Tampilkan postingan dengan label Bhujangga Waisnawa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bhujangga Waisnawa. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Juni 2014

Jejak Wangsa Bhujangga Waisnawa

Jejak Panjang Wangsa Bhujangga Waisnawa di Bali

Jejak Panjang Wangsa Bhujangga Waisnawa di Bali

Sekte Waisnawa dan Tri Sadaka
Menurut Dr. Goris, sekte-sekte yang pernah ada di Bali setelah abad IX meliputi Siwa Sidhanta, Brahmana, Resi, Sora, Pasupata, Ganapatya, Bhairawa, Waisnawa, dan Sogatha (Goris, 1974: 10-12).
Di antara sekte-sekte tersebut, yang paling besar pengaruhnya di Bali sekte Siwa Sidhanta. Ajaran Siwa Sidhanta termuat dalam lontar Bhuanakosa.
Sekte Siwa memiliki cabang yang banyak. Antara lain Pasupata, Kalamukha, Bhairawa, Linggayat, dan Siwa Sidhanta yang paling besar pengikutnya. Kata Sidhanta berarti inti atau kesimpulan. Jadi Siwa Sidhanta berarti kesimpulan atau inti dari ajaran Siwaisme. Siwa Sidhanta ini megutamakan pemujaan ke hadapan Tri Purusha, yaitu Parama Siwa, Sada Siwa dan Siwa. Brahma, Wisnu dan dewa-dewa lainnya tetap dipuja sesuai dengan tempat dan fungsinya, karena semua dewa-dewa itu tidak lain dari manifestasi Siwa sesuai fungsinya yang berbeda-beda. Siwa Sidhanta mula-mula berkembang di India Tengah (Madyapradesh), yang kemudian disebarkan ke India Selatan dipimpin oleh Maharesi Agastya.
Sekte Pasupata juga merupakan sekte pemuja Siwa. Bedanya dengan Siwa Sidhanta tampak jelas dalam cara pemujaannya. Cara pemujaan sekte Pasupata dengan menggunakan Lingga sebagai simbol tempat turunnya/berstananya Dewa Siwa. Jadi penyembahan Lingga sebagai lambang Siwa merupakan ciri khas sekte Pasupata. Perkembangan sekte Pasupata di Bali adalah dengan adanya pemujaan Lingga. Di beberapa tempat terutama pada pura yang tergolong kuno, terdapat lingga dalam jumlah besar. Ada yang dibuat berlandaskan konsepsi yang sempurna dan ada pula yang dibikin sangat sederhana sehingga merupakan lingga semu.
Adanya sekte Waisnawa di Bali dengan jelas diberikan petunjuk dalam konsepsi Agama Hindu di Bali tentang pemujaan Dewi Sri. Dewi Sri dipandang sebagai pemberi rejeki, pemberi kebahagiaan dan kemakmuran. Di kalangan petani di Bali, Dewi Sri dipandang sebagai dewanya padi yang merupakan keperluan hidup yang utama. Bukti berkembangnya sekte Waisnawa di Bali yakni dengan berkembangnya warga Rsi Bujangga.
Adanya sekte Bodha dan Sogatha di Bali dibuktikan dengan adanya penemuan mantra Bhuda tipeyete mentra dalam zeal meterai tanah liat yang tersimpan dalam stupika. Stupika seperti itu banyak diketahui di Pejeng, Gianyar. Berdasarkan hasil penelitian Dr. W.F. Stutterheim mentra Budha aliran Mahayana diperkirakan sudah ada di Bali sejak abad ke 8 Masehi. Terbukti dengan adanya arca Boddhisatwa di Pura Genuruan, Bedulu, arca Boddhisatwa Padmapani di Pura Galang Sanja, Pejeng, Arca Boddha di Goa Gajah, dan di tempat lain.
Sekte Brahmana menurut Dr. R. Goris seluruhnya telah luluh dengan Siwa Sidhanta. Di India sekte Brahmana disebut Smarta, tetapi sebutan Smarta tidak dikenal di Bali. Kitab-kitab Sasana, Adigama, Purwadigama, Kutara, Manawa yang bersumberkan Manawa Dharmasastra merupakan produk dari sekte Brahmana.
Mengenai sekte Rsi di Bali, Goris memberikan uraian yang sumir dengan menunjuk kepada suatu kenyataan, bahwa di Bali, Rsi adalah seorang Dwijati yang bukan berasal dari Wangsa (golongan) Brahmana. Istilah Dewarsi atau Rajarsi pada orang Hindu merupakan orang suci di antara raja-raja dari Wangsa Ksatria.
Pemujaan terhadap Surya sebagai Dewa Utama yang dilakukan sekte Sora, merupakan satu bukti sekte Sora itu ada. Sistem pemujaan Dewa Matahari yang disebut Suryasewana dilakukan pada waktu matahari terbit dan matahari terbenam menjadi ciri penganut sekte Sora. Pustaka Lontar yang membentangkan Suryasewana ini juga terdapat sekarang di Bali. Selain itu yang lebih jelas lagi, setiap upacara agama di Bali selalu dilakukan pemujaan terhadap Dewa Surya sebagai dewa yang memberikan persaksian bahwa seseorang telah melakukan yajnya.
Sekte Gonapatya adalah kelompok pemuja Dewa Ganesa. Adanya sekte ini dahulu di Bali terbukti dengan banyaknya ditemukan arca Ganesa baik dalam wujud besar maupun kecil. Ada berbahan batu padas atau dai logam yang biasanya tersimpan di beberapa pura. Fungsi arca Ganesa adalah sebagai Wigna, yaitu penghalang gangguan. Oleh karena itu pada dasarnya Ganesa diletakkan pada tempat-tempat yang dianggap bahaya, seperti di lereng gunung, lembah, laut, pada penyebrangan sungai, dan sebagainya. Setelah zaman Gelgel, banyak patung ganesha dipindahkan dari tempatnya yang terpencil ke dalam salah satu tempat pemujaan. Akibatnya, patung Ganesa itu tak lagi mendapat pemujaan secara khusus, melainkan dianggap sama dengan patung-patung dewa lain.
Sekte Bhairawa adalah sekte yang memuja Dewi Durga sebagai Dewa Utama. Pemujaan terhadap Dewi Durga di Pura Dalem yang ada di tiap desa pakaman di Bali merupakan pengaruh dari sekte ini. Begitu pula pemujaan terhadap Ratu Ayu (Rangda) juga merupakan pengaruh dari sekte Bhairawa.
Sekte ini menjadi satu sekte wacamara (sekte aliran kiri) yang mendambakan kekuatan (magic) yang bermanfaat untuk kekuasaan duniawi. Ajaran Sadcakra, yaitu enam lingkungan dalam badan dan ajaran mengenai Kundalini yang hidup dalam tubuh manusia juga bersumber dari sekte ini.
Pada tahun Saka 910 (988 M), Bali diperintah raja Dharma Udayana. Permaisurinya berasal dari Jawa Timur bernama Gunapria Dharmapatni (putri Makutawangsa Whardana). Pemerintahan Dharma Udayana dibantu beberapa pendeta yang didatangkan dari Jawa Timur. Antara lain Mpu Kuturan. Mpu Kuturan diserahi tugas sebagai ketua majelis tinggi penasehat raja dengan pangkat senapati, sehingga dikenal sebagai Senapati Kuturan.
Seperti telah diuraikan sebelumnya, sebelum pemerintahan suami istri Dharma Udayana/Gunapria Dharmapatni (sejak awal abad ke 10), di Bali telah berkembang berbagai sekte. Pada mulanya sekte-sekte tersebut hidup berdampingan secara damai. Lama-kelamaan justru sering terjadi persaingan. Bahkan tak jarang terjadi bentrok secara fisik. Hal ini dengan sendirinya sangat menganggu ketentraman Pulau Bali. Sehubungan dengan hal tersebut, raja lalu menugaskan kepada Senapati Kuturan untuk mengatasi kekacauan itu. Atas dasar tugas tersebut, Mpu Kuturan mengundang semua pimpinan sekte dalam suatu pertemuan yang dilakukan di Bataanyar (Samuan Tiga). Pertemuan ini mencapai kata sepakat dengan keputusan Tri Sadaka dan Kahyangan Tiga.
Nah, terkait dengan Bujangga Waisnawa sampai masuk ke Bali, sejarahnya tentu harus dicari lagi. Ternyata, walaupun tidak khusus juga terdapat di buku Leluhur Orang Bali karangan I Nyoman Singgih Wikarman tentang perjalanan Maharsi Markandya ke Bali.
Perjalanan Beliau ke Bali pertama menuju Gunung Agung. Di sanalah maharsi dan murid-muridnya membuka hutan untuk pertanian. Tapi sayang, murid-muridnya kena penyakit, banyak di antaranya meninggal. Akhirnya Beliau kembali ke Pasramannya di Gunung Raung. Di sanalah beryoga, ingin tahu apa sebabnya hingga bencana menimpa para pengikutnya. Hingga mendapat pawisik bahwa terjadinya bencana itu adalah karena Beliau tidak melaksanakan upacara keagamaan sebelum membuka hutan itu.
Setelah mendapat pawisik, Maharsi Markandya pergi kembali ke Gunung Tahlangkir (Tohlangkir) Bali. Kali ini mengajak serta pengikut sebanyak 400 orang. Sebelum mengambil pekerjaan, terlebih dahulu menyelenggarakan upacara ritual, dengan menanam Panca dhatu di lereng Gunung Agung itu. Demikianlah akhirnya semua pengikutnya selamat. Maka, itu wilayah ini lalu dinamai Besuki, kemudian menjadi Besakih, yang artinya selamat. Tempat maharsi menanam Panca dhatu, lalu menjadi pura, yang diberi nama Pura Besakih.
Entah berapa lamanya Maharsi Markandya berada di sana, lalu Beliau pergi menuju arah Barat dan sampai di suatu daerah yang datar dan luas, di sanalah lagi merabas hutan. Wilayah yang datar dan luas ini lalu diberi nama Puwakan. Kemungkinan dari kata Puwakan ini lalu menjadi Swakan dan terakhir menjadi subak.
Di tempat ini Rsi Markandya menanam jenis-jenis bahan pangan. Semuanya bisa tumbuh dan menghasilkan dengan baik.
Oleh karenanya tempat itu juga disebut Sarwada yang artinya serba ada. Keadaan ini bisa terjadi karena kehendak Sang Yogi. Kehendak bahasa Balinya kahyun atau adnyana. Dari kata kahyun menjadi kayu. Kayu bahasa Sansekertanya taru, kemungkinan menjadi Taro. Taro adalah nama wilayah ini kemudian.
Di wilayah Taro ini Sang Yogi mendirikan sebuah pura, sebagai kenangan terhadap pasraman Beliau di Gunung Raung. Puranya sampai sekarang disebut Gunung Raung. Di sebuah bukit tempatnya beryoga juga didirikan sebuah pura yang kemudian dinamai Pura Payogan, yang letaknya di Campuan Ubud. Pura ini juga disebut Pura Gunung Lebah.
Berikutnya Rsi Markandya pergi ke Barat dari Payogan itu, dan sampai di sana juga membangun sebuah pura yang diberi nama Pura Murwa dan wilayahnya diberi nama Pahyangan, yang sekarang menjadi Payangan.
Orang-orang Aga, murid Sang Yogi, menetap di desa-desa yang dilalui. Mereka bercampur dan membaur dengan orang-orang Bali Asli. Mereka mengajarkan cara bercocok tanam yang baik, menyelenggarakan yajna seperti yang diajarkan oleh Rsi Markandya. Dengan demikian Agama Hindu pun dapat diterima dengan baik oleh orang-orang Bali Asli itu.
Sebagai Rohaniawan (Pandita), orang Aga dan Bali Mula, adalah keturunan Maharesi Markandya sendiri yang disebut Warga Bujangga Waisnawa.
Dalam zaman raja-raja berikutnya, Bujangga Waisnawa ini selalu menjadi Purohita mendampingi raja, ada yang berkedudukan sebagai Senapati Kuturan, seperti Mpu Gawaksa dinobatkan menjadi Senapati Kuturan oleh Sang Ratu Adnyanadewi tahun 1016 Masehi, sebagai pengganti Mpu Rajakerta (Mpu Kuturan). Ratu ini pula yang memberikan kewenangan kepada Sang Guru Bujangga Waisnawa untuk melakukan pacaruan Walisumpah ke atas. Karena sang pendeta mampu membersihkan segala noda di bumi ini. Lalu Mpu Atuk yang masih keturunan Rsi Markandya, di masa pemerintahan Sri Sakala Indukirana (1098 M), dinobatkan sebagai Senapati Kuturan dari Keturunan Bujangga Waisnawa.
Pada masa pemerintahan Suradhipa (1115-1119 M), yang dinobatkan sebagai Senapati Kuturan dari keturunan Sang Rsi Markandya adalah Mpu Ceken, kemudian diganti oleh Mpu Jagathita. Kemudian ketika pemerintahan Raghajaya (1077 M), yang diangkat sebagai Senapati Kuturan yakni Mpu Andonaamenang, dari keluarga Bujangga Waisnawa. Demikianlah seterusnya.
Ketika pemerintahan raja-raja selanjutnya, selalu saja ada seorang Purohita Raja atau Dalem yang diambil dari keluarga Bujangga Waisnawa, keturunan Maharsi Markandya. Sampai terakhir masa pemerintahan Dalem Batur Enggong di Bali. Ketika itu yang menjadi Bagawanta Dalem, mewakili sekte Waisnawa, adalah dari Bujangga Waisnawa pula dari Griha Takmung. Namun sayang dan mungkin sudah kehendak Dewata Agung, terjadi kesalahan Sang Guru Bujangga, di mana Beliau selaku Acarya (Guru) telah mengawini sisyanya sendiri yakni Putri Dalem yaitu Dewa Ayu Laksmi. Atas kesalahan ini sang Guru Bujangga Waisnawa akan dihukum bunuh. Tapi Beliau segera menghilang dan kemudian menetap di wilayah Tabanan.
Semenjak kejadian inilah Dalem tidak lagi memakai Bhagawanta dari Bujangga Waisnawa keturunan Sang Rsi Markandya. Setelah kedatangan Danghyang Nirartha di Bali, posisi Bhagawanta diambil alih Brahmana Siwa dan Budha. Selesailah sudah peranan Bujangga Waisnawa sebagai pendamping raja di Bali. Bahkan setelah strukturisasi masyarakat Bali ke dalam sistem wangsa oleh Danghyang Nirartha atas restu Dalem, keluarga Bujangga Waisnawa tidak dimasukkan lagi sebagai Warga Brahmana.
Namun sisa-sisa kebesaran Bujangga Waisnawa dalam peranannya sebagai pembimbing masyarakat Bali, terutama dari kalangan Bali Mula dan Bali Aga masih dapat kita lihat sampai sekarang. Pada tiap-tiap pura dari masyarakat Bali aga/mula itu, selalu ada palinggih sebagai Sthana Bhatara Sakti Bhujanga. Alat-alat pemujaan selalu siap pada palinggih itu. Orang-orang Bali aga/mula, cukup nuhur tirtha (mohon air suci), terutama tirtha pangentas melalui palinggih ini. Sampai sekarang para warga ini tidak berani mempergunakan atau nuhur Pedanda Siwa.
Warga Bujangga Waisnawa, keturunan Maharsi Markandya sekarang telah tersebar di seluruh Bali. Pura Padarmannya di sebelah Timur Penataran Agung Besakih, sebelah Tenggara Padharman Dalem. Demikian juga pura kawitannya tersebar di seluruh Bali, seperti di Takmung Kabupaten Klungkung, Batubulan Kabupaten Gianyar, Jatiluwih Kabupaten Tabanan dan lain-lain tempat lagi.
Begitulah Maharsi Markandya, leluhur Warga Bujangga Waisnawa penyebar Agama Hindu pertama di Bali, dan warganya sampai sekarang ada saja yang melaksanakan Dharma Kawikon dengan gelar Ida Rsi Bujangga Waisnawa.

Pujangga Bhujangga Waisnawa

Bhujangga Waisnawa

Di dalam buku karangan Inyoman Singgih Wikarman yang berjudul leluhur orang Bali bahwa orang Baliaga dan Balimula adalah keturunan Rsi Markandeya yang disebut warga Bhujangga Waisnawa. Tetapi didalam kitab Negarakertagama dijelaskan bahwa Bujangga berasal dari kata pujangga yang artinya seorang penulis sastra agama, cendekiawan, sastrawan, ilmuwan, intelektual dan ahli sastra. Pada jaman dahulu Bujangga adalah seorang pendeta atau Wiku. Sang Bujangga dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu Bujangga Sugata, Bujangga Siwa, dan Bujangga Waisnawa. Ada juga Bujangasana, Bujangini Mudra, Bujangasaana cobra pose, dan Bujangga Prayata. Sebelumnya Bujangga juga sering disebut dengan sangguru.. Tapi kemudian Sangguru berubah menjadi Senguhu lalu Senguhan atau gelar suci. Kemudian kata Senguhu dihilangkan karena banyak masyarakat yang salah paham bahwa Senguhu sering disamakan dengan warga Senguhu versi Babad Pasek karangan Igusti Bagus Sugriwa.
        Kalau dalam Lontar Babad Pasek, dijelaskan bahwa Senguhu artinya Kasengguh dalam artian masyarakat biasa yang dikira seorang pendeta. Kembali ke topik Bujangga bahwa Bujangga arti sebenarnya adalah sebagai Pemuput atau bergelar Thirta Amerta Pratiwi Jhati. Tetapi kalau di India, Bujangga artinya seekor ular yang disembah atau disucikan. Leluhur Bujangga Waisnawa adalah seorang rsi yang bernama Ida Rsi Bujangga Mhustika yang tinggal di Sengguhan Klungkung. Mengenai pura kawitannya adalah di pura Lhuhur gunung Shari di desa Jatiluwih Penebel, Tabanan dan di pura Shegara Cangu disebelah pura Bhatu Bholong.
             Di dalam Lontar Kerta Bujangga dijelaskan dengan adanya konsep Tri Katrini atau Tri Purusa, Tri Lingga, dan Tri Sedaka yang artinya tiga pendeta atau sulinggih diantaranya siwa/bhur, budha/bwah, dan bujangga/swah.

Selasa, 25 Desember 2012

Raja Purana Sejarah Desa Adat Semate

Raja Purana Sejarah Desa Adat Semate

Dalam sejarahnya, dahulu kala tersebutlah di pulau Bali dipimpin oleh seorang raja Shri Watu Renggong, yang bertakhta pada tahun saka 1382 atau 1460 masehi dengan kedudukan di Gelgel, beliau ini tiada lain putra dari Kreshna Kapakisan.

Dalam menjalankan roda pemerintahan kerajaan di Bali, beliau Shri Watu Renggong dibantu oleh para punggawa dan tanda mantri. Namun yang paling memegang peran penting tatkala itu adalah keturunan dari Mpu Withadharma, yang lebih dikenal dengan sebutan Pasek.

Kisahnya sebagai berikut :
Sesungguhnya putra-putra dari I Gusti Pasek Gelgel mempunyai tugas dan kewajiban yang berbeda-beda.

  1. Putranya yang menginventarisir kekayaan raja disebut Pasek Gelgel.
  2. Yang mengemban tugas sebagai juru bicara raja bergelar Pasek Bandesa.
  3. Yang bertugas pada Kahyangan Desa seperti Pura Puseh dan Pura Desa termasuk Bale Agung bergelar Pasek Kubayan.
  4. Dan yang bertugas mengurusi di bidang pitra yadnya bergelar Ki Pasek Prateka.

Dikisahkan Shri Watu Renggong mempunyai empat orang putra antara lain:

  1. Yang tertua bernama I Dewa Pamayun,
  2. Adiknya perempuan bernama I Dewa Ayu Laksmi,
  3. Yang ketiga bernama I Dewa Sagening dan
  4. Yang terkecil bernama I Dewa Ularan.
Setelah cukup dewasa keempat putra raja itu mohon bimbingan kerohanian (sebagai murid), dengan memohon pengajaran ilmu pengetahuan kehadapan beliau sang trini (Siwa, Bodha, Bhujangga).

I Dewa Pemayun dan I Dewa Sagening belajar kepada Padanda Siwa, I Dewa Ayu Laksmi berguru kepada Ida Padanda Bodha dan I Dewa Ularan mohon berguru kepada Bhujangga Waisnawa.

Setelah sekian lamanya putra-putri raja berguru kepada sang trini, semakin ganteng dan cantik parasnya, serta menginjak usia remaja dan mulai saat itulah api asmaranya mulai tumbuh.

I Dewa Ayu Laksmi sangat cantik sangat tergila-gila orang memandangnya, lantaran demikian itu akhirnya dipersunting oleh sang Bhujangga Waisnawa sebagai istrinya.

Setelah demikian perilaku sang Bhujangga terhadap putra raja, beliau Raja Dalem Watu Renggong yang tiada lain ayah kandung I Dewa Ayu Laksmi, sedih dan sangat marah sampai beliau mengambil pusaka dengan maksud untuk membunuh sang Bhujangga.

Melihat situasi yang demikian itu sang bhujangga menghilang dari Gelgel dan beliau mengungsi bersama I Dewa Ayu Laksmi menuju Gunung Sari (wilayah Jati Luwih). Karena ini adalah tanda-tanda munculnya kali sangara, sehingga sering terjadi pertengkaran antar sanak keluarga.

Dengan munculnya pertanda itu sanak Ki Pasek meninggalkan Gelgel menuju desa-desa di bali.

  • Ki Pasek Bandesa, ada yang menuju ke desa Mas, ada yang menuju desa Sibang,
  • Ki Pasek Kubayan menuju desa Bendul Wangaya,
  • Ki Pasek Gaduh menuju desa Blahbatuh, demikian warga pasek lainnya juga banyak meninggalkan Gelgel.

Setelah sekian lama tinggal pada wilayah yang baru didiami, lagi meninggalkan wilayah itu dan tibalah beliau di bagian tenggara kramani Jong Jarem (sekarang disebut desa Kapal), wilayah yang didatangi itu sangat angker, banyak ditumbuhi oleh pepohonan kayu putih, itu sebabnya disebut dengan dengan hutan Kayu Putih.

Orang-orang pasek itu meninggalkan Gelgel, karena tidak ingin ditindas oleh kaum/golongan lainnya.
Sekarang dikisahkan seorang Rsi Mpu Bantas

***
Beliau melakukan perjalanan suci. Pada suatu tempat beliau membangun Pura Dalem Tembau. Setelah selesai pura dibangun lalu melanjutkan perjalanan, tidak dikisahkan dalam perjalanan, akhirnya tibalah beliau di sebuah hutan yaitu hutan kayu Putih.

Setibanya beliau disana, berjumpa dengan sanak keturunan Mpu Gnijaya.

Om, anak sekalian, kenapa kalian semua ada pada wilayah ini, jelaskanlah kepada hamba.

Ia sang pandita, adanya kami disini, tiada lain karena lantaran kami sekalian tidak sependapat dengan tindakan raja melaksanakan upaya pembunuhan, untuk itu hamba telah berketetapan hati termasuk nantinya sanak keturunan hamba untuk menetap di wilayah ini.

Hai kalian semua jika demikian, karena wilayah hutan ini sangatlah angker, aku sarankan untuk membangun / membuat tempat pemujaan kehadapan Hyang Bhatara, agar kalian selamat dan panjang umur mohon wara nugraha Hyang Bhatara.

Atas saran itu, sekalian orang-orang itu mengadakan musyawarah. Setelah kata mufakat, segera membangun tempat pemujaan. Tidak dikisahkan entah berapa lamanya, kahyangan itu telah selesai dibangun. Selanjutnya orang-orang itu lagi mengadakan musyawarah, tiada lain yang dibicarakan tentang nama kahyangan yang baru selesai dibangun.

Dalam pertemuan itu lama memang tidak menemui titik temu, terjadi tarik ulur pembicaraan. Melihat situasi yang demikian itu lalu sang pandhya segera berujar:

Wahai anak-anakku sekalian, janganlah demikian, berilah nama kahyangan ini Putih Semate.
Apa sebabnya dinamakan demikian ?
Karena pada wilayah ini banyak ditumbuhi oleh kayu putih dan wilayah ini namailah Semate, demikianlah saranku kepada kalian semua. Apa sebabnya pula wilayahmu ini aku beri nama Semate ? Karena kalian telah bersatu dalam pikiran tidak mau tunduk dengan orang lain dan berketetapan untuk tinggal di wilayah ini. (terj bebas = sehidup semati )

Setelah itu, akhirnya pura dan desa itu dibuatkan upacara sebagaimana layaknya pada tahun saka 1396 atau 1474 masehi. Entah berapa bulan berikutnya barulah orang-orang yang tinggal di desa Semate membangun pura kahyangan tiga sebagaimana lazimnya desa-desa di Bali.

Ada pula masyarakat Semate pindah tempat tinggal, yang berlokasi disebelah barat daya Semate, wilayah itu disebut Ceceha (sekarang Cica) dan Gunung, disana iapun membuat tempat pemujaan Hyang Bhatara.

Disebutkan wilayah paling selatan Desa Semate berbatasan dengan sungai (bagian utara sungai). Di bagian selatan desa itu terdapat hutan sirih.

Dikisahkan beliau sang Rsi Mpu Bantas, berkata / mengucapkan bhisama;
Hai kalian anak-anakku sekalian, karena kalian dalam mengadakan musyawarah terjadi pembicaraan tarik ulur dalam mengambil suatu keputusan, sebagai tanda peringatan wajib kalian melaksanakan upacara Mbed-mbedan itu setiap tahun yaitu pada sasih kedasa, tanggal pisan (sehari setelah Nyepi), mohon keselamatan dan anugrah Tuhan / Hyang Bhatara, dengan menghaturkan upakara daksina suci pada pura yang menjadi sesungsungan kalian lengkap dengan segehan, demikian harus diingat jangan sampai dilupakan.

Setelah beliau Sang Rsi Mpu Bantas berpesan demikian, lalu meninggalkan Desa Semate melanjutkan perjalanan ke utara dan tiba akhirnya di desa Gagelang.

Dikisahkan tatkala kerajaan Mengwi diserang oleh raja Badung, Tabanan dan Bangli, dimana dalam peperangan itu pihak Mengwi mengalami kekalahan yaitu pada tahun saka 1813 atau 1891 masehi, menyebabkan ada diantara penduduk desa Semate pergi meninggalkan desa itu menuju ke desa-desa lainnya di pulau Bali, demikian kisahnya desa Semate, berakhir //o//

RAJA PURANA DESA ADAT SEMATE

  • Nama lontar :Bhuwana tattwa
  • Ukuran : 3,5 x 35 Cm.
  • Ditranslate oleh : K. Sudarsana
  • Pemilik naskah : K. Sudarsana, Br. Basangtamiang – Kapal .
  • Ditranslate tanggal : 30 Juli 2008.

Demikian dijelaskan kisah sejarah dari sebuah desa yang sampai saat ini dinakaman "Desa Adat Semate" yang terletak di kelurahan Abianbase Mengwi Mangupura Badung Bali.

Senin, 03 Desember 2012

Prasasti Bhujangga Waisnawa ring Sekartaji Nusa Penida

Prasasti Bhujangga Waisnawa ring Sekartaji Nusa Penida

1.a. Ong awighnam mastu namā śidyam. Ong prânamyam sirā sang widyam, bhukti bhukti hitartwatam, prêwaksyā tatwam widayah, wişņu wangsā pādāyā śiwanêm, sirā ghranā sitityam waknyam. Rajastryam mahā bhalam, sāwangsanirā mongjawam, bhupa-lakam, satyamloka. Ong namadewayā, pānamaskaraning hulun, ri bhatarā hyang mami. Ong kara panga bali puspanam. Prajā pasyā.

1.b. nugrah lakam, janowa papā wināsayā, dirghga premanaming sang ngadyut, sembahing ngulun ri sanghyang bhumi patthi, hanugrahaneng hulun, muncar anākna ikang tatwa, prêtthi entananira sang bhujanggā wişņawa, tan katamanan ulun hupadrawa, tan kêneng tulah pāmiddi, wastu pari purņā hanmu rahayu, ratkeng kulā warggā sāntanannirā, mamastu jagatitayā. Ong namasiwaya, ong nama bhuddayā.

2.a. Ong namā bhujanggā bħuddayā. Nyan têgêsing prihagem pañungsungan, krananya hana prigêm (ha) pañungsungan, panugrahan sakêng griya pajaten, titanen mangke ida bagus citrā, hangamet sêtri, listuhayu paripurnna, sutanirā aryyā damar, sakêng kadiri, wus alamā lamā hatmu rabyā, mijil sutanning karwa laki-


2.b. laki kang panwa hapanngêran ida bagus ngurah, kang hari, hapaniah ida bagus driyā, rimangke ganti wasāsyanirā ring pajaten, mwang kādiri tabanan, mangda ida bagus citrā māpyuwitthā, wus ida māpyuwittā (maprohita) hinaranan bhujangga guru jati lêwih. Titanên mangke ida bagus ngurah, malinggih ring griyā.

3.a. bahan sari. Titanên ida bagus driyā, kesah sakêng griyā pajaten, malinggih ring griyā batubwah, gunungrattha kusiman, tur kasungsung hantuk sāsya (si) kabeh, raris idā ngamet s• âtri listuhayu paripūrņnā. Slamā-lamā hatmu rabyā. mijil sutannirā hakurambyan, kang panwa, hapaniah ida bagus hungu, kang hantân idā bagus kibul, sami widagda.

3.b. Mahukir ukiran, raris idābagus hungu kāpanikāyang mākaryyā arcla ring ida cokordda kusiman, malakar hantuk taru candana jênggi māpindā śiwā mwang ghanna, wus putus idā mākaryyā wus katur ring cokordda puri kusiman. Kawarņnā mangke cokorda kusiman pdêk ring idā dalêm smarāpura klungkung, singgih padukā

4.a. daļêm, kadyang punapa durung hana pamdal rikang padaļêman, yeki patih tā hadrêbe tukang wong dwijā, kang ngaran ida bagus j hungu, mwang ida bagus kibul, garggittha yun sirā dalêm, yan i samangkana hatūrtā tuhu mabnêr hature kittha, ri mangke hana. sadna (j) sirā dalêm, ri coharddā kusiman, nanging warahên ring bagus hungū //o// Tita-

4.b. nên mangke ida bagus hungu, tangkil rijêng paduka dalêm, raris humatūr ida bagus hungu, singgih padukā daļêm, mānawi hana swaraja karyyā rikang padaļêman, weh hanakna patihta mangke, Lingira daļêm ri sirā bagus manawi hana swaraja karyyā rikang padalêman, wehanakna patih mangke. Lingira daļêm, ri sirā bagus hungu, yeki hulun huminta sih rikitthā, hulun huminta karyyā ri kitthā, hangŗedyakên pamdal rikang pādaļêman.

5.a. ida ngiring patih padukā daļêm. Titanen mangke ida hungu, hangrêdyakên gêlung agung ring smarapurā klungkung apanêngêran idā idewā agung śakţi. Titanên mangke ida bagus hungu hakaryyā, tumut harine ida bagus kibul, sampun wus idā bagus hungu hakaryyā, kagyat ida daļêm, ih bagus, iki pamdal songgeng maring daksinā, nanging bongkar

5.b. ya rumuhun têmbenin malih bagus akaryyā, singgih padukā daļêm, hapan patih hadrêbe kanti wwong cina, sahodarasayā makaryya pamdal rikang padaļêman, nanging pamdal ika songgeng maring daksinā, kandikayang mongkar ring ida dalêm, raris humatur wwong cinā ring ida bagus hungu, sampunang ika bodkara (podgala), hapanya nunas panugrahan

6.a. ri sang hyang sinuhun kidung mangke sayaga ngalih akên timah katanah cinā, tan kacarita datêng wong cinā ika, angawa timah makweh, ika tinangge angêor pamêdal ika, nanging jêjêg pagêh pamêdal ika, nanging garjita hyun sirā dalêm, tuhu luih kita bagus hungu, kita maka cihnaning bhuwana, samangkana katattwania nguni, katama katta katêkeng ma-

6.b. ngke raris humatur idā bagus wungu, singih paduka dalêm patik huminta pamit ri paduka daļêm, asadnya ida dalêm aywa doh rikang pādaļêman, amwit ida bagus wungu, mwang harin idā ida bagus kibul, angalih prades• a sênggwan, klungkung, samangkana katattwanira ida bagus wungu mwang ida bagus kibul ktama katêkeng mangke.//0//

7.a. Ong awighnamastu namā śidyêm. Nyan tegêsing prihagêm pañungsungan, nga, krananya hana prihagêm pañungsungan, pratêgâsing bhandhesā nusā, nunas pamutêring jagat nusā, ring idha dalêm smarāpura klungkung, ring i dewa agung sakti, mangda hana kangelingakên, kahyangan tiga ring nusā, panataran agung, batu madahu, mwang puncak mundhi, apan maswe idā

7.b. daļêm dukut nywargga rohanna. Titanên mangkē ida daļêm, ngrauhang pramañca punggawa maka sami, ngawon pamuterin jagat nusā, wus puput ikang bebawosan, idā bagus hungu kawnangang, amutêr jagat ri nus• ā, apan idā bagus hungu katurunan bhujangga guru jati ļêwih, kahiring antuk harin idā, kang ngaran idā bagus kibul. Mangke ha -

8.a. nā manugrahan sirā daļêm, ida bagus hungu yan wkasan sir pjah, wnang sirā hamatuh ring daļêm, mābade matumpang salu, maļêmbu cemeng mulus, yan wkasan sirā rnaprawita, māpogalā, wnang sirā hanganggo padmā śaņnā, mānagā catur mahêmpas, nanging elingakna panugrahan sirā daļêm, katêkeng sapŗêtisantanan ta angelingakna, titanen mang –

8.b. ke ida bagus hungu, lunga mareng nus• ā nanging lunga mareng sasak rumuhun, prāpta ring wades• a tanah bêt, irika raris kajaya-jayā ring wonging tanah bêt, raris katurin pabuktyan, wus mangkana raris ida lungā mareng nusā, kahiring dening pasêk, mwang pandhe wadeşā tan sah pamargginida angawā pdoman, Iwirnyā, taru buhu, bdil, kulkul, pareret prasama maśwa.

9.a. ra tan sah mapatêh lampahnyā, kadi ring majapahit, titanen mangke datêng ri wadeşā nusā, kang arane pdoman ped, wus hana ida hagriya ring pdoman ped, raris ida ngardyakên paryangan, kang pura camara, hapan maswe ri wadeşā pdoman ped, mijil putranirā asta diri laki-laki, kang panwa ngaran ida bagus gede cakrā wiśuddha, kang madyāmā panengêran ida –

9.b. Bagus ngurah candra wijayā, kanğ ñoman mapanlah ida bagūs ñoman murddhana, iti sutanyang pangarêp, suta byang kwalon, kang panwa ida bagus gde lanang, kang madyā idā bagus gde mantêb, kang ñomanan idā bagus ñoman manesā, kang pangêtut ida bagus ktut cucukan, suta mabibi panawing, ida bagu -

10.a. s putu cacaran, prasama ka asta diri kawehing pangeling sling maka cihnaning wiakti, samangkana panugrahan ida bagus hungu ri sutan nira makabehan. Harawas rawas ida bagus gde hungu, angrengê ikang wreţta hana tucapa wong panca srawa, angrusak panagara ring nuşā, dadia pramangke kasahar sutanira kabeh ri panepining panegara ring nu –

10.b. sā, sutanira kang panwa ida bagus gde cakra wisudda, jumenek ring wadesā pdoman ped, ida bagus ngurah candra wijaya angungsi wadeşā mawaşţa pangkung, ida bagus ñoman murddana, angungsi wadeşā mawaşţa sêkartaji, ida bagus gde lanang, angungsi wadeşā mawaşţa sompang, ida bagus made manteb, angungsi wadeşā mawaşţa sakti.

11.a. Ida bagus ñoman maneşā, angungsi wadeşā swana, ida bagus ktut cucukan angungsi wadeşā bucang, ida bagus putu cacaran, angungsi wadeşā pulagan. Pŗêsama sanak ira kawehin kasta pangeling eling maka cihnaning wiakti, wastu prasama eling ring linggihnya, kaunggahang ring lontar kaya iki, wastu wruh sirā ring Hnggih, wruh si –

11.b. ra ring laluhur ta, yan sirā kalalen ring laluhur ta, laluhur ta juga kalalen ring sirā, rusak kang swanegaran ta, apan sirā hempu kuturan, apasang pastu rikang swanegara, samangkana elingakêna, aywa lupa. Titanen mangke hana wong prapts maharan ki made ketta, nya ngaran pasêk totok nanging pangungsinya, ida bagus ngurah candra wijaya ring pangkung‘ ka-

12.a. gênahang ring macang, tang sah i pande wsi mangiring kagênahang ring subya. Yan ida bagus ngurah candra wijaya mretista sang Una wênang angangge bade matumpang salu, malembu cemeng mulus, i pasêk ngaturang sarwa daun, i pande wêsi ngaturang ayam alit, samangkana pidartanya nguni, ktama katekeng mangke. i pasêk yan mreteka wong pejah, wênang matumpang lima, anganggo ratun alas.

12.b. Apan i pasêk gumalak ring nabe, samangkana panugrahan riira bhujangga wişņawa, ri sasyan (sisyan) nira nguni, yan ida bagus ngurah maŗêp ring pradewā, satrya, deşāk, asah basanya, apan ida bagus ngurah brahmaņā mackeg, yan ida maŗêp ring cokordda, ring i dewa agung, yan kaiwanganya kapatipati, wênang ya sinundung tigang rahina, yan kaiwanganya tan kamati, wênang kasinampurā yadya –

13.a. n hana arsan ida cokordda, ping kalih ida i dewa agung nibakang swala patra, gumêntos, ping, 7, ping, 8, nora gumandêl pacang iwang, sinundung tigang rahina, yan hana reñcang tan pasentana nora katuring ida cokordda, ping kalih ring ida i dewa agung, ida bagus ngurah, wênang ngambil, yan ida maŗêk ring ida cokordda, ping kalih ring ida i dewa agung ngo –

13.b. jog tan pawekasan, nora iwang, yadyan sirā angadêg wênang sirā kasinampurā. Mangke hana atur ida bagus ñoman murdana, ri yayah ira, mwang ri akang an makabehan apan sirā angêyut giri, anibak akên sêkar, rawuh ring sêkar angên, mangda tan gapuk mangde makanten wewidangan ida bagus ñoman murddana ring sêkar taji. Sahaning mawaşţa sêkar, ika –

14.a. ika wawidangan ida bagus ñoman ring sêkar taji. Titanen mangke wawidangan ida bagus ngurah ring pangkung, sahananing mawaşţa pangkung, mwang sahananing mawaşţa jurang, ika wawidangan ida bagus ngurah ring pangkung, hana malih wewidangan ida bagus ngurah ring pangkung, doh mwang kapaŗêk, mangde makantenan antuk ida, waşţan bukti ika hana ring jlijih, ring batang, ring bungan hurip, ring taba, ri toya-

14.b. pakêh, ring crokcok, ring kayu buluh, ring sban binga, ring batu pamor, ring prapat, rawuh ring sasak ida madwe pabuktian, mawaşţa ring tanah hêmbêt, samangkana putusing pangeling heling, bukti druwen ida bagus ring pangkung. Hana malih salawanya, hana wong wadeşā nusā, pêdêk tangkil ring icfo bagus ngurah ring pangkung, angaturakên sariranya, mwang deweknya apan ida ba-

15.a. gus ngurah ring pangkung wisesa, akweh wong wadeşā nayah ri ida, wadeşā paguyangan, wadeşāntapan, wadeşā lipa, ring wadeşā sabuluh, mwang wadeşā batu madeg, yan ida bagus ngurah anangun kang swaraja karyya, prasama ngaturang ayah, malih ring pasayatan ida bagus ngurah ring pangkung, ring dina, ş, umanis watugunung, tingkahnya nyayatin, nakêni tirta panglukatan pabŗêsi-

15.b. han anganggo sarwa putus, brahmaņā bhujangga wenang amutus, yan tan samangkana, edan pwa sirā. Malih ida bagus ngurah ring pangkung anrebe kang pānagi, ring kayanganya, pānagi angrencah, arganya, 5000, yan mungkulan hargania, 500, jarimpên lanang wadon, matalap, 7, mwang matalap, 9, nanging sasyan (sisyan) ida sami haŗêp ngaturang ayah, pasêk, pande, pañarikan.

16.a. Mañca deşā, sami arep, karana ida bagus ngurah madwe pānagi, kemulan asiki, ri mangke anadi satak. Priagem iki, tan wenang kiningsarang, ring mrajan kawitan, yaning wentên maraanah mangde huning, ring daging prihagem puniki, mangkn kabawosin ring pamrajan kawitan, yaning wentên purun amurug prihagem puniki, kasisipan hantuk, bha-

16.b. tara kawitan sane munggah ring prihagem puniki, Om wastiastu Om Santi Santi Santi Om. Puput sinurat ring rahina, bu, kli, matal, tang, ping, 3, śaśih, 2, rah, 9, saka 1903. //0//

Bhujangga Waisnawa Perjalanan Ida Rsi Madura di Bali

Bhujangga Waisnawa Perjalanan Ida Rsi Madura di Bali

Perjalanan Ida Rsi Madura ( abad 12 M - 13 M )

Ida Rsi Madura merupakan seorang rsi maha sakti yang berasal dari Madura, tepatnya ida berasal dari suatu daerah di Madura yang seluruh tanah disekitarnya berwarna merah yang sekarang dikenal dengan daerah Tanah Merah. Lokasi griya beliau disana berupa rumah panggung yang berada di suatu tanah lapang luas yang dekat dengan sumber air seperti danau kecil yang sampai sekarang keberadaannya tetap dikeramatkan dan disucikan di sana. Ida Rsi Madura merupakan guru suci dan guru silat dari Arya Wiraraja, semua ide diBalik kebangkitan Majapahit, termasuk kenapa Arya Wiraraja dari tanah Madura mau membantu Raden Wijaya berasal dari beliau. Akan tetapi keberadaan beliau sebagai pendeta alam yang lebih senang dekat dengan alam terutama alam laut dibandingkan duniawi menyebabkan jarang orang yang mengenal beliau. Dan mungkin tidak ada yang menyangka bahwa beliau adalah aktor utama diBalik kebangkitan Majapahit. Setelah majapahit berdiri beliau ditawarkan kedudukan sebagai pendeta utama penasihat raja, akan tetapi beliau memilih merantau ke tanah Bali untuk menapak tilas dan melanjutkan perjalanan leluhur beliau Ida Rsi Markhandeya untuk menata pulau Bali.


Dalam perjalanan beliau dari Jawa menuju Bali, beliau singgah di beberapa tempat seperti kediri ( Pura Agung Sekartaji ), dan yang paling lama beliau singgah adalah Alas Purwo. Tempat pertapaan beliau jaman itu, sekarang ini dikenal dengan nama Pura Situs Kawitan di Alas Purwo yang letaknya didekat Pura Giri Slaka. Disini beliau bertapa tahunan untuk menemukan petunjuk tentang pulau Bali umumnya dan untuk menemukan jejak perjalanan leluhur beliau ida maharsi Markhandeya di tanah Bali khususnya. Selama pertapaan di alas purwo ini beliau didatangi oleh seekor babi hutan besar yang merupakan raja hutan alas purwo yang bernama celeng cemalung. 

Celeng cemalung meminta ida rsi Madura untuk menata sisi spiritual alas purwo. Oleh karena itu, ida rsi Madura selama pertapaan beliau di alas purwo ini banyak sekali melakukan penataan-penataan tempat spiritual di alas purwo. tempat-tempat yang beliau tapak dan beliau tata inilah yang zaman berikutnya dipakai tempat bertapa oleh Gajah Mada sampai ke jaman Soekarno. Setelah beliau mendapatkan petunjuk tentang tanah Bali. Beliau kemudian melanjutkan perjalanan ke tanah Bali.

Singkat cerita ditanah Bali, beliau lama berdiam diri didaerah seputaran danau Tamblingan bahkan beliau memperistri putri dari Ida Dalem Tamblingan ( penguasa daerah seputaran Bali Utara pada jaman itu). Selama beliau bertapa didaerah seputaran Bedugul, beliau membuat sebuah padepokan silat yang sangat besar yang terletak di areal kebun raya bedugul. Di tempat ini beliau banyak mengangkat murid yang berasal dari berbagai etnis yaitu, Bali, cina, dan Jawa.

Selama berdiam diri disini beliau banyak mendirikan pura-pura yang pada jaman sekarang telah ditemukan sumber bukti tertulis ( purana/prasasti ) bahwa Beliaulah pendiri pura-pura tersebut. Pura-pura tersebut antara lain : Pura Dalem Tamblingan, Pura Puncak Rsi ( bukit sangkur ), Pura Penataran Beratan, Pura Puncak Pengungangan, Pura Terate Bang, Pura Baru Meringgit dll.

Setelah lama berdiam diri disini beliau kemudian melanjutkan perjalanan untuk menelusuri jejak perjalanan leluhur beliau Ida Rsi Markhandeya di tanah Bali. selama perjalanan menelusuri jejak leluhur bhujangga di Bali inilah beliau banyak mendirikan Pura Dalem Pauman Bhujangga ditempat berkumpulnya keluarga bhujangga di daerah-daerah tertentu di Bali. Pada saat menelusuri jejak perjalanan leluhur inilah beliau mendapatkan petunjuk tentang tempat moksanya Ida Rsi Markhandeya yaitu di Gunung Bhujangga Bali. kemudian beliau pergi kesana untuk memohon restu hendak melanjutkan tugas leluhur bhujangga di Bali sebagai penjaga dan pendoa keseimbangan pulau Bali beserta segala isinya. Setelah sungkem di tempat moksa Ida Rsi Markhandeya di puncak sepang bujak (gunung bhujangga) kemudian Ida Rsi Madura turun hendak melanjutkan perjalanan. Sebelum melanjutkan perjalanan beliau membuat pura di sekitar tempat itu untuk sebagai tempat pengayatan ke Puncak Sepang Bujak ( tempat moksa Ida Rsi Markhandeya yang sangat dikeramatkan, sehingga disana tidak boleh dibangun bangunan apapun juga). Pura pengayatan ini yang jaman sekarang ini dikenal dengan Pura Asah Danu. Singkat cerita setelah memohon restu kepada Ida Maharsi Markhandeya beliau kemudian melanjutkan perjalanan mengelilingi Bali.

Perjalanan beliau mengelilingi Bali terutama sekali dilalui dengan mengelilingi pantai-pantai di Bali. Di sepanjang pantai-pantai ini beliau bertapa dan membangun pura-pura. Pura-pura inilah yang pada jaman sekarang ini dikenal dibangun oleh Ida Peranda Sakti Wawu Rauh. Setelah selesai mengelilingi pantai Bali ternyata beliau belum menemukan kekuatan dalem segara yang sebenarnya. Dari hasil tapa beliau ternyata beliau menemukan kekuatan dalem segara gni di Bali berpusat di lautan seputaran kepulauan Nusa Penida. Oleh karena itu beliau kemudian melanjutkan perjalanan ke Nusa Penida.

Pada tahun-tahun terakhir usia beliau di dunia ini, beliau memilih kepulauan Nusa Penida sebagai tempat bertapa dan tempat untuk kembali ke sang pencipta. Pada awalnya beliau memilih tempat untuk moksa atau kembali ke sang pencipta di Puncak Tunjuk Pusuh, Nusa Penida. Akan tetapi setelah beliau bertapa sekian lama akhirnya beliau mendapat jawaban bukan di sana tempat yang cocok. Akhirnya beliau berjalan ke selatan dan akhirnya menemukan suatu batu berbentuk lingga di tengah laut dengan diameter 3 meter dan tinggi sekitar 33 meter, dimana batu ini sampai sekarang masih berada disana. Sesampainya ditempat ini beliau kemudian bertapa, dan hasil tapanya beliau mendapat petunjuk untuk membuat rakit dan mengayuh rakit ke tengah laut dimana ditengah laut di atas rakit inilah akhirnya beliau moksa dan diberi gelar Ida Rsi Dalem Segara (Ida Betara Lingsir Dalem Segara), berketu hijau berselempang hijau. Dilokasi tebing dekat dengan batu lingga itu sekarang berdiri Pura Sekartaji yang diempon oleh seluruh warga bhujangga yang berdomisili di dusun Sekar Taji, Nusa Penida.
Sumber : Guru Made Dwijendra Sulastra.

Bhujangga waisnawa Ida Maharsi Madura di danau beratan

Bhujangga waisnawa Ida Maharsi Madura di danau beratan

Menurut Raja Purana Pura Puncak Pengungangan, Bedugul. 

Menyebutkan tentang perjalanan Ida Rsi Madura dengan diiring sekitar 400-800 orang pengikut beliau datang dari jawa ke daerah seputaran Danau Beratan untuk melakukan pertapaan dan untuk membangun tempat-tempat suci. 

Begitu juga seperti tersebut dalam Bhuana Tattwa Rsi Markandeya, dimana dinyatakan bahwa Ida Rsi Madura memperistri anak dari Ida Dalem Tamblingan yang bernama Ida Dewa Ayu Sapuh Jagat. 

Dari dua sumber tertulis ini dapat ditelusuri bahwa Ida Rsi Madura pernah lama bertempat tinggal di daerah seputaran Bedugul. Di seputaran tempat ini, beliau banyak membangun tempat suci atau pura yang banyak mengadopsi arsitektur Jawa disesuaikan dengan tempat kelahiran dan asal Ida Rsi Madura yaitu dari daerah Madura. Pura-pura ini kalau kita telusuri dari daerah selatan adalah:

  • Pura Puncak Sari, 
  • Pura Puncak Kayu Sugih, 
  • Pura Puncak Pengungangan, 
  • Pura Batu Meringgit, 
  • Pura Puncak Terate Bang (Pura Puncak Bukit Tapak), 
  • Pura Penataran Beratan, 
  • Pura Candi Mas, 
  • Pura Puncak Rsi, 
  • Pura Puncak Taman Sebatu (Pura Ulun Danu Beratan yang asli). 
Pura-pura ini terletak diseputaran Danau Beratan. Kemudian di Danau Buyan beliau membangun Pura Ulun Danu Buyan. Di samping di seputaran Danau Beratan dan Banau Buyan, pada jaman itu beliau juga memugar dan memperbaiki serta menandai pura-pura diseputaran Danau Tamblingan seperti :


  • Pura Ulun Danu Tamblingan, 
  • Pura Pengubengan, 
  • Pura Endek, 
  • Pura Dalem Tamblingan, 
  • Pura Tirta Mengening, 
  • Pura Puncak Lesung, 
  • Pura Naga Loka. 

Inilah sekilas jejak perjalanan Ida Betara Lingsir Rsi Madura di daerah seputaran Danau Beratan, Danau Buyan dan Danau Tamblingan.Berikut ini penulis akan coba memaparkan lebih jauh tentang perjalanan Ida Maharsi Madura dari seputaran danau beratan (Sumber : Pewisik Niskala). 

Ida Rsi Madura merupakan seorang Maharsi sakti yang berasal dari tanah Jawa. Beliau merupakan kombinasi antara karakter seorang brahmana dan ksatria. Dulu di India karakter ini dimiliki oleh salah satu dari 10 awatara dari Dewa Wisnu yaitu Parasu Rama Awatara. Parasu Rama merupakan seorang brahmana yang terlahir sebagai anak dari Rsi Jamadagni. Meskipun beliau terlahir sebagai seorang brahmana akan tetapi karakter utama yang muncul dalam diri beliau justru sifat seorang ksatria, dimana kemana-mana beliau membawa kapak dan memerangi para ksatria yang berbuat tidak adil di muka bumi ini. 

Begitu juga Ida Betara Lingsir Rsi Madura. Beliau terlahir sebagai putra dari Ida Maharsi Sunia Murti. Dari kecil beliau dibentuk dengan karakter seorang brahmana, akan tetapi semakin mendekati dewasa, justru sifat ksatria yang semakin jelas kelihatan dari diri beliau. Beliau sangat senang berkelahi terutama untuk membela kaum yang tertindas. Beliau sangat senang bertapa untuk mendapatkan wahyu ilmu kedigjayaan. Sampai suatu saat beliau mendapatkan pusaka keris dari hasil bertapa beliau pada waktu remaja mendekati dewasa di pesisir pantai Madura. Semenjak saat itu ida Maharsi Madura tidak pernah terpisahkan dengan keris seumur hidup beliau. 

Beliau merupakan satu-satunya pendeta brahmana yang setiap saat menyelipkan keris dipinggang beliau. Karena kesaktian beliau yang sangat tinggi, sehingga banyak orang yang berguru kepada beliau. Salah satu murid beliau adalah Arya Wiraraja, yang nantinya akan menjadi penguasa pulau Madura. 

Ketika Raden Wijaya meminta bantuan kepada Arya Wiraraja untuk membantu menumbangkan kerajaan kedirinya Jaya Katwang, Ida Rsi Madura juga yang memberikan petunjuk-petunjuk perang, bekal-bekal aji kesaktian sehingga akhirnya pasukan Raden Wijaya dan pasukan Arya Wiraraja dibantu oleh pasukan dari negeri Cina bisa menumbangkan pemerintahan Jaya Katwang. Hingga akhirnya Majapahit berdiri. Setelah Majapahit berdiri beliau ditawarkan jabatan untuk menjadi kepala pendeta kerajaan Majapahit, akan tetapi beliau menolak karena pada waktu itu beliau mendapat wahyu dari leluhur beliau Ida Maharsi Markandeya untuk datang ke pulau Bali, melakukan suatu tugas suci membangkitkan tempat-tempat suci serta memperkuat pondasi keagamaan di Bali. 

Pada waktu keberangkatan beliau dari Jawa menuju Bali beliau banyak diiringi oleh para pengikut beliau, terutama disertai oleh beberapa para mpu pembuat keris yang memang sengaja diajak ikut oleh Ida Rsi Madura untuk membuatkan beliau keris-keris, baik untuk pribadi maupun untuk persenjataan disepanjangan perjalanan. Pada waktu itu belum ada klan atau soroh Pande di Bali. 
Para pembuat keris yang diajak oleh Ida Rsi Madura beserta para keturunannya inilah yang kelak akan dikenal sebagai klan atau soroh pande di Bali. 

Singkat cerita sampailah pada perjalanan beliau di daerah seputaran Danau Beratan, disini pertama beliau bermalam di daerah yang sekarang menjadi lokasi pura Penataran Beratan. Karena dinginnya kondisi alam membuat beliau dan para pengikutnya cukup sulit untuk bisa beradaptasi, kemudian beliau mencari tempat yang cocok untuk bersemedi serta untuk menyesuaikan diri dan beradaptasi dengan alam diseputaran Danau Beratan. Kemudian beliau berjalan ke arah selatan dan sampai dilokasi Pura Puncak Pengungangan. Disini beliau bertapa di atas sebuah batu bundar yang sampai sekarang masih ada di pura itu. Di sini beliau memuja kekuatan trimurti dengan mengucapkan japa mantra.. OM ANG UNG MANG OM..berulang kali, mendengar doa pemujaan Ida Rsi Madura yang begitu tulus dan murni maka salah satu Dewa Tri Murti yaitu Dewa Brahma berkenan turun di puncak bukit yang berhadapan dengan lokasi bertapa Ida Rsi Madura ini. Dari atas puncak bukit itu mengalir udara hangat sehingga Ida Rsi Madura dan para pengikut beliau bisa selamat dari bahaya cuaca ekstrim yang sangat dingin pada waktu itu. Lokasi tempat Ida Maharsi Madura bertapa memuja kekuatan Sanghyang Tri Murti itu sekarang dikenal dengan nama Pura Puncak Pengungangan. Dimana kata pengungangan itu berasal dari kata ANG UNG MANG. Puncak bukit dimana Dewa Brahma berkenan turun untuk memberkati doa Ida Rsi Madura, sekarang dikenal dengan nama Bukit Puun. 

Kenapa dinamakan Bukit Puun?

karena khusus hanya di bukit ini, setiap beberapa tahun sekali pasti terjadi kebakaran di puncak bukitnya, sesuatu yang seharusnya sangat susah terjadi di daerah dengan cuaca dingin dan berkabut setiap hari seperti di daerah Bedugul. Akan tetapi menurut beliau hal itu terjadi untuk mengingatkan warga masyarakat di Bedugul bahwa puncak bukit itu dahulu pernah di pake Dewa Brahma untuk menurunkan kehangatan di daerah seputaran Danau Beratan sehingga manusia bisa bertempat tinggal dan hidup menetap ditempat itu. Dan anehnya, setiap kali terjadi kebakaran di puncak Bukit Puun maka apinya sangat susah untuk dipadamkan. Apinya baru bisa dipadamkan jika masyarakat mau berkaul dan melakukan pemujaan di batu bundar tempat bertapa Ida Rsi Madura, setelah itu pasti turun hujan lebat bisa sampai berhari-hari, barulah kebakaran di atas puncak bukit itu bisa padam. 

Selama bertapa di tempat yang sekarang dikenal dengan nama Pura Puncak Pengungangan, beliau juga membangun Pura Puncak Sari dan Pura Puncak Kayu Sugih, dimana pada tempat ini dipuja sakti dari istri-istri beliau. Setelah beliau dan para pengikut beliau mulai bisa beradaptasi dengan cuaca di seputaran Danau Beratan, barulah beliau memutuskan untuk menetap untuk beberapa waktu yang cukup lama diseputaran daerah itu. Mulailah kehidupan sosial masyarakat berkembang di daerah Bedugul. 

Sesuai dengan petunjuk Ida Sanghyang Jagatnata ( Ida Maharsi Markandeya). Beliau mulai menata daerah tersebut. Karena sudah mulai ada kehidupan sosial, maka mulailah diperlukan Pasar ( ekonomi ), Sekolah/Pesraman ( Tempat pendidikan dan pengobatan ), Tempat Pertapaan dll. Lokasi pasar jaman itu sekarang dikenal dengan Pura Candi Mas. Lokasi Pesraman Agung jaman itu tempat untuk mendidik manusia supaya siap untuk menghadapi hidup dunia nyata berada di lokasi Kebun Raya Bedugul. Lokasi pesraman agung Ida Rsi Madura di Kebun Raya Bedugul ini dibagi menjadi tiga, yaitu tempat tinggal para murid pesraman, tempat tinggal para guru yang dipimpin oleh Ida Maharsi Madura, dan tempat berlatih para murid. 

 Lokasi tempat tinggal para murid pada jaman itu sekarang dikenal dengan nama Pura Batu Meringgit dan Lokasi tempat tinggal Ida Maharsi Madura dan para guru lainnya sekarang dikenal dengan Pura Puncak Terate Bang. Sedangkan areal tempat latihan dari pesraman agungnya adalah lokasi yang dikenal sekarang ini dengan nama Kebun Raya Bedugul. Untuk areal pemukiman penduduk pada jaman itu adalah dari areal Pura Candi Kuning sampai seputaran areal Pura Puncak Pengungangan. 

Setelah membangun tempat-tempat untuk perkembangan kehidupan dunia nyata. Kemudian Ida Maharsi Madura, mencari tempat untuk bertapa dalam rangka peningkatan kehidupan spiritual beliau dan para pengikut beliau. Berdasarkan petunjuk dari Ida Maharsi Markandeya yang telah lebih dahulu menapak tempat itu pada jaman sebelumnya, lokasi yang dipilih ada bagian utara dan timur dari danau beratan. 

Tempat bertapa beliau adalah di Puncak Gunung Beratan yang jaman sekarang dikenal dengan nama Puncak Mangu ( terkait dengan pendiri kerajaan mengwi pernah bertapa disana ) atau dikenal sekarang ini dengan nama lain Puncak Tinggan karena salah satu sisi gunung ini berada di desa tinggan. Selesai bertapa disini beliau akan turun untuk mengajarkan semua wahyu yang beliau dapatkan kepada para murid yang ingin meningkatkan kehidupan rohani menjadi seorang pendeta dan menuntut ilmu pengetahuan rohani yang jaman sekarang dikenal dengan Brahma Widya

Lokasi Pesraman tempat pembentukan para calon pendeta ini sekarang dikenal dengan Pura Puncak Resi, karena tempat ini merupakan tempat para rsi memohon tuntunan spiritual kepada beliau. Disebelah timur pura puncak rsi ini berstana sakti beliau dan pura ini bernama Pura Puncak Taman Sebatu yang merupakan pura ulun danu beratan yang sebenarnya. Inilah sekilas informasi tentang perjalanan Ida Maharsi Madura diseputaran Danau Beratan. Mudah-mudahan informasi ini bisa berguna untuk para semeton sareng sami terutama para semeton yang masih mau meluangkan waktu untuk menapak tilas perjalanan Ida Maharsi Madura sebagai leluhur orang Bhujangga.
Sumber : Guru Made Dwijendra Sulastra – Denpasar.
Doc. Pesraman Teledu Nginyah Jembrana.

Jejak Bhujangga Waisnawa Perjalanan Ida Rsi Markandeya

Jejak Bhujangga Waisnawa Perjalanan Ida Rsi Markandeya dan Ida Rsi Madura Di Tanah Lombok Dan Sekitarnya.

Setelah memastikan pulau Bali merupakan titik sinar yang beliau lihat pada waktu bersemedi di Gunung Raung Jawa. Maka untuk memastikan suatu saat nanti di masa depan pulau Bali akan tetap menjadi pulau yang suci, maka Ida Maharsi Markandeya berusaha melindungi pulau Bali dengan cara memagari pulau Bali dengan sinar-sinar suci. 

Proses pemagaran pulau Bali ini terkait dengan penanaman panca datu di beberapa pulau yang mengelilingi pulau Bali. Tujuan dari penanaman panca datu di pulau-pulau yang mengelilingi pulau Bali ini adalah dengan tujuan jikalau suatu saat sinar kesucian pulau Bali mulai meredup akibat pola prilaku sekala-niskala dari penduduk Bali yang mulai tidak sesuai dengan kaidah Tri Kaya Parisudha dan Tri Hita Karana maka sinar-sinar suci dari pulau-pulau yang mengelilingi pulau Bali inilah yang akan memberikan sokongan energi supaya energi kesucian pulau Bali tetap terjaga. 


Singkat cerita, dalam tulisan ini penulis memfokuskan pada perjalanan Ida Maharsi Markandeya ke tanah Lombok dalam rangka menanam panca datu dan dalam rangka menandai titik-titik spiritual di tanah Lombok yang suatu saat akan menjadi sumber energi spiritual yang bukan hanya akan menjaga keseimbangan pulau Lombok dan sekitar akan tetapi juga akan menjadi cadangan energi spiritual untuk pulau Bali jikalau pulau Bali sudah mulai kotor. 

Jejak perjalanan Ida Maharsi Markandeya ditanah Lombok diawali lewat Nusa Penida. Setelah menandai titik-titik spiritual di Nusa Penida seperti Puncak Mundi, Puncak Tunjuk Pusuh, Puncak Tinggar, Dalem Ped, Giri Putri, Sekar Taji dll, Ida Maharsi Markandeya melanjutkan perjalanan beliau ke pulau Lombok. 

Di pulau Lombok ini beliau pertama kali beryoga semadi di puncak Gunung Sari (sekarang menjadi lokasi pura Gunung Sari, Lombok), disini Ida ditemani oleh putun Ida yang bernama Ratu Ayu Manik Tirta Mas

Kemudian setelah itu beliau beryoga semadi di puncak Baliku (sekarang menjadi lokasi pura Puncak Baliku), disini Ida ditemani oleh istri beliau yang bernama Ida Ratu Niang Sarining Suci. Setelah itu beliau lanjut menandai titik Gunung Pengsong. 

Di Gunung Pengsong beliau bertemu dengan seorang wanita cina yang jaman sekarang dikenal dengan Ida Ratu Niang Gunung Pengsong atau ditanah Bali dikenal dengan nama Ida Hyang Betari Dewi Anjani. Di Gunung Pengsong ini Ida Hyang Maharsi Markandeya melakukan kawin kesaktian dengan Ida Hyang Betari Dewi Anjani. Jadi selama bertapa di Gunung Pengsong ini Ida Maharsi Markandeya ditemani oleh Ida Hyang Betari Dewi Anjani. Tempat pertapaan beliau ini yang pada jaman sekarang ini menjadi cikal bakal Pura Puncak Gunung Pengsong. Taksu hasil kawin kesaktian dari Ida Maharsi Markandeya dan Ida Hyang Dewi Anjani di Gunung Pengsong ini merupakan taksu kesuburan, kemakmuran dan kesejahteraan. 

Setelah menyelasaikan proses pembangkitan sinar suci di Gunung Pengsong kemudian Ida Maharsi Markandeya ditemani dengan Ida Hyang Betari Dewi Anjani melanjutkan perjalanan ke Puncak Gunung Rinjani. 

Di Puncak Gunung Rinjani ini Ida Maharsi Markandeya mengumpulkan energi dari semua titik sinar suci di pulau Lombok yang suatu saat jika diperlukan akan dikirim ke pulau Bali untuk menjaga kesucian pulau Bali. Di puncak Gunung Rinjani ini Ida Hyang Maharsi Markandeya menunggalkan semua sinar kesucian yang beliau dapat di pulau Lombok. Akibat dari hasil penunggalan semua sinar suci pulau Lombok ini maka di Puncak Gunung Rinjani, Ida Betara Lingsir Maharsi Markandeya dikenal dengan Ida Hyang Lingsir Maharsi SUKMA JATI

Setelah Ida Maharsi Markandeya merasa cukup membangkitkan titik kesucian pulau Lombok, kemudian beliau berencana melanjutkan perjalanan meninggalkan pulau Lombok menuju Gunung Tambora. Untuk tetap menjaga kesucian pulau Lombok khususnya setelah ditinggalkan oleh beliau maka Tongkat Komando Penguasa pulau Lombok diserahkan kepada Ida Hyang Betari Dewi Anjani. Karena tugas yang maha berat ini kemudian Ida Maharsi Markandeya menunggalkan semua sinar suci yang telah dikumpulkan selama masa pertapaan Ida dan Hyang Dewi Anjani dari pertapaan di Gunung Pengsong sampai puncak Gunung Rinjani. 

Hasil penunggalan/pemurtian sinar suci ini kemudian menyebabkan Ida Hyang Betari Dewi Anjani bergelar IDA HYANG BETARI AMBUN JAGAT. Gelar ini mencerminkan bahwa Ida Hyang Betari Dewi Anjani adalah pengayom dan pelindung jagat Lombok dan sekitarnya. Sehingga sampai saat ini yang diyakini berstana dan merupakan betara lingsir puncak Gunung Rinjani Lombok adalah Ida Hyang Betari Dewi Anjani. 

Sepeninggal Ida Maharsi Markandeya, suatu saat ratusan tahun kemudian atas petunjuk spiritual yang diberikan oleh Ida Maharsi Markandeya, datanglah murid spiritual beliau yaitu Ida Hyang Mpu Siddhimantra bertapa di puncak Gunung Rinjani untuk melanjutkan tugas Ida Maharsi Markandeya. Jadi di atas puncak Gunung Rinjani secara garis besar terdapat tiga Ida Betara Lingsir yang menjadi pengayom dan penjaga kesucian Gunung Rinjani yaitu : Ida Hyang Lingsir Maharsi Sukma Jati yang merupakan penunggalan dari Ida Maharsi Markandeya, Ida Hyang Betari Lingsir Ambun Jagat yang merupakan penunggalan dari Ida Hyang Betari Dewi Anjani dan Ida Hyang Mpu Siddhimantra sebagai pelaksana teknis dari Gunung Rinjani. 

Setelah menyelesaikan penandaan dan pembangkitan sinar-sinar suci di pulau Lombok kemudian Ida Hyang Maharsi Markandeya berdasarkan petunjuk yang didapat di puncak Gunung Rinjani kemudian melanjutkan perjalanan ke puncak Gunung Tambora. Berdasarkan petunjuk yang didapat dari puncak Gunung Rinjani, meskipun Gunung Tambora tidak berbatasan langsung dengan pulau Bali, akan tetapi jika tidak ditandai dan dibangkitkan sinar sucinya maka Gunung tersebut suatu saat akan bisa menghancurkan pulau Bali, ini terbukti dengan terjadinya letusan paling dasyat di muka bumi ini yaitu pada tahun 1881 dimana efeknya ikut meluluhlantakan kehidupan di Bali. 

Singkat cerita Ida Maharsi Markandeya sampai ke puncak Gunung Tambora, disini beliau bertemu dengan seorang wanita yang nantinya akan menjadi istri beliau di puncak Gunung Tambora beliau bernama Ida Hyang Betari Ibu Dewi Wulan. Ida Hyang Betari Ibu Dewi Wulan sepeninggal Ida Maharsi Markandeya dari puncak Gunung Tambora, kelak kemudian hari juga dikenal dengan nama Ida Hyang Betari Bhujangga Suci. Atas tugas dari alam semesta untuk melindungi Gunung Tambora, sehingga ditempat ini Ida Maharsi Markandeya menanam pancer berupa manik-manik yang berfungsi untuk menjaga keseimbangan Gunung Tambora. Atas tugas inilah alam semesta memberi gelar Ida Betara Lingsir Pancer Manik Tunggul kepada Ida Maharsi Markandeya sebagai Betara Lingsir Puncak Gunung Tambora. 

Sama seperti Ida Hyang Mpu Siddimantra yang dipanggil oleh Guru Niskala Ida yaitu Ida Hyang Maharsi Markandeya untuk melanjutkan menjaga kesucian puncak-puncak di tanah Lombok maka sama seperti halnya Ida Hyang Maharsi Madura. Ida Maharsi Madura dipanggil ratusan tahun berikutnya ke tanah Lombok untuk melanjutkan tugas Maharsi Markandeya untuk menjaga kesucian pulau Lombok. Akan tetapi, Ida Maharsi Madura dalam kapasitas sebagai Ida Rsi Dalem Segara, hanya ditugaskan untuk menjaga kesucian laut Lombok. 

Titik yang dipilih oleh Ida Rsi Madura dalam mendoakan dan menjaga kesucian laut-laut di pulau Lombok, pada jaman sekarang ini dikenal dengan PURA BATU BOLONG. Setelah jaman Ida Maharsi Markandeya, Ida Mpu Siddimantra dan Ida Maharsi Madura barulah ratusan berikutnya datang Ida Peranda Sakti Wawu Rauh atau yang nantinya di Lombok dikenal dengan Tuan Semeru. Ida Peranda Sakti tidak dapat napak puncak-puncak di Lombok, akan tetapi beliau napak di puncak Gunung Tambora. Disinilah beliau mendapat julukan Tuan Semeru. Mudah-mudahan dengan cerita di atas dapat membuka wawasan berpikir saudara-saudara di Bali akan jejak perjalanan para pendeta ditanah Lombok beserta dengan titik-titik napak tilasnya.
Sumber : Guru Made Dwijendra Sulastra.
Dok. Pesraman Teledu Nginyah Jembrana

Pura Luhur Bhujangga Waisnawa

Pura Luhur Bhujangga Waisnawa

Berkaitan dengan Perjalanan Rsi Markendheya

Pura luhur Bhujangga Waisnawa terletak di Dusun Gunung Sari, Jati Luwih, Penebel. Pura ini disungsung oleh pertisentana Bhujangga Waisnawa atau lebih dikenal dengan Maha Warga Bhujangga Waisnawa yang berdomisili baik di Bali maupun luar Bali. Keberadaan pura yang kini berstatus pura kawitan ini, erat kaitannya dengan perjalanan Rsi Markandheya ke Bali sekitar abad VIII. Setelah kedatangannya yang kedua ke Bali yang diawali dengan upacara mendem Panca Datu di sekitar Pura Besakih sekarang, beliau meneruskan perjalanannya untuk mengajarkan penduduk tata cara upacara agama, ilmu pertanian dan keahlian lainnya pada berbagai tempat di Bali.

Selain pura di Jati Luwih, masih ada beberapa pura lainnya yang erat kaitannya dengan perjalanan beliau, di antaranya:

  • Pura Luhur Sebang Dahat di Desa Puakan, 
  • Pura Gunung Raung di Desa Taro, 
  • Pura Dalem Murwa di Desa Payangan, 
  • Pura Segara Kidul Batu Bolong, 
  • Pura Pedharman di Gunung Agung dan beberapa pura lainnya. 

Jika ditilik dari perjalanan Rsi Markandheya yang pada mulanya berpesraman di Gunung Raung Jawa Timur itu, beliau membangun tempat pemujaan di sekitar danau, laut, desa dan hutan atau gunung yang merupakan titik-titik strategis di daerah Bali.


Pura Luhur Waisnawa Jati Luwih pada mulanya merupakan tempat tapa wana, 

yakni tempat beliau melakukan tapa dan meditasi memuja kebesaran Hyang Widhi serta kemakmuran jagat Bali di tengah hutan. Sementara beberapa pura yang terletak di Danau Batur, Beratan dan Tamblingan menjadi pura sungsungan jagat. Pura Luhur Waisnawa Jati Luwih terletak di pegunungan yang memiliki udara sejuk serta hawa pegunungan.

Hingga kini, letak pura jauh dari pemukiman penduduk dan menjadi tempat aktivitas spiritual bagi para warga Bhujangga Waisnawa. Letaknya yang berada pada ketinggian membuat indahnya pemandangan. Dari Pura Patali yang dalam sejarahnya dibangun oleh Rsi Bhujangga Canggu bersama-sama dengan Arya Wangbang, pemedek harus melewati jalan menanjak beberapa ratus meter untuk mendapatkan pura ini.

Seperti halnya pura pada umumnya, areal pura yang cukup luas ini terbagi atas nista mandala, madya mandala dan utama mandala. Di madya mandala terletak pelinggih Hyang Guru yang merupakan sarana pemujaan guru yang memberikan pencerahan bagi segenap pemedek. Sementara di utama mandala, selain Gedong terdapat dua Meru yakni Meru Tumpang Pitu dan Meru Tumpang Solas. Areal utama mandala yang cukup luas dan udara yang sejuk membuat pemedek nyaman untuk melakukan persembahyangan. Selain pura ini, menurut beberapa catatan sejarah bahkan nama Jati Luwih dan Gunung Sari erat kaitannya dengan kisah Ida Bagus Angker atau Ida Bhujangga Rsi Canggu yang merupakan putra dari Rsi Wesnama Mustika melakukan yoga semadi. Dikisahkan sekitar tahun Icaka 1320, setelah kematian Rsi Wesnama Mustika, Ida Bagus Angker pindah dari Sengguhan Klungkung menuju Giri Kusuma. Di sana beliau melakukan yoga semadi. Tempat tersebut akhirnya dikenal dengan Gunung Sari. Sementara tempat tinggal Ida Bagus Angker dinamakan Jati Luwih karena beliau sudah di-dwijati.

Arti Bhujangga

Bhujangga berarti ilmuwan atau cendekiawan, yakni orang-orang yang mempelajari, mengetahui dan mengamalkan ilmu pengetahuan Weda. Weda yang dimaksud baik dalam konteks mantra puja, tatwa agama maupun ilmu pengetahuan seperti pemerintahan, ekonomi, sosial dan sebagainya. Selain itu bhujangga juga berarti pandita. Warga Bhujangga Waisnawa awalnya penganut Hindu Ciwa Waisnawa sehingga menjadi Bhujangga Waisnawa.

Leluhur Bhujangga Waisnawa antara lain:

  • Maha Rsi Markandheya, 
  • Maha Rsi Waisnawa Mustika, 
  • Maha Rsi Madura dan 
  • maha rsi Bhujangga Waisnawa yang lain. 

Para rsi ini sangat tersohor dalam penanaman pendidikan spiritual di Bali dan peranannya bagi perkembangan Hindu dinilai sangat penting. Selain itu terdapat pula para kesatria Bali yang merupakan penganut Hindu Waisnawa seperti Raja Jaya Pangus dan Raja Dalem Tamblingan. Seluruh keturunan baik maha rsi maupun para kesatria Bali tersebut kini terhimpun dalam Maha Warga Bhujangga Waisnawa.

Sesuai dengan keberadaan awalnya, hingga kini keluarga besar Bhujangga Waisnawa masih tetap menekuni tugasnya selaku cendekiawan maupun pandita. Di Bali terdapat sekitar 21 sulinggih Bhujangga Waisnawa yang melayani umat dalam berbagai aktivitas keagamaan. Sementara Ida Bhujangga Rsi Istri Netri dari gGia Babut, Nyitdah Tabanan yang merupakan nabe dari seluruh sulinggih Bhujangga Waisnawa ini. Keberadaan sulinggih bagi maha warga ini dinilai sangat penting peranannya.

Secara berkala maha warga ini menggelar pertemuan sulinggih yang bernama Sabha Agung Sulinggih Maha warga Bhujangga Waisnawa. Dalam pertemuan ini dibahas sesana sulinggih dan berbagai hal yang dianggap penting demi pembinaan para pasemetonan maupun umat secara umum. Selain itu, untuk lebih meningkatkan kualitas sulinggih para calon diksita juga dipersiapkan dengan pola pendidikan tertentu.

Salah satu cendekiawan Hindu Raka Santeri merupakan salah satu cendekiawan yang banyak memberikan pendidikan dalam lingkup Bhujangga Waisnawa. Raka Santeri kerap memberikan telaah keilmuan baik sejarah maha rsi maupun ajaran Weda kepada kelompok ini. Ia sependapat bahwa para sulinggih hendaknya mampu memberikan pencerahan umat selain muput karya. Selain itu, pendidikan agama, menurutnya, hendaknya diterapkan mulai kelompok kecil seperti keluarga, lingkungan atau kelompok dan masyarakat pada umumnya.

Ketua Umum Moncol Pusat Maha Warga Bhujangga Waisnawa Mayjen (Purn) I Ketut Wirdhana menyatakan keberadaan pasemetonan ini bukan merupakan perkumpulan yang eksklusif, melainkan upaya untuk memperkokoh jati diri kehinduan. Mantan Pangdam Dwikora Irian Jaya ini menyatakan ada tiga program pokok yang sedang diupayakan oleh organisasi ini yakni peningkatan ekonomi, rasa aman serta peningkatan pemahaman ajaran agama. Ketua Umum Prajaniti Pusat ini menegaskan ajaran pokok Waisnawa adalah berupa kesetaraan, kesetiaan, kebijaksanaan dan kasih sayang.

Menurutnya, paham yang dianut oleh Bhujangga Waisnawa adalah catur warna yang didasari rasa saling menghormati dan kasih sayang. Selain itu, tata cara pelaksanaan upacara agama lebih ditekankan pada konsep kesederhanaan dengan tanpa menghilangkan makna yang terkandung di dalamnya. Pilosofi yadnya yang dianut oleh maha warga ini lebih merupakan pada kemampuan pribadi masing-masing tanpa harus memaksakan diri

Bhujangga Waisnawa dan Senggu

Bhujangga Waisnawa dan Senggu

Kata senggu berasal dari kata sengguh yang berarti dikira. 

perkataan ini menjadi rancu dengan kata sangguhu yang berarti sang guru atau sang guhung (sebutan ini tidak terlepas dari peranan leluhur bhujangga waisnawa yang menjadi pembimbing atau guru spiritual). demikan juga halnya dengan kata sengguan/sengguhan yang dapat berarti tempatnya i senggu/ i sengguh, dan kata sangguhuan yang artinya karang setra/suci. hal ini tidak terlepas dari tempat tinggal Ida Bhujangga Waisnawa yang selalu berdekatan dengan karang tenget atau karang setra karena sang Bhujangga mempunyai kemampuan sebagai pamahayu jagat, pangalebur lan panglukat sahananing leteh (melebur dang menyucikan segala kekotoran.

Penyebutan kata senggu atau sengguh berasal dari kisah pada jaman Dalem Waturenggong di klungkung. Pada zaman pemerintahan dalem Waturenggong, salah satu purohita beliau dari Bhujangga Waisnawa adalah Ida Bhujangga Guru. Selain sebagai purohita, Ida bhujangga juga berperan sebagai Guru bagi putra-putri sang raja.


Salah satu putri dari dalem waturenggong bernama Dewa Ayu laksmi ketika beranjak dewasa akhirnya jatuh cinta dan menikah dengan Ida Bhujangga Guru. Hal ini mengundang kemarahan dari Dalem Waturenggong, karena pernikahan terjadi diluar sepengetahuan beliau dan apalagi pernikahan tersebut terjadi antara guru dan murid. Kemarahanan dalem ditunjukkan dengan perintah untuk membunuh Ida Bhujangga Guru mengetahui hal tersebut Ida Bhujangga Guru segera "kesah" atau melarikan diri ke daerah pegunungan di tabanan (jatiluwih) tempat tinggal ayahnya yaitu
Ida bhujangga Angker atau Ida Resi Canggu. 
Kepergian Ida Bhujangga Guru dari gelgel (klungkung) masih meninggalkan putra beliau dari istri pertama. Putra beliau bernama Ida Bhujangga Alit Adiharsa. Suatu ketika, Dalem waturenggong mengadakan upacara yadnya. Beliau mendengar tentang keberadaan Danghyang Nirartha yang baru datang dari jawa. Namun ketika Danghyang Nirartha dipendak atau dijemput, Danghyang Nirartha sedang tidak berada di pasraman, yang ada saat itu adalah I Kelik yang merupakan salah satu pengikut Danghyang Nirartha. I Kelik ini mengaku sebagai Danghyang Nirartha, maka diajaklah dia ke istana. Lalu ketika I kelik yang dikira danghyang nirartha ini melantunkan puja selayaknya pandita, datanglah Danghyang Nirartha dan Ida Bhujangga Alit Adiharsa. mengetahui hal ini membuat I Kelik menjadi ketakutan dan melarikan diri. Dalem menjadi marah karena merasa dibohongi, lalu diperintahkan untuk mengejar dan menangkap I Kelik yang telah membohongi raja. Akan tetapi atas permintaan Danghyang Nirartha, I Kelik akhirnya diampuni oleh dalem. 
I Kelik kemudian disebut I Sengguh yang artinya yang dikira.

Dalam perkembangan selanjutnya di Istana, oleh karena kemarahan Dalem Waturenggong terhadap Ida Bhujangga Guru, Ida bhujangga Alit Adiharsa menjadi tidak dianggap. Segala nasehat dari Ida bhujangga tidak pernah diperhatikan. Ida Bhujangga Alit merasa tidak nyaman dan akhirnya memilih untuk ikut kesah dari gelgel. Dengan perginya sang Bhujangga maka dikatakan bahwa Ida Bhujangga telah moksah (padahal kesah yang artinya pergi) lama-kelamaan kondisi negara semakin kacau karena purohita yang bertugas sebagai pemarusudha gumi atau pemahayu jagat sudah tidak ada. Hal ini membuat Ida dalem menjadi resah. Atas saran Danghyang Nirartha, Dalem akhirnya setuju untuk mengangkat I Kelik sebagai pengganti Ida Bhujangga. I Kelik kemudian dijari oleh Danghyang Nirartha puja-puja weda sebagai dang katrini dan juga semua pusaka dan piagem-piagem sang Bhujangga yang telah kesah diberikan kepada I Kelik. Selanjutnya I Kelik ditapak (ditasbihkan) oleh Danghyang Nirartha sebagai Jero Gede (menurut Lontar Tutur kudalini).

Maka sejak itu peranan Ida Bhujangga diambil alih oleh Jero Gede (senggu). dan berita yang beredar bahwa Ida Bhujangga telah moksah, sudah tidak ada lagi preti sentananya. Padahal sebenarnya Ida bhujangga hanya pergi dari klungkung (pusat kerajaan bali pada waktu itu).

Sudah jelaslah perbedaan antara Bhujangga waisnawa dan senggu. Bhujangga waisnawa merupakan keturunan dari Ida Resi Makandeya dan sudah ada berabad-abad di bali jauh sebelum kedatangan majapahit ke Bali. Sementara senggu ada sejak pemerintahan Dalem Waturenggong, yaitu zaman setelah kedatangan Majapahit ke Bali. Ida Resi Bhujangga "ditapak" oleh Ida Resi Nabe Bhujangga Waisnawa, sementara Jero Gede "ditapak" oleh Ida Nabe Siwa. 

Setelah kejadian di Gelgel tersebut maka peranan bhujangga waisnawa terpinggirkan ditambah lagi setelah Danghyang Nirartha atas restu Dalem Waturenggong, merestrukturisasi kehidupan masyartakat dengan mengeluarkan sistem kasta. dimana yang disebut 

  • golongan Brahmana adalah Danghyang Nirartha beserta keturunannya dan Danghyang Astapaka (saudara danghyang nirartha) beserta turunannya. 
  • Ksatria adalah Raja dan keluarganya, Arya adalah para patih dan punggawa kerajaan dan 
  • diluar ketiga golongan itu adalah Sudra.


Demikianlah cerita tentang Bhujangga Waisnawa dan Senggu, semoga bermanfaat. Tulisan ini bukan bertujuan untuk mendiskreditkan dan mejelekkan golongan tertentu. Melainkan untuk menambah wawasan dan pengetahuan saja khususnya untuk para semeton bhujangga waisnawa. marilah para semeton bhujangga waisnawa tetap teguh memegang sasana ke bhujanggaan, yaitu untuk selalu arif dan bijaksana namun rendah hati. 
  • Bu artinya Bumi/pertiwi, 
  • Ja artinya air suci, 
  • Ngga artinya nagasari, sarining sekar anyuksemaning tirta jati utama maka perihaning wong kabeh (lontar kerta bhujangga). 

Bhujangga adalah air atau tirta suci yang dapat membersihkan bumi dan segala isinya atau dengan kata lain adalah sebagai pengayom.

Salah Kaprah tentang Senggu Bhujangga Waisnawa

Salah Kaprah tentang Senggu Bhujangga Waisnawa

Judul : Bhujangga Waisnawa dan Sang Trini

Penyusun : Drs. Gde Sara Sastra, M.Si.
Tebal : xv + 272 halaman
Penerbit : Pustaka Bali Post

BUKU ini boleh jadi sebuah pelurusan terhadap salah tafsir akibat informasi yang kurang lengkap. Sampai saat ini, masih banyak umat yang belum tahu secara jelas tentang status kepanditaan umat Hindu di Bali. Sejumlah contoh bisa dikemukakan, yakni masih banyak umat yang mengira bahwa pandita yang beraliran "Siwa" hanyalah pedanda (peranda). Demikian pula I Senggu sering disamakan dengan gelar Ida Bhujangga yang memiliki sebutan Sangguhu Bhujangga.

Yang menjadi biang keladi salah kaprah itu adalah perbuatan I Kelik, yang mau muput upacara besar yang digelar raja, padahal ia bukan pandita. Pada zaman pemerintahan Dalem Waturenggong, memang ada kisah yang menarik. Pada suatu hari, Dalem menggelar upacara yang cukup besar. Untuk me-muput upacara tersebut, Dalem mengundang Danghyang Nirartha yang juga bergelar Ida Pedanda Sakti Wawu Rawuh.



Ketika utusan raja sampai di pasraman, yang ada hanya I Kelik, abdi setia Danghyang Nirartha. Utusan Dalem mengira I Kelik sebagai pandita dan mohon agar bersedia muput upacara. I Kelik yang dikira pandita justru senang menerima undangan itu. Ia tampak sangat percaya diri, karena ia juga banyak menghafal mantra dan tahu pula tata cara muput upacara. Pengetahuan dan keterampilannya itu ia dapatkan dari Danghyang Nirartha.

Sedang asyiknya I Kelik mamuja, tiba-tiba datanglah Danghyang Nirartha, pandita yang seharusnya muput upacara tersebut. Danghyang Nirartha maupun Dalem Waturenggong pun sama-sama terkejut. Merasa dibohongi, Dalem Waturenggong murka dan mengusir I Kelik dan bahkan diberi hukuman mati. Namun berkat sifat pengasih Danghyang Nirartha, I Kelik selamat dari hukuman mati. Dalem memberikan pengampunan atas permohonan Danghyang Nirartha.

Oleh karena pernah dikira atau di-sengguh sebagai pandita, maka I Kelik diganti namanya menjadi I Sengguh yang lambat laun menjadi I Senggu. Jauh lama kemudian, I Kelik malah diberikan hak melaksanakan tugas sebagai pandita pemahayu jagat, seperti yang dilakukan Ida Bhujangga. Namun dalam masyarakat, rupanya sebutan "sengguh" tadi disamakan dengan Sangguhu, lebih-lebih bagi orang yang tidak melakukan penelitian lebih jauh. Anggapan tersebut jelas keliru dan secara psokologis tidak menunguntungkan.

Dalam buku ini dijelaskan, sebutan Sangguhu Bhujangga bukanlah berasal dari kata sengguh, karena artinya jauh berbeda. Sebagaimana ditulis buku ini (hal.118), kata sangguhu berasal dari (1) Sang Guhung atau Sang Guwung; (2) Sang Guru. Demikian pula, warga Bhujangga Waisnawa bukanlah soroh Senggu. Penjelasan tentang ini dimuat pada bab III.

Pengertian Sekte

Buku yang terdiri dari enam bab ini, selain bermaksud meluruskan salah kaprah tadi, juga mengetengahkan munculnya sekte-sekte dalam agama Hindu, pengertian tentang Sekte Waisnawa dan sejarah perkembangannya dari kitab suci Weda, masa Sutra dan Brahmana, Upanisad, Isihasa, Purana, Wedanta, sampai perkembangannya di Indonesia termasuk Bali.

Ada juga penjelasan tentang Babad Warga Bhujangga Waisnawa, analisa tentang moksa, pura yang erat kaitannya dengan kedatangan Maha Rsi Markandheya dan Rsi Waisnawa, serta keberadaan warga Bhujangga Waisnawa di Bali.

Tidak kalah menariknya, buku ini juga menjelaskan pengertian Sang Trini dan kedudukan Bhujangga Waisnawa dalam Sang Trini. Dijelaskan, bahwa Sang Trini adalah sebuah konsep Siwaistis yang terdiri dari tiga unsur yaitu Siwa, Sada Siwa dan Parama Siwa. Ketiga golongan pandita ini terdiri dari (1) Unsur Siwa yang kemudian disebut Sang Brahmana Siwa; (2) unsur Sada Siwa, kemudian disebut Sang Bodda dan (3) unsur Parama Siwa kemudian disebut Sang Bhujangga. Ketiga pandita inilah yang kemudian disebut Sang Trini atau Tri Sadaka yang artinya tiga pandita yang tergabung dalam konsep Siwa Siddhanta (hal.173).

Buku ini selain patut disimak oleh warga Bhujangga Waisnawa, tentu juga sangat penting dipelajari bagi para peneliti atau kalangan akademis. Para peneliti sosial atau sosiologi agama, teologi Hindu akan mendapatkan informasi tentang perkembangan agama Hindu di Bali, khususnya tentang Bhujangga Waisnawa dan Sang Trini, yang merupakan bagian dari konsep Saiwa Siddhanta Indonesia.

Selain itu, pembaca juga diberi informasi tentang sejumlah lontar yang memuat berbagai hal. Informasi itu akan terasa penting jika ada yang ingin meneliti lebih jauh tentang lontar tersebut, misalnya untuk penulisan karya ilmiah, baik itu skripsi, tesis atau bahkan desertasi.

Juga ada silsilah asal kelahiran Warga Bhujangga Waisnawa. Buku ini juga dilengkapi sejumlah foto para pandita dari kalangan warga Bhujangga Waisnawa. Sejumlah bentuk genta dan sarana khas yang digunakan Ida Rsi Bhujangga Waisnawa juga menghias buku ini. Misalnya ada genta uter, genta orag, ketipluk, dan lain-lain yang belum banyak diketahui umat. Dengan demikian, kehadiran buku ini tidak hanya sekadar menambah kepustakaan Hindu, namun juga menjadi bacaan menarik dan acuan bagi mahasiswa atau peneliti dalam melakukan penelitian sosiologi agama. 
sumber: balipost