Tampilkan postingan dengan label alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label alam. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 Juni 2013

Mengetahui Hadirnya Makhluk Ghaib Disekitar Kita


Mengetahui Hadirnya Makhluk Ghaib Disekitar Kita
bagi anda yang ingin mengetahui atau merasakan tanda tanda adanya kehadiran Makhluk Gaib atau Biasa disebut Dengan alam astral  Bacalah tanda tanda berikut ini : 
  1. Mereka biasa menampakkan wujud dalam bentuk cahaya berkelebat yang menggumpal meyerupai asap, atau cahaya yang terbang dalam tempo gerakan yang tetap, terkadang berupa bayangan dan biasanya juga menampakkan secara utuh wujud mereka.
  2. Selain itu mereka juga menandakan keberadaan mereka melalui suara seperti cekikikan, dan bunyi- bunyi yang menyerupai binatang, namun jika kita di dengar dengan teliti bunyi tersebut berbeda dengan bunyi- bunyi dari suara hewan, biasanya menyerupai suara kambing, tikus, dan burung.
  3. Pernahkan anda merasakan tiba- tiba pada bagin tubuh anda terasa dingin atau ada hembusan angin yang terasa menyapu bagian bagian terrtentu di tubuh anda, itulah salah satu tanda bahwa mereka ada di dekat anda atau sedang menyentuh anda.
  4. Tiba- tiba muncul bau harum bunga, bau kemenyan, gharu dan sejenisnya atau kadang amis dan bau- bau aneh lainnya tanpa ada sumber yang jelas.
  5. Lampu yang seharusnya normal, tiba- tiba hidup mati, hidup mati....
  6. Adanya bunyi air gemericikan di kamar mandi seperti bunyi orang mandi atau menyiram air padahal setelah di periksa nihil, karena merreka pada umumnya menyukai wc atau kamar mandi apalagi yang kotor.
  7. Bunyi ribut di dapur anda seperti ada yang mengambil piring atau gelas, namun setelah di cek tidak ada kucing dan tidak ada satupun orang disana.
  8. Badan tiba- tiba berkeringat dingin dan gelisah ini menadakan ada makhluk ghaib di dekat anda, karena jin, iblis dan sebagainya di ciptakan dari api maka aura panas dari mereka dapat terasa bila merka dekat dengan kita.
  9. Berpindahnya benda tanpa ada yang memindahkan , misalnya gelas yang ada di dekat anda bergeser dengan sendirinya, pensil tiba- tiba berguling tanpa ada dorongan dan berada di tempat datar.

Anda juga dapat merasakan ketika berada di kawasan tempat tinggal mereka, coba bedakan ketika anda berada di tempat yang banyak orang katakan bahwa tempat itu angker, susananya sunyi dan tenang, udara sedikit lembab di tambah angin yang berhembus terasa agak panas dan dingin, mata anda bisa merasakan adanya aura aneh atau aura jahat pada sekeliling tempat tersebut, perasaan tidak enak, merinding, jantung berdetak cepat dan hati tidak tenang gelisah tiba- tiba muncul dikarenakan anda terpengaruh oleh dimensi mereka yang hampir berhubungan dengan dunia nyata artinya aura ghaib dari alam ghaib tersebut berhembus di situ, terkadang ada bunyi dengingan di telinga yang sangat pelan namun cukup membuat anda merasa terganggu dengan bunyi tersebut tetap terdengar walau anda telah menutup telinga. Sebaiknya anda jangan berada telalu lama di tampat tersebut dan perbanyaklah membaca ayat ayat suci ALLAH SWT untuk melindungi dan menjaga anda dari pengaruh pengaruh ghaib tersebut. Dan yang penting jangan pernah melamun, berkhayal, atau sebagainya yang menyebabkan pikiran anda kosong hal ini dapat menyebabkan mereka dengan mudah masuk ke jiwa anda karena jika seseorang dalam pikiran kosong artinya dia antara memiliki kesadaran dan tidak dan rohani mereka ada di ambang antara memasuki alam bawah sadar dan alam nyata. Lalu dalam keadaan ini makhluk gaib dengan mudah masuk di raga anda dan rohani kita sendiri tidak dapat menahannya sehingga sepenuhnya kesadaran dikendalikan makhluk lain yang masuk tersebut.

Untuk melepaskan makhluk ghaib yang masuk ke tubuh manusia ini dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan cara baik- baik dan secara kasar. Biasanya mahkluk gaib yang masuk ke tubuh manusia adalah ingin meminta bantuan atau pertanggung jawaban manusia. Misalnya kita mengotori tempat mereka maka mereka meminta supaya manusia untuk membersihkan dan tidak menotori tempat tersebut lagi dengan mengatakannya lewat tubuh yang mereka rasuki, atau mereka memiliki kesulitan tertentu misalnya hantu gentanyangan merasuki tubuh manusia untuk memberitahukan dimana jasad mereka yang belum di temukan dan belum di makamkan secara layak. Lalu setelah semua kita lakukan biasanya atas bantuan tokoh agama atau paranormal mereka akan langsung meninggalkan tubuh yang mereka rasuki itu tanpa adanya paksaan. Yang kedua yaitu dengan membacakan Asma- asma ALLAH SWT dan Ayat- ayat suci Al-qur'an. Karena jika mendengar Bacaan tersebut tubuh mereka akan terasa seperti di panggang di bara api dan di tusuk tusuk dengan duri- duri yang tajam membuat mereka berteriak dan meringis bahkan meronta- ronta. Ini termasuk pengusiran dengan cara kasar artinya makhluk tersebut dipaksa pergi dengan di perdengarkan Ayat- ayat ALLAH SWT yang dapat menyakitkan dan menyiksa mereka tersebut.

Demikianlah untuk penjelasan kali ini, sentiasalah berdoa, mengaji, membaca yasin, dan lainnya serta melaksanakan shalat unuk memperoleh perlindungan dari ALLAH SWT sebab jin, iblis dan setan akan kalah dengan orang yang rajin beribadah dan membaca ayat- ayat ALLAH SWT. Semoga bermanfaat untuk kita serta menguatkan iman kepada ALLAH SWT dan percaya kepada makhluk ghaib seperti malaikat, iblis, jin, dan setan itu ada di ciptakan oleh ALLAH SWT selain manusia. Semoga ALLAH SWT melindungi kita semua dari pengaruh jin, iblis, dan setan.... 



http://primbon-arti.blogspot.com/2012/12/mengetahui-hadirnya-makhluk-ghaib.html


Kamis, 06 Desember 2012

Menyingkap Rahasia Alam Ghaib

Menyingkap Rahasia Alam Ghaib
Ketika  Nabi s.a.w bermi’roj dengan dikawal malaikat Jibril, Beliau dipertontonkan oleh Allah s.w.t kepada alam gaib. Yakni keadaan di surga, di neraka dan keadaan-keadaan yang akan menimpa umatnya di masa yang akan datang. Dengan ini menunjukkan bahwa yang dimaksud alam gaib itu bukan alam Jin atau alam Malaikat dan bahkan alam Ruh (ruhaniah), semua itu sesungguhnya merupakan alam yang masih berada di dalam dimensi alam Syahadah walau berada pada dimensi yang berbeda dari bagian dimensi yang ada di dunia. Yang dimaksud dengan alam gaib adalah masa yang belum terjadi atau alam yang akan datang.

Surga dan Neraka dikatakan gaib karena keberadaannya setelah hari kiamat. Mati dikatakan gaib karena datangnya pada waktu yang akan datang. Jadi, hikmah terbesar dari perjalanan ruhani manusia dengan mengadakan pengembaraan ruhaniah (bertawasul) untuk berisro’ mi’roj kepada Allah s.w.t dengan ruhaninya, adalah terbukanya hijab-hijab basyariah sehingga dengan matahatinya atau firasatnya yang tajam manusia dapat mengetahui alam gaib atau apa-apa yang akan terjadi pada dirinya.

Kejadian-kejadian yang terjadi pada masa dahulu dan yang akan datang dikatakan gaib. Alam barzah dan alam akherat, tentang neraka, tentang shiroth, semuanya dikatakan gaib karena kejadiannya pada masa yang akan datang. Demikian pula sejarah-sejarah para Nabi terdahulu dikatakan gaib, karena terjadi pada masa lampau. Allah s.w.t telah menyatakan dengan firman-Nya:
ذَلِكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْغَيْبِ نُوحِيهِ إِلَيْكَ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ
“Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita gaib yang kami wahyukan kepada kamu (Ya Muhammad) padahal kamu tidak hadir beserta mereka” . (QS. Ali Imran; 3/44)
Tidak ada yang mengetahui hal yang gaib kecuali hanya Allah s.w.t. Kalau ada seseorang ingin mengetahuinya, maka jalannya hanya satu yaitu dengan mengimani apa-apa yang sudah disampaikan oleh Wahyu Allah s.w.t, kemudian ditindaklanjuti dengan amal ibadah (mujahadah dan riyadhah). Selanjutnya, apabila Allah s.w.t menghendaki, maka orang tersebut akan dibukakan matahatinya. Allah s.w.t telah mengisyaratkan demikian dengan firman-Nya:
وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ
“Dan pada sisi Allahlah Kunci-kunci semua yang gaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah”. (QS. al-An’am;  6/59)
Apa yang akan terjadi dalam waktu satu jam mendatang dikatakan gaib. Karena tidak ada yang dapat mengetahuinya kecuali hanya Allah s.w.t. Kalau ada seseorang yang mempunyai firasat tajam kemudian dia seakan-akan mengetahui apa-apa yang akan terjadi, hal itu bisa terjadi, karena yang demikian itu dia melihat dengan “Nur Allah”. Demikianlah yang disebutkan di dalam sabda Rasulullah s.a.w, yang artinya:”Takutlah kamu akan firasatnya orang-orang yang beriman, karena sesungguhnya dia melihat dengan Nur Allah”.

Kadang-kadang hanya dengan kekuatan cinta, firasat seseorang bisa menjadi tajam kepada orang yang dicintainya. Seorang ibu misalnya, yang sedang jauh dengan anaknya, kadang-kadang tanpa sebab, ibu itu mengalami perasaan yang gundah-gulana, ketika dia mencoba menghubungi anaknya, ternyata anaknya sedang sakit. Kalau kekuatan cinta antara sesama makhluk saja—bahkan kadang terjadi dalam kondisi yang masih haram misalnya, mampu menjadikan tajamnya firasat, apalagi cinta seorang hamba terhadap Tuhannya.

Seorang hamba yang selalu bertafakkur, memikirkan Kekuasaan dan Kebesaran Allah s.w.t hal tersebut semata-mata terbit dari dorongan rasa cinta dan rindunya, hatinya akan menjadi bersih dari kotoran-kotoran yang menempel, bersih dari hijab-hijab yang menutupi dinding penyekat alam batinnya sehingga pada gilirannya matahatinya akan menjadi cemerlang dan tembus pandang. Demikian itu telah ditegaskan Allah s.w.t dengan firman-Nya:
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
“Orang-orang yang bermujahadah di jalan Kami, benar-benar akan Kami tunjuki kepada mereka jalan-jalan Kami”. (QS. al-Ankabut; 29/69)
Apa saja yang terjadi di waktu yang akan datang, dari urusan rizki, urusan jodoh, urusan mati dan sebagainya, baik penderitaan ataupun kebahagiaan, yang terjadi di dalam kehidupan dunia maupun kehidupan akherat, semua itu dikatakan hal yang gaib, karena tidak ada yang mengetahuinya kecuali hanya Allah. Adapun Jin dan Malaikat dan bahkan Ruh atau ruhaniah tidaklah termasuk dari golongan Alam Gaib dalam arti yang disebut Metafisika akan tetapi termasuk dari golongan Alam Syahadah atau yang disebut Alam Fisika, hanya saja fisiknya berbeda dengan fisik manusia. Bau harum misalnya, walau tidak tampak fisiknya, tidak termasuk Alam Gaib tapi Alam Syahadah, atau alam yang bisa dirasakan, hanya saja untuk merasakannya membutuhkan alat, dan alat itu ialah indera penciuman.

Seandainya ada seseorang yang tidak mempunyai indera penciuman atau indera penciumannya sedang rusak misalnya. Walaupun orang lain dapat merasakan bau harum, dia tidak, yang demikian itu bukan karena bau harum itu tidak ada, tapi karena indera penciuman orang tersebut sedang tidak berfungsi. Demikian juga terhadap suara, akan tetapi untuk merasakan suara membutuhkan alat yang berbeda. Kalau merasakan bebauan dengan alat hidung, maka merasakan suara dengan alat telinga. Orang tidak bisa merasakan bau harum dengan telinga dan suara dengan hidung, masing-masing harus dirasakan dengan alat yang sudah dipersiapkan Allah s.w.t menurut kebutuhan kejadiannya. Seperti itu pulalah keadaan yang ada pada dimensi yang lain, dimensi jin, dimensi malaikat dan bahkan dimensi ruhaniah.

Jin dan malaikat misalnya, sebenarnya mereka juga adalah makhluk fisik, bukan metafisika. Asal kejadian fisik jin diciptakan dari api, sedang fisik malaikat diciptakan dari cahaya. Sebagaimana manusia yang asal kejadiannya diciptakan dari tanah, bentuk kejadian selanjutnya tidaklah tanah lagi, melainkan terdiri dari tulang dan daging, maka demikian juga yang terjadi terhadap makhluk jin dan malaikat.

Meskipun fisik jin diciptakan dari api dan malaikat diciptakan dari cahaya, kejadian selanjutnya tidaklah api dan cahaya lagi, tapi dalam bentuk fisik tertentu yang oleh Allah s.w.t telah ditetapkan tidak bisa dirasakan dengan indera mata manusia. Namun demikian, bentuk fisik jin dan malaikat itu boleh jadi bisa dirasakan oleh manusia dengan indera yang lain selain indera mata. Indera tersebut bisa disebut dengan nama atau istilah apa saja, indera keenam misalnya, atau dengan istilah-istilah atau nama – nama yang lain.

Semisal suara telah ditetapkan oleh Allah s.w.t tidak bisa dirasakan oleh hidung, tapi harus didengar oleh telinga, maka telinga atau hidung hanyalah istilah-istilah yang ditetapkan bagi alat perasa yang dimaksud supaya manusia dapat dengan mudah memahami atau mengenal terhadap alat perasa tersebut. Allah s.w.t berfirman:
إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ
“Sesungguhnya ia (setan jin) dan pengikut-pengikutnya melihat kamu, dari dimensi yang kamu tidak bisa melihatnya “. (QS. 7; 27)
Bukan berarti manusia tidak dapat mengobservasi atau berinteraksi dengan jin karena jin berada pada dimensi yang di atasnya, akan tetapi hanya saja untuk mengobserfasi atau berinteraksi dengan jin itu manusia tidak bisa dengan mempergunakan indera mata. Sebagaimana berinteraksi dengan suara tidak bisa mempergunakan indera hidung, akan tetapi harus mempergunakan alat perasa yang lain yang sesuai menurut kebutuhannya.
Allah s.w.t menghendaki manusia tidak dapat melihat jin, karena sesungguhnya matanya sedang tertutup oleh hijab-hijab basyariah. Ketika penutup mata itu dibuka, maka penglihatan manusia akan menjadi tajam. Artinya mempunyai kekuatan untuk tembus pandang sehingga saat itu manusia dapat merasakan alam-alam yang ada di sekitarnya. Allah s.w.t telah menegaskan hal itu dengan firman-Nya:
فَكَشَفْنَا عَنْكَ غِطَاءَكَ فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَدِيدٌ
“Maka Kami singkapkan dari padamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu   pada hari itu menjadi amat tajam “. (QS.Qaaf.; 50/22).

Istilah yang dipergunakan Allah s.w.t untuk membuka penutup penglihatan manusia di dalam ayat di atas adalah firman-Nya: فكشفنا عنك غطاءك   “Fakasyafnaa ‘anka ghithooaka” Kami singkapkan darimu penutup matamu, atau penutupnya dihilangi, atau hijabnya dibuka. Ketika manusia tidak dapat berinteraksi dengan dimensi yang lain berarti karena penglihatannya sedang ada penutupnya. Oleh karena itu ketika penutup itu dibuka, maka penglihatannya menjadi tajam atau tembus pandang. Ini adalah rahasia besar yang telah menguak sebuah misteri tentang alam-alam yang ada di sekitar alam manusia.

Bahwa jalan untuk menjadikan mata manusia menjadi tembus pandang supaya kemudian manusia mampu berinteraksi dengan dimensi yang lain,—dengan istilah melihat jin misalnya, adalah hanya dengan mengikuti tata cara yang berkaitan dengan istilah di atas. Tata cara itu ialah dengan jalan melaksanakan mujahadah di jalan Allah. Sebagaimana yang telah disampaikan Allah s.w.t dalam firman-Nya di atas, QS. 29/69 yang artinya: “Dan orang-orang yang bermujahadah di jalan Kami, benar-benar akan Kami tunjuki kepada mereka jalan-jalan Kami”.( QS. 29; 69)
Allah s.w.t yang menciptakan Hukum Alam secara keseluruhan. Maka hanya Allah s.w.t pula yang mampu merubahnya. Seandainya seorang hamba menginginkan terjadi perubahan terhadap hukum-hukum tersebut, maka tidak ada cara lain, dia harus tunduk dan mengikuti hukum-hukum yang sudah ditetapkan pula, meskipun perubahan yang dimaksud tersebut, juga merupakan sunnah yang sudah ditetapkan.

“Mujahadah di jalan Allah”, adalah suatu istilah untuk menyebutkan sesuatu yang dimaksud. Atau nama dari suatu tata cara bentuk sarana untuk mendapatkan petunjuk dari Allah s.w.t. Supaya dengan itu penutup mata manusia dibuka sehingga penglihatannya menjadi tajam. Sedangkan hakekat mujahadah sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah s.w.t, hanya Allah s.w.t yang mengetahuinya. Oleh karena itu, kewajiban seorang hamba yang menginginkan terjadinya perubahan-perubahan atas dirinya supaya usahanya dapat berhasil dengan baik, yang harus dikerjakan ialah, terlebih dahulu dia harus mengetahui dan mengenal dengan benar terhadap apa yang dimaksud dengan istilah mujahadah itu.

Oleh karena yang dinamakan mujahadah tersebut tidak hanya berkaitan dengan aspek ilmu pengetahuan saja, melainkan juga amal atau pekerjaan, bahkan mujahadah adalah ibarat kendaraan yang akan dikendarai manusia untuk menyampaikannya kepada tujuan, maka cara mengenalnya, lebih-lebih cara mengendarainya, seseorang harus melalui tahapan praktek dan latihan. Untuk kebutuhan ini—seorang hamba yang akan melaksanakan mujahadah harus dibimbing seorang guru ahlinya. Allohu A’lam
http://primbon-arti.blogspot.com/2012/12/menyingkap-rahasia-alam-ghaib.html