Tampilkan postingan dengan label Ida Rsi Madura. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ida Rsi Madura. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Desember 2012

Bhujangga Waisnawa Perjalanan Ida Rsi Madura di Bali

Bhujangga Waisnawa Perjalanan Ida Rsi Madura di Bali

Perjalanan Ida Rsi Madura ( abad 12 M - 13 M )

Ida Rsi Madura merupakan seorang rsi maha sakti yang berasal dari Madura, tepatnya ida berasal dari suatu daerah di Madura yang seluruh tanah disekitarnya berwarna merah yang sekarang dikenal dengan daerah Tanah Merah. Lokasi griya beliau disana berupa rumah panggung yang berada di suatu tanah lapang luas yang dekat dengan sumber air seperti danau kecil yang sampai sekarang keberadaannya tetap dikeramatkan dan disucikan di sana. Ida Rsi Madura merupakan guru suci dan guru silat dari Arya Wiraraja, semua ide diBalik kebangkitan Majapahit, termasuk kenapa Arya Wiraraja dari tanah Madura mau membantu Raden Wijaya berasal dari beliau. Akan tetapi keberadaan beliau sebagai pendeta alam yang lebih senang dekat dengan alam terutama alam laut dibandingkan duniawi menyebabkan jarang orang yang mengenal beliau. Dan mungkin tidak ada yang menyangka bahwa beliau adalah aktor utama diBalik kebangkitan Majapahit. Setelah majapahit berdiri beliau ditawarkan kedudukan sebagai pendeta utama penasihat raja, akan tetapi beliau memilih merantau ke tanah Bali untuk menapak tilas dan melanjutkan perjalanan leluhur beliau Ida Rsi Markhandeya untuk menata pulau Bali.


Dalam perjalanan beliau dari Jawa menuju Bali, beliau singgah di beberapa tempat seperti kediri ( Pura Agung Sekartaji ), dan yang paling lama beliau singgah adalah Alas Purwo. Tempat pertapaan beliau jaman itu, sekarang ini dikenal dengan nama Pura Situs Kawitan di Alas Purwo yang letaknya didekat Pura Giri Slaka. Disini beliau bertapa tahunan untuk menemukan petunjuk tentang pulau Bali umumnya dan untuk menemukan jejak perjalanan leluhur beliau ida maharsi Markhandeya di tanah Bali khususnya. Selama pertapaan di alas purwo ini beliau didatangi oleh seekor babi hutan besar yang merupakan raja hutan alas purwo yang bernama celeng cemalung. 

Celeng cemalung meminta ida rsi Madura untuk menata sisi spiritual alas purwo. Oleh karena itu, ida rsi Madura selama pertapaan beliau di alas purwo ini banyak sekali melakukan penataan-penataan tempat spiritual di alas purwo. tempat-tempat yang beliau tapak dan beliau tata inilah yang zaman berikutnya dipakai tempat bertapa oleh Gajah Mada sampai ke jaman Soekarno. Setelah beliau mendapatkan petunjuk tentang tanah Bali. Beliau kemudian melanjutkan perjalanan ke tanah Bali.

Singkat cerita ditanah Bali, beliau lama berdiam diri didaerah seputaran danau Tamblingan bahkan beliau memperistri putri dari Ida Dalem Tamblingan ( penguasa daerah seputaran Bali Utara pada jaman itu). Selama beliau bertapa didaerah seputaran Bedugul, beliau membuat sebuah padepokan silat yang sangat besar yang terletak di areal kebun raya bedugul. Di tempat ini beliau banyak mengangkat murid yang berasal dari berbagai etnis yaitu, Bali, cina, dan Jawa.

Selama berdiam diri disini beliau banyak mendirikan pura-pura yang pada jaman sekarang telah ditemukan sumber bukti tertulis ( purana/prasasti ) bahwa Beliaulah pendiri pura-pura tersebut. Pura-pura tersebut antara lain : Pura Dalem Tamblingan, Pura Puncak Rsi ( bukit sangkur ), Pura Penataran Beratan, Pura Puncak Pengungangan, Pura Terate Bang, Pura Baru Meringgit dll.

Setelah lama berdiam diri disini beliau kemudian melanjutkan perjalanan untuk menelusuri jejak perjalanan leluhur beliau Ida Rsi Markhandeya di tanah Bali. selama perjalanan menelusuri jejak leluhur bhujangga di Bali inilah beliau banyak mendirikan Pura Dalem Pauman Bhujangga ditempat berkumpulnya keluarga bhujangga di daerah-daerah tertentu di Bali. Pada saat menelusuri jejak perjalanan leluhur inilah beliau mendapatkan petunjuk tentang tempat moksanya Ida Rsi Markhandeya yaitu di Gunung Bhujangga Bali. kemudian beliau pergi kesana untuk memohon restu hendak melanjutkan tugas leluhur bhujangga di Bali sebagai penjaga dan pendoa keseimbangan pulau Bali beserta segala isinya. Setelah sungkem di tempat moksa Ida Rsi Markhandeya di puncak sepang bujak (gunung bhujangga) kemudian Ida Rsi Madura turun hendak melanjutkan perjalanan. Sebelum melanjutkan perjalanan beliau membuat pura di sekitar tempat itu untuk sebagai tempat pengayatan ke Puncak Sepang Bujak ( tempat moksa Ida Rsi Markhandeya yang sangat dikeramatkan, sehingga disana tidak boleh dibangun bangunan apapun juga). Pura pengayatan ini yang jaman sekarang ini dikenal dengan Pura Asah Danu. Singkat cerita setelah memohon restu kepada Ida Maharsi Markhandeya beliau kemudian melanjutkan perjalanan mengelilingi Bali.

Perjalanan beliau mengelilingi Bali terutama sekali dilalui dengan mengelilingi pantai-pantai di Bali. Di sepanjang pantai-pantai ini beliau bertapa dan membangun pura-pura. Pura-pura inilah yang pada jaman sekarang ini dikenal dibangun oleh Ida Peranda Sakti Wawu Rauh. Setelah selesai mengelilingi pantai Bali ternyata beliau belum menemukan kekuatan dalem segara yang sebenarnya. Dari hasil tapa beliau ternyata beliau menemukan kekuatan dalem segara gni di Bali berpusat di lautan seputaran kepulauan Nusa Penida. Oleh karena itu beliau kemudian melanjutkan perjalanan ke Nusa Penida.

Pada tahun-tahun terakhir usia beliau di dunia ini, beliau memilih kepulauan Nusa Penida sebagai tempat bertapa dan tempat untuk kembali ke sang pencipta. Pada awalnya beliau memilih tempat untuk moksa atau kembali ke sang pencipta di Puncak Tunjuk Pusuh, Nusa Penida. Akan tetapi setelah beliau bertapa sekian lama akhirnya beliau mendapat jawaban bukan di sana tempat yang cocok. Akhirnya beliau berjalan ke selatan dan akhirnya menemukan suatu batu berbentuk lingga di tengah laut dengan diameter 3 meter dan tinggi sekitar 33 meter, dimana batu ini sampai sekarang masih berada disana. Sesampainya ditempat ini beliau kemudian bertapa, dan hasil tapanya beliau mendapat petunjuk untuk membuat rakit dan mengayuh rakit ke tengah laut dimana ditengah laut di atas rakit inilah akhirnya beliau moksa dan diberi gelar Ida Rsi Dalem Segara (Ida Betara Lingsir Dalem Segara), berketu hijau berselempang hijau. Dilokasi tebing dekat dengan batu lingga itu sekarang berdiri Pura Sekartaji yang diempon oleh seluruh warga bhujangga yang berdomisili di dusun Sekar Taji, Nusa Penida.
Sumber : Guru Made Dwijendra Sulastra.

Bhujangga waisnawa Ida Maharsi Madura di danau beratan

Bhujangga waisnawa Ida Maharsi Madura di danau beratan

Menurut Raja Purana Pura Puncak Pengungangan, Bedugul. 

Menyebutkan tentang perjalanan Ida Rsi Madura dengan diiring sekitar 400-800 orang pengikut beliau datang dari jawa ke daerah seputaran Danau Beratan untuk melakukan pertapaan dan untuk membangun tempat-tempat suci. 

Begitu juga seperti tersebut dalam Bhuana Tattwa Rsi Markandeya, dimana dinyatakan bahwa Ida Rsi Madura memperistri anak dari Ida Dalem Tamblingan yang bernama Ida Dewa Ayu Sapuh Jagat. 

Dari dua sumber tertulis ini dapat ditelusuri bahwa Ida Rsi Madura pernah lama bertempat tinggal di daerah seputaran Bedugul. Di seputaran tempat ini, beliau banyak membangun tempat suci atau pura yang banyak mengadopsi arsitektur Jawa disesuaikan dengan tempat kelahiran dan asal Ida Rsi Madura yaitu dari daerah Madura. Pura-pura ini kalau kita telusuri dari daerah selatan adalah:

  • Pura Puncak Sari, 
  • Pura Puncak Kayu Sugih, 
  • Pura Puncak Pengungangan, 
  • Pura Batu Meringgit, 
  • Pura Puncak Terate Bang (Pura Puncak Bukit Tapak), 
  • Pura Penataran Beratan, 
  • Pura Candi Mas, 
  • Pura Puncak Rsi, 
  • Pura Puncak Taman Sebatu (Pura Ulun Danu Beratan yang asli). 
Pura-pura ini terletak diseputaran Danau Beratan. Kemudian di Danau Buyan beliau membangun Pura Ulun Danu Buyan. Di samping di seputaran Danau Beratan dan Banau Buyan, pada jaman itu beliau juga memugar dan memperbaiki serta menandai pura-pura diseputaran Danau Tamblingan seperti :


  • Pura Ulun Danu Tamblingan, 
  • Pura Pengubengan, 
  • Pura Endek, 
  • Pura Dalem Tamblingan, 
  • Pura Tirta Mengening, 
  • Pura Puncak Lesung, 
  • Pura Naga Loka. 

Inilah sekilas jejak perjalanan Ida Betara Lingsir Rsi Madura di daerah seputaran Danau Beratan, Danau Buyan dan Danau Tamblingan.Berikut ini penulis akan coba memaparkan lebih jauh tentang perjalanan Ida Maharsi Madura dari seputaran danau beratan (Sumber : Pewisik Niskala). 

Ida Rsi Madura merupakan seorang Maharsi sakti yang berasal dari tanah Jawa. Beliau merupakan kombinasi antara karakter seorang brahmana dan ksatria. Dulu di India karakter ini dimiliki oleh salah satu dari 10 awatara dari Dewa Wisnu yaitu Parasu Rama Awatara. Parasu Rama merupakan seorang brahmana yang terlahir sebagai anak dari Rsi Jamadagni. Meskipun beliau terlahir sebagai seorang brahmana akan tetapi karakter utama yang muncul dalam diri beliau justru sifat seorang ksatria, dimana kemana-mana beliau membawa kapak dan memerangi para ksatria yang berbuat tidak adil di muka bumi ini. 

Begitu juga Ida Betara Lingsir Rsi Madura. Beliau terlahir sebagai putra dari Ida Maharsi Sunia Murti. Dari kecil beliau dibentuk dengan karakter seorang brahmana, akan tetapi semakin mendekati dewasa, justru sifat ksatria yang semakin jelas kelihatan dari diri beliau. Beliau sangat senang berkelahi terutama untuk membela kaum yang tertindas. Beliau sangat senang bertapa untuk mendapatkan wahyu ilmu kedigjayaan. Sampai suatu saat beliau mendapatkan pusaka keris dari hasil bertapa beliau pada waktu remaja mendekati dewasa di pesisir pantai Madura. Semenjak saat itu ida Maharsi Madura tidak pernah terpisahkan dengan keris seumur hidup beliau. 

Beliau merupakan satu-satunya pendeta brahmana yang setiap saat menyelipkan keris dipinggang beliau. Karena kesaktian beliau yang sangat tinggi, sehingga banyak orang yang berguru kepada beliau. Salah satu murid beliau adalah Arya Wiraraja, yang nantinya akan menjadi penguasa pulau Madura. 

Ketika Raden Wijaya meminta bantuan kepada Arya Wiraraja untuk membantu menumbangkan kerajaan kedirinya Jaya Katwang, Ida Rsi Madura juga yang memberikan petunjuk-petunjuk perang, bekal-bekal aji kesaktian sehingga akhirnya pasukan Raden Wijaya dan pasukan Arya Wiraraja dibantu oleh pasukan dari negeri Cina bisa menumbangkan pemerintahan Jaya Katwang. Hingga akhirnya Majapahit berdiri. Setelah Majapahit berdiri beliau ditawarkan jabatan untuk menjadi kepala pendeta kerajaan Majapahit, akan tetapi beliau menolak karena pada waktu itu beliau mendapat wahyu dari leluhur beliau Ida Maharsi Markandeya untuk datang ke pulau Bali, melakukan suatu tugas suci membangkitkan tempat-tempat suci serta memperkuat pondasi keagamaan di Bali. 

Pada waktu keberangkatan beliau dari Jawa menuju Bali beliau banyak diiringi oleh para pengikut beliau, terutama disertai oleh beberapa para mpu pembuat keris yang memang sengaja diajak ikut oleh Ida Rsi Madura untuk membuatkan beliau keris-keris, baik untuk pribadi maupun untuk persenjataan disepanjangan perjalanan. Pada waktu itu belum ada klan atau soroh Pande di Bali. 
Para pembuat keris yang diajak oleh Ida Rsi Madura beserta para keturunannya inilah yang kelak akan dikenal sebagai klan atau soroh pande di Bali. 

Singkat cerita sampailah pada perjalanan beliau di daerah seputaran Danau Beratan, disini pertama beliau bermalam di daerah yang sekarang menjadi lokasi pura Penataran Beratan. Karena dinginnya kondisi alam membuat beliau dan para pengikutnya cukup sulit untuk bisa beradaptasi, kemudian beliau mencari tempat yang cocok untuk bersemedi serta untuk menyesuaikan diri dan beradaptasi dengan alam diseputaran Danau Beratan. Kemudian beliau berjalan ke arah selatan dan sampai dilokasi Pura Puncak Pengungangan. Disini beliau bertapa di atas sebuah batu bundar yang sampai sekarang masih ada di pura itu. Di sini beliau memuja kekuatan trimurti dengan mengucapkan japa mantra.. OM ANG UNG MANG OM..berulang kali, mendengar doa pemujaan Ida Rsi Madura yang begitu tulus dan murni maka salah satu Dewa Tri Murti yaitu Dewa Brahma berkenan turun di puncak bukit yang berhadapan dengan lokasi bertapa Ida Rsi Madura ini. Dari atas puncak bukit itu mengalir udara hangat sehingga Ida Rsi Madura dan para pengikut beliau bisa selamat dari bahaya cuaca ekstrim yang sangat dingin pada waktu itu. Lokasi tempat Ida Maharsi Madura bertapa memuja kekuatan Sanghyang Tri Murti itu sekarang dikenal dengan nama Pura Puncak Pengungangan. Dimana kata pengungangan itu berasal dari kata ANG UNG MANG. Puncak bukit dimana Dewa Brahma berkenan turun untuk memberkati doa Ida Rsi Madura, sekarang dikenal dengan nama Bukit Puun. 

Kenapa dinamakan Bukit Puun?

karena khusus hanya di bukit ini, setiap beberapa tahun sekali pasti terjadi kebakaran di puncak bukitnya, sesuatu yang seharusnya sangat susah terjadi di daerah dengan cuaca dingin dan berkabut setiap hari seperti di daerah Bedugul. Akan tetapi menurut beliau hal itu terjadi untuk mengingatkan warga masyarakat di Bedugul bahwa puncak bukit itu dahulu pernah di pake Dewa Brahma untuk menurunkan kehangatan di daerah seputaran Danau Beratan sehingga manusia bisa bertempat tinggal dan hidup menetap ditempat itu. Dan anehnya, setiap kali terjadi kebakaran di puncak Bukit Puun maka apinya sangat susah untuk dipadamkan. Apinya baru bisa dipadamkan jika masyarakat mau berkaul dan melakukan pemujaan di batu bundar tempat bertapa Ida Rsi Madura, setelah itu pasti turun hujan lebat bisa sampai berhari-hari, barulah kebakaran di atas puncak bukit itu bisa padam. 

Selama bertapa di tempat yang sekarang dikenal dengan nama Pura Puncak Pengungangan, beliau juga membangun Pura Puncak Sari dan Pura Puncak Kayu Sugih, dimana pada tempat ini dipuja sakti dari istri-istri beliau. Setelah beliau dan para pengikut beliau mulai bisa beradaptasi dengan cuaca di seputaran Danau Beratan, barulah beliau memutuskan untuk menetap untuk beberapa waktu yang cukup lama diseputaran daerah itu. Mulailah kehidupan sosial masyarakat berkembang di daerah Bedugul. 

Sesuai dengan petunjuk Ida Sanghyang Jagatnata ( Ida Maharsi Markandeya). Beliau mulai menata daerah tersebut. Karena sudah mulai ada kehidupan sosial, maka mulailah diperlukan Pasar ( ekonomi ), Sekolah/Pesraman ( Tempat pendidikan dan pengobatan ), Tempat Pertapaan dll. Lokasi pasar jaman itu sekarang dikenal dengan Pura Candi Mas. Lokasi Pesraman Agung jaman itu tempat untuk mendidik manusia supaya siap untuk menghadapi hidup dunia nyata berada di lokasi Kebun Raya Bedugul. Lokasi pesraman agung Ida Rsi Madura di Kebun Raya Bedugul ini dibagi menjadi tiga, yaitu tempat tinggal para murid pesraman, tempat tinggal para guru yang dipimpin oleh Ida Maharsi Madura, dan tempat berlatih para murid. 

 Lokasi tempat tinggal para murid pada jaman itu sekarang dikenal dengan nama Pura Batu Meringgit dan Lokasi tempat tinggal Ida Maharsi Madura dan para guru lainnya sekarang dikenal dengan Pura Puncak Terate Bang. Sedangkan areal tempat latihan dari pesraman agungnya adalah lokasi yang dikenal sekarang ini dengan nama Kebun Raya Bedugul. Untuk areal pemukiman penduduk pada jaman itu adalah dari areal Pura Candi Kuning sampai seputaran areal Pura Puncak Pengungangan. 

Setelah membangun tempat-tempat untuk perkembangan kehidupan dunia nyata. Kemudian Ida Maharsi Madura, mencari tempat untuk bertapa dalam rangka peningkatan kehidupan spiritual beliau dan para pengikut beliau. Berdasarkan petunjuk dari Ida Maharsi Markandeya yang telah lebih dahulu menapak tempat itu pada jaman sebelumnya, lokasi yang dipilih ada bagian utara dan timur dari danau beratan. 

Tempat bertapa beliau adalah di Puncak Gunung Beratan yang jaman sekarang dikenal dengan nama Puncak Mangu ( terkait dengan pendiri kerajaan mengwi pernah bertapa disana ) atau dikenal sekarang ini dengan nama lain Puncak Tinggan karena salah satu sisi gunung ini berada di desa tinggan. Selesai bertapa disini beliau akan turun untuk mengajarkan semua wahyu yang beliau dapatkan kepada para murid yang ingin meningkatkan kehidupan rohani menjadi seorang pendeta dan menuntut ilmu pengetahuan rohani yang jaman sekarang dikenal dengan Brahma Widya

Lokasi Pesraman tempat pembentukan para calon pendeta ini sekarang dikenal dengan Pura Puncak Resi, karena tempat ini merupakan tempat para rsi memohon tuntunan spiritual kepada beliau. Disebelah timur pura puncak rsi ini berstana sakti beliau dan pura ini bernama Pura Puncak Taman Sebatu yang merupakan pura ulun danu beratan yang sebenarnya. Inilah sekilas informasi tentang perjalanan Ida Maharsi Madura diseputaran Danau Beratan. Mudah-mudahan informasi ini bisa berguna untuk para semeton sareng sami terutama para semeton yang masih mau meluangkan waktu untuk menapak tilas perjalanan Ida Maharsi Madura sebagai leluhur orang Bhujangga.
Sumber : Guru Made Dwijendra Sulastra – Denpasar.
Doc. Pesraman Teledu Nginyah Jembrana.

Pura Puncak Terate Bang Perspektif Dunia Spiritual

Pura Puncak Terate Bang Perspektif Dunia Spiritual

Sebagaimana yang telah disampaikan dalam jejak perjalanan Ida Maharsi Madura di Seputaran Danau Beratan, dimana lokasi kebun raya bedugul merupakan lokasi pesraman agung Ida Rsi Madura dalam menuntun para pengikut beliau yang beraneka ragam supaya siap untuk hidup di pulau Bali, maka Ida Rsi Madura mengambil lokasi yang sekarang dikenal sebagai Pura Puncak Terate Bang sebagai lokasi tempat tinggal beliau dalam fungsi beliau sebagai guru besar pesraman agung danau beratan. 

Pesraman agung ini bukan hanya tempat untuk belajar ilmu pengetahuan, akan tetapi juga merupakan tempat ida rsi madura dalam mengajarkan ilmu kanuragan/kedigjayaan/bela diri untuk mempertahankan hidup pada jaman itu. Dalam fungsinya sebagai tempat belajar ilmu pengetahuan maka dilokasi pertapaan beliau yang sekarang dikenal dengan nama Pura Puncak Terate Bang, Ida Rsi Madura memuja Dewa Brahma dalam wujud sakti beliau yang dikenal dengan Dewi Saraswati sebagai dewinya ilmu pengetahuan. 


Disesuaikan dengan linggih/stana dari Dewa Brahma dan Dewi Saraswati yang bebentuk bunga Teratai Merah atau dalam bahasa bali disebut Terate Bang, maka Ida Rsi Madura menamakan Lokasi Pedukuhan/tempat tinggal beliau dengan sebutan TERATE BANG (yang artinya : Linggih Dewa Brahma Dalam Manifestasi Dewi Saraswati). 

Sehingga Pura Puncak Terate Bang merupakan pura yang dibangun sebagai tempat pemujaan kepada Dewa Brahma dan Dewi Saraswati sebagai dewanya ilmu pengetahuan. Di tempat inilah Ida Rsi Madura mengajarkan ilmu pengetahuan tentang kehidupan kepada para pengikut beliau. Sebagai pura pemujaan kepada Dewa Brahma maka seluruh atribut dalam pura ini didominasi oleh warna merah. 

Dalam fungsinya sebagai tempat belajar ilmu kanuragan/kedigjayaan/bela diri maka Ida Rsi Madura dan beberapa mpu pembuat keris yang menyertai beliau dari jawa juga mengajarkan ilmu pengetahuan membuat senjata kepada para murid beliau. Para murid beliau yang ahli dalam pembuatan keris ini beserta keturunannya inilah yang suatu saat nanti akan dikenal sebagai klan atau soroh Pande di Bali. Dikarenakan oleh Ida Madura tinggal dipedukuhan ini dikelilingi oleh teman dan murid-murid beliau yang membuat keris. 


  1. Dan juga karena pura ini merupakan pemujaan kepada Dewa Brahma yang juga merupakan Dewanya klan atau soroh Pande di Bali maka Pura Terate Bang ini juga dipakai sebagai salah satu napak tilas warga Pande di Bali. Pura Puncak Terate Bang terbagi menjadi 3 bagian yang saling bersebelahan secara horizontal. Bagian paling utara merupakan Pura Taman Beji. Dipura ini terdapat sumber air tawar yang tidak pernah kering bahkan mengalir seperti sungai kecil. Ini merupakan lokasi permandian dan sumber minum dari Ida Maharsi Madura pada jaman itu. 
  2. disebelah selatan dari pura Taman Beji ini atau Bagian yang ditengah-tengah merupakan Pura Penataran Terate Bang. Ditempat ini Ida Betara Lingsir Rsi Madura memberikan tuntunan ilmu pengetahuan tentang kehidupan kepada para murid beliau. 
  3. disebelah selatan dari Pura Penataran Terate Bang atau komplek pura paling selatan merupakan pura yang disebut dengan Pura Siwa Lingsir. Dari kata-kata SIWA yang di Bali identik dengan sebutan seorang pendeta, kita bisa tahu bahwa ditempat ini berstana seorang Pendeta atau yang disebut dengan Betara Lingsir di tanah Bali. Di Pura Siwa Lingsir ini merupakan lokasi tempat pertapaan Ida Maharsi Madura pada waktu beliau memuja Dewa Brahma sebagai Dewanya ilmu pengetahuan. 

Karena puja bakti yang begitu kuat oleh Ida Maharsi Madura maka Dewa Brahma berkenan bukan hanya memberikan anugerah ilmu pengetahuan akan tetapi juga berkenan memberikan anugerah yang lain yaitu munculnya tirta pingit dengan rasa nano-nano (asam, asin, manis jadi satu). Yang fungsinya sebagai obat untuk para pengikut beliau yang sakit. Pura Siwa Lingsir ini merupakan pura yang sangat pingit karena merupakan peyogan atau tempat pertapaan dari Ida Betara Lingsir Maharsi Madura dalam posisi beliau sebagai Kepala Pesraman Agung Beratan. 

Lewat tulisan ini dan juga beberapa tulisan tyang sebelumnya tentang Ida Rsi Madura, tyang juga ingin membuka wawasan semeton bhujangga akan konsep yang selama ini muncul bahwa rsi bhujangga merupakan Rsi Siwa Waisnawa. Konsep ini benar akan tetapi tidak menutup akan konsepsi rsi bhujangga yang lain. Ida Maha Rsi Madura merupakan seorang Brahma Rsi yaitu Rsi Pemuja Brahma. 

Beliaulah yang mengembangkan lebih lanjut tentang konsepsi brahma di tanah Bali yang dulu sudah ditanamkan lewat konsepsi pemujaan kepada TRI MURTI (BRAHMA, WISNU, SIWA) oleh Ida Maharsi Markandeya. Kemanapun beliau melangkah ditanah bali ini dan sempat bertempat tinggal ditempat tersebut pasti ditempat tersebut pada jaman sekarang ditempati oleh orang-orang yang bisa mengolah besi atau pada jaman ini dikenal dengan nama soroh atau klan Pande.
Sumber : Guru Made Dwijendra Sulastra – Denpasar.
Doc. Pesraman Teledu Nginyah Jembrana.

Jejak Bhujangga Waisnawa Perjalanan Ida Rsi Markandeya

Jejak Bhujangga Waisnawa Perjalanan Ida Rsi Markandeya dan Ida Rsi Madura Di Tanah Lombok Dan Sekitarnya.

Setelah memastikan pulau Bali merupakan titik sinar yang beliau lihat pada waktu bersemedi di Gunung Raung Jawa. Maka untuk memastikan suatu saat nanti di masa depan pulau Bali akan tetap menjadi pulau yang suci, maka Ida Maharsi Markandeya berusaha melindungi pulau Bali dengan cara memagari pulau Bali dengan sinar-sinar suci. 

Proses pemagaran pulau Bali ini terkait dengan penanaman panca datu di beberapa pulau yang mengelilingi pulau Bali. Tujuan dari penanaman panca datu di pulau-pulau yang mengelilingi pulau Bali ini adalah dengan tujuan jikalau suatu saat sinar kesucian pulau Bali mulai meredup akibat pola prilaku sekala-niskala dari penduduk Bali yang mulai tidak sesuai dengan kaidah Tri Kaya Parisudha dan Tri Hita Karana maka sinar-sinar suci dari pulau-pulau yang mengelilingi pulau Bali inilah yang akan memberikan sokongan energi supaya energi kesucian pulau Bali tetap terjaga. 


Singkat cerita, dalam tulisan ini penulis memfokuskan pada perjalanan Ida Maharsi Markandeya ke tanah Lombok dalam rangka menanam panca datu dan dalam rangka menandai titik-titik spiritual di tanah Lombok yang suatu saat akan menjadi sumber energi spiritual yang bukan hanya akan menjaga keseimbangan pulau Lombok dan sekitar akan tetapi juga akan menjadi cadangan energi spiritual untuk pulau Bali jikalau pulau Bali sudah mulai kotor. 

Jejak perjalanan Ida Maharsi Markandeya ditanah Lombok diawali lewat Nusa Penida. Setelah menandai titik-titik spiritual di Nusa Penida seperti Puncak Mundi, Puncak Tunjuk Pusuh, Puncak Tinggar, Dalem Ped, Giri Putri, Sekar Taji dll, Ida Maharsi Markandeya melanjutkan perjalanan beliau ke pulau Lombok. 

Di pulau Lombok ini beliau pertama kali beryoga semadi di puncak Gunung Sari (sekarang menjadi lokasi pura Gunung Sari, Lombok), disini Ida ditemani oleh putun Ida yang bernama Ratu Ayu Manik Tirta Mas

Kemudian setelah itu beliau beryoga semadi di puncak Baliku (sekarang menjadi lokasi pura Puncak Baliku), disini Ida ditemani oleh istri beliau yang bernama Ida Ratu Niang Sarining Suci. Setelah itu beliau lanjut menandai titik Gunung Pengsong. 

Di Gunung Pengsong beliau bertemu dengan seorang wanita cina yang jaman sekarang dikenal dengan Ida Ratu Niang Gunung Pengsong atau ditanah Bali dikenal dengan nama Ida Hyang Betari Dewi Anjani. Di Gunung Pengsong ini Ida Hyang Maharsi Markandeya melakukan kawin kesaktian dengan Ida Hyang Betari Dewi Anjani. Jadi selama bertapa di Gunung Pengsong ini Ida Maharsi Markandeya ditemani oleh Ida Hyang Betari Dewi Anjani. Tempat pertapaan beliau ini yang pada jaman sekarang ini menjadi cikal bakal Pura Puncak Gunung Pengsong. Taksu hasil kawin kesaktian dari Ida Maharsi Markandeya dan Ida Hyang Dewi Anjani di Gunung Pengsong ini merupakan taksu kesuburan, kemakmuran dan kesejahteraan. 

Setelah menyelasaikan proses pembangkitan sinar suci di Gunung Pengsong kemudian Ida Maharsi Markandeya ditemani dengan Ida Hyang Betari Dewi Anjani melanjutkan perjalanan ke Puncak Gunung Rinjani. 

Di Puncak Gunung Rinjani ini Ida Maharsi Markandeya mengumpulkan energi dari semua titik sinar suci di pulau Lombok yang suatu saat jika diperlukan akan dikirim ke pulau Bali untuk menjaga kesucian pulau Bali. Di puncak Gunung Rinjani ini Ida Hyang Maharsi Markandeya menunggalkan semua sinar kesucian yang beliau dapat di pulau Lombok. Akibat dari hasil penunggalan semua sinar suci pulau Lombok ini maka di Puncak Gunung Rinjani, Ida Betara Lingsir Maharsi Markandeya dikenal dengan Ida Hyang Lingsir Maharsi SUKMA JATI

Setelah Ida Maharsi Markandeya merasa cukup membangkitkan titik kesucian pulau Lombok, kemudian beliau berencana melanjutkan perjalanan meninggalkan pulau Lombok menuju Gunung Tambora. Untuk tetap menjaga kesucian pulau Lombok khususnya setelah ditinggalkan oleh beliau maka Tongkat Komando Penguasa pulau Lombok diserahkan kepada Ida Hyang Betari Dewi Anjani. Karena tugas yang maha berat ini kemudian Ida Maharsi Markandeya menunggalkan semua sinar suci yang telah dikumpulkan selama masa pertapaan Ida dan Hyang Dewi Anjani dari pertapaan di Gunung Pengsong sampai puncak Gunung Rinjani. 

Hasil penunggalan/pemurtian sinar suci ini kemudian menyebabkan Ida Hyang Betari Dewi Anjani bergelar IDA HYANG BETARI AMBUN JAGAT. Gelar ini mencerminkan bahwa Ida Hyang Betari Dewi Anjani adalah pengayom dan pelindung jagat Lombok dan sekitarnya. Sehingga sampai saat ini yang diyakini berstana dan merupakan betara lingsir puncak Gunung Rinjani Lombok adalah Ida Hyang Betari Dewi Anjani. 

Sepeninggal Ida Maharsi Markandeya, suatu saat ratusan tahun kemudian atas petunjuk spiritual yang diberikan oleh Ida Maharsi Markandeya, datanglah murid spiritual beliau yaitu Ida Hyang Mpu Siddhimantra bertapa di puncak Gunung Rinjani untuk melanjutkan tugas Ida Maharsi Markandeya. Jadi di atas puncak Gunung Rinjani secara garis besar terdapat tiga Ida Betara Lingsir yang menjadi pengayom dan penjaga kesucian Gunung Rinjani yaitu : Ida Hyang Lingsir Maharsi Sukma Jati yang merupakan penunggalan dari Ida Maharsi Markandeya, Ida Hyang Betari Lingsir Ambun Jagat yang merupakan penunggalan dari Ida Hyang Betari Dewi Anjani dan Ida Hyang Mpu Siddhimantra sebagai pelaksana teknis dari Gunung Rinjani. 

Setelah menyelesaikan penandaan dan pembangkitan sinar-sinar suci di pulau Lombok kemudian Ida Hyang Maharsi Markandeya berdasarkan petunjuk yang didapat di puncak Gunung Rinjani kemudian melanjutkan perjalanan ke puncak Gunung Tambora. Berdasarkan petunjuk yang didapat dari puncak Gunung Rinjani, meskipun Gunung Tambora tidak berbatasan langsung dengan pulau Bali, akan tetapi jika tidak ditandai dan dibangkitkan sinar sucinya maka Gunung tersebut suatu saat akan bisa menghancurkan pulau Bali, ini terbukti dengan terjadinya letusan paling dasyat di muka bumi ini yaitu pada tahun 1881 dimana efeknya ikut meluluhlantakan kehidupan di Bali. 

Singkat cerita Ida Maharsi Markandeya sampai ke puncak Gunung Tambora, disini beliau bertemu dengan seorang wanita yang nantinya akan menjadi istri beliau di puncak Gunung Tambora beliau bernama Ida Hyang Betari Ibu Dewi Wulan. Ida Hyang Betari Ibu Dewi Wulan sepeninggal Ida Maharsi Markandeya dari puncak Gunung Tambora, kelak kemudian hari juga dikenal dengan nama Ida Hyang Betari Bhujangga Suci. Atas tugas dari alam semesta untuk melindungi Gunung Tambora, sehingga ditempat ini Ida Maharsi Markandeya menanam pancer berupa manik-manik yang berfungsi untuk menjaga keseimbangan Gunung Tambora. Atas tugas inilah alam semesta memberi gelar Ida Betara Lingsir Pancer Manik Tunggul kepada Ida Maharsi Markandeya sebagai Betara Lingsir Puncak Gunung Tambora. 

Sama seperti Ida Hyang Mpu Siddimantra yang dipanggil oleh Guru Niskala Ida yaitu Ida Hyang Maharsi Markandeya untuk melanjutkan menjaga kesucian puncak-puncak di tanah Lombok maka sama seperti halnya Ida Hyang Maharsi Madura. Ida Maharsi Madura dipanggil ratusan tahun berikutnya ke tanah Lombok untuk melanjutkan tugas Maharsi Markandeya untuk menjaga kesucian pulau Lombok. Akan tetapi, Ida Maharsi Madura dalam kapasitas sebagai Ida Rsi Dalem Segara, hanya ditugaskan untuk menjaga kesucian laut Lombok. 

Titik yang dipilih oleh Ida Rsi Madura dalam mendoakan dan menjaga kesucian laut-laut di pulau Lombok, pada jaman sekarang ini dikenal dengan PURA BATU BOLONG. Setelah jaman Ida Maharsi Markandeya, Ida Mpu Siddimantra dan Ida Maharsi Madura barulah ratusan berikutnya datang Ida Peranda Sakti Wawu Rauh atau yang nantinya di Lombok dikenal dengan Tuan Semeru. Ida Peranda Sakti tidak dapat napak puncak-puncak di Lombok, akan tetapi beliau napak di puncak Gunung Tambora. Disinilah beliau mendapat julukan Tuan Semeru. Mudah-mudahan dengan cerita di atas dapat membuka wawasan berpikir saudara-saudara di Bali akan jejak perjalanan para pendeta ditanah Lombok beserta dengan titik-titik napak tilasnya.
Sumber : Guru Made Dwijendra Sulastra.
Dok. Pesraman Teledu Nginyah Jembrana

Pura Luhur Bhujangga Waisnawa

Pura Luhur Bhujangga Waisnawa

Berkaitan dengan Perjalanan Rsi Markendheya

Pura luhur Bhujangga Waisnawa terletak di Dusun Gunung Sari, Jati Luwih, Penebel. Pura ini disungsung oleh pertisentana Bhujangga Waisnawa atau lebih dikenal dengan Maha Warga Bhujangga Waisnawa yang berdomisili baik di Bali maupun luar Bali. Keberadaan pura yang kini berstatus pura kawitan ini, erat kaitannya dengan perjalanan Rsi Markandheya ke Bali sekitar abad VIII. Setelah kedatangannya yang kedua ke Bali yang diawali dengan upacara mendem Panca Datu di sekitar Pura Besakih sekarang, beliau meneruskan perjalanannya untuk mengajarkan penduduk tata cara upacara agama, ilmu pertanian dan keahlian lainnya pada berbagai tempat di Bali.

Selain pura di Jati Luwih, masih ada beberapa pura lainnya yang erat kaitannya dengan perjalanan beliau, di antaranya:

  • Pura Luhur Sebang Dahat di Desa Puakan, 
  • Pura Gunung Raung di Desa Taro, 
  • Pura Dalem Murwa di Desa Payangan, 
  • Pura Segara Kidul Batu Bolong, 
  • Pura Pedharman di Gunung Agung dan beberapa pura lainnya. 

Jika ditilik dari perjalanan Rsi Markandheya yang pada mulanya berpesraman di Gunung Raung Jawa Timur itu, beliau membangun tempat pemujaan di sekitar danau, laut, desa dan hutan atau gunung yang merupakan titik-titik strategis di daerah Bali.


Pura Luhur Waisnawa Jati Luwih pada mulanya merupakan tempat tapa wana, 

yakni tempat beliau melakukan tapa dan meditasi memuja kebesaran Hyang Widhi serta kemakmuran jagat Bali di tengah hutan. Sementara beberapa pura yang terletak di Danau Batur, Beratan dan Tamblingan menjadi pura sungsungan jagat. Pura Luhur Waisnawa Jati Luwih terletak di pegunungan yang memiliki udara sejuk serta hawa pegunungan.

Hingga kini, letak pura jauh dari pemukiman penduduk dan menjadi tempat aktivitas spiritual bagi para warga Bhujangga Waisnawa. Letaknya yang berada pada ketinggian membuat indahnya pemandangan. Dari Pura Patali yang dalam sejarahnya dibangun oleh Rsi Bhujangga Canggu bersama-sama dengan Arya Wangbang, pemedek harus melewati jalan menanjak beberapa ratus meter untuk mendapatkan pura ini.

Seperti halnya pura pada umumnya, areal pura yang cukup luas ini terbagi atas nista mandala, madya mandala dan utama mandala. Di madya mandala terletak pelinggih Hyang Guru yang merupakan sarana pemujaan guru yang memberikan pencerahan bagi segenap pemedek. Sementara di utama mandala, selain Gedong terdapat dua Meru yakni Meru Tumpang Pitu dan Meru Tumpang Solas. Areal utama mandala yang cukup luas dan udara yang sejuk membuat pemedek nyaman untuk melakukan persembahyangan. Selain pura ini, menurut beberapa catatan sejarah bahkan nama Jati Luwih dan Gunung Sari erat kaitannya dengan kisah Ida Bagus Angker atau Ida Bhujangga Rsi Canggu yang merupakan putra dari Rsi Wesnama Mustika melakukan yoga semadi. Dikisahkan sekitar tahun Icaka 1320, setelah kematian Rsi Wesnama Mustika, Ida Bagus Angker pindah dari Sengguhan Klungkung menuju Giri Kusuma. Di sana beliau melakukan yoga semadi. Tempat tersebut akhirnya dikenal dengan Gunung Sari. Sementara tempat tinggal Ida Bagus Angker dinamakan Jati Luwih karena beliau sudah di-dwijati.

Arti Bhujangga

Bhujangga berarti ilmuwan atau cendekiawan, yakni orang-orang yang mempelajari, mengetahui dan mengamalkan ilmu pengetahuan Weda. Weda yang dimaksud baik dalam konteks mantra puja, tatwa agama maupun ilmu pengetahuan seperti pemerintahan, ekonomi, sosial dan sebagainya. Selain itu bhujangga juga berarti pandita. Warga Bhujangga Waisnawa awalnya penganut Hindu Ciwa Waisnawa sehingga menjadi Bhujangga Waisnawa.

Leluhur Bhujangga Waisnawa antara lain:

  • Maha Rsi Markandheya, 
  • Maha Rsi Waisnawa Mustika, 
  • Maha Rsi Madura dan 
  • maha rsi Bhujangga Waisnawa yang lain. 

Para rsi ini sangat tersohor dalam penanaman pendidikan spiritual di Bali dan peranannya bagi perkembangan Hindu dinilai sangat penting. Selain itu terdapat pula para kesatria Bali yang merupakan penganut Hindu Waisnawa seperti Raja Jaya Pangus dan Raja Dalem Tamblingan. Seluruh keturunan baik maha rsi maupun para kesatria Bali tersebut kini terhimpun dalam Maha Warga Bhujangga Waisnawa.

Sesuai dengan keberadaan awalnya, hingga kini keluarga besar Bhujangga Waisnawa masih tetap menekuni tugasnya selaku cendekiawan maupun pandita. Di Bali terdapat sekitar 21 sulinggih Bhujangga Waisnawa yang melayani umat dalam berbagai aktivitas keagamaan. Sementara Ida Bhujangga Rsi Istri Netri dari gGia Babut, Nyitdah Tabanan yang merupakan nabe dari seluruh sulinggih Bhujangga Waisnawa ini. Keberadaan sulinggih bagi maha warga ini dinilai sangat penting peranannya.

Secara berkala maha warga ini menggelar pertemuan sulinggih yang bernama Sabha Agung Sulinggih Maha warga Bhujangga Waisnawa. Dalam pertemuan ini dibahas sesana sulinggih dan berbagai hal yang dianggap penting demi pembinaan para pasemetonan maupun umat secara umum. Selain itu, untuk lebih meningkatkan kualitas sulinggih para calon diksita juga dipersiapkan dengan pola pendidikan tertentu.

Salah satu cendekiawan Hindu Raka Santeri merupakan salah satu cendekiawan yang banyak memberikan pendidikan dalam lingkup Bhujangga Waisnawa. Raka Santeri kerap memberikan telaah keilmuan baik sejarah maha rsi maupun ajaran Weda kepada kelompok ini. Ia sependapat bahwa para sulinggih hendaknya mampu memberikan pencerahan umat selain muput karya. Selain itu, pendidikan agama, menurutnya, hendaknya diterapkan mulai kelompok kecil seperti keluarga, lingkungan atau kelompok dan masyarakat pada umumnya.

Ketua Umum Moncol Pusat Maha Warga Bhujangga Waisnawa Mayjen (Purn) I Ketut Wirdhana menyatakan keberadaan pasemetonan ini bukan merupakan perkumpulan yang eksklusif, melainkan upaya untuk memperkokoh jati diri kehinduan. Mantan Pangdam Dwikora Irian Jaya ini menyatakan ada tiga program pokok yang sedang diupayakan oleh organisasi ini yakni peningkatan ekonomi, rasa aman serta peningkatan pemahaman ajaran agama. Ketua Umum Prajaniti Pusat ini menegaskan ajaran pokok Waisnawa adalah berupa kesetaraan, kesetiaan, kebijaksanaan dan kasih sayang.

Menurutnya, paham yang dianut oleh Bhujangga Waisnawa adalah catur warna yang didasari rasa saling menghormati dan kasih sayang. Selain itu, tata cara pelaksanaan upacara agama lebih ditekankan pada konsep kesederhanaan dengan tanpa menghilangkan makna yang terkandung di dalamnya. Pilosofi yadnya yang dianut oleh maha warga ini lebih merupakan pada kemampuan pribadi masing-masing tanpa harus memaksakan diri

Selasa, 13 November 2012

Lontar Indhu Batur Kelawasan Petak

Lontar Indhu Batur Kelawasan Petak

Ling Rsi Markandhya
Maka purwakaning atur titiang majeng ring para semeton Maha Warga Bhujangga Waisnawa sane wenten ring sajebag jagat puniki, lugrayang titiang ngaturang indik pemargin Ida Leluhur utawi maka druwen Ida Leluhur minekadi salah sinunggil “Dharma Yoga Semadhi” sane sampun patut keuningin ring para semeton sami utawi warih Sang Bhujangga, sekadi sane manut panggihin titiang ring lontar. Santukan sangkaning pasuwecan Ida Sanghyang Parama Kawi, prasida titiang nyaritayang mungguhing daging tatwa carita “ngeninin pemargan Ida Rsi Markandhya” sane kacihnayang ring sajeroning “Lontar Indhu Batur Kelawasan Petak”, sane kakeniang duk rahina sane sampun dumun olih: “Ida Rsi Sutji” Ida sane malinggih ring Griya Batur Suci Desa Gumbrih.

Maka pamuntat atur manawi ring sajeroning titiang nguningayang indik daging pemargan Ida Leluhur, tur manawita tuna luwih antuk titiang ngaturang, lugrayang titiang nunas agung sinampura duwaning titiang wantah nyuratang manut ring daging lontar. Lontar puniki sane keanggen maka dasar ritatkala semeton sane wenten ring “Desa Sepang” ngemargiang indik upacara upakara sekadi “Pitra Yadnya”.

Inggih wantah sapunika perasida antuk titiang ngaturang ring para semeton sami, dumogi wenten kesuksemaan utawi gunan nyane. naler nenten ima titiang ngaturang suksma.

Om Awighnam Mastu Nama Sidham

Iki wisik warah Indhu Batur Kalawasan Petak, ling Rsi Markandhya. Kacerita kna Hyang Widhi hanthyata manggeh ira tan hana mawisma nira, tan paro, tan parupa, hamusa jangga, hakerta sang hyang mahyun, hatamaja eka madhyam, hanata hindu, hindu matemahan gni arab – arab, gni dadi handus, handus dadi megha, megha dadi watu, makeplug watu iki, hana tanah langit, gun gumi, bun gumi, matemahan tiga adnyana, sapaluire : Ciwa, Sadha Ciwa lan Parama Ciwa.


  • Sang Ciwa: dadi langit, ngentikang sarwa lumentik muang Wedha Riwikrama, muwah Wedha Sanawosongo. 
  • Sadha Ciwa: ring tanah anguyuh angga dadi yeh, dadi pasih, ngentikang sarwa mabayu dadi angin, raksaka wedha upasadha nga.
  • Parama Ciwa: ring paran nadi tirtha, Tirtha Sanjiwani sakala niskala, raksaka wedha catur nuraga muang catur wedha gita, hana bhagawad githa, mayoga sang parama ciwa metu yogha satunggal Sanghyang Tunggal, matemu ring Dewi Rekata Wati, panak sakeng Rekata Tama, bangsa yuyu, raja samudra lekad taluh, sang hyang onang ngempu taluhe ento tur lekad rare patpat. 
Rarene patpat punika kawastanin hantuk sang hyang onang :


  1. Pukuh, asal sakeng wadahing taluh.
  2. Punggung, asal saking kulit taluh.
  3. Bawa, asal saking putih taluh.
  4. Manik, asal saking kuning taluh.

Risampun dangu kewastanin malih :

  1. Togog
  2. Semar / Tualen
  3. Naradha
  4. Guru.

Malih mawasta :

  • Asiki : Nabi Hadham
  • Dadua : Nabi Sis
  • Tetelu : Sang Hyang Nurchaya
  • Patpat : Sang Hyang Nurracca
  • Lelima : Sang Hyang Wenang
  • Nenem : Sang Hyang Tunggal
  • Pepitu : Sang Hyang Guru.

Sang Hyang Wenang dados Surya, guru manik. 
Sang Hyang Tunggal rasa bun gumi mamusa keneh, betal, makmur, nganten ngajak Dewi Rekata Wati, rasa jantung, pangarasa, betal mukaram, lekad taluh camani “nga” purus, betal, makadas, yuyu miwah yeh, bungkulan taluh mani, rawuh sakeng akudang rah :

  • Asiki : Angin, halu hamah
  • Dadua : Api, hamarah.
  • Tetelu : Yeh, mut mahinah.
  • Patpat : Bumi, supiah.

Iki “nga” Catur Yogha, yan ring bhuwana agung : surya, bintang, bulan, bawa hiki “nga” Wedha Catur Anuranuraga, gnahnya ring Badjera Petak, iki hangurip Dyana, Tirtha Mertha Sanjiwani, suara ring nenger, tan patastra hindhu “nga” tutur hindhu, piteket ring Idha Sang Parama Ciwa, hangewetuang tatua githa, hanata bhagawad githa, hantyata mangen ira, tan hana mawisna nira, hamujangga hakerti Sang Hyang Mahyun Atmadja, eka madhyam metu temajeng ingaranan “Sunya Ning
Sunya Ning mayoga metu temadjeng “Tri” :

  • Pinih luwih : Bhiseka “Rsi Marakandhya”
  • Ikang made : Bhiseka “Rsi Gangga Sura”
  • Ikang nyoman : Bhiseka “Rsi Manu”

Rsi Gangga Sura: kesah maring hindhu jumeneng ring “Mojokerto” dados Pandit.
Rsi Manu: kesah maring hindhu jumeneng ring “Selepadang” taler dados Pandit.
Rsi Marakandhya: kesah maring hindhu jumeneng maring “Mujasari” raris ke Gunung Raung irika Idha Rsi Markandhya ngambil rabi anak sang hyang wenang ingaranan “Ibu Kapilih” sane dadi dewan tanah gadah yogha satunggal manon, kang nga “Rsi Dharmasunya”

Rsi Dharmasunya maperiya Dewi Kanari, anak sang hyang naradha. 
Gadah yoga asiki ingaran “Rsi Guru” Rsi Guru maperiya rayat biseka Dewi Suma anak sajayeng karna, gadah yogha dadua:

  • Pinih Luih : Rsi Keling
  • Ikang Madenan : Ipatiga.

Pasti pangabaktiannya ring kakyang idha Ida Rsi Dharmasunya, ingaranan Pasek Patiga ikang kakyangnya maka dalem pacung maka pancer pabaktiyan ring Ida Rsi Dharmasunya. 
Muah yoghan Ida Rsi Markandhya, gadah yogha sane mijil ring “Ibu Kapilih”

  • Sane duuran : Idha Bagus Surya
  • Sane alitan : Made Oka.

Ring Gunung Raung Ida mapitutur ring anak putun ira, iki rengen akna pawarahku ring kita:

  1. Nirwana, Nirmanakaya, Nirmadharma.
  2. Amerasa, Atara, Atma, Ajnana liang “nga”
  3. Brahmawidya, Bagawan Byasa Biksuka, Budhi “nga”
  4. Icuara, Ica, Inayana, Jati “nga”

Batara dasarnya manusa “nga” kahalaman, kasusilaan, kabahagiaan, kabeneran/ patut, menepakan, (ngelepasang kodrat kehidupan). Yan sang wiku kerasa budhi sunya, sayogya biasa kna dina latri, ning sarira, ambeana tri loka palanya, ruwet sida ilang, jati paripurna sapanugraha ika palaning sidha ilang luirnya.
Yan salah ucap, salah candak, salah rengen, salah pasuka, salah hangen, salah ungsi, salah sila, ika DASA SILA “nga” . Samangkana hawak harane, taye mandyaken lare sasare sarira, yan tambuh ring payuden ne yeh idup jati ngebekin jagat, TIRTHA MERTHA SAJIWANI.

Humatur Ida Gusti Pacung, hayuun ling nira, nabdabang kadyatmikan muang ngerotong royong sareng duang tali (2000) kwehnya, ngiring kakyang Ida “Ida Rsi Markandhya” . Ida Gusti Pacung Agung, dadi pacek ring Gunung Raung sareng Ipatiga, durung asat babalangan, dadi ta agni arab-arab wetan, uduh anakku samea tonton ikang gni arab-arab jalan cening jani alih Gni Utama Ika. Hayuun sanaknya makabehan, ling kakyang ida, kesah Ida Rsi Markandhya sakeng gunung raung sareng sisyan ida duang tali (2000) kwehnya muah sanaknya, ngulati gni arab-arab, saksana dateng ring gni iki, tan hana gni, alas rembho juga, irika ida ngerotong royong sareng duang tali (2000). Hana byana “ABAS AKIH” landuh ikang rat.

Sapanang akna Ida Rsi Markandhya budal ke Gunung Raung, saksana dateng ring gunung raung sareng hanak Ida, I Pacung muang Ipatiga.

Sapanang akna malih hana gni arab-arab ring alas katila wetan, malih Ida turun ring gunung raung, turun ring alas katila, mumbul ikang banyu, yeh sumbul “nga” tukad iki. 
Irika Ida ngerotong royong ngardi tatamanan sareng duang tali (2000) pinih arep “Ida Gusti Pacung “ kalinggihang ring “Bading Kayu”.

Iriki Ida Rsi Markandhya mujiangga hana “Gunung Bhujangga” ngeragayang Ida sekar hana “Gunung Sari” nga. Masarira bunga, abunguan, manis madu ragan “Ida Rsi Markandhya” mabiseka “Ida Rsi Madura”. 
Raris Ida ngandika : uduh putunku iki rengen akna pawarahku ring kita, panelas brahma widyane sang catur anuraga.

Sang Hyang Widhi juga onang sembah, putunku wijil sakeng Rsi Dharmasunya, buat pangeweruh, Sang Hyang Widhi ane buana agung muang buana sariranta. Maka hawak hurip muang pejah, Iki Sang Hyang Catur Nuraga, ana katon ring buana agung kadi inten ika Hyang Parama sane ngurip awak cucune, doning hana sabda, samarpaya surya jotir, to madan jati, Surya “nga” keneh, Bulan “nga” tirtha, sarin keneh, Bumi: bayu, getih, kala, lawan api, yeh dadua api tetelu tunggal keneh ikang “Panca Sapta Petala” dadua “Naga Bandha”, tetelu “Panca Sila”, api tetelu yeh dadua iki “nga” Panca Patpat Napas, umad kunci iki “nga” Surya Sekala, Surya Mantri Magri keneh “nga” bulan kamantryam, yeh, banyu, bintang pangirim, angkyan, angin, otak, supyah, bumi, banyu nga. 

Mangkana putunku kapustika ring Ida Gusti Pacung, gelis matur ring kakyang Ida singgih Sang Mahayukti, ayuun ring paduka Batara. Gelis Ida nabdabang kadyatmikan muang ngerotong royong sareng 2000 . hana Pura Bading Kayu ngiring Kakyang Ida Rsi Madura sane malinggih ring “Gunung Sari”. Ida Gusti Pacung dadi pacek ring “Bading Kayu” kahiring antuk Pasek Keling muang Pasek Patiga.

Hana Agama Hindhu Keling, bulak balik pamargin Ida Rsi Markandhya, malih ka Jawi malih turun ka Bali. Bulak balik turun ka Bali “BALI” nga” jagat iki. Ngardi tatamanan hana Gunung Sari, hana Bunguan, Pagerwesi, Batur Panti, BESTURI, landuh ikang rat wireh ngagem game kasunyatan, muang Pancasila, muah Wedha Catur, sapata luire:

  • Rih Wedha
  • Antarwa Wedha
  • Sama Wedha
  • Yayur Wedha

Iki babuatan Ida Rsi Markandhya, sakeng Jati Onang Sor, Onang Luhur, saluir Dasa Karya Onang hana Sang Maha Rsi tan sipi Utamanya. Manis madu “Rsi Madura” nga malinggih ring Gunung Sari, iriki Ida ngarga ring ulun pamelas, hana Tukad Masiwi “nga” ngelukat ikelabang apid, uler agung sane ngalahang Imangku Putus ring Panti, telas rarud banjar ring Panti, terus ke Alas Langsat. Jumenek ikelabang apid, kapralina ring Ida Rsi Markandhya ( Ida Rsi Madura ). Ring Sastra Ujar Jana, Yeh Idup ngebekin Jagat, sakeng gitan Ida ngarge manak “nga”.

Puniki babuatan Ida Rsi Markandhya, “Wedha Catur Anuraga” panugrahan ring Parama Ciwa duk ring Hindhu, amutusang se Dasa Karya iki “nga” Wedha Panca Catur Titi Wirikrama, sapata luire:

  • Rig Wedha
  • Atarwa Wedha
  • Yayur Wedha
  • Sama Wedha
  • Purwa Bumi Kemulan.

Puniki pakaryan Ida Rsi Markandhya, duk turun ring Gunung Sari, ngeragayang Ida sekar, manis madu ragan Ida, mabiseka Rsi Madura. Kairing antuk Pasek Keling muang Pasek Patiga, ring dina: Wrs “Pa” Sungsang, Pucak Manik “Tang”, Ping 13, Sasih ka 7, Rah 3, Teng 2, Icaka 1000, Cicaka 1032.
Metu pangalian Eka Sungsang Prawani tur Ida Rsi Madura mamuat “Pajenengan Hindu muang Pustaka Raja Candra Rasa”. Tekening busananing sudaka, I pasek Keling kalugrahin antuk Ida Rsi Madura “Eka Gama Hindu Isma muang Pancasila lan muang katekaning Pejah, Iring Ida Rsi Madura mahyang hyang Tukad iki kawastanin “Masiwi”periangan iki “nga” Basturi, Gunung iki “nga” Gunung Bhujangga, wireh Ida Mujiangga “nga”. Gunung Sari Asah Danu irika Ida nyimpen Pajenengan: “NARA BADJRA CIWA KRANA”.

Spanang akna kesah Ida ring Gunung Sari kahiring antuk Ipasek Keling lan Ipatiga kantun ring Gunung Sari. Ida Rsi Madura jumeneng ring Dap-Dap Putih ngardi TAULAN pinggir ring tukade, irika Ida Rsi Madura mahyang hyang “Pangyangan” nga tukad iki.

Spanang akna kesah maring Pangyangan jumeneng maring “KELEDU NGINYAH” kajunjung olih Imangku Katrem, tur kaperihang paguruan ring Buana.
Hana Desa Gumrih, kesah ring Gumrih asenek ring Batu Mejan, hana anak dukun mayas puri pecak magenah ring “Gong Purwa” Imacaling tekeng sanaknya:

  • Iratu Ngurah Tangkeb Langit
  • Arine I Wayan Teba
  • Arine I Made Jelaung
  • Arine I Nyoman Sakti Pengadangan
  • Arine I Ketut Petung
  • Arine (istri) Ni Luh Rai Derani.

Kasung lugraha ring Bhagawan Dwi Jendra, duk ring Majapahit, tur ngusak asik ring Lalang Linggah, hanesti neluh nerangjana, tur ngerapuh jagat. Irika katangehan antuk Ida Rsi Madura, miragi Ida Imacaling nesti neluh nerangjana, raris Ida Rsi Madura Dyatmika Yeh Idup tur kapulangin, kebus baang Imacaling ring Gunung Rangda, pati keplug terus malaib tur terus ka NUSA maring jungut batu, raris ka “DALEM PEED”.kari rabine “I Luh Ayu Lebur Jagat”, I Ratu Ngurah Tangkeb Langit, Wayan Teba, Made Jelaung, Nyoman Sakti Pengadangan, Ketut Petung, Rai Derani, mamekul ring Ida Bhujangga Madura. Ring penataran gunung iki “GUNUNG RANGDA” nga.

Kesah Ida Rsi Madura ring Surya Beratha, jumeneng ring “Batan Getas”, I pasek Keling magenah ring “Puseh Pangulu” tur mamuat senjata “Keris I Jaga Satru” nga, katunas ring I pasek Keling ring kereb langit, tur kaambil ring “I Gusti Kresna Kapakisan Jelantik” ne magenah ring “Mangwi” , kantun ulesnya sad sading “nga” puseh pangulu Hindu Keling.

Ida Rsi Madura jumeneng ring “Batan Getas” kajungjung dening jagat muang praratu, Bala Mantri, tur Ida Rsi Madura ngardi kayangan sang “Tri Warna” nga. Angga sinunggal, Asta Rwa, Netra Tunggal. Sanghyang Tri Warna nga Raditya muji angga nga Papauman Satrya Punggawa, hana “Dalem Papauman”, anyiwining satrya punggawa kabeh, muang Brahmana, Bhujangga, muang Bhuda. Spanang akna papauman satrya punggawa pinih arep: 

  • Bhagawan Dwi Jendra 
  • pamade Bhujangga Aji Manu, 
  • ping tiga “Cri Arya Damar”.

Ida Rsi Madura raris mangandika, 
duh Cening Dwi Jendra, muang Aji Manu, muang Cri Arya Damar, Rengen pawarahku: dadi cening ngencak aci-aci Hindhu sane maadan “NGERECE DANA”, dadi cening nganggen Gama Indra muang Brahma, Gama Kala, Uma Tatwa, Yama Tatwa, Siapa nugraha cening ………???.
Gelis matur Sang Dwi Jendra 
singgih Sang Mahayukti, Sang Hyang Jagat Natha asung nugraha ring anak batara titiang, pasasangkepan dite hamangan jayeng kana. Wireh wenten Sapta Buana “ngerece dhana” titiang ring Bali napi luire:
  • Sawa Preteka : Da ( ) genahnya.
  • Nyawa Wedana : Pac ( ) genahnya
  • Supta Pranawa : Ut ( ) genahnya
  • Nyawa Asta : We ( ) genahnya
  • Pitra Yadnya : Ma ( ) genahnya
  • Pranawa : ring A ( ) genahnya
  • Kerti Parwa : ring. Pra ( ) genahnya.

Wireh sampun mamargi karaksa antuk ida dane, ipun sukeh antuk titiang ngerobahin malih ratu, banggiyang sampun, wireh sampun mamargi Ratu. Durung asat babalangan keweh yan rasayang. Ensek sapenuh pakayun Ida Rsi Madura, tan kasaden kayun. Spanang akna kesah Ida Rsi Madura ring Batan Getas, jumeneng ring Beratan. Kasungsung antuk “Ida Dalem Sagni” ne malinggih ring Tamblingan. I dalem tamblingan madue putra kalih,

  • Sane pinih luih : Ida Bagus Tos Jaya.
  • Sane alitan (istri) : Dewi Ayu Sapuh Jagat.

Ida Dewi Ayu Sapuh Jagat tur kaambil olih Ida Rsi Madura kaanggen rabi, tur lama-lamanya Ida Rsi Madura enem warsa (6 tahun) malinggih ring Beratan. Ida Ayu Sapuh Jagat madue putra patpat sapata luire:

  • Pinih luhur: Ida Bagus Cakra - (ring Jati Luih).
  • Sane alitan: Made Rai Putra
  • Sane alitan: Nyoman Raka Sudana
  • Sane alitan: Ketut Cenik Mertha.

Okan prami sane mijil ring “Ibu Kapilih” rabine ring Majapahit, sane medal sapata luire:

  • Paling luhur: Ida Rsi Dharma Sunya
  • sane alitan : Ida Bagus Surya – (Ida madiksa mabiseka: Ida Rsi Wisnawa).
  • sane alitan : Ida Made Oka

“Rsi Dharma Sunya” malinggih ring “Mojosari”
“Ida Bagus Surya” malinggih ring “Batan Getas”
“Ida Made Oka” malinggih ring “Kayu Pinge” mangkin mawasta “Kayu Putih”

Okan rabin Ida Rsi Madura sane ring Tamblingan, Ida Bagus Cakra ring Jati Luih, terus ke Gunung Sari Asah Danu. 
Putran Ida Bagus Cakrane maparab “Rsi Tamu” jumeneng ring “Lukluk”. 
Ida Rsi Madura budal ke “Basturi”, tur Ida merelina sisiyan Ida ring “Gunung Bhujangga” ( ring Desa Sepang Kec. Busungbiu Kab. Buleleng ). Kantun putra sane mijil ring Dalem Sagni ne malinggih ring tamlingan: 
Ida Nyoman Sudana tur Ida jumeneng ring “Blambangan”. Made Rai Putra ring “Banyuatis” ( asrep ) ring Puseh Mukti. 
Ketut Mertha ring Gegelang terus ke “Pemaron”. 
Ida Made Oka ring Kayu Pinge (Desa Kayu Putih) sareng tumin Ida “Ida Dewa Ayu Sapuh Jagat”. Kahiring antuk anak “Idukuh Mayasturi” sane mapesengan “Made Jelaung” muah “I Wayan Tebe” kagenahang ring “Lawangan Agung”. Kapanganikayang ngeraksa gumi ring Ida Dewa Ayu Sapuh Jagat. Kon Ida mahideran ngeraksa jagat, “HIDERAN” nga jagat iki.

Made Putra ring Banyuatis madruwe oka mapesengan “Ida Rsi Kanya” asiki tur sampun pandita, kahaturin ngayunin ke Blambangan antuk Ida Anak Agung Blambangan, ri sampune rauh ring Blambangan kacunduk Ida sareng okan Ida Bagus Sudana sane mapesengan: “ICENELE” muang “MADE BERATHA” pecahe kesah sakeng “Beratan”. 

Gelis matur Icenele ring Ida Rsi Kanya, 
uduh kakangku Rsi Kanya tan weruh kakang tekengku, aku hanak Bagus Sudhana katinggalan meme bapa tur kahula kateler, 
umi nget Ida Rsi Kanya ensek sapenuh ring ati, tumeres toya aksa tonibeng panon, raris mojar: 
Uduh anakku Cengele ong gila cabar ujar, jalan jani budal ke Bali jele melah ajak beli di Bali, 
metu Icengele 
“Aku tumut kakangku”. 
Durung ngasat babalangan puput karyan sang Prabu Blambangan, katuran Rsi Kanya puniya gung artha 65 tali maruntutan Surya Kanta muang tateken Punyan Kayu Jelawe.

Spanang akna rauh Ida Rsi Kanya ring Griya Banyuatis sareng Icengele muang Made Beratha, irika Ida Rsi Kanya katataman ngunya unyan derika Ida nancebang tateken Idane, tur mentik rikala kacingak antuk Rsi Kanya raris Ida ngandika ring rain Ida Icengele. 
Uduh adikku mentik tatekenku, jalan dini ngardi papujaan hadanin “Pujalawe”. 
Spanang akna hana pura “Pura Pujalawe” papujaan Ida Rsi Kanya. Spanang akna Rsi Kanya, kaceritaan Anak Agung Rijasa ring Banjar “Mabyang Sakti Blambangan”, kaambil antuk Ida Bagus Suci ring Banjar, kaambil rabin anak agung blambangan sampun mobotan, punika medal sakti wak bajra, mabiseka “Bagus Rijasa”. Ida nyapuh bangsa, Rsi Kanya kateler . ditu Icengele susah reh tahu teken anake nawang mantra tonden mabersih sube ngeleneng. Raris rarud katengah ka “Manguwi” di Manguwi Dukuh magenah.

Hanak Rsi Beratha sane kesah ka Blambangan mapesengan “Putu Wija” taler kesah ka Tabanan jumeneng ring “BERABAN” ditu makarya “Taulan”. Spanang akna uug Berabane, hanak Putu Wija patpat telas rarud ngalerang, budi ngungsi ring Gunung Sari, gunung sari alas dapetanga. Tur irika ring kiring “Asah Badung” jumeneng.
Naler wenten ka Patemon magenah ring “Banjar Uma”, muang ring “Tegal Bubunan”, hana juga ring “Banjar Belong”:
Sane ring Asah Badung Desa Sepang mapesengan : “Putu Rukma”.
Sane ring Banjar Uma Patemon mapesengan : “Made Wirtha”
Sane ring Banjar Tegal Bubunan mapesengan : “Nyoman Kartha”
Sane ring Banjar Belong mapesengan : “Ketut Mertha”

Spanang akna kacerita mangkin “Dewa Ayu Sapuh Jagat” eling ring pitutur Ida Rsi Madura, I Pasek Patiga ring Gunung Sari magenah, tur kautus I Pasek Keling antuk I Dewa Ayu Sapuh Jagat ngalih I Pasek Patiga ka Gunung Sari.
Spanang akna raris I Pasek Keling majalan, saksana dateng ring Gunung Sari, kacingak I Pasek Patiga makuweh kadannya, tur raris I Pasek Keling matakon : 
“Ih kita Patiga dadi makuweh sanak kita, kita ajak kita dadua luh muani tunggal sanak, siapa ngamet sanak kita”……….?. Lah warahan tekenku …!!! 
Humatur I Pasek Patiga,
titiang ngambet nyaman titiange, gelu idep Ipatiga. 
tur I Pasek Keling berangdi raris budal sah tan papamit, Saksana dateng ring Kayu Putih raris matur ring linggan Ida Dewa Ayu Sapuh Jagat. 
Pakulun paduka sang si muhun, singgih ratu I Patiga salah wetu, nyaman ipun juange anggene rabi, sampun ipun madrebe pianak katah, Ratu !
Ngandika Ida Dewa Ayu Sapuh Jagat,
“Depang”, “Siepang”, hadanin Sepang “Desa Sepang” iki nga. 
I Patiga hadanin “Basturi”, spanang akna Ida Ayu lebur mala.

Kacerita Ida Bagus Surya sampun madiksa mabiseka: Ida Rsi Wisnawa, taler Ida kesah ring Dalem Pauman, kairing antuk I Pasek Keling muang I Lemintang, ne magenah ring Desa Ayunan distrik Manguwi.
I Lemintang magenah ring Asah Wani Desa Sepang.
I Pasek Keling ring Desa Sepang.
Ida Rsi Wisnawa magenah ring Asah Badung Desa Sepang, kerana genahe maadan Asah Badung wireh Ida Rsi Wisnawa kesah ring “Desa Badung”. Irika Ida mapitutur ring Asah Badung.
Duh cucunku Keling, kita ngelah anak nenem (6) paling kelih: “Arya Sidemen”. Jalan dini wacanin mangda cucunku tan keliru teken “Kayangan”.

  • Sane paling kelih : Arya Sidemen, magenah ring: Kelungkung
  • Ne Madenan : Arya Demung, magenah ring Abyan Nyuh, Kelungkung.
  • Ne Nyomanan : Arya Ongaya, magenah ring Sading, Puseh Pamangku “nga”, Pangulun Keling.
  • Ne Ketutan : Arya Lemintang, magenah ring Ayunan, Manguwi, Badung
  • Tut De : Arya Gunawati, magenah ring Padawa, Banjar, Buleleng.
  • Made Cenik : Arya Tak, magenah ring Batu Bulan, Gianyar, sareng ngiring Ida Rsi Tak.