Tampilkan postingan dengan label Dwijendra Astawa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dwijendra Astawa. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 September 2012

mantra upacara Resi Yadnya

mantra upacara Resi Yadnya


Yang dimaksud dengan Rsi Yadnya, mawit sakeng pelaksanaan swadharmaning Sang Sadaka ring para janane sami, punika pisan sane ngawanang, I para jadmane wenten utang mabudi ring Sang Sadaka, kebawos Rsi Renam. Ring tepengan punika waluya kapatutang/dharmaning bhakti, satunggil diangken I Para Jana mangda mapunya ring Sang Sadaka sane pageh ngamong berate lan swadharmaning kasulinggihan; sapunika taler panungkalikanya Ida Sang Hyang Sedaka ring Ida Para Jana. (Pramadaksa, 1984). (arti bebasnya: berawal dari pelaksanaan kewajiban Sang Sadaka (Sulinggih), terhadap masyarakat pada umumnya, itu yang menyebabkan, disebut dengan Rsi Rnam. Pada kesempatan ini sepertinya telah dibenarkan sebagai wujud bhakti, untuk berkorban dengan tulus ihklas ring Sang Sulinggih, yang secara terus menerus menjalani hidup sebagai Sulinggih; demikian juga sebaliknya Beliau sang Sulinggih terhadap masyarakat).

Selanjutnya mengenai peraturan Sulingih telah diatur pada Himpunan Kesatuan Tafsir Terhadap. Aspek-Agama Hindu I-IX (1982-1982:14). Menyatakan bahwa: Tentang Kawikon/Sulinggih/Pendeta selaku Dwijati adalah suatu kedudukan khusus yang hanya bisa didapatkan dengan memenuhi syarat dan upacara menurut sesana serta sesuai dengan ketentuan-ketentuan Parisada.

Guru Pada Namas Karo

Om Guru-pada namas karaan, dewa-dewa stiti guruh.
Santi-pusti-wasat-karma, karya siddhis ca jayate;
Om Guru-paduka-byo namah, Waham wata - desyami
Guru-pada dasyat sada, nama namah swaha. (Pramadaksa, 1984).


Dwijendra Astawa

Ong brahmanem brahma murtinem,
Brahmo siwa murti wiryem,
Siwa sada siwa sirwatem,
Siwa loka pratistanem,
Brahma peraja dipem lokem,
Dwijendra baskara meretem,
Tatwad nyanem siwem,
Yoga sidyem murtinem.
Baskarem siwangga layem,
Dewa mantarem sidhi wakyem
dewa sandi sang yogatem,
Brahma Wisnu Mahe Suarem.
Siwa puja yoga meretem,
Sarwa jagat pratistanem,
Sarwa wigene winasanem,
Sarwa roga wisnu cartem,
Dwijendra purwa siwem,
Brahmanem purwanem siwem,
Bramana purwa tististanem,
Sarwa dewa masarirem,
Surya merta pawiranem
Yogi-yogi sarwa dewa, Brahma wangsabca,
Brahma putra pratistanem,
Sarwawa dewamca, Ong Guru dewem,
Sadasiwa maha wirye,
Sarwa dewa pratistanem.
Ong ganda pujiem Iswara nityem,
Nada grutyem dewa mantrem,
astawem dewa paragiyem,
Ongkara mantra pujitem oma winayem maha wiryem,
ya sarwa wigena wina sanem.
Om Sriam bawantu swaha.
Ong Brahmanem brahma murtiem,
brahma siwa murti wiryem,
siwa sada siwa meretem,
siwa loka pratistanem. (Gambar, 1986:47-8).

AUM Upacara Resi Yadnya

Selain pernyataan di atas, yang disebut dengan Resi Yadnya adalah penghormatan kepada nilai-nilai kebenaran yang sejati, yang biasanya dipegang oleh “Bhagawanta”, yaitu Resi yang dipercaya oleh Raja untuk menciptakan kesejahteraan dalam Suatu Negara.

Lontar yang disalin oleh Sri Rhesi Anandakusuma, dan penulis ringkas, dengan isinya sebagai berikut: Di Gunung Agrapati ada seorang Maha Reshi yang bernama Purbhasomya, Beliau seorang wiku yang telah melaksanakan segala dharma dari sejak masih kanak-kanak.

Kemudian datanglah seorang Raja yang bernama Bhanoraja, untuk memohon petunjuk agar mampu mengalahkan musuhnya yang memiliki kesaktian yang tidak terkalahkan, dan tidak terluka oleh segala macam senjata. Reshi Purbhasomya memberi petunjuk kepada baginda Raja agar melaksanakan,tiga macam syarat untuk mengalahkan musuhnya yaitu: Sang Hyang Astaka Widhi, Sang Hyang Purana Yadnya dan Sang Hyang raja Kerta.

Sang Hyang Astaka Widhi, adalah seorang pemimpin harus memiliki sifat-sifat utama yaitu:
  1. Sang Hyang Agni, membakar musuh yang ada dalam diri manusia. 
  2. Sang Hyang Samirana, harus mengetahui gerak-gerik rakyat yang bermaksud buruk atau baik.
  3. Sang Hyang Surya, memberikan penyuluhan dengan baik dan teratur. 
  4. Sang hyang Indra, memberikan kemakmuran agar rakyat cinta kepada pemerintah. 
  5. Sang Hyang Yama, menegakkan hukum tanpa pilih kasih. 
  6. Sang Hyang Baruna, memiliki pikiran yang cerdik dan menghukum penjahat negara. 
  7. Sang Hyang Wesrama, memberikan penghargaan bagi rakyat yang berjasa. 
  8. Sang Hyang Pertiwi, memberikan ajaran yang dimiliki, demi kemakmuran.Sang Hyang Purana Yadnya, memberikan hukuman sesuai dengan kesalahannya; kalau dia menggelapkan uang harus dikembalikan berupa uang, kalau ia membunuh maka dia harus dibunuh. 
  9. Sang Hyang Raja Kerta, Hukumlah mereka yang bersalah dengan hukuman yang masih berlaku sesuai dengan Undang-Undang, jangan sampai menghukum orang atas keinginan sendiri. 
Setelah mendapat petunjuk, dari Reshi Purbhasomya maka Baginda Raja melaksanakan petunjuk itu dengan baik. Akhirnya musuh-musuh baginda Raja dengan mudah dapat dikalahkan. Pesan terakhir dari Reshi Purbhasomya, untuk mengangkat Reshi sebagai “Bhagawanta” dengan dua belas kreteria sebagai berikut:
  1. Wiku Panjer, dengan tekun melakukan kewajiban siang maupun malam untuk mendapat dana punia (guru yaga), banyak mempunyai sisia, banyak bekerja sehingga mempunyai istri lebih dari seorang.
  2. Wiku Cendana, wiku yang senantiasa berpegangan kepada sastra, memperlihatkan Candi Prasada, dengan maksud berguru kepada Dewa Parameswara dan berhasil memiliki ilmu yang utama.
  3. Wiku Ambeng, bersama-sama belajar keluar negeri bersama pedagang, menjual ilmu pengetahuannya. Demikian saja pekerjaan-nya.
  4. Wiku Pangkon, wiku yang tidak bersaksi. Pikirannya hanya berguru kepada Sang Hyang Widhi Wasa, hingga memiliki ilmu yang tinggi.
  5. Wiku Palang Pasir, wiku yang mengajarkan ilmu kepada orang lain dengan memikat hati masyarakat (amancing updesa). Dengan cara demikian agar dapat guru yaga.
  6. Wiku Saba Ukir, wiku yang membuat kebaikan dengan memberi petunjuk jalan (ngentas) kepada rohnya orang yang meninggal dunia, karena ia memerlukan mendapat mas perak. Begitulah ia laksanakan untuk mendapat guru yaga.
  7. Wiku Sangara, Wiku mengawini wanita walaka.
  8. Wiku Grohita, Wiku yang mempunyai Nabe lebih dari satu orang.
  9. Wiku Bramacari, mempunyai pengetahuan yang baik dan tidak beristri dari sejak kecil hingga lanjut usia. Tidak mementingkan harta benda, hidup sederhana, bebas dari suka duhka dalam pergaulan di masyarakat.
  10. Wiku Grahasti, wiku hidup berkeluarga, beristri dan berputra tinggal didesa atau dikota hidup dalam masyarakat, menerima tamu, memuja homa, berbakti kepada Dewa di kahyangan, teguh melakukan yoga semadhi, menyelesaikan (muput) upacara yadnya agar menerima guru yaga, dengan senang hati menolong orang yang menderita kesusahan, selalu berbuat kebajikan, tidak mempunyai keinginan mengumpulkan kekayaan.
  11. Wiku Wanaprasthi, Wiku tinggal menetap ditengah-tengah hutan, tidak beristri, berbakti kepada Dewa, kepada Sang Hyang Widhi Wasa, melakukan yoga semadhi, meningkat-kan filsafat kebatinan (ambek niskala), mengajar ilmu pengetahuannya kepada siapa yang memohonnya.
  12. Wiku Sanyasi, Wiku senantiasa memperdalami kesusastraan, ahli dalam segala macam filsafat, mengembara di dunia, tidak tetap tinggal di masyarakat (ndatan ring negara krama), siang dan malam pandangannya sama, rajin menghadiahkan buku (mendana pustaka), telah sempurna tentang Tri Dharma (Dharma Tiga). Beliau tidak beristri. Pikirannya terasa terbang, dunia ini dipandang rumahnya.
Itulah agar Sri Aji (Baginda Raja) memaklumi ada 12 macam wiku, wiku yang disebut dari angka 1 sampai dengan angka 8 itu, dipandang wiku yang ada cacatnya (wiku ceda). Kalau wiku tersebut dipakai pendeta raja dan negeri; maka pemerintahan (keprabon) bisa menjadi goyah. Dari sebab itu patutlah dipakai Sri Aji memperhatikan benar-benar keadaan Wiku yang akan dipakai pendeta untuk istana dan negeri. Wiku yang disebut dari angka 9 sampai 12 dinamai Wiku catur Asrama, tidak bercacat, suci dan melakukan dharmanya wiku (dharmaning kawikon).

Ada tiga lagi yang patut mendapat perhatian agar pemerintah tetap stabil, yaitu: 1.Suptamaya, dukun yang percaya kepada mimpian, 2.Ragamaya, dukun menurut kehendaknya sendiri, tidak bersandar Sastra, 3.Pradhanamaya, dukun yang mengeluarkan kata-kata yang beraneka macam. Kalau ketiga ucapan dukun itu Sri Jaya percaya saja, tidak boleh tidak negeri ini akan goncang dan menderita. (Anandhakusuma, 1994: 3-33)

Selasa, 25 September 2012

kumpulan doa dan mantra untuk pemangku

kumpulan doa dan mantra untuk pemangku


Caru manca rupa. (dagingnya bisa diganti)

(Asubang bungkem, bebek bulu sikep, sami ngajak suci, sami ngeed, asu kelod kauh genahnia, ingulah ketengan (66), dadi akarang, kambing kaja kauh genahnia, ingolah ketengan (11), dadai akarang, muang siap putih siungan, kauh genahnia, ingolah ketengan (7) dadi akarang. Sate siap selem kaja genahnia, ingolah ketengan (4) dadi akarang.

Iki peretiyaksa kena/pedasang mekayun. 

(Agar diperhatikan dengan baik dan dikaji secara mendalam untuk kepentingan dengan tujuan kebaikan).
Yan caru panca sanak tan milu kambing, angsa pada wenang,
Pemadem bawi butuan, paksi kokokan wenang,
Pemadem kidang bebek putih jambul wenang,
Pemadem kebo, bebek selem (wenang),
Pemadem kambing, sata kanguru, siyung wenang,
Pemadem angsa sata buik bulu gadang wenang
Yan tan wenang mademan banteng,
wenang kukur anggen pateh ring banteng
Yan tan wenang mademang ciciri (kuluk),
Wenang bebek belang kalung angge, pateh ring asu.
Yan tan mademang kambing,
wenang siap kelawu gerungsang angge, pateh ring kambing
(Gambar, 1986:26-28).


Salwiring Pamanes Karang.

Kapanjingan gelap, muang puun, wenang ngadegang pelinggih-pelinggih padma, andap, palinggih Ida Sang Hyang Kala Maya, anadi kala deset, muah yan ana kayu rempak, pungkat muang punggel, tunggal panese, tan pegat amilara, muah yan ana Nyuh mecarang, jaka mecarang, biyu mecarang, muah wetunia kembar, tunggal panese, kadi ageni baya ngaran.

Yan ana pakubuan, sebarang kuburan, keni ketampig antuk aturupungkat punggel karipu baya ngaran.
Yanana sanggah pungkat muang paon, malih jineng pungkat tanpa kerana, muah katiban amuk kepanca baya, ngaran panes karang ika, yan tan magawe pungkate, panes karang ika. Ngaran kewala pinika cacad, tan wenang malih angge, wenang gentosin lakarnya, samian, muah yan ana wong mentik ring bataran salu, wong baya ngaran, panes yan ana samangkana, apan sampunang lakung ring petang dasa dina mangde puput mecaru, dados caru ika alitan, yan langkung ring petang dase dina, ikang ageng nagih caru.

Yan ana karang tumbak, rurung, katumbak jalan, katumbak labak, katumbak jelinjingan, katumbak pangkung, panes karang ika; Sang Hyang Kala Durga agawe lara, wenang ngadekaken padma alit palinggih Ida Sang Hyang Durga Maya.
Muah yan ana karang namping pempatan, muah marga tiga, namping pura, namping bale banjar, patuh panese.
Muah yaning tabuan kulit, muah nyawan ring umah, ring salu (bale) ring pakubuan, patuh panese.
Yan ring lumbung sanggah kemulan ayu ika.
Muah yan ana ingon-ingon patik wenang-wenang (ubuan-ubuan) salah rupa, wetune, panes ika: wenang rarung kesegara, tugel gulune, kewandania tambek antuk duin blatung, talining budur, buangan ring paro nidi (ring segara ) raris gelarana panca tawur.
Muah yan ana asu (kuluk) muah bangkung amanak tunggal, maung menadi nur, panes karang ika. Muang ya ana taru salah pati, muang manusa salah pati ring pekarangan, patuh panese karang ika, apan manusane menyama ring taru muah mamuatan idihang nasi, muang baktini, yadin anggen banten, sami taru ika ajak urip katekaning pati
Muang yan ngingsirang padengenan, muang lumbung pebrahman, tekening kandang, sembarang linggih widhi, ika teka wenang gingsirang, ika ngadekaken gering tan paingan.
Malih caru karang kageringan, karang angker, umah sane ngenahan tan maren miyegan wenang acinin karang ika.
Semuanya itu harus di buatkan tawur.
Luwir carune (tawurnya).
Ayam putih meolah, dadi limang tanding, sane atanding mesate lembat asem, pada petang katih suwang, wakulange winangun urip, tumpengnia pada medanan mecaru bilang bucuning karang, yan tan caruning ngimuh ikang kala buta kabeh, muang temahan dasania sanguduwe umah, tan mangga ya sania, wanguduwe umah, rahina wengi ketadah antuk kalan betari Durga. Yan sampun tawurin enak sang kala bute kabeh matemahan ayu sang ngadruwe umah.
Iki Mantra:
Ih kita buta jigra (jigra maya) marupa amanca warna,
kita ratuning bute kala dengen,
meanak i pemali pulung raksa,
I nyundar andir, eka dasa ruang ira,
kita agawa\e apanjingan yang lalah,
kesandering gelap, aktiban amuk,
kalebok amuk, kasiratang rah,
mati megantung, saluwiring cuntaka kala baya,
kapurna denira sang bute jira mangsa,
Ong kesma sampurnaya namah,
Sa. Ba. Ta. A. I. Na. Ma. Si. Wa. Ya
Ong Ang Ong Mang.

Puja Pemali
Pakulun kaki pemali,
Ni pemali ingsun angundurang pemali agung,
Mapesengan I Gular Bumi.
Paramantrining pemali, mangaran I Guyangati.
Perbekel ipemali ngaran : I Tunjakati
Sedaan ipemali ngaran : I Sanriati.
Penyarikan ipemal ngaran : I Tumbak api.
Kasinoman ipemali ngaran : I Tuwek wesi.
Bujangganing ipemali ngaran: I Muyang-Maying.
Juru candek ipemali ngaran : I pular-Palir
Dewaning pemalai ngaran : Sang ratu Mejaya.
Panjak pemali ngaran:
Pemali bantang.
Pemali tunggak.
Pemali tunggek.
Pemali paek.
Pemali jengat.
Pemali brahma.
Pemali wisnu.
Pemali pulung.
Pemali suket.
Pemali jalinjing.
Pemali tukad.
Pemali sawah.
Pemali seme.
Pemali desti
Pemali teluh.
Pemali moro.
Pemali amgin.
Satus kutus ananing pemali,
teke kita kabeh pada patuh lingkup,
asanak ring punanu,
sangadruwe caru punika ana ganjaran nira
katur ring kaki pemali, nini pemali paingkup agung,
asung anugraha, amukta ya sari lawan sama kira kabeh,
wehana wado cara samodaya,
sampun sira malih anggeringin,
jadma manusa punanu wehana urip waras,
dirgayusa tekaning anak putu nira kabeh,
amukti ta sari ring kahyangan sira suang-suang.
Ong sarwa pemala-pemali byoswaha.
Apan aku umawak sang Hyang Brahma Jati.

Pengasih Buta Muang Dewa.

Ingsun angadepana sang Hyang Tunggal,
Rumasuk ring sariraning ingsun,
trinadi sama baktya, dewa mantaramasya,
buta wigraha masya, mausya sidya masya,
apan aku Sang Hyang Tunggal,
amatuha tri nadi, sing teke patuh ikup
ingkup ingkup ingkup. (Gambar, 1986:38).

Dwijendra Astawa.

Ong brahmanem brahma murtinem,
Brahmo siwa murti wiryem,
Siwa sada siwa sirwatem,
Siwa loka pratistanem,
Brahma peraja dipem lokem,
Dwijendra baskara meretem,
Tatwad nyanem siwem,
Yoga sidyem murtinem.
Baskarem siwangga layem,
Dewa mantarem sidhi wakyem
dewa sandi sang yogatem,
Brahma Wisnu Mahe Suarem.
Siwa puja yoga meretem,
Sarwa jagat pratistanem,
Sarwa wigene winasanem,
Sarwa roga wisnu cartem,
Dwijendra purwa siwem,
Brahmanem purwanem siwem,
Bramana purwa tististanem,
Sarwa dewa masarirem,
Surya merta pawiranem
Yogi-yogi sarwa dewa, Brahma wangsabca,
Brahma putra pratistanem,
Sarwawa dewamca, Ong Guru dewem,
Sadasiwa maha wirye,
Sarwa dewa pratistanem.
Ong ganda pujiem Iswara nityem,
Nada grutyem dewa mantrem,
astawem dewa paragiyem,
Ongkara mantra pujitem oma winayem maha wiryem,
ya sarwa wigena wina sanem.
Om Sriam bawantu swaha.
Ong Brahmanem brahma murtiem,
brahma siwa murti wiryem,
siwa sada siwa meretem,
siwa loka pratistanem. (Gambar, 1986:47-8).

Surya Sewana (Bila sakit tidak ada obatnya).

(Bila sakit tidak bisa disembuhkan dengan obat: Tidak boleh makan garam, dan segala macam daging binatang dan burung. Basuhlah diri anda dengan jeruk, dan setelah itu mandi seperti biasa, matirtha. Setelah itu lanjutkan Masurya Sewana, pusatkan pikiran kepada dewa Surya dan Sang Hyang Candra.)
Jayem suarem maha merethem,
puspadem sarwa nisithem,
papa klese maha datem,
mala petaka wisudha.
Ong bajra patni niti dewem,
Ong gangga dewa nugrahakem,
Surya candra nugrahakem.
Pusatkan pikiran pada Sang Hyang Candra.
Ong Ang Sang Hyang Candra ring netra kiwa,
Sabda iki Sang Hyang Cumerini,
Rupa kadi purnama katon.
Ong amertha dewi maha niti,
Astawem maha seranem,
Ratna pratista susuarsa,
Predanta puspa seranem,
Sri danta beraraba matanem,
Jaya-jaya nama mertha,
Puspa seri suara,
Merik siksa sarwa predana,
Ong Yang Srise Yang
Prastawa.