Sabtu, 22 Juni 2013

RENUNGAN 2

Tags




RENUNGAN 2
AKHLAQUL KARIMAH PARA SAHABAT DAN ULAMA





Ketika Imam Bin Suhnun Tenggelam dalam Ilmu

IMAM MUHAMMAD BIN SUHNUN (256 H), sudah terbiasa mengisi hari-hari dengan menelaah dan menulis. Aktivitas itu beliau lakukan hingga larut malam. Mengetahui majikannya sibuk, budak beliau yang biasa dipanggil Ummu Mudam menyediakan makanan, lalu mempersilahkan Imam Bin Suhnun untuk makan.

Akan tetapi ulama pengikut madzhab Maliki tersebut hanya menjawab,”Saya saat ini sedang sibuk.”Dan beliau tetap asyik dengan tulisan dan tidak menyentuh makanan yang telah disediakan. Hal itu mendorong Ummu Mudam berinisiatif menyuapkannya hidangan itu ke mulut sang majikan. Suapan demi suapan ia berikan hingga makanan itu habis.

Saat adzan shubuh berkumandang, kepada budaknya, Imam Bin Suhnun mengatakan,”Saya telah menyibukkanmu tadi malam wahai Umu Mudam, sekarang mana makanan itu?”

Budak itu menjawab,”Demi Allah wahai tuan, saya sudah menyuapkannya ke mulut Anda.” Bin Suhnun terheran,”Saya tidak merasa!” (At Tartib Al Madarik, 4/217)

Menjual Ulama

IMAM  IZZUDDIN BIN ABDISSALAM saat ditangkap di Al Quds oleh penguasa Syam Sultan Shalih Ismail dikurung dalam sebuah tenda yang dijaga ketat banyak pasukan. Saat itu pula Sultan Shalih Ismail mengadakan pertemuan dengan para pemimpin Frank Kristen.

Di saat pertemuan berlangsung, suara Imam Izzuddin yang melantunkan bacaan Al Qur`an terdengar hingga sampai ke telinga para penguasa itu, hingga Sultan Ismail mengatakan kepada para penguasa Kristen, “Apakah kalian mendengar seorang syeikh membaca Al-Qur`an?” Mereka serempak menjawab,"Iya".

Shalih Ismail menjelaskan lalu menjelaskan,“Dia adalah pendeta tertinggi umat Islam. Aku sengaja mengurungnya karena ia menentangku menyerahkan benteng-benteng umat Islam kepada kalian. Aku pecat ia dari tugasnya sebagai khatib di Damaskus. Kemudian kuusir, hingga ia datang ke Al Quds. Aku menangkapnya dan menahannya kembali untuk kalian.”

Namun para penguasa Kristen itu justru menjawab,”Kalau seandainya orang itu adalah pendeta kami, maka kami akan cuci kakinya dan kami minum air sisa cuciannya” (lihat, Thabaqat As Syafi’iyah Al Kubra, 8/244).

Para penguasa Muslim yang “menjilat” musuh hingga mau mendzalimi para ulama mungkin berfikir bahwa apa yang  ia lakukan akan membuat musuh menaruh hormat kepadanya. Namun bisa jadi musuh yang dibelanya justru melihat perbuatannya itu sebagai perbuatan bodoh yang menghinakan.

Imam Malik 49 Tahun Shalat Shubuh dengan Wudhu Isya'

IMAM IBNU QASIM salah satu murid Imam Malik mengisahkan,”Aku mendatangi Malik pada waktu sahur dan bertanya satu hingga empat masalah. Aku mendapati Imam Malik tidak mempermasalahkan kedatanganku saat sahur, hingga aku selalu mendatanginya di waktu itu.”

Imam Ibnu Qasim melanjutkan,”Suatu saat aku bersandar di tangga depan pintu Imam Malik hingga aku tertidur sedangkan Imam Malik keluar ke masjid namun aku tidak merasakannya. Akhirnya seorang budak hitam wanita membangunkanku dengan kakinya lalu mengatakan,’Sesungguhnya tuanmu (Imam Malik) tidak lalai seperti kelalainmu, selama 49 tahun beliau tidak shalat shubuh kecuali dengan wudhu Isya`.’” (Tartib Al Madarik, 3/250)/Hidayatullah.com

Belajar Ihya Ulumuddin Tengah Malam

IMAM ABU FATH AL BAGHDADI adalah seorang ulama madzhab As Syafi’i yang merupakan murid Imam Al Ghazali. Beliau dikenal sebagai ulama yang mensibukkan diri di malam hari dengan ilmu. Sehingga, ketika ada sekelompok pencari ilmu datang untuk meminta waktu belajar Ihya Ulumuddin beliau mengatakan,”Saya tidak ada waktu untuk kalian.”

Akhirnya mereka berusaha memberikan alternatif waktu, namun Imam Abu Fath menyatakan,”Itu waktu saya mengajar pelajaran si fulan.”Akan tetapi para pencari ilmu itu tidak patah semangat, mereka masih mencari celah waktu Imam Abu Fath. Akhirnya ditemukan juga waktu dimana Imam Abu Fath bisa mengajar mereka Ihya Ulumuddin, yakni di tengah malam (Thabaqat As Syafi’iyah Al Kubra, 6/30).

Demikian besar kesabaran Imam Abu Al Fath dalam menebarkan ilmu dan demikian kuat semangat pula para pencari ilmu waktu itu untuk belajar meskipun di tengah malam.

"Pukulah Saya Tapi Berikan Hadits”

IMAM HISYAM BIN AMMAR AT TSULAMI adalah ulama hafidz dan qari yang menjadi guru Imam Al Bukhari, Imam An Nasai, Imam Abu Dawud dan lainnya. Pada waktu kecil beliau sudah menghadiri majelis hadits Imam Malik. Di majelis tersebut beliau meminta hadits langsung kepada Imam Malik, sedangkan sang Imam memintanya untuk membaca namun At Tsulami tetap ingin menyimak.

Kemudian Imam Malik pun memerintahkan seseorang untuk memukulnya 15 kali dengan sebat pendidik. At Tsulami pun menyampaikan,”Anda telah mendzalimi saya dengan memukul 15 kali tanpa dosa, saya tidak akan memaafkan Anda.”

Imam Malik pun menyampaikan,”Jika demikian, apa kafarahnya?” At Tsulami menyampaikan,”Kafarahnya adalah Anda menyampaikan 15 hadits untuk saya.” Akhirnya Imam Malik menyampaikan 15 hadits untuknya.

Namun setelah itu At Tsulami masih belum puas, beliau kembali memberikan tawaran kepada Imam Malik,”Tambahkan pukulan lagi untuk saya dan tambahkan pula haditsnya.” Imam Malik pun tertawa. (Tahdzib Al Kamal, 3/1144)/Hidayatullah.com

Jadikanlah Kami Bersama Penerobos Benteng…

MASLAMAH BIN ABDUL MALIK BIN MARWAN tabi’in yang menjadi panglima perang di masa kekuasaaan Umawi suatu saat mengepung sebuah benteng musuh. Ada yang berlobang pada dinding benteng itu, hingga beliau mempersilahkan siapa saja menjadi relawan untuk memasuki lobang itu dan membuka benteng dari dalam. Namun, setelah ditunggu tidak ada yang berani mengajukan diri.

Akhirnya, seorang prajurit rendahan siap menjadi relawan untuk memasuki lubang benteng tersebut, hingga akhirnya pintu benteng terbuka dan pasukan Maslamah berhasil menguasai benteng itu.

Setelah perang usai Maslamah mencari-cari relawan tadi, namun tidak ada yang datang menemui beliau. Akhirnya beliau memerintahkan penjaga untuk mencari si penerobos untuk dibawah ke perkemahan guna menghadap.

Kemudian seorang laki-laki datang menemui penjaga dan minta izin untuk menemui Maslamah. Penjaga pun bertanya,”Engkau si penerobos?” Laki-laki itu menjawab,”Saya akan memberi informasi tentangnya.” Akhirnya laki-laki itu dibawa penjaga untuk menemui Maslamah.

Di depan Maslamah laki-laki itu lantas menyampaikan,”Sesungguhnya si penerobos menginginkan tiga hal dari Anda. Jangan engkau tulis namanya untuk dilaporkan kepada khalifah, jangan diperintah mengenai apa pun, dan jangan ditanya dari kabilah mana ia berasal.”Maslamah pun menjawab,”Permintaan itu saya penuhi.” Lantas laki-laki itu pun mengatakan,”Sayalah si penerobos itu.”

Setelah persitiwa itu, Maslamah tidak melaksanakan shalat kecuali  meamnjatkan doa,”Ya Allah jadikanlah aku bersama si penerobos.” (Uyun Al Akhbar, 1/172).

Demikianlah orang shalih terdahulu dalam menyembunyikan amalan, mereka menjauhi popularitas dan tidak ingin memperoleh penghargaan manusia dari jasanya./Hidayatullah.com

Menghafal Delapan Bait di Hari Kematian

IBNU MALIK, ulama nahwu memiliki semangat yang cukup tinggi dalam mencari ilmu. Hal ini tercermin dari kesungguhan beliau menghafal ilmu meskipun ajal hendak menjemput. Dimana beliau sempat menghafal delapan bait ilmu, di hari wafatnya beliau. Di saat beliau sedang sakit keras, putranya membantu mendiktekan bait tersebut (Nafh At Thayib, 2/222, 229).

Kitab Alfiyah yang mengandung seribu bait yang memuat kaidah ilmu nahwu dan sharf merupakan salah satu karya Imam Ibnu Malik. Kitab itu kini menjadi salah satu referensi induk dalam bidang nahwu. Kitab itu pun digunakan di ratusan atau bahkan mungkin ribuan pesantren di dunia Islam. Kesungguhan Ibnu Malik dalam mencari ilmu memudahkan para pencari ilmu setelah beliau menghafal kaidah-kaidah bahasa Arab. Rahimahullah Ta’ala.

Pertolongan Allah terhadap Ulama dari Kedzaliman Penguasa

BUNAN AL HAMMAL AL BAGHDADI seorang muhaddits yang zuhud suatu saat mengkritik Ibnu Thulun seorang penguasa Mesir waktu itu. Ibnu Thulun tidak menerima nasihat itu, malah membuatnya murka. Sehingga, ia memerintahkan para prajurit untuk mencampakkan Bunan Al Hammal ke dalam kandang singa.

Namun singa-singa yang sebelumnya tampak buas sama sekali tidak menyerang Bunan Al Hamal, hewan-hewan itu hanya mengendus-endusnya saja. Akhirnya Bunan Al Hamal pun dibebaskan.

Menyaksikan peristiwa yang tidak lazim itu, masyarakat terheran-heran, hingga mereka bertanya kepada Bunan Al Hamal, ”Bagaimana perasaan Anda saat singa itu mengendus badan Anda?”

Bunan Al Hammal menjawab, ”Saat itu saya berfikir mengenai khilaf para ulama tentang hukum liur binatang buas, najis atau tidak.” (Tarikh Al Baghdad, 7/101)



Menghafal Delapan Bait di Hari Kematian

IBNU MALIK, ulama nahwu memiliki semangat yang cukup tinggi dalam mencari ilmu. Hal ini tercermin dari kesungguhan beliau menghafal ilmu meskipun ajal hendak menjemput. Dimana beliau sempat menghafal delapan bait ilmu, di hari wafatnya beliau. Di saat beliau sedang sakit keras, putranya membantu mendiktekan bait tersebut (Nafh At Thayib, 2/222, 229).

Kitab Alfiyah yang mengandung seribu bait yang memuat kaidah ilmu nahwu dan sharf merupakan salah satu karya Imam Ibnu Malik. Kitab itu kini menjadi salah satu referensi induk dalam bidang nahwu. Kitab itu pun digunakan di ratusan atau bahkan mungkin ribuan pesantren di dunia Islam. Kesungguhan Ibnu Malik dalam mencari ilmu memudahkan para pencari ilmu setelah beliau menghafal kaidah-kaidah bahasa Arab. Rahimahullah Ta’ala.

Hidangan Lezat di Bawah Pedang Tergantung

SYEIKH ABDUL FATTAH ABU GHUDDAH, seorang ulama muhaddits pengikut madzhab Hanafi mengisahkan dari beberapa ulama Pakistan mengenai kahidupan seorang penguasa di Pakistan Utara, yakni Amir Mahsud.

Suatu saat ada seorang lelaki dari rakyat jelata yang mengeluh kepada Amir Mahsud mengenai kecemasannya dan kasusahannya. Ia sendiri menyatakan kepada sang amir,”Sedangkan engkau hidup dalam keadaan baik, demikian pula makanan dan minumanmu. Engkau adalah penguasa yang segala sesuatu dihidangkan untuk dirimu.” Mendengar pernyataan si lelaki, Amir Mahsud terdiam dan tidak menjawab.

Kemudian Amir Mahsud mengundang lelaki tersebut untuk menyantap hidangan di istananya. Namun di atas meja hidangan tergantung sebuah pedang besar yang tajam pada sebuah tali yang hendak putus, yang suatu saat bisa membuat pedang itu jatuh dan menebas siapa saja yang berada di bawahnya.

Amir Mahsud kemudian mempersilahkan kepada si lelaki untuk menikmati hidangan,”Silahkan engkau menikmati berbagai jenis makanan, sesungguhnya makanan itu sangat lezat.”

Si laki-laki mengatakan,”Memang demikian, akan tetapi ketakutanku akan jatuhnya pedang itu membuatku tidak bisa menikmati hidangan.”

Amir Mahsud pun mengatakan,”Demikianlah kehidupanku yang engkau iri dengannya. Engkau menginginkan sesuatu yang engkau sendiri jahil terhadapanya. Sesungguhnya aku terancam oleh pembunuhan setiap saat dari musuhku atau kerabatku yang tamak terhadap kekuasaanku, baik dengan meracunku melalui makanan, dengan membunuhku di waktu tidur atau dengan memberontak dan menggulingkan kekuasaanku.” (Ta’liq Risalah Al Mustarsyidin, hal. 223-224)/Hidayatullah.com

Adab "Bertetangga" dengan Malaikat

IMAM IBNU ABI JAMRAH AL ANDALUSI rahimahullah menyampaikan,”Jika engkau yakin mengenai hak tetangga rumahmu, sedangkan dintara dirimu dan dia dibatasi dinding yang bisa menghalangi kedzaliman darimu terhadapnya dan engkau diperintahkan untuk berbuat kebaikan terhadapnya, maka bagaimana dengan dua malaikat yang selalu mengawasi yang tidak terpisah dinding dan pembatas? Sedangkan engkau menyakiti keduanya sepanjang waktu dengan terus-menerus melakukan maksiat.” (Buhjah An Nufus, 4/165)/hidayatullah.com

Tolak Konsumsi Daging Kambing saat Ada Kambing Dicuri

IMAM ABU HANIFAH menahan diri tidak memakan daging kambing, setelah mendengar bahwa bahwa ada seekor kambing dicuri.

Imam Abu Hanifah menahan untuk tidak memakan daging kambing selama beberapa tahun, sesuai dengan usia kehidupan kambing pada umumnya, hingga diperkirakan kambing itu telah mati. (Ar Raudh Al Faiq, hal. 215)

Demikianlah sifat wara’ Imam Abu Hanifah dalam hal menjaga makanan. Semoga kita bisa mengambil ibrah./Hidayatullah.com

Utamakan Pihak Lain dalam Berfatwa

IMAM IBNU ABI LAIILI, salah seorang ulama besar dari kalangan tabi’in menyampaikan,”Aku mengetahui 120 kaum Anshar dari para sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassallam. Ketika salah satu dari mereka ditanya mengenai sebuah masalah, maka ia menyarankan kepada si penanya untuk menanyakan kepada yang lain, dan yang lain pun menyarankan untuk bertanya kepada pihak lain juga, demikian selanjutnya hingga kembali kepada orang yang pertama.”

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Imam Ibnu Abi Laili mengatakan,” Tidak ada dari mereka menyampaikan hadits kecuali mengutamakan saudaranya. Dan ia tidak diminta fatwa tentang sesuatu kecuali mengutamakan saudaranya.” (Adab Al Fatwa wa Al Mustafti wa Al Mufti, hal. 14)

Generasi awal memandang bahwa berfatwa merupakan perkara yang memiliki tanggung jawab amat besar, hingga mereka tidak "rakus" dalam masalah ini. Sehingga mereka saling melimpahkan fatwa kepada pihak lain./Hidayatullah.com


Ikhtilaf Tidak Merusak Persahabatan

IMAM AS SYAFI'I rahimahullah pernah terlibat perdebatan dengan Yunus Bin Abdil A’la. Namun setelah peristiwa itu, sang pendebat yang juga merupakan sahabat dekat malah menaru rasa hormat dengan mengatakan,”Aku belum pernah melihat orang yang lebih berakal daripada As Syafi’i, suatu hari aku mendebatnya dalam suatu masalah, kamudian kami berpisah. Namun setelah itu ia menemuiku dan menggandeng tanganku kemudian mengatakan,’Wahai Abu Musa, bukankah labih baik kita tetap menjadi saudara walau kita berbeda dalam satu masalah?’" (Siyar A’lam An Nubala’, 10/16)

Kepada merekalah kita mengambil teladan dalam menyikapi masalah ikhtilaf, hingga tidak menyebabkan ukhuwah Islamiyah menjadi rusak./hidayatullah.com

 Anjing pun Memiliki Hak Atas Jalan

Suatu saat Imam Abu Ishaq berjalan bersama para sahabat beliau. Di tengah perjalanan terlihat seekor anjing berjalan berlawanan dengan arah rombongan tersebut. Salah seorang dari sahabat beliau pun menghardik anjing tersebut.

Menyaksikan peristiwa itu, Imam Abu Ishaq Asy Syirazi mengatakan kepada sahabat beliau itu,”Apakah engkau tidak tahu, bahwa baik saya maupun anjing itu memiliki hak atas jalan ini?!” (Al Majmu, 1/24)/Hidayatullah.com

Tidak Perangi Musuh, Tapi Suka Perangi Muslim

Sufyan bin Husain Al Wasithi berkisah,”Aku bercerita mengenai keburukan seorang lelaki di hadapan Iyas bin Al Muzani, seorang tabi'in yang menjadi hakim Bashrah. Maka ia menatap wajahku dan mengatakan,’Engkau pernah ikut berperang melawan Romawi?’ Aku mengatakan,’Tidak’. ‘Bagaimana dengan Sind (sekarang Pakistan), India, dan Turki?’ Aku mengatakan,’Tidak’. Bagaimana bisa selamat darimu Romawi, Sind, India, dan Turki namun tidak selamat dari darimu saudaramu Muslim?’”

Sufyan bin Husain Al Wasithi akhirnya tidak pernah menceritakan aib orang lain kepada manusia dan menghibahnya. (Al Bidayah wa An Nihayah, 9/336).*/hidayatullah.com

Lima Calon Penghuni Neraka

MISI Rasulullah adalah memberi kabar gembira dan peringatan bagi seluruh umat manusia, tanpa terkecuali (QS. Saba’: 28). Oleh karenanya, kita menemukan sangat banyak hadits yang berisi kabar gembira seperti jaminan kemenangan Islam dan keindahan surga; atau berisi peringatan seperti pasti hancurnya kebatilan dan kengerian neraka. Sebagian hadits beliau bahkan memberikan rincian cukup detil, sehingga semakin mudah diamalkan.

Di antara rincian detil yang pernah beliau ungkapkan adalah ciri-ciri calon penghuni neraka. Dalam sebuah hadits panjang yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari ‘Iyadh bin Himar al-Mujasyi’ie, diantaranya beliau menyebutkan sifat lima golongan yang kelak akan menjadi penghuni neraka. Mari kita teliti satu per satu, semoga kita bisa mengintrospeksi diri dan menghindarinya.

Pertama, orang lemah yang tidak berakal. Menurut Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim, yang dimaksud adalah orang yang tidak memiliki akal yang bisa mencegahnya dari segala sesuatu yang tidak pantas. Dalam Mirqatul Mafatih, Mulla ‘Ali Al-Qari menjelaskan bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak punya keinginan selain memenuhi isi perutnya dengan segala cara, tidak perduli halal maupun haram. Keinginan terbesar mereka tidak pernah beranjak naik dari tingkatan hewani ini, baik dalam urusan agama maupun duniawinya. Perkara ini senada dengan firman Allah:

“Maka berpalinglah engkau (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan dia tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi. Itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia pulalah yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (QS. an-Najm: 30).

Kedua, pengkhianat. Teks haditsnya menjelaskan bahwa orang ini memang tidak tampak nyata sifat khianatnya, namun dia punya keinginan ke arah sana. Jika ada kesempatan, meskipun sangat kecil, niscaya dia akan berkhianat juga. Na’udzu billah. Oleh karenanya, Rasulullah pernah menyatakan bahwa satu diantara tiga tanda orang munafik adalah suka berkhianat. Allah juga pernah menyinggung sifat orang semacam ini dalam firman-Nya:

 “Dan janganlah kamu berdebat (untuk membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa. Mereka bisa bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bisa bersembunyi dari Allah, dan Allah beserta mereka ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridhai. Dan adalah Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan.” (QS. An-Nisa': 107-108).

Ketiga, penipu. Dalam hadits itu disebutkan: “Seseorang yang tidak memasuki waktu pagi maupun sore melainkan ia pasti menipumu, baik dalam urusan hartamu maupun keluargamu.” Tidak salah lagi, orang ini pasti penipu tulen, tembus dari permukaan kulit sampai tulang sungsumnya! Bayangkan, tidak pagi tidak sore, pekerjaannya melulu hanya menipu, menipu, dan menipu, dalam segala hal. Adakah kebaikan yang bisa diharapkan darinya? Apakah Allah bersedia mengasihi dan menghindarkan orang semacam ini dari neraka?

Keempat, pembohong atau orang pelit. Sebagian riwayat menyebut “pembohong”, sedangkan riwayat lainnya menyitir “orang pelit”. Mana pun dari keduanya yang tepat, sama saja buruknya. Dikatakan dalam sebuah hadits: “Ada tiga hal yang membuat (seseorang) binasa, yaitu sifat pelit yang ditaati, hawa nafsu yang diperturutkan, dan ketakjubannya pada diri sendiri.” (Riwayat al-Bazzar dan al-Baihaqi, dengan sanad hasan li-ghairihi). Adapun tentang berbohong, kita sudah diberitahu bahwa ia adalah satu diantara tiga ciri kemunafikan. Padahal, Allah telah menyatakan bahwa orang munafik kelak akan berada di kerak neraka, yakni yang paling dahsyat siksaannya (QS. an-Nisa’: 145). Na’udzu billah.

Kelima, orang yang berakhlak buruk dan banyak berkata/berbuat keji. Tidak sedikit ayat atau hadits yang menganjurkan akhlak terpuji, dan sebaliknya melarang dari akhlak tercela. Bentuknya bisa bermacam-macam, karena memang variasinya pun sangat luas. Maka, ketika menggambarkan sifat-sifat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Anas bin Malik berkata, “Beliau bukanlah orang yang suka mencaci, bukan orang yang suka berkata/berbuat kotor, dan bukan pula orang yang suka melaknat.” (Riwayat Bukhari).
Diceritakan pula bahwa ada seseorang yang mencela Usamah bin Zaid dengan celaan yang sangat buruk. Ketika itulah Usamah berkata, “Sungguh engkau telah menyakitiku. Sungguh aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwasannya Allah membenci orang yang keji dan suka berkata/berbuat keji. Dan sungguh, engkau ini orang yang keji dan suka berkata/berbuat keji.” (Riwayat Ahmad dan Ibnu Hibban. Hadits hasan).

Bila logikanya kita balik, kelima sifat diatas bisa diperjelas oleh hadits yang diceritakan oleh Abu Hurairah: bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang apa yang paling banyak menyebabkan manusia masuk surga? Beliau menjawab, “Ketakwaan dan akhlak yang baik.” (Riwayat al-Hakim. Menurut adz-Dzahabi: hadits shahih). Maksudnya, kelima sifat diatas seluruhnya merupakan kebalikan dari ketakwaan dan akhlak mulia, yaitu: tidak berpegang pada nilai-nilai kebajikan, suka menipu, gemar berkhianat, pembohong, pelit, dan banyak berbuat keji; sehingga buahnya pun berkebalikan dari surga, yaitu neraka. Semoga Allah membimbing kita semua untuk menjauhinya. Amin. Wallahu a’lam.*/Alimin Mukhtar

Sahabatku, mari kita kenali tujuh hijab hati agar kita dapat menjauhinya:

    "Azzunub", tumpukan dosa tanpa diiringi dengan kesungguhan bertaubat
    "Alwasikh" banyak makan dan minum haram
    "Aljahlu" sangat pintar ilmu dunia tetapi bodoh dan malas belajar Islam
    "Alhawa tutbau" Nafsu yang diperturutkan terus menerus, seperti minum air laut yang kesannya menghilangkan dahaga
    "Hubbuddunya", terlalu cinta dunia sehingga tidak peduli lagi halal dan haram
    "Alzhulmu" banyak orang yang telah disakiti
    "Asysyaithoonu rookibuhu" karena semua hal-hal tersebut diatas (1 s/d 6), maka dengan mudah syetan menundukkannya sampai tidak sadar manusia itu dalam kesesatan (QS 7:175).

Jin Bangunkan Manusia untuk Shalat Malam

MAHDI BIN MAIMUN berkisah bahwa beliau memiliki seorang tetangga yang bernama Washil. Jika di malam hari Mahdi bin Maimun juga terbiasa mendengar suara sang tetangga membaca Al Qur`an. Sehingga, beliau mengetahui bahwa sang tetangga tidak tidur malam kecuali hanya sebentar.

Pada suatu saat Washil melakukan safar ke Makkah, namun Mahid bin Maimun mendengar bacaan Al Qur`an yang sama dengan bacaan Washil sedangkan pintu rumah Washil juga terkunci.

Setelah Washil tiba, Mahdi bin Maimun pun menyampaikan apa yang dialaminya dan Washil pun menjawab,”Apa yang engkau permasalahkan? Mereka itu adalah penghuni rumah, mereka shalat seperti kita juga, mereka membaca Al Qur`an seperti kita juga.”

Mahdi pun bertanya,”Apakah engkau melihat mereka?” Washil pun menjawab,”Tidak, tapi aku bisa merasakan keberadaan mereka, mendengar pengaminan mereka di saat berdoa. Dan terkadang saat aku ketiduran, mereka membangunkanku”. (Shifat Ash Shafwah, 4/359)

Menyantap Makanan Hasan Al Bashri tanpa Izin

MUHAMMAD BIN WASI’ dan Malik bin Dinar suatu saat mengunjugi rumah Hasan Al Bashri. Namun sayangnya yang dikunjungi tidak ada di tempat. Meski demikian, Muhammad bin Wasi’ mengambil wadah penuh makanan di bawah tempat tidur Hasan Al Bashri. Manyaksikan hal itu Malik bin Dinar menyampaikan,”Apakah tidak lebih baik jika kita menunggu pemiliknya pulang dan meminta izin?”

Muhammad bin Wasi’ tidak menghiraukan dan beliau tetap memakan makanan itu. Sampai Hasan Al Bashri muncul lalu menyampaikan kepada Malik bin Dinar,”Wahai raja kecil, demikianlah kami. Kami merelakan satu sama lain. Sampai akhirnya muncul orang sepertimu dan teman-temanmu”. (Ihya Ulumuddin, 2/234)

Demikianlah para shalihin terdahulu jika sudah bersahabat, saling merelakan satu sama lain, hingga mereka tidak perlu izin jika hendak memanfaatkan milik saudaranya.

Hidup Nyaman dengan Tidak Dikenal

IMAM HASAN AL BASHRI mengisahkan bahwa suatu saat beliau bertemu dengan Abdullah bin Mubarak yang menimba air dan melayani manusia meminum dari air itu, sedangkan mereka tidak mengetahui bahwa yang melayani mereka adalah ulama besar.

Setelah melakukan hal itu, Ibnu Mubarak pun menyampaikan kepada Imam Hasan Al Bashri,"Tidak ada hidup yang nyaman kecuali dalam keadaan demikian", yakni tidak dikenal manusia dan tidak dihormati. (Shifat Ash Shafwah, 4/121)

Budak Shalihah

HASAN BIN SHALIH suatu saat menjual budak wanitanya kepada sebuah kaum. Di malam hari budak itu pun membangunkan penghuni rumah,”Wahai penghuni rumah dirikanlah shalat!” Mereka pun bertanya,”Apakah ini sudah pagi?” Sang budak pun balik bertanya,”Apakah kalian hanya melaksanakan shalat wajib saja?” Mereka pun menjawab,”Ya”.

Saat bertamu mantan majikannya, Hasan bin Shalih, budak itu pun menyampaikan,”Wahai tuanku, Anda menjual saya untuk kaum yang tidak shalat kecuali yang wajib saja. Ambillah kembali hamba.” Hasan bin Shalih akhirnya membeli kembali budak wanitanya itu (Ihya Ulumuddin, 1/501).

Para Jin yang Shalat Tahajjud

SARRI BIN ISMAIL berkisah mengenai Yazid Ar Ruqasyi, ulama dan hali ibadah kala itu, bahwa para jin bermakum kepada beliau untuk shalat tahajjud dan menyimak bacaan Al Qur`an beliau.

Sarri pun bertanya kepada Yazid, bagaimana beliau tahu bahwa para jin itu bermakmum dan menyimak bacaan beliau. Yazin pun menjawab, bahwa tiap kali beliau bangun malam selalu mendengar suara keributan di dalam rumah beliau, sampai suatu saat beliau dihinggapi ketakutan. Di saat itu ada suara,”Jangan cemas wahai Abu Abdullah, sesungguhnya kami adalah saudara Anda, kami bangun untuk bertahajjud sebagaimana engkau bangun dan shalat”.

Setelah itu, Yazid Ar Ruqasyi pun terbiasa dengan suara-suara keributan yang terdengar di saat beliau bangun di malam hari untuk bertahajjud. (Shifat Ash Shfwah, 4/308)

Jin Shalih yang Wafat karena Bacaan Al Qur`an

YAHYA BIN ABDIRRAHMAN AL ASHRI memperoleh kisah dari istri seorang ahli ibadah yang bernama Khulaid. Bahwa pada suatu malam Khulaid melaksanakan shalat dan mambaca ayat yang artinya,”Setiap jiwa merasakan kematian” yang terdapat pada surat Ali Imran 185. Dan beliau mengulang-ulang ayat itu terus-menerus.

Setelah itu, ada suara di dalam rumah yang terdengar,”Berapa kali engkau mengulang ayat itu? Dengan bacaanmu itu, engkau telah membunuh 4 jin yang tidak pernah mendongakkan wajahnya ke langit (tawadhu-pent)”(Shifat Ash Shafwah, 4/358).

Bukan hanya orang shalih yang bisa wafat karena merenungi ayat-ayat Al Qur`an yang isinya ancaman, para jin shalih juga mengalami hal yang sama.

Wafat Saat Disebut Akhirat

IBNU AS SAMAK tatkala memasuki Bashrah, bertanya mengenai orang ahli ibadah di wilayah itu. Akhirnya, beliau diajaka mengunjungi rumah seorang kakek tua. Sang perempuan itu pun menyampaikan,”Jangan engkau sebut di depan putraku surga atau neraka. Karena dengan menyebutnya kalian telah membunuh putraku. Sesungguhnya aku tidak memiliki apa-apa selain dia”.

Kemudian Ibnu As Samak pun memasuki ruangan anak dari perempun tua itu, ia melihat seorang pemuda yang banyak diam, memakai pakaian kasar. Pemuda itupun memandang Ibnu Samak kemudian bertanya,”Dimana manusia pasti akan menghadap?” Ibnu As Samak pun menjawab,”Di hadapan Allah wahai orang yang dirahmati Allah”. Setelah itu pemuda itupun menjerit dan wafat seketika.

Kemudian perempuan tua itu datang,”Kalian telah membunuh putraku”. Saat itu Ibnu Samak pun ikut menshalati jenazahnya. (Shufat Ash Shafwah, 4/17)

Karena Khusyuk, Suara Rebana pun Tak Terdengar

AMIR BIN ABDILLAH adalah ulama yang amat dikenal dengan kekhusyukan dalam shalatnya. Saat beliau sedang melaksanakan shalat, terkadang anak perempuan beliau menabuh rebana dan para wanita berbicara semau mereka di rumah beliau, sedangkan beliau tidak mendengarnya.

Hingga sutau saat ada yang bertanya kepada Amir bin Abdillah apakah pernah terlintas pikiran saat beliau shalat. Maka beliau menjawab,”Ya, yakni posisiku di hadapan Allah dan tempat kembaliku menuju salah satu dari dua kampung (surga atau neraka)”. (Ihya Ulumuddin, 1/242)

Para Jin Pun Bermakmum pada Ulama

ABDUL AZIZ BIN SALMAN  adalah seorang faqih yang dikenal kuat dalam melakukan qiyam di malam hari.

Putra beliau Muhammad menyampaikan,”Kalau ayahku bangun malam untuk bertahajjud, aku mendengarkan di rumahku suara keributan dan siraman air yang banyak. Dan aku menyaksikan bahwa para jin bangun untuk bertahajjud dan shalat bersama beliau”. (Shifat Ash Shafwah, 3/255)

Tidak Membantu Kedzaliman, Meski dengan Tinta

IMAM SUFYAN ATS TSAURI suatu saat memasuki ruangan Khalifah Al Mahdi. Dan sang khalifah saat itu membawa selembar kertas dan menyampaikan kepada Imam At Tsauri,”Beri aku tinta hingga aku bisa menulis”.

Imam At Tsauri pun menjawab,”Sebutkan dulu kepadaku apa yang hendak engkau tulis. Kalau itu kebenaran, maka aku akan memberikannya”. (Ihya Ulumuddin, 2/120)

Tatkala Abu Yazid Malah Ingin Melalui Hisab

ABU YAZID AL BISTHAMI suatu saat menyampaikan,”Manusia seluruhnya takut dari hisab. Sedangkan aku meminta kepada Allah untuk menghisabku”.

Kemudian ada yang bertanya,”Kenapa?” Abu Yazid pun menyatakan,”Aku menginginkan agar Allah memanggilku di saat itu,’Wahai hambaku’. Dan aku mengatakan,’Aku menerima panggilan-Mu’. Sesungguhnya itu bagiku lebih aku senangi dari dunia dan seisinya. Kemudian setelah itu Allah memperlakukan aku sesuai kehendak-Nya. (Shifat Ash Shafwah, 4/101)

Faqir Madinah Tolak 10 Ribu Dirham

ABDULLAH yang merupakan keponakan dari Muslim bin Sa’d suatu saat hendak melakukan perjalanan ke Hijaz dalam rangka melaksanakan ibadah haji. Muslim bin Sa’d pun menitipkan kepadanya uang sebanyak 10 ribu dirham dan ia berpesan agar uang itu diberikan kepada penduduk Madinah yang paling faqir.

Setelah tiba di Madinah, Abdullah pun bertanya kepada penduduknya mengenai orang yang paling faqir di kota itu, para penduduk pun menunjukkan sebuah rumah. Setelah Abdullah mengetuk pintu rumah yang ditunjukkan itu, seorang perempuan bertanya,”Siapa Anda?” Abdullah pun menjawab,”Saya laki-laki dari Baghdad yang dititipi 10 ribu dirham dan aku diminta untuk memberikan kepada oaring yang paling miskin di kota Madinah dan para penduduk Madinah telah memberikku petunjuk”.

Wanita itu pun menjawab,”Wahai Abdullah, temanmu mensyaratkan orang yang paling faqir sedangkan ada tetangga saya lebih faqir daripada saya”. Maka Abdullah pun meninggalkan rumah itu dan pergi ke rumah yang ditunjukkan oleh perempuan itu. Namun setelah tiba di rumah yang dituju, penghuni rumah yang juga seorang wanita memberikan jawaban yang sama dengan wanita sebelumnya. Wanita itu pun menyampaikan,”Wahai Abdullah sesungguhnya kami dan para tetangga kami sama-sama faqirnya, bagikan uang itu dengan rata”. (Shifat Ash Shafwah, 2/138)

Ketika Harta Menghalangi Pertemanan

QAIS BIN SA’D Suatu saat menderita sakit, namun teman-teman beliau belum terlihat menjenguk, hingga beliau bertanya kepada teman-tman beliau lainnya, dan mereka pun menjawab,”Mereka tidak datang karena malu disebabkan mereka masih belum bisa melunasi hutang mereka kepadamu.”

Qais pun menjawab,”Harta telah menjadi penghalang saudara-saudara untuk berkunjung”. Akhirnya beliau mengutus seseorang untuk berseru,”Barang siapa berhutang kepada Qais maka ia telah bebas dari hutangnya!”

Maka setelah itu orang-orang pun berbondong-bondong menjenguk Qais, bahkan karena banyaknya pengunjung, tangga rumah Qais hingga rusak. (Awarif Al Ma’arif, hal. 150)

Nasihat dari Batu

IBRAHIM BIN ADHAM mengisahkan,”Suatu saat aku di Makkah, aku melewati sebuah batu yang tertulis,’Baliklah aku, maka engkau mendapatkan ibrah’”.

Maka, Ibrahmin bin Adham pun membalik batu itu, dan beliau mendapati tulisan di atas batu itu, ”Jika engkau dengan ilmu yang kau dapati tidak engkau amalkan. Maka, untuk apa engkau mencari ilmu yang tidak engkau ketahui?.” (Ihya Ulumuddin, 1/94)


Syeikh Ahmad dan Belalang

SYEIKH YA'QUB BIN QIRAZ suatu saat memperhatikan Syeikh Ahmad guru beliau sedang bercakap,”Wahai makhluk yang diberkahi, aku tidak tahu kalau engkau menyertaiku, aku telah membuat engkau jauh dari negerimu”.

Setelah Syeikh Ya’kub mengamati, ternyata ada seekor belalang menempel di baju Syeikh Ahmad. Dan beliau mengungkapkan perasaan merasa bersalah karena rasa kasih sayang beliau terhadap makhluk itu. (Thabaqat As Syafi’iyah Al Kubra, 6/24)


Tangis Darah Al Maushili

FATH BIN SAID AL MAUSHILI suatu saat dilihat oleh salah seorang sahabat beliau sedang menengadahkan kedua tangannya, hingga terlihat air mata bercampur darah keluar dari mata beliau. Sahabatnya itu pun berseru,”Wahai Fath, engkau menangis darah!”

Fath pun menjawab,”Kalau tidak karena engkau bakal menjadi penerusku karena Allah, maka aku tidak akan bercerita kenapa aku menangis darah.”

Sang sahabat pun bertanya,”Karena apa engkau menangis dengan air mata dan karena apa engkau menangis darah?”

Fath pun menjawab,”Aku menangis dengan air mata karena melewatkan hak wajib kepada Allah. Dan aku menangis darah karena takut apakah tangisan air mataku benar-benar tulus?” (Shifat Ash Shafwah, 4/161)

40 Tahun Kalahkan Roti

MALIK BIN DINAR adalah seorang ulama tabi’in yang amat ketat dalam mengendalikan nafsu makannya, hingga suatu saat timbul kuat selera untuk memakan “roti susu”.

Akhirnya beliau pergi dan kembali dengan membawa roti yang diidam-idamkan itu dan mengoleskan susu di atasnya.

Namun kemudian Malik bin Dinar membalikkan roti itu seraya berkata,”Aku bernafsu untuk memakanmu selama 40 tahun namun aku bisa mengalahkanmu hingga hari ini. Dan kini engkau hendak mengalahkanku? Menjauhlah dariku.” Kemudian Malik bin Dinar tidak jadi memakannya. (Shifat Ash Shafwah, 3/185)

Kekuatan Mukmin di Hati

UBAIDULLAH BIN SYUMAITH berkisah mengenai ayah beliau Syumaith bin Ajlan ulama yang berguru kepada para tabi’in.

Suatu saat ayahku berkata,”Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menjadikan kekuatan mukmin ada di hatinya dan tidak menjadikannya di anggota badannya. Bukankah engkau melihat ada orang renta yang banyak melakukan puasa dan bangun malam sedangkan pemuda tidak mampu melakukannya?” (Shifat Ash Shafwah, 3/231)

Saat Dua Orang Shalih dari Kufah Berselisih

IMAM SYURAIH suatu saat didatangi dua orang yang berselisih di Kufah, salah seorang mengutarakan,”Saya membeli rumah dari orang ini, lalu saya temui di dalam rumah itu puluhan ribu dirham…”

Orang yang satu pun menyahut,”Ambillah uang itu.” Namun si pembeli menjawab,”Tidak, saya hanya beli rumah. Engkau saja yang mengambilnya.” Penjual pun ganti menjawab,”Kenapa demikian? Aku telah menjual rumah itu beserta apa yang ada di dalamnya.”

Dua orang itu masing-masing terus kokoh menolak menerima uang itu, hingga diputuskan bahwa uang itu untuk baitul mal. (Shifat Ash Shafwah, 3/121)

Berbuat Baik kepada Anak Saat Ia Belum Ada

ABU AL ASWAD AD DAULI suatu saat menyampaikan kepada anak-anaknya,"Aku telah berbuat baik kepada kalian, di saat kalian sudah besar, masih kecil dan belum ada."

Anak-anak beliau pun menjawab,"Ayah telah berbuat baik kepada kami di saat kami sudah besar dan sejak kecil. Namun, bagaimana ayah berbuat baik kepada kami di saat kami belum ada?"

Abu Al Aswad pun menjawab,"Aku tidak meletakkan kalian di tempat yang kalian menjadi malu karenanya." (Syu'ab Al Iman, 4/273)

Qadhi Abdullah An Nashiri menjelaskan bahwa melakukan prbuatan baik kepada anak sebelum ia lahir dengan memilih ibu yang baik dan mempersiapkan rumah yang suasananya mendukung untuk melakukan kebaikan. (lihat, Mujibu Ad Dar As Salam, hal.121)

Syarat Mufti di Masa Utsmaniyah

SYEIKH AL ISLAM SA’D AD DIN yang merupakan “syeikh Al Islam” ke 25 Daulah Al Utsmaniyah saat itu wafat, hingga Sulthan Utsman II meminta pertimbangan para ulama besar mengenai siapa pengganti Syeikh Sa’d. Dan saat itu yang ditanya adalah Syeikh Husain bin Muhammad yang merupakan ulama besar di masa itu.

Maka, Syeikh Husain pun memberikan jawaban,”Mintalah para ulama hadir dan berdiri di hadapan Anda. Dan aku akan memberikan kepada mereka 300 pertanyaan. Maka, barang siapa mampu menjawab 200 darinya tanpa membuka kitab, maka pantas menduduki jabatan mufti.” (Maqalat Al Kautsari, hal. 384,385)


Hafalan Ulama Utsmaniyah

SYEIKH MUHAMMAD BIN SA’D AD DIN (1024 H) adalah ulama besar yang menyandang gelar “syeikh Al Islam” di kekhilafahan Utsmaniyah saat itu yang memiliki hafalan yang amat kuat.

Suatu saat beliau bersama sekretaris dalam bidang fatwa melakukan perjalanan di laut dan saat itu adalah waktu membagikan fatwa ke beberapa wilayah. Syeikh Muhammad pun menyampaikan kepada sekretaris beliau itu,”Tolong bacakan pertanyaan-pertanyaan yang perlu dijawab supaya aku bisa mengingat jawabannya. Dan ketika sampai di tempat tujuan, engkau tinggal menulisnya.”

Akhirnya sang sekretaris pun mengeluarkan lembaran yang berisi pertanyaan-pertanyaan dan membacakannya kepada Syeikh Muhammad hingga habis seluruh pertanyaan.

Namun setelah itu tiba-tiba angin berhembus kencang, hingga lembaran itu terbang dan jatuh di laut. Saat sang sekretaris terlihat panik bukan main, Syeikh Muhammad tetap tenang dan menyampaikan,”Tidak mengapa, engkau bisa menulis kembali dari yang aku diktekan.” Maka Syeikh Muhammad pun menyebutkan kembali pertanyaan-pertanyaan tadi hingga selesai meski jumlahnya lebih dari 100 pertanyaan (Al Maqalat Al Kautsari, hal. 313).

Diundang 4 Kali, Ditolak 4 Kali

IMAM ABU AL QASIM AL JUNAID suatu saat diundang oleh seorang anak kecil untuk mendatangi hajatan sang ayah. Namun setiap kali memenuhi permintaan anak kecil itu untuk datang ke hajatan sang ayah, maka ayahnya menolak kedatangan Imam Junaid. Meski demikian, sang anak terus mengundangnya dan sang ayah selalu menolaknya, hingga peristiwa pengundangan dan penolakan ini terjadi sampai 4 kali.

Imam Junaid kembali mendatangi rumah ayah si anak kecil demi menyenangkan hati sang anak dan kembali pulang menyenangkan hati sang ayah.

Imam Al Ghazali sendiri menilai bahwa apa yang dilakukan oleh Imam Al Junaid itu menunjukkan ketawadhuan beliau, dimana pengundangan tidak membuat gembira dan penolakan juga tidak membuat bersedih dan dua-duanya berada dalam poisis yang sama. (lihat, Ihya Ulumuddin, 4/676)

Ulama Besar Bersimpuh di Hadapan Ulama Besar

SYAIKH ZAHID AL KAUTSARI meski merupakan ulama besar dan menjadi wakil bagi ulama nomor satu Daulah Al Utsmaniyah (Syeikh Al Islam), namun beliau tetap bertawadhu di hadapan ulama lainnya.

Saat Kekhalifahan Al Utsmaniyah jatuh beliau hijrah ke Mesir dan masih melanjutkan untuk mencari ilmu kepada ulama negeri itu dan berguru kepada ulama Syafi’iyah Mesir Syeikh Yusuf Ad Dijwi. Syeikh Rajab Al Bayumi menyatakan,”Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri di majelis hadits di rumah Syeikh Yusuf Ad Dijwi, bahwa Syeikh Al Kautsari bersimpuh membaca Al Muwaththa’ dengan khusyuk, sedangkan Syeikh Ad Dijwi menyimak duduk atas kursinya. Itu merupakan pemandangan yang menakjubkan.” (Nahdhah Al Islam fi Siyar A’lamiha Al Muashshirin, hal. 2/498, 499)

Tertawa Saat Belajar, Skors Sebulan

ABDURRAHMAN BIN UMAR salah seorang penuntut hadits pernah mengkisahkan, bahwa suatu saat ada seorang penuntut ilmu yang tertawa di dalam majelis ilmu Imam Abdurrahman bin Al Mahdi, hafidz hadits terkemuka kala itu.

Mendengar suara tawa, Imam Abdurrahman bin Al Mahdi pun bertanya,"Siapa yang tertawa?!" Maka mereka yang hadir dalam majelis itu pun menunjuk kepada seseorang. Maka Imam Abdurrahman bin Al Mahdi pun menyampaikan keheranan beliau,"Engkau mencari ilmu dengan tertawa?!" Lantas beliau pun menyampaikan,"Aku tidak akan menyampaikan hadits kepada kalian selama sebulan!" (Al Jami' li Al Ahlaq Ar Rawi wa Adab As Sami', hal. 84)

Demikianlah para ulama menghargai sebah majelis ilmu yang merupakan majelis yang penuh kemuliaan. Nah, bagaimana dengan kita?

Roti dari Rasulullah (Shallallahu Alaihi Wasallam)

ABU AL KHAIR AT TINATI adalah seorang sholeh yang wafat paca 340 H, yang amat menjaga makanan yang masuk ke dalam tubuhnya. Imam Al Hafidz Ibnu Al Jauzi menyebutkan bahwa suatu saat  beliau melakukan perjalanan di Madinah dan kehabisan bekal, hingga lima hari tidak makan.

Sampai suatu saat beliau datang ke masjid Nabawi dan di depan makam Rasulullah Shalallalahu Alaihi Wasallam beliau mengucapkan salam, juga kepada Abu Bakr Ash Shiddiq, serta Umar bin Al Khaththab.Lalu menyampaikan,”Wahai Rasulullah, saya menjadi tamu Anda malam ini.”

Abu Al Khair lantas mengantuk, hingga beliau tertidur di belakang mimbar. Dan  saat itu, Abu Al Khair bermimpi bertemu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, Abu Bakr Ash Shiddiq di sebelah kanan beliau dan Umar bin Al Khaththab di sebelah kiri serta Ali bin Abi Thallib menyertai. Ali bin Abi Thallib menggerakkan badan Al Khair seraya menyampaikan,”Bangun, Rasulullah (Shallallahu Alaihi Wasallam) telah datang.” Maka, Abu Al Khair pun berdiri mendekat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan mencium antara dua mata beliau. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pun memberikan sepotong roti, hingga Abu Al Khair memakan setengahnya.

Setelah itu tiba-tiba Abu Al Khair terjaga dari tidurnya, dan beliau mendapati di genggaman tangannya roti yang tinggal setengah. (Shifat Ash Shafwah, 4/236)

"Kalau Engkau Berbohong, Maka ini Sedekah untukmu"


BILAL BIN SA’D adalah ulama di kalangan tabi’in yang masyhur dengan keshalihannya. Suatu saat putra ulama dari Syam ini wafat, dan datanglah kepada beliau seorang yang mengklaim memiliki harta pada putranya lebih dari 20 dinar. Maka Bilal pun bertanya,”Apakah engkau memiliki bukti?” Orang itu pun menjawab,”Tidak.” Bilal kemudian bertanya,”Apakah engkau memiliki catatan?” Orang itu pun menjawab,”Tidak.” Bilal pun akhirnya bertanya,”Apakah engkau bersedia untuk bersumpah?” Orang itu pun menjawab,”Ya.”

Maka Bilal bin Sa’d pun memasuki rumah dan dan memberikan dinar kepada lelaki tersebut sambil menyampaikan,”Kalau engkau benar, maka aku melunasinya untuk anakku. Kalau engkau berbohong, maka ini adalah sedekah untukmu.” (Shifat Ash Shafwah, 4/184)*

Roti Lezat dari "Sekeranjang Pasir"

ABU MUSLIM AL KHAULANI suatu saat diberi tahu oleh istri beliau,”Wahai Abu Muslim, kita tidak memiliki tepung lagi.” Abu Muslim membalas,”Apa yang kamu miliki sekarang?” Sang istri pun menjawab,”Ada satu dirham untuk membeli kain.” Abu Muslim pun meminta uang itu sekaligus sebuah karenjang lalu beliau pun berangkat ke pasar.

Saat berada di depan sebuah toko makanan, seorang peminta-minta memohon,”Wahai Abu Muslim, bersedekahlah untuk saya.” Kemudian Abu Muslim pindah ke toko lainnya, namun si peminta-minta masih mengikutinya dan meminta sedekah. Abu Muslim pun menghindar dan pindah ke toko lainnya, namun pengemis itu masih mengikuti dan meminta. Akhirnya, beliau memberikan uang satu dinar yang dimilikinya itu.

Akhirnya, tidak ada uang yang bisa dibelikan makanan saat itu, sampai akhirnya Abu Muslim memenuhi keranjangnya dengan pasir dan bebatuan dan menutupinya. Saat tiba di depan pintu rumah, Abu Muslim lalu mengetuk pintu, kemudian saat pintu terbuka beliau segera beranjak pergi untuk menghindar dari kemarahan sang istri dan meletakkan begitu saja keranjang itu.

Setelah malam hari, Abu Muslim baru kembali pulang. Setelah dibukakan pintu, sang istri pun menghidangkan roti kepadanya. Abu Muslim pun bertanya,”Dari mana engkau mendapatkan ini?” Sang istri pun menjawab,”Dari tepung yang engkau bawa pulang tadi.” Abu Muslim pun memakan roti itu sambil menangis (Shifat Ash Shafwah, 4/179).*


Muhasabah Terakhir Taubah bin Ash Shammah

TAUBAH BIN ASH SHAMMAH adalah seorang ahli ibadah yang selalu melakukan muhasabah terhadap dirinya. Di saat umur beliau mencapai 60 tahun beliau bermuhasabah, bahwa kehidupan dirinya telah melalui 21.500 hari.

Saat itu Taubah pun berteriak,”Celakalah diriku, aku menghadap Rabb-ku dengan 21.500 dosa. Bagaimana jika dalam sehari aku melakukan 10.000 dosa?! Kemudian beliau pun pingsan lalu meninggal."(Shifat Ash Shafwah, 4/167)

Berbakti kepada Ayah Saat di Penjara

FADHL BIN YAHYA AL BARMAKI adalah seorang pejabat yang dikenal gemar berbakti kepada ayahnya, dimana ia selalu menghangatkan air untuk mandi sang ayah di saat musim dingin. Namun suatu saat terjadi perselisihan antara khalifah dengan keluarga Fadhl bin Yahya, sehingga ia sekaligus sang ayah dipenjarakan.

Di saat dalam penjara musim dingin tiba Fadhl bin Yahya tidak bisa lagi menghangatkan air untuk mandi sang ayah dengan perapian. Namun ia tetap melakukan upaya agar air yang hendak digunakan sang ayah hingga tidak terlampau dingin, yakni dengan menempelkan perutnya ke cawan logam untuk air itu, hingga air itu berkurang dinginnya karena panas tubuh Fadhl bin Yahya (Maujub Ad Darussalam, hal. 106).

Imam Abu Ishaq dengan Kaum Awam

IMAM ABU ISHAQ AS SYIRAZI suatu saat ragu saat membasuh wajah ketika berwudhu, hingga beliau menghabiskan beberapa gayung untuk berwudhu. Seorang lelaki awam yang melihat beliau pun menegurnya,”Wahai Syeikh tidak malukah Anda, berwudhu dengan cara demikian padahal Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah bersabda,’Barang siapa melebihi 3, maka ia telah berlebihan.’”

Maka Imam Abu Ishaq pun menjawab,”Kalau 3 basuhanku sah menurutku, maka aku tidak akan menambahnya”.

Lelaki awam itu pun berlalu, hingga ada seorang yang menegurnya,”Apa yang engkau katakan kepada seorang syeikh yang berwudhu itu?” Maka ia pun menjawab,”Orang tua itu terjangkit waswas, maka aku katakan demikian, demikian…”

Si penegur pun bertanya,”Tidak tahukah engkau siapa orang itu?” Laki-laki itupun menjawab,”Tidak.” Si penegur pun menjawab,”Dia itu adalah imam dunia, syeikh umat Islam, mufti ulama Syafi’iyah!”

Maka, lelaki awam itu pun kembali dengan perasaan malu kepada Imam Abu Ishaq,”Wahai tuanku, maafkan saya. Saya telah salah, saya tidak mengetahui siapa Anda.”

Imam Abu Ishaq pun menjawab,”Yang engkau katakan benar, tidak boleh lebih dari tiga kali basuhan. Dan yang aku katakana juga benar, kalau sekiranya sah 3 basuhanku menurutku, maka aku tidak akan menambahnya”. (Thabaqat As Sayfi’iyah Al Kubra, 4/ 228)

Demikianlah ketawadhu'an Imam Abu Ishaq, tetap berlaku meski berhadapan dengan kaum awam.

Ahli Ibadah yang Tahu Kapan Allah Mengingatnya

TSABIT AL BUNANI menyebutkan bahwa seorang ahli ibadah suatu saat menyampaikan kepada kawan-kawannya,”Aku benar-benar tahu kapan Allah Azza Wa Jalla mengingatku”. Sontak kawan-kawannya terheran,”Engkau tahu saat Rabb-mu mengingatmu?” Ahli ibadah itu menjawab,”Ya.” Mereka pun bertanya,”Kapan?” Laki-laki itu pun menjawab,”Jika aku mengingat-Nya, maka Ia mengingatku.”

Laki-laki itu pun berkata lagi,”Dan aku benar-benar tahu tatkala Allah menerimaku.” Teman-temannya pun bertanya,”Bagaimana engkau tahu itu?” Ia pun menjawab,”Jika hatiku bergetar dan air mataku berlinang dan doaku terkabulkan.” (Shifat Ash Shafwah, 3/176)

Jin Pun Tidak Suka dengan Pencela Sahabat

SALAMAH BIN SYABIB saat itu bertekad untuk pindah ke Makkah, maka ia menjual rumahnya. Setelah ia mengosongkan rumah dan menyerahkan kepada pembeli, ia berdiri di depan pintu dan menyampaikan,”Wahai penghuni rumah, engkau telah bertetangga dengan kami dengan baik, semoga Allah membalas kebaikan kepada kalian. Sengguhnya kami telah menjual rumah ini dan kami akan pindah ke Makkah. Assalamualakum warahmatullah…”

Salamah bin Syabib pun mendengar suara dari dalam rumah,”Demikian juga, semoga Allah membalas kalian dengan kebaikan dan kami tidak melihat kalian kecuali dalam kebaikan. Kami juga hendak pindah dari rumah ini karena sesungguhnya yang membeli rumah ini adalah penganut Rafidah yang suka mencela Abu Bakr dan Umar radhiyallahu ‘anhuma” (Shifat Ash Shafwah, 4/358).

Al Hafidz Ibnu Al Jauzi menulis kisah ini dalam pembahasan khusus mengenai profil jin-jin yang shalih di akhir kitab Shifat Ash Shafwah.

Burung Nasar Menaungi Ulama yang Sedang Shalat

MIMSYAD AD DINAWARI suatu saat aku keluar ke padang pasir yang panas. Di tengah perjalanan ahli ibadah yang wafat tahun 299 H ini menyaksikan ada seekor burung nasar besar membuka sayapnya diam di udara.

Mimsyad pun merasa takjub dengan hal itu. Dan di saat ia mencari tahu, ia menemui Abu Hasan As Shaigh Ad Dinawari ulama yang kharismatik saat itu, sedang berdiri shalat sedangkan burung nasar menaunginya. (Shifat Ash Shafwah, 4/73)

Siapa Yang Menjamin Su’ul Khatimah?

YUSUF BIN AYUB AL HAMADZANI adalah seorang fuqaha As Syafi’iyah yang juga merupakan ahli ibadah. Saat berada di Baghdad, beliau banyak memberi nasihat dan peringatan kepada manusia dan mereka pun menyukai beliau. Hingga suatu saat seorang penuntut ilmu yang dikenal sebagai Ibnu As Saqa’ mengungkapkan ungkapan kasar kepada beliau,”Duduklah! Sesungguhnya aku mendapati dari perkataanmu aroma kekufuran, sehingga engkau bakal mati tidak dalam dien Islam.”

Tidak berselang waktu yang lama setelah peristiwa itu, Ibnu Saqa’ keluar dari Baghdad untuk melakukan perjalanana ke wilayah Romawi. Di negeri itu ia kemudian murtad mengikuti ajaran Nashrani (Shifat Ash Shafwah, 4/74).*

Melarikan Diri dari Popularitas

IMAM IBNU MUBARAK di Marwa memilki sebuah rumah yang berpelataran amat luas, yakni 50 x 50 dzira’. Tidak dijumpai ulama dan ahli ibadah yang berahlak mulia di Marwa kecuali berkumpul di rumah Ibnu Mubarak. Mereka setiap hari berkumpul dalam halaqah untuk membahas ilmu, hingga ketika Ibnu Mubarak keluar, mereka pun menyertainya.

Namun di saat Ibnu Mubarak tinggal di Kufah, beliau tinggal di sebuah rumah kecil dan hampir tidak keluar, kecuali untuk shalat, serta hanya sedikit yang mengunjungi. Melihat hal itu, Hasan Al Bashri bertanya,”Wahai Abu Abdullah, kenapa engkau mengasingkan di tempat ini dari keadaanmu di Marwa?”

Ibnu Mubarak pun menjawab,”Sesungguhnya aku lari dari Marwa menjahui hal yang engkau anggap baik untukku dan aku ingin tinggal di sini yang mana engkau tidak mengingkan untukku. Saat aku di Marwa, tidaklah timbul persoalan kecuali mereka mendatangkan kepadaku. Dan tidak ada pertanyaan kecuali mereka mengatakan,’Bertanyalah kalian kepada Ibnu Mubarak’. Dan di sini, aku selamat dari hal itu.” (Shifat Ash Shafwah, 4/131)



Lari dari Damaskus Hindari Ujub

IMAM AL GHAZALI suatu saat duduk di pelataran masjid Al Umawi di Damaskus dengan pakaian orang miskin, sedangkan para mufti juga berkumpul di tempat yang sama. Hingga datanglah seorang datang dari kampung hendak bertanya mengenai hukum kepada para mufti tersebut. Namun setelah disodorkan pertanyaan para mufti itu tidak satupun memberikan jawaban.

Laki-laki itu pun tertarik menyaksikan Imam Al Ghazali, hingga ia mengalihkan pertanyaan kepada beliau. Imam Al Ghazali pun menjawab pertanyaan tersebut. Merasa takjub, laki-laki itu pun berucap,”Sesungguhnya para mufti besar tidak memberikan jawaban kepadaku, sedangkan orang fakir yang tidak tahu apa-apa ini bagaimana ia bisa memberi jawaban?” Dan pandangan para mufti pun tertuju kepada Imam Al Ghazali.

Mereka pun mendekat dan bertanya kepada Imam Al Ghazali,”Apa yang telah engkau sampaikan kepada laki-laki desa itu?” Dan akhirnya, identitas Imam Al Ghazali terungkap karena itu. Dan mereka pun meminta Imam Al Ghazali untuk menggelar majelis ilmu untuk mereka simak. 

Imam Al Ghazali pun memutuskan untuk segera bersafar meninggalkan Damaskus di malam harinya, karena takut timbul sifat ujub (merasa dirinya lebih hebat dibanding orang lain) dalam hati (lihat, Thabaqat As Syafi’iyah Al Kubra, 6/199).*

Wali Tersembunyi

ABDULLAH BIN MUBARAK mengkisahkan, “Kala itu aku berada di Makkah, dan para penduduknya tertimpa kekeringan. Mereka pun keluar menuju Masjid Al Haram untuk melakukan shalat istisqa, namun meski demikian, hujan pun belum kunjung turun.”

Ibnu Mubarak melanjutkan,”Saat itu, di sampingku duduk seorang berkulit hitam yang berdoa,’Ya Allah, sesungguhnya mereka telah berdo’a kepada-Mu, namun kenapa Engkau menutupi? Dan sesungguhnya aku bersumpah atas-Mu agar Engkau menurunkan hujan untuk kami.’ Tak lama kemudian hujan pun turun.”

Laki-laki hitam itu pun pergi dan Ibnu Mubarak diam-diam mengikutinya, hingga laki-laki itu masuk ke sebuah rumah diantara rumah-rumah para penjahit. Keesokan harinya Ibnu Mubarak mendatangi kembali rumah itu mencari laki-laki berkulit hitam yang telah ia lihat. Ditemuilah seorang laki-laki yang berdiri di depan pintu rumah yang dimasuki oleh laki-laki hitam tersebut,”Aku ingin bertemu dengan pemilik rumah ini”. Orang itu pun menjawab,”Aku sendiri”. Ibnu Mubarak pun menyampaikan,”Aku ingin membeli budakmu.”

Akhirnya, laki-laki itu mengeluarkan 14 budaknya, namun tidak terlihat seorang pun dari mereka laki-laki berkulit hitam yang dicari oleh Ibnu Mubarak. Ibnu Mubarak bertanya,”Masih ada yang tersisa?” Laki-laki itu pun menjawab,”Masih ada, budak yang sakit.” Lantas laki-laki mengeluarkan seorang budak yang ternyata merupakan laki-laki hitam yang dicari oleh Ibnu Mubarak.

Ibnu Mubarak pun menyatakan,”Juallah ia padaku.” Si pemilik menyetujuinya dan Ibnu Mubarak menyerahkan 14 dinar kepada pemilik budak. Setelah budak itu menempuh perjalanan dengan Ibnu Mubarak, ia pun bertanya,”Wahai tuan, mengapa Anda memperlakukan saya seperti ini, sedangkan saya sakit?” Maka Ibnu Mubarak pun menjawab,”Karena aku menyaksikan apa yang terjadi kemarin sore.”

Setelah mendengar apa kata Ibnu Mubarak, budak itu pun menyandarkan diri di tembok seraya berdoa,”Ya Allah, Engkau telah membuka hakikat diriku, maka ambillah aku untuk menghadap-Mu”. Setelah itu, Ibnu Mubarak pun menyaksikan laki-laki hitam itu menghembuskan nafasnya dan beliau menilai bahwa penduduk Makkah menderita kerugian dengan kematiannya (Shifat Ash Shafwah, 2/295,296).

Hikmah yang bisa diambil dari kisah ini salah satunya adalah, hendaklah kita jangan sampai meremehkan seorang pun dikarenakan pandangan manusia terhadapnya. Bisa jadi di mata menusia seseorang dianggap rendah namun sejatinya ia memiliki derajat di pandangan Allah.*

"Mengapa Kami Takut Mati?"

SULAIMAN BIN ABDUL MALIK adalah seorang penguasa di kala itu. Suatu saat ia bertanya kepada Abu Hazim, "Wahai Abu Hazim, kenapa kami takut mati?"

Abu Hazim yang merupakan ulama ahli ibadah menyampaikan,"Kalian takut mati karena kalian telah memakmurkan dunia kalian dan menghancurkan akhirat kalian. Bagaimana kalian menginginkan meninggalkan negeri makmur menuju negeri yang hancur?"

Sulaiman pun menjawab,"Benar!" (Shifat Ash Shafwah, 2/108)*.

Umar bin Abdul Aziz dan Binatang Buas

MALIK BIN DINAR mengkishkan,”Ketika Umar bin Abdul Aziz naik tahta, para penggembala di puncak-puncak gunung Syam bertanya-tanya,’Siapa khalifah shalih yang telah bertahta ini?’ Maka ada yang menyahut kepada mereka,’Darimana kalian tahu kalau ia seorang yang shalih?’ Para penggembala pun menjawab,’Jika yang memimpin adalah khalifah shalih maka singa-singa dan srigala-srigala berhenti mengganggu ternak kami’”(Shifat Ash Shafwah, 2/84).

Walhasil, dengan pemimpin yang adil dan shalih bencana-bencana yang menimpa sabuah negeri akan berhenti dan kesengsaraan rakyat diangkat.*

Umar bin Abdul Aziz dan Binatang Buas

MALIK BIN DINAR mengkishkan,”Ketika Umar bin Abdul Aziz naik tahta, para penggembala di puncak-puncak gunung Syam bertanya-tanya,’Siapa khalifah shalih yang telah bertahta ini?’ Maka ada yang menyahut kepada mereka,’Darimana kalian tahu kalau ia seorang yang shalih?’ Para penggembala pun menjawab,’Jika yang memimpin adalah khalifah shalih maka singa-singa dan srigala-srigala berhenti mengganggu ternak kami’”(Shifat Ash Shafwah, 2/84).

Walhasil, dengan pemimpin yang adil dan shalih bencana-bencana yang menimpa sabuah negeri akan berhenti dan kesengsaraan rakyat diangkat.*

Menghafal dengan Tangga

IMAM ILKIYA AL HARRASI merupakan murid imam Al Ghazali yang memiliki kemampuan di bidang keilmuan yang paling menonjol. Beliau sendiri memiliki mujahadah tinggi dalam mengulang hafalan.

Beliau mengisahkan,”Saat itu di madrasah Sarhank di Naisabur terdapat saluran air yang memiliki tangga berjumlah 70 undak. Dan aku jika mengahafal pelajaran, maka aku turun dari saluran, untuk setiap undak aku mengulang sekali untuk naik dan turun. Dan aku melakukan hal serupa untuk semua pelajaran yang aku hafal”.(Thabaqat As Syafi’iyah Al Kubra, 7/232)*.

Mencari Ilmu Hingga Kehabisan Baju

AL HAFIDZ IBNU ABI HATIM AR RAZI mengkisahkan mengenai perjuangan ayah beliau Al Hafidz Abu Hatim Ar Razi, dimana beliau pernah bercerita,”Saat di Bashrah tahun 214 H waktuku masih tersisa 9 bulan dari rencanaku menetap selama satu tahun. Saat itu perbekalanku habis, hingga aku menjual bajuku satu persatu, sampai aku tidak memiliki bekal lagi.”

Ibnu Abi Hati melanjutkan kisah dari sang ayah,”Di saat demikian, aku terus berkeliling bersama temanku untuk pergi ke mejalis para syaikh dan menyimak dari mereka hingga sore hari. Saat temanku pulang, aku juga segera pulang ke rumah, untuk meminum air karena lapar”. (Muqaddimah Al Jarh wa At Ta’dil, hal. 363).*

Akhir Hayat Imam Al Ghazali

SYEIKH AHMAD yang merupakan saudara dari Imam Abu Hamid Al Ghazali mengkisahkan,”Di saat hari Senin di waktu shubuh, saudaraku Abu Hamid berwudhu dan melaksanakan shalat. Lantas ia mengatakan,’Ambilkan kafan untukku’. Lantas aku pun mengambilkan untuknya. Ia pun mencium kafan itu dan menutupkannya di wajah seraya berkata,’Saya mendengar dan saya ta’at untuk menemui Yang Maha Kuasa’”.

Syeikh Ahmad melanjutkan,”Kemudian ia berbaring dan menghadap kiblat. Di saat sebelum langit menguning beliau pun wafat”. (Thabaqat As Syafi’iyah Al Kubra, 6/201)

Ulama Mujtahid Ambil Ilmu dari Putranya

SYEIKH AL ISLAM TAQIYUDDIN AS SUBKI ulama Syafi’iyah yang sampai pada derajat ijtihad, suatu saat mengisahkan kepada putranya Tajuddin Abdul Wahhab As Subki mengenai Imam Al Karaji yang menurut beliau adalah salah satu murid Imam As Syirazi. Informasi itu sendiri beliau peroleh dari Al Hafidz Ad Dimyathi ulama hadits yang tiada banding di zamannya yang merupakan guru beliau.

Namun sang putra yang juga ulama menyanggah apa yang disampaikan sang ayah,”Tidaklah demikian”. Sang putra menyampaikan bahwa Al Karaji adalah murid dari murid As Syirazi hanya saja ia mempelajari kitab karya As Syirazi.

Setelah itu Imam Taqiyuddin As Subki pun menulis dalam salah satu karya beliau yang berjudul Ma’na Qauli Imam Al Muthallibi Idza Shahah Al Hadits Fa Huwa Madzhabi,”Telah mengatakan putraku Abdul Wahhab kepadaku,’Sesungguhnya ia (Al Karaji) bukan termasuk murid Syeikh Abu Ishaq, akan tetapi ia murid dari murid-murid beliau dan mempelajari kitab beliau’”. (lihat, Thabaqat As Syafi’iyah Al Kubra, 6/140)

Begitu tawadhu’nya Imam Taqiyuddin As Subki, meski beliau ulama besar bahkan ada yang menyebut bahwa beliau lebih hebat daripada Imam An Nawawi, namun beliau tidak merasa rendah tatkala menukil pendapat sang anak dan menulisnya dalam kitab beliau.

Hidup dengan Setengah Dinar Perbulan

IMAM KAMALUDDIN AL ANBARI, merupakan seorang ulama besar dalam disiplin ilmu nahwu yang menganut madzhab As Syafi’i. Ulama yang berasal dari Baghdad ini sendiri dikenal dengan sifat qana’ah dan zuhudnya, dimana beliau beserta keluarga hanya mengandalkan upah sewa toko sebesar setengah dinar dalam sebulan.

Suatu saat Khalifah Al Mustadhi’ mengirim utusan kepada beliau dengan membawa uang sebanyak 500 dinar, namun beliau menolak pemberian itu. Saat para utusan itu menyampaikan,”Jika demikian, berikan kepada putra Anda”. Al Anbari pun menjawab,”Jika aku yang menciptakan anakku, maka akulah yang memberikan rizki kepadanya”. (Thabaqat As Syafi’iyah Al Kubra, 7/155)

Rumah Malik bin Dinar

MALIK BIN DINAR pernah menyatakan,"Barang siapa masuk rumahku, kemudian mengambil sesuatu darinya, maka hal itu halal untuknya. Adapun aku, tidak lagi memerlukan gembok atau kunci".

Di saat rumahnya terbakar, Malik bin Dinar hanya menyelamatkan mushaf dan tikar. Di saat ada yang menyampaikan,"Bagaimana dengan rumahmu?" Murid Anas bin Malik ini pun menjawab,"Ia hanya kayu" (Shifat Ash Shafwah, 3/274, 280).

Berbahagialah Orang Mukmin yang Dicela

ABDURRAHMAN BIN AL MAHDI adalah seorang hafidz hadits dari Bashrah yang dikenal keshalihan dan ketawadhua’nya. Suatu saat beliau pernah menyampaikan,”Kalau aku tidak membenci Allah didurhakai niscaya aku telah mengharapkan agar seluruh penduduk negeri ini mencelaku dan mengghibahku. Karena tidaklah ada sesautu yang menggembirakan seorang hamba kecuali mendapati di hari kiamat catatannya yang penuh dengan pahala, yang ia tidak ketahui dari mana asalanya dan tidak pula ia mengerjakannya.” (Shifat Ash Shafwah, 4/5,6)

Kedzaliman seorang hamba kepada manusia ketika tidak memperoleh kerelan dari mereka, menyebabkan pahalanya kelak di akhirat akan diberikan kepada orang yang didzalami, dan ketika sudah habis pahalanya, maka dosa orang yang terdzalimi akan dibebankan kepadanya. Jika demikian amatlah berat akibat dari kedzaliman terhadap manusia. Dan betapa orang yang terdzalimi memperoleh keuntungkan besar kelak di akhirat.

Mendoakan Pencuri Agar Kaya

AR RABI’ BIN KHUTSAIM satu saat kehilangan seekor kudanya kerena dicuri, sedangkan kuda itu sendiri harganya 20 ribu. Mereka yang hadir saat itu pun marah, hingga menyempaikan kepada beliau,”Doakan dia agar celaka!”.

Setelah permintaan itu, Ar Rabi’ pun berdoa,”Ya Allah, jika pencuri itu kaya, maka ampunilah ia. Dan jika ia miskin kayakanlah ia” (Shifat Ash Shafwah, 3/61).

Ar Rabi’ bin Khutsaim, membalas keburukan yang dilakukan orang lain justru dengan kabaikan.

Mengapa Dawud Ath Tha'i Menolak Roti

DAYAH DAWUD ATH THA’I suatu saat bertanya kepada Dawud bin Nashir Ath Tha’i ulama shalih,”Wahai Abu Sulaiman (Dawud Ath Tha’i), kenapa Anda tidak berminat memakan  hubz (roti lembab)?”

Dawud Ath Tha’i pun menjawab,”Wahai Dayah di waktu antara mengunyah roti dan minum, aku kehilangan kesempatan membaca 50 ayat.” (Shifat Ash Shafwah, 3/140)

Itulah sebabnya sejumlah ulama memilih mengkonsumsi roti kering yang dicelup air, hingga bisa makan tanpa perlu waktu yang lama untuk mengunyah.

 “Tiang” di Atas Atap Mansur

MANSUR BIN AL MU’TAMIR memiliki seorang tetangga wanita, yang memiliki dua anak perempuan yang biasa naik ke atas atap di malam hari di saat manusia terlelap dalam tidurnya.

Suatu saat salah satu anak perempuan tetangga  itu bertanya kepada ibunya tersebut,”Wahai ibu, untuk apa tiang yang aku saksikan berada di atas atap si fulan itu?”

Sang ibu pun menjawab,”Wahai anakku, itu bukanlah tiang, itu adalah Manshur yang sedang shalat semalam suntuk dengan satu rakaat.” (Shifat Ash Shafwah, 3/113)

Hikmah Di Balik Kejujuran

RIBA’I BIN HIRASY merupakan orang shalih yang dikenal tidak pernah berbohong. Suatu saat kedua putranya menentang Al Hajjaj, gubernur Madinah yang dikenal kejam saat itu. Maka para penasihat Al Hajjaj pun memberikan sebuah saran,”Sesungguhnya ayah dari kedua orang itu tidak pernah berbohong. Maka utuslah orang untuk bertanya kepadanya mengenai keberadaan kedua anakanya itu”.

Akhirnya saran itu dilakukan, Riba’i bin Hirasy pun ditanya,”Dimana kedua putramu?” Beliau pun menjawab,”Keduanya ada di dalam rumah”.

Setelah mengetahui peristiwa itu, Al Hajjaj pun menyampaikan,”Kami telah mengampuni keduanya karena kejujuran Anda”. (Shifat Ash Shafwah, 3/36)

Syuraih, Hakim yang Memvonis Anaknya

SYURAIH BIN AL HARITS adalah seorang hakim di kalangan tabi’in yang dikenal dengan keadilannya. Suatu saat putra beliau mengadu kepadanya karena permasalahan antara dirinya dengan orang lain,”Jika saya yang benar maka aku akan menuntut mereka. Jika tidak maka aku tidak akan melakukan hal itu”.

Maka sang putra pun menceritakan masalahnya kepada sang ayah, setelah itu sang ayah pun menyampaikan,”Pergilah, tuntutlah mereka”. Maka sang putra pun membawa masalah itu ke pengadilan dengan ayahnya sebagai hakimnya.

Namun di pengadilan hasilnya berbalik, sang ayah malah memvonis bahwa putranya lah yang bersalah. Sehingga setelah pulang ke rumah sang anak pun mengadu,”Demi Allah, kalau saya tidak meminta pendapat kepada Anda, maka saya tidak mencela. Anda telah menjatuhkan saya”.

Maka Hakim Syuraih pun menyatakan,”Demi Allah, engkau adalah anakku yang paling aku cintai dari dunia seisinya, akan tetapi Allah lebih tinggi kedudukannya dibanding engkau. Engkau yang bersalah, maka berdamailah kepada mereka dan kembalikan hak mereka”. (Shifat Ash Shafwah, 3/40)

Malu Jika Takut kepada Selain Allah

AMRU BIN UTBAH merupakan seorang tabi’in yang dikenal dengan kekhusyukan dalam shalat. Suatu saat beliau bersama beberapa sahabatnya mengikuti sebuah peperangan. Dan saat itu budak beliau mendapati bahwa Amru bin Utbah tidak ada pada tempatnya, hingga ia mencarinya.

Tak lama kemudian, sang budak menemukan bahwa majikannya sedang melaksanakan shalat di gunung sedangkan awan menaunginya. Dan suatu malam sang budak mendengar suara auman singa, sehingga siapa saja yang ada di tempat itu berlarian, hanya tinggal Amru bin Utbah yang sedang shalat.

Setelah persitawa itu, sang budak dan lainnya pun bertanya kepada Amru bin Utbah, ”Apakah Anda tidak takut singa?” Maka Amru pun menjawab, ”Sesungguhnya aku benar-benar malu kepada Allah, jika aku sampai takut kepada selain Dia”. (Shifat Ash Shafwah, 3/70)

Harun Ar Rasyid dan Imam Al Ashma'i

KHALIFAH HARUN AR RASYID dikenal sebagai khalifah yang amat perhatian terhadap pendidikan putra-pitranya. Dikisahkan bahwa suatu saat beliau mengirim salah satu putranya kepada Imam Al Ashma’i, salah satu imam dalam ilmu nahwu untuk belajar ilmu dan adab.

Suatu saat ketika mengunjungi putranya, Khalifah menyaksikan Al Ashma’i sedang berwudhu dan membasuh kaki beliau sedangkan putranya menuangkan air ke kaki sang guru.

Melihat hal itu, Khalifah pun tidak menerima dan mengatakan kepada Imam Al Ashma’i,”Sesungguhnya aku mengirim putraku pedamu agar engkau mengajarkan adab kepadanya. Kenapa engkau tidak memerintahkannya untuk menuangkan air dengan salah satu tangannya sedangkan tangan lainnya membersihkan kakimu?!” (Syarh Ta’lim Al Muta’allim, hal. 37,38)

Menyiapkan Kubur Sendiri

DHIRAR BIN MURRAH AS SYAIBANI merupakan ulama yang tinggal di Kufah yang dikenal banyak menangis dan mengingat kematian. Beliau pun telah menggali makamnya sendiri sejak 15 tahun sebelum wafatnya.

Di dalam galian makam itu beliau tinggal untuk menghatamkan Al Qur`an dan melaksanakan ibadah lainnya, dalam rangka mempersiapkan kematian (lihat, Shifat Ash Shafwah, 3/115).

Buah Kedermawanan kepada Fuqaha

IMAM SYAMSUL AIMAH AL HALWANI memiliki ayah faqir yang berjualan kue manisan. Di masa hidup beliau gemar memberi para fuqaha kue manisan sambil mengatakan,”Doakan putra saya”.

Burhanuddin Az Zarnuji menilai bahwa karena keberkahan dari kedermawanan sang ayah, keyakinan serta kerendahan hatinya, maka putranya memperoleh apa yang berhasil ia peroleh” (Ta’lim Al Muta’allim, hal. 66)

Taubatnya Wanita Penggoda

AR RABI’ BIN KHUTSAIM adalah seorang ulama shalih, hingga ada kaum yang mencoba menguji keimanan beliau. Akhirnya kaum itu meminta kepada seorang wanita yang amat cantik, untuk menggoda Ar Rabi’. Jika itu berhasil, maka mereka menjanjikan imbalan sebesar 1000 dinar untuk wanita tersebut.

Akhirnya wanita itu memakai pakaian yang paling bagus dan bersolek sebaik-baiknya, kemudian menyongsong Ar Rabi’ tatkala beliau keluar dari masjid. Melihat hal itu, Ar Rabi’ pun memintanya mendekat, dan perempuan itu pun menemui beliau.

Lantas Ar Rabi’ pun menyampaikan,”Bagaimana jika sakit menimpamu, hingga ia merubah apa yang terlihat dari badanmu saat ini? Bagaimana jika turun kepadamu malaikat maut? Dan bagaimana pula jika Munkar dan Nakir datang kepadamu?”

Setelah mendengar pertanyaan-pertanyaan Ar Rabi’, wanita itu pun berteriak histeris lalu pingsan. Dan setelah peristiwa itu, ia pun menjadi ahli ibadah yang amat bersungguh-sungguh dalam ibadahnya, hingga seakan-akan ia sedang menghadapi kematian di hari itu (Shifat Ash Shafwah, 3/191).


Saat Malik Berjalan di Makam

MALIK BIN DINAR merupakan ahli ibadah di kalangan tabi’in. Suatu saat beliau berjalan di sebuah pemakaman dan kebetulan saat itu ada seorang yang telah wafat sedang dimakamkan. Beliau pun datang mendekat ke lokasi tersebut dan di atas liang beliau menyaksikan jenazah sedang dimasukkan ke dalam lahat.

Beliau pun menyampaikan,”Wahai Malik, kelak dia akan seperti itu dan tidak ada alas di kuburnya. Besok Malik demikian nasibnya”, beliau terus menyatakan demikian hingga akhirnya pingsan. Orang-orang yang berada di pemakaman itu akhirnya mengangkat tubuh Malik bin Dinar dan membawanya pulang ke rumah beliau (Shifat Ash Shafwah, 3/280).


Manolak Imbalan 1000 Dinar

MUHAMMAD BIN SAHL BIN ASKAR AL BUKHARI suatu saat melakukan perjalanan menuju Makkah. Di tengah perjalanan beliau bertemu dengan seorang dari Maghrib (Afrika) dengan seorang yang bersamanya yang menyeru,”Barang siapa menemukan dompet, maka ia memperoleh 1000 dinar”.

Lalu ada seorang berpakaian kumal yang salah satu matanya buta datang menghampiri orang dari Maghrib tersebut dan bertanya,”Tunjukkan tanda-tanda dompet itu?” Kemudian orang Maghrib itu pun menjelaskan ciri-cirinya dan mengatakan, bahwa di dalamnya ada harta milik orang lain.

Laki-laki tidak di kenal itu kemudian mengeluarkan sebuah dompet dan diberikan kepada orang Maghrib tersebut. Ia pun menghitung uang yang ada di dompet itu yang terdapat 600 dinar. Ternyata tidak ada yang berkurang. Orang Maghrib itu pun menyampaikan,”Ambillah 1000 dinar dari uangku sendiri sebagai imbalan atas penemuan ini”. Namun laki-laki itu menjawab,”Bagaimana aku bisa menerima imbalan 1000 dinar? Sedangkan nilai dompet itu sendiri hanya 600 dinar?” Kemudian laki-laki itu pun pergi dan tidak mengambil imbalan itu. (Shifat Ash Shafwah, 4/402)

Bersedekah Kepada Pencuri

JAKFAR BIN SULAIMAN BIN ALI suatu saat kehilangan berlian miliknya karena dicuri. Beliau pun mendatangi para pedagang berlian untuk mencari tahu. Akhirnya beliau menemukan berliannya sudah terjual dengan harga cukup mahal, dan pedagang itu pun menunjukkan,”Si fulan telah menjualnya sejak beberapa hari lalu”, lalu ia menunjukkan rumah orang yang menjualnya dengan membawa serta berliannya.

Sampai tiba di rumah orang yang menjual berliannya, orang itu ketakutan melihat Jakfar. Dan Jakfar pun menyampaikan,”Aku melihat air mukamu berubah? Bukankah engkau yang meminta kepadaku berlian ini untuk aku berikan kepadamu? Aku bersumpah aku lupa akan hal itu. Sekarang ambil uang hasil penjualan berlian itu dan kembalikan kepada penjual berlian ini dan ambil berlian ini dan juallah kembali secara halal dengan harga yang engkau sukai tanpa rasa takut. Demi Allah aku merasa menderita dengan melihat engkau ketakutan”. (At Tadzkirah Al Hamduniyah, 3/463)


Beristri Wanita Ahli Ibadah

RAYAH AL QISIY adalah seorang shalih beristrikan seorang wanita ahli ibadah. Beliau suatu saat menceritakan pengalamannya dengan sang istri yang membuat beliau memperoleh pelajaran darinya.

Al Qisiy menyampaikan,”Jika ia (istri-pent) telah melaksanakan shalat Isya, maka ia berdandan, memakai wewangian serta mengenakan gaun dan mendatangiku lalu menyampaikan,’Apakah engkau ada hasrat?’ Jika aku mengatakan ‘ya’, maka ia bersamaku. Namun jika aku mengatakan,’tidak’, maka ia melepas kembali gaunnya dan mengambil tempat untuk mendirikan shalat hingga waktu shubuh tiba". (Shifat Ash Shafwa, 4/44)

Menangisi Puasa dan Shalat

MU’ADZAH AL ADAWIYAH saat hendak wafat beliau menangis kemudian tertawa, sehingga mereka yang berada di sekitar wanita ahli ibadah ini menanyakan hal itu,”Kenapa Anda menangis lalu tertawa?”

Mu’adzah Al Adawiyah pun menjawab,”Aku menangis karena aku ingat ketika aku tidak bisa lagi berpuasa, shalat dan berdizikir. Aku tertawa karena Abu Ash Shahba’ telah menjemputku di halaman rumah dengan dua pakaian hijau bersama sekumpulan yang tidak pernah aku saksikan di dunia, dan aku tertawa kepadanya”. (Shifat Ash Shafwah, 4/24)

Abu Ash Shahba' adalah suami Mu’adzah Al Adawiyah yang juga merupakan ahli ibadah yang dibunuh beserta putra beliau. Sedangkan Mu'adzah sendiri adalah tabi'iyah yang bertemu dan meriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu anha dan guru bagi Imam Hasan Al Bashri.

Malu Dengan Dunia

RABI’AH AL ADAWIYAH suatu saat didatangi oleh seorang laki-laki yang hendak memberikan 40 dinar untuknya,”Gunakanlah uang ini untuk memenuhi sebagian hajatmu”.

Mendengar pernyataan itu Rabi’ah pun menangis, lalu mengatakan,”Allah Maha Tahu bahwa aku malu kepada-Nya untuk meminta dunia sedangkan Dia memilikinya. Bagaimana bisa aku menginginkannya dari siapa yang tidak memilikinya?” (Shifat Ash Shafwah, 4/27)

 Saku Besar dan Kecil Imam Abu Dawud

BAKR BIN ABDU AR RAZZAK menulis dalam kitabnya,"Abu Dawud As Sijistani kala itu bajunya memiliki saku besar dan saku kecil. Suatu saat beliau ditanya mengenai keadaan ini, 'Semoga Allah merahmati Anda, untuk apa saku-saku itu?'”

Bakr melanjutkan,"Abu Dawud pun menjawab,'Saku yang besar untuk buku, sedangkan yang kecil tidak diperlukan'” (Shifat Ash Shafwah, 4/70).

Kisah di atas menggambarkan betapa Imam Abu Dawud lebih mementingkan ilmu dibanding harta, sehingga beliau tidak menganggap penting saku yang kecil yang biasa digunakan untuk menyimpan uang.

Yang Tawadhu’ yang Ditinggikan

IMAM ABU YUSUF murid Imam Abu Hanifah yang merupakan ulama besar madzhab Hanafi, suatu saat menyampaikan,”Aku tidak duduk dalam majelis sekalipun dengan meniatkan diri bertawadhu’ (memandang bahwa orang lain lebih shalih dan pandai dari diri sendiri), kecuali aku dimuliakan dalam majelis itu. Dan aku tidak duduk dalam majelis sekalipun dengan meniatkan diri agar dimuliakan, kecuali kekuranganku akan dinampakkan (Faidh Al Qadir, 3/361).

Walhasil, mencari ilmu harus dengan sifat tawadhu' dan justru orang yang bertawadhu' yang derajatnya diangkat Allah. Dan orang yang takabur justru direndahkan oleh Allah.

Hadits Terakhir Imam Abu Zur'ah

IMAM ABU ZUR’AH suatu saat berkumpul dengan Imam Abu Hatim, Muhammad bin Muslim, Al Mundzir bin Syadzan beserta para ulama lainnya. Mereka membahas hadits mengenai talqin, namun mereka malu karena ada Abu Zur’ah di tempat itu, mereka pun menginginkan agar Abu Zur’ah yang menyampaikan hadits.

Maka merekapun mengatakan,”Marilah kita mengingat hadits”, dan Muhammad bin Muslim pun menyatakan,”Telah memberi kabar kepada kami Adh Dhahak bin Mukhallad dari Abdul Humaid bin Ja’far bin Shalih…”, dan beliau tidak melanjutkan sedangkan ulama lainnya juga diam.

Imam Abu Zur’ah pun angkat bicara,”Telah mengabari kami kepada kami Bandar, telah mengabari kami kami Abu Ashim, telah mengabari kami Abdul Hamid bin Ja’far, dari Shalih bin Abi Gharib dari Katsir bin Murrah Al Hadhrami dari Muadz bin Jabal, beliau mengatakan,’Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,’Barang siapa akhir perkataannya la ilaha illallah…’”. Perkataan Imam Abu  Zur’ah terputus, karena beliau mendadak wafat. (Shifat Ash Shafwah, 4/89)

Ahli Shalat Disegani Binatang Buas

SHILLAH BIN ASYIM AL ADAWI adalah seorang ahli ibadah dari Bashrah yang terkenal dengan shalatnya. Suatu saat beliau ikut serta dalam sebuah pertempuran di kota Kabul (Afghanistan). Di saat waktu malam pasukan mulai beristirahat, Zaid seseorang yang ikut serta dalam pasukan itu ingin tahu amalan yang hendak dilakukan oleh Shillah secara diam-diam.

Zaid memperhatikan bahwa Shillah melaksanakan shalat Isya’ kemudian berbaring, menunggu sampai orang-orang tertidur. Zaid pun menyeru,”Orang-orang sudah tertidur”, kemudian ia melihat Shillah segera bangkit dan bergegas mencari air wudhu dan menuju sebuah celah tebing yang ada di dekatnya, kemudian ia melaksanakan shalat.

Namun Zaid kemudian menyaksikan seekor singa datang mendekati tempat Shillah melaksanakan shalat, Zaid sendiri ketakutan hingga ia memanjat pohon untuk berlindung. Ia melihat singa itu menoleh ke arah Shillah yang sedang bersujud, ia pun berkata dalam hati,”Singa itu hendak menyerangnya (Shillah)”.

Zaid menyaksikan Shillah duduk kemudian melakukan salam. Setelah itu Shillah berkata kepada singa itu,”Wahai binatang buas, carilah rizkimu di tempat lain”. Singa itu pun lantas pergi meninggalkannya. (Shifat Ash Shafwah, 3/217)

Sedekah Adonan Dibalas dengan Roti

HABIB ABU MUHAMMAD AL FARISI seorang ahli ibadah dari Bashrah yang dikenal dengan sedekahnya. Suatu saat datang kepada beliau seorang peminta-minta, sedangkan di saat itu ada adonan tepung yang tersedia. Habib pun memberikan adonan itu kepada pengemis tersebut,”Ambillah adonan ini dan masaklah”.

Saat Umrah, salah satu keluarga Habib yang membuat adonan itu datang untuk memasaknya, ia bertanya-tanya mengenai adonan yang telah dibuatnya. Habib pun menjelaskan bahwa adonan itu telah diberikan kepada si pengemis. Umrah pun menjawab,”Subhanallah, kita perlu sesuatu untuk dimakan”.

Setelah itu tiba-tiba ada seorang datang dengan membawa wadah besar penuh dengan roti dan daging untuk diberikan kepada Habib. Umrah pun berkomantar,”Cepat sekali memasaknya, ia telah jadi roti dan mereka menambah dengan daging”. (Shifat Ash Shafwah, 3/316)

Kalau Tidur, Tidurlah di Kuburan

KURDIYAH BINTI AMRU adalah seorang wanita ahli ibadah yang mengabdikan diri kepada gurunya Sya’wanah yang juga seorang ahli ibadah di kalangan wanita. Semasa beliau mengabdi ada hal yang tidak pernah terlupa dari nasihat gurunya.

Kurdiyah mengisahkan,”Suatu malam aku menginap di rumah Sya’wanah. Saat aku tertidur beliau membangunkanku sembari mengatakan,’Bangunlah wahai Kurdiyah, ini bukan tempat untuk tidur, sesungguhnya tidur itu tempatnya di kuburan’”. (Thabaqat As Shufiyah, hal. 395)

Maksudnya, dunia adalah tempat untuk beramal sebanyak-banyaknya, bukan tempat untuk bersantai. Dan istirahatnya seorang Mukmin adalah di saat dia menikmati balasan dari amalannya yang shalih tatkala ia sudah wafat.

Malaikat Maut pun Menunggu Shalatnya Ulama

KHAIR AN NASAJ ketika menderita sakit yang menghantarkan beliau kepada kematian beberapa orang pun menjenguknya. Mereka menyaksikan bahwa di waktu maghrib ahli ibadah dari Baghdad ini pingsan, kemudian bangun membuka mata lantas memandang ke arah pintu rumah sambil mengatkan,"Berhentilah dulu! Sesungguhnya Anda hamba yang hanya melaksanakan perintah, demikian juga aku hanya melaksanakan perintah. Dan apa yang diperintahkan kepadaku tidak membuat engkau terlewat sedangkan apa yang diperintah kepadamu membuatku terlewat. Maka beri kesempatan kepadaku untuk mengerjakan apa yang diperintahkan kepadaku baru kemudian laksanakan apa yang diperintahkan kepadamu”.

Kemudian beliau meminta air wudhu, berwudhu dan melaksanakan shalat maghrib lalu meluruskan badan, memejamkan mata, bersyahadat kemudian beliau meninggal. (Thabaqat As Shufiyah, hal. 248)

Menjaga Makanan Saat Menyusui

UMMU ASWAD BINTI ZAID AL ADAWIYAH merupakan seorang wanita ahli ibadah yang sangat hati-hati dalam masalah makanan. Hal itu beliau lakukan setelah mendengar nasihat dari Muadzah Al Adawiyah wanita shalih yang telah menyusuinya.

Ummu Aswad mengisahkan,”Mudzah Al Adawiyah mengatakan kepadaku,’Jangan engkau kotori susuanku dengan makan makanan haram. Sesungguhnya aku berusaha keras untuk tidak memakan kecuali makanan yang halal saat menyusuimu, sehingga engkau memperoleh taufiq Allah dalam beribadah dan ridha dengan keputusan-Nya’”.

Ummu Al Aswad pun mengatakan,”Aku tidak pernah memakan subhat, jika aku melakukannya maka aku luput dariku kewajiban dan wiridku” (Thabaqat Ash Shufiyah, hal. 406)

Mengejar Kafilah Orang-orang Shalih

AMRAH merupakan istri Habib Al Ajami yang ahli ibadah. Suatu saat Amrah terbangun di malam hari sedangkan sang suami tidur. Di saat menjelang shubuh (waktu sahur) Amrah membangunkan suaminya,”Bangunlah, malam telah berlalu dan telah tiba waktu pagi. Perjalananmu masih panjang sedangkan bekal masih sedikit. Kafilah orang-orang shalih telah berlalu di depan kita sedangkan kita masih belum bergerak”. (Shifat Ash Shafwa, 4/35)

Wara' Tanpa Mengecewakan Suami

UMMU HURAISY merupakan ahli ibadah dari kalangan wanita yang amat berhati-hati dengan makanan yang dikonsumsi. Ketika ia dinikahi oleh seorang tentara yang memperoleh gaji dari negara, wanita ini memilih tidak makan dari gaji suaminya, namun beliau makan dari jerih payah sendiri.

Di saat sang suami datang Ummu Hiraisy memperlihatkan seolah-olah sedang makan dengan manaruh piring makanan di depannya, namun jari-jarinya selalu berada di luar piring tersebut. (Shifat Ash Shafwah, 4/39)

Kisah di atas tidak otomatis menunjukkan bahwa Ummu Huraisy menganggap gaji suaminya yang berasal dari penguasa adalah harta yang haram, karena sebagian ulama dan ahli ibadah memilih wara’ (berhati-hati) terhadap harta dari penguasa. Dan hal itu dijalani oleh Ummu Huraisy tanpa harus mengecewakan sang suami.

Membangun Ahlak dengan Makanan Halal

IMAM ABU MUHAMMAD AL JUWAINI adalah ulama yang amat ketat dalam masalah makanan yang dikonsumsi oleh kelurganya demikian juga istri beliau. Demikian juga saat sang istri mengandung putranya yang kelak dikenal dengan Imam Al Haramain Al Juwaini, Imam Abu Muhammad selektif terhadap kehalalan makanan yang dikonsumsi sang istri dan setelah sang putra lahir Imam Al Haramain berpesan agar sang anak hanya disusui oleh ibunya saja.

Namun suatu saat sang ibu sakit dan sang anak pun menangis, perempuan dari tetangga akhirnya berinisiatif untuk menyusuinya. Tanpa disangka-sangka Imam Abu Muhammad masuk dan terkejut melihat sang anak. Akhirnya beliau memasukkan jari-jarinya ke kerongkongan sang anak dan itu dilakukan terus menerus hingga sang anak muntah dan mengeluarkan seluruh isi perutnya. Imam Abu Muhammad pun menyatakan,”Kecelakaan anak ini lebih bisa aku terima daripada prilakunya rusak karena meminum susu selain susu ibunya”. (lihat, Wafayat Al A’yan, 3/342,343)

Imam Tajuddin As Subki juga menyebutkan kisah ini, namun beliau menafsirkan bahwa Imam Abu Muhammad mengambil tindakan di atas disebabkan karena yang menyusui adalah budak tetangga yang belum memperoleh izin dari majikannya untuk menyusui sang anak. (lihat, Thabaqat As Syafi’iyah Al Kubra, 5/168,169)

Dari kisah di atas bisa disimpulkan bahwa Imam Abu Muhammad Al Juwaini berkeyakinan bahwa ada hubungan antara ahlak anak dengan kehalalan makanan dan minuman yang dikonsumsinya.

Orang Tua Bekali Guru dengan Pemukul

SULTAN MURAD II penguasa Daulah Al Utsmaniyah telah berusaha untuk memberikan pendidikan terbaik kepada putranya yang bernama Muhammad yang kelak menjadi penakluk Romawi Timur yang bergelar “Al Fatih” itu. Beliau telah memilih guru-guru khusus yang bertugas mendidik sang anak. Namun para guru gagal mendidiknya dan mereka pun menyerah karena Muhammad tidak pernah mengindahkan apa yang disampaikan oleh mereka.

Akhirnya Sultan Murad memilih Syeikh Ahmad bin Ismail Al Kaurani untuk mendidik sang putra. Tidak cukup menunjuk, bahkan Sultan Murad II memberikan pemukul kepada beliau, untuk digunakan memukul Muhammad jika ia melakukan pembangkangan.

Al Kaurani pun memasuki ruang belajar Muhammad dengan alat pemukul di tangan dan mengatakan,”Ayahmu mengirimku untuk mengajarimu beserta pemukulnya jika engkau menentang perintahku”. Apa yang terjadi? Muhammad malah tertawa mendengar perkataan itu. Namun rupanya Syeikh Al Kaurani sudah mengantisipasi hal itu, sang guru pun memukul Muhammad dengan pukulan yang keras di ruangan itu hingga akhirnya Muhammad merasa amat takut terhadap sang guru.

Apa yang dilakukan oleh Syeikh Al Kaurani ternyata membuahkan hasil. Dalam waktu singkat Muhammad hafal Al Qur`an sebelum berumur 9 tahun mulai nampak kelebihannya dibanding para putra bangsawan lainnya. (lihat, Nashr Al Kabir Muhammad Al Fatih, hal. 40-41)

Kisah di atas menunjukkan bahwa Sultan Murad sebagai orang tua amat percaya terhadap guru yang bakal mendidik putranya, hingga beliau sendiri yang menyiapkan alat pukul untuk mendidik putranya itu. Dan hal itu bukanlah dalih bolehnya memukul murid dengan membabi buta, karena Syeikh Al Kaurani adalah ulama besar yang pasti telah mempertimbangkan jenis pukulan yang bisa membuat sadar namun tidak membahayakan.*

Tetap Shalat Meski Ular Masuk ke Baju

AMIR BIN ABDILLAH suatu saat melaksanakan qiyam. Tiba-tiba ada wujud seekor ular yang masuk dari bawah gamisnya, lalu keluar dari saku, namun tidak mencelakai beliau.

Ketika ada yang bertanya,”Kenapa engkau tidak mengibaskan ular itu darimu?” Amir Bin Abdillah yang merupakan seorang ahli ibadah di kalangan tabi’in ini menyampaikan,”Aku benar-benar malu kepada Allah, jika aku sampai takut kepada selan Dia”. (Shifat Ash Shafwah, 3/202)

Menangisi Qiyam Al Lail

AMIR BIN ABDILLAH suatu saat ketika hendak wafat, beliau menangis. Mereka yang datang pun bertanya,”Apakah Anda menangis karena sakit saat sakaratul maut?”

Amir bin Abdillah pun menjawab,”Aku menangis bukan karena sakitnya mati atau memberati dunia, namun karena aku tidak bisa lagi mendirikan qiyam al lail di musim dingin”. (Shifat Ash Shafwa, 3/202).

Bagi kebanyakan manusia qiyam al lail di musim dingin adalah amalan yang amat berat. Namun  Amir bin Abdillah telah merasakan nikmatnya, hingga hal itu yang ditangisi beliau saat hendak wafat.

Percakapan Antara Ahli Ibadah dan Al Hajjaj

AL HAJJAJ BIN YUSUF ATS TSAQAFI gubernur Madinah kala itu hendak melaksanakan ibadah haji. Di tengah perjalanan antara Madinah dan Makkah, ia singgah di sebuah sumber air untuk makan siang. Kemudian ia memanggil pengawalnya untuk agar mencari orang untuk ikut serta menikmati hidangan itu.

Sang pengawal pun memeriksa gunung-gunung di sekitarnya untuk menemukan orang. Akhirnya ia menemukan seorang yang tidur diantara dua kantung gandum. Maka pengawal itu menendangnya dengan kaki,”Menghadaplah kepada Amir”.

Laki-laki itupun mendatangi Al Hajjaj dan Al Hajjaj pun mengatakan,”Cuci tanganmu, makanlah siang denganku”. Laki-laki itu pun menjawab,”Telah menyeruku yang lebih mulia darimu, dan aku telah memenuhi panggil-Nya”. Al Hajjaj pun bertanya,”Siapa?” Laki-laki itu menjawab,”Allah Ta’ala telah menyeruku agar berpuasa, maka aku berpuasa”. Al Hajjaj kembali bertanya,”Di siang yang amat panas begini?”. Laki-laki itupun menjawab,”Ya, bahkan aku berpuasa di hari yang lebih panas dari hari ini”.

Al Hajjaj terus mendesak,”Jika demikian berbukalah, besok baru berpuasa lagi”. Laki-laki itu menjawab,”Apakah engkau bisa menjamin aku bakal hidup sampai besok?” Al Hajjaj pun menjawab,”Tidak bisa”. Laki-laki itu pun berkata,”Bagaimana engkau meminta agar aku menunda puasaku besok, sedangkan engkau sendiri tidak bisa menjamin kematianku bakal tertunda”. (Shifat Ash Shafwah, 4/378)

Aswad yang Menjaga Pandangan

ASWAD BIN KALTSUM adalah orang shalih yang dikenal menjaga pendangan. Beliau kalau berjalan, pandangannya tidak akan mengarah melebihi dari kakinya.

Suatu saat beliau melalui tempat berkumpulnya para wanita, sedangkan tembok penghalangnya pendek. Kadang ada yang melapas pakaiannya ada juga yang melepas hijabnya. Namun, tatkala Aswad lewat, mereka tenang saja karena percaya bahwa pandangan beliau tidak akan tidak akan tertuju kepada mereka dan mereka pun mengatakan,”Ia tidak akan melihat, karena dia adalah Aswad bin Kaltsum” (Shifat Ash Shafwah, 3/291)

Sebab Hakim Afiyah Undurkan Diri

AFIYAH BIN YAZID merupakan seorang hakim yang terkenal adil, meski demikian beliau akhirnya memilih mengundurkan diri dari jabatannya setelah mengalami suatu kejadian.

Suatu saat hakim yang juga merupakan faqih madzhab Hanafi ini telah mantap dalam memutuskan suatu perkara, kemudian pihak yang terlibat dalam perkara memberi hadiah korma kepada beliau. Beliau pun menolak bahkan marah besar terhadap orang tersebut. Namun keesokan harinya di waktu beliau menyampaikan keputusannya, beliau menjadi ragu hingga batal menyampaikan apa yang beliau yakini sebelumnya.

Akhirnya Afiyah pun menghadap Khalifah Al Mahdi dan menceritakan apa yang beliau alami dan menyampaikan,”Demikianlah keadaan hatiku meski aku menolak hadiah itu. Jika demikian, bagaimana jika aku menerimanya?” Dan khalifah pun mengizinkan Afiyah mengundurkan diri dari jabatannya. (Siyar A’lam An Nubala’, 6/399)

Umur Panjang Yang Berkah

SUWAID BIN GHAFLAH adalah seorang tabi’in yang dikaruniai umur panjang sekaligus semangat dalam menjalankan ibadah. Al Walid bin Ali mengisahkan dari ayahnya,”Suwaid bin Ghaflah mengimami kami qiyam di bulan Ramadhan, sedangkan beliau waktu itu berumur 120 tahun”.

Ashim pun mengisahkan bahwa Suwaid Bin Ghaflah masih mendatangi shalat jumat dengan berjalan kaki di saat umur beliau sudah mencapai 116 tahun.

Suwaid sendiri menikah pada umur 116 tahun dengan seorang gadis dan beliau wafat pada umur 128 tahun pada tahun 81 H. (Lihat Shifat As Shafwah, 3/23)

Orang Mabuk Kehilangan Akalnya

IBNU ABI AD DUNYA mengatakan,”Aku menyaksikan seorang yang sedang mabuk (karena khamr) kencing kemudian membasuh wajahnya dengan air kencingnya, lantas mengucapkan, ‘Allahummaj’alni minattawwabin waj’alni minal mutathahhirin’”.

Dan beliau juga pernah melihat seorang yang sedang mabuk muntah sedangkan seekor anjing menjilati sisa-sisa muntahan dari mulutnya dan si pemabuk yang menyampaikan,”Semoga Allah memuliakan engkau wahai tuanku seperti memuliakan para wali-Nya”. (Bahr Ad Dumu’, hal. 185)

Ibnu Al Jauzi pun menyatakan bahwa salah satu dampak mengkonsumsi khamr adalah hilangnya akal yang kadang bisa membuat anak-anak kecil tertawa jika menyaksikannya dan menjerumsukan pelakunya kepada kehinaan.

Tidak Terkecoh dengan Amal Shalih

BISYR BIN MANSHUR AL HAFI suatu saat berdiri melaksanakan shalat dengan memanjangkannya serta melaksanakan ibadah dengan cukup baik dan hal itu diamati oleh seorang laki-laki. Setelah shalat Bisyr pun menyampaikan kepada laki-laki tersebut,”Jangan engkau terkecoh dengan apa yang engkau lihat dariku. Sesungguhnya iblis laknatullah telah menjadi hamba Allah selama ribuan tahun namun kemudian dia menjadi sebagaimana apa yang berlaku”. (Bahr Ad Dumu’ hal. 171)

Hendaklah kita tidak merasa “hebat” dengan ibadah yang telah kita lakukan saat ini karena kita tidak tahu keadaan keimanan kita di masa yang akan datang. Semoga Allah memberikan kepada kita husnul khatimah.

Tatkala Singa Menghadang Imam At Tsauri

IMAM AT TSAURI suatu saat menempuh perjalanan bersama Syaiban Ar Ra’i menuju Makkah untuk melaksanakan ibadah haji. Di tengah perjalanan seekor singa menghadang jalan, hingga Imam At Tsauri berkata kepada Syaiban,”Bagaimana singa ini menghalangi kita dan menakut-nakuti manusia?” Syaiban pun menjawab,”Jangan takut”.

Singa itu pun mengaum memandang Syaiban, namun tanpa takut beliau menghampiri singa itu lalu menjewer telinganya lantas singa itu kembali mengaum kemudian ia lari menjauh. Melihat hal demikian, Imam At Tsauri berkata,”Untuk apa engkau pamer wahai Syaiban?!” Syaiban pun menjawab,”Hal seperti ini engkau katakan pamer? Kalau aku berniat pamer niscaya aku sudah meletakkan perbekalanku di atas punggunya hingga sampai Makkah”. (Disampaikan Ibnu Al Jauzi dalam Bahr Ad Dumu’ hal. 130 dan Shifat As Shafwah, 3/377)

Ketika Allah Membalikkan Keadaan

MUHAMMAD BIN GHASSAL yang saat itu menjabat sebagai qadhi Kufah melihat seorang tamu wanita yang mengunjungi ibunya. Setelah mencari tahu Ibnu Ghassal mengerti bahwa yang datang adalah ibu Jakfar Al Barmaki, menteri Harun Ar Rasyid.

Ibnu Ghassal pun mengucapkan salam kepada wanita itu lalu menyampaikan,”Lama tidak bertemu Anda, bagaimana keadaan Anda?” Wanita itu pun menjawab,”Zaman telah berbalik, tiga tahun yang lalu 400 pembantu melayaniku dan anakku sendiri mengirim kepadaku 1000 kambing dan 300 sapi untuk kurban, itu belum termasuk perhiasan dan pakaian. Dan sekarang aku datang untuk meminta kulit dua domba untuk aku jadikan lapisan pakaian dan alas tidur di malam hari”.

Ibnu Ghassal pun menangis mendengar kabar itu lalu beliau pun menghibahkan beberapa dinar untuk wanita itu. (Bahr Ad Dumu’, hal. 97)

Jakfar Al Barmaki dan ayahnya Yahya bin Khalid sebelumnya termasuk orang kepercayaan Harun Ar Rasyid namun setelah itu hubungan mereka berubah menjadi permusuhan setelah Harun Ar Rasyid menilai bahwa mereka terlalu banyak mencampuri urusan istana, hingga akhirnya keduanya dikurung dalam penjara.

Menunaikan Hak Peminum Khamr

IMAM ABU HANIFAH saat itu hidup berdampingan dengan pemuda peminum khamr. Waktu Imam Abu Hanifah terjaga di malam hari guna menela’ah kitab-kitab ilmu si pemuda tatangga beliau juga terjaga namun untuk meminum khamr.

Di sela-sela aktivitasnya pemuda itu melanturnkan syair,”Akan aku nyayikan kepada mereka jika mereka mengucilkanku. Mereka menyia-nyiakanku dan kepada setiap pemuda mereka menyia-nyiakan”.  Pemuda itu terus mengulang-ulang syair tersebut  hingga Imam Abu Hanifah juga hafal.

Pada suatu malam Imam Abi Hanifah tidak mendengar pemuda itu melantunkan syairnya. Maka ketika keluar shalat shubuh beliau menanyakan keadaan tetangga beliau itu. Informasi yang beliau peroleh, pemuda itu ditangkap oleh aparat kemanan dan dijebloskan dalam tahanan.

Setelah shalat Imam Abu Hanifah mendatangi rumah aparat kemanan tersebut dan meminta izin untuk bertemu. Yang ditemui pun tergopoh-gopoh karena mengetahui siapa yang datang dan kemudian ia mencium tangan Imam Abu Hanifah. Sang Imam pun menyampaikan,”Kami datang untuk urusan tetangga kami yang ditahan tadi malam". Petugas itu pun menjawab,”Wahai tuan, saya berjanji akan melepaskan semua tahanan jika Anda menghendakinya, karena kebesaran hati tuan yang datang sendiri ke rumah saya”.

Akhirnya pemuda itu pun dibebaskan, dan ia sendiri bertanya kepada orang-orang di sekitarnya,”Siapa yang mengurus urusanku hingga aku terbebas?” Mereka pun menjawab,”Tuan kita Abu Hanifah”.

Kemudian saat pemuda itu memenui Imam Abu Hanifah, sang imam pun  menyampaikan,”Wahai pemuda sesungguhnya kami tidak menyia-nyiakan hakmu. Kami telah menunaikan apa yang sering engkau sampaikan,’Mereka menyia-nyiakanku dan terhadap setiap pemuda mereka menyia-nyiakan’”.

Setelah mendengar penuturan Imam Abu Hanifah pemuda itu pun akhirnya berkata,”Wahai Tuanku,  saksikanlah bahwa aku bertaubat karena Allah”. Dan pemuda itu benar-benra meninggalkan khamr serta istiqamah dalam beribada hingga ia wafat. (Bahr Ad Dumu’, hal. 153)

Mengulangi Shalat Seumur Hidup

HATIM AL ASHAM suatu saat menyampaikan kepada manusia mengenai zuhud dan ikhlas. Yusuf bin Ashim yang mengetahui hal itu akhir mengajak para muridnya untuk menghampiri majelis itu dan menanyakan mengenai shalat Hatim Al Asham. Jika shalatnya tidak sempurna maka mereka bertekad untuk melarang Hatim Al Asham berbicara mengenai hal itu.

Kemudian Yusuf bin Ashim pun menyampaikan,”Wahai Hatim Al Asham, kami datang untuk bertanya mengenai shalat Anda”. Hatim pun menjawab,”Apa yang hendak kalian tanyakan, adabnya atau ma’rifatnya?” Yusuf pun menoleh kepada para muridnya,”Hatim Al Asham malah menambah masalah mengenai apa yang tidak kita ketahui”.

Hatim Al Asham pun menyampaikan,”Baik, kita mulai dari adabnya. Kalian menegakkannya karena perintah, berjalan dengan niat ikhlas, masuk padanya dengan Sunnah, takbir dengan mengagungkan, membaca dengan tartil, rukuk dengan khusyu’, sujud dengan merendah, bangkit dengan tenang, tasyahud dengan ikhlas lalu salam dengan rahmah”.

Yusuf bin Ashim pun menjawab,” Tadi itu adalah adab sekarang bagaimana ma’rifatnya?” Hatim Al Asham pun menjawab,”Jika engkau berdiri maka ketahuilah bahwa  Allah Ta’ala menjumpaimu maka temuilah siapa yang menjumpaimu. Dan tanamkan keyakinan dalam hatimu bahwa Dia dekat dan Maha Kuasa atasmu. Jika angkau telah ruku’ jangan mengharap untuk bangkit. Jika engkau telah bangkit jangan mengharap akan sujud. Dan jika engkau telah sujud jangan mengharap bangkit dan misalkan bahwa surga di sisi kananmu dan neraka di sisi kirim sedangkan di bawah telapak kakimu ada sirath. Jika engkau melakukannya maka engkau benar-banar shalat”.

Kemudian Yusuf bin Ashim pun menengok kepada para muridnya,”Bangkitlah kalian, kita ulangi shalat yang telah kita kerjakan seumur hidup”. (Bahr Ad Dumu’, hal. 119)

Uban Adalah Peringatan

IYAS BIN QATADAH merupakan orang yang dituakan oleh kaum Bani Tamim di Bashrah. Suatu saat beliau menyaksikan ada uban putih di janggutnya, hingga akhirnya beliau menyampaikan,”Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari petaka yang tiba-tiba menimpa. Aku melihat bahwa kematian mulai mendekat sedangkan aku tidak bisa menghindarinya”.

Kemudian Iyas Bin Qatadah keluar kepada kaumnya dan menyampaikan,”Wahai keturunan Sa’ad aku telah menghibahkan waktu mudaku untuk kalian maka hendaklah kalian berhibah untukku di masa tuaku”. Kemudian beliau pun menetap di rumah dan tidak pernah keluar hingga beliau wafat. (Bahr Ad Dumu’, hal. 101)

Bala’ Bagi Faqih Baghdad

IMAM IBNU AL JAUZI mengisahkan bahwa suatu saat salah satu fuqaha’ Baghdad hendak melaksanakan haji dan menziyarahi makam Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Akhirnya ulama besar yang dikenal keshalihannya ini mengajak beberapa muridnya untuk ikut serta.

Saat berada di tengah perjalanan para murid merasa kepayahan kerian terik sinar matahari dan rasa haus, hingga akhirnya mereka menyampaikan kepada sang guru,”Wahai guru, kita menuju rumah itu untuk berteduh, hingga cuaca teduh lalu kita melanjutkan perjalanan”, sang murid menujuk sebuah rumah penganut Nashrani.

Sang guru pun mengiyakan, hingga mereka berteduh di depan rumah tersebut. Karena kepayahan para murid pun tertidur meski sang guru tetap terjaga. Di saat itu sang guru meninggalkan mereka untuk mencari air wudhu. Namun di saat bersamaan saat ia mendongkan kepala ke atas ia melihat seorang perempuan dan sang guru pun terpesona dengan kecantikannya hingga iblis menguasainya. Hingga akhirnya ulama itu lupa terhadap wudhunya.

Sang guru akhirnya mengetuk pintu rumah tersebut dengan keras hingga keluarlah seorang pendeta Nashrani,”Siapa engkau?” Sang guru pun menjelaskan identitas dan namanya hingga pendeta itu bertanya,”Apa maksud kedatangan Anda wahai faqih Muslim?” Akhirnya sang faqih berterus terang menyampaikan bahwa ia ingin memperistri perempuan yang tadi dilihatnya berada di rumah tingkat atas. Pendeta itu pun menjelaskan bahwa perempuan itu adalah anaknya dan ia bisa saja menikahkannya dengan sang faqih namun dengan syarat bahwa wanita itu menyetujuinya.

Akhirnya sang rahib bertanya kepada putrinya, apakah ia bersedia menikah dengan sang faqih? Pada awalnya si perempuan merasa heran dengan pertanyaan itu, namun ia pun setuju dengan syarat agar sang faqih meninggalkan Islam dan memeluk ajaran Nashrani. Akhirnya sang faqih pun menjawab,”Baik aku tinggalkan Islam dan masuk ke agamamu”. Namun hal itu belum selesai karena wanita itu menuntut mahar, karena sang faqih tidak memiliki apa-apa wanita itu menawarkan mahar berupa kerja selama setahun untuk mengurusi babi-babi piaraannya dan sang faqih pun menjawab.”Ya, permintaanmu aku sanggupi dengan syarat jangan engkau tutup wajahmu hingga aku bisa melihatnya pagi dan sore hari”. Ketika sang perempuan itu menyanggupi maka sang faqih yang murtad itu mengambil tongkatnya yang biasa dijadikan tumpuan saat berkhutbah untuk dijadikan penghalau kumpulan babi dan menggembalakannya.

Para murid yang sudah mulai terjaga dari tidurnya pun kebingungan menyaksikan sang guru tidak berada di tempat hingga akhirnya ia bertanya kepada rahib sang pemilik rumah. Tatkalah rahib berkisah mengenai sang guru para murid pun menjerit, ada yang pingsan, ada yang menangis dan ada yang menyayangkan. Dan mereka pun menghampiri sang guru yang sedang menggembala babi, “Kenapa bisa jadi demikian wahai Syeikh? Bukankah Anda yang mengajari kami tentang keutamaan Islam, Al Qur`an dan Rasulullah Shallallahu ALaihi Wasallam?” Dan mereka pun menyampaikan ayat-ayat Al Qur`an dan hadits-hadits Rasulullah di hadapan sang guru. Namun sang guru pun menjawab,”Sudahlah pergilah kalian, apa yang kalian sampaikan itu aku lebih paham dari kalian”.

Akhirnya para murid itu meneruskan perjalanan menuju ke Makkah dan meninggalkan sang guru dalam keadaan hati yang hancur setelah menyaksikan musibah yang menimpa sang guru. Namun setelah mereka menunaikan ibadah haji dan menempuh perjalanan untuk kembali menuju Baghdad mereka memutuskan untuk menjenguk sang guru dengan harapan beliau sudah bertaubat dan menyesali perbuatannya.

Setelah mereka tiba di rumah rahib Nashrani mereka semakin putus harapan, karena masih menyaksikan sang guru menggembala babi-babi, bahkan ketika mereka menyampaikan ayat-ayat Al Qur`an dan hadits-hadits Rasulullah, sang guru hanya diam tidak merespon. Kumpulan para murid itu akhirnya memutuskan untuk meninggalkan sang guru.

Di tengah perjalanan, para murid itu mendengar ada teriakan panggilan dari arah belakang mereka. Tanpa disangka setelah menengok mereka menyaksikan bahwa sang guru telah menyusul lalu menyampaikan,”Aku besaksi bahwa tiada ilah yang patut disembah kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam adalah utusan Allah. Dan aku telah bertaubat kepada Allah dari apa yang telah aku lakukan! Dan apa yang menimpaku sebelumnya tidak lain adalah balasan atas dosa yang aku lakukan!” Akhirnya mereka pun bergembiran atas kembalinya sang guru dan meraka pun berkumpul kembali.

Saat para murid berkumpul di rumah guru untuk membaca di hadapannya, mereka mendengar pintu rumah diketuk. Setelah dilihat ternyata berdirilah seorang wanita,”Saya ingin bertemu Syeikh dan katakan kepadanya bahwa si fulanah putri pendeta ingin memeluk Islam”.  Akhirnya dihantarkanlah wanita itu kepada sang guru dan beliau pun bertanya, apa yang menyababkannya ingin memeluk Islam. Akhirnya perempuan itu berkisah,”Setelah Anda meninggalkanku, di saat aku tertidur, aku bermimpi bertemu dengan Ali bin Abi Thalib dan beliau menyampaikan,’Tidak ada dien yang diridhai Allah kecuali dien Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam’. Dan beliau juga menceritkan bahwa Allah telah menurunkan bala’ kepada salah satu walinya melalui diriku”.

Akhirnya perempuan itu mengucapkan dua kalimah syahadat di hadapan sang faqih dan beliau pun bergembira dengan hal itu. Kemudian sang faqih pun menikahinya dengan mahar bacaan Al Qur`an dan Sunnah Rasulullallah Shallallahu Alaihi Wasallam.

Para murid pun akhirnya bertanya kepada sang guru, dosa apa yang menyebabkan Allah menurunkan bala’ kepada beliau. Sang guru pun berkisah bahwa suatu saat ia melalui sebuah gang dan berpapasan dengan seorang penganut Nashrani, hingga sang guru pun mengatakan,”Menjauhlah engkau dariku dan laknat Allah atasmu!”. Si Nashrani pun bertanya,”Memang ada apa?”. Sang guru menjawab,”Karena aku lebih mulia darimu”. Si Nashrani membalas,”Apakah engkau tahu bagaimana kedudukanmu di pandangan Allah hingga engkau menyatakan hal demikian?” Lalu sang guru pun menyampaikan pada pada muridnya,”Telah sampai kabar kepadaku setelah itu bahwa lelaki Nashrani itu telah memeluk Islam dan beristiqamah dalam beribadah. Maka Allah menghukumku dengan apa yang kalian saksikan sebelumnya”. (lihat, Bahr Ad Dumu’, hal. 89)

Saat Berusaha Istiqamah Justru Banyak Cobaan

DZU NUN AL MISHRI suatu saat menyampaikan nasihat kepada khalayak dan di kesempatan itu ada seorang bertanya,”Apa yang harus aku perbuat saat aku berada di salah satu pintu dari pintu-pintu untuk mendekatkan diri kepada-Nya, maka aku malah terkena bencana dan kesusahan?”

Maka Dzu Nun Al Mishri menjawab,”Jadikan dirimu seperti anak kecil yang berhadapan dengan ibunya. Setiap ibumu memukulmu maka engkau enggan melepasnya, setiap kali ia mengusirmu engkau terus mendekat kepadanya dan engkau terus melakukan hal yang demikian hingga akhirnya ia memelukmu” (Bahr Ad Dumu’, karya Ibnu Al Jauzi, hal. 76)

Majusi yang Bertaubat

IMAM HASAN AL BASHRI suatu saat menjenguk tetangga beliau seorang Majusi yang saat itu sakit keras. Meski penganut Majusi tetangga itu banyak melakukan kebaikan hingga Imam Hasan Al Bashri menginginkan agar ia wafat dalam keadaan Muslim.

Di saat Imam Hasan Al Bashri menjenguk, tetangga Mujusi tersebut menyebut-nyebut bahwa ia tidak memiliki bekal mati padahal neraka telah menantinya. Sehingga Imam Hasan Al Bashri menyampaikan,”Kenapa engkau tidak menjadi Muslim hingga engkau selamat?”

Si tetangga menyampaikan,”Sesungguhnya kunci masih di kekuasaan Maha Pembuka sedangkan gembok berada di sini”, sambil ia menunjuk ke dada.

Akhirnya Imam Hasan Al Bashri berdoa,”Wahai Tuhanku, Tuanku serta Pelindungku jika engkau telah mengetahui bahwa Majusi ini memiliki kebaikan maka segerakanlah ia bersama kebaikan sebelum berpisah dengan ruhnya”.

Kemudian si tetangga pun sadar dan menyampaikan,”Wahai Syeikh sesungguhnya Yang Maha Pembuka telah mengirim kuncinya melalui utusannya yang berada di samping kananmu. Saya bersaksi bahwa tidak ada ilah yang patut disembah kecuali Allah dan aya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan  Allah”.

Setelah itu ruh pun keluar dari jasad si tetangga dalam keadaan husnul khatimah. (lihat, Bahr Ad Dumu’ karya Ibnu Al Jauzi hal. 38)

Bersedakah kepada Orang yang Memberi

SYEIKH ABDUL QADIR AL JILANI pernah mengalami musim paceklik di Bagdad. Saat itu ulama madzhab Hanbali ini sampai memakan sisa-sisa makanan di tempat sampah.  Suatu saat dalam keadaan sangat lapar beliau keluar untuk mencari makanan. Namun setiap sampai ke tempat sampah, selalu ada orang lain yang mendahuluinya. Jika Syeikh Abdul Qadir melihat orang-orang fakir berebut di tempat sampah, maka beliau memilih meninggalkan tempat itu. Dan hal itu terus berlaku saat menemui tempat pembuangan, dan Syeikh Abdul Qadir akhirnya tidak memperoleh makanan.

Beliau akhirnya berjalan hingga sampai di masjid Yasin di Bagdad, karena sudah tidak mempu lagi melanjutkan perjalanan karena lapar, dan memilih duduk di dekat masjid tersebut. Di saat yang sama datanglah seorang pemuda ke masjid dengan membawa roti, dia duduk dan mulai makan. Karena rasa lapar yang menusuk, setiap pemuda itu mengambil suapan maka Syeikh Abdul Qadir ingin membuka mulut, meski beliau terus berusaha menahannya.

Akhirnya pemuda itu pun menoleh ke arah Syeikh Abdul Qadir seraya mengatakan,”Bismillah ya akhi”, dengan maksud ingin memberi suapan kepada Syeikh Abdul Qadir. Syeikh Abdul Qadir menolak, namun pemuda itu terus-menerus memaksa, hingga akhirnya Syeikh Abdul Qadir memakan sedikit dari apa yang diberikan.

Setelah itu si pemuda pun bertanya,”Siapa engkau, apa pekerjaanmu, dari mana engkau?” Syeikh Abdul Qadir pun menjawab,”Saya pencari ilmu dari negeri Jilan”. Si pemuda pun membalas,”Saya juga dari Jilan. Apakah engkau mengenal seorang pemuda dari Jilan yang namanya Abdul Qadir cucu dari Abu Abdullah As Shuma’i yang ahli zuhud?” Syeikh Abdul Qadir pun menjawab,”Itu adalah saya”.

Mendangar jawaban itu si pemuda pun terperengah,”Demi Allah saya sampai di Bagdad dengan sisa-sisa uang yang saya memiliki dan saya telah mencari-cari dimana keberadaanmu namun tidak ada seorang pun yang bisa memberikan petunjuk. Sampai akhirnya uang saya habis hingga 3 hari saya tidak makan. Dengan terpaksa saya menggunakan uang yang dititipkan untukmu untuk membeli roti ini. Makanlah sesungguhnya ia milikmu.”

Syeikh Abdul Qadir pun bertanya, apa yang sebenarnya terjadi. Pemuda itu pun menjelaskan bahwa ibu Syeikh Abdul Qadir telah menitipkan kepadanya 9 dinar untuk disampaikan kepada Syeikh Abdul Qadir. Dan uang itu pun sudah berkurang untuk dibelikan roti. Syeikh Abdul Qadir pun merelakannya dan memberikan kepada pemuda itu sisa roti serta sebagian dinar. (lihat, Dzail Thabaqat Al Hanabilah, 1/298)

Meski menolak untuk meminta-minta, Syeikh Abdul Qadir tetap memperoleh rizki bahkan di saat yang sama beliau malah memberikan sedekah kepada orang lain. Yang juga perlu dicontoh adalah sifat Syeikh Abdul Qadir yang selalu mengutamakan orang lain, sehingga Allah pun mencukupi rizkinya.

Wafat dengan Senyuman

IMAM AL MUHASIBI termasuk ulama ahli ibadah yang wafat pada tahun 243 H. Saat menjelang wafat beliau sendiri sempat mengatakan,”Jika aku menyaksikan apa yang aku senangi, maka aku akan tersenyum kepada kalian. Namun jika aku menyaksikan selain hal itu, maka  kalian juga akan mengetahui dari apa yang tesirat di wajahku”.

Jakfar bin Abi Tsaur yang hadir dan menyaksikan Imam Al Muhasibi wafat menyampaikan,”Beliau tersenyum kemudian meninggal”. (Thabaqat As Syafi’iyah Al Kubra, 2/38)

Akhlak Anjing dan Abu Utsman Al Hiri

ABU UTSMAN AL HIRI adalah seorang yang dikenal memiliki ahlak yang baik, hingga ada seorang yang berniat menguji beliau. Akhirnya seorang mengundangnya agar datang ke rumahnya, namun setelah Abu Utsman Al Hiri sampai di rumah itu, si pengundang menyampaikan,”Aku tidak memerlukan Anda”.

Kemudian Abu Utsman Al Hiri dipanggil kembali oleh si pengundang, Abu Utsman pun kembali memenuhi panggilannya, namun kembali si pengundang menyampaikan pernyataan yang sama seperti sebelumnya. Dan hal itu di terjadi berkali-kali hingga 4 kali, namun Abu Utsman tetap menuruti dan tidak ada yang berubah dari beliau.

Akhirnya si pengundang mengatakan,”Sesungguhnya saya bermaksud menguji Anda. Betapa bagus sekali akhlak Anda!”

Mendengar pernyataan itu Abu Utsman Al Hiri malah menjawab,”Aku melihat apa yang ada pada diriku tidak lain adalah akhlak anjing. Sesungguhnya jika anjing dipanggil maka ia datang dan jika ia dihardik ia pergi.” (lihat, Ihya Ulumuddin, 8/1466)

Dari perilaku Abu Utsman di atas, memang akhlak Abu Utsman yang baik tidak berubah meski ada pihak yang berusaha melakukan “provokasi”. Dan Abu Utsman juga tidak terpengaruh dengan pujian orang yang telah menguji beliau, hingga beliau melihat apa yang yang beliau lakukan adalah hal yang biasa dan tidak melihat ada keistimewaan dalam dirinya.

Amalan Mendekatkan kepada Khalik dan Makhluk

MUHAMMAD BIN HAMID bertanya kepada Abu Bakr Al Warraq,”Beri tahu saya hal yang mendekatkanku kepada Allah dan mendekatkanku kepada manusia”.

Abu Bakr Al Warraq pun menjawab,”Adapun hal yang mendekatkan engkau kepada Allah adalah meminta kepada-Nya. Adapun hal yang mendekatkan engkau kepada manusia adalah meninggalkan meminta kepada mereka”. (4/145,146)
Rep: Thoriq
Red: Cholis Akbar

Keajaiban Datang Ketika Hati Mengingat Allah

HATIM AL ASHAM suatu ketika melakukan perjalanan dengan mengendarai kuda di wilayah Turki. Di tengah perjalanan tiba-tiba ada seseorang melempar tali laso ke badannya, hingga ulama shalih ini jatuh terjerembab dari kendaraannya.

Dengan sigap laki-laki itu menggulat Hatim Al Asham hingga ia berhasil menduduki dada Hatim. Kemudian laki-laki itu segera mengambil sebilah pisau, yang akan dia gunakan untuk menyembilh leher Hatim Al Asham. Hatim mengisahkan,”Saat itu hatiku hanya tertuju hanya kepada Allah tidak kepada pisau itu, sambil menunggu takdir yang akan berlaku.”

Namun tidak disangka, tiba-tiba ada seorang prajurit Muslim melemparkan anak panah ke arah lelaki yang hendak membunuh Hatim Al Asham, dan anak penah tepat menembus lehernya.

Dari kejadian ini Hatim Al Asham berpesan,”Jika hatimu terpaut kepada Allah, maka engkau akan menyaksikan keajaiban kasih sayang-Nya, yang melebih kasih sayang kedua orang tua”. (Shifat Ash Shafwah, 4/142)

Tidur Tatkalah Terjebak Badai di Laut

IBRAHIM BIN ADHAM suatu saat mengendarai sebuah bahtera. Sampai di tengah lautan angin badai datang yang hampir mencelakakan seluruh penumpang bahtera. Di saat seperti itu Ibrahim malah memilih tidur, hingga para penumpang menyampaikan kepada beliau,”Apakah engkau tidak melihat bahwa kita sedang dalam mara bahaya?”

Ibrahim menjawab,”Ini bukan mara bahaya.” Dan para penumpang pun bertanya,”Lantas apa mara bahaya itu?” Ibrahim menjawab,”Butuh kepada manusia.” Lalu ulama ini pun menyampaikan,”Ya Allah, tunjukkan kepada kami qudrah-Mu, dan tunjukkan kepada kami maaf-Mu”. Tak lama kemudian air laut berubah seperti minyak, karena tenangnya. (Shifat Ash Shafwah, 4/138)

29 Tahun Hidupi Murid

IMAM ABU YUSUF suatu saat menghadiri majelis ilmu Imam Abu Hanifah, namun ayah beliau melarangnya,”Jangan engkau pergi ke Abu Hanifah, dia bukan orang kaya sedangkan engkau membutuhkan materi”.

Setelah itu, Imam Abu Yusuf mulai jarang menghadiri majelis Imam Abu Hanifah, hingga beliau merasa kehilangan. Sampai suatu saat Imam Abu Hanifah bertanya mengenai sebab ketidak hadiran Imam Abu Yusuf di majelis. Imam Abu Yusuf menjawab,”Saya sibuk bekerja dan mentaati apa yang dikatakan orang tua”.

Akhirnya Imam Abu Hanifah memberikan sebuah kantong berisi 100 dirham,”Gunakan ini dan tetaplah mengikuti halaqah, jika telah habis sampaikan kepadaku”.

Akhirnya Imam Abu Yusuf aktif kembali dalam halaqah, sedangkan Imam Abu Hanifah terus memberikan uang dan tidak pernah terlambat. Imam Abu Hanifah terus memberikan materi kepada Imam Abu Yusuf dalam waktu 29 tahun sampai beliau memperoleh banyak ilmu dan juga materi (lihat, Manaqib Abi Hanifah karya Al Muwaffaq Al Khawarizmi, 1/469).

Demikianlah seorang guru, menyebarkan ilmu karena ilmu, bahkan rela berkorban agar ilmunya terwariskan kepada orang yang tepat. Dan kekhawatiran ayah Abu Yusuf terhadap anaknya yang mencari ilmu akan masa depannya merupakan hal bertolak belakangan dengan kenyataan, karena dengan ilmu itu Imam Abu Hanifah diangkat oleh Harun Ar Rasyid menjadi hakim yang secara materi tidak kekurangan.

Hindari Haram Dapat Halal Sekaligus Istri

SYEIKH IBRAHIM AL HILALI merupakan ulama shalih di kota Halab Syam yang wafat tahun 1238 H. Di waktu menuntut ilmu di Al Azhar beliau kehabisan bekal hingga lebih sehari tidak makan. Akhirnya karena rasa lapar yang amat sangat, beliau meninggalkan ruwaq Al Azhar untuk mencari makanan, sampai akhirnya beliau mencium bau masakan yang sedap dari sebuah rumah. Namun beliau mendapati rumah itu tanpa ada penghuninya, sedangkan makanan sudah tersedia di depannya. Karena amat lapar, baliau memungut sendok guna menyantap makanan itu. Namun sebelum makanan masuk ke mulut, beliau kembali ingat bahwa pemiliknya belum mengizinkan. Akhirnya Syeikh Ibrahim Al Hilali keluar rumah dan kembali lagi ke ruwaq Al Azhar dalam keadaan lapar.

Tidak lama kemudian di ruwaq Al Azhar, salah satu guru beliau masuk bersama seseorang yang sedang mencari penuntut ilmu yang shalih untuk dinikahkan dengan putrinya. Dan sang guru pun memilih Ibrahim Al Hilali,”Berdirilah, kita pergi ke rumahnya untuk melaksanakan akad nikah!”

Ibrahim Al Hilali mentaati apa yang disampaikan oleh sang guru, hingga beliau ikut bersama lelaki itu. Ternyata, sebelum akad dilakukan, keluarga calon istrinya mempersiapkan makanan yang lezat dan Ibrahim Al Hilali pun menyantapnya, hingga hilanglah rasa lapar yang menderanya. Dalam hati Ibrahim Al Hilali berkata,”Aku meninggalkan makanan yang tidak dizinkan Allah, maka Allah memberikanku makanandengan izin-Nya dalam keadaan dimuliakan sekaligus memperoleh istri.” (lihat, Shafhat min Shabri Al Ulama, hal. 164)

Merasa Paling Pandai Tanda Kebodohan

IMAM IBNU MUBARAK rahimahullah Ta’ala menyampaikan,” Seseorang disebut alim (pandai) selama ia menilai bahwa di negerinya ada orang yang lebih pandai darinya. Jika ia menyangka bahwa dia adalah orang yang paling pandai di negeri itu, maka ia adalah orang bodoh.” (Tanbih Al Mughtarrin, hal. 14)

Berkelahi Berebut Membawa Sandal Guru

IMAM AL FARA’ adalah seorang ulama Kufah yang paling pandai dalam ilmu nahwu dan sastra. Suatu saat Khalifah Makmun meminta agar Imam Fara’ mengajari ilmu nahwu untuk putranya. Ketika beliau selesai mengajar dan beranjak untuk pergi kedua anak khalifah berebut untuk membawakan sandal Imam Fara’, hingga keduanya berkelahi. Mengetahui hal itu, Imam Fara’ akhirnya meminta kapada kedua anak itu masing-masing membawa satu sandal, hingga keduanya sama-sama menyerahkan sandal kepada beliau.

Khalifah Makmun memang amat memperhatikan pendidikan akhlak putra-putranya, dimana ia terus-menerus mengajari agar putra-putranya agar bersikap tawadhu’ kepada pemimpin, orang tua, serta guru. (lihat, Wafayat Al A’yan, 2/228)

Begitu besar perhatian orang terdahulu dalam masalah pendidikan ahklak dan adab, hingga terhadap gurunya, para anak didik memberikan penghormatan yang amat tinggi.

"Tidak Tahu" yang Menunjukkan "Tahu"

IMAM AL BUKHARI  adalah seorang hafidz Al Hadits yang cukup masyhur. Sehingga, saat beliau tiba di Bagdad para ulama hadits ingin menguji hafalan beliau. Akhirnya mereka berkumpul dan bersepakat untuk menguji Imam Al Bukhari dengan 100 hadits yang masing-masing sanadanya ditukar satu sama lain. Dan 100 hadits tersebut dibagi untuk sepuluh orang, hingga masing-masing menguji Imam Al Bukhari dengan 10 hadits.

Setelah ada kesepakatan dengan Imam Al Bukhari dalam sebuah majelis hadits para penguji itu pun bergabung. Dalam majelis yang dihadiri oleh ulama Baghdad dan Khurasan itu, masing masing menanyakan kepada Imam Al Bukhari,”Tahukah anda hadits begini dengan sanad begini?”

Imam Al Bukhari pun menjawab,”Saya tidak tahu”. Dan demikian juga jawaban Imam Al Bukhari terhadap seluruh penguji setiap mereka menyampaikan hadits yang sanad yang ditukar satu sama lain. Hingga seluruh hadits selesai ditanyakan.

Jawaban Imam Al Bukhari tersebut membuat para ulama saling memandang satu sama lain dan mengatakan,”Laki-laki ini paham”. Namun, orang yang tidak memahami masalah akan menilai bahwa Imam Al  Bukhari tidak memahami. (Lihat, Hadyu As Sari, hal. 652)

Imam Al Bukhari menjawab semua pertanyaan dengan ungkapan “tidak tahu” karena beliau mengetahui benar bahwa hadits-hadits dengan sanad yang ditukar itu tidak pernah beliau jumpai karena memang susunan sanadnya yang benar tidaklah seperti yang disampaikan para penguji. Jawaban Imam Al Bukhari,”tidak tahu” justru menunjukkan beliau adalah orang yang tahu menurut para ulama.

Walhasil,  bisa jadi orang jahil menilai para ulama sebagai orang bodoh karena ia tidak mengetahui hakikat ilmu. Dan hal ini tidaklah membahayakan ulama, karena orang yang alim (pandai) tetap saja mengetahui bahwa para ulama itu adalah orang yang pandai meski dituduh sebagai orang-orang bodoh oleh orang yang jahil.


Efek Buruk Dari Dosa
Karya : Ayatullah Husein Ansariyan

Imam Sajjad as, dalam sebuah riwayat, terkait efek-efek buruk dari dosa mengatakan,

“Diantara dosa-dosa yang dapat mengakibatkan lenyapnya nikmat dan karunia Ilahi, antara lain sebagai berikut : menindas masyarakat, berhenti berbuat baik, enggan menolong sesama, dan tidak bersyukur atas nikmat dan karunia Tuhan.

Dosa-dosa yang dapat menyebabkan penyesalan yang mendalam, antara lain adalah : membunuh orang, memutus silaturahmi, tidak melakukan sholat sampai waktunya habis, melukai hati orang lain, tidak mengeluarkan zakat hingga ajal menjemput.

Dosa-dosa yang dapat menghalangi sampainya nikmat dan karunia kepada manusia, sebagai berikut : Tidur sampai melewati fajar dan sampai waktu salat Subuh habis, mencemooh nikmat dan karunia Ilahi, mengeluh atas pemberian Tuhan.

Dosa-dosa yang dapat melenyapkan kemuliaan manusia, sebagai berikut : meminum khamar, berjudi, melakukan hal yang sia-sia, canda berlebihan, menyebutkan cacat orang lain.

Dosa-dosa yang dapat membawa bencana adalah sebagai berikut : tidak menolong orang yang membutuhkan dan yang tertindas, tidak melakukan amar maruf nahi munkar.”

Dinukil dari buku taubat dalam naungan kasih sayang, karya Ayatullah Husein Ansariyan.







Artikel Terkait