Jasmine Pinets: Saya Merasa Lebih Dihormati sebagai Perempuan setelah Masuk Islam

Jasmine Pinets duduk di tangga di luar mesjid yang ada di Union City, New Jersey, AS. Rambutnya yang berwarna burgundi tertutup rapat oleh jilbab berwarna putih yang diikat sedemikian rupa, sehingga membentuk lipatan ke belakang. Pinet mengungkapkan bagaimana ia merasa lebih dihormati sebagai perempuan setelah masuk agama Islam.

"Mereka tidak lagi menyapa saya dengan perkataan, 'Hei mami, apa kabar?' Tapi mereka akan menyapa saya, 'Helo, Kak?' dan mereka tidak akan memandang anda seperti memandang sebuah objek sex," ujar Pinet membuka percakapan tentang ikhwalnya memeluk agama Islam. Jasmine Pinet baru berusia 20 tahun. Ia adalah seorang gadis keturunan Amerika Latin. Sementara gadis-gadis seusianya mengenakan pakaian ketat dan menonjolkan pahanya seperti penyanyi Jennifer Lopez dan Christina Aguilera, Pinet dan beberapa rekannya justru mengenakan pakaian yang boleh dibilang modelnya sangat konservatif. :sound

Pinet adalah salah satu dari hampir setengah kaum perempuan keturunan Amerika Latin yang ada di Union City, New Jersey yang memilih masuk Islam dan sering datang ke masjid di kota itu.

Para mualaf itu mengatakan, keyakinan mereka bahwa Islam memperlakukan kaum perempuan dengan baik menjadi salah satu faktor yang paling banyak dijadikan alasan mereka masuk Islam. Selama ini, kritik yang bermunculan terhadap aturan memakai jilbab bagi kaum perempuan dalam Islam selalu menyebutkan aturan itu hanya membuat kaum perempuan tidak lebih sebagai 'properti'. Namun bagi para mualaf itu, dengan memakai jilbab mereka tidak lagi mendengar siulan dari laki-laki iseng ketika mereka sedang jalan-jalan.

"Mereka menghargai saya sebagai orang yang relijius dan lebih menunjukkan rasa hormatnya," ujar Jenny Yanez. "Mereka tidak akan menilai bahwa anda modis atau tidak modis," tambahnya. Sementara yang lainnya mengungkapkan, mereka sangat menyukai ajaran agama Islam yang menekankan pentingnya kesetiaan pada satu pasangan saja dan pada keluarga.

Meski harus diakui, pilihan para wanita Latin itu untuk masuk Islam kadang mengejutkan anggota keluarga mereka yang lain, bahkan ada yang menentangnya. Faktor penyebabnya, karena mereka hanya tahu sedikit soal Islam dan sering mendengar cerita soal Taliban dan kelompok ekstrim lainnya. Hal ini menimbulkan gambaran yang tidak akurat tentang Islam, ujar Leila Ahmed, seorang profesor bidang studi agama dan kewanitaan di Universitas Harvard.

"Saya sangat terkejut banyak orang yang berfikir bahwa Afghanistan dan Taliban mewakili citra wanita dan Islam. Apa yang sebenarnya terjadi adalah pembentukan kembali hubungan antara kaum perempuan dan Islam. Kita sedang berada pada tahap penting adanya pemikiran bahwa Islam terbuka bagi kaum perempuan. Para cendikiawan Muslim membaca kembali inti teks-teks dalam Islam, terutama dari Al-Quran sampai pada teks-teks yang berkaitan dengan hukum," papar Leila.

Pandangan-pandangan baru tentang perempuan dan Islam mungkin lebih umum di negara-negara seperti Amerika Serikat, dimana kaum perempuan membaca Al-Quran sendiri dan tidak terlalu bergantung pada interpretasi dari kaum laki-laki. "Saya pikir kaum perempuan di sini lebih mendapatkan hak istimewa mereka," kata Zahid Bukhari, Direktur Program Studi Amerika-Muslim di Universitas George Town.

Beberapa mualaf mengaku mereka mencari informasi soal pandangan Islam terhadap perempuan sebelum memutuskan untuk masuk Islam, namun mereka berubah pikiran setelah mereka sendiri bergaul dengan warga Muslim.

"Saya selalu berfikir betapa malangnya kaum wanita yang harus memakai jilbab," ujar Pinet. Sampai akhirnya ia bertemu dengan temannya yang Muslim dan mulai belajar Al-Quran dengan Muslimah lainnya. Pinet mengungkapkan, ia sangat terkesan dengan rasa hormat yang ia terima.

"Para wanita dihormati karena mereka adalah calon ibu yang akan mendidik dan membesarkan anak-anak, menegakkan aturan agama dan mereka sangat luhur," tambah Pinet.

Berdasarkan laporan Dewan Hubungan Amerika-Muslim, setiap tahunnya ada sekitar 20 ribu orang yang masuk Islam di AS dan 6 persen diantaranya adalah keturunan Amerika Latin. Angka ini diperkirakan akan terus bertambah meski masuk Islam menjadi pilihan yang cukup sulit bagi kaum perempuan di AS.

Meski kadang menghadapi kendala bahasa, Muslim keturunan Amerika Latin mengaku diterima dengan baik di kalangan komunitas Muslim. Saat ini, masih sedikit mesjid yang menggunakan Spanyol sebagai bahasa pengantar dan teks-teks agama Islam yang berbahasa Spanyol jumlahnya masih terbatas.

Sebuah organisasi akar rumput sudah dibentuk sebagai wadah informasi bagi para Latino yang baru masuk Islam serta memberikan dukungan bagi mereka yang menghadapi persoalan dengan keluargannya karena masuk Islam. (ln/csmonitors/eramuslim)

http://www.csmonitor.com/2004/1227/p11s02-ussc.html

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter