Tampilkan postingan dengan label Dupa Pasupati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dupa Pasupati. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Januari 2013

Banten Pasupati dan Mantra Pasupati di Tumpek Landep

Banten Pasupati dan Mantra Pasupati di Tumpek Landep

Mantra Pasupati
Banten Pasupati
Pasupati (Pāśupatāstra) dalam kisah Mahabharata adalah panah sakti yang oleh Batara Guru dianugerahkan kepada Arjuna setelah berhasil dalam laku tapanya di Indrakila yang terjadi saat Pandawa menjalani hukuman buang selama dua belas tahun dalam hutan. Panah yang berujung bulan sabit ini pernah digunakan oleh Batara Guru saat menghancurkan Tripura, tiga kota kaum Asura yang selalu mengancam para dewa. Dengan panah ini pula Arjuna membinasakan Prabu Niwatakawaca. Dalam perang Bharatayuddha, Arjuna menggunakan panah ini untuk mengalahkan musuh-musuhnya, antara lain Jayadrata dan Karna yang dipenggal nya dengan panah ini.

Makna Pasupati

Upacara Pasupati bermakna pemujaan memohon berkah kepada Hyang Widhi (Sang Hyang Pasupati) untuk dapat menghidupkan dan memberikan kekuatan magis terhadap benda-benda tertentu yang akan dikeramatkan. Dalam kepercayaan umat Hindu (ajaran Sanatana Dharma) di Bali, upacara Pasupati merupakan bagian dan upacara Dewa Yadnya. Proses pasupati bisa dengan hanya mengisi energi atau kekuatan tuhan atau menstanakan sumber kekuatan tertentu di dalam benda tersebut. Tergantung kemampuan orang yang melakukan upacara pasupati tersebut. dalam Bhagavadgita IV.33, disebutkan bahwa:
srayan dravyamayad yajnaj
jnanayajnah paramtapa
sarvam karma 'khilam partha
jnane perimsamapyate
artinya:
Persembahan berupa ilmu pengetahuan, Parantapa lebih bermutu daripada persembahan materi dalam keseluruhannya semua kerja iniberpusat pada ilmu-pengetahuan, Oh Parta…



Salah satu hari suci agama Hindu yang cukup istimewa adalah Tumpek Landep yang jatuh setiap 210 hari sekali tepatnya pada setiap hari Saniscara Kliwon wuku Landep.

Secara umum untuk merayakannya, masyarakat Hindu menggelar kegiatan ritual yangkhusus dipersembahkan untuk benda-benda dan teknologi, yang berkat jasanya telah mampu memberikan kemudahan bagi umat dalam mencapai tujuan hidup. Utamanya adalah benda-benda pusaka, semisal keris, tombak, sampai kepada kendaraan bermotor, komputer, dan sebagainya.

Disamping hal tersebut, sesungguhnya hari suci Tumpek Landep merupakan hari Rerahinan gumi dimana umat Hindu bersyukur kepada Ida Sang Hyang Widhi yang telah memberikan kecerdasan, pikiran tajam serta kemampuan yang tinggi kepada umat manusia (Viveka dan Vinaya), sehingga mampu menciptakan berbagai benda yang dapat memudahkan hidup termasuk teknologi. Mesti disadari, dalam konteks itu umat bukanlah memuja benda-benda tersebut, tetapi memuja kebesaran Tuhan.

Upacara pasupati merupakan bagian dan upacara Dewa Yadnya, upacara ini ditata dalam suatu keyakinan yang terkait dengan Tri Rna. Upacara pasupati yang diyakini oleh manusia sejak dulu kala sampai kini hidup dalam proses budaya dan budaya tradisi kecil ke tradisi besar dan hidup sampai tradisi modern. Upacara ini bertujuan untuk menghidupkan serta memohon kekuatan magis terhadap benda-benda tertentu yang akan dikeramatkan. Menurut keyakinan Hindu khususnya di Bali segala sesuatu yang diciptakan oleh Ida Hyang Widhi mempunyai jiwa, termasuk yang diciptakan oleh manusia mempunyai jiwa/kekuatan magis dengan cara memohon kehadapan Sang Pencipta menggunakan upacara Pasupati. Seperti contohnya yaitu benda yang disakralkan berupa Pratima, keris, barong, rangda, dan lain-lain. Hal itu dapat dibuktikan dalam beberapa sloka dalam kitab suci agama Hindu yang berbunyi, sebagai berikut:
Bhurita Indra Wiryam tawa smaya 
Sya stoturma dhawan kamana prna
Anu tedyavabhahah wiryani nama
Iyam ca te prthiwi nama ojase
Artinya:
Keselamatan-Mu sungguh hebat, Dewa Indra. Kami adalah milik-Mu, kabulkanlah Madhawan. Permohonan pemuja-Mu, langit yang megah seperti engkau. Kepada-Mu dan untuk kesaktian-Mu bumi mengabdi (Reg Weda).

Pemikiran di atas mengandung makna, penggambaran hubungan manusia dengan Tuhannya dapat melalui permohonan doa, kesucian pikiran ada kekuatan magic yang diyakini berkah Ida Hyang Widhi Wasa yang dilimpahkan pada umatnya. Secara simbolik upacara Pasupati berarti memberkahi jiwa (kekuatan magic) pada benda-benda budaya yang mempunyai nilai luhur dan memberikan kesejahteraan pada umatnya.

Dalam rangka sakralisasi maupun penyucian suatu benda seperti keris, barong, arca, pratime, pis bolong dan lain-lain harus melalui upacara prayascita dulu yang bermakna menghilangkan noda/kotoran yang melekat karena proses pembuatan benda tersebut. Secara niskala selanjutnya diadakan proses upacara “Dewa Prayascita”. Ada juga menyebut dibuat upacara Pasupati yang bermakna memberkahi kekuatan sinar suci Ida Hyang Widhi Wasa pada benda-benda tersebut. Ada pula mengatakan bahwa khusus upacara Pasupati bagi arca, Dewa-Dewa dilengkapi penulisan huruf magic. Mengacu pada pemikiran diatas upacara Pasupati di Bali masih ditradisikan di Bali, dimana benda seperti arca, barong, keris, Pis Bolong dan lain-lain setelah dipasupati, amat diyakini oleh masyarakat, bahwa benda tersebut memiliki roh atau jiwatman dan terkandung kekuatan suci Ida Hyang Widhi/Ida Hyang Pasupati dan juga menjadi sungsungan masyarakat.

Keyakinan Upacara diatas juga dibenarkan pula oleh pendapat tokoh antropologi yang mengatakan bahwa sistem kepercayaan masyarakat mengandung keyakinan dengan dunia gaib. Dewa - dewa, mahiuk halus, kekuatan sakti serta kehidupan yang akan datang pada wujud dunia dan alam semesta. Pemikiran diatas dikaitkan dengan upacara Pasupati membenarkan bahwa keyakinan yang tebal pada masyarakat setelah benda tersebut diupacarai pasupati akan diberkahi kekuatan sakti para dewa sebagai manifestasi Ida Hyang Widhi Wasa. Penulis juga pernah membaca pada lontar Tutur pasupati yang menggambarkan bahwa dengan memohon para dewa untuk memusnahkan segala kotoran untuk menemukan kesucian pada bhuwana alit dan bhuwana agung dengan berbagai mantra dan upakara, maka dari itu upacara pasupati tergolong upacara dewa yadnya. Upacara pasupati sebagai media sakralisasi, seperti telah dijelaskan di atas pelaksanaan upacara pasupati bervariasi menurut desa, kala dan patra masing-masing desa di Bali.

Sarana Upacara Banten Pasupati

Dalam setiap upacara; maka keberadaan upakara tentu tidak dapat dikesampingkan, demikian pula halnya ketika umat Hindu melaksanakan upacara Tumpek Landep ini.

Adapun sarana/upakara yang dibutuhkan dalam Tumpek Landep, yang paling sederhana adalah canang sari, Dupa Pasupati dan tirtha pasupati. Yang lebih besar dapat menggunakan upakara Banten Peras, Daksina atau Pejati. Dan yang lebih besar biasanya dapat dilengkapi dengan jenis upakara yang tergolong sesayut, yaitu Sesayut Pasupati dengan kelengkapan banten prayascita, sorohan alit, banten durmanggala dan pejati.

Cara penyusunannya, dari bawah ke atas
Tebasan pasupati

  • Kulit sayut
  • Tumpeng barak
  • Raka – raka dan jaja
  • Kojong balung/prangkatan (5 kojong jadi 1) yang berisi kacang, saur, Gerang, telur dan tuung (terong)
  • Sampian nagasari, penyeneng, sampian kembang (terbuat dari don andong)
  • Pejati dan peras dengan sampian dari don andong, canangnya menggunakan bunga merah
  • Lis/buu alit (dari don andong)
  • dupa 9 batang
  • ayam biying mepanggang
  • segehan bang

banten prayascita untuk Pasupati

  • tumpeng mepekir 5
  • tulung 5
  • siwer 1 dengan tanceb cerawis
  • tipat pendawa
  • kwangen dan don dadap 5, masing 2 ditancapkan di tumpeng
  • raka2 dan kacang saur
  • sampian nagasari

dapetan tumpeng 7, alas ngiu

  • taledan 2 – masing -masing di isi : taledan pertama: tumpeng 2, raka2 kacang saur dan sampian nagasari. taledan ke dua: tumpeng 3, tulung, bantal, tipat penyeneng, raka2 kacang saur dan sampian pusung
  • sayut 2  – masing -masing di isi : sayut pertama; gibungan lempeh 1, raka2 kacang saur dan sampian nagasari dan sayut berikutnya; gibungan lanying 4, raka2 kacang saur dan sampian nagasari
  • di tengah2 isi cawan, isi base tampin, beras, benang tebus, pis bolong 3, penyenyeng

sorohan alit untuk Pasupati

  • taledan mesibeh/mesrebeng
  • kulit sayut 2 , di sampingnya
  • kulit peras di tengah2 antara sayut
  • ujung peras isi katak-kituk, sesisir pisang, sedikit jajan, nasi dan saur, isi plaus kecil, smua dsb nasi sasah, sidampingnya isi pisang tebu raka2
  • belakang nasi sasah isi tumpeng 11
  • kulit sayut isi nasi pulungan 4
  • kulit sayut lg satu, sisi gibungan alit 1
  • di kulit peras isi tulung 3
  • isi kacang saur raka2
  • sampian pusung 2, di taruh bagian depan
  • di atas sayut sampian naga sari 2
  • atas kulit sayut sampian nagasari1
  • penyeneng, tatakan celemih, isi base tampin, beras, benang tebus
  • lis / buu alit
  • banten bersihan

banten durmanggala dengan klungah nyuh mulung (gadang)
Banten Pejati untuk melengkapi Banten Pasupati sebagai hulu upacara pasupati tersebut.

Dari berbagai jenis upakara tersebut yang terpenting barangkali adalah Tirtha Pasupati; karena umat Hindu masih meyakini betapa pentingnya keberadaan tirtha ini. Tirtha Pasupati biasanya didapat melalui Pandita atau Pinandita melalui tatacara pemujaan tertentu. Tapi bagaimana halnya dengan individu-individu umat Hindu, apa yang mesti dilakukan jika ingin mendapatkan Tirtha Pasupati? Bisakah memohonnya seorang diri tanpa perantara Pinandita dan atau Pandita? Jawabannya tentu saja boleh...!

Cukup menyiapkan sarana seperti di atas (seuaikan dengan desa-kala-patra). Misalnya dengan sarana canang sari, dupa dan air (toya anyar), setelah melakukan pembersihan badan (mandi dsb). Letakkan sarana/ upakara tersebut di pelinggih/ altar/ pelangkiran. Kemudian melaksanakan asuci laksana (asana, pranayama, karasudhana) dan matur piuning (permakluman) sedapatnya baik kepada leluhur, para dewa dan Hyang Widhi, ucapkan mantra berikut ini dengan sikap Deva Pratista atau Amusti Karana sambil memegang dupa dan bunga.

Sebenarnya siapapun dapat “menghidupkan / me-pasupati” Rerajahan / barang setelah melalui beberapa ritual tertentu, seperti membacakan “mantra pangurip”. Namun hendaknya sebelum mantra ini diucapkan sebaiknya pahami benar maksud gambar Rerajahan yang akan di “pasupati” agar tidak menjadi bumerang dikemudian hari.

Pedanda (karena Brahmana adalah sebutan untuk klan/keluarga pendeta Hindu, namun tidak selalu menjadi atau memiliki kemampuan menjadi pedanda) dan Pemangku juga Balian (paranormal) adalah praktisi-praktisi yang mendalami pembuatan Rerajahan, tentu saja mereka mampu menginisiasi rerajahan.

Mantra Pasupati:

Om Sanghyang Pasupati Ang-Ung Mang ya namah svaha
Om Brahma astra pasupati, Visnu astra pasupati,
Siva astra pasupati, Om ya namah svaha
Om Sanghyang Surya Chandra tumurun maring Sanghyang Aji Sarasvati-tumurun maring Sanghyang Gana, angawe pasupati maha sakti, angawe pasupati maha siddhi, angawe pasupati maha suci, angawe pangurip maha sakti, angawe pangurip maha siddhi, angawe pangurip maha suci, angurip sahananing raja karya teka urip, teka urip, teka urip. 
Om Sanghyang Akasa Pertivi pasupati, angurip........
Om eka vastu avighnam svaha
Om Sang-Bang-Tang-Ang-Ing-Nang-Mang-Sing-Wang-Yang
Ang-Ung-Mang,
Om Brahma pasupati,
Om Visnu Pasupati,
Om Siva sampurna ya namah svaha

Kemudian masukkan bunga ke dalam air yang telah disiapkan
Dengan demikian maka air tadi sudah menjadi Tirtha Pasupati, dan siap digunakan untuk mempasupati diri sendiri dan benda-benda lainnya.

Catatan:
……………………….Titik-titik pada mantra di atas adalah sesuatu yang mau dipasupati)-dalam hal ini adalah air untuk tirtha pasupati. Dalam hal tertentu dapat dipakai mempasupati yang lainnya..tergantung kebutuhan (tapi tetap saya sarankan hanya untuk Dharma, karena jika akan dipakai untuk hal-hal negatif maka mantra tersebut tidak akan berguna bahkan akan mencederai yang mengucapkannya)!!
Mantra di atas bersumber dari lontar Sulayang Gni Pura Luhur Lempuyang, koleksi pribadi.

Mantra Pasupati berikut juga bias digunakan, yang di Kontribusi dari Jro Mangku Wayan Natia, Pinandita Loka Palaya Seraya di Kecamatan Banjit, Way Kanan-Lampung.
Om ang ung pasupati badjra yuda agni raksa rupaya purwa muka desa tanaya pasupatnya ong pat
Om ang ung pasupati pasa yuda agni raksa rupaya pascine muka desa tanaya pasupatnya ong pat
Om ang ung pasupati cakra yuda agni raksa rupaya utara muka desa tanaya pasupatnya ong pat
Om ang ung pasupati padma yuda agni raksa rupaya madya muka desa tanaya pasupatnya ong pat
Om ang ung pasupati para mantra pasupatnya ong pat
Om ang brahma urip
Om ung wisnu urip
Om mang iswara urip
Urip (3x) Tang rerajahan
Om dewa urip, manusia urip, sing teka pada urip
Om kedep sidhi mandi mantra sakti

Atau dapat juga menggunakan mantra Pasupati berikut, yang dikontribusikan oleh jro manggih, salah satu orang yang disegani di daerah sebatu, gianyar..
Ong ang ung,
teka ater (3x)
ang ah, teka mandi (3x) ang.
(jeda sesaat)

Ong betare indra turun saking suargan,
angater puja mantranku,
mantranku sakti,
sing pasanganku teka pangan,
rumasuk ring jadma menusa,
jeneng betara pasupati.
Ong ater pujanku, kedep sidi mandi mantranku, pome.
(jeda sesaat)

Om bayu sabda idep, urip bayu, urip sabda, urip sarana, uriping urip, ya nama swaha. Om aku sakti, urip hyang tunggal, lamun urip sang hyang tunggal, urip sang hyang wisesa, teka urip 3x

Atau menggunakan mantra Pasupati berikut
MENYUCIKAN BAHAN
ong sameton tasira matemahan ongkara
Malecat ring angkasa tumiba ring pertiwi
Matemahan sarwe maletik
Mabayu, masabda, maidep
Bayunta pinake sabdan I ngulun
Pejah kita ring brahma
Urip kita ring wisnu
Begawan ciwakrama mengawas-ngawasi sarwa waletik

MANTRA NGERAJAH
ong saraswati sudha sudha ya namah swaha

PENGURIP RERAJAHAN
ong ang ung mang
Ang betara brahma pangurip bayu
Ung betara wisnu pangurip sabda
Mang betara iswara pangurip idep
Ong sanghyang wisesa pengurip saluiring rerajahan
Teke urip (3x) ang ung mang ong

PENGURIP SERANA
ong urip bayu sabda idep
Bayu teke bayu urip
Sabda teke sabda urip
Idep teke idep urip
Uriping urip teke urip (3x)

Hasilnya dari proses pasupati tidak akan sama antara orang yang 1 (satu) dengan yang lainnya tergantung tingkat kesucian masing – masing orang, memang semua orang bisa melakukan pasupati, asal tahu tatacara dan langkah – langkahnya. istilah balinya “eed upacara” tapi tetap hasilnya tidak akan sama kekuatan yang terpancarkan, bahkan bias – bisa kekuatan tersebut bahkan akan berefek buruk pada yang menggunakan barang – barang hasil pasupati jika salah dalam melakukan upacara tersebut.
Kewaskitaan sangat diperlukan karena proses tersebut mesti disaksikan sendiri apakah sdh benar atau hanya pikiran semata.

Pada proses pasupati orang yang melakukan upacara tersebut mesti bisa berbadan dewa atau menyatu atau sama kedudukan yang menyembah dengan yang disembah pada saat itu sehingga proses penghadiran dewa yang dikehendaki kekuatan nya benar- benar hadir dan mengisi benda yang akan dipasupati atau manifestasi Tuhan tersebut berstana atau berdiam diri langsung di benda yang diupacarai.

Kalau hanya berbekal keyakinan saya bs melakukan hal tersebut tanpa diimbangi dengan uraian diatas sama saja kita tidak tahu dengan apa yang kita lakukan dan apa yang sedang terjadi dan apa yang akan terjadi selama dan sesudah proses pasupati terjadi.

Jadi kesimpulannya semua bisa melakukan hal upacara pasupati tersebut tapi tetap akan diberikan ijin oleh Tuhan apa tidak itu tergantung dari manusia yang melakukan upacara tersebut.

Proses pasupati tidak sesimpel yang dipikirkan dengan hanya memegang benda yang akan dipasupati dan meniatkan benda itu berubah jd apa yang dikehendaki itu justru akan menjadi bumerang bagi yang mempasupati benda tersebut, karena dengan kesaktian penciptanya, justru kekuatan yang ada di benda tersebut akan menekan yang memakai benda tersebut sehingga berefek sangat buruk pada yang memakainya, akibatnya lama kelamaan aura kesaktian penciptanya ini akan menggencet jiwa pemakainya yang bisa mengakibatkan ketidakharmonisan didalam rumahtangga, misalnya : rasa takut, merinding, gelisah, rasa marah yang tidak terkontrol, dll

Kalau di ghanta yoga semua itu tidak terlepas dari energi ghanta dalam mempasupati sebuah benda, dengan kekuatan kesucian yang dimiliki pembina setiap benda yang dipegang saja sudah bercahaya apalagi beliau melakukan proses pasupati pastinya akan jauh lebih dasyat energi yang terpancar untuk keharmonisan alam sekitarnya dari benda yang sudah dipasupati beliau.

Permohonan kepada sang hyang pasupati dan diberikannya restu melalui kekuatan ghanta pada jaman sekarang ini akan membuat setiap benda menjadi berfungsi sangat sempurna sesuai dengan dasar benda tersebut dan program yang dimasukkan ke benda tersebut akan berjalan lebih berguna bagi yang menggunakannya.

Etikanya memang memohonkan pada sang hyang pasupati tp kekuatan yang berstana di benda yang dipasupati adalah kekuatan energi ghanta yang sudah difungsikan sesuai utk memfungsikan benda yang dipasupati karena kekuatan yang relevan pada jaman ini adalah energi ghanta, semua benda yang dipasupati akan menjadi metaksu dengan berdiamnya sumber energi pd benda tersebut yaitu adhitaksu.

Silahkan dibandingkan benda-benda yang sudah dipasupati apapun itu dengan benda-benda yang dipasupati dengan energi ghanta pasti akan jauh dari yang diharapkan fungsinya

Atau silahkan pasupati sendiri benda-benda yang anda punyai (jika anda sudah merasa mampu) dan bandingkan dengan hasil pasupati dari ida nabe, apakah akan sama hasilnya???? Silahkan dinilai sendiri……..

Mengenai pemakaian produk seperti kalung ghanta atau dupa gandasidhi atau minyak dan lainnya yang diproduksi melalui proses pasupatian itu memang sasarannya ke orang diluar anggota ghanta, tapi jika ada sisya (murid) yang mau membelinya alangkah dihargai hal tersebut disamping utk menambah keyakinan, hal itu juga bisa membantu secara finansial yayasan serta juga menunjukkan kebanggaan sisya dengan ghantayoga.

Sisya yang selalu membicarakan mengenai ghantayoga menunjukkan keyakinananya dan kebanggaannya akan ajaran yang dipelajari serta pengetahuannya sdh meningkat akan ajaran ghantayoga dan mau membagikan vibrasi energi ghanta ke orang lain daripada membicarakan keilmuan lain diluar yang telah diajarkan dari ghanta, menunjukkan sisya tersebut jarang bahkan tidak pernah melatih ajaran ghantayoga dalam kesehariannya dan semakin tidak mengerti akan ajaran ghanta yoga dan karena hanya ingin menunjukkan pengetahuannya sehingga yang dibicarakan selalu hal-hal yang di luar ghanta yoga utk menutupi ketidak mengerti nya terhadap ajaran ghanta yang notebene tidak pernah dilatih dan dikonsultasikan ke pembina, itu menunjukkan sisya tersebut sudah menurun keyakinannya terhadap ghanta yoga dan diharapkan sisya tersebut segera berkonsultasi sesering mungkin dengan pembina dan jika hal tersebut tidak bisa menambahkan keyakinan terhadap ajaran ghanta yoga sebaiknya sisya tersebut segera mungkin mengundurkan diri dari yayasan daripada meng-kotaminasi sisya yang lainya dan menimbulkan keraguan bagi sisya yang mudah goyah keyakinannya atau yang baru setengah-setengah keyakinannya terhadap ajaran ghanta yoga.

Ajaran ghanta yoga keluarnya dari guru ghanta yoga itu sendiri, jadi apapun yang dikatakan guru ghanta yoga itulah yang mesti dijalankan karena itu merupakan kebenaran yang mesti diikuti, semua itu merupakan tanggung jawab beliau dengan berani memberikan saran terhadap sisyanya otomatis hal itu akan ditanggung sendiri oleh sang guru sampai hal yang disarankan tersebut menjadi kenyataan dalam kehidupan sisyanya, jadi jika semua saran dr guru diragukan bahkan tidak dijalankan itu menunjukkan sisya sdh tidak ada respect terhadap gurunya dan itu menunjukkan pula ketidak bergunanya seseorang belajar di ghanta yoga dan saran yang terbaik bagi sisya tersebut adalah agar sisya tersebut segera pula mengundurkan diri dari ajaran ghanta yoga.

Jumat, 04 Januari 2013

Banten Canang dan cara membuatnya

Banten Canang dan cara membuatnya

Besar/kecilnya volume Banten Canang tergantung dari kemampuan riil kita. Maka disediakan sembilan alternatif volume banten sebagai berikut : mula-mula dibagi dalam 3 kelompok : alit, madya, ageng. Kemudian masing-masing kelompok dibagi lagi menjadi 3 sub kelompok, misalnya : aliting alit, madyaning alit, utamaning alit, dst. Jadi tidak benar untuk setiap upacara diharuskan dengan volume banten besar (tentunya dengan biaya tinggi).

Banten Canang adalah bagian dari upacara, dan upacara adalah salah satu wujud yadnya. Selanjutnya yadnya dilakukan karena ada Rnam (hutang manusia kepada Widhi, Rsi dan Pitra).

Maka yadnya yang baik adalah yang "satwika" Unsur-unsur satwika antara lain bahwa upacara dilaksanakan berdasarkan hati suci yang tulus ikhlas. Maka sekali lagi berupacaralah dengan kemampuan yang riil, agar tujuan upacara tercapai dengan baik.

Fungsi Banten Canang


  1. Sebagai niyasa (simbol) Hyang Widhi/Dewa/Bhatara-Bhatari
  2. Sebagai sarana penyucian
  3. Sebagai sarana penyaksian (saksi) untuk acara tertentu
  4. Sebagai ayaban (aturan/persembahan, cetusan rasa bhakti)
  5. Sebagai tataban (prasadam/berkah yang kemudian disantap setelah ngelungsur ayaban)

berikut ini cara dan bahan-bahan yang diperlukan dalam membuat banten canang, yang disusun dari bawah keatas, diantaranya:

CANANG GENTEN 

atau biasa disebut canang sodan karena sering dipakai dalam menghaturkan soda.
alas Ituk-ituk / ceper/taledan

  1. Porosan
  2. Sampyan Uras sari
  3. Bunga
  4. Kembang Rampe
  5. Boreh Miyik
  6. Minyak wangi
Sebagai alas dapat digunakan taledan, ceper ataupun daun pisang yang berbentuk segi empat. Diatasnya berturut-turut disusun perlengkapan yang lain seperti: bunga dan daun-daunan, porosan yang terdiri dari satu/dua potong sirih diisi sedikit kapur dan pinang, lalu dijepit dengan sepotong janur, sedangkan bunganya dialasi dengan janur yang berbentuk tangkih atau kojong. Kojong dengan bentuk bundar disebut "uras-sari".

Bila keadaan memungkinkan dapat pula ditambahkan dengan pandan-arum, wangi-wangian dan sesari (uang). Waulupun perlengkapan banten ini sangat sederhana, tetapi hampir semuanya mempunyai arti simbolis antara lain: jejaitan/tetuwasan reringgitan, melambangkan kesungguhan hati, daun-daunan melambangkan ketenangan hati. Sirih, melambangkan dewa wisnu, kapur melambangkan dewa siva, pinang melambangkan dewa brahma, suci bersih, dan wangi-wangian sebagai alat untuk menenangkan pikiran kearah kesegaran dan kesucian.

Canang ini, baik besar maupun kecil bahkan selalu digunakan untuk melengkapi sesajen-sesajen yang lain, hanya saja bentuk alat serta porosannya berbeda-beda.

CANANG LENGAWANGI BURATWANGI

alas Taledan / ceper
  1. plawa
  2. porosan
  3. celemik berisi akar-akaran wangi-beras- kunir-air cendana yg ditumbuk halus (buratwangi)
  4. celemik berisi menyan-malem dicampur minyak kelapa, minyak wangi, kacang putih, kacang komak yang digoreng gosong, ditumbuk halus hingga berwarna hitam
  5. sampyan uras sari
  6. Bunga
  7. Rampe
Bentuk banten ini seperti canang genten dengan ditambahkan "burat wangi" dan dua jenis "lenga wangi". Ketiga perlengkapan tersebut masing-masing dialasi kojong atau tangkih. Burat wangi dibuat dari beras dan kunir yang dihaluskan dicampur dengan air cendana atau mejegau. Ada kalanya dicampur dengan akar-akaran yang berbau wangi. Lenga Wangi ( minyak wangi) yang berwarna putih dibuat dari menyan, 'malem" ( sejenis lemak pada sarang lebah), dicampur dengan minyak kelapa. Lenga wangi (minyak wangi) yang berwarna kehitam-hitaman dibuat dari minyak kelapa dicampur dengan kacang putih, komang yang digoreng sampai gosong lalu dihaluskan.

Ada kalanya campuran tersebut dilengkapi dengan ubi dan keladi (talas), yang juga digoreng sampai gosong. Biasanya untuk memperoleh campuran yang baik, terlebih dahulu minyak kelapa dipanaskan, kemudian barulah dicampur dengan perlengkapan lainnya. Secara keseluruhan "lenga-wangi" dan "burat-wangi" melambangkan Hyang Sambhu. Menyan melambangkan Hyang Siva, Majegau melambangkan Hyang Sadasiva sedang cendana melambangkan Hyang Paramasiva.

Banten ini dipergunakan pada hari-hari tertentu seperti pada hari Purnama, Tilem, hari raya Saraswati dan melengkapi sesajen-sesajen yang lebih besar.

CANANG TUBUNGAN 

biasanya digunakan pada canang gantal
alas ituk-ituk/ceper

  1. plawa
  2. base tubungan
  3. sampyan uras sari
  4. bunga
  5. rampe
  6. boreh miyik

CANANG SARI

alas Taledan/ceper

  1. plawa
  2. porosan
  3. seiris tebu
  4. seiris pisang mas
  5. kakiping
  6. celemik berisi buratwangi
  7. celemik berisi lengawangi
  8. celemik berisi beras kuning
  9. sampyan uras sari
  10. rampe
  11. bunga
  12. boreh miyik
  13. uang kepeng
Bentuk Canang sari ini agak berbeda dengan banten/canang genten sebelumnya, yaitu dibagi menjadi dua bagian. Bagian bawahnya bisa berbentuk bulat ataupun segiempat seperti ceper atau taledan. Sering pula diberi hiasan "Trikona/plekir" pada pinggirnya. Pada bagian ini terdapat pelawa, porosan, tebu, kekiping (sejenis jajan dari tepung beras), pisang emas atau yang sejenis dan beras kuning yang dialasi dengan tangkih. Dapat pula ditambah dengan burat wangi dan lengawangi seperti pada canang buratwangi. Di atasnya barulah diisi bermacam-macam bunga diatur seindah mungkin dialasi dengan sebuah "uras sari/sampian uras".

Canang sari dilengkapi dengan sesari berupa uang kertas, uang logam maupun uang kepeng. Perlengkapan seperti tebu, kekiping, dan pisang emas disebut "raka-raka". Raka-raka melambangkan Hyang Widyadhara-Widyadhari. Pisang emas melambangkan Mahadewa, secara umum semua pisang melambangkan Hyang Kumara, sedangkan tebu melambangkan Dewa Brahma.

Canang sari dipergunakan untuk melengkapi persembahan lainnya atau dipergunakan pada hari-hari tertentu seperti: Kliwon, Purnama, Tilem atau persembahyangan di tempat suci.

CANANG PENGRAWOS

digunakan saat ngrawos atau membicarakan sesuatu, baik dalam rapat umum, meminang penganten ataupun saat nunas beras / meluasin.
alas taledan maplekir dg setiap sudut diisi kojong

  1. pinang (diletakkan di kojong)
  2. gambir ( diletakkan di kojong)
  3. tembakau (diletakkan di kojong)
  4. kapur (diletakkan di kojong)
  5. beberapa lembar base lembaran (bagian tengahnya)
  6. rokok dan korek api
  7. dibagian atasnya diisi ceper/taledan dg tangkih berisi beras kuning-minyak wangi
  8. sampian uras sari
  9. bunga
  10. rampe
  11. boreh miyik
Canang ini disebut juga canang pesucian yang terdiri atas dua buah aled atau ceper. Pada bagian bawah berisi kapur, pinang, gambir, tembakau yang dialasi dengan kojong. disusuni beberapa lembar daun sirih, sedangkan aled atau ceper yang lain berisi bija serta minyak wangi yang dialasi celemik atau kapu-kapu kemudian dilengkapi bunga yang harum.

CANANG PABERSIHAN 

digunakan saat menghaturkan banten pangresikan.
alas ceper/taledan maplekir dg 7 bh celemik

  1. ambuh ( daun pucuk diiris tipis/kelapa parut
  2. kakosok putih (tepung beras putih) atau kakosok kuning (tepung beras kuning)
  3. asem terbuat dari buah beras asem
  4. sisig yaitu jajan begina yang dibakar hingga gosong
  5. tepung tawar (campuran dadap-beras-kunir ditumbuk halus)
  6. wija/sesarik (beras dicuci dan direndam air cendana)
  7. minyak kelapa/minyak wangi

CANANG GANTAL 

biasanya digunakan saat pangresikan, dan dihaturkan bersamaan dengan Canang Pebersihan
alas ceper / taledan

  1. plawa
  2. lekesan 5bh / 7bh / 9bh /1 1bh (base lembaran diisi kapur dan pinang dan digulung lalu ditusuk) biasanya diisi juga Canang Tubungan.
  3. sampyan uras sari
  4. bunga
  5. rampe
  6. boreh miyik

CANANG MERAKA 

alas ceper/tamas

  1. plawa
  2. porosan
  3. raka-rakaan(buah-buahan)
  4. sampyan uras sari lengkap dg bunga dan rampe
Sebagai alas dari canang ini digunakan ceper atau tamas, diatasnya diisi tebu, pisang, buah-buahan, beberapa jenis jajan dan sebuah "sampian" disebut "Srikakili" dibuat dari janur berbentuk kojong diisi plawa, porosan serta bunga. Sesungguhnya masih banyak jenis-jenis canang tubungan, Canang Gantal, Canang Yasa. Canang pengraos dan lain-lain.

Pada umumnya bahan yang diperlukan hampir sama, hanya bentuk porosan dan cara pengaturannya yang berbeda. Rupanya pemakaian sirih, kapur dan pinang mempunyai dua fungsi sebagai simbul atau lambang yaitu:
  • Sirih melambangkan Dewa Wisnu
  • Pinang melambangkan Dewa Brahma
  • Kapur melambangkan Dewa Siwa

Untuk persembahan biasa berfungsi sebagai makanan, dalam hal ini penggunaannya dilengkapi dengan tembakau dan gambir.

Pada canang Raka sama seperti canang sari ditambah berisi lima macam buah dan berisi eteh-eteh pesucian. Maknanya adalah peleburan Panca Mala baik terhadap buana agung maupun buana alit, serta dianugrahkan Panca Amertha antara lain:

  1. Amerta Sanjiwani : disimbolkan dengan biu kayub dengan harapan umat bisa bijaksana
  2. Amerta Kamandalu : disimbolkan dengan buah salak agar memiliki kekuatan fisik, mental, akal dan budhi.
  3. Amerta Kundalini : disimbolkan dengan buah yang berwarna kuning seperti mangga, papaya, dan dan lainnya agar dianugrahkan kemakmuran, kesejahteraan dan nutug tuwuh
  4. Amerta Pawitra : disimbolkan dengan buah manggis agar memilki hati yang tulus ikhlas dan jujur
  5. Amerta Maha Merta : disimbolkan dengan buah jeruk dengan macamnya agar senantiasa memilliki batin yang suci untuk bisa menyatu kehadapan Sang Hyang Widhi.

Canang ini digunakan pada saat piodalan, mendem pedagingan, peperanian.

CANE / CANANG REBONG 

alas ulang kecil dihias dg jaro(janur berkeliling) dg ditengh-tengahnya ditancapkan batang pisang
  1. mangkuk kecil/takir berisi bija
  2. mangkuk kecil/takir berisi air cendana
  3. mangkuk kecil/takir berisi buratwangi
  4. kojong berisi tembakau
  5. kojong berisi pinang
  6. kojong berisi pinang
  7. kojong berisi rokok
  8. kojong berisi lekesan
  9. batang pisang dihiasi dengan bunga-bungaan
  10. cili dibagian atas batang pisang
  11. paku pipit dibagian atas batang pisang
Dipakai sebuah dulang kecil dihiasi dengan sesertiyokan dari janur. Ditengah-tengahnya ditancapkan batang pisang. Disekitarnya diisi perlengkapan lain seperti: Bija, Air cendana dan burat wangi, masing-masing dialasi dengan empat buah tangkir atau mangkuk kecil. Dilengkapi pula dengan kojong empat buah yang berisi tembakau, pinang dan lekesan yaitu, 2 lembar sirih yang dilengkapi dengan gambir dan kapur dan diikat dengan benang. Dapat pula ditambah dengan rokok dan korek api sebanyak empat batang.

Bunganya ditancapkan menlingkar pada batang pisang dan paling diatas diisi cili atau hiasan-hiasan lainnya. Cane dipergunakan terutama pada waktu upacara melasti dijunjung mendahului pratima atau dasksina pelinggih. Cane juga digunakan pada rapat-rapat desa adat untuk memohon agar pertemuan berjalan lancar. Setelah pertemuan selesai, cane akan dilebar yaitu dengan jalan membagi-bagikan air cendana, Bidja, Bunga serta perlengkapan lainnya.

CANANG OYODAN 

dipakai mendak panggungan atau ngening / nunas tirta ke beji
alas dulang berisi taledan maplekir / memakai trikona

  1. kojong berisi plawa
  2. kojong berisi porosan
  3. kojong berisi lengawangi
  4. kojong berisi buratwangi
  5. kojong berisi tebu
  6. kojong berisi pisang mas
  7. kojong berisi kekiping
  8. kojong berisi beras kuning
  9. tadah pawitra
  10. bunga-bungaan dengan ditusuk lidi sebagai hiasan dibagian atas badan dilengkapi hiasan janur lain yg ditancap pada batang pisang

TADAH PAWITRA / SUKLA 

alasceper / ituk-ituk / taledan kecil

  1. tangkih/kojong berisi pisang kayu matah
  2. tangkih/kojong berisi kacang komak
  3. tangkih/kojong berisi kacang putih
  4. tangkih/kojong berisi ubi/keladi goreng
  5. pelawa dan porosan dibagian atasnya
  6. wadah lengis
  7. bunga dan rampe
Bentuknya seperti canang genten ditambahkan dengan pisang kayu yang mentah, kacang komak, kacang putih, ubi dan keladi. Semua perlengkapan digoreng dan masing-masing dialasi tangkih dan kojong. Banten ini dipergunakan untuk melengkapi beberapa jenis sesajen seperti: daksina Pelinggih dan lain-lainnya.

CANANG YASA 

alas ceper / taledan yg diplekir

  1. tadah sukla
  2. kekiping
  3. pisang mas
  4. base tubungan 1 bh
  5. base tampelan 1 bh
  6. tembakau
  7. buratwangi-lengawangi
masing-masing dialasi kojong/tangkih

CANANG AGUNG 

alas ceper/taledan

  1. beras 4 tangkih yg ditumbuk halus (maseruh 11 kali dan dicuci dg air cendana)
  2. base tubungan 2 bh
  3. base tampelan 4 bh
  4. tadah pawitra
  5. pisang mas 4 bh

CANANG PAIKUP 

digunakan saat odalan mingkup sari
alas taledan maplekir

  1. kelapa gading dan kelapa bulan
  2. tangkih/kojong berisi tadah sukla
  3. tangkih/kojong berisi burat wangi
  4. tangkih/kojong berisi lengawangi
  5. tangkih/kojong berisi pisang mas
  6. tangkih/kojong berisi kekiping
  7. bunga berwarna 9
  8. base tampelan
  9. base tubungan
  10. daun cemara
  11. sampayan nagasari
  12. bunga sulasih
  13. majagau
  14. tembakau
  15. asep cina  / dupa harum / dupa pasupati

CANANG PASESULUH 

alas taledan dari janur

  1. lengawangi-buratwangi
  2. pelawa
  3. daun kedapan nagasari
  4. bunga

CANANG BRAKAT 

alasTaledan 1 :

  1. raka-raka 
  2. dodol
  3. kakiping
  4. pisang mas
  5. tadah sukla 1 tangkih

Taledan 2 :

  1. Daun bunga sulasih
  2. 4 bh base tubungan 
  3. 5 bh base lekesan 
  4. leletan 2 bh 
  5. base tampelan 2 bh 
  6. 2 btg rokok

Taledan 3 :

  1. rerasmen 4 tangkih 
  2. daun kedapan nagasari 
  3. asep cina 2 bh / dupa harum dupa pasupati
  4. minyak kelapa/wangi 
  5. menyan 
  6. dedes 
  7. buratwangi
  8. bunga 5 warna

    DAKSINA

    Alas Daksina disebut wakul Daksina atau bebedogan.
    Kedalamnya berturut-turut dimasukan:

    • tampak (sejenis jejahitan berbentuk silang atau tampak dara) 
    • beras, 
    • sebutir kelapa yang sudah dikupas sampai bersih (mekelas), 
    serta beberapa perlengkapan yang dialasi dengan kojong seperti:

    • telur itik yang mentah, 
    • bija ratus (campuran berbagai biji-bijian), 
    • gantusan (campuran berbagai jenis bumbu), 
    • Kelawa peselan (Daun salak, ceruring, Manggis,durian, dll), 
    • base-tampel, kemiri (tingkih), 
    • tangi, 
    • Pisang kayu yang mentah, 
    • uang, 
    • canang payasan, yaitu sejenis canang genten tetapi alasnya berbentuk segitiga ditempelin dengan reringgitan yang khusus. Dapat pula dilengkapi dengan canang buratwangi atau canang sari atau yang lain.

    Perlengkapan seperti telur itik uang, ataupun gantusan kiranya dapat digolongkan buah sebab pengertian buah mempunyai arti yang agak luas. Persembahan yang berupa daksina dianggap sudah lengkap sebagai mana disut dalam Bagawadgitha. Disamping itu penggunaan telir itik dan uang rupanya mempunyai fungsi tersendiri secara umum kelapa dapat digolongkan sebagai buah, tatapi yang lebih diutamakan airnya.

    Diusahakan mempergunakan telur itik bukan telur ayam sebab itik lebih banyak menunjukan sifat-sifat satwam sedangkan ayam lebih banyak menunjukan sifat rajas dan tamas oleh karena itu pula beberapa daksina terutama yang melambangkan bhutkala dipergunakan telur ayam, tetapi bila ditujukan kepada Hyang Widhi para Dewat dan Leluhur sedapat mungkin dipergunakan telur itik. Penggunaan uang yang disebut pula sesari atau akah kiranya untuk menyempurnakan isi daksina sehingga persembahan yang dilengkapi dilengkapi dengan daksina benar-benar diharapkan memberikan kesukseskan atau hasil yang sebagai mana diharapkan.

    Daksina disebut Juga "Yadnya Patni" yang artinya istri atau sakti daipada yadnya. Daksina juga dipergunakan sebagai mana persembahan atau tanda terima kasih, selalu menyertai banten-banten yang agak besar dan sebagainya perwujudan atau pertapakan. Dalam lontar Yadnya Prakerti disebutkan bahwa Daksina melambangkan Hyang Guru/ Hyang Tunggal kedua nama tersebut adalah nama lain dari Dewa Siwa.

    AJUMAN

    Bahan perlengkapan yang diperlukan untuk membuat ajuman adalah: nasi yang disebut "penek" atau "telompokan", beberapa jenis jajan, buah-buahan, lauk pauk berupa serondeng atau sesaur, kacang-kacangan, ikan teri, telor, terung, timun, taoge (kedelai), daun kemangi (kecarum), garam, dan sambal. Sebagai alasnya dapat digunakan "taledan" atau yang lainnya. Di atasnya diisi dua buah penek, lauk pauk yang dialasi dengan tangkih berbentuk segitiga, jajan buah-buahan dan sampaian soda (sampian ajuman) berbentuk tangkih. Kadang bagian atasnya dibuat agak indah seperti kipas disebut "sampian kepet-kepetan". Dapat pula dilengkapi dengan canang genten/ canang sari/ canang burat wangi.

    Ajuman disebut juga soda (sodaan) dipergunakan tersendiri sebagai persembahan ataupun melengkapi daksina suci dan lain-lain. Bila ditujukan kehadapan para leluhur, salah satu peneknya diisi kunir ataupun dibuat dari nasi kuning, disebut "perangkat atau perayun" yaitu jajan serta buah-buahannya di alasi tersendiri, demikian pula lauk pauknya masing-masing dialasi ceper /ituk-ituk, diatur mengelilingi sebuah penek yang agak besar. Di atasnya diisi sebuah canang pesucian, canang burat wangi atau yang lain.

    PERAS

    Perlengkapan serta cara penyusunannya hampir sama dengan ajuman, tetapi nasinya berbentuk tumpeng (dua buah), alasnya ditempeli "Kulit-peras" yaitu sejenis jejahitan yang khusus, sedangkan sampaiannya disebut Sampian Tupeng (Sampian Peras).

    Banten ini boleh dikatakan tidak pernah dipergunakan tersendiri, tetapi menyertai banten-banten yang lain seperti: daksina, suci, tulang-sesayut dan lain-lainnya. Dalam beberapa hal, pada alasnya dilengkapi dengan sedikit beras dan benang putih. Untuk menunjukkan upacara telah selesai, maka seseorang (umumnya pimpinan upacara) akan menarik lekukan pada "kulit-peras", dan menaburkan beras yang ada dibawahnya. Pada lontar Yajna-prakerti disebut bahwa peras melambangkan Hyang Tri Guna-Sakti.

    Kiranya kata "Peras" dapat diartikan "sah" atau resmi, seperti kata: "meras anak" mengesahkan anak, "Banten pemerasan", yang dimaksud adalah sesajen untuk mengesahkan anak/cucu; dan bila suatu kumpulan sesajen tidak dilengkapi dengan peras, akan dikatakan penyelenggaraan upacaranya "tan perasida", yang dapat diartikan "tidak sah", oleh karena itu banten peras selalu menyertai sesajen-sesajen yang lain terutama yang mempunyai tujuan-tujuan tertentu.

    BANTEN JOTAN

    Banten jotan (saiban) disebut pula "Yajnasesa", merupakan yadnya setiap hari bagi umat Hindu di Bali khususnya. Di India juga dapat ditemukan hal yang sama. Bahan perlengkapannya adalah: sedikit nasi, garam, serta lauk pauk lainnya yang baru dimasak. sebagai alas dapat dipakai daun atau piring kecil-kecil.

    BANTEN SUCI

    Alas dari banten suci ini adalah beberapa buah tamas. Warna jajan yang dipergunakan adalah putih dan kuning, jajan yang berwarna putih ditempatkan disebelah kanan dan yang kuning ditempatkan disebelah kiri. Di antara jajan tersebut ada yang dinamakan "sasamuhan" terbuat dari tepung beras yang dicampur sedikit tepung ketan, parutan kelapa serta air. Campuran tersebut lalu dibentuk kemudian digoreng. Jajan-jajan tersebut ada yang diberi nama: Kekeber, Kuluban, Puspa, Karna, Katibuan-udang, Panji, Ratu-magelung, Bungantemu dan lain sebagainya.

    Yang perlu diperhatikan di sini adalah perbandingan antara jajan yang berwarna putih hendaknya lebih banyak dari pada jajan yang berwarna kuning, misalnya 12:6, 9:5, 7:5, 5:4, dst.

    Pada banten suci tiap tempat /tamas diisi perlengkapan yang jumlahnya telah ditentukan, seperti: tamas yang paling bawah berisi pisang, tape, buah-buahan, masing-masing 5 biji/iris, jajan sesamuhannya 1 biji tiap jenis: tamas yang kedua berisi 2 biji/iris, dst. Secara sederhana 1 soroh suci terdiri dari: Suci, daksina, peras, ajuman, tipat kelan, duma (sejenis banten) pembersihan, canag lengawangi/ buratwangi, canang sari dan buah pisang. Pada upacara yang agak besar dilengkapi dengan perayunan.

    BANTEN GEBOGAN / PAJEGAN

    Gebogan atau pajegan adalah suatu bentuk persembahan berupa susunan dan rangkaian makanan termasuk juga buah-buahan dan bunga-bungaan. Umumnya dibawa dan ditempatkan dipura dalam rangkaian upacara Panca Yadnya. Ini karena keindahan bentuknya, hanya digunakan hanya sebagai dekorasi.

    CANANG PENGENGKAB

    Prinsipnya sama dengan membuat canang payasan yang membedakan adalah pada posisi tengahnya diletakkan takir yang berisi beras kuning dan satu base tubungan diletakkan pada posisi sebelah kanan. Takir yang berisi air cendana diletakkan pada sebelah kiri. Makna yang terkandung di dalamnya adalah untuk memohon kekuatan magis, kewibawaan atau taksu. Canang ini digunakan sebagai upakara saat piodalan yang berkenaan dengan tarian sakral (seperti topeng sidhakarya) atau alat musik yang digunakan dalam prosesi piodalan.

    CANANG SARASWATI

    Canang Saraswati digunakan sebagai upakara pada piodalan Saraswati yang jatuh pada Saniscara Kliwon Watugunung. Pada canang saraswati mempergunakan tamas yang berisi jajan, pisang, tebu, porosan, sampian plaus yang berisi selain itu juga terdapat celemik dengan isinya masing-masing seperti jajan suci bungan temu putih kuning , jajan suci kerang putih kuning, jajan suci kekuluban putih kuning, jajn suci karna putih kuning, jajan suci candigara putih kuning, celemik tersebut disusun mulai dari atas, kanan, bawah, kiri dan di tengah.

    Kemudian disusun lagi dengan ceper yang disusun pula dengan lima buah celemik berisikan pala gantung, pala bungkah, bubur warna merah dan putih, disusun kembali dengan ituk-ituk yang berisikan beras, benang, uang kepeng, dan porosan. Setelah itu diisi jajan saraswati yang dialasi daun beringin serta di atasnya ditutup dengan ranting beringin. Diakhiri dengan canang pesucian dan canang sari. Makna yang bisa ditangkap dari canang ini adala sebagai permohonan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi dalam hal ini Dewi Saraswati guna dianugrahi kepradnyanan dan kesiddhian.

    Dari sekian banyak canang yang disebutkan di atas, canang sari lah yang paling sering digunakan, sedangkan untuk yang lainnya bersifat musiman yang maksudnya digunakan pada upacara-upacara tertentu. Untuk lebih memahami makna dari canang sari, mengenai kelengkapan isi dari canang sari dijelaskan pada sebagai berikutnya. adapun Arti Simbolik Canang Sari dalam Upacara antaralain sebagai berikut:

    • Ceper sebagai alas suatu canang adalah simbol dari “Ardha Chandra”, sedangkan bila yang digunakan sebagai alas canang adalah tamas itu simbol dari “Windhu”
    • Porosan yang terdapat dalam canang simbol dari “silih asih” dengan harapan para umat menjalani yadnya tersebut dengan welas asih.
    • Selain itu di dalam ceper juga terdapat jajan, tebu, dan pisang sebagai simbol “tedong ongkara” yang merupakan perwujudan Utpetti, Sethiti dan Pralina.
    • Jika isi ceper tersebut sudah lengkap, di atasnya kemudian diletakkan sebuah urasari yang berbentuk lingkaran . Urasari simbol dari “Windhu” dan ujung-ujung dari urasari tersebut simbol dari “Nadha”
    • Di atas urasari disusunkan bunga-bunga dengan sesuai dengan arah mata angin. i) Warna putih diletakkan di sebelah Timur sebagi simbol dari Sang Hyang Iswara. ii) Warna merah diletakkan di sebelah selatan , pemujaan diarahkan pada Sang Hyang Brahma. iii) Warna kuning diletakkan di sebelah barat dengan memuja Sang Hyang Mahadewa. iv) Warna biru atau hijau di posisi utara dengan memuja Sang Hyang Wisnu, dan yang terakhir bunga kembang rampai yang diletakkan di tengah-tengah dengan pemujaan kepada Sang Hyang Panca Dewata.


    demikian sedikit informasi tentang nama - nama Banten Canang dan cara membuatnya, semoga bermanfaat

    Sabtu, 07 Juli 2012

    Dupa Harum Pasupati dan Aromatherapy Ganda_Siddhi

    DupaAromatherapy Ganda_Siddhi 

    pembuatannya diproses dengan menggunakan bahan baku terbaik dan melalui proses spiritual (Pasupati) sehingga aromanya menyebarkan berbagai macam energi mukjisat serta bermanfaat multiguna dan multifungsi.

    Kenapa dupa ini diberi nama ganda siddhi?

    ghanda siddhi
    Dupa Pasupati
    Ini disebabkan karena kasiat dari dupa ini bertitik tolah dari akar kata “g a n d a” yang artinya bau, dan “siddhi” yang artinya kemujizatan. Berdasarkan akar kata tersebut, dapat ditarik kesimpulan khasiat dari dupa ini adalah pada bau (aroma) dari asap dupa ini.

    Dari pengalaman dan laporan dari pasien klinik jala sidhi yang merupakan klinik rintisan dari yayasan pengajaran ghanta yoga serta para pelanggan yang sudah merasakan kemujizatan dupa pasupati ini, bahwa bau (aroma) dari dupa pasupati ini akan trus berubah – ubah, sesuai dengan kondisi pemakai serta keadaan lingkungan atau obyek yang dijadikan tujuan penggunaan dupa pasupati ini. Ada yang langsung mencium bau harum, ada juga yang merasakan seperti aroma terapi, sehingga banyak pelanggan menyebutkan dupa pasupati ini dengan sebutan dupa harum pasupati atau dupa aromaterapi. Tapi tak jarang juga para pengguna tidak mencium bau apa – apa tetapi orang dari kejauhan yang menghirup bau khas dari dupa ini.

    Apakah dupa ini bisa digunakan sebagai proteksi (penyengkeran)?

    Tentu bisa… karena tujuan awal diproduksinya dupa ini adalah sebagai pelindung / proteksi (panyengker) baik untuk perorangan (pribadi) pemakai maupun obyek lain sesuai dengan permohonan dari pengguna dupa pasupati ini, bisa berupa orang, benda ataupun tempat.


    Trus, berapa jarak atau radius proteksi nya?

    Ini merupakan salah satu pertanyaan yang sering dilontarkan kepada team usadha di klinik kami. Melalui artikel ini kami jelaskan bahwa radius/jarak proteksi dari kasiat dupa pasupati ini tidak ada. Kenapa? Karena ada analogi seperti ini…

    Bila kita ingin mendoakan diri/tempat tinggal kita, maka bisa kita katakan radius beberapa meter (7-20 meter). Tapi bagaimana bila obyek dari doa/perohonan kita itu berada diluar daerah atu tempatnya tidak diketahui? Tentu ukuran jarak sudah tidak berlaku lagi, dan seperti itulah salah satu khasiat dan kemujizatan dupa ganda sidhi.

    Apakah kasiat dupa ini bisa menangkal black magic (ilmu hitam)?

    Mengatakan ilmu hitam seperti kita ikut memvonis bahwa yang kita gunakan saat ini adalah ilmu putih. Tetaplah ingat, bahwa semua ilmu pengetahuan adalah ciptaan beliau yang maha kuasa. Jadi kategori penetapan ilmu hitam dan ilmu putih sangatlah susah, karena kesemua ilmu itu adalah 1 (satu) tapi manusianya itu menggunakan ilmu anugrah ilahi itu untuk tujuan apa dan merugikan orang /pihak lain apa tidak. Jadi dupa ini tidak menangkal ilmu hitam saja, tapi menangkal niat buruk yang merugikan pengguna dupa ini. Sehingga bisa dikatakan bahwa kasiat dupa ini lebih luas, tidak hanya sekedar ilmunya saja tapi mulai dari niat orangnya.

    Trus bagaimana untuk dagang, usaha atau bisnis?

    Sangat tepat bila anda pebisnis, pengusaha atau pedagang menggunakan dupa ini. Karena dalam pasupati ganda sidhi terdapat bau khas aroma terapi yang merangsang aura rejeki pencium dan atau pemakainya agar menjadi lebih memperlacar. Sehinga usaha yang dijalankan menjadi lancer, cepat berkembang dan murah rejeki. Dupa ini sangat erat kaitannya dengan betari sri sedana yang dikenal sebagai dewa rejeki dan dewa keberuntungan.

    Trus, apa intinya kasiat dupa pasupati ini?

    Intinya, dupa ini diproduksi bukan untuk menambah rejeki, menambah ilmu kebal atau menambah kewibawaan. Esensi dari dupa ini adalah pasupati dari ganda (bau) dengan menggunakan kekuatan ghanta sehingga pengguna dupa ini dapat lebih leluasa memohon kepada yang maha kuasa. Seperti halnya bypass yang mempercepat permohonan terkabulkan. Karena kekuatan ghanta adalah energy/shakti/kekuatan yang maha kuasa yang sudah ter-materikan / sudah riil bisa digunakan. Sehingga pengguna dupa pasupati ini tinggal “MENIATKAN” saja, tanpa harus menggunakan “MANTRA” tambahan atau yang lainnya. Hanya dengan doa (meniatkan saja) maka permohonan akan segera terkabulkan.

    Berikut Kegunaan atau Fungsi dari Dupa Ganda Sidhi:

    1. Persembahyangan, yakni menebarkan vibrasi positif yang akan memberikan kedamaian, sangat baik digunakan ketika sedang menghaturkan sembah atau pada saat mendekatkan diri kepadaNYA.
    2. Meditasi, mempercepat proses penyatuan pikiran sehingga tujuan meditasi akan lebih cepat tercapai.
    3. Memperlancar Usaha dan Rejeki. DupaGanda_Siddhi sangat cocok dinyalakan ditempat usaha/dagang, atau tempat dimana kita bekerja. Dupa Ganda Siddhi akan membersihkan aura negatif pada suatu tempat usaha/dagang serta akan membantu melancarkan dan meningkatkan usaha dan rejeki anda.
    4. Proteksi / Pelindung rumah dari energi negatif. DupaGanda_Siddhi sangat baik dinyalakan untuk berfungsi melindungi atau sebagai penyengker (pelindung gaib) pekarangan rumah anda dari unsur energi negatif.
    5. Membersihkan diri dari black magic dan energi negatif. Untuk pengobatan jika anda terkena unsur black magic, nyalakan dupa Ganda Siddhi, hirup aroma dupa Ganda_Siddhi dan niatkan untuk membersihkan diri dari pengaruh energi negatif. Proses penyembuhan akan lebih cepat jika ditambahkan dengan mengkonsumsi Air Mukjizat Jala Siddhi.
    6. Menjaga Keharmonisan rumah tangga. DupaGanda_Siddhi akan menghilangkan energi negatif dan akan menyebarkan energi positif dan cinta kasih sehingga keharmonisan rumah tangga anda akan selalu terjaga dengan baik.
    7. Untuk Nerang Hujan (pawang hujan), Dupa Ganda_Siddhi dapat digunakan untuk menahan datangnya hujan, tentunya pengguna dupa ini harus mengikuti aturan panerangan hujan, seperti puasa penerangan hujan.
    8. Memohon obat / kesembuhan. Dupa Ganda_Siddhi dapat juga sebagai sarana memohon kesembuhan. Setelah meniatkan tujuan tersebut, hirup beberapa saat asap (aroma) dari Dupa Ganda_Siddhi ini.
    9. Kewibawaan, Dupa Ganda_Siddhi dapat pula membangkitkan karisma yang menggunakan dengan memohonkan kepada Tuhan YME berupa TAKSU sehingga penggunanya menjadi lebih disegani, berkarisma dan dihormati orang – orang disekitarnya. disamping itu masih banyak manfaat dari dupa ini…

    Tata Cara Pemakaian/Penggunaannya adalah:

    setelah dupa dinyalakan, niatkan (do’a) dan aroma kemujizatan Dupa Ganda_Siddhi mengantarkan do’a tersebut sesuai dengan tujuan dan keinginan penggunanya, dan setelah itu tancapkan dupa tersebut. TANPA MANTRA tambahan.
    1 Box dupa GandaSiddhi terdiri dari 8 kotak kecil (bungkus), tiap kotak kecil tediri dari 30 pcs dupa dan digunakan hanya 1 batang / sekali permohonan, yang bermanfaat selama 1 hari.
    untuk harganya:
    • untuk pembelian eceran, Rp. 15.000,- / bungkus (kotak kecil)
    • untuk pembelian 1 box (isi 8 bungkus), harga Rp. 110.000,-
    NB. *) semua khasiat tersebut akan berjalan sesuai keyakinan anda, mengenai harga yang disebutkan belum termasuk ongkos kirim dan dapat berubah sewaktu – waktu. serta kami memberikan ruang KONSULTASI gratis buat pemakai/pengguna produk kami…

      untuk konsultasi gratis silahkan hubungi KLINIK JALA SIDHI atau datang langsung pada saat bakti sosialkemasyarakatan dari yayasan taman bukit pengajara.

      adapun produk lainnya adalah
      Kalung Ghanta Yoga
      Minyak Sidhiwaras
      Air Mujizat Jala Sidhhi
       sumber: http://umaseh.com/dupa-harum-pasupati-dan-aromatherapy-ganda_siddhi/