Tampilkan postingan dengan label Muazzin di zaman Rasulullah SAW. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muazzin di zaman Rasulullah SAW. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Agustus 2014

Antara ZAMAN dan KESIALAN

MUQODDIMAH

Alloh ًّوخٓػض bersumpah dengan zaman pada beberapa

tempat di dalam al-Qur'an. Perhatikanlah firman Alloh:

وَاٌْفَدِشِ . وٌَََُبيٍ ػَشِشٍ . وَاٌشٖفْغِ وَاٌْىَرِشِ . وَاًٌٍَُِِ ئِرَا ََغِشِ

Demi fajar. Dan malam yang sepuluh. Dan yang genap

lagi yang ganjil. Dan malam apabila berlalu. (QS. al-Fajr

وَاٌشِّٖظِ وَضُحَبَ٘ب . وَاٌْمََّشِ ئِرَا رَالَ٘ب . وَإٌٖهَبسِ ئِرَا خَالَ٘ب . وَاًٌٍَُِِ

ئِرَا ََغِشَبَ٘ب

Demi matahari dan cahayanya di pagi hari. Dan bulan

apabila mengiringinya. Dan siang apabila

menampakkannya. Dan malam apabila menutupinya.

(QS. asy-Syams[91]:1-4)

وَاًٌٍَُِِ ئِرَا ََغِشًَ . وَإٌٖهَبسِ ئِرَا رَدًٍََ

Demi malam apabila menutupi (cahaya siang). Dan siang

apabila terang benderang. (QS. al-Lail [92]: 1 -2)

وَاٌضٗحًَ . وَاًٌٍَُِِ ئِرَا عَدًَ

Demi waktu dhuha (matahari sepenggalah naik). Dan

demi malam apabila telah sunyi (gelap). (QS. adh-Dhuha

وَاٌْؼَصِشِ

Demi masa. (QS. al-Ashr [103]: 1)

Pada ayat-ayat di atas, Alloh Jil bersumpah dengan

zaman. Hal ini tidak lain untuk menunjukkan kemuliaan

zaman. Masuk dalam kategori zaman adalah umur dan

waktu. Zaman merupakan pemberian yang amat mulia dari

Alloh ًّوخٓػض untuk hamba-hamba-Nya, karena di dalamnya

manusia dapat melaksanakan peribadatan dan ketaatan

kepada Alloh ًّوخٓػض, sekaligus beramal untuk mendapatkan

surga dan menjauhkan dirinya dari neraka.

 bersabda: "Setiap manusia صًٍ اهلل ػٍُٗ وعٍُ Rosululloh

berusaha di waktu pagi, maka dia menjual dirinya, lalu

memerdekakan dirinya dari adzab Alloh (dengan berbuat

kebajikan dan ketaatan kepada-Nya), dan sebagian lagi

menghancurkan dirinya (dengan berbuat kejelekan dan

bermaksiat kepada Alloh). (HR. Muslim)





ZAMAN BERADA DI BAWAH KEKUASAN ALLOH

Zaman yang mempunyai nilai yang amat mulia bagi

manusia, berada di bawah kekuasaan Alloh ًّوخٓػض. Alloh و ٗٔعجحب

رؼبىل yang mengatur segala pergantiannya, sebagaimana

وَُ٘ىَ اٌَزٌٔ خَؼًََ اًٌٍََُِ وَإٌٖهَبسَ خٍْٔفَخً ٌَِّٔٓ أَسَادَ أَْْ ََزَوَشَ أَوِ أَسَادَ

شُىُىسّا

Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih

berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran, atau

orang yang ingin bersyukur. (QS.al-Furqon [25]: 62)

رٌَٔهَ ثِأََْ اٌٍََٗ َُىٌٔحُ اًٌٍََُِ فٍٔ إٌٖهَبسِ وََُىٌٔحُ إٌٖهَبسَ فٍٔ اًٌٍَُِِ وَأََْ اٌٍََٗ

عَُّٔغْ ثَصٔريْ

Yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Alloh

(Maha Kuasa) memasukkan malam ke dalam siang, dan

memasukkan siang ke dalam malam, dan bahwasanya

Alloh Maha mendengar lag! Maha melihat. (QS. al-Hajj

Dan segala kejadian yang ada di muka bumi ini juga

diatur di bawah kekuasaan Alloh. Alloh ًّوخٓػض berfirman:

Selengkapnya download disini antara-zaman-dan-kesialan.pdf

Minggu, 23 September 2012

Mimpinya Bilal Bin Rabah

Tafsir mimpi, Mimpinya Bilal Bin Rabah

Bilal Bin Rabah adalah Muazzin di zaman Rasulullah SAW, termasuk golongan sahabat yang ikut dalm perang Badar. Nabi SAW telah bersaksi atas penetapannya sebagai ahli surga. Setelah Rasulullah SAW wafat, karena tak kuat menanggung kesedihan hati akan ingatannya kepada Rasulullah SAW, Bilal pindah ke negeri Syam.

Bertahun kemudian Bilal melihat Rasulullah SAW di dalam mimpinya di negeri Syam. Rasulullah berkata, "Kenapa kamu berlaku tidak ramah, wahai Bilal? Bukankah kini telah datang waktunya bagimu untuk menziarahiku?" Maka Bilal bangun dalam keadaan bersedih dan langsung bergegas menuju kota Madinah. ia lalu mendatangi makam Rasulullah SAW dan disana ia menangis.

Sayyidina Hasan dan Husein datang menghampirinya, kemudian Bilal memeluk keduanya. Maka Sayyidina Hasandan Husein berkata, "Kami sangat menginginkan engkau untuk azan di waktu sahur." Maka demi takzimnya kepada kedua cucu Rasulullah SAW ia naik ke atap masjid. ketika ia menyerukan "Allahu Akbar Allahu Akbar" bergetarlah seluruh kota Madinah. Keluarlah para penduduknya berduyun-duyun ke masjid sambil menangis tersedu-sedu karena suara Bilal mengingatkan mereka pada kehidupan di zaman Rasul. Dan tidak pernah disaksikan hari yang lebih banyak laki-laki dan wanita menangis daripada hari itu.
Seminggu kemudian Bilal wafat.


(Asadul Ghabah, Ibnu Atsir).