Menampilkan postingan yang diurutkan menurut tanggal untuk kueri Mantra. Urutkan menurut relevansi Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut tanggal untuk kueri Mantra. Urutkan menurut relevansi Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Agustus 2014

PRIMBON BETALJEMUR ADAMMAKNA MANTRA TOLAK BALAK

MANTRA TULAK-BALAK

DALAM PRIMBON BETALJEMUR ADAMMAKNA


Masyarakat Jawa pernah mengalami berbagai macam pengetahuan yang terkait dengan

sistem kepercayaan berdasarkan perspektif historisnya. Sebelum agama-agama besar dunia

masuk di kawasan nusantara seperti agama Hindu, Budha, Islam, Kristen, Katolik, dan

Konghucu, masyarakat Jawa telah mengenal kepercayaan yang bernama animisme-dinamisme.

Animisme adalah sistem kepercayaan yang mempercayai kekuatan roh-roh dan makhluk halus.

Sedangkan pengertian dinamisme adalah kepercayaan yang mempercayai benda-benda magis.

Kedatangan bangsa India yang membawa agama Hindhu berpengaruh terhadap pola pikir dan

sistem kepercayaan Jawa. Dokumentasi peradaban tersebut banyak tertuang dalam tulisan yang

diwariskan melalui prasasti dan kitab-kitab kakawin. Masyarakat Jawa semakin kaya dalam hal

kehidupan spiritual setelah Islam masuk sebagaimana yang disebarkan oleh wali sanga yang

ditopang oleh kasultanan Demak. Babak baru yang terkait dengan sistem religi Jawa sebagai

wahana untuk membangun tata nilai yang lebih anggun dan agung, maka banyak tulisan yang

memuat ajaran spiritual dan moral. Kitab-kitab suluk merupakan warisan pemikiran Islam yang

telah disesuaikan dengan tradisi lokal. Di samping memproduksi sastra suluk peradaban Islam

kejawen juga menghasilkan kitab primbon. Sebuah buku yang berisi tentang petunjuk-petunjuk

hidup yang sampai saat ini masih dijadikan referensi bagi orang Jawa. Di antara isi kitab

primbon tersebut terdapat mantra yang terkait dengan tulak-balak. Makalah ini akan mengupas

seluk beluk mantra tulak-balak yang meliputi teks, struktur, dan pengaruhnya di lingkungan

masyarakat Jawa.

Tulak-balak berasal dari kata tulak dan balak. Tulak-balak mengandung pengertian

menolak segala penyakit agar tidak merasuk tubuh. Tulak-balak yang dianut masyarakat secara

umum meliputi (1) tulak-balak bersifat individual, (2) tulak-balak bersifat kolegial, dan (3)

tulak-balak bersifat sosial. Mantra tulak-balak yang berkaitan dengan daur hidup manusia,

bagaimana manusia bersosialisasi dengan manusia lain, serta bagaimana manusia berhubungan

dengan alam. Mantra-mantra tersebut meliputi: mantra mencari rejeki, mantra orang hamil mau

tidur, mantra suami jika istri hamil, mantra bepergian, menstabilkan tanah angker atau kayu

angker, mantra numbal rumah, mantra nolak/ mengusir setan, mantra memasuki hutan atau

mengusir hewan liar, mantra menyingkirkan hewan air, mantra penawar bisa.

Kitab Primbon Betaljemur Adammakna memuat paham asli Jawa yang mendapat

pengaruh ajaran Hindhu, serta disajikan dalam mantra-mantra keislaman. Karya ini banyak

dijadikan refernsi masyarakat Jawa. Berhubung terhadap petunjuk-petunjuk praktis yang bersifat

spiritual teruatama siklus hidup manusia.

Keyword: mantra, tulak-balak, primbon

Avi Meilawati

Universitas Negeri Yogyakarta



Alamat : Kampus Karangmalang, Yogyakarta, Indonesia 55281

Telepon (0274) 550843, 548207 Email : avi_meilawati@yahoo.com

Senin, 02 Juni 2014

ILMU GAIB DAN HIPNOTIS KHODAM

ILMU GAIB DAN KHODAM
 Dunia keilmuan gaib terbagi dalam 2 penggolongan besar, yaitu keilmuan
 yang berlatar belakang pengolahan potensi diri (kebatinan / spiritual,
 tenaga dalam, kekuatan pikiran seperti hipnotis, telekinetik, dsb) dan
 yang murni bersifat ilmu gaib dan ilmu khodam.

 Keilmuan gaib (perbuatan-perbuatan gaib dan ajaib) bisa dilakukan oleh
 siapa saja, bukan hanya praktisi ilmu gaib dan yang memiliki khodam
 ilmu mahluk halus, tetapi juga para praktisi tenaga dalam, kebatinan
 dan spiritual (dalam hal ini kekuatan gaibnya berasal dari tenaga
 dalam dan kegaiban sukma mereka sendiri).

 Ilmu gaib dan ilmu khodam sudah banyak digunakan di berbagai belahan
 dunia, bukan hanya di Indonesia, tapi juga di tanah Arab, Afrika,
 Eropa, Asia dan Amerika (Indian) dalam berbagai bentuk keilmuan gaib /
 perdukunan sesuai pemahaman masyarakatnya masing-masing.

 Pada jaman dulu, di tanah Arab, Afrika dan Eropa, ilmu gaib dan ilmu
 khodam sering disebut sebagai ilmu sihir, tenung dan nujum. Ilmu-ilmu
 dalam ilmu gaib dan ilmu khodam dalam prakteknya memang terbagi dalam
 3 kelompok besar keilmuan tersebut. Sedangkan di tempat-tempat lain,
 ilmu gaib dan ilmu khodam dikonotasikan sebagai ilmu-ilmu perdukunan.

 Ilmu Sihir adalah keilmuan gaib yang terkait dengan kegaiban dan
 perbuatan-perbuatan gaib. Pengertian ilmu sihir bersifat luas dan
 sebagiannya juga merupakan ilmu tenung dan nujum. Dalam prakteknya
 ilmu ini biasa digunakan untuk menggerakkan benda-benda dengan tanpa
 disentuh, menghipnotis / menguasai pikiran dan tubuh seseorang untuk
 maksud tertentu, mengelabui penglihatan / pikiran seseorang (ilusi,
 halusinasi dan halimunan), menciptakan kekuatan tubuh dan kesaktian
 gaib, atau menyakiti dan membunuh orang lain dengan cara gaib, dan
 perbuatan-perbuatan ajaib seperti sulap. Ilmu sihir ini sering disebut
 sebagai ilmu magic, karena berhubungan dengan perbuatan-perbuatan gaib
 / ajaib di mata umum.

 Di dunia Arab dulu, konotasi ilmu sihir adalah untuk tujuan yang tidak
 baik, sehingga sering disebut ilmu black magic (ilmu sihir jahat),
 sedangkan di Eropa, selain ada yang digunakan untuk tujuan yang tidak
 baik (black magic), ada juga ilmu sihir yang digunakan untuk tujuan
 kebaikan, misalnya untuk menyembuhkan orang sakit, menangkal serangan
 gaib atau untuk mengusir gangguan roh-roh jahat, sehingga disebut ilmu
 white magic (ilmu sihir yang baik).

 Di Eropa, walaupun ada, tetapi ilmu sihir tidak selalu digunakan
 terhadap orang lain untuk tujuan yang negatif. Dalam beberapa hal ilmu
 sihir juga digunakan sebagai kemampuan ketrampilan untuk pertunjukan
 hiburan seperti sulap, sehingga ilmu itu disebut ilmu magic (sulap)
 dan pelakunya disebut magician (pesulap).

 Di Eropa, seiring dengan perkembangan peradaban dan agama, banyak
 pelaku ilmu sihir yang dikucilkan atau dihakimi massa (dibunuh),
 karena dituduh sebagai orang yang melakukan perbuatan-perbuatan jahat
 (tenung) terhadap orang lain.

 Ilmu Tenung adalah ilmu gaib yang digunakan untuk tujuan negatif,
 yaitu untuk menguasai pikiran / kesadaran orang lain atau untuk
 menyakiti / membunuh orang lain dengan cara gaib. Pada masa sekarang
 ilmu tenung ini sering disebut sebagai ilmu guna-guna, pelet, teluh
 dan santet. Ilmu tenung ini disebut sebagai ilmu black magic (ilmu
 sihir jahat).

 Dalam ilmu sihir dan ilmu tenung ada kesamaan dalam perbuatan yang
 dilakukan terhadap seseorang, seperti membuat seseorang tersihir /
 berhalusinasi, berilusi, terhipnotis / digendam, lupa diri, lupa
 ingatan, dipelet, dsb. Pada ilmu sihir perbuatan-perbuatan itu
 dilakukan secara langsung berhadapan dengan si manusia objeknya,
 sedangkan pada ilmu tenung perbuatan-perbuatan itu dilakukan di
 belakangnya (dilakukan jarak jauh).

 Ilmu Nujum adalah ilmu gaib yang digunakan untuk peramalan-peramalan
 atau untuk terawangan gaib. Dalam prakteknya ilmu ini biasa digunakan
 untuk untuk meramal kehidupan seseorang atau meramal kehidupan masa
 depan, dilakukan dengan cara penglihatan gaib atau dengan menggunakan
 alat-alat bantu seperti bola kristal, pendulum, kartu bergambar, papan
 ramalan atau alat-alat seperti dalam permainan jaelangkung. Selain
 yang penerapannya mendasarkan diri pada kemampuan gaib, ilmu nujum
 juga banyak yang didasarkan pada hasil pengamatan manusia terhadap
 kondisi alam (zodiak, perbintangan, ramalan cuaca / musim, dsb) dan
 hasil pengamatan pada bentuk dan tanda-tanda tubuh manusia (ramalan
 garis tangan, katuranggan, dsb). Ilmu ini juga biasa digunakan untuk
 terawangan gaib, untuk melihat suatu lokasi di tempat yang jauh atau
 untuk melihat atau mencari keberadaan seseorang di tempat lain.


 Sebelum lahirnya agama Islam, di tanah Arab keilmuan gaib sangat
 membudaya. Selain kondisi moralitas kehidupan manusia jaman itu yang
 mayoritas rendah sekali (seperti kondisi moralitas masyarakat kota
 Sodom dan Gomora yang dibinasakan Allah), ilmu sihir atau ilmu gaib
 juga biasa digunakan di masyarakat untuk tujuan yang tidak baik, dan
 kental hubungannya dengan kehidupan berhala, semua orang memuja
 dewa-dewanya sendiri, dan masing-masing bangsa menciptakan sendiri
 dewa-dewa yang lebih "hebat" daripada dewa-dewa bangsa lain, sehingga
 kondisi peradaban dan moralitas manusia pada masa itu benar-benar
 disebut jaman kegelapan.

 Keilmuan gaib juga digunakan dalam ketentaraan, salah satunya
 digunakan untuk membentuk pasukan khusus yang patuh luar biasa kepada
 tuannya (karena dihipnotis / digendam), tubuhnya kuat dan tidak
 merasakan sakit ketika diserang atau dikenai senjata lawan. Ketika
 kerajaan-kerajaan di Arab menyerang kerajaan lain, ilmu gaib / sihir
 juga digunakan untuk melumpuhkan kekuatan atau psikologis tentara
 lawan, sehingga bila satu kerajaan Arab berperang melawan kerajaan
 Arab yang lain, maka yang terjadi bukan hanya perang ketentaraan,
 tetapi juga perang ilmu gaib.

 Ilmu gaib dan ilmu khodam dari tanah Arab terkenal sekali sampai ke
 Eropa dan Afrika, biasa disebut sebagai ilmu sihir, tenung dan nujum.
 Dan terkenal juga pada masa itu bahwa ilmu gaib Arab hanya bisa
 dikalahkan oleh kekuatan Tuhan, seperti dalam kisah Nabi Musa yang
 berhadapan dengan ahli-ahli sihir Firaun Mesir. Pada masa itu tanah
 Israel sangat terkenal, selain karena daerahnya adalah yang paling
 subur dan banyak sumber air dibandingkan tanah Arab lainnya, sehingga
 menjadi rebutan bangsa-bangsa, batas-batas wilayahnya juga tidak bisa
 ditembus oleh ilmu sihir Arab. Pada masa itu sangat terkenal bahwa
 Allah sebagai "Dewa"- nya bangsa Israel adalah kekuatan yang tidak
 terlawan oleh kekuatan dewa-dewa bangsa manapun, dan terkenal juga
 bahwa selama bangsa Israel patuh kepada Tuhan dan Nabi-Nabi mereka,
 kekuatan Allah melindungi bangsa Israel, sehingga tidak ada satu pun
 kerajaan besar Arab pada masa itu yang dapat menaklukan kerajaan kecil
 Israel.

 Tuhan-nya Israel dipuja oleh banyak bangsa, bukan hanya oleh penganut
 agama Israel, Nasrani, dan Islam, tetapi juga oleh bangsa-bangsa di
 Afrika dan Eropa (Yunani / Romawi), yang menyediakan kuil khusus untuk
 menyembahNya dengan menyebutNya sebagai "Dewa yang tidak kami kenal
 namaNya". Bangsa Israel sebenarnya adalah juga bangsa Arab, karena
 Nabi Abraham sebagai nenek moyang mereka adalah juga orang Arab.
 Tetapi setelah Nabi Abraham diperintahkan Allah keluar dari lingkungan
 keluarga mereka untuk tinggal di tanah Israel sebagai tanah yang
 dijanjikan Allah untuknya dan untuk keturunannya, keturunan Nabi
 Abraham membentuk sebuah bangsa baru, bangsa Israel, yang terpisah
 dari bangsa Arab lain.

 Keilmuan gaib dari India dan Hindu hampir sama, tetapi yang dari India
 lebih luas ragamnya karena berlatar belakang budaya keilmuan yang
 tidak semuanya berlatar belakang agama Hindu, tapi juga berlatar
 belakang sama, yaitu kepercayaan kepada dewa-dewa dan mahluk halus
 lainnya. Tetapi disana kebanyakan ilmu gaib dan ilmu khodam bersifat
 kombinasi dengan tenaga dalam (prana / kundalini), dan kebatinan /
 spiritual, sehingga kadar kekuatannya jauh lebih tinggi dibandingkan
 keilmuan dari daerah lain. Mereka juga mampu mengenal mahluk halus
 tingkat tinggi, sehingga bisa mempunyai khodam ilmu kelas atas, juga
 jimat dan pusaka berkesaktian tinggi.

 Di negara India dan sekitarnya, yang hingga saat ini masih tetap
 merupakan wilayah dengan budaya kebatinan dan spiritual nomor 1
 tertinggi di dunia, ada banyak sekali ajaran tentang ilmu gaib dan
 ilmu khodam (penyatuan manusia dengan roh lain sebagai sumber
 kesaktian). Penyatuan yang paling tinggi antara manusia dengan roh
 lain adalah berupa penitisan Dewa ke dalam diri seseorang, seperti
 penitisan Dewa Wisnu ke dalam diri Prabu Kresna (Dewa Wisnu juga
 pernah menitis ke dalam diri Prabu Airlangga, raja kerajaan Kediri,
 dan Prabu Siliwangi, raja kerajaan Pajajaran).
 Penitisan itu menghasilkan kesaktian dan kewaskitaan yang luar biasa,
 bahkan sejak si manusia tersebut masih kecil dan belum belajar ilmu
 kesaktian. Penitisan itu tidak termasuk sebagai ilmu khodam, tetapi
 dasar kekuatan ilmunya sama, yaitu roh gaib lain. Manusia yang
 bersangkutan disebut 'Manusia Titisan Dewa'.

 Yang berlatar belakang agama Budha kebanyakan bersifat kombinasi
 tenaga dalam, kebatinan dan spiritual, yang diolah dengan tata cara
 meditasi seperti yang diajarkan dalam agama Budha. Dalam meditasi
 mereka, mantra-mantra dibacakan / diwirid dengan bunyi intonasi khusus
 yang bisa membuka dan mengaktifkan cakra-cakra tubuh. Nada-nada
 intonasi tersebut juga dapat digunakan untuk menyerang mahluk halus
 dan menembus pagaran gaib lawan. Keilmuan gaib mereka biasanya tidak
 ditujukan untuk menyerang atau menyakiti, karena didasarkan pada
 ajaran cinta kasih Budha, tetapi bersifat menangkal, menenggelamkan /
 menghapuskan keampuhan ilmu gaib lawan.

 Ilmu gaib dan khodam di tanah Jawa (termasuk Sunda) awalnya banyak
 berdasarkan pada kekuatan kebatinan dan spiritual asli masyarakat
 setempat, tetapi dalam perkembangannya juga banyak mengadaptasi
 keilmuan yang berlatar belakang agama Hindu dan Budha sebagai agama
 masyarakat pada masa itu. Setelah berkembangnya agama Islam di tanah
 Jawa, muncul banyak keilmuan gaib yang mantranya berbahasa Arab, dan
 keilmuan asli setempat banyak yang dibelokkan menjadi bernuansa agama
 Islam (disebut keilmuan Sunda Islam dan Islam kejawen) yang malah
 menjadikan kekuatan gaibnya menurun karena sugestinya dirubah, menjadi
 tidak asli lagi seperti saat pertama ilmu itu diciptakan.

 Keilmuan gaib Arab bersifat murni sebagai ilmu gaib dan ilmu khodam
 dan variasi ilmunya banyak sekali, tetapi kekuatannya tidak setinggi
 keilmuan gaib yang asli Jawa atau Sunda atau yang dari India, Hindu
 atau Budha, karena tidak dilandasi kekuatan kebatinan / spiritual yang
 tinggi, hanya mengandalkan kekuatan sugesti mantra / amalan gaib. Di
 Eropa dan Afrika juga banyak digunakan ilmu gaib, tetapi kadar
 kekuatannya masih di bawah ilmu sihir Arab dan variasi ilmunya tidak
 sebanyak ilmu sihir Arab.

 Kekuatan ilmu gaib yang murni bersifat ilmu gaib, secara rata-rata
 sama, tetapi pada prakteknya kekuatannya tergantung pada kekuatan
 sugesti dan kekuatan khodam masing-masing penggunanya. Banyaknya
 variasi / koleksi ilmu seringkali menjadi ukuran kehebatan keilmuan
 seseorang dibandingkan orang lain. Kekuatan ilmu gaib yang murni
 bersifat ilmu gaib (mengandalkan kekuatan sugesti dan khodam) biasanya
 secara umum kekuatan ilmunya jauh lebih rendah dibandingkan kekuatan
 ilmu yang didasari kekuatan kebatinan / spiritual, apalagi bila orang
 itu juga berkhodam.

 Di Indonesia, terutama di Jawa, sehubungan dengan penyebaran agama
 Islam, istilah ilmu sihir, tenung dan nujum sudah disingkirkan dan
 dianggap sesat, dan digantikan dengan ilmu gaib dan ilmu khodam
 bernuansa Islam yang dianggap halal (tetapi istilah ilmu gaib dan
 ilmu khodam pun seringkali ditutup-tutupi karena ada yang menganggap
 syirik / musyrik, sehingga istilahnya disamarkan dan disamakan dengan
 ilmu kebatinan rohani / karomah). Penggunaan mahluk halus sebagai
 khodam ilmu pun dibagi dalam 2 pengertian, yaitu mahluk halus umum
 (disebut jin kafir) yang dianggap haram penggunaannya dan mahluk halus
 yang sudah di-Islamkan (jin Islam) yang sering dianggap halal.


 Dalam hubungannya dengan budaya Islam di Jawa, aliran keilmuan gaib
 terbagi dalam 3 aliran besar, yaitu Aliran Kejawen, Aliran Hikmah dan
 Aliran Islam Kejawen.

 Keilmuan gaib dalam Aliran Kejawen masih menggunakan amalan-amalan
 yang asli berbahasa Jawa, sebagiannya merupakan ilmu-ilmu tua yang
 masih asli dan diturunkan secara turun-temurun menjadi ilmu keluarga.
 Namun kadar kekuatannya sudah tidak lagi sekuat ilmu aslinya karena
 dalam menekuninya tidak lagi berdasarkan kebatinan jawa dan sudah
 tidak lagi dilakukan cara-cara berat yang sama dengan aslinya dulu,
 misalnya laku puasanya tidak lagi puasa ngebleng, tetapi hanya puasa
 biasa saja dari subuh sampai mahgrib atau hanya puasa berpantang
 makanan tertentu saja.

 Keilmuan gaib dalam Aliran Hikmah banyak berkembang di kalangan
 pesantren dan perguruan-perguruan silat berlatar belakang agama Islam
 dengan ciri khas doa / amalan ilmu berbahasa Arab (kebanyakan diambil
 dari ayat-ayat Al-Quran). Keilmuan ini didasarkan pada penghayatan
 ketuhanan dalam agama Islam.

 Keilmuan gaib aliran Islam Kejawen adalah ilmu gaib kejawen yang
 dilakukan oleh penganut agama Islam, yang dalam prakteknya ilmu gaib
 kejawen itu sudah ditambahkan dengan basmalah dan kalimat syahadat
 (supaya terkesan bernuansa agama Islam dan tidak dibilang sesat), yang
 seringkali menyebabkan kekuatan gaibnya menurun menjadi tinggal
 sepertiganya saja (karena sugestinya dirubah). Misalnya amalan gaib
 kejawen yang awalan pembukanya aslinya berbunyi Hong ........ ,
 kemudian diganti dengan Bismillah ........... , atau yang aslinya
 menyebut Kakang Kawah Adi Ari-ari ........ , kemudian diganti dengan
 kalimat syahadat.

 Dalam hubungannya dengan budaya Islam, terutama di Jawa, ilmu-ilmu
 gaib, ilmu gaib kejawen dan ilmu-ilmu kebatinan seringkali dikatakan
 sesat / musryk / syirik, dan dikonotasikan sebagai ilmu-ilmu
 perdukunan atau disamakan dengan budaya animisme / dinamisme. Di sisi
 lain, semua keilmuan gaib dan kegaiban yang dilakukan oleh tokoh-tokoh
 agama Islam dianggap sebagai karomah, dan ilmu-ilmu gaib yang
 menggunakan amalan-amalan bernuansa agama Islam sering disebut sebagai
 "Ilmu Allah" (namun ada pihak-pihak yang mengkritisi istilah
 tersebut, apakah ilmu itu diajarkan oleh Allah ?, apakah Allah
 menggunakan ilmu gaib untuk menciptakan kegaiban ? ).

 Ilmu gaib dan berkhodam dalam aliran kejawen dan aliran Islam kejawen,
 cara mendapatkannya dan dalam penggunaannya banyak yang masih
 mengikuti budaya lama, yaitu masih harus dilakukan dengan cara
 berpuasa, menyepi, tirakat, sesaji kembang, tumpengan, dsb. Ilmu gaib
 dan berkhodam dalam aliran Islam lebih praktis, seringkali hanya perlu
 puasa ringan dan mewirid amalan gaibnya saja (walaupun harus
 berjam-jam melakukannya), ada juga yang hanya perlu membaca syahadat
 saja untuk mendapatkannya dan menggunakan sesaji minyak arab dalam
 penggunaannya.

 Di Arab Saudi, negara kiblat agama Islam, keberadaan ilmu-ilmu gaib
 sudah tidak kelihatan lagi sehubungan dengan adanya larangan
 penggunaannya dalam agama mereka, tetapi di negara-negara Arab lain
 ilmu-ilmu tersebut masih berkembang dan masih banyak digunakan. Justru
 ilmu-ilmu itulah yang sering dijadikan alat untuk menarik pengikut,
 sehingga kemudian berkembang suatu pandangan (sampai sekarang), bahwa
 seorang tokoh agama akan terkenal atau dianggap istimewa (memiliki
 karomah) jika orang itu menguasai keilmuan gaib atau kesaktian gaib.
 Jika tidak, maka orang itu akan dianggap biasa saja, tidak ada
 keistimewaannya.

Jejak Wangsa Bhujangga Waisnawa

Jejak Panjang Wangsa Bhujangga Waisnawa di Bali

Jejak Panjang Wangsa Bhujangga Waisnawa di Bali

Sekte Waisnawa dan Tri Sadaka
Menurut Dr. Goris, sekte-sekte yang pernah ada di Bali setelah abad IX meliputi Siwa Sidhanta, Brahmana, Resi, Sora, Pasupata, Ganapatya, Bhairawa, Waisnawa, dan Sogatha (Goris, 1974: 10-12).
Di antara sekte-sekte tersebut, yang paling besar pengaruhnya di Bali sekte Siwa Sidhanta. Ajaran Siwa Sidhanta termuat dalam lontar Bhuanakosa.
Sekte Siwa memiliki cabang yang banyak. Antara lain Pasupata, Kalamukha, Bhairawa, Linggayat, dan Siwa Sidhanta yang paling besar pengikutnya. Kata Sidhanta berarti inti atau kesimpulan. Jadi Siwa Sidhanta berarti kesimpulan atau inti dari ajaran Siwaisme. Siwa Sidhanta ini megutamakan pemujaan ke hadapan Tri Purusha, yaitu Parama Siwa, Sada Siwa dan Siwa. Brahma, Wisnu dan dewa-dewa lainnya tetap dipuja sesuai dengan tempat dan fungsinya, karena semua dewa-dewa itu tidak lain dari manifestasi Siwa sesuai fungsinya yang berbeda-beda. Siwa Sidhanta mula-mula berkembang di India Tengah (Madyapradesh), yang kemudian disebarkan ke India Selatan dipimpin oleh Maharesi Agastya.
Sekte Pasupata juga merupakan sekte pemuja Siwa. Bedanya dengan Siwa Sidhanta tampak jelas dalam cara pemujaannya. Cara pemujaan sekte Pasupata dengan menggunakan Lingga sebagai simbol tempat turunnya/berstananya Dewa Siwa. Jadi penyembahan Lingga sebagai lambang Siwa merupakan ciri khas sekte Pasupata. Perkembangan sekte Pasupata di Bali adalah dengan adanya pemujaan Lingga. Di beberapa tempat terutama pada pura yang tergolong kuno, terdapat lingga dalam jumlah besar. Ada yang dibuat berlandaskan konsepsi yang sempurna dan ada pula yang dibikin sangat sederhana sehingga merupakan lingga semu.
Adanya sekte Waisnawa di Bali dengan jelas diberikan petunjuk dalam konsepsi Agama Hindu di Bali tentang pemujaan Dewi Sri. Dewi Sri dipandang sebagai pemberi rejeki, pemberi kebahagiaan dan kemakmuran. Di kalangan petani di Bali, Dewi Sri dipandang sebagai dewanya padi yang merupakan keperluan hidup yang utama. Bukti berkembangnya sekte Waisnawa di Bali yakni dengan berkembangnya warga Rsi Bujangga.
Adanya sekte Bodha dan Sogatha di Bali dibuktikan dengan adanya penemuan mantra Bhuda tipeyete mentra dalam zeal meterai tanah liat yang tersimpan dalam stupika. Stupika seperti itu banyak diketahui di Pejeng, Gianyar. Berdasarkan hasil penelitian Dr. W.F. Stutterheim mentra Budha aliran Mahayana diperkirakan sudah ada di Bali sejak abad ke 8 Masehi. Terbukti dengan adanya arca Boddhisatwa di Pura Genuruan, Bedulu, arca Boddhisatwa Padmapani di Pura Galang Sanja, Pejeng, Arca Boddha di Goa Gajah, dan di tempat lain.
Sekte Brahmana menurut Dr. R. Goris seluruhnya telah luluh dengan Siwa Sidhanta. Di India sekte Brahmana disebut Smarta, tetapi sebutan Smarta tidak dikenal di Bali. Kitab-kitab Sasana, Adigama, Purwadigama, Kutara, Manawa yang bersumberkan Manawa Dharmasastra merupakan produk dari sekte Brahmana.
Mengenai sekte Rsi di Bali, Goris memberikan uraian yang sumir dengan menunjuk kepada suatu kenyataan, bahwa di Bali, Rsi adalah seorang Dwijati yang bukan berasal dari Wangsa (golongan) Brahmana. Istilah Dewarsi atau Rajarsi pada orang Hindu merupakan orang suci di antara raja-raja dari Wangsa Ksatria.
Pemujaan terhadap Surya sebagai Dewa Utama yang dilakukan sekte Sora, merupakan satu bukti sekte Sora itu ada. Sistem pemujaan Dewa Matahari yang disebut Suryasewana dilakukan pada waktu matahari terbit dan matahari terbenam menjadi ciri penganut sekte Sora. Pustaka Lontar yang membentangkan Suryasewana ini juga terdapat sekarang di Bali. Selain itu yang lebih jelas lagi, setiap upacara agama di Bali selalu dilakukan pemujaan terhadap Dewa Surya sebagai dewa yang memberikan persaksian bahwa seseorang telah melakukan yajnya.
Sekte Gonapatya adalah kelompok pemuja Dewa Ganesa. Adanya sekte ini dahulu di Bali terbukti dengan banyaknya ditemukan arca Ganesa baik dalam wujud besar maupun kecil. Ada berbahan batu padas atau dai logam yang biasanya tersimpan di beberapa pura. Fungsi arca Ganesa adalah sebagai Wigna, yaitu penghalang gangguan. Oleh karena itu pada dasarnya Ganesa diletakkan pada tempat-tempat yang dianggap bahaya, seperti di lereng gunung, lembah, laut, pada penyebrangan sungai, dan sebagainya. Setelah zaman Gelgel, banyak patung ganesha dipindahkan dari tempatnya yang terpencil ke dalam salah satu tempat pemujaan. Akibatnya, patung Ganesa itu tak lagi mendapat pemujaan secara khusus, melainkan dianggap sama dengan patung-patung dewa lain.
Sekte Bhairawa adalah sekte yang memuja Dewi Durga sebagai Dewa Utama. Pemujaan terhadap Dewi Durga di Pura Dalem yang ada di tiap desa pakaman di Bali merupakan pengaruh dari sekte ini. Begitu pula pemujaan terhadap Ratu Ayu (Rangda) juga merupakan pengaruh dari sekte Bhairawa.
Sekte ini menjadi satu sekte wacamara (sekte aliran kiri) yang mendambakan kekuatan (magic) yang bermanfaat untuk kekuasaan duniawi. Ajaran Sadcakra, yaitu enam lingkungan dalam badan dan ajaran mengenai Kundalini yang hidup dalam tubuh manusia juga bersumber dari sekte ini.
Pada tahun Saka 910 (988 M), Bali diperintah raja Dharma Udayana. Permaisurinya berasal dari Jawa Timur bernama Gunapria Dharmapatni (putri Makutawangsa Whardana). Pemerintahan Dharma Udayana dibantu beberapa pendeta yang didatangkan dari Jawa Timur. Antara lain Mpu Kuturan. Mpu Kuturan diserahi tugas sebagai ketua majelis tinggi penasehat raja dengan pangkat senapati, sehingga dikenal sebagai Senapati Kuturan.
Seperti telah diuraikan sebelumnya, sebelum pemerintahan suami istri Dharma Udayana/Gunapria Dharmapatni (sejak awal abad ke 10), di Bali telah berkembang berbagai sekte. Pada mulanya sekte-sekte tersebut hidup berdampingan secara damai. Lama-kelamaan justru sering terjadi persaingan. Bahkan tak jarang terjadi bentrok secara fisik. Hal ini dengan sendirinya sangat menganggu ketentraman Pulau Bali. Sehubungan dengan hal tersebut, raja lalu menugaskan kepada Senapati Kuturan untuk mengatasi kekacauan itu. Atas dasar tugas tersebut, Mpu Kuturan mengundang semua pimpinan sekte dalam suatu pertemuan yang dilakukan di Bataanyar (Samuan Tiga). Pertemuan ini mencapai kata sepakat dengan keputusan Tri Sadaka dan Kahyangan Tiga.
Nah, terkait dengan Bujangga Waisnawa sampai masuk ke Bali, sejarahnya tentu harus dicari lagi. Ternyata, walaupun tidak khusus juga terdapat di buku Leluhur Orang Bali karangan I Nyoman Singgih Wikarman tentang perjalanan Maharsi Markandya ke Bali.
Perjalanan Beliau ke Bali pertama menuju Gunung Agung. Di sanalah maharsi dan murid-muridnya membuka hutan untuk pertanian. Tapi sayang, murid-muridnya kena penyakit, banyak di antaranya meninggal. Akhirnya Beliau kembali ke Pasramannya di Gunung Raung. Di sanalah beryoga, ingin tahu apa sebabnya hingga bencana menimpa para pengikutnya. Hingga mendapat pawisik bahwa terjadinya bencana itu adalah karena Beliau tidak melaksanakan upacara keagamaan sebelum membuka hutan itu.
Setelah mendapat pawisik, Maharsi Markandya pergi kembali ke Gunung Tahlangkir (Tohlangkir) Bali. Kali ini mengajak serta pengikut sebanyak 400 orang. Sebelum mengambil pekerjaan, terlebih dahulu menyelenggarakan upacara ritual, dengan menanam Panca dhatu di lereng Gunung Agung itu. Demikianlah akhirnya semua pengikutnya selamat. Maka, itu wilayah ini lalu dinamai Besuki, kemudian menjadi Besakih, yang artinya selamat. Tempat maharsi menanam Panca dhatu, lalu menjadi pura, yang diberi nama Pura Besakih.
Entah berapa lamanya Maharsi Markandya berada di sana, lalu Beliau pergi menuju arah Barat dan sampai di suatu daerah yang datar dan luas, di sanalah lagi merabas hutan. Wilayah yang datar dan luas ini lalu diberi nama Puwakan. Kemungkinan dari kata Puwakan ini lalu menjadi Swakan dan terakhir menjadi subak.
Di tempat ini Rsi Markandya menanam jenis-jenis bahan pangan. Semuanya bisa tumbuh dan menghasilkan dengan baik.
Oleh karenanya tempat itu juga disebut Sarwada yang artinya serba ada. Keadaan ini bisa terjadi karena kehendak Sang Yogi. Kehendak bahasa Balinya kahyun atau adnyana. Dari kata kahyun menjadi kayu. Kayu bahasa Sansekertanya taru, kemungkinan menjadi Taro. Taro adalah nama wilayah ini kemudian.
Di wilayah Taro ini Sang Yogi mendirikan sebuah pura, sebagai kenangan terhadap pasraman Beliau di Gunung Raung. Puranya sampai sekarang disebut Gunung Raung. Di sebuah bukit tempatnya beryoga juga didirikan sebuah pura yang kemudian dinamai Pura Payogan, yang letaknya di Campuan Ubud. Pura ini juga disebut Pura Gunung Lebah.
Berikutnya Rsi Markandya pergi ke Barat dari Payogan itu, dan sampai di sana juga membangun sebuah pura yang diberi nama Pura Murwa dan wilayahnya diberi nama Pahyangan, yang sekarang menjadi Payangan.
Orang-orang Aga, murid Sang Yogi, menetap di desa-desa yang dilalui. Mereka bercampur dan membaur dengan orang-orang Bali Asli. Mereka mengajarkan cara bercocok tanam yang baik, menyelenggarakan yajna seperti yang diajarkan oleh Rsi Markandya. Dengan demikian Agama Hindu pun dapat diterima dengan baik oleh orang-orang Bali Asli itu.
Sebagai Rohaniawan (Pandita), orang Aga dan Bali Mula, adalah keturunan Maharesi Markandya sendiri yang disebut Warga Bujangga Waisnawa.
Dalam zaman raja-raja berikutnya, Bujangga Waisnawa ini selalu menjadi Purohita mendampingi raja, ada yang berkedudukan sebagai Senapati Kuturan, seperti Mpu Gawaksa dinobatkan menjadi Senapati Kuturan oleh Sang Ratu Adnyanadewi tahun 1016 Masehi, sebagai pengganti Mpu Rajakerta (Mpu Kuturan). Ratu ini pula yang memberikan kewenangan kepada Sang Guru Bujangga Waisnawa untuk melakukan pacaruan Walisumpah ke atas. Karena sang pendeta mampu membersihkan segala noda di bumi ini. Lalu Mpu Atuk yang masih keturunan Rsi Markandya, di masa pemerintahan Sri Sakala Indukirana (1098 M), dinobatkan sebagai Senapati Kuturan dari Keturunan Bujangga Waisnawa.
Pada masa pemerintahan Suradhipa (1115-1119 M), yang dinobatkan sebagai Senapati Kuturan dari keturunan Sang Rsi Markandya adalah Mpu Ceken, kemudian diganti oleh Mpu Jagathita. Kemudian ketika pemerintahan Raghajaya (1077 M), yang diangkat sebagai Senapati Kuturan yakni Mpu Andonaamenang, dari keluarga Bujangga Waisnawa. Demikianlah seterusnya.
Ketika pemerintahan raja-raja selanjutnya, selalu saja ada seorang Purohita Raja atau Dalem yang diambil dari keluarga Bujangga Waisnawa, keturunan Maharsi Markandya. Sampai terakhir masa pemerintahan Dalem Batur Enggong di Bali. Ketika itu yang menjadi Bagawanta Dalem, mewakili sekte Waisnawa, adalah dari Bujangga Waisnawa pula dari Griha Takmung. Namun sayang dan mungkin sudah kehendak Dewata Agung, terjadi kesalahan Sang Guru Bujangga, di mana Beliau selaku Acarya (Guru) telah mengawini sisyanya sendiri yakni Putri Dalem yaitu Dewa Ayu Laksmi. Atas kesalahan ini sang Guru Bujangga Waisnawa akan dihukum bunuh. Tapi Beliau segera menghilang dan kemudian menetap di wilayah Tabanan.
Semenjak kejadian inilah Dalem tidak lagi memakai Bhagawanta dari Bujangga Waisnawa keturunan Sang Rsi Markandya. Setelah kedatangan Danghyang Nirartha di Bali, posisi Bhagawanta diambil alih Brahmana Siwa dan Budha. Selesailah sudah peranan Bujangga Waisnawa sebagai pendamping raja di Bali. Bahkan setelah strukturisasi masyarakat Bali ke dalam sistem wangsa oleh Danghyang Nirartha atas restu Dalem, keluarga Bujangga Waisnawa tidak dimasukkan lagi sebagai Warga Brahmana.
Namun sisa-sisa kebesaran Bujangga Waisnawa dalam peranannya sebagai pembimbing masyarakat Bali, terutama dari kalangan Bali Mula dan Bali Aga masih dapat kita lihat sampai sekarang. Pada tiap-tiap pura dari masyarakat Bali aga/mula itu, selalu ada palinggih sebagai Sthana Bhatara Sakti Bhujanga. Alat-alat pemujaan selalu siap pada palinggih itu. Orang-orang Bali aga/mula, cukup nuhur tirtha (mohon air suci), terutama tirtha pangentas melalui palinggih ini. Sampai sekarang para warga ini tidak berani mempergunakan atau nuhur Pedanda Siwa.
Warga Bujangga Waisnawa, keturunan Maharsi Markandya sekarang telah tersebar di seluruh Bali. Pura Padarmannya di sebelah Timur Penataran Agung Besakih, sebelah Tenggara Padharman Dalem. Demikian juga pura kawitannya tersebar di seluruh Bali, seperti di Takmung Kabupaten Klungkung, Batubulan Kabupaten Gianyar, Jatiluwih Kabupaten Tabanan dan lain-lain tempat lagi.
Begitulah Maharsi Markandya, leluhur Warga Bujangga Waisnawa penyebar Agama Hindu pertama di Bali, dan warganya sampai sekarang ada saja yang melaksanakan Dharma Kawikon dengan gelar Ida Rsi Bujangga Waisnawa.

Sabtu, 21 Desember 2013

MANTRA AJIAN SEGORO MACAN

"ONO KEDHAWANG MIBER ING TAWANG AWANG AWANG, MACAN SEWU ING MRIPATKU, MACAN PUTIH ING DHADHAKU, GELAP NGAMPAR SUWARAKU, DURGO MENDHAK KOLO MENDHAK TEKO KEDHEP TEKO WEDI, TEKO ASIH MUNGSUHKU, KODHENG MADHEP MANUT SAKAREPKU, SOKO KERSANING ALLAH"

Tatacara: puasa mutih 7 hari 7 malam dan patigeni semalam. Puasa dimulai pada hari Senin Pahing. Untuk matek aji caranya mudah: baca mantra ini diucapkan dalam hati.

Fungsinya untuk pelengkap berbagai ajian kesaktian yang dimiliki oleh kalangan pendekar. Ajian ini tidak akan dikeluarkan bila kita tidak terdesak dan tidak dalam kondisi sangat terpaksa.
Sebab bila ajian ini dikeluarkan, maka dengan sekali gertakan maka nyali lawan akan langsung ciut, bertekuk lutut tidak berdaya. Apapun yang kita perintahkan padanya akan menurut seperti kerbau yang sudah dicocok hidungnya.

MANTRA AJI GENDRING SONGGO BUWONO

"BISMILLAHIRROHMANIRROHIM INGSUN MATEK AJI KU SONGGO BUWONO AJI PANGABARAN SAKING SANG HYANG ISMOYO SONGGO KU SONGGO LANGIT SONGGO KU SONGGO BUMI SONGGO KU SONGGO SAMUDERO PLAWESAN JOYO WINANGUN DUGDENG ADI JOYO SONGGO DUNYO ING SUMIRAB BADANINGSUN KALIMAH SUCI KALIMOSODO LAILAHAILALLAHU MUHAMMADARASULULLAH"

Tatacara: Bagi mereka yang telah peka cukup dibaca sebanyak 77x setiap jam 12 malam (7 hari) Jika ingin berkomunikasi dengan khodam keilmuan ini silahkan lakukan langkah berikut:
Baca Fatihah untuk Nabi Muhammad SAW (7 kali) Baca Fatihah untuk Malaikat muqorrobin (7 kali) Baca Fatihah untuk Syech Abdul Qodir Jailany (7 kali) Baca Fatihah untuk Kanjeng Ibu Ratu Kencana Sari (7 kali) Baca Fatihah untuk Kanjeng Sunan Kalijogo (7 kali) Baca Fatihah untuk Prabu Angling Dharma (7 kali)
Untuk selanjutnya biarkan khodam ilmu ini yang membimbing anda.

MANTRA AJI JAGAT PAMUNGKAS

"INGSUN AMATAK AJIKU JAGAD PAMUNGKAS.
GUNTUR NANG TANGANKU.
KILAT NANG MRIPATKU.
ONO BUMI LANGITE JAGAD.
KABEH AJI TUNDUK MARANG AJIKU.
KABEH JIN HANCUR MARANG AJIKU.
JAGAD SURYO NANG DODOKU.
YA AJIKU JAGAD PAMUNGKAS.
LANGIT,SURYO,BIMOSAKTI DADI SIJI.
LAN KERSANING KEKUATAN ALLOH
SIBGOTOLLAH 7X LAHAULA WALA QUWATA ILLABILLAHIL ‘AYIYIL ‘ADHIIM. (MANTRA DIBACA 7X SETIAP HABIS SALAT)"

Tatacara: puasa 7 hari mutih mulai hari anggoro kasih selasa kliwon buka jam 12 malam. lanjut puasa ngerowot 3 hari.Selama puasa sehabis baca mantra tambahkan baca lahaula wala quwata illabillahil ‘ayiyil ‘adhiim 70x. (tahan napas di dada atau perut)

Fungsinya Cabut Ilmu seseorang : caranya Baca 1x lalu sedot dengan tarikan napas yang dalam (visualisasi ilmu orang tersebut tersedot dan arahkan energinya ke badan atau diri kita atau ke benda dan kunci).Lawan santet : Puasa semalam dan di wiridkan semalam suntuk sebelumnya salat hajat dulu. Paginya buncengan bagikan ke anak yatim.utk pengobatan juga bisa ,cuma caranya kalo utk pengobatan[kirim dulu sama yg sakit misalnya wa illa hadaitan filjasadi ruuhi…….nama yg sakit…al fatiaha .terus tangan kita tempelin yg ditempat yg sakit.Untuk menundukkan Musuh yang sakti baca dalam hati 1x tahan napas.

MANTRA AJIAN TAMENG WOJO

"Bismillahirrohmanirrohiim, Niat Ingsun amatek Aji Tameng Waja Klambiku Wesi Kuning, Sekilan Segemblok Kandhele Ototku Kawat Balungku Wesi Kulitku Tembaga, Dagingku Waja Kep-Karekep Barukut, Kinemulan Waja inten Mekangkang Sacengkal, Sakilan, Sadempu Sakehing braja datan nedasi Mimis bedhil nglumpruk kadi kapuk Tan tumowo ing badanku Saka kersaning Allah,… Ya Qowiyyu, Ya Matiin (3x)"

Tatacara: puasa 41 hari tanpa putus, puasa ini dilakukan sebanyak 3x berturut-turut. Selama menjalani puasa, setiap tengah malam habis sholat tahajjud membaca mantra rapalan Ajian ini sebanyak 21x kali pada seember air yang selanjutnya digunakan untuk mandi keramas. Selama menjalani puasa, setiap habis sholat fardhlu (Isya’) dilanjutkan dengan Sholat Sunat dan membaca istighfar sebanyak 1000 x agar jiwa benar-benar bersih dari niat jahat.

Fungsinya untuk kekuatan badan dan kekebalan. Tubuh kita akan dilapisi oleh tameng besi baja yang begitu hebat.

MANTRA AJIAN KALAJENGKING WULUNG

"Bismillaahirrohmaanirrohiim
Sang kalajengking wulung
Adi nira tak jaluk kekuatane
Jukuten atine si jabang bayine..…..binti..…..
Yen lagi turu tangekna
Yen wis tangi kongkon dodok
Yen wis dodok kongkon ngadeg
Gawanen mene ning arepan ingsun
Ikih gaman ira sada lanang
Yen kanggo gebug gunung gugur
Kanggo gebug segara asat
Kanggo gebug atine si jabang bayine…….binti.…….
Maka teka welas teka asih
Teka madep teka idep si jabang bayine……..binti…….
Maring badan ingsun
Ya ingsun sing diarani janur wenda
Laa ilaha ilallaah Muhammad rasululloh"

Tatacara:
- Di puasai puasa Mutih selama 21 hari ditambah puasa patigeni selama 1 hari 1 malam, puasanya dimulai pada hari kelahiran Anda. Kalau tidak tahu hari lahir Anda hari apa, puasanya dimulai pada hari Rabu. Dan sebelumnya mandi keramas terlebih dahulu pada hari pertama puasa.
- Selama puasa pada tengah malam Anda shalat Taubat, shalat Hajat Khusus, dilanjutkan silsilah dan membaca manteranya sebanyak 21 x.
- Selama puasa setelah selesai shalat lima waktu manteranya dibaca sebanyak 7 x. Dan setelah selesai puasanya setelah selesai shalat lima waktu manteranya dibaca sebanyak 2 x saja secara istiqomah. Bila mau tidur, mandi dan makan manteranya dibaca, terus nama perempuan yang dimaksud diajak.

Fungsinya untuk mengambil kekuatan gaib Kala Jengking Wulung dan juga pusaka Sada Lanang. Sehingga orang yang menjadi sasaran pengasihan ini menjadi mabuk kepayang tergila-gila pada pengirim pengasihan ini. Anda tidak perlu datang kerumahnya orang yang dituju, karena bila pengasihan ini sudah bereaksi maka ia akan datang sendiri kerumahnya Anda.

MANTRA ARYA BANGAH

"wiyak bumi wiyak langit, jagat sunwung tan ana bebayane, ingsun sejatine manungsa, kang karsa bis sekulem,tan ana bebayane, tikur,tikur, tekane tunduk, mulihe ndungkul"

Tatacara: di baca saat mengijakkan kaki je dalam hutan, sambil menghentakkan kaki 3 x.

Fungsinya untuk menyingkairkan binatang buas di hutan dan juga jika masuk ketempat hutan hutan yang masih angker.

MANTRA PUKULAN PEMINGSAN

"Bismillaahirrohhmanirrahim allahu Akbar, Nur arah Nur wantah rubuh lumpuh keuban palune Gusti Allah. Ojo pisan-pisan tangi yen durung tak gugah nganggo tanganku kiwo. Laailahaillallaah Muhammadarrasulullah"

Tatacara:
• Bacalah 1 kali mantra ini dan tiupkan pada tangan kanan
• Berpuasa mutih 7 hari. Dalam masa puasa, tiap selesai shalat fardhu. baca mantra ini 21 kali :
• Lalu pukulkan. Jika pingsan. sadarkan ia dengan memukulkan tangan kiri anda.

Fungsinya untuk melawan musuh yang ingin berbuat jahat kepada anda. Juga dapat mengeraskan pukulan anda sehingga musuh dapat jatuh pingsan.

MANTRA ILMU MERAGA SUKMA

"Bismillaahirramaanirrahiim. Shalallaahu alaihi wasallam. Allahumma kulhuaallah. Zat gumilang tanpa sangkan, liyep cut-prucut sukmaningsun metu saka raga gampang sarining gampang sak niatku, slamet saka kersane Allah. Laailallaillallah Muhammadarrasuulullah"

Tatacara:
• Memiliki pagaran badan dan dapat konsentrasi dengan mudah
• Berpuasa mutih 7 hari. Dalam masa puasa, tiap selesai shalat fardhu. baca mantra ini 21 kali :
• Jika akan menggunakan. berbaring dengan tenang. mata terpejam dan baca mantra tersebut 3 kali. Ucapkan gema “Allah” pada batin anda sampai anda terasa melayang-layang.
• Bukalah mata dan berjalanlah secara astral menembus tembok.

Fungsinya Bepergian secara roh ke alam ghaib ataupun alam nyata.

MANTRA PENGAWAL SERIBU MALAIKAT

"AIlahumma ma’ allaahi naashirun a’daa – un sarhun Qadirun aamiinun ya rabbal aalamiin, washallaahu ‘alaa sayyidinaa Muhammadin wa-aalihi washahbihi ajma’iin birahmatika ya arhamar-rahimiin"

Tatacara: Bacalah do’a ini tiap selesai sholat fardhu.

Fungsinya Memiliki pengawal 1000 malaikat pelindung dari semua seranga makhluk astral dan gangguan dari jin dan sebagainya.

MANTRA PENGASIHAN AJI GRIYA AGUNG

"BISMILLAAHIR RAHMAANIR RAHIIM.
KULLU AMRIN DZI BAALIN MIN SHAHBIHII WA AHBAABIHII MINAL KHAIRI, DZIKRULLAAHI”. NIAT INGSUN AMATEK AJIKU GRIYA AGUNG, SUN SEBULAKE ING PUCUK RAMBUTE SI…(NAMA DIA). LUWIH SI…(NAMA DIA). MUGI-MUGI ASIH ING AWAK SLIRAKU"

Tatacara: mantra diatas merupakan gabungan islam-kejawen sebaiknya untuk mempercepat keberhasilan anda puasa 1 hari terlebih dahulu (lebih baik saat hari weton kelahiran anda), lalu anda rapal (sebaiknya anda hafalkan jangan membaca dari text). Saat bertemu / bertatapan pandang baca mantra diatas (bisa dalam hati). Bahasa jawanya kalau di Indonesiakan kurang lebih demikian.
“ Saya berniat membangkitkan aji GRIYA AGUNG, kutiupkan dipucuk rambutnya ..(sebut namanya yang dituju) , lebih ..(sebut namnya yang dituju). Semoga menjadi senang kepada ku.

Fungsinya untuk menakhlukkan hati para wanita dengan menggunakan media pandangan anda.

MANTRA AJI MAHESA KRODHA

"Bismillahirromannirrohiim
Sun matek ajiku Mahesa Krodha, petak bumi tunggul manik kalimosodl. Sakabehing jagad padha kasat nyawiji ing manikmaya,
tumungkul ing telenging samodra sukma ya aku Mahesa Krodha, kang jumangkah rineksa sakbehing kodrattullah,
para nabi dalah para wali,
kawrangkanan malaikat sayuta.
Kabeh gawe wuleting kulit,
daging lan ototku,
gawe stosing braja balungku,
tan kena tinatas tan kena tinebas sakabehing pusaka,
ya jalaran aku dzat kang kasat,
kang ngratoni sakabehing sekti.
Lumpuh luruh sampyuh kowe para musuhku oleh dayane aji Mahesa Krodha.
Yahu Allah, yahu Allah, yahu Allah"

Tatacara: Puasa mutih selama 39 hari diteruskan ngableng dan pati geni hari ke 40. Pada hari ke 5, 7 dan 30 melakukan mandi suci di tengah malam.Air untuk sesuci (keramas) diambil dari 3 tempuran sungai (tiga tempat pertemuan sungai/sungai bercabang). Media sesuci ini dicampur dengan bunga setaman. Selama melakoni ilmu ini diharuskan merapal mantra di tengah malam di luar rumah ; ke arah timur, selatan, barat, dan utara (masing-masing 1 kali mantra).

Fungsinya untuk melindungi diri dari ancaman musuh jahat. Secara otomatis setelah membaca mantra tersebut akan merasa kekar dan mempunyai ilmu kanuragan yang ampuh.

MANTRA AJIAN PUKULAN JARAK JAUH

"Allohuma illa fata illa sayfi zulfaqor wollohu
Miwarohim muhitum
balhwa Quranum majidung fii lawhim mahfudz"

Tatacara: Puasa 7 Hari Dimulai Selasa KLIWON
Selama puasa baca mantra 21x sesudah Sholat Fardhu.

Fungsinya untuk pukulan jarak jauh menghasilkan musuh kesakitan panas dingin gatal kuncinya 1 yaitu niat.

MANTRA PELET SINDUKAN ( Kirim Mimpi Basah )

"SINDUKA SUNKALANTAKA KLINGKANG KLINGKING GULUKU SADA IKING WETENGKU SACIPLUKAN WOYAH WAYIH GODONG IRAS NIAT INGSUN PAN NGIRIM BANYU KENCANA SUKMA SEJATINE SI............. TI ILIR KEPASIR KUMBANG DAYA AWAK ING PANGARIKUN SUKMA SEJATINE SI................. WANATUL JIN"

Tatacara: Puasa mutih mulai hari Selasa Kliwon selama 7 hari 7 malam ditambah patigeni 1 hari 1 malam. Selama puasa setiap malam jam 12.00 membaca mantra.

Fungsinya untuk membuat orang yang kita tuju mimpi basah dengan kita. Cukup baca mantranya sebelum Anda tidur sambil membayangkan orang yang Anda tuju. lalu usahakan secepatnya untuk tidur,Dia mimpi Anda juga.

MANTRA AJI MACAN PUTIH

"NIYAT INGSUN AMATEK AJIKU AJI MACAN PUTIH.
GELAP SONGO GELAP SE'WU SUARA KU.
MACAN PUTIH ONO DADAKU.
YA AKU MACANE' ALLOOH.
LAA ILAAHA ILLALLOOH.
MUHAMMADUR-ROSUULULLOOH"

Tatacara: Puasa mutih 7hari 7malam ditutup dengan patigeni 2 hari 2 malam. Puasa dimulai hari Jum'at Pahing. Selama puasa mantra dibaca tiap diatas jam 12 malam di halaman rumah.

MANTRA LAMBUNG KARANG ( Menahan Lapar )

"Bismillahirrahamanirrahim
Cempla cempli gedhene Wetengku saciplukan bajang
Gorokanku sak dami aking
Kapan ingsun nuruti budine Aluamah
kudu amangan wareg Ngungakna mekkah madinah
Wareg tanpa manganapan ingsun nuruti budine Aluamah
kudu angombe Ngungakna segara kidul
Wareg tanpa angombe Laailahaillallah Muhammad Rasulullah"

Tatacara: Mandi keramas/jinabat untuk membersihkan diri dari segala macam kekotoran.Menjaga hawa nafsu. Baca mantra lambung karang ini sebanyak 7 kali setelah shalat wajib 5 waktu.

Fungsinya untuk menahan lapar dan dahaga. Dengan kata lain ilmu ini dapat sangat membantu bagi orang-orang yang masih ragu-ragu dalam melakoni puasa-puasa.

MANTRA AJIAN GEMBALA GENI

"Kuci-kuci omahku Gumbala Geni, Lurungku si Alas Agung, Ngarepku segara gunung, Latarku latar bengawan, Joganku jogan segara, Sapa sumedya tumerah ala marang aku, Kena katujawa bingleng, Teka bingleng teka bungleng saking kersane Allah"

Tatacara: Puasa mutih 3hari 3malam ditutup dngan patigeni 1 hari 1 malam. Puasa dimulai hari Selasa Kliwon.. Selama puasa mantra dibaca tiap diatas jam 12 malam sesudah shalat hajat.

Fungsinya untuk menolak dan kandungan kekuatannya mampu untuk mengembalikan atau merintangi kekuatan lain yang berasal dari lawan baik yang berasal dari manusia maupun kekuatan lain.

MANTRA MELAYU PENAMBAT KASIH

"Bismillahir Rahmanir Rahim, Cang cang setandang besi, Anak harimau setandang malam, Keras kalam menjadi besi, Keras siang hingga ke malam, Keras seperti besi khursaini, Panah batu, batu runtuh, Panah gunung, gunung runtuh, Panah selera dengan aku, Oh nyaman, oh berkat aku pakai, Dengan berkat La ilaha illa llah"

Mantra tersebut berguna untuk menambatkan wanita sang pujaan hati agar tidak serong karena terpuaskan dalam hubungan intim. Sebelum berhubungan intim, tubuh harus mandi dan memakai parfum yang harum. Mantra ini diucapkan satu kali oleh sang suami menjelang bersetubuh.