Tampilkan postingan dengan label Ramadhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ramadhan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 September 2013

Puasa Nabi Daud - Faedah Dan Ke Istimewaan Nya

Puasa Nabi Daud - Faedah Dan Ke Istimewaan Nya
Puasa Daud adalah melakukan puasa sehari, dan keesokan harinya tidak berpuasa. Semoga bermanfaat.
Puasa Nabi Daud - Faedah Dan Ke Istimewaan Nya


Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَحَبَّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ وَأَحَبَّ الصَّلاَةِ إِلَى اللَّهِ صَلاَةُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ كَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ وَكَانَ يَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا

“Puasa yang paling disukai di sisi Allah adalah puasa Daud, dan shalat yang paling disukai Allah adalah Shalat Nabi Daud. Beliau biasa tidur di pertengahan malam dan bangun pada sepertiga malam terakhir dan beliau tidur lagi pada seperenam  malam terakhir. Sedangkan beliau biasa berpuasa sehari dan buka sehari.

Faedah hadits:

1. Hadits ini menerangkan keutamaan puasa Daud yaitu berpuasa sehari dan berbuka (tidak berpuasa) keesokan harinya. Inilah puasa yang paling dicintai di sisi Allah dan tidak ada lagi puasa yang lebih baik dari itu.

2. Di antara faedah puasa Daud adalah menunaikan hak Allah dengan melakukan ketaatan kepada-Nya dan menunaikan hak badan yaitu dengan mengistirahatkannya (dari makan).

3. Ibadah begitu banyak ragamnya, begitu pula dengan kewajiban yang mesti ditunaikan seorang hamba begitu banyak. Jika seseorang berpuasa setiap hari tanpa henti, maka pasti ia akan meninggalkan beberapa kewajiban. Sehingga dengan menunaikan puasa Daud (sehari berpuasa, sehari tidak), seseorang akan lebih memperhatikan kewajiban-kewajibannya dan ia dapat meletakkan sesuatu sesuai dengan porsi yang benar.


4. Abdullah bin 'Amr sangat semangat melakukan ketaatan. Ia ingin melaksanakan puasa setiap hari tanpa henti, begitu pula ia ingin shalat malam semalam suntuk. Karena ini, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melarangnya. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memberi solusi padanya dengan yang lebih baik. Untuk puasa beliau sarankan padanya untuk berpuasa tiga hari setiap bulannya. Namun Abdullah bin 'Amr ngotot ingin mengerjakan lebih dari itu. Lalu beliau beri solusi agar berpuasa sehari dan tidak berpuasa keesokan harinya. Lalu tidak ada lagi yang lebih afdhol dari itu. Begitu pula dengan shalat malam, Nabi shallallallahu 'alaihi wa sallam memberi petunjuk seperti shalat Nabi Daud. Nabi Daud ‘alaihis salam biasa tidur di pertengahan malam pertama hingga sepertiga malam terakhir. Lalu beliau bangun dan mengerjakan shalat hingga seperenam malam terkahir. Setelah itu beliau tidur kembali untuk mengistirahatkan badannya supaya semangat melaksanakan shalat Fajr, berdzikir dan beristigfar di waktu sahur.


5. Berlebih-lebihan hingga melampaui batas dari keadilan dan pertengahan dalam beramal ketika beribadah termasuk bentuk ghuluw (berlebih-lebihan) yang tercela. Hal ini dikarenakan menyelisihi petunjuk Nabawi dan juga dapat melalaikan dari berbagai kewajiban lainnya. Hal ini dapat menyebabkan seseorang malas, kurang semangat dan lemas ketika melaksanakan ibadah lainnya. Ingatlah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

6. Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Puasa Daud sebaiknya hanya dilakukan oleh orang yang mampu dan tidak merasa sulit ketika melakukannya. Jangan sampai ia melakukan puasa ini sampai membuatnya meninggalkan amalan yang disyari’atkan lainnya. Begitu pula jangan sampai puasa ini membuatnya terhalangi untuk belajar ilmu agama. Karena ingat di samping puasa ini masih ada ibadah lainnya yang mesti dilakukan. Jika banyak melakukan puasa malah membuat jadi lemas, maka sudah sepantasnya tidak memperbanyak puasa. ... Wallahul Muwaffiq.”

7. Tidak mengapa jika puasa Daud bertepatan pada hari Jumat atau hari Sabtu karena ketika yang diniatkan adalah melakukan puasa Daud dan bukan melakukan puasa hari Jumat atau hari Sabtu secara khusus.

Masih banyak lagi manfaat dan faedah puasa nabi daud ini Yang belum kami Publikasikan.. insyaallah berapa khasiat lain nya akan di publiskan pada blog ini, jadi buat pengunjung harab bersabar !...

Dan Terima kasih atas kunjungan saudara semua, Semoga bermanfaat !.. amieen ya rabbal alamieen.

Selasa, 16 Juli 2013

Doa Niat Berpuasa Dan Berbuka Puasa Di Bulan Ramadhan

Doa Niat Berpuasa Dan Berbuka Puasa Di Bulan Ramadhan - Bagi Yang belup Hafal Doa - Doa Niat Berpuasa Dan Berbuka Puasa Di Bulan Ramadhan Silahkan Copykan DoaNya Di bawah ini, Simpan pada Computer anda agar mudah menghafal nya..




Doa Niat Berpuasa

Dibaca:   Nawaitu shauma godhin ‘an adaai fardli syahri ramadlaani haadzihis sanati lillahi       ta’aalaa

Artinya : Sengaja aku berpuasa esok hari untuk menunaikan fardhu puasa pada bulan Ramadhan tahun ini kerana Allah Taala



Do’a Berbuka Puasa Ramadhan :



Dibaca   : Allahuma laka shumtu wabika amantu wa ‘ala rizqika aftartu birahmatika ya arhama rohimin.
Artinya : Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa dan dengan rizki-Mu aku berbuka, Maha besar Allah yang maha pemurah lagi maha penyayang.



Selasa, 09 Juli 2013

Membangkit Kan Energi ILahi Dengan Berpuasa

 Membangkit Kan Energi ILahi Dengan Berpuasa
Bagi saudara yang ingin mengamalkan Metode puasa untuk membangkitkan
Energi atau kekuatan dalam diri silahkan ikuti tips berikut ini :

Puasa adalah momentum kita semua untuk menghayati hakikat kekekalan energi. Bahwa tiada yang berkuasa dengan kuasa yang mutlak melainkan Allah SWT. Hatinya bersaksi, bahwa kekuasaan Allah SWT meliputi segala ada termasuk dirinya sendiri. Kekekalan ini terasa KETIKA KITA BERPUASA TIDAK MAKAN DAN MINUM, MENAHAN NAFSU MAKA YANG TERJADI ADALAH KUN FAYAKUN, ENERGI ILAHI YANG LUAR BIASA DAHSYAT AKAN MENGALIR DALAM DIRI KITA. Dengan syarat, puasa kita adalah puasa yang betul.

Puasa Ramadhan yang rata-rata terdiri dari 30 hari bisa dibagi menjadi tiga momentum. 10 hari pertama, 10 hari kedua dan 10 hari ketiga. Pada 10 hari pertama kita mengoreksi diri dalam hal KESALAHAN OBYEKTIF mengenai makan dan minum. Kita kuat sesungguhnya bukan karena energi dari makanan dan minuman dan yang benar adalah kita kuat dan segar karena LA HAULA WA LA QUWWATA ILA BIL-LAH. Hakikat energi yang berasal dari makanan dan minuman itu sebenarnya hanya energi yang bisa terjadi atas perkenaan NYA semata.

Saat puasa, badan kita terasa lemah lunglai tiada berdaya. Namun sesungguhnya rasakanlah saat itu justeru muncul energi Ilahi dalam diri. Sama seperti saat bahaya mengancam, tiba-tiba energi kekuatan muncul tiada terduga… Itulah energi Ilahi yang keluar saat kita pasrah total. Tanpa pasrah total, ikhlas atau nrimo kita tidak akan pernah bisa didatangi oleh energi Ilahi. Maka pada saat puasa pula, biasanya merupakan saat terbaik untuk melakukan pemancaran energi Ilahi seperti mendoakan kesembuhan orang lain, kelancaran rezeki dan sebagainya.

Dan sesungguhnya energi Ilahi itu sudah tersimpan di dalam Kitab-NYA berupa ayat-ayat kauniah yang tergelar di alam semesta ini. Tinggal sekarang apakah kita mampu membuka kuncinya atau tidak? INNA QUWWATIH, NAKABAN NATAH KITABAN NATAH.. WA INNAMA AMRUHU IDZA ARODA SYAI’AN AN YAQULA LAHU KUN FAYAKUN.

Pada 10 hari kedua yaitu hari kesebelas hingga hari kedua puluh bulan Ramadhan, kita koreksi kesalah pahaman mengenai pembuangan tenaga. Bahwa kita tidak lah membuang tenaga melainkan justeru kembali ke NAFSIN WAHIDATIN. Alastu birabbikum, kalu bala syahidna (QS 7:172) yaitu Janji Kawula Gusti.

Dan puncaknya terjadi pada 10 hari ketiga yaitu hari kedua puluh satu hingga selesai bulan Ramadhan yaitu saat terjadinya LAILATUL QADAR. Yaitu teraksesnya ENERGI ILAHI oleh kesadaran ruhani kita seperti 1000 energi cahaya bulan yang menjadi satu dalam satu momentum beserta kepastian Furqoni 82 tahun yaitu energi LA ILAHA ILAL-LAH.

Allah SWT yang menganugerahkan energi pada manusia agar dengan energi yang dimilikinya itu dia memiliki sedikit kuasa untuk berusaha dan berbuat. Namun perlu diingat bahwa kuasa dan upaya tersebut tentunya hanya "pinjaman" yang akan "kembali" kepada Yang Punya Kuasa.

Menyelami makna LA HAULA WA LA QUWWATA ILLA BILLAH (Tiada daya dan upaya melainkan dengan bantuan Allah) dalam dirinya. Ungkapan tauhid ini mengandungi rahasia bahwa Tuhanlah yang Memiliki Semua Energi di alam semesta ini. Tiada satu pun energi kecuali berada di dalam kekekalan energi-NYA.

Kita makan dan minum untuk mencari sumber tenaga. Sumber tenaga dari makan dan minuman yang kita konsumsi sesungguhnya berasal dari tanaman, tumbuhan dan hewan. Mereka mendapat energi dari rantai makanan lain begitu seterusnya hingga akhirnya bermuara pada satu sumber energi yang tidak berasal dari sumber energi lain, yaitu Energi Ilahi.

Mereka yang tenggelam dalam lautan penyaksian wahdah (kesatuan sifat-sifat Allah) pasti menghayati bahwa manusia dan seluruh alam ini tidak pernah terlepas daripada kekuasaan Allah SWT. Maka, dia merasa harus menghambakan dirinya dan memilih untuk mentaati-Nya.

Tidak mudah untuk menemukan rumusan rahasia ini. Kita bisa berteori namun umumnya belum sampai pada pemahaman yang sesungguhnya. Mata, telinga dan hati kita masih terhijab dan hakikat hukum kekekalan energi Allah SWT belum mampu kita temukan. Kita masih menganggap bahwa yang berperanan dalam memberi manfaat dan menolak kemudaratan adalah dirinya sendiri dan makhluk-makhluk di sekitarnya.

Kita yang lalai itu terhijab dengan perbuatan Allah (af’aal) melalui makhluk-makhlukNya (infi’al) sehingga gagal menghayati makna sebenar wujud seluruh makhluk. Kita terhijab dalam kepompong hukum sebab akibat sehingga tidak dapat menghayati konsep qudrat (kekuasaan), iradah dan ilmu Allah.

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan pada kita sebagai berikut: KUNCI SEBENARNYA MENGAKSES ENERGI ILAHI YAITU MENGAKUI KEKUASAAN ALLAH SWT DENGAN CARA MENGAKUI KELEMAHAN DIRI DI HADAPAN-NYA SEBAGAIMANA MUSA AS YANG TERSUNGKUR DI BUKIT SINAI. ATAU BERSUJUDNYA SEORANG MUSLIM DENGAN SUNGGUH SUNGGUH SUJUD SAAT SHOLAT. KEYAKINAN INI JIKA DITERJEMAHKAN DALAM DIRI SESEORANG MAKA DIA AKAN MENGHADAPI KEHIDUPAN INI DENGAN PENUH KEPASRAHAN, NRIMO, IKHLAS, KETERGANTUNGAN HATI HANYA KEPADA-NYA TANPA RASA KEBIMBANGAN SEDIKITPUN.

Apa yang dia laksanakan adalah apa yang dituntut oleh Allah. Mereka tidak perlu risau soal hasil karena sudah ada jaminan kepastian atas dirinya. Namun, tatkala mengetahui bahwa hanya Allah yang Maha Berkuasa dalam kehidupan ini, maka dia pun tidak bermalas-malasan dan sebaliknya akan "berusaha" sekeras mungkin sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.

Allah menugaskan agar kita berusaha dalam rangka menunaikan tugas penghambaan diri. Usaha yang kita lakukan sebenarnya telah diperintahkan oleh Allah dan ini kita lakukan dalam rangka penyempurnaan ibadah. Kita dilarang keras jadi pemalas! Karena kewajiban kita adalah melaksanakan ibadah khusus (syahadat, sholat, zakat, puasa dan sebagainya) dan ibadah umum (mencari rezeki, beramal kebajikan demi kesejahteraan semua makhluk hidup, melestarikan alam sekitar dan sebagainya).

Energi Ilahi Yang Kekal

Ada satu fenomena yang bila kita memikirkannya kita akan menyebut ALLAHU AKBAR.. aneh tapi nyata.. yaitu tentang cahaya. Di dalam QS An Nur 35 menjelaskan: "Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya adalah ibarat misykat. Di dalam misykat itu ada pelita. Pelita itu ada di dalam kaca. Kaca itu laksana bintang berkilau. Dinyalakan dengan minyak pohon yang diberkati. Pohon zaitun yang bukan di timur atau di barat. Yang minyaknya hampir menyala dengan sendirinya walaupun tiada api menyentuhnya. Cahaya di atas Cahaya! Allah menuntun kepada cahaya-NYA, siapa saja yang ia kehendaki. Dan Allah membuat perumpamaan bagi manusia. Sungguh Allah mengetahui segalanya."

Kenapa Allah SWT mengidentifikasikan diri-Nya dengan perumpamaan Cahaya Maha Cahaya? Jawabannya adalah cahaya tidak pernah kehabisan energi.

Ada anggapan sementara kaum ilmuwan di dalam Teori Einstein bahwa cahaya akan kehilangan energinya ketika meninggalkan medan gravitasi yaitu dengan bergeser warnanya ke arah warna merah dengan panjang gelombang yang lebih panjang. Yang dimaksud kehilangan energinya adalah bukan dalam artian benar-benar hilang, tetapi energinya berkurang dengan mentransferkan energinya menjadi bentuk yang lain.

Cahaya ketika meninggalkan gravitasi (meninggalkan bumi) akan dibelokan dan terurai karena adanya perbedaan tekanan udara, seperti halnya cahaya ketika dilewatkan pada sebuah prisma. Disini tidak ada energi yang hilang.

Di dalam fisika, cahaya atau gelombang elektromagnetik adalah sebuah panjang gelombang tertentu yang dipancarkan dari sumber dengan gravitasi yang lebih kuat, yang terpancar menuju area dengan gravitasi yang lebih rendah. Pengamat akan melihat bahwa panjang gelombang yang diterimanya akan menjadi lebih besar (frekuensi lebih rendah, energi lebih rendah), itu yang disebut fenomena gravitational redshift.

Tetapi jangan buru-buru mengatakan bahwa cahaya tersebut kehilangan energi. Untuk hal yang seperti ini (dalam orde cahaya) kita harus menggunakan hukum relativitas, dan tidak bisa menggunakan fisika klasik.

Fenomena ini mirip dengan ketika ada dua orang, yang satu tinggal di bumi dan satunya naik pesawat dengan kecepatan yang mendekati cahaya. Kedua orang tersebut mengukur panjang sebuah benda yang diam dibumi, hasil yang tampak adalah akan memperlihatkan bahwa hasil pengukuran mereka berbeda. Ini tidak bisa dipahami dengan fisika klasik tapi bisa dipahami menggunakan hukum relativitas.

Pada gravitational redshift tidak ada energi yang hilang, hanya ada perbedaan pengamatan akibat beda tempat, perbedaan tersebut harus dilihat secara relativistik (menggunakan hukum relativitas) jadi tidak ada yang hilang dan tidak ada yang aneh.

Hukum relativitas tidak pernah mengatakan bahwa kita bisa mundur ke masa lampau, itu hanya terjadi pada film fiksi saja. Tetapi menurut hukum relativitas bahwa waktu memang bisa molor tergantung dari posisi pengamatnya. Fenomenanya bisa diamati salah satunya yaitu ketika foton dari cahaya matahari bergerak menuju bumi, waktu menjadi relatif bagi si foton.

Masih di dalam fisika bahwa semua partikel (apapun itu jenisnya) tidak bisa bergerak dengan kecepatan melewati 3 x 10^8 m/s (kecepatan cahaya). Mungkin itu sudah dibatasi oleh yang menciptakan alam ini. Kalau ada partikel yang mampu bergerak dengan kecepatan melampaui kecepatan cahaya persamaan relativitas menjadi tidak terdefinisikan. Jika kita naik pesawat dengan kecepatan 0.75 C relatif terhadap bumi, kemudian kita menembakan peluru pada arah yang sama dengan pesawat dengan kecepatan 0.75 C relatif terhadap pesawat, maka kecepatan peluru terhadap bumi tidak menjadi 1,5 C.

Barangkali itu sebabnya, Allah SWT membuat perumpamaan dirinya dengan Cahaya Maha Cahaya… Sebab cahaya-NYA tidak pernah kehabisan energi dimana pun dan sampai kapanpun. Energi Ilahi sebagaimana tercermin dalam energi dalam hukum fisika, akan kekal abadi sepanjang masa dan kita akan bisa mendapatkannya kapanpun kita inginkan asal punya niat dan kemauan. Mari kita berproses bersama menuju kesempurnaan… Selamat berpuasa Ramadhan.

sumber: http://www.blogger.com/indospiritual.com/artikel_puasa-dan-kedahsyatan-energi-ilahi.html

Amalan dalam Bulan Ramadhan

 Amalan dalam Bulan Ramadhan

Amalan dalam Bulan Ramadhan

Segala puji bagi Allah  yang menjadikan bulan Ramadhan lebih baik dari pada bulan-bulan lainnya dengan menurunkan al-Qur`an dan mewajibkan puasa bagi kaum muslimin sebagai salah satu pondasi Islam. shalawat dan salam tercurah kepada Nabi Muhammad   yang telah menyampaikan kepada kita tentang ibadah-ibadah dibulan Ramadhan dan memberikan contoh kepada kita bagaimana sebaiknya menghidupkan bulan bulan yang penuh berkah ini.
Dari Abu Hurairah , ia berkata, 'Rasulullah   memberi kabar gembira kepada para sahabatnya dengan bersabda:

قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ, شَهْرٌ مُبَارَكٌ, كَتَبَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ, فِيْهِ تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةُ وَتُغْلَقُ فِيْهِ أَبْوَابُ الْجَحِيْمِ وَتُغَلُّ فِيْهِ الشَّيَاطِيْنُ. فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ. مَنْ ُحُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ.

"Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah   mewajibkan kepadamu puasa di dalamnya; pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan para setan diikat; juga terdapat dalam bulan ini malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang tidak memperoleh kebaikannya, maka ia tidak memperoleh apa-apa." HR. Ahmad dan an-Nasa`i.
Berikut ini adalah amalan-amalan yang dianjurkan di bulan Ramadhan:
1.Puasa: Allah   memerintahkan berpuasa di bulan Ramadhan sebagai salah satu rukun Islam.
Firman Allah  :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. (QS. Al-Baqarah:183)
Rasulullah   bersabda:

بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةُ وَصَوْمِ رَمَضَانَ وَحَجِّ الْبَيْتِ الْحَرَامِ.

"Islam didirikan di atas lima perkara, yaitu bersaksi bahwa tidak Ilah yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad   adalah rasul Allah  , mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan pergi ke Baitul Haram." Muttafaqun 'alaih.

Puasa di bulan merupakan penghapus dosa-dosa yang terdahulu apabila dilaksanakan dengan ikhlas berdasarkan iman dan hanya mengharapkan pahala dari Allah , sebagaimana Rasulullah  bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

"Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah , niscaya diampuni dosa-dosanya telah lalu." Muttafaqun 'alaih.

2.Membaca al-Qur`an: Membaca al-Qur`an sangat dianjurkan bagi setiap muslim di setiap waktu dan kesempatan. Rasulullah  bersabda:

اِقْرَؤُوْا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيْعًا ِلأَصْحَابِهِ.

"Bacalah al-Qur`an, sesungguhnya ia datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi ahlinya (yaitu, orang yang membaca, mempelajari dan mengamalkannya). HR. Muslim.
Dan membaca al-Qur`an lebih dianjurkan lagi pada bulan Ramadhan, karena pada bulan itulah diturunkan al-Qur`an. Firman Allah :

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). (QS: al-Baqarah:185)
Rasulullah selalu memperbanyak membaca al-Qur`an di hari-hari Ramadhan, seperti diceritakan dalam hadits 'Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata:

وَلاَ أَعْلَمُ نَبِيَّ الله ِقَرَأَ الْقُرْآنَ كُلَّهُ فِى لَيْلَةٍ, وَلاَ قَامَ لَيْلَةً حَتَّى يُصْبِحَ وَلاَ صَامَ شَهْرًا كَامِلاً غَيْرَ رَمَضَانَ.

"Saya tidak pernah mengetahui Rasulullah   membaca al-Qur`an semuanya, sembahyang sepanjang malam, dan puasa sebulan penuh selain di bulan Ramadhan." HR. Ahmad.
Dalam hadits Ibnu Abbas   yang diriwayatkan al-Bukhari, disebutkan bahwa Rasulullah   melakukan tadarus al-Qur`an bersama Jibril   di setiap bulan Ramadhan.

3.Menghidupkan malam-malam bulan Ramadhan dengan shalat Tarawih berjamaah: Shalat Tarawih disyari'atkan berdasarkan hadits 'Aisyar radhiyallahu 'anha, ia berkata:"Sesungguhnya Rasulullah   keluar pada waktu tengah malam, lalu beliau shalat di masjid, dan shalatlah beberapa orang bersama beliau. Di pagi hari, orang-orang memperbincangkannya. Ketika Nabi  mengerjakan shalat (di malam kedua), banyaklah orang yang shalat di belakang beliau. Di pagi hari berikutnya, orang-orang kembali memperbincangkannya. Di malam yang ketiga, jumlah jamaah yang di dalam masjid bertambah banyak, lalu Rasulullah  keluar dan melaksanakan shalatnya. Pada malam keempat, masjid tidak mampu lagi menampung jamaah, sehingga Rasulullah   hanya keluar untuk melaksanakan shalat Subuh. Tatkala selesai shalat Subuh, beliau menghadap kepada jamaah kaum muslimin, kemudian membaca syahadat dan bersabda, 'Sesungguhnya kedudukan kalian tidaklah samar bagiku, aku merasa khawatir ibadah ini diwajibkan kepada kalian, lalu kalian tidak sanggup melaksanakannya." Rasulullah   wafat dan kondisinya tetap seperti ini. (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Setelah Rasulullah  wafat, syariat telah mantap, hilanglah segala kekhawatiran. Disyari'atkan shalat Tarawih berjamaah tetap ada karena telah hilang 'illat (sebabnya), kerena 'illat itu berputar bersama ma'lul, ada dan tiadanya. Di samping itu, Khalifah Umar   telah menghidupkan kembali syari'at shalat Tarawih secara berjamaah dan hal itu disepakati oleh semua sahabat Rasulullah  pada masa itu. Wallahu A'lam.
4.Menghidupkan malam-malam Lailatul Qadar: lailatul qadar adalah malam yang lebih baik dari pada seribu bulan yang tidak ada lailatul qadar dan pendapat paling kuat bahwa ia terjadi di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, terlebih lagi pada malam-malam ganjil, yaitu malam 21, 23,25,27, dan 29. Firman Allah :

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌمِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. (QS.al-Qadar :3)
Malam itu adalah pelebur dosa-dosa di masa lalu, Rasulullah  bersabda:

وَمَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدَرِ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.

"Dan barangsiapa yang beribadah pada malam 'Lailatul qadar' semata-mata karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah  , niscaya diampuni dosa-dosanya yang terdahulu." HR. al-Bukhari.
Menghidupkan Lailatul qadar adalah dengan memperbanyak shalat malam, membaca al-Qur`an, zikir, berdo'a, membaca shalawat. Aisyah radhiyallahu 'anha pernah berkata, 'Aku bertanya, 'Wahai Rasulullah, jika aku mendapatkan lailatul qadar, maka apa yang aku ucapkan? Beliau menjawab, 'Bacalah:

اَللّهُمًَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَفاَعْفُ عَنِّي

Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Yang suka mengampuni, ampunilah aku."

5.I'tikaf di malam-malam Lailatul Qadar: I'tikaf dalam bahasa adalah berdiam diri atau menahan diri pada suatu tempat, tanpa memisahkan diri. Sedang dalam istilah syar'i, i'tikaf berarti berdiam di masjid untuk beribadah kepada Allah  dengan cara tertentu sebagaimana telah diatur oleh syari'at.
I'tikaf merupakan salah satu sunnah yang tidak pernah ditinggal oleh Rasulullah , seperti yang diceritakan oleh Aisyah radhiyallahu 'anha:

أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ اْلأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتىَّ تَوَفَّاهُ اللهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ.

"Sesungguhnya Nabi  selalu i'tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan sampai meninggal dunia, kemudian istri-istri beliau beri'tikaf sesudah beliau." Muttafaqun 'alaih.
6.Memperbanyak sedekah: Rasulullah   adalah orang yang paling pemurah, dan beliau   lebih pemurah lagi di bulan Ramadhan. Hal ini berdasarkan riwayat Ibnu Abbas  , ia berkata:
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَجْوَدَ النَّاسِ, وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُوْنُ فِى رَمَضَانَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ ...

"Rasulullah  adalah manusia yang paling pemurah, dan beliau lebih pemurah lagi di bulan saat Jibril   menemui beliau, …HR. al-Bukhari.
7.Melaksanakan ibadah umrah: salah satu ibadah yang sangat dianjurkan di bulan Ramadhan adalah melaksanakan ibadah umrah dan Rasulullah  menjelaskan bahwa nilai pahalanya sama dengan melaksanakan ibadah haji, seperti dalam hadits yang berbunyi:

عُمْرَةٌ فِى رَمَضَانَ تَعْدِلُ حَجَّةً

"Umrah di bulan Ramadhan sama dengan ibadah haji."
Demikianlah beberapa ibadah penting yang sangat dianjurkan untuk dilaksanakan di bulan Ramadhan dan telah dicontohkan oleh Rasulullah  . Semoga kita termasuk di antara orang-orang yang mendapat taufik dari Allah   untuk mengamalkannya agar kita mendapatkan kebaikan dan keberkahan bulan Ramadhan. Wallahu A'lam.

Marhaban Ya Ramadan | Rahasia Dan Hikmah Puasa Ramadan

 Marhaban Ya Ramadan | Rahasia Dan Hikmah Puasa Ramadan
Puasa Ramadan,Salat tarawih,Turunnya Alquran, 
Lailatul Qadar, Umrah, Zakat Fitrah,Idul Fitri

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa" (QS. Al Baqarah: 183) "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa"(QS. Al Baqarah: 183)

 Puasa Ramadan

Selama bulan Ramadan, penganut agama Islam akan berpuasa setiap hari sampai Idul Fitri tiba. ''Ied'' artinya Hari Raya. ''Fithri'' berasal dari kata ''fathara'' artinya 'memecah, mengakhiri". Ied al-Fithri artinya Hari Raya Mengakhiri Puasa (Ramadan).

Hari terakhir dari bulan Ramadan dirayakan dengan sukacita oleh seluruh muslim di dunia. Pada malam harinya (malam 1 syawal), yang biasa disebut malam kemenangan, mereka akan mengumandangkan takbir bersama-sama. Di Indonesia sendiri ritual ini menjadi tontonan yang menarik karena biasanya para penduduk (yang beragama Islam) akan mengumandangkan takbir sambil berpawai keliling kota dan kampung, kadang-kadang dilengkapi dengan memukul beduk dan menyalakan kembang api.

Esoknya tanggal 1 Syawal, yang dirayakan sebagai hari raya Idul Fitri, baik laki-laki maupun perempuan muslim akan memadati masjid maupun lapangan tempat akan dilakukannya Salat Ied. Salat dilakukan dua raka'at kemudian akan diakhiri oleh dua khotbah mengenai Idul Fitri. Perayaan kemudian dilanjutkan dengan acara saling memberi ma'af di antara para muslim, dan sekaligus mengakhiri seluruh rangkaian aktivitas keagamaan khusus yang menyertai Ramadan.

Salat tarawih 

Pada malam harinya, tepatnya setelah  salat isya , para agama Islam melanjutkan ibadahnya dengan melaksanakan  salat tarawih . Salat khusus yang hanya dilakukan pada bulan Ramadan. Salat tarawih, walaupun dapat dilaksanakan dengan sendiri-sendiri, umumnya dilakukan secara  salat berjama'ah berjama'ah  di  masjid masjid-masjid . Terkadang sebelum pelaksanaan salat tarawih pada tepat-tempat tertentu, diadakan ceramah singkat untuk membekali para jama'ah dalam menunaikan ibadah pada bulan bersangkutan.

 Turunnya Alquran

Pada bulan ini di Indonesia, tepatnya pada tanggal 17 Ramadan,  terdapat perbedaan pendapat para ulama mengenai tanggal pasti turunnya Alquran untuk pertama kalinyaNuzulul Quran Sebagai Peringatan atau Pelajaran diperingati juga sebagai hari turunnya ayat  Alquran ''(Nuzulul Qur'an)'' untuk pertama kalinya oleh sebagian muslim. Pada peristiwa tersebut  surat Al Alaq ayat 1 sampai 5 diturunkan pada saat Nabi  Muhammad  SAW sedang berada di  Gua Hira .

 Lailatul Qadar

''Lailatul Qadar'' (malam ketetapan), adalah satu malam yang khusus terjadi di bulan Ramadan. Malam ini dikatakan dalam  Alquran  pada  surah Al-Qadr , lebih baik daripada seribu bulan. Saat pasti berlangsungnya malam ini tidak diketahui namun menurut beberapa  hadis riwayat , malam ini jatuh pada 10 malam terakhir pada bulan Ramadan, tepatnya pada salah satu malam ganjil yakni malam ke-21, 23, 25, 27 atau ke-29. Sebagian muslim biasanya berusaha tidak melewatkan malam ini dengan menjaga diri tetap terjaga pada malam-malam terakhir Ramadan sembari beribadah sepanjang malam. Hidayatullah 


 Umrah

Ibadah umrah jika dilakukan pada bulan ini mempunyai nilai dan pahala yang lebih bila dibandingkan dengan bulan yang lain. Dalam [[Hadis]] dikatakan "Umrah di bulan Romadhan sebanding dengan haji atau haji bersamaku." (HR: Bukhari dan Muslim). media muslim, umrah di bulan ramadan

Zakat Fitrah

Zakat fitrah adalah  zakat yang dikeluarkan khusus pada bulan Ramadan atau paling lambat sebelum selesainya salat Idul Fitri . Setiap individu  muslim  yang berkemampuan wajib membayar zakat jenis ini. Besarnya zakat fitrah yang harus dikeluarkan per individu adalah satu sha' makanan pokok di daerah bersangkutan. Jumlah ini bila dikonversikan kira-kira setara dengan 2,5 kilogram atau 3,5 liter beras. Penerima Zakat secara umum ditetapkan dalam 8 golongan (fakir, miskin, amil,  muallaf , hamba sahaya, gharimin, fisabilillah, ibnu sabil) namun menurut beberapa ulama khusus untuk zakat fitrah mesti didahulukan kepada dua golongan pertama yakni fakir dan miskin. Pendapat ini disandarkan dengan alasan bahwa jumlah zakat yang sangat kecil sementara salah satu tujuannya dikeluarkannya zakat fitrah adalah agar para fakir dan miskin dapat ikut merayakan hari raya.
''


 Idul Fitri

Akhir dari bulan Ramadan dirayakan dengan sukacita oleh seluruh muslim di seluruh dunia. Pada malam harinya (malam 1  syawal , yang biasa disebut malam kemenangan, mereka akan mengumandangkan takbir bersama-sama. Di Indonesia sendiri ritual ini menjadi tontonan yang menarik karena biasanya para penduduk (yang beragama Islam) akan mengumandangkan takbir sambil berpawai keliling kota dan kampung, kadang-kadang dilengkapi dengan memukul beduk dan menyalakan kembang api.

Esoknya tanggal 1 Syawal, yang dirayakan sebagai hari raya  Idul Fitri , baik laki-laki maupun perempuan muslim akan memadati  masjid  maupun lapangan tempat akan dilakukannya  Salat Ied .  Salat dilakukan dua raka'at kemudian akan diakhiri oleh dua khotbah mengenai Idul Fitri. Perayaan kemudian dilanjutkan dengan acara saling memberi ma'af di antara para muslim, dan sekaligus mengakhiri seluruh rangkaian aktivitas keagamaan khusus yang menyertai Ramadan.

Panduan Lengkap Tentang Ramadhan | Panduan Lengkap Puasa Di Bulan Ramadhan

Panduan Lengkap Puasa Ramadhan,Panduan Lengkap Ramadhan,Panduan Lengkap Puasa Ramadhan,Panduan Lengkap di Bulan Ramadhan,Panduan Lengkap ibadah Ramadhan,bahasan dan Panduan lengkap Bulan Ramadlan,Download Lengkap Panduan Puasa Ramadhan.  

Panduan Lengkap Tentang Ramadhan | Panduan Lengkap Puasa Di Bulan Ramadhan

Panduan Lengkap Puasa Di Bulan Ramadhan

Rasulullah sendiri senantiasa menyambut gembira setiap datangnya Ramadhan. Dan
berita  gembira  itu  disampaikan  pula  kepada  para  sahabatnya  seraya  bersabda:
"Sungguh  telah  datang  kepadamu  bulan  Ramadhan,  bulan  yang  penuh  keberkatan.
Allah  telah  memfardlukan  atas  kamu  puasanya.  Di  dalam  bulan  Ramadhan  dibuka
segala  pintu  surga  dan  dikunci  segala  pintu  neraka  dan  dibelenggu  seluruh setan.
Padanya  ada  suatu  malam  yang  lebih  baik  dari  seribu  bulan.  Barangsiapa  tidak
diberikan kepadanya kebaikan malam itu maka sesungguhnya dia telah dijauhkan dari
kebajikan" (Hr. Ahmad)
Marhaban  Ramadhan,  kita  ucapkan  untuk  bulan  suci  itu,  karena kita mengharapkan
agar jiwa raga kita diasah dan diasuh guna melanjutkan perjalanan menuju Allah swt.
Perjalanan menuju Allah swt itu dilukiskan oleh para ulama salaf sebagai perjalanan
yang  banyak  ujian  dan  tentangan.  Ada  gunung  yang  harus  didaki,  itulah   nafsu.
Digunung itu ada lereng yang curam, belukar yang hebat, bahkan banyak perompak
yang   mengancam,   serta   iblis   yang   merayu,   agar   perjalanan   tidak   dilanjutkan.
Bertambah  tinggi  gunung  didaki,  bertambah  hebat  ancaman  dan  rayuan,  semakin
curam dan ganas pula perjalanan.

Tetapi, bila tekad tetap membaja, sebentar lagi akan tampak cahaya benderang, dan
saat  itu  akan  tampak  dengan  jelas  rambu-rambu  jalan,  tampak  tempat-tempat  yang
indah untuk berteduh, serta telaga-telaga  jernih  untuk  melepaskan  dahaga.  Dan bila
perjalanan dilanjutkan akan ditemukan kendaraan Ar-Rahman untuk mengantar sang
musafir bertemu dengan kekasihnya. Untuk sampai pada tujuan tentu diperlukankan
bekal yang cukup. Bekal itu adalah benih-benih kebajikan yang harus kita tabur didalam
jiwa kita. Tekad yang keras dan membaja untuk memerangi nafsu, agar kita mampu
menghidupkan malam Ramadhan dengan shalat dan tadarrus, serta siangnya dengan
ibadah kepada Allah melalui pengabdian untuk agama.

agung  ini.  Imam  Ahmad  berkata:  "Sepengetahuan  saya  tak  seorang  pun  ulama
mengatakan i'tikaf bukan sunnat".

Fadhilah (keutamaan) I'tikaf
Abu  Daud  pernah  bertanya   kepada   Imam   Ahmad:   Tahukan   anda   hadits   yang
menunjukkan keutamaan I'tikaf? Ahmad menjawab: tidak kecuali hadits lemah. Namun
demikian  tidaklah  mengurangi  nilai  ibadah  I'tikaf  itu  sendiri  sebagai  taqorrub  kepada
Allah SWT. Dan cukuplah keuatamaanya bahwa Rasulullah SAW, para shahabat, para
istri Rasulullah SAW dan para ulama' salafus sholeh senantiasa melakukan ibadah ini.

Macam-macam I'tikaf
I'tikaf yang disyariatkan ada dua macam; satu sunnah, dan dua wajib. I'tikaf sunnah
yaitu  yang  dilakukan  secara  sukarela  semata-mata  untuk  bertaqorrub  kepada  Allah
SWT seperti i'tikaf 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Dan I'tikaf yang wajib yaitu yang
didahului dengan nadzar (janji), seperti: "Kalau Allah SWT menyembuhkan sakitku ini,
maka aku akan beri'tikaf.

Waktu I'tikaf
Untuk i'tikaf wajib tergantung pada berapa lama waktu yang dinadzarkan , sedangkan
i'tikaf sunnah tidak ada batasan waktu tertentu. Kapan saja pada malam atau siang hari,
waktunya bisa lama dan juga bisa singkat. Ya'la bin Umayyah berkata: " Sesungguhnya
aku berdiam satu jam di masjid tak lain hanya untuk i'tikaf".

Syarat-Syarat I'tikaf
Orang yang i'tikaf harus memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut:
1.  Muslim.
2.  Berakal
3.  Suci dari janabah (junub), haidh dan nifas.
Oleh karena itu i'tikaf  tidak diperbolehkan bagi orang kafir, anak yang belum mumaiyiz
(mampu membedakan), orang junub, wanita haidh dan nifas.

Rukun-Rukun I'tikaf
1.  Niat (QS. Al Bayyinah: 5), (HR: Bukhori & Muslim tentang niat)
2.  Berdiam di masjid (QS. Al Baqoroh: 187)
Disini  ada  dua  pendapat  ulama  tentang  masjid  tempat  i'tikaf  .  Sebagian  ulama
membolehkan i'tikaf disetiap masjid yang dipakai shalat berjama'ah lima waktu. Hal
itu   dalam   rangka   menghindari   seringnya   keluar   masjid   dan   untuk   menjaga
pelaksanaan shalat jama'ah setiap  waktu. Ulama lain mensyaratkan agar i'tikaf itu
dilaksanakan di masjid yang dipakai buat shalat jum'at, sehingga orang yang i'tikaf
tidak perlu meninggalkan tempat i'tikafnya menuju masjid lain untuk shalat jum'at.
Pendapat ini dikuatkan oleh para ulama Syafi'iyah bahwa yang afdhol yaitu i'tikaf di
masjid  jami',  karena  Rasulullah  SAW  i'tikaf  di  masjid  jami'.  Lebih  afdhol  di  tiga
masjid; masjid al-Haram, masjij Nabawi, dan masjid Aqsho.

Awal danAkhir I'tikaf
Khusus i'tikaf Ramadhan waktunya dimulai sebelum terbenam matahari malam ke 21.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
"Barangsiapa yang ingin i'tikaf dengan ku, hendaklah ia beri'tikaf pada 10 hari terakhir
Ramadhan" (HR. Bukhori).
10 (sepuluh) disini adalah jumlah malam, sedangkan malam pertama dari sepuluh itu
adalah malam ke 21 atau 20. Adapun waktu keluarnya atau berakhirnya, kalau i'tikaf
dilakukan  10  malam  terakhir,  yaitu  setelah  terbenam  matahari,  hari  terakhir  bulan
Ramadhan. Akan tetapi beberapa kalangan ulama mengatakan yang lebih mustahab
(disenangi) adalah menuggu sampai shalat ied.
Hal-hal yang Disunnahkan Waktu I'tikaf

Disunnahkan agar orang yang i'tikaf memperbanyak ibadah dan taqorrub kepada Allah
SWT  ,  seperti  shalat,  membaca  al-Qur'an,  tasbih,  tahmid,  tahlil,  takbir,  istighfar,
shalawat   kepada   Nabi   SAW,   do'a   dan   sebagainya.   Termasuk   juga   didalamnya
pengajian,   ceramah,   ta'lim,   diskusi   ilmiah,   tela'ah   buku   tafsir,   hadits,   siroh   dan
sebagainya.  Namun  demikian  yang  menjadi  prioritas  utama  adalah  ibadah-ibadah
mahdhah.  Bahkan  sebagian  ulama  meninggalkan  segala  aktifitas  ilmiah  lainnya  dan
berkonsentrasi penuh pada ibadah-ibadah mahdhah.

Hal-hal yang Diperbolehkan bagi Mu'takif(Orang yang Beri'tikaf)
1.  Keluar dari tempat i'tikaf untuk mengantar istri, sebagaimana yang dilakukan oleh
Rasulullah SAW terhadap istrinya Shofiyah ra. (HR. Riwayat Bukhori Muslim)
2.  Menyisir atau mencukur rambut, memotong kuku, membersihkan tubuh dari kotoran
dan bau badan.
3.  Keluar dari tempat keperluan yang harus dipenuhi, seperti membuang air besar dan
kecil, makan, minum (jika tidak ada yang mengantarkannya), dan segala sesuatu
yang  tidak  mungkin  dilakukan  di  masjid.  Tetapi  ia  harus  segera  kembali  setelah
menyelesaikan keperluanya .
4.  Makan,  minum,  dan  tidur  di  masjid  dengan  senantiasa  menjaga  kesucian  dan
kebersihan masjid.

Hal-hal yang Membatalkan I'tikaf
1.  Meninggalkan  masjid  dengan  sengaja  tanpa  keperluan,  meski  sebentar,  karena
meninggalkan salah satu rukun i'tikaf yaitu berdiam di masjid.
2.  Murtad (keluar dari agama Islam) (QS. 39: 65
3.  Hilangnya akal, karena gila atau mabuk
4.  Haidh
5.  Nifas
6.  Berjima'  (bersetubuh  dengan  istri)  (QS.  2:  187).  Akan  tetapi  memegang  tanpa
syahwat, tidak apa-apa sebagaimana yang dilakukan Nabi dengan istri- istrinya.
7.  Pergi shalat jum'at  (bagi mereka yang membolehkan i'tikaf di mushalla yang tidak
dipakai shalat jum'at)

I'tikaf bagi Muslimah

I'tkaf  disunnahkan  bagi  wanita  sebagaimana  disunnahkan  bagi  pria.  Selain  syarat-
syarat yang disebutkan tadi, i'tikaf bagi kaum wanita harus memenuhi syarat-syarat lain
sbb:
1.  Mendapat  izin  (ridlo) suami atau orang tua. Hal itu disebabkan karena ketinggian
hak suami bagi istri yang wajib ditaati, dan juga dalam rangka menghindari fitnah
yang mungkin terjadi.
2.  Agar tempat i'tikaf wanita memenuhi kriteria syari'at.
Kita telah mengetahui bahwa salah satu rukun atau syarat i'tikaf adalah masjid. Untuk
kaum  wanita,  ulama  sedikit  berbeda  pendapat  tentang  masjid  yang  dapat  dipakai
wanita  beri'tikaf.  Tetapi  yang  lebih  afdhol-  wallahu  'alam-  ialah  tempat  shalat  di
rumahnya. Oleh karena bagi wanita tempat shalat dirumahnya lebih afdhol dari masjid
wilayahnya.  Dan  masjid  di  wilayahnya  lebih  afdhol  dari  masjid  raya.  Selain  itu  lebih
seiring   dengan   tujuan   umum   syari'at   Islamiyah,   untuk   menghindarkan   wanita
semaksimal mungkin dari tempat keramaian kaum pria, seperti tempat ibadah di masjid.
Itulah sebabnya wanita tidak diwajibkan shalat jum'at dan shalat jama'ah di masjid. Dan
seandainya ke masjid ia harus berada di belakang. Kalau demikian, maka i'tikaf yang
justru   membutuhkan   waktu   lama   di   masjid   ,   seperti   tidur,   makan,   minum,   dan
sebagainya lebih dipertimbangkan. Ini tidak berarti i'tikaf bagi wanita tidak diperboleh di
masjid. Wanita bisa saja i'tikaf di masjid dan bahkan lebih afdhol apabila masjid tersebut
menempel dengan rumahnya, jama'ahnya hanya wanita, terdapat tempat buang air dan
kamar mandi khusus dan sebagainya. Wallahu 'alam.
11.    PANDUAN MENGELUARKAN ZAKAT FITRAH

1.  Diriwayatkan dari Ibnu Umar t.ia berkata: Rasulullah telah mewajibkan zakat fithrah
dari bulan Ramadhan satu sha' dari kurma, atau satu sha' dari sya'iir. atas seorang
hamba, seorang merdeka, laki-laki, wanita, anak kecil dan orang dewasa dari kaum
muslilmin. (H.R: Al-Bukhary dan Muslim)
2.  Diriwayatkan dari Umar bin Nafi' dari ayahnya dari Ibnu Umar ia berkata ; Rasulullah
telah mewajibkan zakat fithrah satu sha' dari kurma atau satu sha' dari sya'iir atas
seorang hamba, merdeka, laki-laki, wanita, anak kecil dan orang dewasa dari kaum
muslimin dan beliau memerintahkan agar di tunaikan / dikeluarkan sebelum manusia
keluar untuk shalat 'ied. (H.R: Al-Bukhary, Abu Daud dan Nasa'i)
3.  Diriwayatkan  dari  Ibnu  Abbas  ra.  ia  berkata: Rasulullah saw telah memfardhukan
zakat fithrah untuk membersihkan orang yang shaum dari perbuatan sia-sia dan dari
perkataan  keji  dan  untuk  memberi  makan  orang  miskin.  Barang  siapa  yang
mengeluarkannya sebelum shalat, maka ia berarti zakat yang di terima dan barang
siapa yang mengeluarkannya sesudah shalat 'ied, maka itu berarti shadaqah seperti
shadaqah   biasa   (bukan   zakat   fithrah).   (H.R:   Abu   Daud,   Ibnu   Majah   dan
Daaruquthni)
4.  Diriwayatkan dari Hisyam bin urwah dari ayahnya dari Abu Hurairah ra. dari Nabi
saw. bersabda: Tangan di atas (memberi dan menolong) lebih baik daripada tangan
di bawah  (meminta-minta), mulailah orang yang menjadi tanggunganmu  (keluarga
dll) dan  sebaik-baik shadaqah adalah yang di keluarkan dari kelebihan kekayaan
(yang di perlukan oleh keluarga) (H.R: Al-Bukhary dan Ahmad)
5.  Diriwayatkan  dari  Ibnu  Umar  ra.  ia  berkata:  Rasulullah sw. memerintahkan untuk
mengeluarkan  zakat  fithrah  unutk  anak  kecil,  orang  dewasa,  orang  merdeka  dan
hamba sahaya dari orang yang kamu sediakan makanan mereka (tanggunganmu).
(H.R: Daaruquthni, hadits hasan)
6.  Artinya: Diriwayatkan dari Nafi' t. berkata: Adalah Ibnu Umar menyerahkan (zakat
fithrah) kepada mereka yang menerimanya  (panitia  penerima  zakat  fithrah  /  amil)
dan mereka (para sahabat) menyerahkan zakat fithrah sehari atau dua hari sebelum
'iedil fitri. (H.R.Al-Bukhary)
7.  Diriwayatkan dari Nafi': Bahwa sesungguhnya Abdullah bin Umar menyuruh orang
mengeluarkan  zakat  fithrah  kepada  petugas  yang  kepadanya  zakat  fithrah  di
kumpulkan (amil)  dua hari atau tiga hari sebelum hari raya fitri. (H.R: Malik)

Hadits-hadits tersebut di atas memberi pelajaran kepada kita bahwa:
1.  Wajib  bagi  tiap  kaum  muslimin  untuk  mengeluarkan  zakat  fithrah  untuk  dirinya  ,
keluarganya dan orang lain yang menjadi tanggungannya baik orang dewasa, anak
kecil, laki-laki maupun wanita. (dalil: 1,2 dan 5)
2.  Yang  wajib  mengeluarkan  zakat  fithrah  adalah  yang  mempunyai  kelebihan  dari
keperluan untuk dirinya dan keluarganya. (dalil: 4)
3.  Sasaran zakat fithrah adalah dibagikan kepada kaum miskin dari kalangan kaum
muslimin. (dalil: 3)
4.  Zakat fithrah dikeluarkan dari makanan pokok(di negeri kita adalah beras) sebanyak
lebih kurang 3,1 liter untuk seorang. (dalil: 1 dan 2)
5.  Cara menyerahkan zakat fithrah adalah sebagai berikut:
a.  Bila  diserahkan  langsung  kepada  yang  berhak  (fakir  miskin  muslim)  waktu
penyerahannya adalah sebelum shalat 'ied yakni malam hari raya atau setelah
shalat Shubuh sebelum shalat 'iedul fitri. (dalil: 2 dan 3)
b.  Bila diserahkan kepada amil zakat fithrah  (orang yang bertugas mengumpulkan
zakat  fithrah), boleh diserahkan tiga,dua atau satu hari sebelum hari raya 'iedul
fitri. (dalil: 6 dan 7)
6.  Zakat fithrah disyari'atkan untuk membersihkan pelaksanaan shaum Ramadhan dari
perbuatan sia-sia dan perkataan keji di waktu shaum. (dalil: 3

12.    PANDUAN SHALAT 'IEDUL FITHRI DAN 'IEDUL ADHHA

1.  Diriwayatkan dari Abu Said, ia berkata: Adalah Nabi saw. pada hari raya 'iedul fitri
dan  'iedul  adhha  keluar  ke  mushalla  (padang  untuk  shalat),  maka  pertama  yang
beliau kerjakan adalah shalat, kemudian setelah selesai beliau berdiri menghadap
kepada manusia sedang manusia masih duduk tertib pada shof mereka, lalu beliau
memberi nasihat dan wasiat (khutbah) apabila beliau hendak mengutus tentara atau
ingin memerintahkan sesuatu yang telah beliau putuskan,beliau perintahkan setelah
selesai beliu pergi. (H.R: Al-Bukhary dan Muslim)
2.  Telah berkata Jaabir ra: Saya menyaksikan shalat 'ied bersama Nabi saw. beliau
memulai shalat sebelum khutbah tanpa adzan dan tanpa iqamah, setelah selesai
beliau  berdiri  bertekan  atas  Bilal,  lalu  memerintahkan  manusia  supaya  bertaqwa
kepada    Allah,    mendorong    mereka    untuk    taat,    menasihati    manusia   dan
memperingakan mereka, setelah selesai beliau turun mendatangai shaf wanita dan
selanjutnya beliau memperingatkan mereka. (H.R: Muslim)
3.  Diriwayatkan  dari  Ibnu  Umar  ra.  ia  berkata:  Umar  mendapati  pakaian  tebal  dari
sutera yang dijual, lalu beliau mengambilnya dan membawa kepada Rasulullah saw.
lalu berkata: Yaa Rasulullah belilah pakaian ini dan berhiaslah dengannya untuk hari
raya  dan  untuk  menerima  utusan.  Maka  beliaupun  menjawab:  Sesungguhnya
pakaian ini adalah bagian orang-orang  yang  tidak  punya bagian di akherat  (yakni
orang kafir). (H.R Bukhary dan Muslim)
4.  Diriwayatkan dari Ummu 'Atiyah ra. ia berkata: Rasulullah saw. memerintahkan kami
keluar  pada  'iedul  fitri  dan  'iedul  adhha  semua  gadis-gadis,  wanita-wanita yang
haidh, wanita-wanita  yang  tinggal  dalam  kamarnya.  Adapun  wanita  yang  sedang
haidh  mengasingkan  diri  dari  mushalla    tempat  shalat  'ied),  mereka  meyaksikan
kebaikan  dan  mendengarkan  da'wah  kaum  muslimin  (mendengarkan  khutbah).
Saya  berkata:  Yaa  Rasulullah  bagaimana  dengan  kami  yang  tidak  mempunyai
jilbab?   Beliau   bersabda:   Supaya   saudaranya   meminjamkan   kepadanya   dari
jilbabnya. (H.R: Jama'ah)
5.  Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra. ia berkata: Adalah Nabi saw. Tidak berangkat
menuju   mushalla   kecuali   beliau   memakan   beberapa   biji   kurma,   dan   beliau
memakannya dalam jumlah bilangan ganjil. (H.R: Al-Bukhary dan Muslim)
6.  Diriwayatkan dari Buraidah ra. ia berkata: Adalah Nabi saw keluar untuk shalat 'iedul
fitri  sehingga  makan  terlebih  dahulu  dan  tidak  makan  pada  shalat  'iedul  adhha
sehingga beliau kembali dari shalat 'ied. (H.R:Ibnu Majah, At-Tirmidzi dan Ahmad)
7.  Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. ia berkata: Bahwasanya Nabi saw. Keluar untuk
shalat  'iedul  fitri  dua  raka'at,  tidak  shalat  sunah  sebelumnya  dan  tidak  pula
sesudahnya. (H.R: Bukhary dan Muslim)
8.  Diriwayatkan dari Jaabir ra. ia berkata: Adalah Nabi saw apabila keluar untuk shalat
'ied  ke  mushalla,  beliau  menyelisihkan  jalan  (yakni  waktu  berangkat  melalui  satu
jalan dan waktu kembali melalui jalan yang lain (H.R: Bukhary)
9.  Diriwayatkan  dari  Yazid  bin  Khumair  Arrahbiyyi  ra.  ia  berkata:  Sesungguhnya
Abdullah bin Busri seorang sahabat nabi saw. Keluar bersama manusia untuk shalat
'iedul  fitri  atau  'iedul  adhha,  maka  beliau  mengingkari  keterlambatan  imam,  lalu
berkata: Sesungguhnya kami dahulu (pada zaman Nabi saw.) pada jam-jam seperti
ini sudah selesai mengerjakan shalat 'ied. Pada waktu ia berkata demikian adalah
pada shalat dhuha. (H.R: Abu Daud dan Ibnu Majah)
10. Diriwayatkan dari Abi Umair bin Anas, diriwayatkan dari  seorang pamannya dari
golongan  Anshar,  ia  berkata:  Mereka  berkata:  Karena  tertutup  awan  maka  tidak
terlihat oleh kami hilal syawal, maka pada pagi harinya kami masih tetap shaum,
kemudian  datanglah  satu  kafilah  berkendaraan  di  akhir  siang,  mereka  bersaksi
dihadapan  Rasulullah  saw.bahwa  mereka  kemarin  melihat  hilal.  Maka  Rasulullah
saw. memerintahkan semua manusia (ummat Islam) agar berbuka pada hari itu dan
keluar menunaikan shalat 'ied pada hari esoknya. (H.R: Lima kecuali At-Tirmidzi)
11.  Diriwayatkan  dari  Azzuhri,  ia  berkata:  Adalah manusia  (para  sahabat) bertakbir
pada  hari  raya  ketika  mereka  keluar  dari  rumah-rumah  mereka  menuju  tempat
shalat 'ied sampai mereka tiba di mushalla  (tempat shalat 'ied) dan terus bertakbir
sampai imam datang, apabila imam telah datang, mereka diam dan apabila imam
ber takbir maka merekapun ikut bertakbir. (H.R: Ibnu Abi Syaibah)
12. Diriwayatkan bahwa Ibnu Mas'ud ra. bertakbir pada hari-hari tasyriq dengan lafadz
sbb: (artinya): Allah maha besar, Allah maha besar, tidak ada Illah melainkan Allah
dan Allah maha besar, Allah maha besar dan bagiNya segala puji. (H.R Ibnu Abi
Syaibah dengan sanad shahih)
13.  Diriwayatkan  dari  Amru  bin  Syu'aib,  dari  ayahnya,  dari  neneknya,  ia  berkata:
Sesungguhnya  Nabi  saw.  bertakbir  pada  shalat  'ied  dua  belas  kali  takbir.  dalam
raka'at pertama tujuh kali takbir dan pada raka'at yang kedua lima kali takbir dan
tidak  shalat  sunnah  sebelumnya  dan  juga  sesudahnya.    (H.R:  Amad  dan  Ibnu
Majah)
14.Diriwayatkan dari Samuroh, ia berkata: Adalah Nabi saw.  Dalam shalat kedua hari
raya  beliau  membaca:  Sabihisma  Rabbikal  A'la  dan  hal  ataka  haditsul  ghosiah.
(H.R: Ahmad)
15.  Diriwayatkan  dari  Abu  Waqid  Allaitsi,  ia  berkata:  Umar  bin  Khaththab  telah
menanyakan kepadaku tentang apa yang dibaca oleh Nabi saw. Waktu shalat 'ied .
Aku  menjawab:  beliau  membaca  surat  (Iqtarabatissa'ah)  dan    Qaaf  walqur'anul
majid). (H.R: Muslim)
16.Diriwayatkan dari Zaid bin Arqom ra. ia berkata: Nabi saw. Mendirikan shalat 'ied,
kemudian  beliau  memberikan  ruhkshah  /  kemudahan  dalam  menunaikan shalat
jum'at,  kemudian  beliau  bersabda:  Barang  siapa  yang  mau  shalat  jum'ah,  maka
kerjakanlah. (H.R: Imam yang lima kecuali At-Tirmidzi)
17.Diriwayatkan  dari  Abu  Hurairah  ra.  bahwasanya  Nabi  saw.  Bersabda  pada  hari
kamu ini, telah berkumpul dua  hari raya  (hari jum'ah dan hari raya), maka barang
siapa  yang  suka  shalat  jum'ah,  maka  shalatnya  diberi  pahala  sedang  kami  akan
melaksanakan shalat jum'ah. (H.R: Abu Daud)

KESIMPULAN

Hadits-hadits  tersebut  memberi  pelajaran  kepada  kita  tentang  adab-adab shalat hari
raya sbb:
Pakaian
Pada  saat  mendirikan  shalat  kedua  hari  raya  disunnahkan  memakai  pakaian  yang
paling bagus. (dalil: 3)
Makan
a.  Sebelum  berangkat  shalat  hari  raya  fitri  disunnahkan  makan  terlebih  dahulu,  jika
terdapat beberapa butir kurma , jika tidak ada maka makanan apa saja.
b.  Sebaliknya pada hari raya 'iedul adhha, disunnahkan tidak makan terlebih dahulu
sampai selesai shalat 'iedul adhha. (dalil: 5 dan 6)

Mendengungkan Takbir
a.  Pada hari raya 'iedul fitri, takbir didengungkan sejak keluar dari rumah menuju ke
tempat   shalat   dan   sesampainya   di   tempat   shalat   terus   dilanjutkan   takbir
didengungkan sampai shalat dimulai. (dalil: 11)
b.  Pada hari raya 'iedul adhha, takbir boleh didengungkan sejak Shubuh hari Arafah (9
Dzul Hijjah) hingga akhir hari tasyriq (13 Dzul Hijjah). (dalil: 12)

Jalan yang Dilalui
Disunnahkan membedakan jalan yang dilalui waktu berangkat shalat hari raya dengan
jalan yang dilalui di waktu pulang dari shalat 'ied (yakni waktu berangkat melalui satu
jalan, sedang waktu pulang melalui jalan yang lain). (dalil: 8)

Bila Terlambat Mengetahui Tibanya Hari Raya
Apabila datangnya berita tibanya hari raya sudah tengah hari atau petang hari, maka
hari itu diwajibkan berbuka sedang pelaksanaan shalat hari raya dilakukan pada hari
esoknya. dalil: 10)

YangMenghadiri Shalat 'Ied
Shalat 'ied disunnahkan untuk dihadiri oleh orang dewasa baik laki-laki maupun wanita,
baik wanita yang suci dari haidh maupun wanita yang sedang haidh dan juga kanak-
kanak baik laki-laki maupun wanita.  Wanita yang sedang haidh tidak ikut shalat, tetapi
hadir untuk mendengarkan khutbah 'ied. (dalil:4)

Tempat Shalat 'Ied
Shalat  'ied  lebih  afdhal  (utama)  diadakan  di  mushalla  yaitu  suatu  padang  yang  di
sediakan  untuk  shalat  'ied,  kecuali  ada  uzur  hujan  maka shalat diadakan di masjid.
Mengadakan  shalat  'ied  di  masjid  padahal  tidak  ada  hujan  sementara  lapangan
(padang) tersedia, maka ini kurang afdhal karena menyelisihi amalan Rasulullah saw.
yang selalu mengadakan shalat 'ied di mushalla  (padang tempat shalat), kecuali sekali
dua kali beliau mengadakan di masjid karena hujan.(dalil: 1 dan 8)

Cara Shalat 'Ied
a.  Shalat  'ied  dua  raka'at,  tanpa  adzan  dan  iqamah  dan  tanpa  shalat  sunnah
sebelumnya dan sesudahnya. (dalil: 1,2 dan 7)
b.  Pada  raka'at  pertama  setelah  takbiratul  ihram  sebelum  membaca  Al-Fatihah,
ditambah  7  kali  takbir.  Sedang  pada  raka'at  yang  kedua  sebelum  membaca  Al-
Fatihah dengan takbir lima kali. (dalil 13)
c.  Setelah  membaca  Fatihah  pada  raka'at  pertama  di  sunnahkan  membaca  surat
(sabihisma Rabbikal a'la / surat ke 87) atau surat iqtarabatissa'ah / surat ke 54). Dan
setelah membaca alFatihah pada raka'at yang kedua disunnahkan membaca surat
(Hal   Ataka   Haditsul   Ghaasyiyah   /   surat   ke   88)  atau  membaca  surat   (Qaaf
walqur'anul majid / surat ke 50).(dalil: 15)
d.  Setelah selesai shalat , imam berdiri menghadap makmum dan berkhutbah memberi
nasihat-nasihat dan wasiat-wasiat, atau perintah-perintah penting.
e.  Khutbah hari raya ini boleh diadakan khusus untuk laki-laki kemudian khusus untuk
wanita.
f.   Khutbah hari raya ini tidak diselingi duduk .(dalil: 1 dan 2 )
WaktuShalat
Shalat 'ied diadakan setelah matahari naik, tetapi sebelum masuk waktu shalat dhuha.
(dalil: 9)
Hari  raya  jatuh  pada  hari  jum'ah  Bila  hari  raya  jatuh  pada  hari  jum'ah,  maka shalat
jum'ah menjadi sunnah, boleh diadakan dan boleh tidak, tetapi untuk pemuka umat atau
imam masjid jami' sebaiknya tetap mengadakan shalat jum'at. (dalil: 16 dan 17)
13.    SPIRITUALISME DAN MATERIALISME

Puasa Ramadhan hakekatnya adalah melatih dan  mengajari naluri (instink) manusia
yang cenderung tak terkontrol. Naluri yang sulit terkotrol dan terkendali itu adalah naluri
perut  yang  selalu  menuntut  untuk  makan  dan  minum  dan  naluri  seks  yang  selalu
bergelora sehingga manusia kewalahan untuk mengekang dua naluri ini. Dalam sejarah
manusia didapatkan dua falsafah yang dapat menguasai dan mendominasi kebanyakan
manusia, yakni falsafah materialisme yang berorientsi pada materi saja, dan falsafah
spiritualisme yang hanya berorientasi pada rohaniah saja.

Orang-orang yang berorientasi materi  -  terdiri  dari  orang-orang atheis, komunis dan
animisme dan berhalaisme  - mereka hidup untuk dunianya saja. Mereka melepaskan
kenhendak  nalurinya  dan  tak  pernah  puas.  Bila  terpenuhi  satu  keinginannya,  timbul
keinginan  baru  begitu  seterusnya.  Sahwat  manusia  bila  sudah  terbakar  maka  akan
mengheret  dari  sedikit  ke  yang  banyak,  dari  banyak  ke  yang  terbanyak.  Allah
mengecamorang-orang seperti ini:
"Biarkanlah  mereka  makan,  dan  bersenang-senang,  mereka  dilalaikan  oleh  angan-
angan dan mereka akan mengetahui akibatnya".(QS Al Hijr 3).
Ayat lain:
"Orang-orang  kafir  mereka  bersenang-senang  dan  makan  seperti  binatang  ternak
makan. Dan neraka adalah tempat tinggalnya".(QS Muhammad 12) Mereka hidup di
dunia  ini  dalam  keadaan  kosong. Jiwanya dikuasai nafsunya, m enghalalkan segala
cara, dan dihari kiamat nanti mereka mendapat balasan yang setimpal. "Demikian itu
bersenang-senang di bumi tanpa haq dan mereka sombong".(QS Ghofir 75)
Sementara filsafat spiritualisme yang didasarkan pada kerahiban, berpandangan bahwa
pengabdian  kepada  Tuhan  harus  menekan  naluri  seks  mengikis  habis  pendorong-
pendorongnya  dan  mematikannya  yang  juga  diatasi  dengan  mengurangi  makan.
Dengan   kata   lain   mereka   masuk   dalam   kancah   peperangan   melawan   jasad
manusiawinya. Filsafat ini dilakukan oleh gereja sejak dahulu kala. Orang-orang Barat
dewasaa ini melepaskan diri dari filsafat gereja, mereka menggunakan waktu dan harta
kekayaannya  untuk  memenuhi  sahwat  jasmaninya.  Filsafat  spiritualismenya  telah
lenyap,  bahkan  gereja-gereja  sudah  tiada  lagi  pengunjungnya  walaupun  pada  hari
Minggu. Seandainya masih ada, itu hanya sekelompok minoritas yang hidup di dunia
Islam.
Agama  Islam  adalah  agama  yang  seimbang.  Ia  menghormati  rohani  dan  jasmani
sekaligus,  ia  memperhatikan  nilai-nilai  ideal  manusia,  tapi  juga  menjamin  kebutuhan
hidup  naluri  duniawinya  asal  dalam  ruang  keutamaan,  ketaatan,  kehormatan.  Ia
membolehkan   manusia   makan   dengan   catatan   dalam   batas   kewajaran   dan
kehormatan.
"Makanlah dan minumlah, berpakaianlah dan bersedekahlah tanpa berlebih-lebihan dan
tidak diiringi kesombongan".(HR Bikhari)

Islam mengimbangkan antara ruhani dan jasmani.

"Ya Allah, a ku berlindung kepadamu dari lapar, karena sesungguhnya seburuk- buruk
tidur adalah dalam keadaan lapar. Dan  aku berlindung kepadamu dari khianat, karena
itu adalah seburuk-buruk suasana kejiwaan".(HR Abu Daud)

Islam memperhatikan kehidupan dunia dan akherat,

"Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertaqwa: Apa yang Tuhan kalian turunkan?
mereka  berkata:  'Keuntungan  bagi  orang-orang  yang  berbuat  baik  di  dunia  ini  dan
akherat lebih baik, dan sebaik tempat bagi orang-orang yang bertaqwa".(QS AN Nahl
Ajaran Islam datang untuk mensucikan manusia, mengangkat darjatnya, ia mensucikan
fisikalnya  dengan  mandi  dan  berwudlu,  mensucikan  jiwanya  denga  ruku'  dan  sujud.
Islam  adalah  jasmani  dan  ruhani,  dunia  dan  akherat  dengan  falsafah  puasa.  Islam
menegaskan bahwa manusia terdiri dari jasmani dan ruhani. Nilai manusia tidak terletak
pada jasadnya, akan tetapi terletak pada ruhani yang menggerakkannya. Kerena ruhani
inilah, Allah memerintahkan pada malaikatnya untuk hormat kepada manusia, karena
ruhani datangnya dari Allah swt. Firman Allah:
"Ingatlah   di   waktu  Tuhanmu  berkata  kepada  para  malaiakat:  "Aku  menciptakan
manusia  dari  tanah,  dan  setelah  aku  sempurnakan  aku  tiupkan  kedalamnya  ruh-Ku,
maka hormatlah kalian kepadanya".(QS ShAd 71-72)
Setelah itu manusia ada yang mengenali siapa yang meniupkan ruh kapadanya dan
yang  memuliakannya  atas  seluruh  makhluknya.  Mereka  itu  akan  bersyukkur  kepada
pemberi   nikmat,   sementara   ada   manusia-manusia   yang   melupakan   Tuhannya,
melupakan kepada dzat yang meniupkan ruh kepadanya.
Demikian   juga   halnya   kebudayaan.   Kebudayaan   yang   memegang   kendali   alam
sekarang  ini  telah  melupakan  Tuhannya, melalaikan haknya. Dunia ini tidak memiliki
kebudayaan yang mengakui ruhani dan jasmani, berorientasi dunia dan akherat dan
menentukan  hak-hak  manusia  disamping  hak-hak Allah  -kebudayaan  Islam-. Puasa
Ramadhan  sebagaimana  Rasulullah  jelaskan  dapat  mengangkat  derajat  pelakunya
menjadi unsur rahmat, kedamaian, ketenangan, kesucian jiwa, aklaq mulia dan perilaku
yang indah ditengah-tengah masyarakat.
"Bila salah seorang dari kalian berpuasa maka hendaknya ia tidakberbicara buruk dan
aib.  dan  jangan  berbicara  yang  tiada  manfaatnya  dan  bila  dimaki  seseorang  maka
berkatalah, 'Aku berpuasa'". (HR. Bukhori).
Dalam bulan Ramadhan terdapat filsafat Islam yang mengaitkan dunia dengan akhirat,
mengaitkan jasmani dan ruhani, mengaitkan bumi dengan langit, mengaitkan manusia
dengan  wahyu,  dan  mengaitkan  dunia  dengan  kitab  yang  menerangi  jalannya  dan
menetukantujuannya

14.    SEJENAK BERSAMA PEMUDA
Wahai  pemuda  Islam!  Jalanmu  penuh  rintangan,  laut  jiwamu  dalam  tak  berhingga.
Puasa bagimu merupakan benteng penahan. Tidak seorang pun yang mampu kecuali
mereka yang perkasa, terpercaya, penuh waspada serta mawas diri, serius, tangkas,
dan  rela  berkorban.  Peliharalah  lidahmu,  karena  tidak  ada  sesuatu  pun  yang  dapat
membuat manusia tersungkur ke dalam api neraka kecuali karena buah mulut mereka
sendiri. Jangan berghibah, kendalikanlah matamu dari pandangan was-was al-khonnas
Bukankah kamu tahu bahwa Rasul Saw pernah bersabda:
"Siapa yang berpuasa, hendaklah mengendalikan pendengaran dan penglihatannya".
Oleh karena itu, jadikanlah ucapanmu berupa dakwah ilallah, pendengaranmu hanya
untuk mengingat Allah. Dengan begitu di dalam dirimu terhimpunlah kesenangan dunia
dan kebahagiaan dunia dan kebahagiaan akhirat.
Sesungguhnya  puasa  zhohir  ditandai  dengan  berakhirnya  siang,  yaitu  ketika  mulai
tenggelamnya  matahari  di  tempat  istirahnya.  Shoum  kembali  ke  keadaan  semula
dengan  rasa  gembira  tatkala  berbuka.  Ini  dialami  semua  orang  yang  shoum.  Akan
tetapi puasa orang-orang yang muttaqin yang penuh keikhlasan, tidak berujung. Tidak
berakhir dengan ghurub dan tidak dimulai dengan syuruq. Tidak dapat dihitung dengan
bilangan jam dan tidak pula mempunyai batas waktu.
Engkaulah pengendali yang terpercaya atas dirimu dan atas diri saudara-saudaramu.
Itulah 'amanah' dari ujian itu. Bagaimana seandainya engkau melalaikannya, terlepas
dari  ceruk  hatimu  di  tengah-tengah  bersliwerannya  berbagai  godaan  dan  pemikat-
pemikat? Apakah akan kau biarkan berlalu dan bahkan terlepas dari dirimu? Tidakkah
kau merasa perlu kembali memperhatikan janjimu kepada Allah, yang mendatangkan
pahala begitu besar? Ialah amanah puasa yang sebenar-benarnya.
Wahai pemuda yang amil! Kita berpuasa jika telah melihat bulan. Tetapi sesungguhnya
yang kuinginkan darimu wahai pemuda, lebih dari sekadar itu, sedikit atau banyak di
atas mustawa (level) itu tadi jika memang kamu mampu. Mintalah tolong kepada Maha
Pemberi  Kemampuan,  yang  memberi  apa  saja  kepada  orang  yang  dikehendakiNya.
Aku mengharap agar engkau sebelum melihat bulan, melihat pencipta dari bulan itu.
Sungguh, alangkah tingginya martabat ini, dimana banyak orang yang tak kuasa untuk
meraihnya.  Tetapi  dengan  izin  Allahjugalah  mereka  berhasil  melampauinya.  Jika
memang engkau telah berazam (bertekad), maka tawakkallah. Engkau, wahai pemuda!

Jika berpuasa karena melihat bulan, memang akan mendapatkan pahala sebagaimana
halnya kebanyakan orang. Akan tetapi, engkau mempersiapkan dirimu dengan shoum
itu  untuk  beramal  (bekerja)  fi  sabilillah,  menyebarkan  misi(risalah)Nya,  mengemban
dakwah, serta jihad yang begitu malah lagi mulia. Tempatkanlah segala sesuatunya di
jalan Allah, pasti segala kesulitan yang ada akan menjadi ringan, dan agar kau selalu
berada di dalam barisanNya.
Aturlah barisan. Pemuda di samping pemuda, pemudi beriringan dengan pemudi, orang
tua  dengan  orang  tua.  Aku  menginginkan  sekali  agar  engkau  tidak  sampai  hanya
sekedar   melihat   bulan,   akan   tetapi   terus   dan   teruslah   melangkah   lebih   jauh.
Bersihkanlah hati dan sinarilah keyakinanmu itu, agar kau dapat menyaksikan pencipta
dari  bulan  itu.  Inilah  rencana  dan  tujuan,  awal  dari  akhir.  KepadaNya  jugalah  kita
kembalikan segala urusan.
Sesungguhnya berpuasa karena melihat bulan memang betul menurut ibadah. Tetapi
berpuasa  dengan  hati  yang  bersinar,  ruh  yang  tenang,  dan  nurani  yang  cemerlang
adalah puncak kekuatan ibadah yang dituntut dari dirimu. Yaitu irodah yang apabila
disertai tekad dan ketulusan tujuan, sesaat pun tidak akan pernah menjadi lemah dan
pudar.  Tak  sedetik  pun  mundur  dari  kewajiban-kewajiban  yang  sulit  diukur  dengan
bilangan waktu itu. Irodah yang senantiasa beriringan dengan amal untuk menanggung
kesulitan dengan hati yang penuh, bersama melakukan jihad di tengah beragamnya
medan-medan jihad; jihadun-nafs, jihad melawan musuh yang zholim.
Dengan melalui jenjang-jenjang jihad tersebut, dengan tangan bila mampu dan dengan
lisan bila sanggup, berarti dirimu telah berhasil menjaga keutuhan imanmu. Hingga tak
sesuatu pun yang bisa mengikisnya. Adalah sesuatu yang begitu menggembirakan saat
kita berbuka, lapar telah terobati, haus telah pergi. Tetapi ada yang lebih dari sekedar
itu, lebih menyenangkan dan menggembirakan, yaitu bertemunya diri kita dengan Allah
pada  hari  perhitungan  (Yaumul  Hisab)  kelak.  Tidak  mungkin  dicapai  tingkatan  ini
kecuali oleh orang-orang yang berpuasa karena Allah dan hanya untuk Allah.
Sungguh,  aku  tidak  berbicara  dengan  telinga  kasatmu,  tapi  aku  bicara  dengan  hati
sanubarimu.  Dengan  persamaanmu  yang  paling  dalam  agar  rela  berkorban  di  jalan
Allah,  tanpa  mengharap  upah  dan  pamrih.  Puasalah,  karena  Allah  menghendakimu
untuk berpuasa, hanya itu. Beban ini sungguh berat bagimu, tanggung jawab ini begitu
besar, dan hambatannya penuh ranjau serta tingkat kesulitannya begitu tinggi. Tidak
akan  berhasil  dan  tidak  akan  menang  terkecuali  hatimu  telah  tergetar  untuk  hanya
mengharap ridho Allah, serta perasaanmu telah terdorong untuk mendapatkan husnul
khotimah.
Aku menginginkan pengorbanan yang cukup mahal darimu, di mana kemenangan bagi
dienmu  tidak  akan  tercapai  tanpa  melalui  jalan  ini.  Sungguh,  sesungguhnya  musuh-
musuh  Islam  akan  dengan  segala  daya  upaya  ingin  menghancurkan  segala  yang
berharga yang ada pada dirimu. Dan aku ingin sekali melihat dirimu berada pada posisi
As-Shiddiqie, Syuhada dan Sholihin. Sungguh, apakah ada nilai yang lebih tinggi dari
itu? Allah Yang Maha Pemurah mengetahui betul bahwa puasa itu sulit, tidak mungkin
dapat dilakukan kecuali oleh orang-orang yang jiwanya bersih dari kotoran-kotoran dan
virus.
Karena rahmatNya jugalah Allah memberikan rukhshoh kepada orang yang sakit, orang
yang  bepergian  dan  orang  yang  haidh  agar  berbuka.  Tetapi  dengan  syarat  untuk
mengqodhonya bila telah memungkinkan. Demikian alternatif daripada dispensasi yang
diberikan  Allah,  seperti  yang  tertulis  dari  firmanNya:"Dan  puasa  kamu  itu  lebih  baik
untuk  kamu,  jika  kamu  mengetahui".  Berbukalah  kamu  dengan  rukhshohKU,  tidak
mengapa,  karena  AKU  senang.  Manfaatkanlah  rukhsohKU  sebagaimana  engkau
melaksanakan azimahKU. Tetapi yang Kuinginkan darimu itu adalah yang lebih baik,
lebih  utama,  lebih  mulia  dan  lebih  bermanfaat  bagi  kamu. Yaitu berpuasa, walaupun
syarat-syarat  rukhsoh  itu  telah  terpenuhi,  terkecuali  orang  yang  haidh,  tanpa  ada
penyakit yang menimbulkan bahaya.
Diprioritaskannya  ibadah  puasa  karena  itu  lebih  baik  bagi  kita.  Di  mana  letaknya
kelebihan-kelebihannya  itu?  Hanya  Allahlah  yang  tahu,  ketika  Dia  mengakhiri  ayat
tersebut dengan firmanNya: "Jika kamu mengetahuinya".
Yang  jelas  dan  pasti,  kita  mengakui  bahwa  yang  terbaik  itu  adalah  apa-apa  yang
dipilihkan  Allah  untuk  kita.  Karena  hanya  Dialah  Yang  Maha  Mengetahui.  Tidak ada
satu pun yang dapat menyamai dan menyaingiNya. Maka untuk dirimu, pilihlah yang
terbaik  dan  terindah,  karena  Allah  tidak  menjadikan  kesulitan  bagi  kita  di  dalam
beribadah    kepadaNya.    Kewajiban-kewajiban    itu    dibebankan    sesuai    dengan
kemampuan yang ada pada diri masing-masing. Nah, di sinilah medan uji coba itu.
Di  depan  kita  terbentang  beberapa  tingkatan-tingkatan  kemuliaan  beserta  rangking-
rangking  penghargaanNya.  Silahkan  kita  akan  memilih  yang  mana,  dan  dimana  kita
mau menempatkan diri. Nun di sana ada Syurga Na'im, siapa saja yang memasukinya
pasti merasa aman dan nyaman. Ada pula Al-Firdaus,  Al-A'la. Dan ada pula syurga
yang tak mungkin dapat dilukiskan oleh hanya sekedar pena. Kita saat ini hanya bisa
menyebutkan nama-namanya saja, tidak lebih. Ada pun hakekat dari nama-nama yang
begitu indah itu masih ada di dalam impian dan harapan. Sejenak saja, aku ingin selalu
bersamamu wahai pemuda, di dunia ini banyak sekali hiasan pemikat yang berkaitan
dengan tuntutan hidup. Tuntutan mencari popularitas, jabatan, harta dan kesenangan
duniawi  yang  begitu  semu  dan  melenakan.  Maka  dengan  puasa,  kuharapkan  dirimu
mampu  untuk  menahan  semua  pemikat-pemikat  semu  itu.  Kembali  bersama-sama
menegakkan Islam.

Demikianlah  Panduan Lengkap Puasa Ramadhan,Panduan Lengkap Ramadhan.
Judul Berkaitan Dengan artikel ini : Panduan Lengkap Puasa Ramadhan,Panduan Lengkap di Bulan Ramadhan,Panduan Lengkap ibadah Ramadhan,bahasan dan Panduan lengkap Bulan Ramadlan,Download Lengkap Panduan Puasa Ramadhan

Perkara Yang Tidak Membatalkan Puasa


Perkara Yang Tidak Membatalkan Puasa
Perkara dibawah ini tidak membatalkan puasa,Hal-hal yang tidak membatalkan Puasa bagian ketiga, Tidak Membatalkan Puasa,perbuatan yang tidak membatalkan puasa,

Perkara Yang Tidak Membatalkan Puasa

1 .Orang yang bangun kesiangan dalam keadaan junub.
Diperbolehkan baginya untuk berpuasa berdasarkan hadits ‘Aisyah dan Ummu Salamah
radhiyallahu ‘anhuma riwayat Al-Bukhary dan Muslim :

“Sesungguhnya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam kadang-kadang dijumpai
oleh waktu subuh sedang beliau dalam keadaan junub dari istrinya, kemudian beliau mandidan berpuasa.

”Tidak ada perbedaan apakah dia junub sebab mimpi atau sebab berhubungan.
Demikian pula wanita yang haid atau nifas yang telah suci sebelum terbit fajar akan tetapi dia belum sempat mandi takut kesiangan dia juga boleh berpuasa menurut pendapat yang paling kuat di kalangan para ‘ulama berdasarkan hadits di atas.

2 . Juga diperbolehkan untuk bersiwak bahkan hal tersebut merupakan sunnah, apakah
menggunakan kayu siwak atau dengan sikat gigi, Dan juga dibolehkan menyikat gigi dengan pasta gigi, tetapi dengan menjaga jangan sampai menelan sesuatu ke dalam kerongkongannya dan juga jangan mempergunakan pasta gigi yang mempunyai pengaruh kuat ke dalam perut dan tidak bisa diatasi.

Dua point di atas berdasarkan keumuman hadits-hadits yang menunjukkan akan
disunnahkannya bersiwak seperti hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu riwayat Al-Bukhary dan Muslim,

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :
“Andaikata tidak akan memberatkan ummatku niscaya akan kuperintahkan mereka untuk
bersiwak setiap hendak sholat.”

Dan dalam riwayat lain Malik, Ahmad, An-Nasa`i dan lain-lainnya dari Abu Hurairah
radhiyallahu ‘anhu dengan lafadz : “Andaikata tidak akan memberatkan ummatku niscaya akan kuperintahkan mereka untuk bersiwak bersama setiap wudhu".

Dua hadits ini menunjukkan sunnah bersiwak secara mutlak tanpa membedakan apakah
dalam keadaan berpuasa atau tidak.

3 . Boleh berkumur-kumur dan menghirup air ketika berwudhu`, dengan ketentuan tidak terlalu
dalam dan berlebihan sehingga mengakibatkan air masuk ke dalam kerongkongan. Juga tidak
ada larangan untuk berkumur-kumur disebabkan teriknya matahari sepanjang tidak menelan
air ke kerongkongan. Seluruh hal ini berdasarkan hadits shohih dari Laqith bin Shabirah radhiyallahu ‘anhu riwayat Abu Daud, At-Tirmidzy, An-Nasa`i,Ibnu Majah dan lain-lainnya,

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam menyatakan :
“Dan bersungguh-sungguhlah engkau dalam menghirup air kecuali jika engkau dalam keadaan puasa,Dan hadits-hadits lainnya yang menunjukkan disunnahkannya berkumur-kumur dan menghirup air dalam wudhu`, juga datang dengan bentuk umum tanpa membedakan dalam keadaan berpuasa atau tidak.

4 .Juga boleh mandi dalam keadaan berpuasa bahkan juga boleh berenang sepanjang ia
menjaga tidak tertelannya air ke dalam tenggorokannya.

5 .Dan juga boleh bercelak untuk mata ketika berpuasa, Dua point di atas boleh karena tidak adanya dalil yang melarangnya.

6 .Dan juga boleh memeluk/bersentuhan dan mencium istri bila mampu menguasai dirinya.
Menurut pendapat yang paling kuat di kalangan para ‘ulama.

Hal ini berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha riwayat Al-Bukhary dan Muslim,
Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :
“Adalah Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam mencium dalam keadaan berpuasa dan memeluk dalam keadaan berpuasa dan beliau adalah orang yang paling mampu menguasai syahwatnya.

7 . Boleh menelan ludah bagi orang yang berpuasa bahkan lebih dari itu juga boleh
mengumpulkan ludah dengan sengaja di mulut kemudian menelannya. Adapun dahak tidaklah
membatalkan puasa kalau ditelan, tetapi menelan dahak tidak boleh karena ia adalah kotoran
yang membahayakan tubuh.

8 .Boleh mencium bau-bauan apakah itu bau makanan, bau parfum dan lain-lain.
Dua point di atas boleh karena tidak adanya dalil yang melarang.
9 .Boleh bersuntik dengan apa saja yang tidak mengandung makna makanan dan minuman
seperti suntikan vitamin, suntikan kekuatan, infus, dan lain-lainnya.
Hal ini boleh karena tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa hal tersebut membatalkan
puasa.

Judul Artikel Terkait dengan  : Perkara ini tidak membatalkan puasa,Hal-hal yang tidak membatalkan Puasa bagian ketiga, Tidak Membatalkan Puasa,perbuatan yang tidak membatalkan puasa,

Beruasa Pada Bulan Syawal

Beruasa Pada Bulan Syawal - Rahasia Dan Kekuatan Ilmu Hikmah - Puasa di bulan syawal,kelebihan berpuasa di bulan ramadhan,niat berpuasa di bulan ramadhan,manfaat berpuasa di bulan ramadhan,pahala berpuasa di bulan ramadhan,keutamaan berpuasa di bulan ramadhan,hikmah berpuasa di bulan ramadhan,adab berpuasa di bulan ramadhan.

 Beruasa Pada Bulan Syawal
Beruasa Pada Bulan Syawal

Barangsiapa berpuasa penuh di bulan Ramadhan lalu menyambungnya dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti ia berpuasa selama satu tahun. (HR. Muslim).

Imam Ahmad dan An-Nasai, meriwayatkan dari Tsauban, Nabi shallallahu alaihi wasalllam bersabda:
Puasa Ramadhan (ganjarannya) sebanding dengan (puasa) sepuluh bulan, sedangkan puasa enam hari (di bulan Syawal, pahalanya) sebanding dengan (puasa) dua bulan, maka itulah bagaikan berpuasa selama setahun penuh, ( Hadits riwayat Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam Shahih mereka)

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
Barangsiapa berpuasa Ramadhan lantas disambung dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia bagaikan telah berpuasa selama setahun, (HR. Al-Bazzar) (Al Mundziri berkata: Salah satu sanad yang beliau miliki adalah shahih.)

Pahala puasa Ramadhan yang dilanjutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal menyamai pahala puasa satu tahun penuh, karena setiap hasanah (kebaikan) diganjar sepuluh kali lipatnya, sebagaimana telah disinggung dalam hadits Tsauban di muka.

Membiasakan puasa setelah Ramadhan memiliki banyak manfaat, di antaranya :
Puasa enam hari di bulan Syawal setelah Ramadhan, merupakan pelengkap dan penyempurna pahala dari puasa setahun penuh.

Puasa Syawal dan Syaban bagaikan shalat sunnah rawatib, berfungsi sebagai penyempurna dari kekurangan, karena pada hari Kiamat nanti perbuatan-perbuatan fardhu akan disempurnakan (dilengkapi) dengan perbuatan-perbuatan sunnah.

Sebagaimana keterangan yang datang dari Nabi shallallahu alaihi wasallam di berbagai riwayat. Mayoritas puasa fardhu yang dilakukan kaum muslimin memiliki kekurangan dan ketidak sempurnaan, maka hal itu membutuhkan sesuatu yang menutupi dan menyempurnakannya.

    Membiasakan puasa setelah Ramadhan menandakan diterimanya puasa Ramadhan, karena apabila Allah Taala menerima amal seorang hamba, pasti Dia menolongnya dalam meningkatkan perbuatan baik setelahnya.

Sebagian orang bijak mengatakan: Pahala amal kebaikan adalah kebaikan yang ada sesudahnya. Oleh karena itu barangsiapa mengerjakan kebaikan kemudian melanjutkannya dengan kebaikan lain, maka hal itu merupakan tanda atas terkabulnya amal pertama.

    Demikian pula sebaliknya, jika seseorang melakukan suatu kebaikan lalu diikuti dengan yang buruk maka hal itu merupakan tanda tertolaknya amal yang pertama.
    Puasa Ramadhan -sebagaimana disebutkan di muka- dapat mendatangkan maghfirah atas dosa-dosa masa lain.

Orang yang berpuasa Ramadhan akan mendapatkan pahalanya pada hari Raya ldul Fitri yang merupakan hari pembagian hadiah, maka membiasakan puasa setelah Idul Fitri merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat ini. Dan sungguh tak ada nikmat yang lebih agung dari pengampunan dosa-dosa.

Oleh karena itu termasuk sebagian ungkapan rasa syukur seorang hamba atas pertolongan dan ampunan yang telah dianugerahkan kepadanya adalah dengan berpuasa setelah Ramadhan. Tetapi jika ia malah menggantinya dengan perbuatan maksiat maka ia termasuk kelompok orang yang membalas kenikmatan dengan kekufuran.

Apabila ia berniat pada saat melakukan puasa untuk kembali melakukan maksiat lagi, maka puasanya tidak akan terkabul, ia bagaikan orang yang membangun sebuah bangunan megah lantas menghancurkannya kembali.

Allah Taala berfirman:
Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai berai kembali (An-Nahl: 92)
Dan di antara manfaat puasa enam hari bulan Syawal adalah amal-amal yang dikerjakan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya pada bulan Ramadhan tidak terputus dengan berlalunya bulan mulia ini, selama ia masih hidup.

MARHABAN YA RAMADHAN | MINTA MAAF PADA ORANG TUA

 MARHABAN YA RAMADHAN

TERLALU BANYAK DISEKITAR KITA YANG TIDAK MINTA MAAF PADA ORANG TUA
DAN TERLALU BANYAK DISEKITAR KITA YANG MINTA MAAF PADA TEMAN NYA KARENA PAMER BAHASA' BIAR KAGAK KETINGGALAN "KATANYA"


 MARHABAN YA RAMADHAN

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum Wr.Wb
Adakah riwayat yang menceritakan seperti di bawah ini,
Marhaban Ya Ramadhan, Do’a Malaikat Jibril adalah sbb:
“Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut: Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada); Tidak berma’afan terlebih dahulu antara suami istri; Tidak berma’afan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya. Dan barang siapa yang menyambut bulan Ramadhan dengan suka cita , maka diharamkan kulitnya tersentuh api neraka.
Mohon maaf atas kesalahan yang pernah diperbuat, diucapkan, atau diniatkan
Wassalamu ‘alaikum Wr.Wb
Jawaban:
Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله وصحبه أجمعين

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

« أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ ». رواه النسائي

Artinya: “Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah, Allah telah mewajibkan atas kalian berpuasa di dalamnya, dibuka pintu-pintu langit dan ditutup pintu-pintu neraka jahim serta dibelenggu pemimpin-pemimpin setan, di dalamnya Allah mempunyai satu malam yang lebih baik dari seribu bulan siapa yang dihalangi untuk mendapatkan kebaikannya maka ia telah benar-benar dihalangi dari kebaikan”. (Hadits riwayat An Nasai dan dishahihkan di dalam kitab Shahih At Targhib Wa At Tarhib)
Dari hadits ini, bisa diambil kesimpulan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan kabar gembira kepada kaum muslimin tentang datang suatu bulan yang penuh berkah yaitu bulan Ramadhan.
Adapun untuk meminta maaf khusus menjelang bulan Ramadhan, maka tidak didapatkan riwayat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ataupun riwayat-riwayat dari para shahabat, jadi yang lebih baik dan seharusnya, kita mencukupkan apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, karena itu yang paling baik dan paling sempurna.
Seseorang harus tidak berani untuk menganjurkan umat ini akan suatu perkara yang tidak pernah dikerjakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam padahal beliau shallallahu ‘alaihi wasallam sangat mampu untuk mengerjakannya dan tidak ada penghalang untuk mengerjakan hal itu, apa lagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendapati bulan Ramadan selama hiduap beliau sebanyak 8/9 kali dan selama itu tidak ada riwayat beliau menganjurkan untuk meminta maaf baik antara sesama muslim atau orang tua atau suami istri menjelang bulan Ramadhan. Ini adalah jawaban untuk pertanyaan pertama.
Tapi perlu diingat baik-baik, Islam mengajarkan bahwa siapapun yang mempunyai kesalahan terhadap orang lain, pernah menyakiti atau menzhalimi orang lain, maka bersegeralah meminta halal dan maaf dan jangan menunggu nanti penyelesaiannya di hadapan Allah Ta’ala. Karena nanti di hadapan-Nya yang ada hanyalah; “Terimalah ini pahala saya”, atau “Terimalah dosa orang yang pernah kamu zhalimi”, tidak ada emas dan perak untuk menyelesaikannya!

عنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لأَحَدٍ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَىْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ ، قَبْلَ أَنْ لاَ يَكُونَ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ ، إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ ، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ » .

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang pernah mempunyai kezhaliman terhadap seseorang, baik terhadap kehormatannya atau apapun, maka minta halallah darinya hari ini!, sebelum tidak ada emas dan perak, (yang ada adalah) jika dia mempunyai amal shalih, maka akan diambil darinya sesuai dengan kezhalimannya, jika dia tidak mempunyai kebaikan, maka akan diambilkan dosa lawannya dan ditanggungkan kepadanya”. (Hadits riwayat Bukhari)
Sedangkan untuk permasalahan meminta maaf ketika ‘iedul fithri: mari kaum muslim untuk melihat beberapa riwayat dan perkataan para ulama:
Imam Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah, seorang ulama hadits dan besar madzhab syafi’iyyah berkata:

وروينا في المحامليات بإسناد حسن عن جبير بن نفير قال كان أصحاب رسول الله صلى الله عليه و سلم إذا التقوا يوم العيد يقول بعضهم لبعض تقبل الله منا ومنك

“Diriwayatkan kepada kami di dalam kitab Al Muhamiliyat, dengan sanad yang hasan (baik) dari Jubair bin Nufair, beliau berkata: “Senantiasa para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jika bertemu pada hari ‘ied, sebagian mereka mengatakan kepada yang lain: “Taqabbalallahu minna wa minka” (semoga Allah menerima amal ibadah dari kita dan dari anda). (lihat kitab Fath Al Bari 2/446)
Dan Ibnu Qudamah (seorang ahli fikih dari madzhab hanbali) rahimahullah menukilkan dari Ibnu ‘Aqil tentang memberikan selamat pada hari ‘ied, bahwasanya Muhammad bin Ziyad berkata: “Aku bersama Abu Umamah Al Bahili (seorang shahabat nabi) radhiyallahu ‘anhu dan selainnya dari para shahabat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka jika pulang dari shalat ‘ied berkata kepada sebagian yang lain: “Taqabbalallahu minna wa minka”. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata: “sanad hadits Abu Umamah adalah sanad yang baik,dan Ali bin Tsabit berkata: “Aku telah bertanya kepada Malik bin Anas rahimahullah akan hal ini dari semenjak 35 tahun yang lalu, beliau menjawab: “Masih saja kami mengetahui akan hal itu dilakukan di kota Madinah”. (Lihat Kitab Al Mughni 3/294)
Dan Imam Ahmad rahimahullah: “Tidak mengapa seseorang mengatakan kepada orang lain pada hari ‘ied: “Taqabbaalallahu minna wa minka”.
Harb berkata: “Imam Ahmad rahimahullah ditanya tentang perkataan orang-orang di hari ‘ied (‘iedul fithri atau ‘iedul adhha) “Taqabbalallahu minna wa minkum, beliau menjawab: tidak mengapa akan hal tersebut orang-orang syam meriwayatkan dari shahabat nabi Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu. (lihat kitab Al Mughni 3/294)
Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Adapun memulai mengucapkan selamat pada hari ‘ied adalah bukan merupakan sunnah yang diperintahkan dan juga bukan sesuatu yang dilarang, maka barangsiapa yang melakukannya ia mempunyai pekerjaan yang dijadikan sebagai tauladan dan kalau ada yang meninggalkan ia juga mempunyai orang yang dijadikan sebagai teladan. wallahu a’lam”. (lihat kitab Majmu’ Al Fatawa 24/253)
Dari penjelasan di atas semoga bisa dipahami bahwa mengkhususkan meminta maaf pada hari ‘ied bukan merupakan pekerjaan para shahabat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam radhiyallahu ‘anhum, akan tetapi yang mereka lakukan adalah mendoakan satu dengan yang lainnya sebagaimana penjelasan di atas dan ini yang paling baik dilakukan oleh kaum muslimin (ini untuk jawaban kedua).
terakhir saya akan sebutkan sebuah perkataan indah dari Abdullah bin Mas’ud (seorang shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) radhiyallahu ‘anhu:

عن ابن مسعود – رضي الله عنه – قال : «مَن كانَ مُسْتَنًّا ، فَلْيَسْتَنَّ بمن قد ماتَ ، فإنَّ الحيَّ لا تُؤمَنُ عليه الفِتْنَةُ ، أولئك أصحابُ محمد – صلى الله عليه وسلم – ، كانوا أفضلَ هذه الأمة : أبرَّها قلوبًا ، وأعمقَها علمًا ، وأقلَّها تكلُّفًا ، اختارهم الله لصحبة نبيِّه ، ولإقامة دِينه ، فاعرِفوا لهم فضلَهم ، واتبعُوهم على أثرهم ، وتمسَّكوا بما استَطَعْتُم من أخلاقِهم وسيَرِهم ، فإنهم كانوا على الهُدَى المستقيم».

Artinya: ” Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Barangsiapa yang bersuri tauladan maka hendaklah bersuri tauladan dengan orang yang sudah meninggal, karena sesungguhnya orang yang masih hidup tidak aman dari tertimpa fitnah atasnya, merekalah para shahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka adalah orang-orang yang termulia dari umat ini, yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya dan paling sedikit untuk berbuat yang mengada-ngada, Allah telah memilih mereka untuk bershahabat dengan nabiNya, untuk menegakkan agamaNya, maka ketauhilah keutamaan mereka yang mereka mililki, ikutilah jalan-jalan mereka, dan berpegang teguhlah semampu kalian akan budipekertibudi pekerti mereka dan sepak terjang mereka, karena sesungguhnya mereka diatas petunjuk yang lurus”. (Diriwayatkan dengan sanadnya oleh Ibnu Abdil Barr di dalam Kitab Jami’ bayan Al ‘Ilmi wa Ahlih (2/97) dan disebutkan oleh Ibnu Atsir di dalam Jami’ Al Ushul Fi Ahadits Ar Rasul (1/292))
Dengan nama-nama Allah Yang Husna dan sifat-sifat-Nya yang ‘Ulya, semoga Allah Azza wa Jalla memberikan taufik-Nya kepada kita dan seluruh kaum muslim, untuk benar-benar berpuasa karena keimanan dan mengharapkan pahala dari-Nya. Allahumma amin. wallahu a’lam
Ahmad Zainuddin
Kamis, 20 Sya’ban 1432
Dammam, KSA.
Artikel: Moslemsunnah.Wordpress.com