Tampilkan postingan dengan label Balian Usada. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Balian Usada. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Juli 2012

Balian Usada, usadha Bali - Dokter tradisional di bali

Mengenal Usada Bali

Walaupun berkembang pesatnya ilmu kedokteran modern saat ini, ilmu kedokteran tradisional/alternatif/timur masih dipercaya masyarakat dalam menyembuhkan suatu penyakit. Ilmu kedoteran tradisional atau alternatif ini jauh lebih dulu lahir daripada ilmu kedoteran modern. Pemisahan batasan ilmu kedoteran ini semata-mata untuk membatasi antara yang bersifat ilmiah dan non-ilmiah. Dalam ilmu kedoteran modern lebih mengutamakan unsur ilmiah/biologis, sedangkan ilmu kedoteran tradisional lebih menekankan asfek spiritualnya.
lebih lanjut mengenai USADHA dan belajar menjadi pengusadha silahkan ikuti YOGA USADHA GHANTA


Dengan perkembangan jaman yang dipengaruhi oleh berbagai aspek kehidupan, banyak orang sekarang berpaling ke pengobatan tradisional. Ini disebabkan oleh berbagai faktor dan di antaranya adalah faktor ekonomi yang sangat mempengaruhi paradigma ini. Biaya pengobatan yang mahal pada pengobatan modern/medis menjadi alasan utama terjadinya migrasi ini, namun pengobatan medis masih tetap menjadi pilihan pertama. Dan jika dalam pengobatan medis diperlukan biaya yang besar, maka orang akan mulai berpaling ke metode pengobatan tradisional yang saat ini dikenal dengan pengobatan alternatif (alternative medicine).

Kalau kita melihat manusia secara keseluruhan, manusia bukan hanya mahkluk biologis semata, melainkan juga mahkluk sosial, psikologis dan mahkluk spiritual. Batasan sehat bukan semata sehat secara biologis atau kasat mata, tetapi juga sehat secara keseluruhan/holistik. Oleh karena itu, peranan ilmu kedokteran tradisional/alternatif tidak dapat kita tinggalkan begitu saja disamping merupakan warisan budaya dari nenek moyang kita sejak jaman dahulu.

Pengobatan tradisional/alternatif sangat beragam jenisnya di berbagai belahan dunia sesuai dengan kebudayaan dan kepercayaan setempat. Dalam kepercayaan Hindu kita mengenal ilmu kedoteran Ayur weda dan sedangkan di Bali kita mengenal ilmu kedokteran Usadha Bali, dimana Balian sebagai dokternya.

Ajaran Hindu çiwa Siddanta menyatakan bahwa Ida Sang Hyang Widhi  atau Batara çiwa yang menciptakan semua yang ada di jagat raya ini, beliau pula yang mengadakan penyakit ( gering, wyadhi ), obat ( tamba, ubad ), dan pengobat (balian) hidup dan mati juga kehendak beliau. Utpatti (lahir), Sthiti (hidup), Pralina (mati). Laku balian yang diwacanakan dalam lontar Bodha Kecapi adalah madewasraya usaha mistik-magis seorang penganut çiwa Tantrik untuk memohon pertolongan dewa agar dapat menjadi balian sejati. Untuk menjadi seorang balian harus berani melaksanakan mati raga di setra pangesengan (tempat pembakaran mayat). Bila orang berhasil mati raga maka ia mendapat anugrah Tuhan. AnugrahNya dapat berupa kesiddian (kekuatan adikodrat).

Kata USADHA tidaklah asing bagi masyarakat di Bali, karena kata usada sering dipergunakan dalam percakapan sehari-hari dalam kaitan dengan mengobati orang sakit. usadha berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu ausadha yang berarti tumbuh-tumbuhan yang berkhasiat obat, atau dibuat dari tumbuh-tumbuhan. Kata usada berasal dari kata ausadhi (bhs. Jawa kuno) yang berarti tumbuhtumbuhan yang mengandung khasiat obat-obatan (Nala, 1992:1).

Tetapi batasan usadha di Bali lebih luas, usadha adalah semua tata cara untuk menyembuhkan penyakit, cara pengobatan, pencegahan, memperkirakan jenis penyakit/diagnosa, perjalanan penyakit dan pemulihannya. Kalau dilihat secara analogi, hampir sama dengan pengobatan modern.

Usada adalah pengetahuan pengobatan tradisional Bali, sebagai sumber konsep untuk memecahkan masalah di bidang kesehatan. Dengan menguasai konsep usada tersebut dan memanfaatkannya dalam kerangka konseptual di bidang pencegahan, pengobatan, rehabilitasi serta penelitian berguna untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kesehatan.

Menurut Sukantra (1992:124) menyatakan usada adalah ilmu pengobatan tradisional. Masyarakat di Bali masih percaya bahwa pengobatan dengan usada banyak maanfaatnya untuk menyembuhkan orang sakit. Pengobatan tradisional Bali (usada) yang dikenalkan oleh para leluhur merupakan ilmu pengetahuan penyembuhan yang dijiwai oleh nilai-nilai agama Hindu Bali/ Siwasidhanta. Sukantra (1992) menyatakan, usada adalah ilmu pengobatan tradisional Bali, yang sumber ajarannya terdapat pada lontar.

Lontar tersebut dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu lontar tutur dan lontar usadha. Di dalam lontar tutur (tatwa) berisi tentang ajaran aksara gaib atau wijaksara. Ajaran anatomi, phisiologi, falsafah sehat-sakit, padewasaan mengobati orang sakit, sesana balian, tatenger sakit. Sedangkan di dalam Lontar Usada berisi tentang cara memeriksa pasien, memperkirakan penyakit (diagnosa), meramu obat (farmasi), mengobati (terapi), memperkirakan jalannya penyakit (prognosis), upacara yang berkaitan dengan pencegahan penyakit dan pengobatannya.

Balian, Dokternya Usadha Bali

Dalam dunia kedokteran modern, kita mengenal dokter sebagai pelaksana praktisi ini sedangkan dalam usadha Bali, dokternya dikenal dengan istilah Balian, tapakan atau jero dasaran. Balian, waidhya, pengobat ( battra = pengobat tradisional ), dukun, atau tabib.

BALIAN adalah pengobat tradisional Bali yakni, orang yang mempunyai kemampuan untuk mengobati orang sakit. Jadi balian merupakan orang yang mempunyai kekuatan untuk menyembuhkan penyakit seseorang. Balian adalah pengobat tradisional Bali yakni, orang yang mempunyai kemampuan untuk mengobati orang sakit.

Dharma sesana Balian dapat disamakan dengan etika balian, sesana berarti tingkah laku, kewajiban. Sedangkan etika, yang berasal dari kata ethos (yunani)  berati ilmu pengetahuan tentang asas moral. Dharma sesana didalam bahasa Indonesia dapat disejajarkan dengan tata susila, yakni dasar kebaikan yang menjadi pedoman dalam kehidupan manusia, kewajiban yang harus dipenuhi selaku anggota masyarakat.

Manusia harus melakukan dharma sesana jika ingin kehidupannya mencapai kebahagiaan. Dia harus menyesuaikan diri dengan lingkungannya baik dengan buana alit maupun dengan buana agung. Didalam setiap agama pedoman dharma sesana ini pasti ada karena ajaran yang baik selalu bersifat universal. Manusia apapun pekerjaannya apalagi sebagai balian bila ingin hidup sejahtera harus berpijak pada patokan yang pasti yaitu dharma sesana. Balian yang bekerja menghadapi manusia, memerlukan dharma sesana yang baku, yang dapat diikuti dan ditaati oleh semua balian sebagai pedoman dalam melaksanakan profesinya.

Dharma sesana balian adalah sebagai berikut :

  1. Semua rahasia dari orang yang sakit harus disimpan, tidal boleh disebarluaskan atau dibicarakan dengan orang lain. 
  2. Hidup para balian harus suci dan bersih, terlepas dari sifat loba, sombong dan asusila. Didalam lontar tutur bhagawan çiwa sempurna ditegaskan bahwa, seorang balian tidak boleh berlaku sombong, harus bertingkah laku yang baik sesuai dengan dharma, serta semua nafsu hendaknya ditahan didalam hati. 
  3. Seorang balian tidak boleh was-was, ragu-ragu, apalagi malu-malu dalam hati harus teguh dan mantap serta penuh keyakinan pada apa yang dikerjakan. Tidak goyah terhadap segala hambatan, rintangan, gangguan, dan godaan yang datang dari dalam diri sendiri, yang mengakibatkan gagalnya usaha yang sedang ditempuh. Tidak akan mundur sebelum berhasil mendapatkan apa yang sedang dihayati, apa yang diinginkan yaitu kesembuhan dari orang yang sakit. 
  4. Seorang balian tidak boleh pamrih. Semua pengobatan berlangsung dengan tulus ikhlas tanpa pamrih. Sebab semua balian yang benar-benar balian di Bali tahu akan akibat dari kelobaan akan sesantun dan materi lainnya. Para balian harus tahu akan hak dan kewajibannya, rendah hati tidak sombong, membatasi diri terhadap apa yang dapat dilakukannya, menghormati kehidupan manusia, karena didalam raga sarira atau tubuh manusia, bersemayam Sang Hyang Atma, Sang Hyang Bayu Pramana karena beliu dapat mengutuk balian yang melanggar dharma sesana.Dan bila terkutuk kesaktian atau kesidiannya dalam hal mengobati orang sakit dapat menurun dan luntur. Dan yang lebih parah lagi ia akan menerima kutuk dari Sang Hyang Budha Kecapi sehingga hidupnya akan menderita, termasuk anak cucunya. Ketahuilah adanya tata cara menjadi balian jangan disalah artikan atau disalahgunakan, memang sangat berbahaya menjadi balian. Barang siapa berkehendak menjadi balian sakti mawisesa, tidak dikalahkan oleh kesaktian mantra dapat menjalankan semua pengobatan, dapat mengobati segala penyakit dan tenung. Maka, hendaklah selalu astiti bhakti ring Ida Batara Tiga, khususnya ring Ida Batara Dalem, Desa dan Puseh. Sebagai jalan untuk memohon kesaktiannya, Ida I Ratu Nyoman Sakti Pengadangan, yang merupakan pepatih bersama saudara-saudaranya yang lain. Ida I ratu Nyoman sakti Pengadangan adalah dewan balian sejagat, wajib dibuat pelinggih penyawangan biasa dalam bentuk kamar suci, dibuatkan daksina linggih, ditempatkan pada pelangkiran.

Balian juga beragam jenis dan klasifikasinya yang diuraikan sebagai berikut.

Kemampuan untuk mengobati ini diperoleh dengan berbagai cara yaitu :

Jenis Balian Berdasarkan Tujuannya

  • Balian Penengen (baik) adalah balian yang tujuannya mengobati orang yang sakit sehingga menjadi sembuh. Balian ini sering pula disebut Balian Ngardi Ayu (dukun kebaikan). Balian ini pada umumnya bersifat ramah, terbuka, penuh wibawa dan suka menolong. Siapapun akan ditolongnya tidak membedakan apakah dia orang baik atau orang jahat, orang yang miskin atau kaya semua dilayani sesuai dengan penyakit yang dideritanya. 
  • Balian Pengiwa (jahat) adalah balian yang tujuannya membuat orang yang sehat menjadi sakit dan orang yang sakit bertambah menjadi sakit, bahkan sampai meninggal. Itulah sebabnya balian tipe ini sering disebut balian aji wegig, dukun yang menjalankan kekuatan membencanai orang lain, berbuat jahil, usil, terhadap orang lain. Balian jenis ini amat sukar dilacak, pekerjaannya penuh rahasia, tertutup dan misterius. Sering pula balian ini mengganggu balian penengen pada waktu pengobati orang sakit sehingga tidak sembuh-sembuh, jahil dan usil. Merupakan sisi lain dari aji wegig ini mendatangkan hujan pada waktu orang sedang melakukan upacara, menahan hujan (nerang) pada waktu orang bercocok tanam, serta menguji kesaktian dengan balian lainnya adalah kegemaran dari balian pengiwa ini. Disamping itu balian ini juga mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan, terutama orang yang kena aji wegignya sendiri, atau diri orang lain.

Jenis balian dapat dilihat berdasarkan pengetahuan yang diperoleh, 

berdasarkan tata cara memproleh keahlian dan cara mengobati suatu penyakit (berdasarkan lontar Boda Kecapi, ), misalnya:
  • Balian kapican adalah balian yang mendapat keahlian karena memperoleh suatu pica atau benda bertuah dan berkhasiat yang dapat dipergunakan untuk menyembuhkan orang sakit.  Mungkin benda-benda tersebut didapat dari pawisik/pirasat baik berupa mimpi atau petunjuk yang lainnya. Balian kapican adalah orang yang mendapat benda bertuah yang dapat dipergunakan untuk mengobati orang yang sakit. Benda bertuah ini disebut Pica. Dengan mempergunakan pica yang didapatkan balian tersebut mampu untuk mendiagnosis,  menyembuhkan penyakit dan memperkirakan berat penyakit yang dideritanya. Pica ini dapat berupa batu permata, lempengan logam, keris, cincin, kalung, tulang dan benda lainnya. Pica ini diperoleh baik melalui mimpi, petunjuk misterius atau cara lainnya. Dengan mempergunakan pica ini, dia mampu menyembuhkan orang yang sakit sejak itu mereka disebut Balian Kapican, dukun yang mendapat pica atau kapican oleh suatu kekuatan gaib. 
  • Balian katakson (tetakson) adalah balian yang mendapat keahlian melalui taksu, roh atau kekuatan gaib yang memiliki kecerdasan, mukzijat ke dalam dirinya. Taksu adalah kekuatan gaib yang masuk kedalam diri seseorang dan mempengaruhi orang tersebut, baik cara berpikir, berbicara maupun tingkah lakukanya. Karena kemasukan taksu inilah orang tersebut mampu untuk mengobati orang yang sakit. Dengan ciri-ciri pada umumnya sebagai berikut: Balian ini pada umumnya keadaan terpaksa ngiring pekayunan (menuruti kehedak gaib) kalau tidak mau menuruti kehendak gaib ini maka si Balian akan jatuh sakit, dan lain sebagainya. Saat mengobati orang sakit, si Balian ini tidak menyadari apa yang telah dilakukannya. Memiliki kesidian/taksu biasanya tidak begitu lama, terutama yang tindak egonya masih tinggi, maka Balian ini harus memegang pantangannya dengan baik agar bisa bertahan lama. Balian jenis ini balian yang mendapatkan keahlian melalui taksu. 
  • Balian usada adalah seseorang dengan sadar belajar tentang ilmu pengobatan, baik melalui guru waktra, belajar pada balian, maupun belajar sendiri melalui lontar usada dan belajar dengan benar cara mendiagnosis ataupun osmosis pasien. Adapun yang termasuk balian golongan ini adalah tidak terbatas hanya mempergunakan ramuan obat dari tumbuhan saja, tetapi termasuk balian lung (patah tulang), Kacekel / limpun (pijat), Apun (lulur), Wuut (urut), manak(melahirkan) dan sebagainya, yang keahliannya diperoleh melalui proses belajar (aguron-guron). Mereka mempelajari masalah penyakit yang disebabkan baik oleh sekala (natural) maupun niskala (supernatural). Karena untuk menjadi balian tipe ini melalui proses belajar, maka orang barat menyebut balian jenis ini dengan julukan Dokter Bali. Mengenai proses seseorang menjadi balian usada dapat dibaca dalam lontar budha kecapi, usada kalimosadha dan usada sari. Setelah tamat mempelajari Katikelaning Genta Pinata Pitu dan sastra sanga maka dianggap siswa telah bersih jiwa dan raganya. Siswa ini telah hilang kawahnya yakni keletehan serta kotoran dan keburukan yang ada didalam dirinya telah musnah. Sekarang dia telah dianggap telah siap untuk diberi pelajaran membaca lontar usada. 
  • Balian Campuran, Suatu Balian yang memakai semua cara didalam mengobati si sakit dan keahliannyapun didapat dengan berbagai cara baik dari ketakson, dari benda-benda gaib, dari usada dan sebagainya, yang intinya bisa menyembuhkan si sakit menjadi sehat. Balian Campuran pada umumnya campuran antara balian katakson maupun balian kapican yang mempelajari usada. Dengan demikian balian katakson maupun kapican kemampuannya tidak hanya mengandalkan taksu atau pica, tetapi telah bertambah dengan memberikan ramuan obat-obatan berdasarkan lontar usada. Balian tipe ini dapat disebut balian katakson usada atau balian kapican usada. Balian jenis ini juga dikenal dengan istilah balian ngiring pekayunan atau menjadi tapakan Widhi atau tapakan dewa. Pada umumnya mereka menjadi balian bukanlah atas kemauannya sendiri, tetapi ditunjuk oleh kekuatan gaib. Bila menolak akan tertimpa penyakit, kapongor, atau menjadi gila, pikiran selalu kalut, semua hasil usaha gagal. Hanya dengan mengikuti perintah gaib dia akan kembali normal. Balian seperti ini paling banyak berkembang dan tumbuh subur serta mendapat pasaran. Padahal, keampuhan pengobatannya tidaklah berlangsung lama. Tidak langgeng, hanya bersifat sementara.

Sedangkan pengelompokan balian berdasarkan sifat kekuatan 

yang dimiliki terdiri atas balian lanang (maskulin, sifat kejantanan), balian wadon (feminim) dan balian kedi (netral, bersifat kebancian). Balian ini tidak berdasarkan jenis kelamin dari balian tetapi berdasakan sifat kekuatannya. Balian perempuan bisa saja disebut sebagai balian lanang apabila memiliki sifat kekuatan yang bersifat maskulin.

Menurut lontar Bodha kecapi, usada ratuning usada, usada bang dan tutur Bhuwana Mahbah, untuk menjadi seorang balian harus melewati suatu proses pembelajaran dari gurunya (aguron-guron) dan rangkaian upacara/didiksa yang disebut aguru waktra. Calon balian harus menguasai beberapa ilmu usadha seperti genta pinarah pitu, sastra sanga, Bodha Kecapi dan kalimosada.

Genta pinaruh pitu adalah kemampuan untuk membangkitkan tujuh buah kekuatan yang berasal dari energi tujuh chakra dan kundalini. Sedangkan sastra sanga adalah sembilan sastra/pelajaran yang harus dikuasai, meliputi: darsana agama, tattwa purusha pradana, tattwa bhuwana mahbah, tattwa siwatma, tattwa triguna, dewa nawasanga, wijaksara/bijaksara, kanda pat dan rwa bhineda. Tetapi menurut beberapa lontar (bodha kecapi, cukil daki, gering agung, kalimosada), yang dimaksud sastra sanga adalah sembilan buah aksara suci yang terdiri atas tri aksara, dwiaksara, ekaaksra, windu, ardhacandra dan nada.

Semua tanda dan gejala, nama penyakit dan pengobatannya tercantum pada lontar-lontar usadha meliputi: usadha rare, usdha cukil daki, usada manak, usada kurantobolong, usada kacacar, usada pamugpugan, usada kamatus, usada tiwang, usada kuda, usada sari kurantobolong, usada buduh, usadha budhakacapi dan usada ila.

Lontar Bodha Kecapi dan kalimosada adalah dua buah lontar usadha yang paling pokok yang harus dikuasai oleh seorang balian usadha karena didalamnya termuat tentang aguru waktra, kode etik balian dan guru, tattwa pengobatan, asal mula penyakit, berbagai jenis obat, aksara suci, sang hyang tiga suwari, tata cara menegakkan diagnosis dan prognosis dan berbagai pengetahuan lainnya.

Seperti halnya seorang dokter dalam dunia medis yang harus tamat pendidikan dahulu dan disumpah sebelum mengemban tugas, seorang balian pun sama harus menguasai semua hal tersebut diatas dan sudah melakukan upacara aguru waktra. Karena jika melanggar atau menjadi balian/mengobati penyakit tanpa didasari penguasaan ilmu usadha dan guru waktra, maka akan menerima hukuman secara niskala dan hidupnya sengsara sampai keturunannya. Oleh karena itu, berhati-hatilah menjadi seorang balian jangan sekedar mengobati semata mencari uang maupun status sosial.

Konsep sehat sakit menurut Usadha

Manusia disebut sehat, apabila semua sistem dan unsur pembentuk tubuh (panca maha bhuta) yang berhubungan dengan aksara panca brahma (Sang, Bang, Tang, Ang, Ing) serta cairan tubuhnya berada dalam keadaan seimbang dan dapat berfungsi dengan baik. Sistem tubuh dikendalikan oleh suatu cairan humoral. Cairan humoral ini terdiri dari tiga unsur yang disebut dengan tri dosha (vatta=unsur udara, pitta=unsur api, dan kapha=unsur air).

Tiga unsur cairan tri dosha (Unsur udara, unsur api, dan unsur air) dalam pratek pengobatan oleh balian dan menurut agama Hindu di Bali (Siwasidhanta), Ida Sang Hyang Widhi atau Bhatara Siwa (Tuhan) yang menciptakan semua yang ada di jagad raya ini. Beliau pula yang mengadakan penyakit dan obat. Dalam beberapa hasil wawancara dengan balian dan sesuai dengan yang tertera dalam lontar (Usada Ola Sari, Usada Separa, Usada Sari, Usada Cemeng Sari) disebutkan siapa yang membuat penyakit dan siapa yang dapat menyembuhkannya. Penyakit itu tunggal dengan obatnya, apabila salah cara mengobati akan menjadi penyakit dan apabila benar cara mengobati akan menjadi sembuh (sehat). Dalam usadha, penyakit ada tiga jenis, yakni penyakit panes (panas), nyem (dingin), dan sebaa (panas-dingin). Demikian pula tentang obatnya. Ada obat yang berkasihat anget (hangat), tis (sejuk), dan dumelada (sedang). Untuk melaksanakan semua aktifitas ini adalah Brahma, Wisnu, dan Iswara. Disebut juga dengan Sang Hyang Tri Purusa atau Tri Murti atau Tri Sakti wujud Beliau adalah api, air dan udara. Penyakit panes dan obat yang berkasihat anget, menjadi wewenang Bhatara Brahma. Bhatara Wisnu bertugas untuk mengadakan penyakit nyem dan obat yang berkasihat tis. Bhatara Iswara mengadakan penyaki sebaa dan obat yang berkasihat dumelada.

Selain tersebut diatas, sistem pembagian penyakit dalam usadha juga dikelompokkan berdasarkan Ayur Weda yang didasarkan atas penyebabnya, meliputi:
  1. Adhyatmika, adalah penyakit yang penyebabnya berasal dari dirinya sendiri seperti penyakit keturunan, penyakit kongenital/dalam kandungan, dan ketidakseimbangan pada unsur tri dosha. 
  2. Adhidaiwika, penyakit yang penyebabnya berasal dari pengaruh lingkungan luar, seperti pengaruh musim, gangguan niskala/supranatural (bebai, gering agung) dan pengaruh sekala. 
  3. Adhibautika, yaitu penyakit yang disebabkan oleh benda tajam, gigitan binatang, kecelakaan sehingga menimbulkan luka.

Sistem pemeriksaan dan pengobatan

Dalam melakukan suatu pemeriksaan dan mendiagnosa penyakit, balian menyimpulkan berdasarkan hasil wawancara/anamnesis, hasil pemeriksaan seperti pemeriksaan fisik seperti melihat aura tubuh, sinar mata, menggunakan kekuatan dasa aksara, chakra, kanda pat dan tenung. Sedangkan pada balian kapican, yang menjadi alat pemeriksaan adalah benda bertuah yang diperoleh sebagai pica.

Sistem pengobatan/penatalaksanaan suatu penyakit dalam usadha terdiri atas berbagai pendekatan, meliputi pengobatan tradisional (tamba) seperti loloh, boreh dan minyak/lengis yang didasarkan atas lontar taru pramana; penggunaan banten-bantenan yang disesuaikan dengan tenung dan lontar; dan penggunaan rerajahan aksara suci.

Selain pengobatan yang bersifat kuratif, usadha juga mengenal sistem pengobatan preventif/pencegahan yaitu mencegah kekuatan jahat akibat penyakit yang dibuat orang lain, leak/desti dan racun/cetik. Sarana yang digunakan dapat berupa mempasupati benda keramat yang dapat sebagai bekal seperti batu permata, rerajahan dan tumbal. Hal mengenai tentang rerajahan, tamba, tenung dan lain sebagainya akan dibahas lebih lanjut dalam artikel lainnya.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan sebagai berikut :

Pada dasarnya ada tiga jenis penyakit yang disebut dengan istilah Tri Dosa yaitu Pitta (panas), Kapha (nyem) dan Vayu (sebaa - antara panas dan dingin) 
Demikian pula obatnya ada tiga macam, yaitu ; ada obat yang bersifat hangat, tis dan dumelade.  
Dan ternyata ketiga penyakit dan obatnya bersumber dari  Batara çiwa yang memberikan wewenang kepada Batara Brahma, Wisnu dan Iswara. 
  • Penyakit panas dan obatnya yang bersifat hangat menjadi tugas dan kewenangan Batara Brahma.  
  • Batara Wisnu bertugas untuk mengadakan penyakit nyem dan obat yang berkasiat tis. 
  • Batara Iswara mengadakan penyakit sebaa dan bahan obatnya yang bersifat dumelada.
Didunia perbalianan yang selama ini terkesan menutup diri atau sengaja ditutupi agar terkesan seram dan menakutkan atau agar menyisakan keterpesonaan, keraguan dan terkadang keheranan. Sering seperti dipaksa berkenyit, lantaran rasa ingin tahu tak juga menemukan jawaban atas berbagai keanehan dan kedahsyatan yang tengah berlangsung.

Saran
  1. Menjadi seorang balian hendaklah haruslah bermurah hati dan memberi informasi bersifat pencerahan sebagai rasa ingin tahu pasien bisa terpuaskan. 
  2. Menjadi seorang balian harus memiliki sifat welas asih dan tanpa pamrih dan jangan membeda-bedakan dari statusnya. 
  3. Kepada para guru dan penekun usada bali yang gemar menulis diharapkan lebih banyak mencetak buku-buku usada agar masyarakat awam lebih mudah mengenal usada bali, dalam hal ini bisa belajar melalui KLINIK JALA SIDDHI
Demikianlah selayang pandang mengenai sistem pengobatan tradisional Bali usadha Bali yang telah diturunkan oleh nenek moyang kita sampai sekarang masih merupakan suatu pendekatan pengobatan alternatif yang tidak bisa kita tinggalkan karena merupakan primbon-arti.blogspot.com yang mesti kita lestarikan. Manusia tidak seperti mesin yang jika salah satu komponen yang rusak/sakit bisa diperbaiki/diganti begitu saja, namun manusia adalah ciptaan Hyang Widhi yang juga merupakan mahkluk spiritual. Oleh karena itu, pendekatan pengobatan secara holistik harus menjadi pertimbangan bagi semua praktisi pengobatan, baik medis maupun non medis.

Sabtu, 31 Juli 2010

kumpulan mantra bali

kumpulan mantra bali

berikut sedikit saya share beberapa mantra yang mungkin akan berguna buat para pembaca blog ini...
Kanda Mantra / Tingkahing Mamantra :
Salewiring mantrayang, yen dereng nyarik, awya mangkana, sidi mantran (tatwan nira) yan mangkana.
Mamantra :

Yan sira memantra, iki linggihang rumuhun:


1. Bhatara Guru, bonkoling lidah, madyaning lidah.
2. Bhatari Bagawati, pucuking lidah
3. Kalika joti srana, bongkoling lidah
4. Sang Hyang Kedep, madyaning lidah
5. Sang Hyang Sidhi, pucuking lidah
6. Sang Hyang Mandi, Sang Hyang tri mandi ring cipta
7. Sang Hyang mandi wisesa, bayunta
8. Sang Hyang sarpa mandi, ring sabda
9. Mandi saparaning wuwus….!!!




Iki Pengater Mantra

Ma : Ong ang ung, teka ater 3x, ang ah, teka mandi 3x, ang.

Iki Pengurip Mantra

Ma : Ang urip ung urip mang urip, teka urip 3x, bayu urip sabda urip idep urip, teka urip 3x, jeneng.

Iki Surya Kembar

Ma : Ong netranku kadi surya kembar, asing galang teka ulap, asing meleng teka ulap, asing mapas teka ulap, teka ulap 3x, buta teka ulap, dewa betara teka ulap, jadma manusa teka ulap, ong desti leak ulap.

Iki Pengasih

Ma : Teka sinang 3x, teka waye 3x, paripurna ya namah swaha.

Iki Pangurip Mantra

(saluwiring mantra wenang) Ma: Ong betare indra turun saking suargan, angater puja mantranku, mantranku sakti, sing pasanganku teka pangan, rumasuk ring jadma menusa, jeneng betara pasupati. Ong ater pujanku, kedep sidi mandi mantranku, pome.

Iki Pasupati

Ma : Ong sangiang pasupati sakti wisesa angempu wisesa, mewali wastu mantranku ngarep, prekosa aeng angker wastu mantra menadi pasupati, sastra mantra mahasaktyem, ping siyu yuta angker ping siyu sakti,
Ong wastu tastasku, Ong ping siyu yuta, Ong Ang Mang swaha, Ong 3x, Ang 3x, Ong 3x.

Iki pyolas

Sa : roko upinang ping 3, Ma : Om sangiang gni rumusup atine…..gadak uyang atine… aningalin awak sariranku,kedep sidi mandi mantranku, lah pomo.


Iki Pangarad


Ma : Ih, Semar lungha ametan atmanne …….. ring tengahing (telenging) soca kiwa tengen, gawanen ring awak sariran ingsun, lah poma 3x deleng.


Sesirep

Reh asidakep Ma : Om brahma sirep, manuse sirep, kala sirep, anata riarepku, teke mendek, masidakep, rep sirep, kukul dungkul kukul, rep sirep.

Pangurip sarana

Ma : Om bayu sabda idep, urip bayu, urip sabda, urip sarana, uriping urip, ya nama swaha. Urip 3x

Pangurip rerajahan

Mwang salwiring mati Sa ; wnang Ma : Om aku sakti, urip hyang tunggal, lamun urip sang hyang tunggal, urip sang hyang wisesa, teka urip 3x


Pangijeng dewek lwih

Sa : keneh Ma : Ih, meme rambut gĕmpĕl, masusu lambih, pyak kaja pyak kelod pyak kangin pyak kauh, lah pada pyak ingsun di tengah, poma 3x

Iki Pamancut salwiring guna

(kaliput baan guna) Sa : Toya ring batok areng, Utawi: Yeh pasereyan tunun, kayehang wong agring, Ma : idep aku meme bapa pertiwi akasa, saguna japa mantra lekas, sama kamisayan, satru musuhku wus, kabancut 3x.

Iki Punggung tiwas

Sa : engkahin siwa dwaran wang gering Ma : Om beh sang sem em 6x, waras
Sa : yen arep wisesa sakti, genahang padma wredaya ring raga, masarira brahma. Ma : ang brahma ngesam ya namah, (uyup 3x)

Penglukatan, Penyepuh ring Raga 

Sa ; - Nyuh Gading, - Ambengan 9 katih tegul aji benang, - Ketisang tunas lantas anggon mandus. Ma : Ang ung mang, ung man gang, mang ang ung, ang ah, ah ang, mang. (3x)

Iki Pamatuh gring 

Sa : kasuna jangu, Ma : Ih batara bima sakti, anglebak ikang bwana, amepet maga gering kabeh, teke pepet 3x, patuh 3x.

Iki Pematuh Leak Agung 

Sa : sakawenang, Ma : Hih guru metas 3x, kala mimpas 3x, teka patuh 3x.

Pamatuh 

Ma : ingkup patuh 3x, upinang ping 3
Sa : sakawenang, Ma : Idep aku sang hyang tunggal, amatuhana bwana kabeh, surya candra, lintang tranggana, patuh gni banyupatuh, angina patuh, jadma manusa patuh, apan kapan kasidyan nira sang hyang tunggal, amatuhana sakawenang, patuh ingkup. 
Sa : saka wnang Ma : Om bayu teka, desti lunga, brahma punah, wisnu punah, tunggal punah – punah kita kabeh, tan tuma maha ring awak sariranku, teke punah 3x. 

Pamatuh sarwa tenget 

Sa : sekar amanca warna, yeh anyar Ma : Ih, ngadeg batara indra, patuh, batara sangkara, batara brahma, batara wisnu, batara siwa, empu ijambangan nyai, apang melah, poma 3x

Pamatuh buta kala ngandang 

Ma : Om buta kala ngandang – ngandang, teke apatuh ingkup, maring awak sariranku, teka patuh tan tuma ma ring awak sariranku, aku sang hyang licin, tan kasaran kaungkulan, dening buta kala dengen, aku sakti wnang, ang ung mang, kedep sidi mandi mantranku.

Pangimpas kala 

Sa : sakawnang Ma : Om durga singgah, kala singgah, buta singgah, dengen singgah, sing pasyung pada singgah, teka pyak 3x (upinang 3x).

Panundung buta kala 

Sa : wnang Ma : Ih buta kala, away kita ingkẽnẽ, aku rumawak sang hyang brahma, wnang aku amatinin kita, mundůra sira mangkẽ, aja swẽ, tka mundur 3x, tan pawali kita munggwing untat teka mundur 3x.

Iki Mantra Mejalan 

Sa : reh amecik cunguh Ma : Om aku angempet bayun satru musuhku, aku angempet kaketeg satru musuhku, teke sirep.

Iki Pangurip bayu 

Sa : reh angupin, Ma : apurani mulih kebanyumu lekah.

Iki Mantra Salwiring Tamba 

Ma : Ung, Ang, Ong, Mang, Yang, Wang, Ung, wnang angilang lara wigna dentas waras. 3x.

Iki Pametus mwang Kakambuh 

Ma : Om ibu pertiwi, ingsun anjuluktuturut kambut, agung mepengen , gegeran 3x.

Iki kaputusan sangut 

Sa : kedek, Ma : Om kaputusan sangut, metu saking swargan, mengaji sarwa ningasih, betara siwa nembah asih batara iswara asih, teka pada lenglog atine, jengis asih, sing teka pada nyelo ring aku, aku pangawaking sampyan mas, turunan ring swargan agung, poma.


Iki Mantran salwiring Karya 

Sa : yan sira akarya salwiring karya, iki regepang, Ma : batara brahma makarya, batara wisnu anylehin, batara iswara mituduhin.

Iki Pangurip Mwang Mresihin 

(nguripang mwang mresihin salwiring karyanin) Ma : batara brahma makarya, batara wisnu angurip, batara iswara mresihin, teke hning.

Iki Pamunah Pnawar 

Sa : sakawenang, pangan akna. Ma : Om, ak 3x, ik 2x, jah tatawar 3x, dah 3x, ah 3x, hep 2x, sing glar 3x.

Iki Sarinning Pacar Sona 

“Ng” mantra dahat lewih, away wera juga, pingit akna. Ma : Umoring sastra, sastra sapta karana, modra sana kapangan kinum, satus tahun ida tan keneng lara-lara atwa anom manih, dening sarining aji pancar sona, teken 3x. Lekasnya anulak lakan ; ambeng “ng” mekek bayu, sing dadi macelegekan, upin ping3.

Iki Pamungkem 

Sa : muncuk dapdap sekar akna Ma : ung, ang, mang, idep aku anunggal jaran wilis, ngagana lampahku, sapa wani tuminghal uripku, sing madeleng pada bungkem, Kumedap-kumedip bungkem, kumangkang-kumingking bungkem, gajah warak bungkem, teka kekel bungkem.
Sa : mica 7 besik, wus amantra sembar akna. Ma : Om kala kalika bungkem, dewa dewi bungkem, dewata dewati bungkem, kumangkung kumingking bungkem, gumatal gumitil bungkem, manusa bungkem, asu bawi bungkem, aku kibungkem, amungkem manusa kabeh, teke bungkem bulangkem, mantranku sidi.

Pamungkem leak 

Sa : yeh ayar sirat akna Ma : Isaya muksana, tananataya, kedep sidi mantranku.

Pamungkem cicing 

Sa : segan kepel 1 Ma : Om brahma bungkem, wisnu bungkem, sakutu kutuning brahma bungkem. 3x

Pamungkem tabwan 

Puja ring sor : Om Om krihi swaha, angrong. Ma : om umah – umah (semburin tri ketuka), Om sring waha swaha.

Iki Tatulak Buyung 

Sa : toya mawadah sibuh cemeng, sekar jepun 1 rinebok ring toya, wus minantra siratin wangke ika ping 3, ilang ikang buyung. Ma : bismi lara, menana kembi lara, sapasang, mulih imingmang cemeng sube dini.

Tatulak bebai 

Sa : toya ring caratan, siratin sang kena babai, ider kiwa nemu glang apisan. Ma : Lenda galuh, sang gara galah, janas aranmu lahmu.

Aji papeteng 

Sa : buk areng sambuk. Ma : Idep aku sarwa pteng, pteng ngaputih. 
Sa : buktibā kna ring wang. Ma : Ih tekep akasa lawan pratiwi, atekep anakanakan matane wong kabeh, tka pteng dedet kapalingan, jeng.

Pangembak pameteng 

Ma : Ih buta seliwat, sapangempet ring marga agung, sereg 3x, teke pyak 3x. Om diding diding, dedong dewa, magdi durinku, raksa sang mentas, ika mimpas.

Iki sarining sang hyang mandi, 

yan sira arep mangrangsukang busana rēh akna ring sma rumuhun, sira anglekas kawasa sira sakarep, tan alekas. Ma : Ih pajalingang ipajelingung, pajalango 3x. idep aku sarining sang hyang mandi, aku katinggalan, aku tan katon, jeng.

Sesirep utama 

Sa : Sang Hyang Licin. Ma : Om desti sirep, manuse sirep, kebo sampi sirep, sang gumatat gumitit sirep, kumangkung kumingking sirep, gandarwa gandarwi sirep, widyadara widyadari sirep, sami pade sirep, wong manuse kabeh.
Reh asidakep Ma : Om brahma sirep, manuse sirep, kala sirep, anata riarepku, teke mendek, masidakep, rep sirep, kukul dungkul kukul, rep sirep.

Niyan sang hyang aji susupan 

Sa : asep asepan adjana kunang, rẽhnya angrana sika, masarira aku mawak batara guru murti sira panca muka, dasa buja, tri netra kita ring sawulu wulu, ingidep iparek ring dewata nawa sanga, lwirnya : wisnu, sambu siwa, waruna. Ma : Om baga bajra, banata dewa purasti guru, pirowaca ada raksa sang mretyu sada, Om wang nang, giri suksma nyjana, dēna marayangku, to dewa sangha. Om dat dewati prasta diswaha sakti.

Pangraksa jiwa/urip 

Ma : Om hrong krong siwastra rajaya namah swah.

Pangidep ati 

Sa : wnang pangan Ma : Pukulun sang hyang tutur mēnget, tutur jadi, sumusup ring adnyana hning, sing tinular isep. 3x leaksih, jadma manusāsih, dewa betarāsih, teka patuh ingkup, asih dẽnawlas, Om yang tunggal prama sakti ya nama.

Mandi sakcap 

Uncar ping 3 Ma : Om ta sakti, sidi pujaning dewa sakti, asidi sakti.

Pangurip bayu 

Sa : sakawenang Ma : Om bayu sugriwa mungguh ring netra kiwa, bayu anggada mungguh ring netra tengen, bayu anoman mungguh ring tungtunging wulat, bayu wayawa mungguh ring idep, bayu ongkara mungguh ring slaning ati, angalapana sakwehing lara, tuju tluh tranjana, ila – ila upa drawa, nguniwēh danda upata, apan nyanu anglebur mala, anglukat lara, teka muksah 3x.
Sa : reh angupin Ma : apurani mulih kebanyumu lekah

Pangenteg bayu 

Sa : toya anyar mewadah sibuh cemeng, madaging pucuk bang. Ma : Sabda matemu pada sabda, idep matemu pada idep, bayu matemu pada bayu, urip matemu pade urip 3x

Kaputusan Dalang Putih 

Sa : lunglungan, sumpingakna, yan angamēt tan kawasa lawatin Ma : Idepaku anaking dalang putih, adoh aku tan katututan, parek aku tan kena ginamelan, apan aku anaking dalang putih, tka bungeng – bungeng

Iki panglebur lara roga, 

mwang kenēng upa drawa, mwang dening durjana, mwang ipyan ala, kalebur dēnya Sa : yeh Ma : sang, bang, tang, ang, ing, tirta paritra, ang ung mang enyana, Om mrtha.

Pinungkul agung 

Sa : wnang, reh wnang Ma : Ung, ung batara kala, duk tuman ceba ring pretiwi akasa, Om ang mang. 3x

Pangurip sarana 

Ma : Om bayu sabda idep, urip bayu, urip sabda, urip sarana, uriping urip, ya nama swaha. Urip 3x

Pamageh urip/bayu 

Ma : Om ring siwa dwara, ang ring nabi, mang ring mula kanta. Upin ping 3 (uncar akna sadina – dina)

Pangurip rerajahan Mwang salwiring mati 

Sa ; wnang Ma : Om aku sakti, urip hyang tunggal, lamun urip sang hyang tunggal, urip sang hyang wisesa, teka urip 3x

Sarining dewa 

Lekas akna ring jalan Ma : Idep aku sarining mantra, idep aku sarining dewa, aku maged di marga agung, sing tumingalin sariranku teka asih

Pagmeng 

Sa : idu bang, basmākna Ma : raksasa ring arepku, macan ring wuringku, bwaya ring sukunku, gelap ring luhurku, minaka swaranku, teka rep

Pangijeng dewek lwih 

Sa : keneh Ma : Ih, meme rambut gĕmpĕl, masusu lambih, pyak kaja pyak kelod pyak kangin pyak kauh, lah pada pyak ingsun di tengah, poma 3x

Paneduh Salwiring galak 

Sa ; yeh raupang ping 3 Ma : Pakulun salegatan, mullah, buta teduh dewa teduh angina teduh, Om gni teduh, (syanu………..) teduh, sing kala kon pada teduh, aku dewaning teduh, sing kauca pada teduh

Mantra satus 

Ma : Om tarĕ – tarĕ, turĕ – turĕ, sarwa jagat prewisnu, presolah wicĕt swaha. Yan mahyun asihin ring rat, mantra ping 10 Yan mahyun angilangakna karya, mantra ping 7 Yan mahyun kasubagan mwang kawerdyaning wadwa, mantra ping 6 Yan mahyun angilang akna dengen mwang desti mantra ping 12
Sadananya angusap angga away lupa Ma : Om prajopaya sakti maha mo wani sakaya, yawe namo nama swaha 3x

JAPA  Nyatur Desa

Sanghyang brahma marep daksina, pala dirgayusa Ma : Om ang nama swaha 9x
Sanghyang mahadewa marep pascima, kaswastaning sarira Ma : Om tang nama swaha 9x
Sanghyang wisnu marep uttara, mangilangang papa klesa mwang satru Ma : Ung, ung nama swaha 9x
Sanghyang sada siwa, kasidyan sira, labda jnana awak… Ma : Om ang ung mang nama swaha 9x

Pangarad dewa 

Ma : Om ang mang 3x Uncar akna pacang pules/sirep, uncar ping 9. Ma : Om taya-pangaradan dewa.

Pangeseng salwiwing pangan 

Ma : Ih, bungutku paon, lidahku api wetengku segara, sing manjing, geseng 3x

Pangeseng gring ring sariranta 

Usapang ping 3 Ma : ang ah, ang ring nabi, agni prekreti. Ah ring siwadwara, banyu prekreti.
Dudut akna imeme lawan I bapa. Idep imeme matemu lawan I bapa. Wus angidep metu mantra Ma : Ang, gni ring tungtunging lidah. Ah, toya ring madyaning lidah, turun mari tinggal, geseng akna ring madyaning lidah, gseng lebur, anyudang ka segara gni, tke lebur 3x. ang ah. (uncar akna rikala purnama tilem)

Mantra wawu bangun 

Rikalaning matangi, jerih satru desti Ma : Om lpang. Upinang ping 3

Nundung gring 

Ma : ung ang. Om mang yang wan gung, waras dĕnya. Upin ping 3

Pangijeng dewek 

Ma : Ih. Cai anggapati, marep ring wuri, ang swaranya, kuning tadah sajinira. Cai mrajapati, marep ring kiwa, ang swaranya, ireng tadah sajinira. Cai banaspati, marep ring tengen, om swaranya, abang tadah sajinira. Cai banaspatiraja, marep ring arep, om swaranya, petak tadah sajinira. Yen ana musuhku dursila ring bli hade bahanga, empu bli apang melah, poma 3x

Panawar 

Sa : uyah Ma : Om segara ring wetengku, brahma ring cangkemku, sing manjing pada geseng, campah tawar 2x (tahap akna)

Pamyak kala 

Ma : dewa pyak, manusa pyak buta dengen pyak, sami pada pyak 3x Ma : Om. Lor pyak 3x, kulon pyak 3x, kidul pyak 3x, wetan pyak 3x, Om. Brahma pyak 3x, wisnu pyak 3x. upinang ping 3

Pamandi swara 

Ma : Om apitana, batara wisnu batara brahma batara iswara. (uyup ping 3)

Gniastra 

Ma : ang bang, gni astra murub kadi kala rupa, anyapu awu, durga lidek teka geseng, aku sanghyang cintya gni ambalabar, gni ajagat, buta geseng, tan palatu latu, teka geseng 3x

Surya putih 

Iki Pangempet bulu, panyaga dewek, mereh ring capcapane Ma : ah ih uh, mram 3x. ang 3x. ung ang ah. Uyup ping 3

Paklid musuh anak ngiwa 

Ma : Ah Ang 10x uyup ping 3

pangemit ring margi 

Sa : reh amecik cunguh Ma : Om aku angempet bayun satru musuhku, aku angempet kaketeg satru musuhku, teke sirep.

Iki Panglupa 

Sa : reh nuding asuku tunggal, apang lupa… Ma : Ih, nini lupa, kaki lupa, manusa lupa, dewa lupa, Om suniya lupa kabeh.

Iki Punggung tiwas 

Sa : engkahin siwa dwaran wang gering Ma : Om beh sang sem em 6x, waras
Sa : yen arep wisesa sakti, genahang padma wredaya ring raga, masarira brahma. Ma : ang brahma ngesam ya namah, (uyup 3x)

Japa mantra Yan arep ngandupang sarwa wisesa 

Sa : manusa sakti gnahang ring ampru Ma : Om ang, ung yang sarwa wisesa ya. (uyup 3x)

Yan arep dharma sakti 

Sa : manusa sakti gnahang ring karma, masarira guru Ma : Ung, ang, ung mang siwa murti prama saktyem (uyup 3x)
Mantra uttama, yen arep wisesa Sa : tabuh wetista 7x Ma : Om
Yen arep kasihan Sa : tabuh sukunta 7x Ma : Om
Yen arep ngidih/nunas Sa : tabuh wetista 7x Ma : Om lengleng
Yen arep wang istri Sa : tabuh purusta 7x Ma : Om sang
Yen arep abusana Sa : dada tabuh 9x Ma : Om sang mulih ring raga utama, utamaning sapta aksara, panunggalan. (panunggalan di ati apang singid)

semoga bermanfaat - cakepane.blogspot