Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri Mantra. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri Mantra. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Januari 2011

Mantra-mantra dalam film Harry Potter

Alohomora
Mantra untuk membuka pintu yang terkunci
Colloportus
Mantra untuk mengunci pintu, membuat suara mendecit yang aneh
Lacarnum Inflamarae
Mantra untuk menciptakan api dari tongkat
Locomotor Mortis
Mantra untuk mengikat kaki orang yang dimantrai, membuatnya tidak mampu berjalan
Lumos
Mantra yang mengeluarkan cahaya putih berpendar pada ujung tongkat pengguna
Nox
Mantra untuk mematikan cahaya yang keluar dari ujung tongkat akibat mantra 'lumos'
Periculum
Mantra untuk meluncurkan percikan cahaya dari ujung tongkat, dan biasa digunakan sebagai signal
Petrificus totalus
Mantra untuk membuat tubuh lawan menjadi kaku tidak bergerak
Reparo
Mantra untuk memperbaiki kerusakan pada suatu benda
Wingardium Leviosa
Mantra untuk membuat benda melayang
Alarte Ascendare
Mantra untuk mementalkan benda ke udara
Aparecium
Mantra yang memperlihatkan tulisan dengan tinta tidak terlihat
Expelliarmus
Mantra untuk melucuti senjata lawan
Immobulus
Mantra untuk membekukan gerakan lawan
Rictusempra
Mantra yang menyebabkan orang untuk tertawa tidak terkontrol
Serpensortia
Mantra untuk menciptakan ular dari ujung tongkat sihir
Stupefy
Mantra yang membuat target pingsan, mantra ini mengeluarkan kilatan cahaya berwarna merah dari tongkat
Tarantalegra
Mantra yang memaksa kaki korban untuk bergerak secara tidak terkendali, berdansa seperti orang gila
Vera Verto
Mantra transfigurasi untuk merubah binatang menjadi cangkir atau teko
ArrestoMomentum
Mantra untuk melambatkan benda
Bombarda
Mantra untuk meledakkan barang
Carpe Retractum
Mantra untuk menarik objek ke si perapal mantra
Glacius
Mantra untuk membekukan benda
Impervius
Mantra untuk menahan air
Mobili + ...
Mantra untuk mengangkat benda secara mendatar (benda yang diucapkan setelah mantra ini menggunakan bahasa latin)
Riddikulus
Mantra ini dipakai untuk menghilangkan ketakutan karena melihat boggart. Jika dipakai secara benar, boggart yang terkena mantra ini akan berubah bentuk menjadi sesuatu yang lucu seperti yang kita inginkan
Spongify
Mantra untuk melembutkan benda menjadi lembut
Waddiwasi
Mantra untuk mengeluarkan permen karet dari lubang kunci
Accio + ...
Mantra untuk memanggil benda
Ascendio
Mantra yang membuat sang perapal mantra melesat ke atas
Densaugeo
Mantra untuk membesarkan gigi
Depulso
Mantra untuk mendorong suatu objek
Diffindo
Mantra untuk merobek sesuatu
Evanesco
Mantra untuk melenyapkan benda
Finite
Mantra untuk menghentikan efek dari mantra yang sebelumnya digunakan
Finite Incantatem
Mantra untuk menghentikan efek dari banyak mantra yang sebelumnya digunakan
Furnunculus
Mantra yang menyebabkan bisul
Impedimenta
Mantra perintang
Locomotor + ...
Mantra untuk mengangkat benda secara mendatar
Orchideus
Mantra untuk mengeluarkan bunga anggrek dari ujung tongkat
Protego
Mantra pelindung
Reducto
Mantra untuk menghancurkan penghalang berupa obyek solid yang merintangi si pengguna
Relashio
Mantra untuk mengeluarkan gelembung air panas di dalam air
Anapneo
Menyingkirkan benda asing dari saluran pernapasan
Engorgio
Membesarkan benda
Expecto Patronum
Mengeluarkan patrons
Flagrate
Memunculkan garis api di udara, yang bisa digambar/ditulis menjadi bentuk apapun
Incarcerous
Mengeluarkan tali tebal untuk membelit objek
Reducio
Mengecilkan benda
Rennervate
Memulihkan efek mantra pemingsan
Scourgify
Mantra untuk membersihkan sesuatu
Silencio
Mantra untuk membuat taget terdiam
Aguamenti
Mantra untuk memunculkan air dari ujung tongkat
Levicorpus (Non-Verbal)
Mantra untuk membuat target bergelantungan terbalik di udara
Liberacorpus
Mantra untuk mengembalikan orang yang terkena mantra Levicorpus
Confundo
Mantra untuk membuat korban linglung/kebingungan
Ennevarte
Mantra untuk memulihkan korban dari mantra pemingsan
Episkey
Mantra untuk menyembuhkan/memperbaiki kerusakan pada korban
Erecto
Mantra untuk meluruskan target objek dan membuatnya berdiri
Oppugno
Mantra untuk membuat makhluk yang berada di bawah kontrol mantra menyerang target yang diinginkan pemantra
Quietus
Mantra untuk membuat volume suara kembali menjadi normal (penetral mantra Sonorus)
Sonorus
Mantra untuk memperbesar volume suara
Specialis revelio
Mantra untuk mengidentifikasi bahan-bahan dalam ramuan atau bahan tambahan yang tersembunyi dalam sebuah objek
Tergeo
Mantra untuk membersihkan objek atau seseorang

Senin, 06 Agustus 2012

Mantra-Mantra dan Mantra Yoga - AM I A HINDU

berikut adalah lanjutan resume dari buku 

AM I A HINDU ( Apakah Saya Hindu ? ) 

dimana dibawah ini dijelaskan tentang "Mantra-Mantra dan Mantra Yoga" buku ini di tulis oleh Ed. Viswanathan (Diterjemahkan oleh NP Putra) 

 

APAKAH MANTRA YOGA? 

Mantra Yoga berasal dari Weda-Weda dan Tantra. Yoga ini membawa perobahan dalam kesadaran material oleh perantaraan suara. Tentu saja, "suara" Mantra Yoga merujuk kepada suara misterius yang tidak dapat didengar oleh telinga manusia. 

Dari pengetahuan modern kita tahu tiga fakta penting : 
  1. Materi adalah satu ekspresi dari energi, 
  2. Energi ini bergetar pada frekuensi yang berbeda dalam jenis materi yang berbeda. 
  3. Organ indriya kita hanya dapat menerima sensasi yang dibuat dalam lingkup frekuensi yang sangat terbatas. 
Misalnya, kita hanya dapat mendengar suara yang dibuat dalam satu cakupan (range) frekuensi terbatas - apapun di atas itu disebut ultrasound dan yang di bawahnya disebut infrasound. Tentu saja, kita tidak dapat menyimpulkan bahwa suara dalam Mantra Yoga termasuk dalam salah satu kategori di atas. Kita dapat mengatakan bahwa Mantra Yoga itu didasarkan atas aspek getaran dari energi dan modifikasinya kedalam materi yang bervariasi. 

Mantra dipergunakan untuk menghasilkan hasil-hasil yang penting dan juga penyatuan dan pengungkapan dari kesadaran. Mantra Yoga sendiri bukanlah satu Yoga khusus; sebaliknya ia dipergunakan secara luas oleh para pemuja yang berasal dari semua aliran Yoga yang lain untuk peningkatan dan pengembangan kesadaran. 

 

APAKAH MANTRA DAN KENAPA IA BEGITU PENTING? 

"Mantra" menggabungkan dua akar kata - Man artinya berpikir dan Tra artinya "instrumentalitas." Singkatnya, Mantra berarti "bentuk pikiran" (thought-form). Sebuah Mantra adalah ucapan yang memiliki kekuatan magis. Kebanyakan dari Mantra-mantra penting berasal dari Tantra. 

Dalam agama Hindu, dewa-dewa diwakili oleh Mantra dan setiap dewa dihubungkan dengan satu Mantra khusus. Dikatakan bahwa kekuatan Mantra bisa mengundang dewa memasuki sebuah patung dan membuat patung itu menjadi "hidup." Semua Mantra Hindu dibentuk dari alphabet Sansekerta. 

Dipercayai bahwa setiap huruf memiliki potensi kekuatan yang tidak terbatas dan beberapa dari huruf itu secara tepat dikelompokkan menjadi satu Mantra. Kemudian Mantra itu akan membantu untuk menciptakan efek khusus. Menurut kekuatannya, Mantra dikelompokkan kedalam jenis laki-laki, perempuan dan netral. 

Mantra yang berakhir dengan suku kata "Hum" atau "Phat" disebut Mantra maskulin (laki-laki), yang berakhir dengan "Swaha" disebut Mantra feminin (wanita), yang berakhir dengan "Namah" disebut Mantra netral. 

Ada lima puluh dua huruf dalam alphabet Sansekerta, jadi ada lima puluh dua elemen kekuatan yang tersedia untuk menciptakan Mantra dalam berbagai kombinasi yang berbeda. Tentu saja tidak seorangpun dapat mengatakan bahwa hanya suara-suara yang dihasilkan oleh alphabet Sansekerta yang bisa menjadi Mantra. Satu-satunya hal yang dikatakan disini adalah bahwa Mantra-mantra Hindu diciptakan oleh para ilmuwan kuno zaman Weda, para Mahareshi, dan evaluasi yang sangat mendalam dilakukan sebelum menerima gabungan kata sebagai Mantra. Dalam agama Hindu Mantra tidak terbatas jumlahnya. 

 

BAGAIMANA CARA YANG TEPAT UNTUK MENGUCAPKAN MANTRA? 

Sebagai awal, sebuah Mantra harus diberikan kepada seorang pemuja oleh seorang Guru bila manfaat yang besar ingin diperoleh dari Mantra ini. Tentu saja seseorang boleh mengambil Mantra apapun dan mulai mengucapkannya, dan selama orang tersebut memiliki keyakinan pada Mantra itu maka ia akan memperoleh beberapa hasil yang positif. 

Japa adalah tehnik terbaik yang dikenal dalam Mantra Yoga, dimana suatu Mantra diulang secara terus-menerus, mula-mula kedengaran oleh telinga manusia kemudian secara diam-diam dan secara mental. Ketika pemuja itu terus mengucapkan Mantra favoritnya, dia akan merasakan perobahan dalam kesadarannya. Tapi tidak perlu untuk melihat perobahan apapun dalam badan kasarnya. 

Ada beberapa jenis Mantra diantaranya Pranawa dan Gayatri Mantra adalah yang paling populer. Persis seperti satu biji tumbuh menjadi satu jenis pohon tersendiri sesuai dengan jenis dari biji itu, demikian pula efek dari setiap Mantra. Mantra yang diucapkan oleh penganut Hare Krishna adalah, "Hare Krishna, Hare Krishna, Krishna, Krisha, Hare, Hare; Hare Rama, Hare Rama, Rama, Rama, Hare, Hare." Mantra ini khususnya dipergunakan untuk membebaskan seseorang dari Karma atau ikatan (tumimbal lahir) menurut Srimad Mahabhagawatam. "OM Namah Shiwaha" adalah Mantra yang sangat populer di India Selatan. Mantra populer yang lain adalah, "Sree Ram, Jaya Ram, Jaya Jaya Ram; Sree Ram, Jaya Ram, Jaya Jaya Ram." 

Ada banyak sekali Mantra dalam agama Hindu. Bahkan ada Mantra-mantra seperti Wasikarni Mantra untuk menarik lawan jenis. "Om Mani Padme Hum" adalah satu Mantra Buddhis yang agung, yang merujuk kepada "mutiara dalam bunga padma dari hati." Dalam agama Yahudi, "Baruch Attah Adoni" berarti "Terahmatilah Engkau, O Tuan Tuhan kami." Untuk orang Kristen, nama Jesus sendiri adalah sebuah mantra yang besar. Dalam tradisi Katolik, "Hail Mary" dipergunakan sebagai Mantra yang hebat. "Bismilah Ir-Rahman Ir-Rahim" adalah Mantra Muslim yang artinya "Dalam nama Allah, yang pengasih dan penyayang."

Selasa, 25 September 2012

meWeda dan Memantra, Pemujaan setiap hari

meWeda dan Memantra, Pemujaan setiap hari

Veda atau Mantra

Weda sebagai kitab suci.

Weda sebagai kitam suci. Satu-satunya pemikiran yang secara tradisional yang kita miliki adalah yang mengatakan weda adalah kitab suci agama Hindu. Apabila kita maksudkan kitab suci agama maka Weda adalah merupakan kitab suci atau buku. Kita tidak membicarakan isinya. Kita hanya membicarakan wujudnya. Buku itu berisi tulisan-tulisan, disusun rapi ada penulisnya, ada pemikirnya dan ada pula isinya berupa ajaran-ajaran. Buku adalah benda atau barang cetakan. Tetapi tidak semua brang cetakan atau buku dapat kitanamakan Weda. Sebagai kitab suci agama Hindu artinya bahwa buku itu diyakini dan dipedomani oleh umat Hindu sebagai satu-satunya sumber bimbingan dan infoemasi yang diperlukan dalam kehidupan mereka sehari-hari ataupun untuk melakukanm pekerjaan tertentu.Dan dinyatakan sebagai kitab suci karena sifat isinya dan yang menurunkannya pun adalah Tuhan yang dianggap Maha suci.

Weda sebagai ilmu pengetahuan. Weda didalam bahsa sanskerta berarti pengetahuan. Kata Weda berasal dari urat kata Wid, yang artinya mengetahui. Apa bila kita artikan Weda itu sebagai pengetahuan, maka setiap ilmu pengetahuan dapat dikatakan Weda. Ini tidak benar pula. Weda adalah pengetahuan dan diturunkan oleh Tuhan kepada umat manusia sebagai wahyunya. Sebaliknya kata “widya’ adalah segala macam pengetahuan yang dikembangkan oleh penemuan berbagai risetnya. Widya lebih bersifat duniawi sedangkan Weda lebih bersifat rokhani. 


Ada pula penjelasan lain yang kita jumpai mengatakan bahwa kata Weda yang huruf akhirnya ditulis dalam huruf ã (panjang) mengandung pengertian kata-kata yang diucapkan dan dinyanyikan dengan aturan-aturan tertentu. 
Nyanyain itu atau hymne didalam Weda itu disebut ‘Rca’ atau Chanda yang dibedakan menurut jumlah bait dan banyaknya kata atau suku kata dalam satu syair. 
Rca ini juga dikenal dengan nama ‘mantra’ dan karena itu tidak heran hampir semua tulisan dalam kitab weda itu ditulis dalam bentuk mantra atau rca atau Chanda. Hanya beberapa saja yang kita jumpai didalam kitab Yajur Weda yang ditulis dalam bentuk prosa. Pengetahuan itu dapat dibedakan menjadi dua bidang, yaitu: Pengetahuan Rokhani, yang akan menuntun manusia untuk mencapai kesempurnaan rokhani, baik didunia ini maupun didunia kelak sesudah mati. Pengetahuan semacam ini tergolong nwrtti jnana dan jalannya sendiri disebut nwrtti marga. Adapun yang menjadi sumber nwrtti jnana ini adalah Sruti. Pengetahuan duniawi, yaitu pengetahuan yang akan menuntun manusia pada upaya peningkatan kesejahteraan dan hidup bahagia didunia ini. Ilmu pengetahuan yang tergolong jenis ini adalah disebut prawrti marga. Adapun sumber utama dari pengetahuan ini adalah Dharmasatra.

Pengertian weda sebagai wahyu Tuhan. 

Pengertian Weda sebagai wahyu Tuhan Yang Maha Esa adalah merupakan adalah pengertian yang sangat penting didalam memahami Weda itu sendiri. Sruti sesungguhnya disebut Weda dan Dharmasatra itu adalah smrti. Kemudian lebih lanjut dalam perkembangan pengertian Weda dikembangkan bahwa baik Sruti maupun Smrti kedua-duanya adalah sama yang dimaksudkannya ialah bahwa baik sruti maupun Smrti kedua-duanya diterima sebagai Weda. Dari pengertian yang telah dikemukakan maka apa yang diartikan Weda adalah mencakup pengertian yang amat luas.

Weda adalah Mantra

Aspek pengertian keempat, Weda adalah dikenal sebagai mantra. Pengertian ini dapat kita angkat satu satu konsep penjelasan yang menguraikan bahwa Sruti itu sendiri atas tiga bagian, yaitu: Mantra, yaitu untuk menamakan semua kitab suci Hindu yang tergolong Catur Weda, yaitu Rgweda, Yayurweda, Samaweda dan Athawaweda. Brahmana atau Karmakanda, yaitu untuk menamakan semua Janis buku yang merupakan suplemen kitab mantra, yang isinya khusus membahas aspek karma atau yadnya. Upanisad dan Aranyaka atau dikenal dengan nama Jnanna kanda, yaitu penamaan semua macam buku Sruti yang terdiri atau 108 buah kitab Aranyaka dan Upanisad Isinya khusus membahas aspek pengetahuan yang besifat filasafti. Oleh karena kitab brahmana maupun upanisad maupun Aranyaka tidak pernah disebut sebagai kitab mantra, maka jelas pengertian mantra khusus mencakup catur weda saja. Mantra pengertiannya lebih sempit dari Weda itu sendiri. (Puja, 1985:1-4)

Mantra.

Kata mantra berasal dari kata man yang berarti pikiran dan tra berarti alat. Jadi kata mantra berarti alat dari pikiran. Apa yang dimaksud dengan alat dari pikiran? Sebenarnya semua kata-kata diucapkan oleh seseorang kecuali orang gila, yang pikirannya tidak waras lagi, adalah merupakan alat dari pada pikiran. Kata-kata adalah alat penyambung buah pikiran dari seseorang yang ditujukan pada orang lain atau obyek tertentu. Selanjutnya Mantra adalah kata-kata yang diyakini bukan buatan manusia, tetapi adalah hasil wahyu yang diterima oleh manusia, sebagai alat berkomunikasi khusus dengan Tuhan atau Dewa-Dewa yang merupakan manifestasi dari kekuasaan Beliau. Putra (Tt: halaman 41)

Mantra berarti persembahyangan, himne Weda, teks suci. Mantra dapat digolongkan seni suara karena diucapkan sesuai dengan chanda, yaitu tinggi rendahnya intonasi secara teratur sehingga menimbulkan suara yang harmonis. Pengucapan mantra yang tepat memerlukan latihan, agar intonasi dan tekanan-tekanan suara dapat diucapkan dengan tepat. Mantra yang diucapkan sesuai dengan aturan tersebut dapat menggerakkan kekuatan yang paling dasar dalam diri manusia dan disebutkan pula dapat mengundang segala kekuatan alam yang ada. Cara untuk dapat menguasai suatu mantra, sehingga dinyatakan menjadi orang siddhi mantra (mantra siddhi) adalah dengan melalui latihan dan bimbingan (Pudja: 1979).

Mantra Upasana dan Mantra Upadesa

Mantra Upasana.Pada bagian ini dimuat doa mantra sehari-hari baik yang Nityakala (rutin) mapun Namitikakala (insendental) dipergunakan oleh umat Hindu. Mantra-mantra yang dimuat dalam bagian Mantra Upasana in I Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-Aspek Agama Hindu yang diselenggarakan di Institut Hindu Dharma, Denpasar bulan Januari 1986 yang lalu. Mantra Upadesa, Pada bagian ini memuat mantra-mantra atau sloka-sloka yang dapat memberikan tuntunan hidup. Sumbernya tidak saja dari Samhita (Catur Weda) dan Upanisad (tetapi juga buka lainnya.).

Dalam kehidupan beragama, umat Hindu, ada tiga kewenangan pemakaian mantra/syair pujaan, yaitu: 1). Untuk Sadhaka, 2).Untuk Pemangku/Pinandita, 3).Untuk Walaka. Mantra-mantra yang ditetapkan ialah mantra-mantra untuk doa-doa sehari-hari, bukan untuk melaksanakan Lokaparasraya. Mantra ini dapat dipakai untuk sembahyang Tri Sandhya. Mantra Upasana yang digunakan sehari-hari bertujuan: untuk memuliakan/memuja Sang Hyang Widhi dan memohon kerahayuan kepadaNya. Dalam mengucapkan mantra-mantra ini hendaknya mengambil sikap sedemikian rupa, sehingga dapat mengucapkan mantra-mantra dengan penuh khidmat serta dilandasi dengan kesucian lahir dan batin. Mantra-mantra ini dapat diucapkan tanpa dilagukan dan dapat diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dan bahasa daerah masing-masing. (seperti Tri sandya).Titib (1986: 6,14,15)

Fungsi Mantram

Mantram memiliki fungsi yang utama dalam upacara yadnya maupun dalam kehidupan sehari-hari. Upacara yadnya tidak akan berpahala jika tidak disertai dengan pengucapan mantram.

Nilai Magis Mantram

Matram yang memiliki kekuatan magis tertinggi adalah mantram suci OM/Ongkara. Mantram suci OM adalah Brahman dan dalam Weda Smerti disebutkan bahwa Prajapati memerasnya dari tiga Weda, suara A,U,M dan Wyakrti dengan suara OM disebutkan bahwa itu adalah bentuk suara suci Brahman. Prajapati yang bersemayam disorga tertinggi, mengeluarkan inti sari dari tiga weda (Rg.Weda, Sama Weda Yayur Veda) dan mantram-mantram Rg Weda yang suci bagi Sawitri (Dewi fajar). Kekuatan magis dari mantram OM, sebagai pengucapan awal dari mantram-mantram untuk upacara Panca Yadnya adalah dapat mengantarkan persembahan kepada yang dipuja dan tercapainya tujuan upacara tersebut.

Mengenai kekuatan magis mantram OM dalam mengamalkan ajaran agama sehari-hari adalah dapat tercapainya segala tujuan. Beberapa hal yang penting harus dilaksanakan adalah.
  • pada permulaan dan penutupan suatu pekerjaan, pertemuan penting dan lain-lain hendaknya dimulai dengan mengucapkan OM dan setelah berkahi juga mengucapkan OM. Pelajaran yang dimulai, tidak didahului dengan mengucapkan OM, pelajaran akan tergelincir/tidak diserap dan kalau sudah berakhir tidak disertai dengan ucapan/mantram OM maka pelajaran itu akan hilang.
  • pengucapan mantram Gayatri yang dikatakan sebagai tiang pengokoh Weda adalah gerbang menuju bersatunya Atman dengan Brahman. Orang yang taat mengucapkan Gayatri Mantram setiap hari secara terus menerus selama tiga tahun, setelah meninggalnya akan mencapai Brahman, bergerak leluasa laksana udara mencapai bentuk yang kekal dan abadi.

Pemujaan setiap hari.

Pemujaan yang dilaksanakan setiap hari dengan mengucapkan Gayatri mantram juga dapat memberikan keselamatan ketenangan, kebahagiaan dan ketentraman. Pernyataan tersebut dijelaskan dalam Bhagawadgita bahwa bagi orang yang selalu taat memuja Beliau dengan sujud bahti akan selalu dilindungi-Nya dan akan diberikan apa yang belum dimilikinya (Pudja, 1983:217, 221).

Puja

Puja adalah pujian/pemujaan kepada Tuhan dan manifestasi-Nya yang diucapkan Sulinggih dan Pemangku dalam melaksanakan Panca Yadnya. Pujian/Pemujaan tersebut dikenal dengan istilah Puja. Pengastawa dengan mempergunakan mantra Puja mantra dinyatakan sebagai pucak dari pada Yadnya karena itu pelaksanaan yadnya tanpa disertai puja Pangastawa adalah sia-sia (Pidharta, 2000). Mantra yang dipergunakan dalam Puja Pangastawa sangat sangat banyak mencakup seluruh kekuatan alam yaitu semua manifestasi Sang Hyang Widhi. Mantra-mantra tersebut sangat sakral sebab hanya orang yang sudah disucikan melalui upacara Ekajati dan Dwijati saja yang boleh mengucapkannya. Orang yang baru melakukan penyucian tingkat Ekajati tidak dibenarkan mengucapkan mantra tertentu yang hanya boleh diucapkan oleh Dwijati. Mereka yang berani melanggar ketentuan tersebut akan mendapat pahala yang tidak baik. Menurut sumber sastra, ada dijelaskan bahwa upacara yadnya yang dilaksanakan sesuai dengan ketentuan serta diantar dengan Puja Pangastawa yang benar dan tepat maka yadnya tersebut dapat mencapai tujuan dari pelaksananya.

Kidung

Kidung adalah nyanyian pujian kehadapan Ida Sang Hyang widhi dan manifestasiNya. Kidung dinyanyikan guna melengkapi upacara Panca Yadnya. Kitab suci Rg. Weda menyebutkan bahwa dalam pelaksanaan yadnya harus ada persembahan, orang yang menata pelaksanaan yadnya, pemimpin upacara dan nyanyian-nyanyian pujian.

Kitab Sama Veda secara keseluruhan memuat nyanyian-nyanyian pujian, yang disebut sebagai nyanyian suci/Kidung Suci. Rg Weda Mandala X, menyebutkan bahwa kidung suci itu berasal dari yang Abadi. Brahad Aryanaka Upanisad menyebutkan bahwa Kidung Suci yang dilagukan dalam persembahyangan/pelaksanaan yadnya dapat menumpas kejahatan. Selanjutnya dijelaskan bahwa doa persem-bahyangan/Kidung suci kekuatannya ada dalam mulut yang disebut Ayasya Anggirasa, karena merupakan inti sari rasa dari tubuh. Mereka yang mengetahui rahasia itu dijauhkan dari kematian dan dapat nantinya menuju sorga. Kitab yajur Weda menyerukan semoga para ilmuwan menyanyikan lagu pujian kepada Tuhan, begitu pula dalam kitab Atharwa Weda dijelaskan bahwa Kidung Suci dilagukan untuk memohon kesempurnaan kehadapan Dewa Waruna. Berdasarkan penjelasan dari kitab-kitab suci tersebut maka dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan yadnya yang kita warisi sekarang ini sudah sesuai dengan ajaran Weda. Yadnya memakai persembahan berupa banten, ada yang menata banten ada Pendeta/pemangku sebagai pemimpin upacara dan ada yang melagukan Kidung suci. Senada dengan sumber sastra tersebut, banyak dijumpai beberapa prasati seperti prasati Bebetin, prasasti Dawa, prasasti Blantih dan lain-lainnya.

Putru

Putru adalah suatu nasehat/tutur yang mengisahkan perjalanan ke sorga. Putru tersebut dilagukan pada waktu upacara Pitra Yadnya.

Majijiwan

Majijiwan dilaksnakan pada upacara yang besar, saat Ida Bhatara turun Ka Peselang. Isi mantra majijiwan tersebut adalah penciptaan bumi dan isinya serta suksesnya upacara.

Senin, 06 Agustus 2012

Gayatri Mantra - AM I A HINDU

berikut adalah lanjutan resume dari buku 

AM I A HINDU ( Apakah Saya Hindu ? ) 

dimana dibawah ini dijelaskan tentang "Gayatri Mantra" buku ini di tulis oleh Ed. Viswanathan (Diterjemahkan oleh NP Putra) 

 

AYAH, APAKAH GAYATRI MANTRA? 

Gayatri Mantra dan Pranawa Mantra (AUM atau OM) adalah Mantra-mantra yang paling populer dari agama Hindu. Gayatri Mantra berasal dari Rig Weda (III, 62:10) 

Beberapa orang menyebut Mantra ini Sawitri Mantra karena berisi kata Sawitri. Legenda mengatakan bahwa Mantra ini disusun oleh Mahareshi dari India Selatan Wishwamitra, yang adalah seorang ksatriya karena kelahiran dan akhirnya menjadi Brahmin karena tapanya yang serius dan bhakti kepada agama Hindu. Seperti Mantra lainnya, untuk mendapat hasil yang tepat, Mantra ini harus diterima dari seorang Guru. 

Bila seseorang ingin mengucapkan (japa, chant), ia hendaknya mengikuti tulisan Dewanagari. Mohon jangan ikuti versi Inggrisnya yang saya berikan di bawah ini. Menurut agama Hindu, satu Mantra yang diucapkan secara salah lebih buruk dari pada tidak mengucapkan mantra itu sama sekali. Secara pribadi aku merasa bahwa seperti semua Mantra yang lain, Mantra agung ini berasal dari Tantra dan itulah mungkin sebabnya mengapa ia menyimpan dalam dirinya kekuatan yang tidak dapat dijelaskan. 

Gayatri Mantra bunyinya kira-kira sebagai berikut : 
OM Bhur bhuwah swah 
Tat Savitur warenyam 
Bhargo dewasya dhimahi 
Dhiyo yo nah prachodayat 

Menurut agama Hindu Mantra ini tidak bisa diterjemahkan, menulis suatu terjemahan yang salah dianggap oleh banyak orang Hindu sebagai bidah. Bagaimanapun supaya kamu dapat menghargainya, inilah kira-kira terjemahannya yang mendekati : "OM! Mulia (Glory) untuk Sawitri, yang mulia, cahaya dari Yang Suci, marilah kita meditasi kepadanya. 

Mudah-mudahan ia memberi kita inspirasi dengan pengertian, ia adalah Gayatri." Terjemahan lain : "Ya Tuhan Yang Maha Esa penguasa alam semesta, Marilah kita bersemadi pada cahaya suci Tuhan yang patut disembah itu, yang memberikan penerangan suci pada pikiran kita." 
Dikatakan bahwa suku kata dari Mantra agung ini adalah merupakan puncak dari empat Weda. 

Tantra Wishwamitra mengatakan, "dua puluh empat suku kata Gayatri adalah merupakan dua puluh empat shakti atau kekuatannya. Tata cara pemujaan hendaknya sesuai dengan bentuk dari Sakti ini." Bahkan Mahareshi Wasishtha, yang telah melakukan perdebatan yang sengit dengan Wishwamitra, memuji Mantra ini, menyatakan bahwa bahkan orang-orang bodoh, kaum kriminal dan orang-orang cacat mental dapat memperoleh manfaat dari Gayatri Mantra. Mantra ini telah dipromosikan oleh hampir semua orang-orang suci Hindu, termasuk Adwaitist seperti Adi Sankara.

Minggu, 30 September 2012

Belajar meMantra atau meWeda

Belajar meMantra atau meWeda


Dilarang belajar mantra, banyak orang takut belajar mantrà,
karena belum mengerti apa itu sesungguhnya mantrà disamping itu, sering mendengar sebuah kalimat; “Aywà Wérà tan sidhi phalanià”, jangan disembarangkan, perilaku yang sembarangan itu sangat tidak baik manfaatnya. Kemudian lebih lanjut tutur-dituturkan oleh tetua kita di Bali; Dà melajahin aksarà modré/aksarà suci nyanan buduh nasé. Jangan mempelajari aksarà Modré/aksarà suci, nanti bisa gila. Dua pernyataan seperti ini sudah cukup menakutkan bagi orang Bali yang lugu dan hormat kepada tutur, orang tua dan orang yang disucikan.

Maka kita tidak cukup menerima begitu saja, tutur tetua kita dan kalimat “Aywà Wérà tan sidhi phalanià”, dan Dà melajahin aksarà modré/aksarà suci nyanan buduh nasé, kalimat ini harus ditelusuri lebih mendalam. Dari mana sesungguhnya kalimat tersebut muncul, dan dari buku mana dan apa tujuannya.

Kalimat tersebut muncul dari Purwa Adhi Gama Sesana, (Ringga Natha, 2003:3) yang menyatakan: 
Yan han wwang kengin weruhing Sang Hyang Aji Aksara,
mewastu mijil saking aksara,
tan pangupadyaya/maupacara mwah tan ketapak, tanpa guru,
papa ikang wwang yan mangkana.
Bibijat wwang ika ngaranya,

apan embas/lekad tanpa guru,
kweh prabedanya,
papinehnya bawak,
yan benjangan padem wwang mangkana,
atmanya menados entipning kawah Candra Ghomuka.
Apan lampahnya numpang laku,
kananda de para Kingkara Bala,
yan manresti malih matemahan triyak yoni,
amangguhaken kesengsaran.

Arti bebasnya, 
Jika ada orang yang ingin mempelajari Sang Hyang Aji Aksara Sastra Suci, hanya dengan mempelajari Sastra buku-buku tidak dilakukan upacara, tidak anugrahi ketapak melalui nyanjan, tidak memiliki guru, berdosalah orang yang seperti itu. Tidak memiliki Bapak dan Ibu orang yang seperti itu, karena kelahirannya tidak memiliki guru, roh-nya akan mengendap didasar neraka Candra Ghomuka. Karena perjalanannya tidak menentu, dihukumlah oleh pengikutnya Kingkara bala, kalau dia lahir kembali, dia akan menjadi kotoran air yang mendidih dan akan menemukan kesengsaraan. 

Dibenarkan belajar Mantra, kalimat yang menyatakan boleh belajar mantra menyatakan sebagai berikut: 
Kewala ikang amusti juga kawenangan wehania ri wwang durung Adiksa Dwijati, ring arep anembah Dewa, amreyogakena Sang Hyang ri daleming sarira.
Arti bebasnya, 
kalau orang berkeinginan dengan sungguh-sungguh, diperkenankan juga kepada orang yang belum Adiksa Dwijati (dinobatkan sebagai pemangku atau sulinggih), asalnya disampaikan atau di buatkan upacara kecil (Canang sari) dihadap para Dewa, sebagai bukti ketulusan hati yang paling dalam untuk memahami dan mendalami apa yang disebut dengan Mantra, bagaimana tulisan mantra yang benar, dan bagaimana reng-reng mantra harus disuarakan agar mampu menyentuh sapta petala, sapta cakra dan sapta Loka.
Widyas ca wa awidyas ca, yac ca-anyad upadesyam. Sariram brahma prawisad rcah sama-atho-yajuh.
Segala macam zat memasuki tubuh manusia seperti misalnya kebijaksanaan, pengetahuan praktis, dan setiap pengetahuan yang harus diajarkan, Tuhan yang Maha Esa Yang Maha Agung (Makhluk Teragung), Rgweda; Samaweda dan Yajurweda. (Athwaweda XI.8.23).

Kalau diperhatikan kalimat tersebut inti pokoknya terletak pada, jika mempelajari Aksara Suci atau Modre harus:  
  1. diupacarai, 
  2. memiliki guru, dan 
  3. jika melanggar akan memperoleh hukuman.
Konsep upacara ada tiga, diantara tiga masing-masing dapat dibagi menjadi tiga, sehingga menjadi sembilan konsep yang dapat dipakai sebagai pedoman Nistaning Nista, dan inti dari yadnya adalah ketulusan hati, jadi dengan upakara yang kecil (cukup) Canang Sari satu tanding disertai kesucian hati, maka konsep upakara dapat diatasi. Harus memiliki guru, yang disebut guru adalah: Guru Rupaka, Guru Pengajian, Guru Wisesa dan Guru Swadhiyaya. Dengan menghaturkan satu sesaji canang sari kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, Swadhiyaya maka konsep guru telah kita lalui, maka dari itu seseorang belajar mantra akan terhindar dari segala kutuk dan hukum, sehingga dapat dikatakan bahwa untuk belajar mantra cukup dengan matur piuning di Sanggah Kemulan, yang ditengah sebagai simbolis Tuhan dalam Rumah Tangga yang sering disebut dengan Siwa Pramesti Guru.

Belajar Mantra berarti sebuah yoga, dan yoga merupakan bagian dari enam aliran filsafat Hindu (niaya, waisasika, sangkia, yoga, mimansa, weddanta). Tantra sangat meyakinkan kita akan kekuatan yoga sebagai bentuk sadhana “kubci” pengendalian zaman ini. Yoga mempersatukan Jiwa (atma) dengan Tuhan (Paramatma), Astangga Yoga memberi perincian luas dan mendalam tentang delapan tingkatan yoga: 
  1. yama (pengendalian diri), 
  2. Nyama (penyucian lahir-bhatin), 
  3. Asana (sikap duduk/tubuh), 
  4. pranayama (pengaturan nafas), 
  5. Pratyahara (pengendalian pengindraan), 
  6. Dharana (perhatian memusat), 
  7. Dyana (pemusatan pikiran), 
  8. Samadhi (menyatunya subyek-subyek). 
Pada tingkatan nyama terdapat sepuluh mental yang harus dipenuhi, yaitu: 
  1. Dana (sedekah), 
  2. Ijya (sembahyang), 
  3. Tapa (semadi), 
  4. Dyana (pemusatan pikiran), 
  5. Swadyaya (mempelajari weda-weda/mantra), 
  6. Upastanigraha (mengendalikan sex), 
  7. Brata (mengendalikan panca indria), 
  8. Upanasa (berpuasa), 
  9. Mona (mengendalikan kata-kata), 
  10. Snana (membersihkan badan). 
Meskipun sejarah telah banyak memberi warnanya tetapi konsep astangga Yoga, tetap menjadi landasan pengertian tapa, brata sebagaimana disebutkan di atas.

Secara alamiah yoga dialami sewajarnya oleh semua mahluk, karena sebenarnya sekali hanya dengan persatuan itulah semua yang ada itu ada. Keadaan inilah yang dijadikan landasan bersama dan pertama, namun keadaan sedemikian ini dalam praktek kehidupan sehari-hari sering dilupakan. Secara khusus dan teknis yoga adalah pengaktualisasikan identitas, yang sebenarnya telah ada walaupun tidak disadari.
Tidak ada pengikat yang lebih kuat dari maya, dan tidak ada kekuatan yang lain yang mampu menghancurkan ikatan itu selain Yoga. Tattwajnana atau kesejatian adalah hadiah yang paling berharga dari semua bentuk laku shadnan yoga. 

Zaman kali telah menurunkan kitab suci tantra, yaitu pengetahuan praktis yang langsung harus dipelajari dalam praktek. Kitab tersebut menuntut pemahaman hakekat yoga shadhana ritual. Pemahaman intensif memerlukan tingkat evolusi berpikir melalui praktek-prakteknya. (Granoka, 2000:15).

Dari uraian di atas menunjukkan suatu larangan yang bersifat positif, agar didalam mempelajari Mantra mengikuti sistimatika dan etika bermantra. Bali sudah memahami mantra, agar dipergunakan sebagai jalan mensejahterakan kehidupan masyarakat untuk mencapai kedamaian bersama. Paling tidak mantram itu dipergunakan pertama untuk diri sendiri seperti mantram; Pembersihan Tangan, Pembersihan Dupa, Pembersihan Bunga dan Mantram Tri sandya. Kedua untuk keluarga, seperti: Otonan anak, otonan istri dan upacara odalan kecil di sanggah kemulan milik sendiri, artinya hanya sebatas dikalangan rumah sendiri dan dilakukan upakara secara kecil-kecilan.

Etika yang harus dipegang oleh orang yang mempelajari mendalami spiritual adalah: 
Kitrcah cisyo’dhyapya ityaha: Acarya putrah cusrusur njadado dharmikah cucuh, aptah caktorthadah sadhu swodhyapya daca dharmatah.
Menurut hukum suci, kesepuluh orang-orang berikutnya adalah putra guru (yaitu) ia yang berniat melakukan pengabdiannya, ia memberikan pengetahuan, yang sepenuh hatinya mentaati UU, orang yang suci, orang yang berhubungan karena perkawinan atau persaudaraan, orang memiliki kemampuan rohani, orang yang menghadiahkan uang, orang yang jujur dan keluarga (mereka) dapat dipejalari Weda atau mantra. 

Selanjutnya dinyatakan, seorang tidak boleh menceriterakan apapun kepada orang lain kecuali kalau ditanyai; demikian seseorang hendaknya tidak menjawab pertanyaan yang tidak wajar untuk dinyatakan, hendaknya orang-orang supaya bertingkah laku bijaksana diantara orang-orang yang memiliki pengetahuan yang sederhana. Diantara kedua jenis orang itu, yang menjelaskan sesuatu yang tidak wewenangnya dan yang menyatakan pertanyaan yang bukan wewenangnya salah satu dan keduanya, akan mengalami kekeliruan atau terkena bencana permusuhan oleh orang yang lain. Sebagai bibit yang baik tidak boleh ditaburkan pada tanah yang gersang, demikian juga pengetahuan yang suci tidak seharusnya disebarkan kepada keluarga-keluarga dimana kemasyurannya dan kekayaannya yang tidak didapat dengan kesucian atau tanpa penghormatan kepada yang suci. Pengetahuan suci mendekati seorang Sulinggih (su-berarti baik, linggih berarti tempat, maksudnya orang yang dipercaya dimasyarakat, telah memiliki sifat-sifat baik) dengan berkata: 
Aku adalah kekayaan anda, peliharalah aku, jangan aku diserahkan kepada mereka yang tak percaya, dengan demikian aku menjadi amat kuat. Tetapi serahkan saya kepada seorang Sulinggih yang anda ketahui pasti ia yang sudah suci, yang bisa mengendalikan panca indranya, berbudi baik dan tekun. (Weda Smerti, 1977/1978:109-115).
Silahkan, belajarlah Mantra dan Memantra berdasarkan kesucian hati, dan ketika telah memilikinya, manfaatkanlah sesuai dengan tata dan etika dimana harus diucapkan, dan dimana harus dipujakan. Kalau orang berkeinginan dengan sungguh-sungguh, diperkenankan juga memantra kepada orang yang belum Adiksa Dwijati.

Pengertian Mantram

Mantram atau “mantra” yang biasa juga disebut Pùjà, merupakan suatu doa, berupa kata atau rangkaian kata-kata yang bersifat magis religius yang ditujukan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa. Mantram juga biasanya juga berisi permohonan dan atau puji-pujian atas kebesaran, kemahakuasaan dan keagungan Tuhan yang Maha Esa.

Kata “mantra” berhubungan dengan kata Bahasa Inggris “man”, dan kata Bahasa Inggris “mind” dan “metal”, yang diambil dari kata latin “ments” (mind), yang berasal dari kata Yunani “menos” (mind). “Menos”, “mens”, “metal”, “mind”, dan kata mantra diambil dari akar kata kerja Sanskerta “man”, yang berarti “untuk bermeditasi”. Ia memiliki pikiran yang ia meditasikan. Ia berkonsentrasi pada kata sebuah “mantra” untuk “meditasi”.

Sumber mantra. Mantra adalah suara yang berisikan perpaduan suku kata dari sebuah kata. Jagat raya ini tersusun dari satu energi yang berasal dari dua hal, yaitu dua sinar yaitu suara dan cahaya. Dimana yang satu tidak akan bisa berfungsi tanpa yang lainnya, terutama dalam ruang spiritual. Uni suara yang disebut dengan mantra bukanlah mantra yang didengar dari telinga; semua itu hanyalah manifestasi fisikal. Dalam keberadaan meditasi yang tertinggi, dari seseorang telah menyatu dengan Tuhan, yang ada dimana-mana, yang merupakan sumber dari semua pengetahuan dan kata. Bahasa filsafat India, menyebutkan sabda Brahman, kata-kata Tuhan. Semua pengetahuan tersedia bagi orang yang spiritual untuk dipakai dan diketahui. Dari sini kesadaran muncul dan menyentuh permukaan interior pikiran yang berhadapan dengan sang diri bukan merupakan indra-indra dan bagian dari dunia. Permukaan interior ini disebut dengan antah karana, pemikiran yang intuitif. Disini sinar kesadaran mengalir dan dari spiritual menghasilkan getaran mental. Pikiran bercampur dengan kesadaran yang bagaikan cahaya kilat. Dan pada momen mikro, yang sangat halus seperti keseluruhan buku weda atau semua ke 330 juta mantra mungkin akan muncul. Saat pengetahuan muncul dari kedalaman buddhi kepermukaan luar, pikiran rasional menjadi pemikiran verbal. Kata-kata itu hanyalah proses manifestasi, getaran dari frekwensi yang lebih rendah dari pada yang terlebih dahulu ada. Pikiran verbal ini dalam pikiran, disebut sebagai vaikhari oleh ahli tata bahasa dan ahli filsafat, sebuah kata berbeda. Ini hanyalah tahap pertama dari vaikhari. Sehingga apa yang disebut dengan pemunculan kata sebenarnya adalah kata-kata terselubung pada frekwensi Kata yang paling rendah. Ini diselubungi oleh lapisan pikiran yang individual. Keterbukaan yang sebenarnya terdapat dalam meditasi yang paling tinggi yang merupakan dialog tanpa kata-kata atau pertukaran dengan Tuhan dan Jiwa. (Bharati, 2004: 3,29,30).

Para ahli agama bahkan menyatakan bahwa mantram dapat menghalau berbagai macam bencana, rintangan maupun penyakit dan merupakan cara yang terbaik untuk mencapai tujuan. Mantram juga dikatakan sebagai ladang energi atau energi illahi (Tuhan) yang sangat dibutuhkan bagi kelangsungan hidup umat manusia. Dengan mantram, maka akan dihasilkan getaran energi Tuhan sesuai dengan matram yang diucapkan. Oleh karena itu setiap bersembahyang umat Hindu sebaiknya mengucapkan matram yang disesuaikan dengan tempat dan waktunya. Namun jika tidak memahami mantram yang dimaksudkan, mereka dapat bersembahyang dengan bahasa yang paling dipahami.

Umat Hindu disarankan memahami dan mampu paling tidak mengucapkan Mantram atau Puja Trisandya dan Kramaning Sembah, dua jenis mantram yang amat diperlukan pada waktu bersembahyang (Suhardana, 2005:22-23)

Ada bermacam-macam jenis mantra, yang secara garis besarnya dapat dipisahkan menjadi Vedik Mantra, Tantrika Mantra dan Puranik Mantra. Lalu setiap bagian ini selanjutnya dibagi mejadi sattwika, rajasika dan tamasika mantra. Mantra yang diucapkan guna pencerahan, sinar, kebijaksanaan, kasih sayang Tuhan tertinggi, cinta kasih dan perwujudan Tuhan, adalah sattwika mantra, dan mantra yang diucapkan guna kemakmuran duniawi serta anak cucu, merupakan rajasika mantra, sedangkan mantra yang diucapkan guna mendamaikan roh-roh jahat atau menyerang orang lain ataupun perbuatan-perbuatan kejam lainnya adalah tamasika mantra, yang penuh dosa dan perbuatan demikian yang mendalam disebut warna-marga atau ilmu hitam. 
Selanjutnya mantra juga dapat dibagi lagi menjadi tiga bagian yaitu: 
  1. Mantra, yang berupa sebuah daya pemikiran yang diberikan dalam bentuk beberapa suku kata atau kata, guna keperluan meditasi, dari seorang guru; 
  2. Stotra, doa pada dewata, yang dapat dibagi lagi menjadi; (a). bersifat umum dan (b). bersifat khusus. Stotra umum guna kebaikan umum yang harus datang dari Tuhan sesuai dengan kehendakNya, sedangkan do’a khusus adalah do’a-do’a dari seorang pribadi kepada Tuhan untuk memenuhi beberapa keinginan khususnya; 
  3. Kawaca, atau mantra yang dipergunakan sebagai benteng perlindungan. (Maswinara, 2004:7-8).

Seperti halnya mengucapkan mantram dalam melaksanakan Tri Sandya, sembahyang atau berdoa, maka dalam pengucapan mantram japa dibedakan atas empat macam sikap atau cara yakni:
  1. Waikaram Japa, yaitu melaksanakan japa dengan mengucapkan mantram japa berulang-ulang, teratur dan ucapan mantram itu terdengar oleh orang lain. 
  2. Upamasu Japa, yaitu melaksanakan japa dalam hati secara teratur, berulang-ulang, mulut bergerak, namun tidak terdengar oleh orang lain.
  3. Manasika Japa, yaitu melaksanakan japa dalam hati, mulut tertutup rapat, teratur, berulang-ulang, konsentrasi penuh, tidak mengeluarkan suara sama sekali. 
  4. Likhita Japa, yaitu melaksanakan japa dengan menulis berulang-ulang mantra japa di atas kertas atau kitab tulis, secara teratur, berulang-ulang dan khusuk (Titib, 1997:92)
Jadi dari uraian di atas menunjukkan bahwa Mantram, juga disebut Puja, dan juga disebut Japa, merupakan suatu kata-kata yang diucapkan bersifat magis religius yang ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan segala manifestasinya. Yang berisi puji-pujian dan permohonan sesuatu, sesuai dengan keinginan. Hal ini disesuaikan dengan situasi dan tempat dimana, bagaimana dan mantram apa yang harus diucapkan. 

Kemudian dalam pengucapan mantram tersebut dijelaskan, semakin keras kita mengucapkan mantram maka nilainya semakin kecil dan sebaliknya semakin kecil kita mengucapkan mantram maka nilainya semakin besar. Dan para penulispun juga dikatakan melaksanakan japa, maka dari itu karya tulis buku “Mantra dan Belajar Memantra” ini adalah sebagai Lakhita Japa, yang akan dibahas melalui tahap-demi tahap.

Belajar Mantram

Secara umum mantram dari jaman dahulu sangat dilarang oleh tetua kita di Bali, dengan istilah Aywa Wérà, tan sidha phalanià, jangan disembarangkan/dibicarakan, nanti kemujizatannya akan hilang, hal seperti itu tidak baik. Tetapi jaman semakin berkembang, maka pernyataan tersebut perlahan-lahan berubah menjadi Ayu Wérà, sidhi phalanià, sangat baik untuk dibicarakan, dan utama manfaatnya. Dari kedua pernyataan tersebut menunjukkan, apabila suatu hal dilaksanakan dengan tujuan baik, maka segala sesuatunya dapat dibicarakan atau di analisa, untuk mencapai kesempurnaan. Tetapi kalau pembicaraan untuk ke hal-hal yang negative, sebaiknya jangan dibicarakan karena akan mendatangkan malapetaka.

Kemudian secara teori, memang ada unsur larangan untuk mengucapkan Mantram, tetapi ada juga unsur yang memberikan kesempatan untuk belajar mengucapkan mantram kalau hal itu dilakukan dengan tujuan baik. Larangan yang dimaksud untuk mengucapkan Mantram adalah: 
Yan hana wwang kengin weruhing Sang Hyang Aji Aksara, mewastu mijil saking aksara, tan pangupadyaya/maupacara muang tan ketapak, tanpa guru, papa ikang wwang yang mangkana. 
Apabila ada orang yang ingin belajar Sastra, dengan tidak memiliki guru, tidak dianugrahi (ketapak) berdosalah orang seperti itu. Tetapi kalau dilakukan dengan cara yang baik (sesuai situasi dan hati nurani yang belajar Mantra), hal tersebut diperbolehkan, walaupun belum memenuhi persyaratan tersebut di atas, yang bertujuan untuk memuja manifestasi Tuhan, dengan hati yang tulus ihklas untuk mengabdi tanpa pamrih. Kewala ikang amusti juga kawenangan, amreyogakena Sang Hyang ri daleming sarira. Maka dari itu marilah kita memantra dan Belajar memantra dengan, sredaning manah.

beberapa jenis mantra

Mantram Umum

  1. Mantram Tri Sandya 
  2. Panca Sembah 

Mantram dalam Yadnya

  1. Mantram Widhi Yadnya
  2. Mantram Dewa Yadnya
  3. Mantram Pitra Yadnya
  4. Mantram Rsi Yadnya
  5. Mantram Manusa Yadnya
  6. Mantram Bhuta Yadnya

Ngayab Banten

Penghormatan, Dewa yang Berstana di Gunung- Gunung

Upakara Ngawit Mekarya Wewangunan 

Nganteb Piodalan Alit

Muput Piodalan Alit di Merajan/Sanggah

  1. Byakaonan
  2. Durmanggala (Pangastawa) 
  3. Pengulapan (Pangastawa)
  4. Prayascita (Pangastawa) 
  5. Lis (Pangastawa) 
  6. Ngosokan Lis (Pengastawa)
  7. Ngastawa linggihang dewa di Palinggih/Sanggah 
  8. Mendak Kepanggung di jaba (Baruna Astra) 
  9. Ngayat segehan ring Natah Umah
  10. Medatengan ring Sanggah 
  11. Mapiuning Indik Piodalan. 
  12. Nganteb banten di pelinggih sami
  13. Ngayab Banten Piodalan.
  14. Ngayab Banten Pangemped lan Soda aturan 
  15. Ngayab Penagi/Sesangi 
  16. Ngayab banten Sambutan durung ketus Gigi 
  17. Tri Sandya 
  18. Muspa (Ngaggem Panca Sembah).
  19. Margiang Benang Tebus
  20. Pengaksama ring Dewa Betara
  21. Nyimpen Bajra.

Dewata Pawamana Soma

  1. Resi Kasyapa, asita Atau Dewala: Canda Gayatri (Sukta 13), Canda Gayatri (Sukta 14), Canda Gayatri (Sukta 15), Canda Gayatri (Sukta 16)
  2. Upacara Bajang Colong: Banten Pasuwungan, Banten Pengelukatan di Dapur, Banten Ring Sumur, Banten Ring Sanggah Kemulan, Banten Bajang Colong, Upacara Natab Sambutan, Panglukatan Mala, Lindu Gemana, Penglukatan Panca Geni (Orang Tilas), Pecaru Gering Tempur, Penglukatan Siwa Geni, Caru Manca Rupa (dagingnya bisa diganti), Salwiring Pemanes Karang, Pengasih Buta Muang Dewa, Dwijendra Astawa, Surya Sewana (Bila sakit tidak ada obatnya), Mantram Sebelum belajar Memantra, Pawisik Dewi Maya Asih, Melapas Wewangunan Utama, Madya dan Nista 113 7.2.20. Pesimpenan 115 7.2.21. Mantram Arca Muang Mapendem Pedagingan Meru 115 7.2.22. Katiban Durmanggala 116 7.2.23. Puja Mawinten 116 7.2.24. Ananggap Dana 117 7.2.25. Penenang Jiwa yang Menderita 117 7.2.26. Ilmuwan Mengerjan Ilmu Untuk Kebaikan Manusia 118 7.2.27. Persembahan Weda Mantra 118 7.2.28. Arti Penting Penguncaran Mantra 119 7.2.29. Makanan disucikandengan Yadnya 120 7.2.30. Yadnya Menseimbangkan Dunia 120 7.2.31. Keturunan yang Melakukan Yadnya (bertambah) Baik 121 7.2.32. Tuhan Pencipta Tata Surya 121 7.2.33. Menyebarkan Sistem Pendidikan dalam Weda 121 7.2.34. Yadnya dengan Mantra Weda dalam Gayatri 123 7.2.35. Yang Jahat Harus Disingkirkan 123 7.2.36. Mengenal Tuhan Melalui Penglihtan Spiritual 124 7.2.37. Mensucikan Hati dan Jiwa 124 7.2.38. Membersihkan Air Sumur dalam Weda 125 7.2.39. Yadnya Sejak Jaman Dulu Menurut Weda 125 7.2.40. Semoga saya tida pernah melanggar-Nya 125 7.2.41. Jagalah Kami dengan Sinar Pengetahuan Spiritual 126 7.2.42. Negara yang Sejahtera 127 7.2.43. Susunan Pencernaan (Analisa) Ilmu 127 7.2.44. Sebelum Beryadnya Manusia Lebih Dulu dilindungi Tuhan 128 7.2.45. Aktif dalam Ilmu Pengetahuan adalah Yadnya 128 7.2.46. Semoga Kami melenyapkan dosa-dosa Musuh 128 7.2.47. Mengucapkan Mantra Gayatri tiap Hari, menurut Weda 129 7.2.48. Mencapai kebesaran melalui Tulisan 130 7.2.49. Berilah kami tinggal dirumah yang menyenangkan 130 7.2.50. Engkau Ajarkan (Weda) kepada Rakyat 130 7.2.51. Yang meninggalkan Yadnya ditinggalkan oleh Tuhan 131 7.2.52. Karmaphala dalam Weda 131 7.2.53. Persembahan dalam Pitara dalam Weda 132 7.2.54. Dengan pengetahuan untuk mencapai Kedewasan 132 7.2.55. Korban Api sebagai Yadnya 133 7.2.56. Api pemusnah segala macam Penyakit 133 7.2.57. Sinarnya api Naik Turun 134 7.2.58. Weda diucapkan untuk memperoleh Pengetahuan Spiritual 134 7.2.59. Pengetahuan Petir melalui Weda 134 7.2.60. Brahmacari selama 48 Tahun 135 7.2.61. Suami yang bercahaya 135 7.2.62. Engkau Bercahaya laksana Matahari 136 7.2.63. Memberi Kesengan kepada Pengantin 136 7.2.64. Perkawinan Muda berpegangganglah kepada Kebenaran 137 7.2.65. kebahagiaan hari nin, esok dan setiap hari 137 7.2.66. Lindungilah Perkawinanmu 137 7.2.67. Suami tersayang dan Pemberani 138 7.2.68. Dosa yang sadar dan Dosa yang Tidak Sadar 138 7.2.69. Guru Pemberi Rakhmat 139 7.2.70. Ajarkan dengan kata-kata yang manis 139 7.2.71. Memberi Pengetahuan Siang dan Malam 140 7.2.72. Siapa Yajamana itu? 140 7.2.73. Orang terpelajar yang berpikiran Mulia 141 7.2.74. Selenggrakan Yadnya dengan Benar 141 7.2.75. Kerjakan Yadnya Rumah Tangga dengan Weda Mantra 142 7.2.76. Mempelajari Weda dengan setulus hatimu 142 7.2.77. Weda Berkai satu, Dua, Tiga, Empat dan Delapan. 142 7.2.78. Yadnya Mantra harus di laksnakan oleh Rumah Tangga 143 7.2.79. Jinakan Pikiranmu dengan ucapan Weda Mantra 143 7.2.80. Enam belas sifat dalam Berumah Tangga 144 7.2.81. Enam Belas Kala 145 7.2.82. Ceritera Ketuhanan dari Weda 145 7.2.83. Untuk memperoleh sifat Mulia 145 7.2.84. Weda mengajarkan Azas Demokrasi 146 7.2.85. Makna dan Fungsi Gayatri dalam Weda 146 7.2.86. Suami yang tidak Beragama 147 7.2.87. Dhananjaya; memberi makan dan memelihara Tubuh 148 7.2.88. Tiga puluh empat penyangga Yadnya 148 7.2.89. Prasana Upanisad 148 7.2.90. Penciptaan dan Penguasa 149 7.2.91. Resi wasistha, Dewata: Saraswan, Sayair: Gayatri 154 7.2.92. Pemujaan Sawitri 163 7.2.93. Atharwa Weda 181 7.2.94. Sama Weda 191 7.2.95. Samkya Darsana 206 8 Weda dan Mantra 216

Weda

Mantra
  1. Mantra Upasana dan Mantra Upadesa: Pungsi Mantram, Nilai Magis Mantram
  2. Pemujaan setiap hari: Puja, Kidung, Putru, Majijiwan
  1. Orang dewasa dihargai kemandiriannya 
  2. Orang dewasa memiliki banyak pengalaman
  3. Orang dewasa mempunyai kesediaan belajar hal-hal relewan 
  4. Sastra sebagai alat komunikasi

Proses Belajar

Dari uraian di atas, secara teori ilmu apapun bisa dipelajari asal dimanfaatkan secara dewasa, artinya anak kecil atau anak muda bisa membahas Mantra apabila penerapakan dilakukan secara dewasa. Suatu “Moto” di Bali, Aywa Were tan siddhi phalanya”, kalau ilmu itu disembarangkan jelas dia tidak bermanfaat, tetapi kalau dipelajari dengan suatu sistem dengan tujuan baik “Ayu Were Siddhi phalanya” boleh dibicarakan akan sangat baik manfaatnya. Baik bagi diri sendiri keluarga maupun masyarakat dan negara. Sekaranglah saatnya kita tahu Mantra dan Belajar Memantra. Seperti bunyi bait Yayur Veda.Bagian I.19
Sarmasyawadhutaduam rakso,wadhuta aratayo’ditwastwagasi twa’ditirwettu; Dhisana ’si parwati prati twa,ditastwag wettu diwaskambhanirasi dhisana,si parwateyi prati twa parwati wettu.
Yadnya adalah pemberi kebahagiaan, menjauhkan yang egois dan sifat-sifat kikir dan melindungi daerah tempat seperti kulit melindungi tubuh. Semoga yang melakukan yadnya menyadari arti pentingnya. Penguncaran Weda Mantra yang benar-benar merupakan yandnya sendiri. Yadnya yang dilakukan pada hari tertentu juga memberi perlindungan seperti kulit melindungi tubuh. Yadnya adalah penyangga matahari yang cemerlang, perwujudan dari ceritera Weda. Semoga kami menyadari yadnya sebagai pembawa hujan dan pemberi pengetahuan spiritual.

DAFTAR BACAAN
Anom, Utara 1994. Kesumadewa. Denpasar: Percetakan Offset & Toko Buku Ria.
Anda Kusuma Sri Rshi, 1986 “Kamus Bahasa Bali Indonesia-Indonesia Bali” Penerbit. CV. Kayumas Agung.
Atmanadhi, Satrya I Nyoman. 1972. Dasar Kepemangkuan (Ke Sulinggihan). Denpasar.
Bangli, IB. 2005. Puja Walaka-Pinandita. Surabaya: Penerbit. Cetakan Pertama: Paramita
Bharati, Swami Veda, 2002. Mantra Inisiasi Meditasi & Yoga. Surabaya: Penerbit. Paramita.
Gambar, I Made. 1986. Sodasiwikerama. Denpasar: Stensilan. (Buku Yang banyak Mengandung Inti-Inti Falsafah Hindu.)
.............., 1987. Sang Kulputih Kusuma Dewa. Denpasar: Terjemahan.
Kaler, I Gusti Ketut. 1983. Tuntunan Muspa Bagi Umat Hindu. Denpasar: Penerbit Guna Agung.
Kanca, Jero. I Nyoman Tt. Persembahyangan Bagi Warga Hindu. Buleleng: Toko Buku Indra Jaya.
Maswinara, I Wayan 2004. Gayatri Sadhana Maha Mantra Menurut Weda. Surabaya: Penerbit Paramita.
Ringga Natha, Jero gede Pasek 2003. Agem-Ageman Kepemangkuan. Surabaya: Cetakan Pertama. Penerbit. Paramita
Paulina Panennen dan Purwanto, 2001. Aplied Approach, Mengajar di Perguruan Tinggi.
Penulisan Bahan Ajar. Jakarta: Buku 2.08. Pusat antar Universitas Untuk peningkatan dan Pengembanngan Aktivitas Intruksional Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.
Parisada Hindu Dharma Pusat, 1982-1983. Himpunan Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-Aspek Agama Hindu I-IX. Denpasar: Parisada Hindu Dharma.
Pramadaksa, Sri Empu Nabe, 1984. Upacara Panca Yadnya. Badung: Gria Agung Bungkasa Abiansemal.
Prasetya, Irawan T.t. Pekerti. Jakarta: Sampai saat ini ybs. Sebagai Staff Antar Universitas Terbuka.
Pusat Propinsi Bali, 2000. Pedoman Sembahyang. Denpasar: Milik Pemerintah Propinsi Bali.
Pudja, G. 1976. Weda Parikrama, Satu Himpunan Naskah Mantra dan Stotra teks asli bahasa Sanskerta dan Penjelasannya. Jakarta: Penerbit. Lembaga Penyelenggara Penterjemah Kitab Suci Weda.
..........,1979. Sama Weda “Sama Weda Samhita”. Jakarta: Pesanan Proyek Pengadaan Kitab suci Hindu. Milik Departemen agama Republik Indonesia.
..........., 1985. Weda (Pengantar Agama Hindu). Jakarta: Cetakan ke 3
............,1985. Yajur Weda (Weda Sruti). Bagian I. Jakarta: Terjemahan. Departemen Agama RI Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Hindu dan Budha.
Putra, Tt. Cudami III, Kumpulan Kuliah Agama Hindu Bhatkti Marga, Cinta Kasih dan Penyerahan Diri kepada Tuhan. Dosen Institut Hindu Dharma.
Sugiarto, R dan Gede Pudja. 1982. Sweta Swatara Upanisad. Jakarta: cetakan Pertama. Proyek Pengadan Kitab suci Hindu. Milik Depatemen agama Republik Indonesia.
............, 1985 Atharwa Wedha (Weda Sruti) Terjemahan. Jakarta: Copyright. Maya Sari.
Suhardana, KM 2005. Pengantar Menuju Pedoman Sembahyang Umat Hindu. Surabaya: Penerbit. Paramita
Sutjipta, Nyoman dan A.A. Sagung Kendran, 2006. Pembelajaran Orang Dewasa. Denpasar: Penerbit. Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Mutu Pendidikan Universitas Udayana.
Tim Penyusun, 1993. Buku Pelajaran Agama Hindu di Perguruan Tinggi. Jakarta: penerbit Hanuman sakti.
Titib I Made,1986 Weda Walaka. Jakarta: penerbit. PT. Dharma Nusantara Bahagia.
……….,1997. Tri Sandya Sembahyang dan Berdoa. Surabaya: Penerbit. Paramita
Wisesa, Ida Pandita Umpu Nabe Daksa Kertha, 2001. Nganteb Piodalan Alit. Denpasar: Gria Agung Giri Manik. Penerbit. Kios Muria.
Watra, 2006. Majalah Kebudayaan Bali Taksu. Denpasar: Edisi 159 Mei-Juni/VII. Penerbit. Mitra Printing.

Kamis, 31 Januari 2013

Teknik Merapal Mantra Kejawen Modern

Mantra dan Daya Kekuatannya

Merapal mantra adalah membaca mantra dengan tujuan untuk menghasilkan suatu daya atau efek tertentu yang diinginkan. Misalnya mantra pengasihan, dirapal atau dibaca dengan tujuan supaya menimbulkan rasa cinta dalam diri orang yang dituju. Merapal mantra, siapa yang tidak bisa? Mantra adalah susunan kata-kata yang diciptakan sedemikian rupa dengan tujuan untuk menghasilkan suatu efek atau daya yang dikehendaki oleh pembuat atau pembacanya. Mantra HANYALAH susunan kata-kata!!! Jadi siapa saja yang sudah bisa membaca pasti pula bisa merapal mantra. Kalau memang sebegitu mudahnya, kenapa tidak semua orang bisa melakukannya?

Efek kekuatan atau daya kesaktian suatu mantra tidak muncul dari rangkaian huruf-huruf yang ada dalam suatu mantra; MELAINKAN BERASAL DARI KEKUATAN SI PEMBACA MANTRA!

Daya kekuatan yang muncul dari pembacaan suatu mantra belum bisa dipastikan secara nyata, karena belum ada penelitian yang mengkaji masalah ini secara ilmiah. Namun ada beberapa kemungkinan: pertama daya kekuatan hidup manusia sebagian besar masih terkubur dalam alam bawah sadarnya. Kekuatan alam bawah sadar ini bisa muncul sewaktu-waktu diperlukan, misalnya dalam situasi dan keadaan yang mengancam keselamatan jiwa. Kedua, rangkaian huruf-huruf dalam mantra itu membentuk makna, makna dalam benak si pembaca mengaktifkan kekuatan supernormal dialam bawah sadar atau membuat ketidakstabilan. Selanjutnya stimulasi makna mantra (yang terus menerus dilakukan) mendorong kekuatan supernormal alam bawah sadar muncul ke permukaan memasuki ranah kesadaran sehingga bisa dikendalikan. Dengan kata lain, mantra berfungsi untuk mngaktifkan kekuatan supernormal dari alam bawah sadar kealam kesadaran.

Karena obyek bahasan yang menjangkau wilayah yang masih sangat abstrak, yaitu alam kesadaran; maka belum ada penelitian ilmiah yang memadai tentang efek yang ditimbulkan suatu mantra dalam menghasilkan daya kekuatan yang sakti. Meskipun demikian dari beberapa pengalaman intuitif, bisa ditarik beberapa kesimpulan tentang efek suatu mantra dalam meghasilkan daya kekuatan. Kesimpulan intuitif itu antara lain:
1. Mantra mampu membuat ketidakstabilan alam bawah sadar sehingga bergetar.
2. Menguak pintu alam bawah sadar sehingga terhubung dengan alam sadar secara aktif dan disadari.
3. Mengaktifkan kendali kekuatan alam bawah sadar
4. Mengerahkan dan mengarahkan kekuatan alam bawah sadar untuk melakukan sesuatu atau mempunyai efek tertentu yang dikehendaki.

Kekuatan Supernormal Alam Bawah Sadar

Dimasa lalu, diperlukan waktu bertahun-tahun untuk mempelajari ilmu kebatinan kepada seorang guru dengan laku yang sangat berat. Bahkan untuk mengamalkan sebuah mantra saja harus dilakukan dengan laku tirakat yang sangat berat. Namun seiring dengan perkembangan jaman, rahasia dibalik fenomena kekuatan supernormal manusia mulai terkuak. Rahasia kekuatan supernormal manusia itu terletak dalam system kesadaran. Hasil penelitian psikologi dan otak manusia menunjukkan bahwa otak manusia mempunyai kemampuan yang sangat luar biasa. Sayangnya, sampai saat ini baru sebagian kecil dari seluruh potensi otak yang yang dimanfaatkan. Sebagian besar potensi kekuatan otak masih diam terbengkalai dalam alam bawah sadar.

Kekuatan alam bawah sadar ini bisa muncul dalam situasi-situasi kritis yang mengancam keselamatan jiwa. Dengan kata lain kekuatan alam bawah sadar ini meski seolah diam, tidak ada, tetapi tetap waspada terhadap keselamatan individu. Banyak contoh kasus tentang munculnya kekuatan alam bawah sadar yang mengagumkan ini. Dalam kondisi normal – tidak ada ancaman sama sekali – hubungan antara alam bawah sadar dan alam sadar terjadi normal. Artinya, seseorang tidak mempunyai kelebihan apa-apa. Semuanya normal-normal saja.

Dalam kondisi normal, hubungan antara alam sadar dan alam bawah sadar terjadi seimbang. Salah satu cara untuk memunculkan kekuatan bawah sadar adalah dengan membuat ketidakseimbangan hubungan antar keduanya. Banyak cara telah dipraktekan, misalnya dengan teknik pernapasan. Teknik ini mengurangi pasokan oksigen ke dalam tubuh secara tiba-tiba, kemudian memasoknya lagi dalam jumlah besar, menguranginya lagi dan memasoknya lagi. Teknik ini diulang-ulang sehingga menimbulkan kondisi yang tidak biasa bagi tubuh.

Kondisi yang tidak menentu ini direspon kesadaran dengan mengirimkan sinyal bahaya kepada system pertahanan diri otomatis di alam bawah sadar. System pertahanan diri otomatis ini dikoordinasi bersama-sama antara beberapa organ tubuh yang bekerja otomatis tanpa kendali kesadaran kita, seperti otak, jantung, hati, ginjal, usus, dan paru-paru dll. Maka dalam system tirakat dan kebatinan Jawa, organ-organ inilah yang dijadikan target penyiksaan oleh subyek untuk menciptakan ketidakseimbangan dan membuka gerbang kekuatan supernormal dari alam bawah sadar, seperti mantra, yoga, meditasi dan kontemplasi, tapa ngalong, puasa, mutih, patigeni dll.

Dari beberapa cara tersebut kita akan membahas penggunaan mantra sebagai cara mengaktifkan dan mengendalikan kekuatan alam bawah sadar. Dengan pertimbangan mantra sudah mampu memanipulasi kerja otak dengan sangat mudah, sedangkan cara-cara tradisional lama seperti tapa ngalong, puasa, mutih, patigeni dll., sudah ketinggalan jaman dan terlalu berat dilaksanakan. Entah phenomena apa yang mendasari kejadiannya, tetapi jika kita amati akhir-akhir ini sangat gampang mempelajari dan meyakini suatu ilmu. Bahkan banyak paranormal yang menawarkan kekuatan supernormal secara instant dengan membayar sejumlah uang.

Namun karena mantra adalah bagian integral system kebatinan Jawa atau Kedjawen, maka ada baiknya kita pahami sekelumit prinsip-prinsip dasar Kebatinan Jawa atau Kedjawen.

Kedjawen atau Kebatinan Jawa

Kedjawen atau kebatinan Jawa adalah suatu system kepercayaan yang dianut orang Jawa dalam pencarian makna hidup atau sangkan paraning dumadi atau asal dan tujuan keberadaannya (eksistensinya), dengan tujuan kembali atau mulih sejatining asal atau manunggaling kawula – Gusti, dan dengan mengandalkan diri sendiri yaitu Sang Guru Sejati. Inilah tiga prinsip utama system kebatinan Jawa atau Kedjawen.

Pertama, hidup orang Jawa itu sangat filosofis, artinya segala sesuatunya harus dipahami dalam perspektif yang utuh. Dibalik sikap hidupnya yang rendah hati, pasrah sumarah dan nrimo ing pandum, ternyata orang Jawa adalah perenung (pemikir) sejati yang sangat handal.

Bagi mereka dunia ini hanyalah bayangan dari dunia sejati yang sebenarnya, hidup di dunia sekarang ini bukanlah hidup yang sebenarnya, melainkan hanyalah persinggahan, hanya mampir ngombe. Mereka yakin dan percaya bahwa hidup yang sebenarnya adalah bukan kehidupan yang sekarang. Ada kehidupan abadi dibalik hidup yang fana ini.

Karena itu orang Jawa mendedikasikan hidupnya untuk mencari makna hidup atau sangkan paraning dumadi atau asal dan tujuan keberadaannya (eksistensinya). Bagi orang Jawa, pencarian makna hidup itu sangat crucial. Orang Jawa mengertahkan seluruh usahanya untuk bisa kembali kepada Sang Penciptanya atau mulih sejatining asal.

Kedua, mulih sejatining asal atau manunggaling kawula – Gusti adalah tujuan akhir orang Jawa. Berbeda dengan beberapa paham agama besar lainnya, filosofi hidup orang Jawa adalah kembali kepada Sang Penciptanya – mulih sejatining asal, asal saka gusti bali marang Gusti. Bukannya kembali ke surga atau ke neraka. Ini adalah salah satu optimisme orang Jawa dalam perjalanan hidupnya, mereka yakin dan percaya pasti bisa menemukan dan kembali kepada Sang Penciptanya. Optimisme inipun bukan isapan jempol semata, karena orang Jawa selalu dalam bimbingan dan tuntunan Sang Guru Sejati yang berasal dari Sang Pencipta sendiri. Sang Guru Sejati inipun selalu bersama mereka. Sang Guru Sejati berada dalam diri mereka.

Ketiga, Sang Guru Sejati. Selain perenung sejati, orang jawa adalah pembelajar yang sangat haus pengetahuan (eager to learn). Dalam usahanya mencari makna hidup atau sangkan paraning dumadi, orang Jawa selalu berguru. Mereka akan terus berguru kepada siapa saja sampai akhirnya bisa menemukan Guru Sejati yang bisa membimbing mereka. Orang Jawa yakin dan percaya bahwa satu-satunya yang bisa membimbing mereka mencapai sangkan paraning dumadi mulih sejatining asal hanyalah Sang Guru Sejati.

Guru Sejati adalah manifestasi dari Sang Penguasa Tunggal Alam Semesta. Kedudukan- Nya didalam lubuk jiwa setiap insan. Orang Jawa percaya bahwa hidup ini adalah bayangan dari kehidupan yang sejati. Begitu pula dirinya adalah bayangan atau citra dari Sang Pencipta. Mereka percaya bahwa Sang Pencipta bertahta di dalam dirinya. Barang siapa bisa memahami dirinya maka dia akan bisa bertemu dengan Sang Guru Sejati. Barang siapa bisa menyelaraskan hidupnya dengan bimbingan Sang Guru Sejati, maka dia kan bisa kembali kepadaNya (mulih sejatining asal).


Membangun Kekuatan Supernormal

Dimasa lalu, membangun kekuatan supernormal dalam system Kedjawen dilakukan dengan laku atau tapa brata. Namun perkembangan terakhir menunjukkan fenomena ganjil yang sangat mengembirakan. Untuk memiliki dan atau menguasai suatu ilmu tidap perlu lagi dengan cara tapa brata yang melelahkan dan penuh pengorbanan. Bahkan banyak yang menawarkan suatu ilmu (bahkan bisa memiliki budak jin) hanya dengan membayar kontan sejumlah uang atau mahar. Memiliki daya supernormal tidak lagi mustahil bagi orang awam. Bahkan jika mereka merasa sangat tidak berbakat.

Menurut pandangan penulis, fenomena ini terjadi karena perkembangan daya berpikir otak manusia modern yang sudah mulai mampu mengeksploitasi potensi-potensi alam bawah sadarnya. Karena kesadaran berhubungan dengan kinerja otak, maka membangun kekuatan supernormal berarti mengeksploitasi semua potensi otak. Dengan kata lain memangun kekuatan supernormal adalah melatih otak!

Didepan telah disebutkan bahwa bukan susunan kata-kata dan kalimat mantra yang mempunyai daya kekuatan tetapi sebenarnya orang yang membaca mantra itulah yang mempunyai daya kekuatan. Dan daya kekuatan supernormal manusia berasal dari keterjalinan hubugan antar system kesadaran: alam kesadaran dan alam bawah sadar. Dan system kesadaran ini lebih banyak berhubugan dengan otak dan akal pikiran. Karena itu kita akan mencoba melatih otak dan akal pikiran untuk mengaktifkan semua potensi yang ada.

Diluar teknik-teknik laku kebatinan yang sudah ada seperti yoga, meditasi, bertapa, puasa mutih, dll., menurut penulis, ada dua jenis latihan sederhana yang bisa mengoptimalkan potensi kesadaran dan membawanya ke dalam kendali kesadaran penuh, yaitu: Latihan Penjernihan Pikiran, dan Latihan Pencitraan Diri.

Latihan Penjernihan Aqal Pikiran

Pikiran kita adalah sebuah anugrah yang luar biasa hebat. Pikiran kita mempunyai daya kreasi dan imajinasi yang takterbatas. Meskipun sangat kuat namun pikiran kita mempunyai sift yang sangat liar (hampir-hampir) takterkendali dan sangat rentan terhadap gangguan dan atau godaan. Jika dibiarkan bebas akan menjadi sangat liar tak terkendali; jika mendapat gangguan gampang menjadi keruh dan kacau balau. Karena itu diperlukan latihan khusus untuk memanfaatkan kehebatan pikiran dan mengendalikan keliaran pikiran.

Ada tiga jenis latihan yang bisa dilakukan untuk mengetahui, merasakan, dan akhirnya mengendalikan kekuatan pikiran demi kepentingan hidup, yaitu: Teknik Bisikan Setan dam Teknik Bisikan Malaikat, (penggunaan istilah setan dan malaikat tidak ada hubungan dengan suatu agama tertentu, melainkan hanya untuk menunjukkan dua cara yang sangat bertentangan). Dan Teknik Pencitraan Diri.

Teknik Bisikan Setan

Teknik Bisikan Setan adalah kita berlatih untuk BERPIKIRAN JAHAT! YA, BERPIKIRAN JAHAT!!! YAITU MEMENUHI PIKIRAN DENGAN SEMUA YANG SERBA JAHAT!!! ANDA TIDAK SALAH BACA!!! Lho kok malah disuruh berpikiran jahat?! Orang ini gila apa?! Ya, saya minta pembaca untuk gila sementara! Karena sesungguhnyalah, pikiran kita mempunyai kapasitas bisa berbuat apa saja, bisa baik, bisa pula jahat. Karena itu kita harus mampu melatih potensi ke-jahat-an kita.

Aqal pikiran kita yang hebat itu ternyata sangat rentan terhadap godaan. Dengan sedikit gangguan atau godaan, dia sudah kacau balau, dan menjadi keruh total. Karena itu kita harus mutlak waspada setiap saat jika tidak ingin terjerumus dalam tindak kejahatan. Kita harus melatih pikiran kita menjadi kuat, tetap terjaga dan waspada. Caranya, dengan memberikan suntikan gangguan atau godaan berupa pikiran atau angan-angan kotor yang sangat jahat. Di dunia medis, teknik ini dikenal dengan istilah vaksinasi, yaitu memasukkan bibit penyakit yang sudah dilemahkan ke dalam tubuh orang sehat supaya orang tersebut bisa membangun system kekebalan tubuhnya.

Dengan melakukan latihan Teknik Bisikan Setan ini, berarti kita memvaksin diri kita terhadap gangguan dan godaan yang selalu mendatangi kita. Tujuan latihan ini adalah supaya kita kebal terhadap berbagai godaan dan membiasakan diri dengan berbagai pengaruh jahat sehingga kita menjadi waspada dan mampu mengatasi gangguan dan.atau menghindarinya. Latihan ini untuk mempertajam intuisi kita sehingga kita akan menjadi lebih waspada, stay alert.

Caranya, coba pikirkan bahwa seseorang atau semua orang itu jahat, egois dan mau menang sendiri. Selalu pikirkan yang jahat-jahat, yang jelek-jelek tentang orang lain (anda boleh focus pada salah satu orang yang anda kenal, tetangga misalnya, atau kepada semua orang di dunia ini).

Lakukan latihan ini 2 sampai 3 hari berturut-turut. Selalu saja ulangi pikiran itu dalam benak anda. Kalau perlu diucapkan dengan penegasan kata-kata (tentu saja jangan dihadapan orang tersebut!!!)

Mungkin tidak sampai 3 hari anda akan merasakan suatu keganjilan atau keanehan. Entah anda akan benar-benar mendapat masalah dari orang tersebut sehingga anda berdua berselisih, atau mungkin anda akan mendapat masalah dan kesulitan lain dalam hidup anda, atau anda akan merasakan temperamen anda sendiri yang berubah menjadi uring-uringan dan cepat marah. Atau anda akan benar-benar sangat membenci orang tersebut, meskipun dia itu baik kepada anda. Atau anda akan jadi benar-benar membenci semua orang. Kemungkinannya adalah, anda akan mendapat banyak masalah. Karena itu tetaplah waspada. Ini hanya latihan teknik bisikan setan! Ini hanyalah vaksinasi.

(JIKA ANDA SUDAH MULAI MERASAKAN KEBENCIAN YANG MENDALAM, SEGERA HENTIKAN!!! JIKA ANDA MERASA INGIN MELAKSANAKAN NIAT ANDA, KENDALIKAN DIRI ANDA. ATAU JIKA ANDA SUDAH MENDAPAT MASALAH, SEGERA HENTIKAN LATIHAN ANDA!!! JIKA ANDA MUSLIM AMBIL AIR WUDLU, ATAU MANDI DENGAN AIR DINGIN DAN BUANG SEGALA PIKIRAN JAHAT TERSEBUT!!!) MOHON AMPUNLAH KEPADA TUHAN ANDA. Berikan pengertian pada pikiran anda bahwa ini hanyalah latihan saja.

Jika dalam satu kali latihan (2 atau 3 hari) anda tidak merasakan atau mengalami apapun, lakukan latihan ini dua atau tiga kali lagi, boleh dengan orang yang sama atau orang berbeda, atau tetap kepada semua orang. Rasakan dan buktikan. Tetapi jika dalam satu kali latihan anda sudah merasakan keanehan, segera hentikan! Anda tidak perlu lagi mengulangi latihan Teknik Bisikan Setan ini!

Tetapi meskipun jika anda memang sudah merasa diri anda orang jahat, langkah ini tetap harus anda lakukan. Karena latihan ini dilakukan dibawah kesadaran anda, sehingga bisa mempertajam intuisi anda. Anda akan mampu menyadari sifat jahat anda!!! Jika anda ingin berubah itu lebih baik. Tetapi jika tidak, kejahatan anda adalah tanggung jawab anda. Saya, atau orang lain tidak ingin merubah diri anda. Tetaplah menjadi diri sendiri.

Disinilah anda akan menjadi tahu, menjadi sadar. Oh, begini to cara setan menggoda manusia itu?! Oh begini to, aqal pikiran yang jahat itu.Oh, ini ada pikiran jahat, oh ini ada yang jahat, oh ini ada kejahatan dari dunia kelam.

Dan ini baik untuk anda, karena akan membuat anda waspada, stay alert terhadap situasi dan kondisi di sekitar anda. Anda akan selalu tersambung ke dalam microcosmos dalam diri anda sendiri dan dengan macrocosmos diluar diri anda.

Gampang, kan? Tanpa disuruhpun kita sudah sangat piawai, sangat ahli dalam berpikiran dan berniat jahat. Karena kita memang dikaruniai kualitas jahat/jelek tanpa digodapun sesungguhnya niat jahat itu sudah selalu ada (apalagi dalam keterjepitan ekonomi). Apalagi dengan sengaja diberi gangguan, berkobarlah niat jahatku. Tetapi jangan panic, itu semua memang kita kehendaki dengan penuh kesadaran. Jadi kita bisa menghentikannya setiap saat dan mengembalikan kemurnian aqal pikiran seperti semula. Itulah kenapa banyak orang gampang sekali terjerumus dalam tindak kejahatan. Karena itu hamper semua orang akan lulus dengan Cumlaude jika diuji tingkat keinginan jahatnya. Percaya kan?!

Inilah Latihan Teknik Bisikan Setan. Dari latihan sederhana yang sangat singkat ini, anda akan telah mampu mempertajam kewaspadaan dan intuisi anda sampai tingkat yang mungkin tidak pernah anda renungkan. Selamat atas keberhasilan anda mewaspadai “insting jahat anda”! Anda telah berhasil memilahkan warna-warna gelap dari panorama alam pikiran anda. Meskipun masih agak keruh, tetapi sudah ada warna (walau masih pekat, he he he ..).

sumber: kiaryo.blogspot.com

Rabu, 06 Agustus 2014

PRIMBON BETALJEMUR ADAMMAKNA MANTRA TOLAK BALAK

MANTRA TULAK-BALAK

DALAM PRIMBON BETALJEMUR ADAMMAKNA


Masyarakat Jawa pernah mengalami berbagai macam pengetahuan yang terkait dengan

sistem kepercayaan berdasarkan perspektif historisnya. Sebelum agama-agama besar dunia

masuk di kawasan nusantara seperti agama Hindu, Budha, Islam, Kristen, Katolik, dan

Konghucu, masyarakat Jawa telah mengenal kepercayaan yang bernama animisme-dinamisme.

Animisme adalah sistem kepercayaan yang mempercayai kekuatan roh-roh dan makhluk halus.

Sedangkan pengertian dinamisme adalah kepercayaan yang mempercayai benda-benda magis.

Kedatangan bangsa India yang membawa agama Hindhu berpengaruh terhadap pola pikir dan

sistem kepercayaan Jawa. Dokumentasi peradaban tersebut banyak tertuang dalam tulisan yang

diwariskan melalui prasasti dan kitab-kitab kakawin. Masyarakat Jawa semakin kaya dalam hal

kehidupan spiritual setelah Islam masuk sebagaimana yang disebarkan oleh wali sanga yang

ditopang oleh kasultanan Demak. Babak baru yang terkait dengan sistem religi Jawa sebagai

wahana untuk membangun tata nilai yang lebih anggun dan agung, maka banyak tulisan yang

memuat ajaran spiritual dan moral. Kitab-kitab suluk merupakan warisan pemikiran Islam yang

telah disesuaikan dengan tradisi lokal. Di samping memproduksi sastra suluk peradaban Islam

kejawen juga menghasilkan kitab primbon. Sebuah buku yang berisi tentang petunjuk-petunjuk

hidup yang sampai saat ini masih dijadikan referensi bagi orang Jawa. Di antara isi kitab

primbon tersebut terdapat mantra yang terkait dengan tulak-balak. Makalah ini akan mengupas

seluk beluk mantra tulak-balak yang meliputi teks, struktur, dan pengaruhnya di lingkungan

masyarakat Jawa.

Tulak-balak berasal dari kata tulak dan balak. Tulak-balak mengandung pengertian

menolak segala penyakit agar tidak merasuk tubuh. Tulak-balak yang dianut masyarakat secara

umum meliputi (1) tulak-balak bersifat individual, (2) tulak-balak bersifat kolegial, dan (3)

tulak-balak bersifat sosial. Mantra tulak-balak yang berkaitan dengan daur hidup manusia,

bagaimana manusia bersosialisasi dengan manusia lain, serta bagaimana manusia berhubungan

dengan alam. Mantra-mantra tersebut meliputi: mantra mencari rejeki, mantra orang hamil mau

tidur, mantra suami jika istri hamil, mantra bepergian, menstabilkan tanah angker atau kayu

angker, mantra numbal rumah, mantra nolak/ mengusir setan, mantra memasuki hutan atau

mengusir hewan liar, mantra menyingkirkan hewan air, mantra penawar bisa.

Kitab Primbon Betaljemur Adammakna memuat paham asli Jawa yang mendapat

pengaruh ajaran Hindhu, serta disajikan dalam mantra-mantra keislaman. Karya ini banyak

dijadikan refernsi masyarakat Jawa. Berhubung terhadap petunjuk-petunjuk praktis yang bersifat

spiritual teruatama siklus hidup manusia.

Keyword: mantra, tulak-balak, primbon

Avi Meilawati

Universitas Negeri Yogyakarta



Alamat : Kampus Karangmalang, Yogyakarta, Indonesia 55281

Telepon (0274) 550843, 548207 Email : avi_meilawati@yahoo.com

Jumat, 29 Maret 2013

Lontar Babad Pande Bratan

Babad Pande Bratan

Judul Lontar : BABAD PANDE BRATAN
Ukuran lontar : 35 cm x 3,5 cm
Jumlah daun lontar : 46 lembar
Asal : Jro Kanginan Sidemen
Koleksi : Kantor Dokumentasi Kebudayaan Bali
Nomor Koleksi : VI/10/B/Dokbud
Dialih aksarakan oleh : Drs. A. A. Ngr. K. Suweda

1.b. OM awighnamastu namah swaha. Tucapa ring singasari tumapel, wenten brahmana sakti, turunan batara brahma, saodara sanak lima, kang jyesta, apanlah mpu gnijaya, sang ari asanja mpu witadharma, mpu kapakisan, mpu sidimantra, mpu kul putih, sira mpu witadharma maputra sawiji, apanlah mpu wiradharma, mpu wiradharma maputra kalih, apanlah mpu lampita mwang mpu ajnyana, sira mpu ajnyana maputra kalih, anama mpu lampita mwang mpu pananda, sira mpu pananda maputra sawiji apanlah mpu


2.a. wijaksara, sira mpu wijaksara maputra kalih, anama mpu ketek mwang mpu lumbang. Sira mpu lumbang amande wesi, raris aran anama mpu gandring, tucapa batara brahma sdheng ira mayogadi pucak gunung silasayana, mahyun angwibhubhang turunan sakti amande galuh. Tadanantara mtu gni saking pupu tengen, ri wekasan kang agni ika tiba ring tala ganoja, matmaham tirta mreta, raris tirta ika pinuja de batara brahma, ri wekasan mijil tang rare manusa saking tirta ika, apkik

2.b. rupaning rare endah sanghyang sanat kumara, ri wekasan aluhur kang rare, anama mpu brahma raja, tur winastu amangguh kasiddhyajnyana sakti, dwilabha, dwilabha, nga, karya kalih prakara, lwirnia apande gandring, apande galuh, ne kawastanin angandring, pakarya ngwangun lelandep, kadyangganing kris, tumbak, sane kawastanin angaluh, pakaryane ngwangun sasampiran mwang salwiring pahyasan, bhusana kawikwan, pangangge kapandhitan mwang bhusananing karatuan

3.a. tucapa mpu brahma raja prasiddha polih jnyana sakti , tan ilang kadi kasidyanira batara brahma, kalokeng jagat jawa madura, mpu brahma raja sakti, sddhi wakya, siddhi mantra, tucapa sira patih madura, sang pinaka patih de sri hayam wuruk, sang aneng majapahit, sira kryana patih madu ayat ngwangun yajnya mwang bhuta yajna, durung siddha kawangun, malarapan antuk durung polih pandhita sakti, ne samapta kadi mpu loh gawe, ri wekasan rakyan madu

3.b. arengo pangucaping jana loka, yan ring gunung hyang wenten pandhita sakti kadi loh gawe, irika rakyan madu raris lungha nuju gunung hyang, marek sira mpu brahma raja, anuhur amutusaken yajnya nira, dhatenging madura, gargita cittane kryan madu molih wiku sakti, tan kawarneng awan dhateng rakyan madu aneng wismanireng madhura, nher aremba pali palining pitra yajnya, tinut

4.a. satudhira mpu brahma raja, tlas ratu jawane pininang nira, makadi sri aji bali, sira dalem ktut smara kepakisan, sagrehan dateng ka madura, gawok kang wong jawa mulat ring pkike sri aji bali sri smara kepakisan, panyumbunging mulat, glising carita tan ucapen karamyaning karya, apan sotaning bhawa wibhawa, tlasing karya pitra yajnya irika mpu brahma raja mangajnye patih madu, anngeri yajnya siddha tan siddhaning karya, yan ruwat tan ruwatan sang timbasin yajnya, mangka ling sang mpu, sumahur patih

4.b. madhu saha sembah, ling nira, singgih sri maha mpu, syapa ta wenang tinayaning ulun, ling mpu brahma raja, ikang panca maha bhuta takwanan anaku, wus mangkana tinanyan kang panca bhuti de kryan madhu, wataraning pitra yajnya, yan ruwat tan ruwat kawitanira, ling sang tinakwanan prasama masahur, ling nira wus ruwat sang kawitanira, padha anmu swarga, dening mantran sidhi mpu brahma raja,makadi patih madhu tan paingan sukanira ring kawitane padha anmu swarga, nher patih madhu nembah ring suku mpu brahma raja

5.a. angaturaken dhana punya wang daksina ring jong maha mpu, tlasing samaya karya, sang ratu tamui prasama mulih sowang-sowang, sawusing karyane patih madhu, irika mpu brahma raja apanlah sira bhagawan pandhya mpu bhumi sakti, yantuk mantran sakti, pira kunang lawas bhagawan pandhya mpu bhumi sakti ring madhura ring kuwune patih madhu, irika amwit bhagawan pandhya ring rakyan madhu, tan tinnget sang tinilar, nher sira lumampah, amnengi awana manggih sira asrama ring ksetra tpining awan, nengge

5.b. asrama budha bherawa, bhagawan aksobhya ngaranira, sedheng enak amuja gawong sira mpu bhumi sakti lumihat ring bhusanaira sang amuja, katon kaiwambha dening walung kapalaning wwang, masalimpet basang wayah, asekar atinin wwang, mabaju kulit macan, sapunika bhusananing budha bherawa, rikala mamuja hyang bajrajnyana, risampun puput sira andheha sudhi, katon denira mpu bhumi sakti angadeg ri natar, ring sandhinging tahen kepah, tandwa sira anantwa sambrama mendak swabhawa

6.a. sarjawa, ling nira, uduh sang brahmana pandhita tamui, AUM sang pandhita siwa, sakeng ndi sangkan ta dhateng parangke, sang kadi bhagawan wrahaspati ring kamahatmyanira, aparan prayojana, warah duga-duga sanghulun, ling sapa tapa budha mangkana, sumahur sang mpu bhumi sakti, singgih sang pandita sang kadi bhagawan anggira sakala ring kabudhiman, wnang ta nyucyaken kang sinangguh letuh, ndan ampuni anakta, tan sangkeng amighmani yoganta kadi kita, hyun tam-tam tumon ring

6.b. kasaktinta, singgih takwan ta ri kami, sangkan kami sakeng silasayana, singgih anak hyang brahma kami, mpu bhumi sakti ngaran kami, maka etu mami hyun aguru ri sira parama budha bherawa, sumahur sang rsi budha, Ong anaku bhumi sakti, bhagya tang hulun, yan mangkana kapinta, tlas pada gocara wkasan sira anantwa sang rsi budha, AUM anak sang rsi bhumi sakti, anak hyang brahma kapwa anaku, sang widagdha ring guna kapandheyan, kaluning rat, piwruhan ta anaku, ndi cangkeming agni kang brateng I sarwa

7.a. karyanta, ndi pinaka ububan ta, kang maka pamurungan ndi kang pinaka palu palu mwang landesan ta, kang ana ring awak ta anaku, yatika pinton akna anaku kawisesanta, sumahur mpu bhumi sakti, singgih mpu danghyang ampuni ranakta angaturaken sakawruha inghulun, sahur sira mpu astapaka, lah pintonakna anaku, irika mpu bhumi sakti maneka citta umneng, tan asuwe mijil kang agni saking netra tengen, pareng lawan bayu bajra saking irung kalih, irika malih mpu bhumi sakti angredana,

7.b. sanghyang dhanendra, aminta mas pirak, tan asuwe dhateng sang dewa bhuta amawa mas pirak, saking sanghyang dhanendra katur ring sang mpu bhumi sakti, raris mas pirak ika kapradaksinayang ping tiga, raris kakaryanin, tan suwe puput denira marupa bhusana panganggon sang brahmana pandhita, raris akaturing sang mpu astapaka antuk mpu brhama raja, genep sapula palining bhusana pandhita siwa bhuda, irika gawok sanghyang astapaka, tinonton denira mpu astapaka ri kasidhyajnyana nira mpu brahma

8.a. raja, ana kapti nira danghyang astapaka amupu mantu, didine tan adoh siwa lawan budha, ana atmaja niri sedeng ayu apatra diah amrethatma, punika patemwakenira ring mpu brahma raja, pepek sapapalaning tingkahing pawarangan sang brahmana pandhita, ritlas ira mangkana amwit mpu brahma raja pareng lawan stri nira,lumaku maring madhura desa, wus prapteng madura mpu brahma raja muwah ngwangun pasraman ring gunung kayumanis, saika mapesengan bhujangga kayumanis, tucapan sri aji bali

8.b.sira dalem ktut smara kapakisan, sang prasiddha ngawit jumeneng ring gelgel, mahyun pwa sira bhiniseka, tan sewos ring mpu brahma raja hyunira maguru, apan sira wus wruh ring ajnyana nira sang mpu, duke ring madhura nguni, ya ta donira angutus anake arya langon, anama pasek bya, punika sane kautus nuhur sang maha mpu manggeh gra cudamani, serawuhe kyayi pasek abyan ring madhura, ngraris nuju asrama ring kayumanis, parek ring sang mpu bhumi sakti, ngandika mpu bhumi sakti ring pinaka utusan

9.a. duh kita wau dhateng, saking ndi sangkan ta, siapa naman ta, mwang apa tang prayojana, matur ki pasek bya saha sembah, singgih I pandeya, kami anak arya langon saking nusa bali, kinoora nuura imah talapakanira mpu maha pandhita dhateng nusa bali, olih sira sri maha raja, hyun aguru susrusa ring pada maha mpu, samangkana atur ki pasek abyan, sumahur sri bhujangga kayumanis, uduh cucu cai pasek, kalingane twara ada anak len cucu warga kami, apan cucu

9.b. santanan mpu ketek, sira mpu ketek sanak saudhara lawan mpu lulumbang, sang apatengran mpu gandring, sang tinwek dene ken angrok, nguni ring tumapel, ika mpu gandring kawitan mami, matangian tan adoh kami kalawan kita, anuhun ki pasek matur saha sembah mapinunas aguru, ling sang mpu yogia kita lumaku dharma kapandhitan, tuwi sri maha raja bali wit brahmana putra, turunan brahmana kapakisan, dadi ksatriya, tunggal kawitan nguni, sira mpu kapakisan sanak

10.a. saudara lawan mpu gni jaya, witadharma, kita pasek gedhe bendesa, ksatriya dalem keratin, brahmana guru karma, ika katiga tan wenang doh, tan ucape panuure ki pasek bya, sira mpu rbahma raja mangga sira lungha ka bali, tan ucapen dalem ring bali sampun prasidha bhiniseka, alawas tlasing carita, tucapa diah amrethatma stri sira nira mpu bhujangga kayumanis sampun madwe putra kalih lanang istri, ne lanang mapesengan sang brahmana rare sakti, sane istri mapesengan diah kencana

10.b. wait, tucapa sang brahmana rare sakti ring sampune duhur teleb ring karya kapandheyan, awanan mapesengan mpu gandring sakti, arine diah kencanawati aler teleb ring karya anggaluh, awanan pinaraban mpu galuh, raris wenten pangandikan mpu bhumi sakti ring anake kalih, udhuh anaku gandring sakti, galuh, aku maweh lawan kitabungkung sawiji sowing, maka atmaraksa kita amandhe, kita gandring iki pawehku bungkung mas mamata manik bang, ana guna yan anggen amamandhe

11.a. salwiring sanjata, salwiring tajep, guna pangandenia, kita anaku mpu galuh, iki pawehku bungkung mas mamata ratna campaka, dening kita tamtam ring laku tatwa kusumadewa, donia dewi asih ri kita, anmebah kang putra kalih anuhun ri sang guru, kaswen mpu gandring sakti mahyun ring kalpikane sang ari, ngraris kakarsayang, mpu galuh tan wenten pisa mangaturang, ika do mpu gandring ring mpu galuh, sahawaksarusia anundung, punika awanan mpu galuh lungha saking asrama kayumanis

11.b. ngaraga angungsi gunung rengga kusuma, sarawuhe mpu galuh ring giri rengga kusuma, dadi kacingak mpu galuh ayu olih bhatara mahadewa, ther sira asabdha, siapa kita stri ayu dhateng parangke, warah tanghulun satorasi, sumahur mpu galuh,singgih bhatara hyang mahadewa, brahmani tanghulun saking madhura desa, anak bhagawan pandhia mpu bhumi sakti, putu de hyang agni pwa ngulun, mojar hyang mahadewa, udhuh putu mami mpu galuh, wruh ulun kita anak bhagawan pandhia bhumi

12.a. sakti, brahmana maha suci, mangke kainta tumudhuhi kita putu, dak kita dhatenging bali gunung agung asamangku, kita angantinin laku kawitanta nguni brahmana kul putih, mangdadi palayanku amangku parayangan, mangkana ling bhatara mahadewa, mpu galuh matur angering, punika awanan mpu galuh rawuh ka bali ring basukih, amangku hyang mahadewa, sanunggil dina ayu mpu galuh amuja, mareresik ring parayangan, kadi laku kul putih nguni, punika awanan mpu galuh raris

12.b. kapesingin mpu kulputih mangku istri, waluinen ikang katha muwah, tucapa mpu gandring sakti kinon dening yayah ira ngulati mpu galuh, apan aswe tan katon ring desa madhura, tar wihang sira mpu gandring sakti, nher lungha angulati arinira, ri tanah jawwa tan ana juga wrethania karengo, wkasan ana hyunira angulati ka tanah bali, amurang murang jalan laku nira mpu gandring angliwat wabamabana, meh surup bhatara surya ararayan sira mpu gandring ring soring taru rangdhu, abhipraya anginepa

13.a. manggih ta sira gwa, tan asuwe metu tang raksasi saking gwa ika, abrangbrangan kadi danawa, angambu manusa, swarania nglr kadia glap, annuli kakantenang mup gandring sakti abagus warna nira, irika ewambekang raksasi, aparwa mbeknia ana budhinia amangan, ana budhinia maka swami, irika glis mpu gandring sakti anguncarang mantra sakti, wisnu panjara murthi maka pamunah budhi karaksasian, atha rikala mangkana angucap sira mpu gandring, eh raksasi, aku iki brahmana saking madura

13.b. anak bhagawan pandhia mpu bhumi sakti, mpu gandring nama siaku, wawu saika ling sang mpu, irika sang raksasi mari hyunira amangan, wetning kna kamaraga tan kena inretan raganira, tumon sang maha mpu sdeng yowana, dadi asiluman swabhawa nira arupa wang listu ayu paripurna, tka mamarek, ri kahan mpu gandring saha swara manis, singgih pakulun mpu maha sakti, riwruhan ta i kami mula widiadhari nguni, kna sapa matmahan raksasi, kinon nghulun ingke angantia sasapa

14.a. lalarapan inghulun malih umalui mulih ka suralaya, apara angenta sasapa ri kita, swanta angwalinganta, tan lian sri maha mpu larapan inganta sapan inghulun , mangkana ling sang manapa, wekasan yan ana brahmana sakti anama mpu gandring, ika maka swaminta, wkasan ana anakta laki brahmanadwala, ya maka entas sapa, yatika makawak sapa tumiba ring patik maha mpu, singgih yan ana sih maha mpu ring pinaka nghulun, yan yogia mpu kaswami pinaka nghulun, didine manaka hulun

14.b. brahmana, mangentas sasapa jajnan inghulun, muliha maring swarga, mangkana ling nikang raksasi saha tangis, nherumimpunicaranapangsu maha mpu, irika mpu gandring sakti kapiutangan welas hyun angrego ujare si raksasi, nher sira mojar amanis, duh nini raksasi, away sira sangsaya yan hyun sira aswami ri kami, tingalaken kang karaksasianta, budhi manusa mangke sipatanta, yan kita hyun mangkana, kami suka yang maka stri kita, kami mangke aweh aranta, diah giri sewaka, mangke

15.a. aranta, matangian mangkana apan kami tan dadi lalis anulak ring sang minta sarana, maliha pangawayaning hyang, apanantas sapanta, wawu mangkana ling sang mpu antianta magirang budhinia diah giri sewaka, anuhun satuduh mpu gandring, marupa stri jati manusa turanwam listuayu pari purna, sakala widiadhari, angandani raga sang mpu, tan ucapen sang kalih sampun pasti sagocara, irika diah giri sewaka angglarekan kasidhiajnyanan, saksana ana graham sinang saupacara, irika tinuntun sang mpu

15.b. masuk ring dalem graham, pareng lan diah giri sewaka, tan kawarna ing jroning jinem silih asih anamtami lulut, sampun prasida diah giri sewaka atmu tangan lawan mpu gandring , sawidhi wedana saha puja, kadi pamarginira diah idhimbi atmu lawan sang bhimasena, riwkas mpu gandring lawan diah giri sewaka, nggarbhi ni diah giri sewaka, irika ngandika mpu gandring, nini diah giri sewaka, ingke nini karyeng umah, ulun praya lungha maring bali, kinon angulati aringku mpu galuh de-

16.a. ni ramangku mpu bhumi sakti, wekasan walingku saking bali muwah, ulun marangke, raksa den abecik isining wteng ta nini, anembah kang stri giri sewaka, irika sang mpu gandring sakti mamargi anuju bali busakih , saprapta nireng kana katmu arinia sdheng mayoga, dadia kanggek hyunira mpu gandring sakti, wkasan uwusnia mayoga katon sang raka prapta, tumurun mpu galuh mapag sang raka, ling nira mpu galuh, singgih kaka wawu prapta, wahu asapunika ature raris mpu galuh ngawangi, saha wakia ”OM

16.b. NAMA SIWA YA NAMO BUDHA YA, mojar mpu gandring sakti, duh yayi mpu galuh kakanta mangke ri sthana yayi, denta muja mantra siwa lawan budha, ya widhi jiwaku ika, kakanta ingutus de sri guru bhagawanta ngulati kita iriki, mangke wus katon kita anglakwaken dharma sang kul putih, yantuk kita anguncaraken wedha ri nengo nami, marep ring sanghyang suksma siwa lawan budha, yatika yogia, pira lawas nira mpu gandring sakti ring asrama ring bali basukih, tucapa ri wkasan mantuk sira mpu

17.a. gandring sakti, kari sira mpu galuh ring bali basukih, tucapan pamargine mpu gandring sakti, rawuh amarani stri nira diah giri sewaka, sampun aputra lanang apkik, sadateng nira mpu gandring sakti agelis sira ngambil anake alit, umatur diah giri sewaka, singgih mpu agia dhateng, iki anakta lanang apkik, lah pareng alungguha, tan kawarna pagunita nira, apti sira mantuka pareng lan putra nira, ling nira, duh nini diah giri sewaka, apti kakanta mantuking yawi madhura mangke, iki anak

17.b. ta anama brahmana dwala, mangke kami aminta anakta, aywa kita sungkawa, karya sira iriki, kami amwit ring sira mangke, suka diah giri sewaka, tininggal dening rabi mwang putra, tur amastoni anaknia, ling nira, duh anakku brahmana dwala, wastu swasta anaku muliheng yawi madhura, ibun ta amwit sira muliheng swarga, apan sampun antasa sapa mami, malui twah widiadhari kadi nguni, kuneng sira mpu gandring sakti pareng lawan wkanira mamargi mantukeng madhura, tan kathanakna ring

18.a. awan dhateng mpu gandring sakti ring sthana nira, amarek ring mpu bhumi sakti, mojar mpu bhumi sakti, uduh anakku gandring dhateng, angapa lakunta angamet sanak ta mpu galuh, atur mpu gandring, singgih andika bapa, kapanggih anak ta ana ring bali basukih, tuduh hyang mahadewa mangdadi palayan kilisuci, tur sampun bhiniseka kul putih, mojar mpu bhumi sakti, uduh anakku gandring sakti, yayah ta ahyun lungha maring bhumi bali, maninjo asrameng arin ta, mangkana ling mpu bhumi sakti, ri

18.b. saksana mahawan hyunira tan katon, kunang mpu gandring sakti lungha ka gunung indrakila mangun tapa, tucapa anak nira brahmana dwala sampun aluhur, sdang angamong dharma kapandeyan, pareng lawan ajinira mpu gandring sakti asrameng indrakila, sakaton denira sang bapa sdengenak mayoga, akiris tang sarira dening yoga nira, tan pamangan ara, kage turun skar saking akasa sagandharum, kagiat tang brahmana dwala, nher alungguh amusti tangan, tan aswe jag dhateng mpu siwaguna sakeng

19.a. suksma, tka angadeg ring areping brahmana dwala sahojar sarjawa, uduh putungku kita brahmana dwala, rengwaken sabdhaning kakinta iki, aku iki kakanta mpu siwaguna ngaranku, ari sodhara dene kakin ta sira bhagawan pandhia mpu bhumi sakti, kami ku mawruh ikita, dening kakinta sampun muliheng acintya, mangke hyunira turun ing tanah bali ring basukih, didine ana panataran pande, kita aywa lupa bhanti ring kawitan ta ring basukih, muwah ujarku ring kita dwala, ri denta seneng manglakwa

19.b. kna papandhen, amandhe patut kawhuhi dharmanta ring pustaka, inucap ring batur kamulan, dharmaning amande mas, pirak mwah amande wesi, singgih mapat tingkahnia, yan kumwatak santananku, ndak rengon pahenak, kapratama ikang panca bayu, yatika pinrashita dadi prabot, ndhiang panca bayu linganta, nihan prana, apana, samana, udhana, biana, apana nga bayu saking weteng mwang saking kakembungan, yatika pinaka jambangan, prana nga bayu saking paru paru mdal ka irung

20.a. yatika pinaka pamurungan, samana nga bayu saking ati arupa gni ring sarira, udhana nga bayu saking siwadwara, yatika pinaka uyah, biana nga bayu saking sarwa sandhi, pupulaken ring paha, yatika landesan, ndikang maka palu-palu, tampak tangan ta, jariji ta kang pinaka spit, len sangke rika yan kawasa tingaleken tang asta candhala ne ring sarira, aywa inginrya, ndhia asta candhala linganta, nian lwirya 1, amahat nga matwakatan, 2, amalanting nga

20.b. landang pajudian, 3, anjagal nga amati mati pasu madwal daging mentah, 4, amandhe lemah nga makarya payuk, 5, anyuledang nga nanggap upah nbuk padi, 6, anapis nga andha sesaning tedhaning wong len, 7, tan dadi amangan klakatu nga dadalu, 8, tan dadi amangan iwak pinggul nga dadleg, yatika kabrata sang anggaduh dharma kapandheyan, yan bwak angupakara sawa, aywa kita weh aminta tirtha ring sang brahmana pandhita, ngang anugraha kita ri wekas

21.a. mangda kita tan ka nraka, kalih yan yayah ta mpu gandring sakti mati, aywa kita weh upacara salwirania, dening wus tetep ring dharma kapandheyan, aywa kita weh tirtha sang brahmana pandhita, matangian tan dadi, ndak rengon ling ku, ana ring tatwa kamandhaka, nguni ana apuspata bhagawan dharmaswami amangguh duhka manastapa binandhapasa, ya takwanan ta cucu, ring catus pata sira binandha de sri madhura raja, ana suwarnangkara, nga twaning apandhe mas, molih bhusana mas

21.b. manik paweh sang mpu dharmaswami, bhusana nira raja putra mati sinarap ning mong, ikang mas manik katur i jong maha mpu, sinugi kang anggaluh ki suwarnangkara, ya ta ingaturaken ring sang prabu, sinangguh sang mpu amatyani sang raja putra, ika donira sang prabu krodha kon tang wadwa anikep sang brahmana, ana mitra sang brahmana tigang diri, sang mong, sang ula, sang wre, sang tiga ika angrengo yan sang dharmaswami binandha de sri madhurapati dadi ya ngamet upaya sandhi, marga sang mpu lwar saking apusapus

22.a. sidha sadia denia masang upaya, sidha sang mpu lepas saking bandhana, irika sang mpu dharmaswami maneseel sarirania, ridenia asawitra wwang nicha candhala, etu nira amangguh duhka maha bhara, yeka don mpu dharmaswami amangun sasat, lwirnia, indah kamung hyang trayodasi, mandadi sanghyang catur lokha phala, bhatjara sang pinaka saksining jagat, mawit saking mangkin sang brhamana pandhita kadi nghulun, tan dadia asawitra masih ring wong mapakedhepan kadi macan, mwang pande suwarnangkara,

22.b. saturun turunia, yan ana brahmana pandhita ri wekas turunanku, asawitra ring pandhe mas, moga amangguh dhuka maha bhara, kalih saking mangkin trus saturun turunanku, tan dadi maweh tirtha ring sawatek turunan i pande suwarnangkara saturun turanania, yan ana brahmana pandhita sabha masuk ri ngumaha pande mas, apania candhala, samangkana wak sapata rsi dharmaswami, sdang kita tiru, apan pandhita maha sakti, samangkana pawarah mpu siwasaguna ring brahmana dwala, tlasing sabda

23.a. muksa sira mpu siwaguna tan katon apan wus iniring sabda nira de sang brahmana dwala, tucapa sang brahmana dwala ri sampune muksa sang mpu gandring sakti, malih matuk ka madhura, kaswen ring madhura mahyun sira apodgala madiksa widhi, awana nenten wenten patut ring kahayunira kanggehang pacang guru ring jagat madhura, dening asapunika raris sang brahmana dwala makarya archa paralingga mpu bhumi sakti saha strine diah amrethatma ring sampune puput archa pralingga ika, raris kakaryanang linggih padma

23.b. sana ring sajeroning patapan ring pamrajan, archa pralingga punika raris kasengguhang gurune, tan bhina kadi sang ekalawia amnabe ring aarcha pralingga danghyang drona, asapunika mangkin sang brahmana dwala manabhe archa pralingga mpu bhumi sakti, amlarapan nguni wenten ichan mpu bhumi sakti, nga, pustaka bang ring sang dwala, yeka mangke kasengguhang wisik anugraha, ne munggah pamidartha ring sastra pustaka bang, indik karahasian dharma kapandeyan idup mwang mati, saking punika raris magentos

24.a. pesengan, mangke mpu dwala, mpu wala, kaswen mpu wala sampun madrewe putra roro padha laki, ikang jyesta mangaran arya pande wulung, kang ari mangaran arya pande sadaka, tucapa ring bali, pangadeg sri baturenggong ring gelgel, ayat mangwangun karya ekadasarudra ring besakih, irika dalem ngandikayang para juru angulati karya undagi, maranggi, pande wesi, anghing pande mas durung wenten ring bali, wkasan ana wretha yan ring candikuning wenten pande

24.b. mas, kasub widagda amandhe, ling wenten wreta mula saking jagat madhura, roro sanak rauh ka bali, anama arya pande wulung mwang arya pande sadaka, ngawangun patapan ring gunung pabratan, punika kaundang antuk dalem rawuh ka gelgel, sadhateng nira ring gelgel sang pande anuli marek ring dalem anuun ligra saha sembah, angandika dalem, ih mpu pande kita kinonku mangke agawia upacara mas pirak, sapratekaning yajnya ngekadasurudra, atur mpu pande,

25.a. singgih kawula nuun sakawruhian ingulun, tan ucapa dalem maweh mas pirak ring mpu pande, mwang unggwania amande, gawok wong umalat ring kawidagdania mpu pande sadaka, pira kunang swenia mpu pande bratan ring gelgel, sawusing karya ekadasarudra sami sajuru-juru karya kaichen anugraha antuk dalem, kunang mpu suwarnangkara sampun namwit mantuk maring asramania ring pabratan, kaswen mpu suwarnangkara ring asamanira, sampun madruwe sanatana, mpu sadaka manak

25.b. roro padha laki, anama arya danu kang matuha, kang ari anama arya surajnya, kaswen sampun mapodgala, sira arya danu anama pande rsi, arya surajnya anama pande tusta, tucapa sira arya pande wulung sampun apodgala apanlah mpu wulung, anaknia apanlah pande tonjok, amandhe wesi akarya lalandhepan, mwah ariania apanlah pande wana widagdaanyanyanging, nher apanlah pande sangging, alawas-lawas wredhi tang watek

26.a. pande ring desa bratan, tucapa rencange ki pasek kayu selem ring batur lunga madagangan ngamarginin desa bratan, kahalangin wengi nginep ring desa bratan, tandang karampas padol dolania dening karama desa bratan, akon nabuh tengeran , tedhun pada krrama desa pabratab, pada garawala natiyang sanjata, mantuk kang wwang dagang majar i tuania i pasek kayu selem, yan karampas druwenia ring desa pabratan, ana wongnia pinejahan, kridha i pasek kayu selem

26.b. aptinia anglurug angrejek desa pabratan, akona nabuh tengeran, tedhuna pada krama desa batur, pada grawala natiyang sanjata, winarahan de ne i pasek kayu selem mangkata anglurug desa pabratan, nher pada agelis mangkana nglurug, tan dwa ring awan panganjuri lumampah ki pasek kayu selem, i pasek batu dinding, i pasek camapaga, i pasek clagi manis, makadhi kyayi balangan, kyayi bandhem, kyayi poh tegeh, kyayi pulasari, sregep saha sanjata nira, wus prapteng

27.a. pabratan, tandwa angrewek angrampas, asing wani pinatian, tandwa alah kang desa apan akdik kakwehan lawan, sesaning mati akweh malayu mwang mamungkul, aminta sraya sih ira ring i pasek kayu selem, tucapa kang aninggal rarud kasamburat sawarganing pande mas, pada ngungsi dura desa, kang anama mpu jagarosa angungsi ka tamansraya, mabakta pustaka bang, malih pande sarwada kesah ka desa kaphal mangwi, malih arya pande ramaja

27.b. ngungsi kawisunia, mwah mpu tarub angalih desa ring marga, arya pande danuwangsa ngungsi ka gadhungan, arya pande suwarna ngungsi ka singharaja angawula ring i gusti ngurah panji sakti, ki arya pande tonjok angungsi desa panasan klungkung, arya pande kartana ngungsi desa badung, ki pande ruktia ngungsi jagat bangli, mabakta kawitan archa kawitania kakalih, sawatek pande bratan tan yogia nyinambatang pranah ming tiga, ring sami

28.a. turunan pande bratan, mangda manyama saudhara, malih tan dados ngalaliyang kulawarga, minangkenang anak sewos, yen wenten mamurug, tan wenten ngangkeni nyama, ne mula tunggal turunan, sang asapunika jaga kasisipang antuk kawitania ri panataran bratan, malih wenten apanlah arya labdawara magnah ring desa bayan, dados undhagi, tucapa mpu tarub, aywa kita duhka mineh dewek lacurdaak, kita sahananta dinandha dening hyang, manurun karma phalan ta

28.b. kita turunan brahmana, kita tan angangge sila brahmana, suka ring laku duracara, ambegal, ambaud angris, amati mati wwang, dening pasek batur waluya anak saudharanta, makawitan tunggal ki pasek batur turunan mpu ketek , mpu ketek maari saudhara lawan mpu mpu brahmaraja, kang maurunaken kita, karmaning amati sanak tinmun ta mangke, riwkasan yan kita mangwangun karya ala mwang ayu, patutnyane aywa juga kita anganggen tirtha brahmana, aketo

29.a. ingetang patuhang ajak makejang, tekeng turun tinurun, apang de engsap teken kalakwan awak, dadi pandhita mpu kanugraha muputang sagawe-gaawene, yen kita tuhu bakti makawitan, sembah aku ring paibwanta nuju tumpek kuningan, dening cipta nirmala, aku puyut ta mpu brahma dwala, tan kocapan mpu tarub di pradesa marga wredi santane, kocapa arya pande ruktia ring jagat bangli tetep amande mas, tucapa sang andiri ring jagat bangli apanlah i gusti parawupan mwang

29.b. i gusti dawuh pamamoran, raris jagat bangline kagebug antuk i dewa tirthaarum sane mapesengan i dewa ngurah pamcutan ring tamanbali, kasarengin antuk arine kalih, sane mapesengan idewa pering ring nyalian, mwang i dewa gde pipindhi ring pasagasa pagesengan, rusak seda i gusti parawupan kuciwa ring paprangan, i gusti dawuh pamamoran bonglot saking bangli ngungsi desa camanggawon iniring dening arya pande ruktia, ana arine pande ruktia ring desa timbul ngaran

30.a. arya pande likub, tan olih basa ring timbul sinaru saru dening wwang ring timbul, wkasan i pande likub sah saking timbul, ngungsi blahbatuh, nyawita ring i gusti ngurah jelantik, kapatutan sawatek pande bratan sane patut ngamargiang yiga, ping tiga sane arahina, 1, semeng, 2, sore, 3, wengi, saha nguncarang mantra kayeki (mantra tidak diposting) ikang mantra ping 9, ika waluya agni wijil saking babaan sanga, ne

30.b. ngaran baban sanga, song mata 2, song cunguh 2, song kuping 2, cangkem mwang payupasta, silit, punika ne ngesong salwiraning ala ne ring sarira, sasampune gsong awane ayudang antuk toyane ring raga, saha mantra (mantra tidak diposting) uncarang ping 9, wusnia tlas muwah mantra (mantra tidak diposting) tlas yogane puniki laksanakna rikalaning amande, yan makarya sanjata mantrani prabot, mantra agni (mantra tidak diposting)

31.a. mantran sepit (tidak diposting), mantran gandu (tidak diposting), mantran penges (tidak diposting) mantran kikir (tidak diposting), mantran gurindha (tidak diposting), mantran pangidupan uyah (tidak diposting)

31.b. (lanjutan mantra tidak diposting), punika mantra anugraha saking majapahit, maka panglpas mulihing batur kamulan, (tidak diposting), puniki ucapan pustaka bang panugrahan bhatara brahma ring i pande bratan, sapa ugi yan sampun polih ngubhayang palaksanan paplajahan puniki, saha utsaha dina tur sampun mandhitain, punika

32.a. dados muputang salwiring karya ala mwang ayu, ring sawatek pande bratan, yadiapin sampun mandhitain ki pande bratan yan durung uning nglaksanayang ring pasuk wtuning ne dados paplajahan, punika durung dados muputang karya salwirnia ki pande bratan , iki panganggen mpu arya pande bratan, yan angupakara sawa kala ngaben, surat ring patra rwaning pisang ikik, ing ring muka

32.b. tang ring tunggir, bang ring bau tengen, sang ring bau kiwa, ang ring dada, surat panca datu, nang ring timah, mang ring wesi, sing ring temaga, wang ring salaka, yang ring mas, mas pinih luhur, timah pinih sor, surat plasa, a, sa, ba, ah, ang, watek mpu pande bratan dados angangge wadah tumpang 5, yadin tumpang 7, mapatulangan lembu, mabale salunglung, mapring, masanur, mapanbasan gung artha 16.000, malih toya pabre-

33.a. sihan apayuk madaging skar mwang wija kuning, (tidak diposting) raris toya ika puter ider kiwa, raris yogain, idep ikang sona kne mawak suci, kumpulang dadiang abesik, i anggapati, i mrajapati, i banaspati, i banaspatiraja,ki marajapati wehi ya tirtha, idep tirtha mijil saking siwadwara, swarania a, wusing matirtha akon ya ngatehang atma sng mati ka swargan, katemu ring genah kawitane, tingkah makarya tirtha pangentasnia, samangdane dadi

33.b. numitis dadi janma rahayu, bwatang sadia yang pripihan mas, lumbangnia saguli, panjangnia rwang guli, masurat dasa bayu, malih kalpika, 1, mirah sane becik 1, podhi 2, bungkung mas mamata mirah, bawong payuk ika matali benang putih 12 ileh, payuk ika ukupin antuk dupa (mantra tidak diposting) malih tungkayakang (mantra tidak diposting) raris dagingin toya (mantra tidak diposting) tutupin antuk tangan

34.a. (mantra tidak diposting) pulang pripihan mas ika mwang kalpika, mirah podi (mantra tidak diposting), pulang bungkung(mantra tidak diposting), pulang ambengan mwang padang lepas (mantra tidak diposting) yan 33 katih, yan 66 katih yan lewih 108 katih (mantra tidak diposting)

34.b. (lanjutan mantra tidak diposting), mwah amuja caru (mantra tidak diposting), mwah amuja kawitrama (mantra tidak diposting)

35.a. (lanjutan mantra tidak diposting), linggihakna sang dewa pitara ring meru sanggar kidul, watek pande bratan dados maulu kidul, apan batara brahma tetep langgeng malingga ring daksina (mantra tidak diposting),

35.b. (lanjutan mantra tidak diposting), mantra karo sodhana (mantra tidak diposting), mantra manyapa pitra (lanjutan mantra tidak diposting),

36.a. (lanjutan mantra tidak diposting), mantra pratista ngaturin sang pitra malinggih (mantra tidak diposting),

36.b. (lanjutan mantra tidak diposting), mantraning amuja ring pitra (mantra tidak diposting),

37.a. (lanjutan mantra tidak diposting), mantraning amuja ring pitra (mantra tidak diposting),

37.b. (lanjutan mantra tidak diposting), mantra wetarpana (mantra tidak diposting),

38.a. (lanjutan mantra tidak diposting),
38.b. (lanjutan mantra tidak diposting), mantraning amuja ring pitra (mantra tidak diposting),

39.a. (lanjutan mantra tidak diposting), ngeka citta mwah tuntun sang sarwa bhuta sahananing dalem ati, pupulakena ring antaraning pilis, tunggalakena ring manusa saktine, manusa sakti nga, jiwatma, tlas mangkana tuntun sahananing

39.b. wadwa dewane ring siwadwarane, gawakna ring antaraning pilis tunggalakena ring jiwatma (mantra tidak diposting), ngupacara bajraghanta, tungtung bajra ping lima padha misi

40.a. skar (mantra tidak diposting),

40.b. (lanjutan mantra tidak diposting), ikang ghanta sirati tirtha antuk skar tunjung (mantra tidak diposting),

41.a. (lanjutan mantra tidak diposting), iki ngaran palukatan tirtha gamana, malih pabresihan (mantra tidak diposting),

41.b. (lanjutan mantra tidak diposting),
42.a. (lanjutan mantra tidak diposting),
42.b. (lanjutan mantra tidak diposting),
43.a. (lanjutan mantra tidak diposting),
Puput Sinurat Babad Pande Bratan
sumber: web warga pande