknya terletak pada, jika mempelajari Aksara Suci atau Modre harus:  
  1. diupacarai, 
  2. memiliki guru, dan 
  3. jika melanggar akan memperoleh hukuman.
Konsep upacara ada tiga, diantara tiga masing-masing dapat dibagi menjadi tiga, sehingga menjadi sembilan konsep yang dapat dipakai sebagai pedoman Nistaning Nista, dan inti dari yadnya adalah ketulusan hati, jadi dengan upakara yang kecil (cukup) Canang Sari satu tanding disertai kesucian hati, maka konsep upakara dapat diatasi. Harus memiliki guru, yang disebut guru adalah: Guru Rupaka, Guru Pengajian, Guru Wisesa dan Guru Swadhiyaya. Dengan menghaturkan satu sesaji canang sari kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, Swadhiyaya maka konsep guru telah kita lalui, maka dari itu seseorang belajar mantra akan terhindar dari segala kutuk dan hukum, sehingga dapat dikatakan bahwa untuk belajar mantra cukup dengan matur piuning di Sanggah Kemulan, yang ditengah sebagai simbolis Tuhan dalam Rumah Tangga yang sering disebut dengan Siwa Pramesti Guru.

Belajar Mantra berarti sebuah yoga, dan yoga merupakan bagian dari enam aliran filsafat Hindu (niaya, waisasika, sangkia, yoga, mimansa, weddanta). Tantra sangat meyakinkan kita akan kekuatan yoga sebagai bentuk sadhana “kubci” pengendalian zaman ini. Yoga mempersatukan Jiwa (atma) dengan Tuhan (Paramatma), Astangga Yoga memberi perincian luas dan mendalam tentang delapan tingkatan yoga: 
  1. yama (pengendalian diri), 
  2. Nyama (penyucian lahir-bhatin), 
  3. Asana (sikap duduk/tubuh), 
  4. pranayama (pengaturan nafas), 
  5. Pratyahara (pengendalian pengindraan), 
  6. Dharana (perhatian memusat), 
  7. Dyana (pemusatan pikiran), 
  8. Samadhi (menyatunya subyek-subyek). 
Pada tingkatan nyama terdapat sepuluh mental yang harus dipenuhi, yaitu: 
  1. Dana (sedekah), 
  2. Ijya (sembahyang), 
  3. Tapa (semadi), 
  4. Dyana (pemusatan pikiran), 
  5. Swadyaya (mempelajari weda-weda/mantra), 
  6. Upastanigraha (mengendalikan sex), 
  7. Brata (mengendalikan panca indria), 
  8. Upanasa (berpuasa), 
  9. Mona (mengendalikan kata-kata), 
  10. Snana (membersihkan badan). 
Meskipun sejarah telah banyak memberi warnanya tetapi konsep astangga Yoga, tetap menjadi landasan pengertian tapa, brata sebagaimana disebutkan di atas.

Secara alamiah yoga dialami sewajarnya oleh semua mahluk, karena sebenarnya sekali hanya dengan persatuan itulah semua yang ada itu ada. Keadaan inilah yang dijadikan landasan bersama dan pertama, namun keadaan sedemikian ini dalam praktek kehidupan sehari-hari sering dilupakan. Secara khusus dan teknis yoga adalah pengaktualisasikan identitas, yang sebenarnya telah ada walaupun tidak disadari.
Tidak ada pengikat yang lebih kuat dari maya, dan tidak ada kekuatan yang lain yang mampu menghancurkan ikatan itu selain Yoga. Tattwajnana atau kesejatian adalah hadiah yang paling berharga dari semua bentuk laku shadnan yoga. 

Zaman kali telah menurunkan kitab suci tantra, yaitu pengetahuan praktis yang langsung harus dipelajari dalam praktek. Kitab tersebut menuntut pemahaman hakekat yoga shadhana ritual. Pemahaman intensif memerlukan tingkat evolusi berpikir melalui praktek-prakteknya. (Granoka, 2000:15).

Dari uraian di atas menunjukkan suatu larangan yang bersifat positif, agar didalam mempelajari Mantra mengikuti sistimatika dan etika bermantra. Bali sudah memahami mantra, agar dipergunakan sebagai jalan mensejahterakan kehidupan masyarakat untuk mencapai kedamaian bersama. Paling tidak mantram itu dipergunakan pertama untuk diri sendiri seperti mantram; Pembersihan Tangan, Pembersihan Dupa, Pembersihan Bunga dan Mantram Tri sandya. Kedua untuk keluarga, seperti: Otonan anak, otonan istri dan upacara odalan kecil di sanggah kemulan milik sendiri, artinya hanya sebatas dikalangan rumah sendiri dan dilakukan upakara secara kecil-kecilan.

Etika yang harus dipegang oleh orang yang mempelajari mendalami spiritual adalah: 
Kitrcah cisyo’dhyapya ityaha: Acarya putrah cusrusur njadado dharmikah cucuh, aptah caktorthadah sadhu swodhyapya daca dharmatah.
Menurut hukum suci, kesepuluh orang-orang berikutnya adalah putra guru (yaitu) ia yang berniat melakukan pengabdiannya, ia memberikan pengetahuan, yang sepenuh hatinya mentaati UU, orang yang suci, orang yang berhubungan karena perkawinan atau persaudaraan, orang memiliki kemampuan rohani, orang yang menghadiahkan uang, orang yang jujur dan keluarga (mereka) dapat dipejalari Weda atau mantra. 

Selanjutnya dinyatakan, seorang tidak boleh menceriterakan apapun kepada orang lain kecuali kalau ditanyai; demikian seseorang hendaknya tidak menjawab pertanyaan yang tidak wajar untuk dinyatakan, hendaknya orang-orang supaya bertingkah laku bijaksana diantara orang-orang yang memiliki pengetahuan yang sederhana. Diantara kedua jenis orang itu, yang menjelaskan sesuatu yang tidak wewenangnya dan yang menyatakan pertanyaan yang bukan wewenangnya salah satu dan keduanya, akan mengalami kekeliruan atau terkena bencana permusuhan oleh orang yang lain. Sebagai bibit yang baik tidak boleh ditaburkan pada tanah yang gersang, demikian juga pengetahuan yang suci tidak seharusnya disebarkan kepada keluarga-keluarga dimana kemasyurannya dan kekayaannya yang tidak didapat dengan kesucian atau tanpa penghormatan kepada yang suci. Pengetahuan suci mendekati seorang Sulinggih (su-berarti baik, linggih berarti tempat, maksudnya orang yang dipercaya dimasyarakat, telah memiliki sifat-sifat baik) dengan berkata: 
Aku adalah kekayaan anda, peliharalah aku, jangan aku diserahkan kepada mereka yang tak percaya, dengan demikian aku menjadi amat kuat. Tetapi serahkan saya kepada seorang Sulinggih yang anda ketahui pasti ia yang sudah suci, yang bisa mengendalikan panca indranya, berbudi baik dan tekun. (Weda Smerti, 1977/1978:109-115).
Silahkan, belajarlah Mantra dan Memantra berdasarkan kesucian hati, dan ketika telah memilikinya, manfaatkanlah sesuai dengan tata dan etika dimana harus diucapkan, dan dimana harus dipujakan. Kalau orang berkeinginan dengan sungguh-sungguh, diperkenankan juga memantra kepada orang yang belum Adiksa Dwijati.

Pengertian Mantram

Mantram atau “mantra” yang biasa juga disebut Pùjà, merupakan suatu doa, berupa kata atau rangkaian kata-kata yang bersifat magis religius yang ditujukan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa. Mantram juga biasanya juga berisi permohonan dan atau puji-pujian atas kebesaran, kemahakuasaan dan keagungan Tuhan yang Maha Esa.

Kata “mantra” berhubungan dengan kata Bahasa Inggris “man”, dan kata Bahasa Inggris “mind” dan “metal”, yang diambil dari kata latin “ments” (mind), yang berasal dari kata Yunani “menos” (mind). “Menos”, “mens”, “metal”, “mind”, dan kata mantra diambil dari akar kata kerja Sanskerta “man”, yang berarti “untuk bermeditasi”. Ia memiliki pikiran yang ia meditasikan. Ia berkonsentrasi pada kata sebuah “mantra” untuk “meditasi”.

Sumber mantra. Mantra adalah suara yang berisikan perpaduan suku kata dari sebuah kata. Jagat raya ini tersusun dari satu energi yang berasal dari dua hal, yaitu dua sinar yaitu suara dan cahaya. Dimana yang satu tidak akan bisa berfungsi tanpa yang lainnya, terutama dalam ruang spiritual. Uni suara yang disebut dengan mantra bukanlah mantra yang didengar dari telinga; semua itu hanyalah manifestasi fisikal. Dalam keberadaan meditasi yang tertinggi, dari seseorang telah menyatu dengan Tuhan, yang ada dimana-mana, yang merupakan sumber dari semua pengetahuan dan kata. Bahasa filsafat India, menyebutkan sabda Brahman, kata-kata Tuhan. Semua pengetahuan tersedia bagi orang yang spiritual untuk dipakai dan diketahui. Dari sini kesadaran muncul dan menyentuh permukaan interior pikiran yang berhadapan dengan sang diri bukan merupakan indra-indra dan bagian dari dunia. Permukaan interior ini disebut dengan antah karana, pemikiran yang intuitif. Disini sinar kesadaran mengalir dan dari spiritual menghasilkan getaran mental. Pikiran bercampur dengan kesadaran yang bagaikan cahaya kilat. Dan pada momen mikro, yang sangat halus seperti keseluruhan buku weda atau semua ke 330 juta mantra mungkin akan muncul. Saat pengetahuan muncul dari kedalaman buddhi kepermukaan luar, pikiran rasional menjadi pemikiran verbal. Kata-kata itu hanyalah proses manifestasi, getaran dari frekwensi yang lebih rendah dari pada yang terlebih dahulu ada. Pikiran verbal ini dalam pikiran, disebut sebagai vaikhari oleh ahli tata bahasa dan ahli filsafat, sebuah kata berbeda. Ini hanyalah tahap pertama dari vaikhari. Sehingga apa yang disebut dengan pemunculan kata sebenarnya adalah kata-kata terselubung pada frekwensi Kata yang paling rendah. Ini diselubungi oleh lapisan pikiran yang individual. Keterbukaan yang sebenarnya terdapat dalam meditasi yang paling tinggi yang merupakan dialog tanpa kata-kata atau pertukaran dengan Tuhan dan Jiwa. (Bharati, 2004: 3,29,30).

Para ahli agama bahkan menyatakan bahwa mantram dapat menghalau berbagai macam bencana, rintangan maupun penyakit dan merupakan cara yang terbaik untuk mencapai tujuan. Mantram juga dikatakan sebagai ladang energi atau energi illahi (Tuhan) yang sangat dibutuhkan bagi kelangsungan hidup umat manusia. Dengan mantram, maka akan dihasilkan getaran energi Tuhan sesuai dengan matram yang diucapkan. Oleh karena itu setiap bersembahyang umat Hindu sebaiknya mengucapkan matram yang disesuaikan dengan tempat dan waktunya. Namun jika tidak memahami mantram yang dimaksudkan, mereka dapat bersembahyang dengan bahasa yang paling dipahami.

Umat Hindu disarankan memahami dan mampu paling tidak mengucapkan Mantram atau Puja Trisandya dan Kramaning Sembah, dua jenis mantram yang amat diperlukan pada waktu bersembahyang (Suhardana, 2005:22-23)

Ada bermacam-macam jenis mantra, yang secara garis besarnya dapat dipisahkan menjadi Vedik Mantra, Tantrika Mantra dan Puranik Mantra. Lalu setiap bagian ini selanjutnya dibagi mejadi sattwika, rajasika dan tamasika mantra. Mantra yang diucapkan guna pencerahan, sinar, kebijaksanaan, kasih sayang Tuhan tertinggi, cinta kasih dan perwujudan Tuhan, adalah sattwika mantra, dan mantra yang diucapkan guna kemakmuran duniawi serta anak cucu, merupakan rajasika mantra, sedangkan mantra yang diucapkan guna mendamaikan roh-roh jahat atau menyerang orang lain ataupun perbuatan-perbuatan kejam lainnya adalah tamasika mantra, yang penuh dosa dan perbuatan demikian yang mendalam disebut warna-marga atau ilmu hitam. 
Selanjutnya mantra juga dapat dibagi lagi menjadi tiga bagian yaitu: 
  1. Mantra, yang berupa sebuah daya pemikiran yang diberikan dalam bentuk beberapa suku kata atau kata, guna keperluan meditasi, dari seorang guru; 
  2. Stotra, doa pada dewata, yang dapat dibagi lagi menjadi; (a). bersifat umum dan (b). bersifat khusus. Stotra umum guna kebaikan umum yang harus datang dari Tuhan sesuai dengan kehendakNya, sedangkan do’a khusus adalah do’a-do’a dari seorang pribadi kepada Tuhan untuk memenuhi beberapa keinginan khususnya; 
  3. Kawaca, atau mantra yang dipergunakan sebagai benteng perlindungan. (Maswinara, 2004:7-8).

Seperti halnya mengucapkan mantram dalam melaksanakan Tri Sandya, sembahyang atau berdoa, maka dalam pengucapan mantram japa dibedakan atas empat macam sikap atau cara yakni:
  1. Waikaram Japa, yaitu melaksanakan japa dengan mengucapkan mantram japa berulang-ulang, teratur dan ucapan mantram itu terdengar oleh orang lain. 
  2. Upamasu Japa, yaitu melaksanakan japa dalam hati secara teratur, berulang-ulang, mulut bergerak, namun tidak terdengar oleh orang lain.
  3. Manasika Japa, yaitu melaksanakan japa dalam hati, mulut tertutup rapat, teratur, berulang-ulang, konsentrasi penuh, tidak mengeluarkan suara sama sekali. 
  4. Likhita Japa, yaitu melaksanakan japa dengan menulis berulang-ulang mantra japa di atas kertas atau kitab tulis, secara teratur, berulang-ulang dan khusuk (Titib, 1997:92)
Jadi dari uraian di atas menunjukkan bahwa Mantram, juga disebut Puja, dan juga disebut Japa, merupakan suatu kata-kata yang diucapkan bersifat magis religius yang ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan segala manifestasinya. Yang berisi puji-pujian dan permohonan sesuatu, sesuai dengan keinginan. Hal ini disesuaikan dengan situasi dan tempat dimana, bagaimana dan mantram apa yang harus diucapkan. 

Kemudian dalam pengucapan mantram tersebut dijelaskan, semakin keras kita mengucapkan mantram maka nilainya semakin kecil dan sebaliknya semakin kecil kita mengucapkan mantram maka nilainya semakin besar. Dan para penulispun juga dikatakan melaksanakan japa, maka dari itu karya tulis buku “Mantra dan Belajar Memantra” ini adalah sebagai Lakhita Japa, yang akan dibahas melalui tahap-demi tahap.

Belajar Mantram

Secara umum mantram dari jaman dahulu sangat dilarang oleh tetua kita di Bali, dengan istilah Aywa Wérà, tan sidha phalanià, jangan disembarangkan/dibicarakan, nanti kemujizatannya akan hilang, hal seperti itu tidak baik. Tetapi jaman semakin berkembang, maka pernyataan tersebut perlahan-lahan berubah menjadi Ayu Wérà, sidhi phalanià, sangat baik untuk dibicarakan, dan utama manfaatnya. Dari kedua pernyataan tersebut menunjukkan, apabila suatu hal dilaksanakan dengan tujuan baik, maka segala sesuatunya dapat dibicarakan atau di analisa, untuk mencapai kesempurnaan. Tetapi kalau pembicaraan untuk ke hal-hal yang negative, sebaiknya jangan dibicarakan karena akan mendatangkan malapetaka.

Kemudian secara teori, memang ada unsur larangan untuk mengucapkan Mantram, tetapi ada juga unsur yang memberikan kesempatan untuk belajar mengucapkan mantram kalau hal itu dilakukan dengan tujuan baik. Larangan yang dimaksud untuk mengucapkan Mantram adalah: 
Yan hana wwang kengin weruhing Sang Hyang Aji Aksara, mewastu mijil saking aksara, tan pangupadyaya/maupacara muang tan ketapak, tanpa guru, papa ikang wwang yang mangkana. 
Apabila ada orang yang ingin belajar Sastra, dengan tidak memiliki guru, tidak dianugrahi (ketapak) berdosalah orang seperti itu. Tetapi kalau dilakukan dengan cara yang baik (sesuai situasi dan hati nurani yang belajar Mantra), hal tersebut diperbolehkan, walaupun belum memenuhi persyaratan tersebut di atas, yang bertujuan untuk memuja manifestasi Tuhan, dengan hati yang tulus ihklas untuk mengabdi tanpa pamrih. Kewala ikang amusti juga kawenangan, amreyogakena Sang Hyang ri daleming sarira. Maka dari itu marilah kita memantra dan Belajar memantra dengan, sredaning manah.

beberapa jenis mantra

Mantram Umum

  1. Mantram Tri Sandya 
  2. Panca Sembah 

Mantram dalam Yadnya

  1. Mantram Widhi Yadnya
  2. Mantram Dewa Yadnya
  3. Mantram Pitra Yadnya
  4. Mantram Rsi Yadnya
  5. Mantram Manusa Yadnya
  6. Mantram Bhuta Yadnya

Ngayab Banten

Penghormatan, Dewa yang Berstana di Gunung- Gunung

Upakara Ngawit Mekarya Wewangunan 

Nganteb Piodalan Alit

Muput Piodalan Alit di Merajan/Sanggah

  1. Byakaonan
  2. Durmanggala (Pangastawa) 
  3. Pengulapan (Pangastawa)
  4. Prayascita (Pangastawa) 
  5. Lis (Pangastawa) 
  6. Ngosokan Lis (Pengastawa)
  7. Ngastawa linggihang dewa di Palinggih/Sanggah 
  8. Mendak Kepanggung di jaba (Baruna Astra) 
  9. Ngayat segehan ring Natah Umah
  10. Medatengan ring Sanggah 
  11. Mapiuning Indik Piodalan. 
  12. Nganteb banten di pelinggih sami
  13. Ngayab Banten Piodalan.
  14. Ngayab Banten Pangemped lan Soda aturan 
  15. Ngayab Penagi/Sesangi 
  16. Ngayab banten Sambutan durung ketus Gigi 
  17. Tri Sandya 
  18. Muspa (Ngaggem Panca Sembah).
  19. Margiang Benang Tebus
  20. Pengaksama ring Dewa Betara
  21. Nyimpen Bajra.

Dewata Pawamana Soma

  1. Resi Kasyapa, asita Atau Dewala: Canda Gayatri (Sukta 13), Canda Gayatri (Sukta 14), Canda Gayatri (Sukta 15), Canda Gayatri (Sukta 16)
  2. Upacara Bajang Colong: Banten Pasuwungan, Banten Pengelukatan di Dapur, Banten Ring Sumur, Banten Ring Sanggah Kemulan, Banten Bajang Colong, Upacara Natab Sambutan, Panglukatan Mala, Lindu Gemana, Penglukatan Panca Geni (Orang Tilas), Pecaru Gering Tempur, Penglukatan Siwa Geni, Caru Manca Rupa (dagingnya bisa diganti), Salwiring Pemanes Karang, Pengasih Buta Muang Dewa, Dwijendra Astawa, Surya Sewana (Bila sakit tidak ada obatnya), Mantram Sebelum belajar Memantra, Pawisik Dewi Maya Asih, Melapas Wewangunan Utama, Madya dan Nista 113 7.2.20. Pesimpenan 115 7.2.21. Mantram Arca Muang Mapendem Pedagingan Meru 115 7.2.22. Katiban Durmanggala 116 7.2.23. Puja Mawinten 116 7.2.24. Ananggap Dana 117 7.2.25. Penenang Jiwa yang Menderita 117 7.2.26. Ilmuwan Mengerjan Ilmu Untuk Kebaikan Manusia 118 7.2.27. Persembahan Weda Mantra 118 7.2.28. Arti Penting Penguncaran Mantra 119 7.2.29. Makanan disucikandengan Yadnya 120 7.2.30. Yadnya Menseimbangkan Dunia 120 7.2.31. Keturunan yang Melakukan Yadnya (bertambah) Baik 121 7.2.32. Tuhan Pencipta Tata Surya 121 7.2.33. Menyebarkan Sistem Pendidikan dalam Weda 121 7.2.34. Yadnya dengan Mantra Weda dalam Gayatri 123 7.2.35. Yang Jahat Harus Disingkirkan 123 7.2.36. Mengenal Tuhan Melalui Penglihtan Spiritual 124 7.2.37. Mensucikan Hati dan Jiwa 124 7.2.38. Membersihkan Air Sumur dalam Weda 125 7.2.39. Yadnya Sejak Jaman Dulu Menurut Weda 125 7.2.40. Semoga saya tida pernah melanggar-Nya 125 7.2.41. Jagalah Kami dengan Sinar Pengetahuan Spiritual 126 7.2.42. Negara yang Sejahtera 127 7.2.43. Susunan Pencernaan (Analisa) Ilmu 127 7.2.44. Sebelum Beryadnya Manusia Lebih Dulu dilindungi Tuhan 128 7.2.45. Aktif dalam Ilmu Pengetahuan adalah Yadnya 128 7.2.46. Semoga Kami melenyapkan dosa-dosa Musuh 128 7.2.47. Mengucapkan Mantra Gayatri tiap Hari, menurut Weda 129 7.2.48. Mencapai kebesaran melalui Tulisan 130 7.2.49. Berilah kami tinggal dirumah yang menyenangkan 130 7.2.50. Engkau Ajarkan (Weda) kepada Rakyat 130 7.2.51. Yang meninggalkan Yadnya ditinggalkan oleh Tuhan 131 7.2.52. Karmaphala dalam Weda 131 7.2.53. Persembahan dalam Pitara dalam Weda 132 7.2.54. Dengan pengetahuan untuk mencapai Kedewasan 132 7.2.55. Korban Api sebagai Yadnya 133 7.2.56. Api pemusnah segala macam Penyakit 133 7.2.57. Sinarnya api Naik Turun 134 7.2.58. Weda diucapkan untuk memperoleh Pengetahuan Spiritual 134 7.2.59. Pengetahuan Petir melalui Weda 134 7.2.60. Brahmacari selama 48 Tahun 135 7.2.61. Suami yang bercahaya 135 7.2.62. Engkau Bercahaya laksana Matahari 136 7.2.63. Memberi Kesengan kepada Pengantin 136 7.2.64. Perkawinan Muda berpegangganglah kepada Kebenaran 137 7.2.65. kebahagiaan hari nin, esok dan setiap hari 137 7.2.66. Lindungilah Perkawinanmu 137 7.2.67. Suami tersayang dan Pemberani 138 7.2.68. Dosa yang sadar dan Dosa yang Tidak Sadar 138 7.2.69. Guru Pemberi Rakhmat 139 7.2.70. Ajarkan dengan kata-kata yang manis 139 7.2.71. Memberi Pengetahuan Siang dan Malam 140 7.2.72. Siapa Yajamana itu? 140 7.2.73. Orang terpelajar yang berpikiran Mulia 141 7.2.74. Selenggrakan Yadnya dengan Benar 141 7.2.75. Kerjakan Yadnya Rumah Tangga dengan Weda Mantra 142 7.2.76. Mempelajari Weda dengan setulus hatimu 142 7.2.77. Weda Berkai satu, Dua, Tiga, Empat dan Delapan. 142 7.2.78. Yadnya Mantra harus di laksnakan oleh Rumah Tangga 143 7.2.79. Jinakan Pikiranmu dengan ucapan Weda Mantra 143 7.2.80. Enam belas sifat dalam Berumah Tangga 144 7.2.81. Enam Belas Kala 145 7.2.82. Ceritera Ketuhanan dari Weda 145 7.2.83. Untuk memperoleh sifat Mulia 145 7.2.84. Weda mengajarkan Azas Demokrasi 146 7.2.85. Makna dan Fungsi Gayatri dalam Weda 146 7.2.86. Suami yang tidak Beragama 147 7.2.87. Dhananjaya; memberi makan dan memelihara Tubuh 148 7.2.88. Tiga puluh empat penyangga Yadnya 148 7.2.89. Prasana Upanisad 148 7.2.90. Penciptaan dan Penguasa 149 7.2.91. Resi wasistha, Dewata: Saraswan, Sayair: Gayatri 154 7.2.92. Pemujaan Sawitri 163 7.2.93. Atharwa Weda 181 7.2.94. Sama Weda 191 7.2.95. Samkya Darsana 206 8 Weda dan Mantra 216

Weda

Mantra
  1. Mantra Upasana dan Mantra Upadesa: Pungsi Mantram, Nilai Magis Mantram
  2. Pemujaan setiap hari: Puja, Kidung, Putru, Majijiwan
  1. Orang dewasa dihargai kemandiriannya 
  2. Orang dewasa memiliki banyak pengalaman
  3. Orang dewasa mempunyai kesediaan belajar hal-hal relewan 
  4. Sastra sebagai alat komunikasi

Proses Belajar

Dari uraian di atas, secara teori ilmu apapun bisa dipelajari asal dimanfaatkan secara dewasa, artinya anak kecil atau anak muda bisa membahas Mantra apabila penerapakan dilakukan secara dewasa. Suatu “Moto” di Bali, Aywa Were tan siddhi phalanya”, kalau ilmu itu disembarangkan jelas dia tidak bermanfaat, tetapi kalau dipelajari dengan suatu sistem dengan tujuan baik “Ayu Were Siddhi phalanya” boleh dibicarakan akan sangat baik manfaatnya. Baik bagi diri sendiri keluarga maupun masyarakat dan negara. Sekaranglah saatnya kita tahu Mantra dan Belajar Memantra. Seperti bunyi bait Yayur Veda.Bagian I.19
Sarmasyawadhutaduam rakso,wadhuta aratayo’ditwastwagasi twa’ditirwettu; Dhisana ’si parwati prati twa,ditastwag wettu diwaskambhanirasi dhisana,si parwateyi prati twa parwati wettu.
Yadnya adalah pemberi kebahagiaan, menjauhkan yang egois dan sifat-sifat kikir dan melindungi daerah tempat seperti kulit melindungi tubuh. Semoga yang melakukan yadnya menyadari arti pentingnya. Penguncaran Weda Mantra yang benar-benar merupakan yandnya sendiri. Yadnya yang dilakukan pada hari tertentu juga memberi perlindungan seperti kulit melindungi tubuh. Yadnya adalah penyangga matahari yang cemerlang, perwujudan dari ceritera Weda. Semoga kami menyadari yadnya sebagai pembawa hujan dan pemberi pengetahuan spiritual.

DAFTAR BACAAN
Anom, Utara 1994. Kesumadewa. Denpasar: Percetakan Offset & Toko Buku Ria.
Anda Kusuma Sri Rshi, 1986 “Kamus Bahasa Bali Indonesia-Indonesia Bali” Penerbit. CV. Kayumas Agung.
Atmanadhi, Satrya I Nyoman. 1972. Dasar Kepemangkuan (Ke Sulinggihan). Denpasar.
Bangli, IB. 2005. Puja Walaka-Pinandita. Surabaya: Penerbit. Cetakan Pertama: Paramita
Bharati, Swami Veda, 2002. Mantra Inisiasi Meditasi & Yoga. Surabaya: Penerbit. Paramita.
Gambar, I Made. 1986. Sodasiwikerama. Denpasar: Stensilan. (Buku Yang banyak Mengandung Inti-Inti Falsafah Hindu.)
.............., 1987. Sang Kulputih Kusuma Dewa. Denpasar: Terjemahan.
Kaler, I Gusti Ketut. 1983. Tuntunan Muspa Bagi Umat Hindu. Denpasar: Penerbit Guna Agung.
Kanca, Jero. I Nyoman Tt. Persembahyangan Bagi Warga Hindu. Buleleng: Toko Buku Indra Jaya.
Maswinara, I Wayan 2004. Gayatri Sadhana Maha Mantra Menurut Weda. Surabaya: Penerbit Paramita.
Ringga Natha, Jero gede Pasek 2003. Agem-Ageman Kepemangkuan. Surabaya: Cetakan Pertama. Penerbit. Paramita
Paulina Panennen dan Purwanto, 2001. Aplied Approach, Mengajar di Perguruan Tinggi.
Penulisan Bahan Ajar. Jakarta: Buku 2.08. Pusat antar Universitas Untuk peningkatan dan Pengembanngan Aktivitas Intruksional Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.
Parisada Hindu Dharma Pusat, 1982-1983. Himpunan Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-Aspek Agama Hindu I-IX. Denpasar: Parisada Hindu Dharma.
Pramadaksa, Sri Empu Nabe, 1984. Upacara Panca Yadnya. Badung: Gria Agung Bungkasa Abiansemal.
Prasetya, Irawan T.t. Pekerti. Jakarta: Sampai saat ini ybs. Sebagai Staff Antar Universitas Terbuka.
Pusat Propinsi Bali, 2000. Pedoman Sembahyang. Denpasar: Milik Pemerintah Propinsi Bali.
Pudja, G. 1976. Weda Parikrama, Satu Himpunan Naskah Mantra dan Stotra teks asli bahasa Sanskerta dan Penjelasannya. Jakarta: Penerbit. Lembaga Penyelenggara Penterjemah Kitab Suci Weda.
..........,1979. Sama Weda “Sama Weda Samhita”. Jakarta: Pesanan Proyek Pengadaan Kitab suci Hindu. Milik Departemen agama Republik Indonesia.
..........., 1985. Weda (Pengantar Agama Hindu). Jakarta: Cetakan ke 3
............,1985. Yajur Weda (Weda Sruti). Bagian I. Jakarta: Terjemahan. Departemen Agama RI Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Hindu dan Budha.
Putra, Tt. Cudami III, Kumpulan Kuliah Agama Hindu Bhatkti Marga, Cinta Kasih dan Penyerahan Diri kepada Tuhan. Dosen Institut Hindu Dharma.
Sugiarto, R dan Gede Pudja. 1982. Sweta Swatara Upanisad. Jakarta: cetakan Pertama. Proyek Pengadan Kitab suci Hindu. Milik Depatemen agama Republik Indonesia.
............, 1985 Atharwa Wedha (Weda Sruti) Terjemahan. Jakarta: Copyright. Maya Sari.
Suhardana, KM 2005. Pengantar Menuju Pedoman Sembahyang Umat Hindu. Surabaya: Penerbit. Paramita
Sutjipta, Nyoman dan A.A. Sagung Kendran, 2006. Pembelajaran Orang Dewasa. Denpasar: Penerbit. Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Mutu Pendidikan Universitas Udayana.
Tim Penyusun, 1993. Buku Pelajaran Agama Hindu di Perguruan Tinggi. Jakarta: penerbit Hanuman sakti.
Titib I Made,1986 Weda Walaka. Jakarta: penerbit. PT. Dharma Nusantara Bahagia.
……….,1997. Tri Sandya Sembahyang dan Berdoa. Surabaya: Penerbit. Paramita
Wisesa, Ida Pandita Umpu Nabe Daksa Kertha, 2001. Nganteb Piodalan Alit. Denpasar: Gria Agung Giri Manik. Penerbit. Kios Muria.
Watra, 2006. Majalah Kebudayaan Bali Taksu. Denpasar: Edisi 159 Mei-Juni/VII. Penerbit. Mitra Printing.

Rabu, 26 September 2012

Resi Kasyapa, Asita atau Dewala

Dewata Pawamana Soma -  Resi Kasyapa, Asita atau Dewala

Canda Gayatri (Sukta 13)

Melalui kain saringan Soma yang suci mengalir
Ketempat khusus untuk Indra dan Wayu.
Persembahkanlah nyanyian,
engkau yang memohon pertolongan,
kepada pawamana, kepada Pendeta
yang dituang untuk menjamu Dewa-dewa.
Tetes Soma yang memberi kekuatan besar agar jaya,
Diiringi kidung untuk menjamu Dewa-dewa.

Ya, sambil mengalir bawalah sejumlah makanan agat kami
Dapat menengankan harta: Indu,
bawalah kekuatan yang megah
Semoga air yang mengalir memberi kami kekayaan melimpah,
Dan kekuatan pahlawan, Tetes-tetes soma yang suci dicurahkan.
Laksana kuda yang dipacu oleh kusirnya air dituang demi kejayaan mengalir melalui kain saringan.
Tetes soma turun dengan suara gemuruh lakbana sapi perah
Memanggil anaknya: Ia mengalir dari tangan
Sebagai pemberi kebahagiaan yang dicintai Indra, O Pawamana
Dengan suara gemuruh. Usirlah musuh-musuh kami.
O Pawamana, mengusir mereka yang tak beriman,
Memandang cahaya, duduk dalam mibar upacara.

Canda Gayatri (Sukta 14)

Kesungai tempat peristirahatannya.
Yang bijaksana mengalir membawakan lagu yang sangat dicintai.
Ketika lima bangsa itu, giat melakukan kewajiban, Dengan nyanyian, membuatnya yang Perkasa. Lalu semua dea menikmati dengan gembira minuman yang memberikan kekuatan besar, bila telah bercampur susu.
Dengan bebas ia mengalir, meninggalkan tempatnya.
Dan bertemu dengan kawannya sendiri.
Ia seperti pemuda yang tampan, dihias oleh putra-putri pendeta. Membuat susu seakan menjadi bajunya.
Melalui jari jari halus, dan menginginkan susu, ia melewati jalan berliku-liku, dan mengeluarkan suara yang dimiliki.
Jari-jari yang cekatan mendekat, menghias dewa kekuatan.
Mereka memegang punggung Kuda yang aktif.
Engkau merupakan seluruh harta yang ada dilangit dan dibumi.
Datanglah Soma, sebagai sahabat yang setia.

Canda Gayatri (Sukta 15)

Melalui jari jari halus dengan nyanyian,
Pahlawan ini datang dengan kereta yang kencang.
Pergi menuju tempat indra.
Dengan pikiran yang suci ia tekun memuja
Dewa-dewa, tempat yang abadi berada.
Laksana kuda yang baik ia dikendalikan, melalui jalan yang bersinar, kuda yang berani mengeluarkan kekuatannya.
Ia mengacungkan tanduknya tinggi-tinggi, dan mengasahnya, banteng yang mengembalakan, kawasan sapi melakukan pekerjaan sebagai pahlawan.
Ia bergerak, kuda yang kuat, dihias dengan sinar-sinar emas yang indah berkilauan. Yang menguasai air.
Ia, melalui jalan yang kasar, memberikan harta kekayaannya
Memasuki waduk-waduk.
Manusia menghiasnya dalam tong, ia yang patut dihias,
Ia yang memberikan makanan berlimpah.
Dia, adalah, dihias oleh sepuluh jari dan tujuh lagu,
Bersenjata lengkap, yang sangat membahagiakan.

Canda Gayatri (Sukta 16)

Pemeras yang memeras Soma
Mempersembahkan airmu yang memberi semangat dan kebahagiaan: getahmu mengalir laksana banjir. Dengan kekuatan kami alirkan air melalui saringan
Dia yang memberi kekuatan dan sapi. Airnya bercampur dengan susu.
(Sadia dan Gede Pudja, 1984:14-17).

Selasa, 25 September 2012

Dewata Pawamana Soma penjelasan etika 3

Dewata Pawamana Soma


Penenang Jiwa yang Menderita

Agnestanurasi waco wisarja namdewawittaye twa grhnami wrhadgrawa’si wanasratyah sa idam dewebhyohawih samiwa susami samiswa; Hawiskrdehi hawiskrdehi.

Oh Yajna, engkau adalah badannya api; Engkau diselenggarakan dengan menguncarkan Weda Mantra, (dan) saya menyelenggarakannya untuk mendapatkan sifat-sifat mulia. Engkau adalah awan yang maha besar pemelihara atas tumbuh-tumbuhan obat. Sucikanlah sesaji kami, penenang jiwa menderita, untuk memberi kebahagiaan kepada yang pandai dan mensucikannya. Mereka yang membaca dan mengajarkan Weda, menjadi mengetahui ceritera-ceritera dalam weda, memberi inspirasi kepada kami untuk melakukan yadnya.

Ilmuwan Mengajarkan Ilmu untuk Kebaikan Manusia.

Kukuto’si madujihwa isamurjamawada twaya wayaduamsamghataduam saghatam jesma warsa wrddhamasi prati twa warsawrddham wettuparaputtraduam aratayo pahatadduamrakso wayurwo wiwinaktu dewo wah sawita hiranyapanih pratigrbhnatwacchiddrena panina.

Yadnya menjauhkan pencuri, menunjang dan memaniskan ucapan, (yajna) adalah berpahala untuk menghasilkan bahan makanan dan pemberi pengetahuan dan kekuatan. Semoga pelaksanaan yang seperti itu ditanamkan. Semoga kami dengan bantuan pahlawan orang-orang pemberani menang perang berulang kali. Yadnya adalah alat untuk menghasilkan hujan, semoga kami mengetahui engkau sebagai pengasil hujan. Kami harus berusaha menghapuskan perampok dan pemakai pikiran-pikiran yang tidak suci, seperti udara dengan gerakan tangannya tertentu yang kuat pulang pergi yang menerima persembahan dan seperti halnya matahari yang cemerlang memancarkan cahayanya mengerahkan atom-atom menjadi api, demikianlah juga Tuhan dan para ilmuwan mengajarkan ilmu untuk kebaikan kemanusiaan.

Persembahan Weda Mantra.

Agne brahma grbhniswa dharunamasyantariksam drduam ha brahmawani twa ksatrawani sajata wanyu padhami bhratwyasya wadhaya; dhartramasi diwam drduam ha brahmawani twa ksatrawani sajata wanyupadhami bharatrwyasya wadhaya; Wiswabhyastwawasbhya upadhamicita sthordhwacito bhrgunamangirasam tapasa tapyadhwam.

O Tuhan, Engkau adalah penyangga alam semesta, terimalah pujian kami dipersembahkan melalui weda mantra dan kembangkanlah pengetahuan rokhani kami yang tidak habis-habisnya. Untuk menghancur-kan musuh-musuh yang ada dalam diri, saya menyadari bahwa engkaulah yang ada dalam hati, penolong orang-orang terpelajar, Pemimpin Politik/Negara dan pembimbing pada jalan kewajiban sebagai macam golongan yang berbeda-beda. Engkau penyangga alam semesta, kami berdoa kepadaMu untuk menambah pengetahuan kami. Untuk menghancurkan musuh-musuh dalam diri, kami menghayati Mu dalam hati sebagai penolong orang-orang yang terjujur pemimpin Negara dan pembimbing atas kewajiban bagi golongan yang berbeda. Kami memuja Engkau didalam hati, Yang Maha meliputi, Pemberi kebahagiaan dari segala yang ada. O Engkau manusia, tuntunlah kejalan kehidupan tapa dengan mengendalikan nafsumu dan menuruti orang-orang yang bijak, ilmuwan dan yang terpelajar.

Arti penting Penguncaran Mantra.

Sarmasyawadhutaduam rakso, wadhuta aratayo ‘ditwastwagasi twa ‘ditirwettu; Dhisana ‘si parwati prati twa, ditastwag wettu diwaskambhanirasi dhisana,si parwateyi prati twa parwati wettu.

Yadnya adalah pemberi kebahagiaan, menjauhkan yang egois dan sifat-sifat kikir dan melindungi daerah tempat seperti kulit melindungi tubuh. Semoga yang melakukan yadnya menyadari arti pentingnya. Penguncaran Weda Mantra yang benar-benar merupakan yadnya sendiri. Yadnya yang dilakukan pada hari tertentu juga memberi perlindungan seperti kulit melindungi tubuh. Yadnya adalah pengangga matahari yang cemerlang, perwujudan dari ceritera Weda. Semoga kami menyadari yadnya sebagai pembawa hujan dan pemberi pengetahuan spiritual.

Makanan disucikan dengan Yadnya

Dhanyamasi deam pranaya two danaya twa wyanaya twa, Dirgghamanu prasitimayuse dham dewo wah sawita hiranyapanih pratigr bhnattwacchidrena panina caksuse twa mahinam payo’si.

Bahan makanan dan air disucikan dengan melaksanakan yadnya memperkuat tubuh dan indra perasa. Semoga kami bertirah pada yadnya untuk kesehatan yang baik, untuk aktivitas, untuk vitalitas, untuk umur panjang penuh kebahagiaan dan kesejahteraan. Pencipta yang Agung dan pembebas alam semesta, melalui Kemahaadaannya, rahmatilah kami dengan pengetahuan yang luhur.

Yadnya Menseimbangkan dunia

Dewasya twa sawituh prasawe,swinor bahubhyam pusno hastabhyam; Sam wapami samapa osadhibhih samosadhayo rasena Saduam rewatirjagatibhih prcyantaduam sam madhumafirmadhu matibhih prcyantam.

O Manusa, seperti halnya dengan Aku, Yang maha Kuasa, menyebarkan pengetahuan yadnya ini didunia yang diciptakan oleh Aku dan melakukannya melalui matahari yang cemerlang, menseimbangkan dunia, menghidupkan air dan bebagai macam nafas pada organisme manusia, demikian juga engkau. Semoga engkau bersiap untuk keuntunganmu, mencampur berbagai macam obat-obatan dengan air dan dengan sari buah dan mencairkan yang sama dengan air suci.

Keturunan yang melakukan Yadnya (bertambah) baik.

Ma bherma samwiktha atamerur yajno ‘timeruryajamanasya prajabhuyat tritaya twa dwitya twaikataya twa.

Jangan takut dan jangan ragu untuk melaksanakan yadnya. Semoga keturunan orang yang melakukan yadnya itu baik, setia dan bebas dari kelemahan. Kami terirah sepenuh hati pada yadnya untuk mengenal Tuhan yang maha Esa, untuk pensucian air dan udara dan untuk memperoleh rakhmat itu dari ibu, bapa dan guru.

Tuhan Pencipta Tata Surya

Prtwi dewayajanyosadhayaste mulam ma hiduam sisam brajam gaccha gosthanam warsatu te dyaurbadhana dewa sawitah paramasyam prthiwyaduam satena pasairyo’smandwesti yam ca wayam dwismastamato ma mauk.

O Tuhan, Pencipta tata surya dan wilayah yang cemerlang, kami memohon kepadaMu melalui rakhmatMu, semoga kami tidak menghancurkan tanam-tanamnan obat-obatan dibumi, dengan nama para ilmuwan melakukan yadnya itu. Semoga matahari mencurahkan hujan di bumi melalui sinarnya. O para pahlawan terikat oleh berbagai macam ikatan dari orang-orang yang jahat didunia ini yang bertentangan kepada kami dan yang ditentang oleh kami dan jangan lepaskan.

Menyebarkan sistem pendidikan dalam Weda

Apararum prthiwiwyai dewayajana dwadhyasam wrajam gaccha gosthanam warsatu te dyaurbadhana dewa sawitah paramasyam prthiwyaduam satena pasairyo smandwesti yam ca wayam dwismastedyam maskan wrajam gaccha gosthanam warastu te dyaurbadhana dewa sawitah paramsyam-prthiwyaduam setena parisaryo smandwesti yam ca wayam dwismastamato ma mauk

O Tuhan yang Maha esa mengetahui, pemberi kebahagiaan semoga kami menundukkan orang-orang jahat di bumi ini dimana para Rsi melakukan yadnya. Semoga kami bergaul dengan orang-orang terpelajar dan dengan demikian menyebar luaskan sistem pendidikan dengan bebas sebagaimana dijelaskan dalam mantra Weda seperti halnya Sinar pengetahuan saya dihargai oleh semua, demikian pula hendaknya milikku. Orang orang berdosa bergerak didalam kegelapan yang bertentangan dengan orang-orang terpelajar, dan yang tidak disetujui oleh orang-orang pandai karena bertentangan mereka kepada pengetahuan, yang harus dibawa diantara jalan kebajikan melalui beratus-ratus jalan yang ada hendaknya batasan-batasan pada mereka tidak dihilangkan sampai mereka mencapai penerangan. Semoga orang-orang yang jahat tidak dirahmati dengan kesejahteraan dan kesenangan pada ilmu. O Engkau yang patuh pada kewajiban semoga engkau mengikuti jalan kebajikan. Ibarat sinar matahari menerangi daerah tengah/antariksa, demikianlah Tuhan memenuhi keinginan kami. Matahari menguasai bumi dengan kekuatan gravitasinya pada tempat yang tepat. Yang kejam yang bertentangan pada keadilan dan bertentangan kepada cinta damai, supaya sekali-kali dibiarkan berkeliaran sampai mereka tertawa pada kesadaran mereka.

Yadnya dengan Mantra Weda dalam Gayatri.

Gayatrena twa chandasa parigrhnami traistubhena twachandasa parigrhnami jagatena twa chandasa parigrhnami; Suma casi siwa casi syona casi susuda casyurjaswati casi payaswati ca.

Saya melaksanakan yadnya dengan penguncaran mantra Weda dalam Gayatri, Tristiubh dan Chanda jagati.1 O Bumi engkau adalah indah, sumber kesejahteraan dan kebahagiaan, tempat yang cocok untuk berdiam dengan senang, penuh dengan jagung, susu, air manis dan buah-buahan.

Dewata Pawamana Soma penjelasan etika 2

Dewata Pawamana Soma

Yang jahat harus disingkirkan.

Pratyustaduam raksah pratyusta aratayo nistaptaduam rakso nistapta aratayah; Anisito’si sapatna ksidwajinam twa wajedhayayai sammarjmi; Prastyustastaduam raksah pratyusta aratayo nistaptaduam rakso nistapta aratayah; Anisita’si sapatna ksidwa jinim twa wajedhyayai sammarjmi.

Yang jahat harus disingkirkan, musuh kebenaran harus dihukum, mereka yang patut dibelenggu harus disisihkan dan yang mereka yang menentang pengetahuan harus menderita sedih. Oleh pembasmi musuh, engkau tidak. Mereka yang tidak mentolerir kebaikan orang lain harus dihukum, dan salahkan secara terbuka. Mereka yang menyebabkan rugi pada orang lain harus dihina. Saya memerintah pasukan pada waktunya menjadi kuat untuk melemahkan lawan dan melakukan perang.

Mengenal Tuhan Melalui penglihatan Spiritual

Adityai rasnasi wisnorwesposyurje twa’dabdhena twa caksusawapasyami; Agnerjihwai suhurdeebhyo dhamne me bhawa yajuse yajuse.

O Tuhan, Engkau adalah penta cairan manis ditanah. Engkau adalah maha ada, meresapi semuanya, laksana nyala api, Engkau tidak termusnahkan. Engkau patut dipuja oleh para Resi disemua tempat, jalan untuknya, melalui penguncaran weda mantra. Semoga kami mengenal Engkau melalui penglihatan spiritual yang damai, untuk kemajuan kami.

Mensucikan Hati dan Jiwa

Sawistustwa prasawa utpunamyacchidrena pawitrena suryasya rasmibhih; sawiturwahprasawa utpunamyacchidrena pawitrena suryasya rasmibhih; Tejo’si sukramasyamrtamasi dhama namasipriyam dewanamanadhr stam dewayajamasi.

Saya sucikan yadnya, yang menyucikan semua obyek dengan baik dengan yang tidak mengalir, sinar sucinya matahari. Didunia ini, yang dicipta oleh Tuhan Yang Agung, saya sucikan hati-hati dan jiwa-jiwa manusia dengan pengetahuan suci dan yang bercahaya. O Tuhan, Engkau adalah sumber segala cahya, suci, Pemberi kebahagiaan orang yang bebas, tumpuan akhir bagi alam semesta, layak untuk dipuja oleh para pelajar, dicintai oleh yang jujur, penganut yang tidak mengenal takut, Tak terkalahkan dan dipuja oleh para Resi.

Membersihkan Air Sumur dalam Weda.

Krsno’syakharestho’gnyetwa justam proksami barhirasi wedirsi barbhise twa justam prosami srugbhyastwa justam proksami.

O Yadnya, walaupun engkau dilakukan disumur yang digali, engkau dimurnikan oleh api dan diserap oleh udara. Demi Untuk Hawan,2 saya mensucikan persembahan yang dapat diterima oleh ghee. Engkau adalah altar, demi untuk membawa persembahan tinggi keangkasa; sya membangun engkau dan mensucikan dengan ghee. Sebagaimana air diangkasa menambah kesucian semua benda materiil, demikian juga saya bersihkan persembahan itu dengan hati-hati untuk diletakkan disendok api.

Yadnya sejak jaman dulu menurut Weda.

Samidasi suryastwa purastat patu kasyascida bhisastyai; Sawiturbahu stha urnammra dasamtwa strnamiswasatham dewebhya a twa wasaso rudra adityah sadantu.

O Yadnya, Engkau adalah indah laksana musim. Sang surya melindungimu sejak jaman dahulu, pembuka segala bunda. Engkau dipancarkan melalui kekuatan dan potensi yang surya. Ibarat seperti wasu, Rudra dan Aditya yang memajukan yadnya, pemberi kebahagiaan, melengkapi ruang, demikian juga saya untuk memperoleh sifat utama, melakukan yadnya itu.

Semoga saya tidak pernah Melanggar-Nya

Askannamadya dewebya ajyamduam sambh bhhriyasamangghrana wisno ma twawaktramisam wasumatimagne techayamupasthesam wisno sthanamasita indro wiryamakrnodurhwara asthat.

Semoga. Dengan ini, hari ini saya memperoleh kemudahan mendapatkannya melalui yadnya mentega dan benda-benda lain yang memberi kebahagiaan. O Tuhan, semoga saya tidak pernah akan melanggarnya (yadnya). O Tuhan, semoga saya mendapatkan perlindungan dari Mu, banyak kekayaan dalam gudang. Api ini adalah tempat yadnya. Melalui (yadnya) matahari dan udara memperoleh kekuatan/tenaga. Yadnya ini berada di angkasa dan diapi.

Jagalah kami dengan Sinar Pengetahuan Sipitual.

Agne werhotram werdutyamawatantwam dyawaprthiwi awa twam dyawaprthiwi swiatakrddehebya indra ajyena hawisa bhutswaha sam jyotisa jyotih.

O Tuhan, lindungi matahari dan bumi yang melindungi yadnya. Ibarat api yang memerlukan yadnya dan bertindak sebagai utusan, memberi perlidungan kepada matahari dan bumi, demikian lindungilah kami, O Tuhan, pembuat perbuatan-perbuatan mulia bagi yang akhli. Laksana seperti matahari menggabungkan sinar dengan sinar melalui persembahan diletakkan di dalam api, melindungi surga dan bumi, demikian pula O Tuhan, jagalah kami dengan sinar penerangan ilmu pengetahuan spiritual. Inilah demikian ditetapkan dalam Weda.3

Negara yang sejahtera, karena memanfaatkan Bumi dengan Baik.

Mayidamidra indriyam dadhatwasman rayo maghawanah sacatam; Asmakaduam santwasisah satya nah santwasisa upahuta prthiwi matopa mam prthiwi mata hwayatamagniragnidhratswaha.

Semoga Tuhan memberi kami kekuatan spiritual. Semoga kami memperoleh harta penuh dengan bermacam-macam jenis yang cemerlang dan kekuasaan dunia. Semoga keinginan kami terpenuhi, semoga mereka memperoleh pahala, manusia-manusia memakai bumi ini dan pengetahuan (dengan nama kebebasan itu tercapai) untuk kebahagiaan negara. Semoga bumi dan pengetahuan ini menasehati saya. Semoga Tuhan, sebagai pelindung kami yang terakhir dan tetirah memberi perintah kepada saya. Ini adalah demikian dinyatakan didalam Weda.

Susunan Pencernaan (Analisa) Ilmu

Upahuto dyauspitopa mam dyauspita hwayatamagnir agnidhratswaha; Dewasya twa sawituh prasawe ‘swinorbahubhyam pusno hastabhyam; Pratigrhnamyanestwasyena prasnami.

Saya telah berdoa kepada Yang Maha Cemerlang, Tuhan, penyangga semua, semoga Tuhan, Bapa menerima saya. Susunan pencernaan ilmu kami mencerna melalui getah perut makanan oleh Tuhan Yang Maha Pemurah, saya mengambil itu melalui waktu penyerapan dan pemahaman, dengan menarik dan mengeluarkan nafas; dan kekuatan pensucian dan penyerapan udara yang bergerak melalui tubuh, menanak makanan saya melalui nyala api, saya memakannya dengan mulut.

Sebelum beryadnya, manusia lebih dulu dilindungi oleh Tuhan.

Etam te dewa sawitaryajnam prahurbrhaspataye bramane; Tena yajnanawa tena yajna patim tena mamawa.

O tuhan, Pencipta alam semesta, Weda dan orang terpelajar menyatakan sebelum yadnya untuk brhaspati dan brahma. Melalui Maha Yajna itu melindungi yadnya saya, melindungi yang melakukan yadnya, Engkau melindungi saya.

Aktif dalam Pengetahuan adalah Yadnya.

Mano jutirjusatamajyassya brhaspatir yajnamimam tanotwar ristam yajnaduam saminam dadhatu. Wiswe deasa iha madayantamo (3) mpratistha.

Semoga pikiran aktif saya mengirim pahala yadnya-yadnya itu. Semoga Tuhan mengembang luaskan dan memelihara penuntun pengetahuan yang tidak dapat ditinggalkan ini merupakan seperti yadnya. Semoga semua orang terpelajar didunia ini bersenang. Semoga Om bersemayam di hati kami.

Semoga kami melenyapkan dosa-dosa Musuh (api dan Bulan)

Anisoma yorujjitimanujjesam wajasya ma prasamwena prohami; agnisomau tamapanudatam yo’mandwesti yam ca wayam dwismo wajasyainam prasawenapohami; Indragnyyorrujjitimanujjesam wajasya ma prasawena prohami; Indragni tamapanudatam yo’samadresti yam ca wayam dwismo wajasyam prasawenapohami.

Semoga saya memperoleh kemenangan seperti kemenangan Api dan Bulan. Semoga kami melenyap cepat dengan materi perang. Semoga api dan bulan mengusir mereka yang membenci kami, mengusir orang yang kami uji. Semoga kami melenyapkan dosa-dosa musuh dengan perang seperti itu, kepandaian meliter dan peralatan. Semoga saya mencapai kemenangan seperti menangnya Udara dan Petir. Semoga saya memperoleh kebahagiaan melalui dorongan pengetahuan, dipergunakan untuk memperoleh keunggulan. Semoga Udara dan Petir dipergunakan dengan tepat, mengusir jauh orang yang membenci kami, mengusir, orang yang tidak kami sukai, saya sucikan orang-orang yang bodoh dengan sinar pengetahuan.

Mengucapkan mantra gayatri tiap Hari, menurut Weda.

Wasubhyastawa rudrebhyastawa, ’ditye bhyastawa samja natham dyawaprthiwi mitra waruna twawrstyawatam; Wyantu wayoktaduam rahina marutam prsatirgaccha wasa prsnirbhutwa diwam gaccha tato no wrsti nawaha; caksupa agne’si caksurme pahi.

Kami menyelenggarakan yadnya untuk Wasu, Rudra, dan Aditya. Cahaya matahari dan bumi membawa engkau (yadnya) kepada sinar. Prana dan Udana, melindungi bersarang mereka demikian pula hendaknya kami setiap hari beryadnya mengucapkan mantra Gayatri Yadnya yang diinginkan (Ahuti) mencapai angkasa, datang bersenyawa dengan udara dan sinar matahari. Dari itu membawa hujan turun ke bumi yang mengisi sungai batang tumbuh-tumbuhan dan bunga-bungaan. O Api, engkau melindungi mata dari kegelapan, semoga engkau melindungi mata jasmani dan rokhani.

Mencapai kebesaran melalui Tulisan

Yam paridhim paryadhatta agne dewa panibhirguhya manah; Tam ta etamanu josam bharamyesa nettwada pacetayata agneh priyam patho’pitam

Oh Tuhan Yang Maha Ada, dipuji melalui pujian orang terpelajar, Engkau mencapai kebesaranmu melalui tulisan penuh pujian-pujian yang indah itu. Saya mengenal kebesaran Engkau itu dalam hati saya. Semoga saya tidak pernah membantahMu. Semoga makanan yang menyegarkan saya telah peroleh didalam ciptaanmu.

Biarlah kami tinggal di rumah yang Menyenangkan.

Agne’dabhayo’sitamapahi ma didyoh pahi prasityai pahi duristyai pahi duradmanya awisam nah pituh krnu susada yonau swaha wadagnaye samwesapataye swaha saraswatyai yasobhaginyai swaha.

O yang Abadi, Tuhan Yang Maha Ada, melindungi kami dari kesaktian yang amat sangat, melindungi kami dari ikatan dosa dan kebodohan, melindungi saya dari sahabat orang-orang yang berpikiran jahat, melindungi kami dari makanan-makanan yang melalui kesehatan. Jadilah Engkau, makan kami yang bebas dari racun. Biarlah kami tinggal dirumah yang menyenangkan, berdoa kepada engkau dan melakukan keperluan-keperluan mulai. Inilah doa kami kepada Tuhan atau alam semesta, semoga kami memperoleh pengetahuan suci melalui Wedda, pemberi kejayaan dan kesejahteraan.

Engkau ajarkan (Weda) kepada rakyat.

Wedo’si yena twam dewa weda dewebhyo wedo’ bhawastena mahyam wedo bhuyah; dewa gatuwido gatum witta gatumita; Manasaspata imam dewa yajna duam swaha wate dhah.

O tuhan, Engkau mengetahui ciptaan yang berjiwa dan tidak berjiwa. Engkau mengetahui segala-galanya di alam semesta. Sebagaimana Engkau mengajar pengetahuan yang terpelajar, demikain juga Engkau menjelaskan pengetahuan kepada saya. Engkau ajarkan pada rakyat, mereka yang tahu bagaimana menyanyi memuji Tuhan, mengetahui Weda yang memberi petun juk jalan yang benar, harus menguasai pengetahuan. Oh Tuhan, Penguasa pengetahuan, dengan tepatnya menetapkan yajna ini seperti dunia di udara.

Yang meninggalkan yadnya ditinggalkan oleh Tuhan.

Kastwa wiuncati kasmai twa winuncati tasmai twa wimuncati; Posaya raksanam bhagosi.

Apakah setiap orang meninggalkan yadnya? Ia yang meninggalkannya, ditinggalkan oleh Tuhan. Untuk tujuan apa pemuja melakukan persembahan pada api? Ia melakukannya untuk kebahagiaan semua. Ia melakukannya untuk mendapatkan kekuatan, kesehatan dan kebahagiaan. Benda-benda rendahan tidak dipakai dalam yadnya adalah diperuntukkan bagi raksasa/setan.

Karmaphala dalam Weda.

Agne wratapate wratamacarisam tadasakam tanme ‘radhidamaham ya ya ewasmi so’smi.4

Oh Tuhan, Penguasa atau tapa brata, rakhmatilah saya keberhasilan dalam melakukan tapa brata yang saya telah lakukan dan saya dapatkan diri saya yakin untuk melaksanakan. Saya memetiknya sebagaimana saya tanam.

Persembahan kepada Pitara dalam Weda.

Namo wah pitaro rasaya namo wah pitarah sosaya namo wah pitaro jiwaya namo wah pitarah swadhayai namo wah pitaro ghoraye namo wah pitaro manyawe nmo wah pitarah pitaro namo wo grhannah pitaro datta sato wah pitaro desmaitadwah pitaro wasa adhatta.

Sembah (kami) kepadaMu. O Pitara, untuk memperoleh kebahagiaan dan pengetahuan. Sembah (kami) kepadaMu, O Pitara, untuk melenyapkan kemiskinan dan musuh, sembah (kami) kepadaMu. O Pitara, untuk mendapat umur panjang. Sembah (kami) kepadaMu. O Pitara, untuk kekuasaan dan memperlihatkan keadilan. Sembah (kami) kepadaMu, O Pitara, untuk menyudahi berbagai macam bencana, segala puji kepadaMu, O Pitara untuk kemarahan yang pada tempatnya. Pitara-pitara, mengetahui keinginan kami untuk memperoleh pengetahuan. Pitara-pitara mengetahui penghormatan kami kepada Engkau untuk kehormatan Mu. Pitara-pitara datang setiap hari kerumah kami dan memberikan kami perintah-perintah. Pitara, kami selalu memberikan kepadamu apa saja yang kami punya. Kami memberi pakaian, mohon terima kasih itu.5

Dengan pengetahuan untuk mencapai kedewasaan.

Adhatta pitaro garbha kumaram puskarasrajam; Yatheha puruso’sat.

Menerima Engkau (sebagai) guru, dalam garbha perlajaranmu, pemuda, dengan kepal bunga ditangan, ingin akan pengetahuan sehingga dengan demikian ia dapat mencapai kedewasaan yang penuh.6

Korban api sebagai yadnya.

Samidha gnim duwasyata ghrtair bodhyatatitthim: Asmin hawya juhotana.

Wahai engkau orang-orang yang terpelajar nyalakanlah api dengan batang kayu dengan mentega, korbankan api itu yang patut dihormati sebagaimana seorang Sjamsajin. Ditempat api itu engkau letakkan yadnya itu.

Api Pemusnah Segala macam Penyakit.

Susamiddhaya socise ghrtam tiwram juhotana: Agneye jatawedase.

Letakkan persembahan mentega (ghee) yang melenyapkan kelemahan jasmani, kedalam nyala api yang baik ini, api pemusnah segala penyakit ini ada dalam segala benda.7

Sinarnya api naik turun.

Antascarati rocanosya pranadapanati; Wyakhyan mahiso diwam.

Sinarnya api itu, mencuat keatas dan turun kebawah diangkasa laksana keluar masuknya nafas dalam badan. Api yang agung itu itu memperlihatkan matahari.8

Weda diucapkan untuk memperoleh pengetahuan sipitual.

Triduam saddhama wirajati wak patanggaya dhiyate; Prati wastoraha dyubhih.

Sabda Dewata peraturan tertinggi diseluruh dunia.
Weda diucapkan untuk memperoleh pengetahuan Spiritual. Kami harus bertepatan mengucapkan dan memahami Weda setiap hari bersama dengan ajarannya yang memberi penerangan.

Pengetahuan Petir melalui Weda.

Agnirjyotiryotiragnih swaha suryo jyotirjyotih suryah swaha; Agniwarco jyotirwarcah swaha suryo jyotirwarcah swaha Jyotih suryojyotih swaha.

Sebagaimana Tuhan memberi sinar kebenaran pada kota-kota yang benar kepada semua mahluk demikian pula api jasmani memberi sinar menerangi semua benda. Sebagaimana halnya Tuhan mengajarkan pengetahuan kepada semua jiwa, yang orang itu harus kata-kata apa yang ia rasakan dihatinya, demikian pula matahari membawa penerangan pada semua obyek benda-benda itu. Sebagaimana memperlihatkan kepada semua kemanusiaan juga api itu dalam bentuk petir diangkasa dan menjadi sumber hujan dan pengetahuan. Sebagaimana Tuhan memperlihatkan semua pengetahuan, api dan petir melalui Weda, demikian pula halnya Matahari menumbuhkan kekuatan jasmani dan rokhani kita. Matahari menyinari semua benda, Tuhan memancarkan sinarnya sendiri. Inilah penjelasan kebesarannya. Puja (1985:2-38).

Brahmacari selama 48 tahun

Upayamagrhito ’syadityebhyastwa; Wisna urugayaisa te somastaduam raksaswa ma twa dabhan.

O Brahmacari, ia yang telah mengendalikan membujang selama 48 tahun, saya yang telah membujang selama 24 tahun, akan memilih engkau sebagai suami saya. Engkau mengetahui segala sesuatu tentang cerita-cerita dalam agama, engkau memiliki sifat-sifat istimewa. Kehidupan berumah tangga ini memberi kesejahteraan kepadamu. Lindungilah kami. Semoga panah asmara tidak menyebabkan engkau menderita.

Suami yang berjaya

Kada cana starirasi mendra sascasi dasuse; Upopennu madhawan bhuya innu te danam dewasya prcyata adityebhyastwa.

O suami yang berjaya, engkau tidak pernah merahasiakan segala sesuatu dari saya, engkau bersahabat kepada orang-orang yang bersifat dermawan. O suami yang patut dihormati engkau adalah terpelajar. Semoga rakhmat pengetahuanmu harta kekayaan sampai kepada saya. Saya memilih engkau sebagai suami saya karena engkau selalu merupakan kemudahan bagi saya.

Engkau bercahaya laksana matahari

Kada cana pra yucchasyubhe ni pasi jasmani; Turiyaditya sawanam ta indriyamatasthawamrtam diwyadityebhastwa.

O suami, engkau tidak pernah melupakan, engkau menjaga dalam hidup sekarang ini dan kehidupan yang akan datang. Engkau bercahaya laksana matahari dalam pengetahuan apa bila engkau mengendalikan organ pengadaan (yang) akan mengusir kebahagiaan yang abadi dalam affairmu, O yang telah menyelesaikan asrama yang keempat, saya memilih engkau sebagai suami saya untuk kebahagiaan yang terus-menerus.

Engkau bercahaya laksana matahari

Yajno dewanam pratyeti sumnamadityaso bhawata mrdayantah. A wo’rrwaci sumatirwawrtyadduam hoscidya wariwowittarasada dityebhyastwa.

Perkawinan antara dua orang terpelahar merupakan sumber kebahagiaan. O orang yang mulia, semoga intelekmu yang baik yang mengerti tentang makna hidup dalam perkawinan membuatmu akhli dalam pengetahuan setelah menyelesaikan hidup berguru; dan mengajarkanmu bagaimana cara mengerjakan sesuatu dengan benar dan menempuh pada jalan kebajikan. Semoga engkau memberi kesenangan kepada pengantin yang baru kawin melalui pengetahuan pengajaran yang engkau terima dari orang terpelajar.

Perkawinan Muda berpeganglah pada Kebenaran.

Wiwaswannandityaisa te somapithastasmin matswa; Sradasmai naro wacase dadhatana yadasirda dampati wamamasnuta; Puman putro jayate windate waswadha wiswaharapa edhate grhe.

O suami, guru dari berbagai macam ilmu pengetahuan, semoga hidup perkawinan ini dimana engkau minum memberi kebahagiaan kepadamu. O yang memasuki kehidupan perkawinan, bepeganglah pada kebenaran, hormati sumpah yang engkau ambil pada waktu perkawinan. Dirumah, dimana suami dan istri memenuhi kewajiban hidup dalam perkawinan dengan jujur, dilahirkan seorang putra, yang memenuhi keinginanmu, adalah tidak berdosa, giat yang mau berusaha, memperoleh kekayaan dan kesejahteraan.

Kebahagiaan hari ini esok dan setiap hari

Wama,adya sawitarwamamu swo diwe wamamasmabyaduam sawih; Wamasya hi ksayasya dewa bhureraya dhiya wamabhajah syama.

O Tuhan, sumber dari kebahagiaan, hari ini, esok hari dan setiap hari yang dilewati; kami dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan mulai didalam kehidupan perkawinan kami, penuh keindahan dan aspirasi yang berlipat ganda.

Lindungilah perkawinanmu.

Upayamaghrhito’si sawito’si canodhascanodha asi cano mayi dhehi; Jinwa yajnapatim bhagaya twa sawite.

O suami, engkau telah disatukan dengan saya melalui ikatan perkawinan. Engkau penyembah Tuhan Yang Maha Esa, Engkau penguasa atas makanan-makanan; berilah semua itu kepada saya. Lindungilah perkawinanmu. Saya menerima engkau sebagai pemelihara yajna dalam kehidupan rumah tangga kita, penguasa atas kekayaan, pola keindahan dan, keluhuran dari keturunan.

Suami tersayang dan pemberani.

Yaste aswasanirbhaksa yo gosanistasya ta istayajujusa stutastomasya sastokthasyo-pahutasyopahuto bhaksayami.

O suami yang tersayang lagi pemberani, engkau adalah pemberi ilmu pengetahuan, budi bahasa yang halus, lahan dan bimbingan yang baik. Engkau sesungguhnya ahli dalam Yayur Weda, Sama Weda, dan Reg Weda. Engkau diundang dan dihormati oleh orang-orang terpelajar. Saya diundang olehmu makan-makanan yang sedang disiapkan olehmu.9

Dosa yang sadar dan Dosa yang tidak sadar

Dewaktrasyaimaso’wayajananmasi manusyakrtasyainaso wayajanamasi pitrktasyainaso ’wayajanamasyatmakrtasyainaso wayajanama-syenasaenaso wayajanajamasi; Yaccaharmenio widwammscarkara yaccawidwamstasya sarwasyainaso’wayajanamasi.

O suami yang cinta sesama manusia, engkau lenyapkan dosa-dosa para penyumbang. Engkau hilangkan dosa manusia-manusia biasa. Engkau hilangkan dosa-dosa yang dilakukan oleh orang tua. Engkau hilangkan dosa-dosa yang dilakukan sendiri. Engkau lenyapkan segala macam dosa yang saya lakukan tanpa sadar, dari semua dosa itu, engkaulah pelenyap.10

Guru pemberi rakhmat.

Sam warcasa payasa sam tanubhiraganmahi manasa saduam siwena; Twasta sudatro wi wadhatu rayo,numarstu tanwo yadwilistam

O guru pemberi rakhmat, pembimbing dari segala macam perbuatan, dengan niat yang mulia, air dan makanan, engkau lenyapkan kekurangan fisik kami dan memberi kami harta kekayaan. Semoga kami memperkuat badan kami dengan brata brahmacari.11

Dewata Pawamana Soma penjelasan etika 1

Dewata Pawamana Soma


Ajarkan dengan kata-kata yang manis.

Samindra no manasa nesi gobhih saduam suribhirmaghawantsaduam swastya; Sam brahmana dewakrtam yadasti sam dewanaduam samatau yajniyanaduam swaha.

O guru yang terhormat dan terpelajar dan pengkhotbah, karena engkau menuntun kami dijalan yang benar dengan pikiran yang mulia, ajarkanlah kami usaha itu dengan kata-kata mu yang manis dan menyenangkan, memberi pengetahuan kepada kami melalui yang terpelajar dan ajaran-ajaran Weda, tunjukkan dihadapan kami contoh, perbuatan yang mulia yang dilakukan oleh para Resi melalui kebijaksanaan dan kata-kata yang benar, karena engkau patut mendapat penghormatan kami.

Memberi pengetahuan siang dan malam.

Sam warcasa payasa tanubhiraganmahi manasa saduam siwena; Twasta sudatro wi dadhatum rayo,numastum tanwo yadwilistam.

O orang-orang yang terpelajar, berbuat menurut pendapatmu, semoga kami mendekati diantaramu, ia yang memberi kami pengetahuan yang baik, menghilangkan penyakit kebodohan, memberikan pengetahuan kepada kami siang dan malam dari gudangnya yang amat luas dan menghilangkan penyakit dari tubuh kami

Siapa yajamana itu?

Dhata ratih sawitedam jusantam prajapatimidhipa dewo agnih; Twasta wisnuh prajaya saduam rarana yajamanaya drawinam dadhata swaha.

O Grihastin, engkau adalah sumber kebahagiaan bagi semua, yang menurunkan kesejahteraan, yang membesarkan anak-anak, penjaga atas harta ilmu pengetahuan, pengendali kejahatan, pemusnah atas kegelapan dari kebodohan, yang memperbesar kesenangan, yang melindungi segala sifat kedermawanan yang diperlihatkan kepada anak keturunanmu, memenuhi tugas kewajiban hidup dalam perkawinan dengan benar, dan memberikan bergudang-gudang kekayaan kepada yajamana.

Orang terpelajar yang berpikiran mulia.

Suga wo dewah sadana akarma ya ajagmedaduam sawanam jusanah; Brahmana wahmana hawiduamsyasme dhata wasawo wasuni swaha.

O orang terpelajar yang berpikiran mulia, kami telah memperoleh harta kekayaaan ini dengan tulus, mempertahankan dengan usaha sendiri dan memeliharanya melalui bantuan orang lain. Kami mempersiapkan rumah ini untuk memudahkan engkau dan harta yang banyak-banyak untuk penggunaan bersama. Semoga engkau merakhmati dengan harta kekayaan yang banyak.

Selenggarakan Yadnya dengan Benar.

Yam yam a’waha usato dewa dewamstan preraya swe agne sadhaste; Jaksiwaduamsah papiwaduamsasca wisswe’sum gharmaduam-swaraswaratisthatanu swaha.

O guru yang berperilaku baik, bujuklah mereka melalui orang yang berpikir agamis, yang telah mengumpulkan pengetahuan dari engkau. O orang-orang yang kawin, bimbinglah engkau semua hidup kebahagiaan, mengambil makanan bergizi, minum air bersih, selenggarakan yadnya dengan benar dan pertajam pikiranmu.

Kerjakan Yadnya berumah tangga penuh dengan Weda Mantra

Yajna yajnam gaccha yajnapatim gaccha swam yonim gaccha xwaha; Esa te yajno yajnapate sahasuktawakah sarwawitrastam jusaswa swaha.

Orang berumah tangga yang mulia, kerjakan kewajiban hidup dalam perkawinan dengan baik. Layani rajamu, pahami dengan sepenuh nalurimu. O yajamana, kerjakan yadnya berumah tangga ini dengan benar dan adil, penuh dengan weda mantra, dan pemberi kesegaran dan kemajuan spiritual keturunan.

Mempelajari Weda dengan setulus hatimu.

Samudre te hrdayamapswantah sam twa wisantwosadhirutapah; Yajnasya twa yajnapate suktoktau namo wake widhema yat swaha.

O yang berumah tangga, hendaknya engkau mempelajari weda dengan setulus hatimu, yang penuh dengan sabda-sabda bimbingan mulia, dikendalikan oleh prana, berbuat dalam perbuatan mulia. Semoga engkau menikmati makanan, buah-buahan dan air, Dalam tekenan kasih sayang, kami mendesak engkau melakukan kewajiban hidup dalam perkawinan dengan penuh keyakinan

Weda berkaki satu, dua, tiga, empat dan delapan

Purudasmo wisurupa indurantar mahi-manamananja dhirah: Ekapadim dwipadim tripadim catuspadimastapadim bhuwananu prathantaduam swaha.

O suami pengusir penderitaan, tampan dalam penampilan, penuh keagungan dan kuat dalam pikiran harus berharap untuk keberhasilan mengandung dalam hidup ini. Ia harus mengajarkan kepada umat manusia tentang pengetahuan weda yang berkaki satu, yang berkaki dua, yang berkaki tiga, yang berkaki empat dan berkaki delapan.

Yadnya mantra harus dilakukan oleh setiap kepala rumah tangga.

Mahi dyauh prthiwi ca na imam yajnammiksatam; Piprtam no bharimabhih.

O suami yang patut dipuji dan yang sehat dan istri yang bersabar hati, berkehendak untuk memenuhi kesenangan dan melakukan yadnya dalam rumah tangga. Semoga engkau berdua menyediakan kami makanan dan pakaian.

Jinakkan pikiranmu yang murung dengan ucapan weda mantra.

A tistha wrtrahantratham yukta te brahmana hari; Arwacinaduam su te mano grawa krnotu wagnuna; Upayamgrhito’ sindraya twa sodasina esa te yonidraya twa sodasine.

Orang yang telah kawin, engkau adalah pengusir musuh dan yang memercikan kebahagiaan laksana mengusir awan. Dalam kereta kehidupanmu berumah tangga ini, mempunyai air dan kekayaan, adalah merupakan dua kuda yang dipelanai/dipasang plangka (diikat menjadi satu), mengendalikan dan menaik. Lakukan tapa brata untuk menjalankan hidup berumah tangga. Jinakan pikiranmu yang murung dengan ucapan weda mantra. Engkau lengkapi dengan syarat-syarat yang diperlukan untuk hidup perkawinan. Saya perintahkan engkau untuk menjalankan hidup perkawinan penuh kesejahteraan dan enam belas ciri-ciri. Ini adalah rumahmu. Saya perintahkan engkau untuk menjalankan hidup berumah tangga penuh kesejateraan dan enam belas ciri-ciri.

Enam belas sifat dalam berumah tangga

Yuswa hi kesina hari wrsna kaksyapra; Atha na indra somapa giramupasrutim cara; Upayamagrhito ‘sindraya twa sodasina esa te yonirindraya twa sodaine

O pelindung harta kekayaan dan pengusir musuh, hiasilah kereta itu dengan kedua kuda pembiak itu, panjang umur, kekar badannya dan cepat untuk membimbing engkau ketujuan. Ketahuilah permintaan kami disampaikan untuk permintaan kami. Engkau sesungguhnya dilengkapi dengan sifat-sifat yang diperlukan untuk hidup berumah tangga. Saya perintahkan engkau untuk menjalankan hidup berumah tangga penuh sejahtera dan enam belas sifat-sifat itu. Ini adalah rumahmu. Saya perintahkan engkau untuk menjalankan hidup berumah tangga penuh sejahtera dan enam belas sifat-sifat itu.

Enam belas kala

Yasmana jatah paro anyo asti ya awiweasa bhuwanani wiswa. Prajapatih prajaya saduamrararanastrini jyotidumasi sacate sa sodasi.

Kalau demikian, kepada siapa tiada lain dilahirkan yang lebih kuasa, yang telah memenuhi semua tempat. Sesungguhnya Tuhan, pemberi rakhmat kepada seluruh dunia, memelihara tiga sinar cahaya yang cemerlang disemua ketiga zat-zat itu. Ia pemberi ke enam belas sifat-sifat itu.

Ceritera Ketuhanan dari Weda

Idrasca samrada warunasca raja tau te bhasksm cakraturagra etam. Tayorahamanu bhaksam bhaksayami wagadewi jusana somsya trpyatu saha pranena swaha.

Wahai manusia, pusat penguasa yang kuat dan memberi perlindungan kepada engkau yang mulia, melayani memberi dan kemajuan, semoga kami dipuaskan dengan kekuatan, ucapan yang benar dan ceritera ketuhanan dari weda.

Untuk memperoleh sifat Mulia.

Ide rante hawye kamye candre jyote’dite saraswati; Eta te adhnye namani dewebhyo ma sukrtam brutat.

Patut dipuji, menggairahkan, terpuji, dapat dikasihi, pemberi kesenangan, terkenal karena berbuat baik, tidak dapat dilanggar, penuh pengetahuan, dapat disanjung, yang mengetahui Weda, patut untuk mendapat penghormatan. Ini semua adalah nama-namamu, o istri. Ajarkanlah saya pelajaran yang baik untuk memperoleh sifat-sifat mulia.

Weda Mengajarkan azas demokrasi

Wi na indra mrdho jahi nica yaccha prtanyatah; Yo asmam (2) abhidasatyadharam gamaya tamah; Upayamagrhito sindraya twa wimdha esa te yonindraya twa wimrdhe.

O jenderal, tundukanlah musuh kami jauh-jauh, rendahkan orang yang menantang kami. Sebagaimana matahari melenyapkan kegelapan, demikianlah jatuhkan (musuh) kemartabat yang rendah, ia mencari-cari untuk melukai kami. Kami menerima engkau dilengkapi dengan kekuatan untuk memberi kebahagiaan dan mengusir musuh kami. Tindakan engkau ini adalah aturan permainan rahasiamu. Kami mendesak engkau untuk memberi kami kebahagiaan dan melenyapkan musuh-musuh kami.

Makna dan Fungsi Gayatri dalam Weda

Upayamagrhito,syagnaye twa gayatrachandasam grhnamindraya twa tristupshandasam grhnami Wiswebhyastwa dewebhyo jagacchandasam

O raja mulia, ucapan engkau yang patut dipuji melenyapkan kebodohan kami. Saya menerima engkau, yang mengetahui chanda Gayatri, untuk mengetahui sifat-sifat hakekat api dan pelistrikan. Saya menerima engkau, yang menjelaskan chanda Jagati, untuk mendapatkan segala sifat-sifat baik, tindakan-tindakan dan atribut-atribut. Chanda Anustup adalah gurumu. Kami telah menerima engkau untuk semua sifat-sifatmu itu.

Suami yang Tidak Beragama.

Bresinam twa patmanna dhunomo; Kukunananan twa patmanna dhunomi; Bhandanamtwa twa patmanna dhumoni; madintamanam twa patmanna dhumoni; Madhutamanam twa patmanna dhumoni; Sukram twa sukra a dhunobyayahnane rupe suryasya rasmisu.

O suami yang tidak beragama, saya memperingatkan engkau terhadap senggama dengan istri mulia orang lain. O suami yang berpikir jahat, saya menghentikan engkau dari istri-istri orang lain yang lemah. O suami yang berniat buruk, saya menjauhkan engkau dari mendekati istri-istri orang lain yang dermawan. O suami yang tidak tetap pendirian, saya menyalahkan engkau berkali-kali untuk mengejek istri orang lain yang sangat bersenang. O suami yang berhati batu, saya memisahkan engkau dari istri-istri orang lain yang berbicara manis. O suami yang bodoh, yang penuh kejantanan, saya melarang engkau melakukan senggama pada waktu subuh dan waktu matahari memancarkan sinarnya.

Dhananjaya; memberi makan dan memelihara Tubuh.

Indrasca maturrasca krayayopotthito’surah panyamano mitrah krito wisnah sipiwista urawasanno wisnurnarandhisah.

O orang-orang yang terpelajar memahami, untuk keberhasilan dalam transaksi-transaksi dalam penggunaan listrik, angin dan awan. Ketahui ia, Wayu Dananjaya yang patut dipuji, bersahabat dan melingkupi semua benda-benda, Ketahuilah Tuhan olehmu, ada dalam jiwa kita, selalu bersinar cemerlang dihadapan kita dan mahir dalam fungsi tugas-Nya.

Tiga puluh empat Penyangga Yadnya.

Catustriduamsattantawo ye wiatnire ye iman yajnaduam swadhaya dadante; Tesan chinaduam samwetaddahmi swaha dharmo apyetu dewan.

Tiga puluh empat dalam yadnya didunia ini. Mereka menyangganya dengan memberi makanan. Saya mempersatukannya dengan cekatan fungsi-fungsi dan kewajiban mereka yang berbeda. Semoga yadnya ini dikendalikan oleh yang terpelajar.

Prasana Upanisad.

Seluruh kitab upanisad dan Aranyaka, berjumlah 108 buah yang dibagi atas empat kelompok besar menurut jenis Sruti: 
  1. Rg weda samhita memiliki 10 kitab upanisad,
  2. Sama Weda samhita memiliki 16 kitab upanisad, 
  3. Yayur Weda samhita memiliki 51 kitab Upanisad, 
  4. Atharwa Weda samhita memiliki 31 kitab upanisad. 
Prasana Upanisad adalah Upanisad dalam kelompok Atharwa Weda, memuat enam macam pertanyaan yang isinya sebagai berikut:

Sukses ca bharadwajah, saibyas ca satyakamah, sukesa ca gargyah kasusalyascaswalayane bhargawe waidarbhih kalbandhi katyayanas te haite brahmapara, bramanistha param brahmanwesamana esa ha wai tatsarwam waksyatiti te ha samitpanayo bhagawantam pipaladam upasannah.

Sekesa, putra Bharadwaja, Satyakarma, putra Sibi, Gargi, cucu Surya, Kausalya putra Aswala, Bhargawa dari daerah Waidharbhi Kabandhi, putra Katya, keenam (putra dari enam Rsi) semuanya tan patuh penganut Tuhan (Yang Maha Esa), pergi bersama kepada Resi Pilpalada, membawa kayu api untuk yadnya ditangan mereka, bermaksud hendak mencari ilmu Ketuhanan yaitu dengan cara menanyakannya kepada Resi Pilpalada pertanyaan tentang hal itu berharap bahwa beliau akan menjelaskannya.