Tampilkan postingan dengan label Jyotisa Wariga Dewasa AYu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jyotisa Wariga Dewasa AYu. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Juni 2013

makna Dwi Wara dalam Wariga

Dwi Wara

Dwiwara adalah daur dua harian dalam pawewaran. Unsurnya ada 2, yaitu Menga dan Pepet. Dwiwara ini adalah wewaran imbas, artinya terbentuk dari adanya wewaran lain, yaitu urip pancawara dan saptawara. Karena itu kandungan spiritualnya lebih tinggi dari yang kedua wewaran itu, karena boleh dikatakan merupakan kesimpulan interaktif keduanya.
  1. Menga artinya terbuka, hari ini umumnya baik untuk bersosialisasi. Pekerjaan yang dikerjakan secara kolektif akan menemui hasil yang lebih baik. Tidak baik untuk mengikuti kata hati tanpa mempertimbangkan pendapat orang lain. Yang lahir pada hari ini berkepribadian terbuka, mudah menerima kritik tetapi juga mudah terbawa emosi.
  2. Pepet artinya tertutup. Baik sekali untuk introspeksi. Mendekatkan diri kepada Tuhan dan merenungkan dulu kata-kata yang hendak diucapkan, agar tidak berdampak buruk bagi diri sendiri maupun orang lain. Pertimbangan hati akan lebih baik dituruti daripada nasehat orang. Kerjakan apa saja yang dapat dilakukan sendiri untuk melatih kemandirian dan kemampuan diri. Yang lahir pada hari ini pandai menyimpan perasaannya. Tidak mudah terombang-ambing dan tegas dalam menyikapi sesuatu
dalam wariga, Uku Sinta dan Sungsang dikatakan yang mengadakan Dwi wara. Sesungguhnya, kita belum mengetahui makna apa sebenarnya yang dimaksud. Sebagai generasi pewaris, ada baiknya belajar untuk mengkaji kembali apa yang dirintis oleh para tetua dahulu. Yang paling utama mesti disadari, bahwa bahasa hakekat ( istilah ) yang dikenal saat ini sejatinya merupakan bahasa yang biasa digunakan pada masa itu. Seiring waktu berjalan, di mana pengetahuan manusia berkembang, yang cenderung menjadikan segala sesuatu yang memang irasional menjadi rasional. Maksudnya, untuk memudahkan memahami sesuatu yang tidak nyata, lalu dinyatakan dengan wujud yang nyata ( seperti kebendaan ). Namun sayang, seringkali di dalam proses alih bahasa ada hal-hal yang sangat penting untuk disertakan justru dilupakan. Pada akhirnya, apa yang sudah diwujud nyatakan dari yang semula tidak nyata ini dijadikan sesuatu yang mutlak. Kemudian, mulai ditambahkan dogma-dogma serta diklaim seolah menjadi milik kaum tertentu, yang pada akhirnya justru menjadikan pengetahuan yang bersifat universal tersebut kurang dipahami makna yang sebenarnya.

Mencermati kata Sinta yang berarti Sintakasih, sesungguhnya merupakan nama lain daripada Matahari ( mittra ). Begitu pula dengan mendengar kata Sungsang yang terbayang adalah kelahiran bayi, di mana bahagian kaki yang keluar terlebih dahulu. Dahulu, sungsang yang dimaksud oleh para Maha Rsi adalah sinar balik matahari setelah terpantul dari bumi ; Prabawati dalam konteks ini juga berarti daya hidup Bumi yang melepaskan keempat unsurnya, yakni : unsur Amretha, Api, Air, dan unsur Hawa. Keempat unsur inilah menjadi salah satu Daya gerak Bumi, yang berputar pada porosnya, serta menyebabkan terjadinya siang dan malam.

Dwi wara ngaran Menga, Pepet. Dalam salah satu sumber menyebutkan, bahwa Sanghyang Rau yang mengadakan wengi ( malam ) dan Sanghyang Ketu mengadakan rahina ( siang ). Menga artinya terbukalah Siang ( Galang ) juga disebut lemah. Dan berarti malam, jika dikaitkan dengan keberadaan siang dan malam, di mana Matahari terbit dari Timur dan terbenam di Barat. Maka Menga urip-nya 5 karena urip Kangin ( Timur ) 5, dan Pepet urip-nya 7, karena urip Kauh ( Barat ) 7. Di sisi lain, ada juga menganggap Menga itu berada di Timur, sedangkan pepet adanya di Utara. Di mana gelap ( simbul Dewa Wisnu ) dan Damuh turun adanya di Utara, di mana urip-nya 4. Maka, Pepet jumlah urip-nya 4, konotasinya Utara. Sumber lain juga ada yang mengartikan bahwa Menge-pepet tersebut bermakna mata atangi lan aturu.

Pengaruh Dwi Wara terhadap Watak Kelahiran

( Prewatekan manut Dwi Wara )

Menge berada di bawah naungan Sanghyang Kalima,

yang mana Sanghyang Kalima berasal dari lima sinar ( dewa/div ). Seseorang yang terlahir kembali pada dina menge, salah satunya menandakan bahwa dia sudah banyak mempunyai tabungan karma yang baik dan benar. Menge urip-nya 5.

Pepet dinaungi Sanghyang Timira. 

Seseorang yang lahir pada dina pepet disinyalir karena saratnya beban duniawi yang dibawanya mati pada kehidupan terdahulu, yang tercatat pada alam bawah sadarnya. Keterikatan duniawi, atau pun melakukan perbuatan di wilayah sapta timira di antaranya menjadi penyebab kelahiran berulang-ulang. Pepet urip 4.

Solusi. Terus tingkatkan segala perbuatan yang baik dan benar pada kesempatan hidup saat ini. Tuntunlah diri dengan suatu penyadaran, bahwa hidup di mayapada ini tidaklah bersifat kekal, dan hanya sesaat. Yakini hal itu, niscaya akan dapat mengurangi kesempatan lahir berulang-ulang ( reinkarnasi ).

makna Tri Wara dalam Wariga

Tri Wara

Triwara Wewaran
Triwara adalah siklus tiga harian dalam pawewaran. Unsurnya ada tiga yaitu Pasah, Beteng, dan Kajeng. Sifat ketiga unsur ini lebih nyata dalam kehidupan kita. Unsur keduniawian lebih dominan karena umumnya baik buruknya masih dapat kita kendalikan asalkan dengan kesungguhan.
  1. Pasah atau Dora artinya tersisih. Baik untuk dewa-yadnya. Baik untuk mengerjakan hal-hal yang kaitannya dengan masa depan. Tidak baik mengungkit masa lalu, juga mengadili orang berdasarkan masa lampau. Baik untuk merencanakan pekerjaan besar dan penting. Hindari penghamburan waktu yang berharga karena masa yang akan datang sangat tergantung kepada hari ini. Tingkatkan perhatian kepada keluarga dan saudara dekat, tetapi jangan terlalu memanjakan mereka secara langsung. Baik untuk mengadakan sangkep atau rapat. Tidak baik untuk mengupacarai kematian atau memperingati yang sudah meninggal di masa lalu. Baik untuk memupuk kepercayaan masa datang. Baik untuk berniaga yang tidak memerlukan pembayaran kontan, baik untuk mempertimbangkan rekanan baru. Yang lahir pada hari ini sifatnya riang, harapannya besar dan tidak mudah berputus asa, tetapi kurang dapat menjaga kepercayaan.
  2. Beteng atau Waya artinya makmur. Baik untuk manusa-yadnya. Baik untuk mengerjakan hal-hal yang kaitannya dengan masa lalu, misalnya memperbaiki hubungan yang kurang baik, meluruskan kesalahpahaman dan sebagainya. Baik untuk mencatat dan menganalisa hasil kerja dan situasi diluar. Juga merupakan hari yang baik untuk memperkuat kehandalan diri, belajar dan berdoa. Baik untuk berniaga, utamakan pembayaran kontan dan berhati-hatilah dengan hutang-piutang. Baik untuk mengadakan rapat evaluasi. Tingkatkan perhatian terhadap rekan sekerja serta tetangga. Yang lahir pada hari ini sifatnya tenang, percaya diri dan kasih terhadap orang tua, tetapi kurang dapat menguasai emosi.
  3. Kajeng atau Biantara artinya tekanan yang tajam. Baik untuk buta-yadnya. Baik untuk mengerjakan hal-hal yang kaitannya dengan masa sekarang, misalnya membenahi dan merapikan perabot dan peralatan. Hindari memulai sesuatu yang baru, apa lagi jika dampaknya akan besar dan menyangkut banyak orang dalam waktu yang lama. Tingkatkan kewaspadaan karena kekuasaan alam dan faktor luar mengancam yang kurang berhati-hati. Jaga kesehatan dan keselamatan. Hindari menghamburkan uang untuk hal yang tidak perlu karena hari ini pertimbangan kita dalam menentukan yang perlu dan tidak perlu, sangat lemah. Yang lahir pada hari ini sifatnya humoris, pemaaf dan tidak mudah marah, tetapi kurang pandai berhemat.
dalam wariga, Pecah lagi hitungan dwi ( dua ), muncul Uku Tambir yang mengadakan Tri Wara : Dora, Waya, dan Byantara. Tri wara dikatakan mempunyai dua karakter ; yang pertama :
  1. Dora, artinya Jaba sisi,
  2. Waya, artinya Jaba Tengah,
  3. Byantara, artinya Jeroan.
Karakter yang kedua :
  1. Dora, yang berarti Kala; maksudnya, jika kemarahan itu dipendam di dalam diri, maka ekspresi tubuhnya akan terlihat dari luar ( jaba sisi-nya ), seperti : wajah memerah, mau pun gerak tangan secara spontan mengepal dan segera mengayun.
  2. Waya, yang berarti Manusa; maksudnya, bahwa kesejatian manusia ada di tengah-tengah hati nuraninya ( sarira, di jaba tengah ). Dan Suara Hati Nurani adalah suara kejujuran manusia, di mana jujur itu sebagai Lingga daripada Dewa ( div, sinar ).
  3. Byantara, yang berarti Dewa; digunakan dalam konteks padewasan.
Di sisi lain, Tri wara terdiri dari Pasah, Beteng, Kajeng, di mana :
  1. Pasah berarti Dora ; dewanya Sanghyang Cika, urip 9.
  2. Beteng berarti Waya ; dewanya Sanghyang Wacika, urip 4.
  3. Kajeng berarti Byantara ; dewanya Sanghyang Manacika, urip 7.
Padewasan dari sudut pandang Tri wara dibilah menjadi tiga bagian, yakni :
  1. Pasah artinya pisah, juga berarti sah. Dan dina pasah ini digunakan untuk dewasa Dewa yajnya, sebab Pasah juga artinya Alam Langit, sebagai tempat bersemayamnya para Dewa ( Alam Swah ).
  2. Beteng berarti Apah ( Embang, Bhuwana ), disebut juga Alam Tengah ( Alam Bwah ). Terletak di bawah Langit dan di atas Bumi, dan dina beteng digunakan untuk dewasa Manusa yajnya.
  3. Kajeng berarti Alam Bhur ( Bhawana ), dikatakan juga sebagai alam berwujud ( alam nyata ). Dina kajeng digunakan sebagai dewasa Bhuta yajnya.
Sumber lain mengatakan, bahwa Tambir caraking tahun ( umur ) yang mengadakan Tri Wara, dalam konteks Tiga Taya. Makna Tambir juga diungkap dengan istilah lain, yakni Tambur ( Bhs. Bali Kuna ) yang berarti pantulan. Maksudnya, oleh karena manusia mengkonsumsi isi alam, maka mendapat pantulan dari alam melalui Tri Taya daripada Alam. Terjadi perpaduan Tri Wara, yakni perpaduan antara kekuatan Alam Langit ( swah ), Alam Tengah ( bwah ) dan Alam Bumi ( bhur ) ini masuk dan berstana di tengah-tengah hati. Makanya Tri wara disebut juga Uriping Ageni.

Berdasarkan bacaan hakekat Alam tersebut hendaknya manusia dapat menyesuaikan dirinya dengan pergeseran pengaruh sifat Alam, terutama terhadap psikisnya ( mental ). 
Mengapa ? 
karena perkembangan hidup manusia selalu berada di bawah pengaruh Alam semesta.

Demikianlah penjabaran Wariga sebagai metoda warisan dari masa dulu, yang telah dijadikan pegangan di Bali dalam segala bentuk kegiatan. Dewasa dibilah menjadi tiga bagian dari sudut pandang metoda Tri Wara yakni ;
  1. Dora, ada pada penampilan di luar ( ekspresi tubuh ).
  2. Waya, ada pada sarira, fisik ( sehat atau lemah )
  3. Byantara, ada pada isi hati.
Tri Wara mempengaruhi kedudukan dari panca gati, yang sering dikatakan sebagai Parhyanganing Rat kabeh : dora, waya, byantara. Selain itu, Tri Wara ini selalu terkait ( sebagai dasar ) dalam pemilihan padewasan. Contoh, pada hari Pasah Tungleh dan Pasah Paniron, serta hari Kajeng Mahulu dan Kajeng Urukung, merupakan hari ( dewasa ) di mana pengaruh Matahari dan Bulan tersebut dikatakan naik atau turun. Bila naik, berarti matahari atau bulan berpengaruh terhadap Alam Apah. Sedangkan jika turun akan berpengaruh kepada Bumi. Seperti itulah metode yang dipakai untuk menentukan dewasa untuk bercocok tanam. Jika Amretha-nya dominan berpengaruh ke Bumi, seperti dina Kajeng Mahulu, maka cocok untuk tanaman yang menghasilkan umbi-umbian. Sebaliknya, Kajeng Urukung adalah dewasa untuk tanaman yang berbuah.

Pengaruh Tri Wara terhadap Watak Kelahiran

( Prewatekan manut Tri Wara )

Kelahiran pada waktu Pasah ( dora ) di bawah naungan Sanghyang Cika. 

Dora dalam arti kala, diatasi oleh Cika, konotasinya cipta dan cita, sebagai pencetus perbuatan yang menjadi kayika. Maksudnya, terlahir pada waktu Dora dikuasai oleh cika, yang menandakan bahwa di masa lalunya dia adalah orang pemalas.
Saran. Sebaiknya dalam kehidupan ini lebih banyak berbuat ( mlaku ) daripada hanya berkutat pada pembuatan rencana kerja saja ( hanya berkelana dengan mengandalkan pikiran, tanpa pernah berbuat ).

Kelahiran pada waktu Beteng ( Waya ) diayomi oleh Sanghyang Wacika. 

Kelahirannya dikendalikan oleh watak Waya-nya, artinya pada kehidupan terdahulu seseorang tidak waspada dalam berbicara ; atau dengan kata-kata dia sering menyakiti orang lain – berkata kasar mau pun dengan fitnah. Jadi, dengan kata-kata, seseorang dapat menjadi tertawa, atau marah. Dengan memfitnah atau berkata kasar membuat lawan bicara marah. Ini berarti, secara tidak sadar kita sesungguhnya memasukkan amarah orang lain ke dalam alam bawah sadar. Hal ini dapat menjadi bumerang ( beban psikis ), di mana setiap kali bertemu akan ada ganjalan di dalam diri, atau merasa risih, merasa dihakimi, dan lain sebagainya.
Saran. Waspadalah dalam mengungkapkan isi hati, sehingga tidak menyakiti perasaan orang lain. Ingatlah bahwa wicara itu sejatinya adalah api, karena dapat membakar amarah ; tajam, setajam silet hingga dapat menyayat perasaan kedua belah pihak, baik diri kita mau pun lawan bicara.

Kelahiran pada waktu Kajeng ( Byantara ) dinaungi oleh Sanghyang Manacika. 

Byantara diatasi oleh Manacika, artinya pada kehidupan terdahulu seseorang banyak berbuat salah dalam mencapai tujuannya. Hal ini karena ego personalnya yang mendominasi. Watak Kajeng umumnya kurang senang berbasa-basi, dan biasanya langsung menukik kepada persoalan pokok, serta bersikap realita, nyata.
Saran. Latihlah intuisi, karena intuisi ( bahasa hati nurani ) itu adalah kejujuran yang sejati. Setelah melatih intuisi, yakini dan berpeganglah pada kebenaran bahasa kalbu tersebut. Kebiasan memakai ungkapan “ saya pikir “ dirubah menjadi “ saya rasa “, karena sang pikir itu berasal dari Jnyana yang setiap saat mudah berubah. Sedangkan saya rasa itu adalah ungkapan hati ( ajnya ) yang jujur, yang angkat bicara.

makna Catur Wara dalam Wariga

Catur Wara

Caturwara Wewaran
Catur wara adalah nama dari sebuah pekan atau minggu yang terdiri dari 4 hari, dalam budaya Jawa dan Bali. dibali merupakan siklus empat harian dalam wewaran. Unsurnya ada empat yaitu Sri, Laba, Jaya dan Menala.
  1. Sri atau Seri artinya kemakmuran. Hari yang baik untuk para petani atau sektor agro. Hari ini panen dapat diandalkan, bibit akan mudah bersemi dan hama akan mudah ditaklukkan. Ternak lebih gemuk dan daging lebih lembut. Sebaiknya hari ini tidak baik untuk mengolah kayu atau bambu karena serat akan menguat dan logam akan aus serta tumpul. Yang lahir pada hari ini beroleh sifat sopan santun dan ramah tamah. Harus lebih banyak belajar dan rajin mencari pengetahuan baru.
  2. Laba artinya berhasil atau pemberian. Hari yang baik untuk para pedagang dan pengusaha non-agro. Logam dan bahan buatan akan berumur panjang, nampak lebih menarik dan mencapai kemampuan puncaknya. Sebaliknya hari ini tidak baik untuk membuat peralatan karena bahannya akan mengeras dan sulit dibentuk. Yang lahir pada hari ini beroleh sifat pantang menyerah dan dermawan. Harus lebih rendah hati dan membuka diri terhadap kritik dan saran.
  3. Jaya artinya kemenangan atau unggul. Hari yang baik untuk para prajurit dan pamong praja. Hari ini peraturan dan ketertiban akan dipandang sebagai hal penting, perintah dan anjuran akan ditanggapi dengan hormat. Sebaliknya hari ini tidak baik untuk menyatakan janji karena kalau meleset tidak akan ada yang bisa melupakan dan memaafkan. Yang lahir pada hari ini beroleh gagah berani dan berwibawa. Harus lebih mendalami keagamaan dan banyak bergaul dengan orang bijak.
  4. Menala atau Mandala berarti lingkungan atau daerah. Hari yang baik untuk para guru, orang tua dan seniman. Hari ini nasehat akan terdengar sampai lubuk hati, kejujuran akan mudah digali dan keindahan akan mudah dinikmati. Sebaiknya hari ini tidak baik untuk mencari untung karena banyak orang akan merasa dirugikan dan merasa tertipu. Yang lahir pada hari ini dikaruniai sifat teduh dan bersahaja. Harus memperluas pergaulan dan menjalin silaturahmi.

dalam sastra wariga, Uku Klau yang dikatakan mengadakan Catur Wara : 1. Shri, 2. Laba, 3. Jaya, 4. Mandala. Klau Linus artinya pusaran angin. Di Bali sendiri dikenal yang namanya angin ngelinus, maksudnya angin yang berputar, dan sekarang lebih popular disebut angin puting beliung. Adanya pusaran angin juga disebabkan oleh dominasi intensitas sinar Matahari yang berasal dari Alam Langit ke Bhuwana ( Alam Tengah ). Itu sebabnya Catur wara disebut juga Uriping Bayu ( Power Air ). Sesungguhnya, makna Catur Wara yang ada di Bhuwana Agung, sebagai petunjuk arah Mata Angin, yang muncul karena pancaran sinar Matahari yang berada di Garis Katulistiwa. 

Agar pengetahuan yang telah diwariskan itu dapat dibuktikan, cobalah amati perjalanan matahari:
  • pada Sasih Kasa, di mana Matahari terbit di Timur, bergerak mulai dari titik 23,5 derajat Lintang Utara dan terbenam di Barat Daya.
  • pada Sasih Kapat matahari bergerak tepat di tengah-tengah Garis Katulistiwa, dan terbenam masih tetap di Barat Daya. 
  • Setelah Sasih Keenem, Matahari akan berbalik ke Utara, terbit di Timur Laut, terbenam pada petang hari di Barat Daya. 
Berarti, ada dua sisi kebenaran dari Catur Wara, yakni satu pihak yang menyatakan bahwa kedudukan Shri di Timur Laut, karena memang Matahari terbit dari arah Timur Laut pada posisi 23,5 derajat Lintang Utara. Namun pada malam hari menuju ke arah Tenggara, dan terbenamnya semakin ke Barat Daya, secara bolak-balik. Di pihak lain dikatakan bahwa Matahari juga ada pada titik 23,5 derajat Lintang Selatan. Jadi, Catur Wara di Bhuwana Agung mempunyai dua urip yang berbeda, yakni :
  1. Shri, berkedudukan Timur Laut, urip-nya 6,
  2. Laba, berkedudukan di Barat Daya, urip-nya 3,
  3. Jaya, berkedudukan di Barat Laut, urip-nya 1,
  4. Mandala, berkedudukan di Tenggara, urip-nya 8
Di pihak lain ada juga kebenaran seperti berikut ini :
  1. Shri, berkedudukan di Utara, urip-nya 4,
  2. Laba, berkedudukan di Timur, urip-nya 5,
  3. Jaya, berkedudukan di Selatan, urip-nya 9,
  4. Mandala, berkedudukan di Barat, urip-nya 7
Namun makna intinya adalah bahwa Alam Langit selalu menurunkan berkah kehidupan, sehingga dunia selalu dalam keadaan Shri. Laba, artinya berkat kasih alam yang selalu menguntungkan semua makhluk hidup. Jaya, artinya berkat alam selalu menang karena kuasaNya. Mandala, artinya alam selalu memvibrasikan amreta-nya ke Bhuwana yang maha luas. 
Kebenarannya diungkap dengan :
  • Shri, disimbulkan dengan Bhatari Gangga sebagai Dewi Kemakmuran, di mana kemakmuran itu berasal dari Amretha yang terkandung di air yang terjatuh dari Alam Langit, dan di waktu pagi menjadi embun ( damuh ) yang membasahi bumi
  • Laba, dengan simbolis Bhatara Bayu sebagai Dewa Penggerak Semesta – suatu kekuatan yang menggerakkan kehidupan di alam ini. Secara kodrati berperan sebagai energi – daya penggerak alam. Dan pada Manusia adalah sebagai daya penggerak fisik
  • Jaya ( keunggulan ) disimbulkan dengan Sanghyang Sangkara. Berkat alam semesta karena kuasa Tuhan selalu mendominasi alam kehidupan
  • Mandala ( wewidangan, wawasan yang luas ) yang disimbolkan dengan Sanghyang Kencana Widhi, yakni berkat alam semesta yang menjangkau seluruh ruang lingkup alam kehidupan
Pengaruh Catur Wara di Bhuwana Agung terhadap Bhuwana Alit :
  1. Shri, sebagai penikmat pandangan ( mata )
  2. Laba, penikmat pendengaran ( telinga )
  3. Jaya, sebagai penikmat penciuman ( hidung )
  4. Mandala, sebagai ungkapan mimik muka ( wajah )

Mithologi Catur Wara

Mitos yang sering dituturkan, bahwa:
  • Hyang Angga “ dibunuh “ empat kali, dan urip sebanyak empat kali pula, makanya Shri urip-nya 4. 
  • Sanghyang Bayu terbunuh lima kali, dan urip lima kali, makanya Laba urip-nya 5. 
  • Sanghyang Purusa terbunuh sembilan kali, urip sembilan kali, makanya Jaya urip-nya 9. 
  • Sanghyang Kencana Widhi terbunuh delapan kali, urip delapan kali, makanya Mandala urip-nya 8.

Pengaruh Catur Wara di Bhuwana Alit terhadap Watak Kelahiran

( Prewatekan manut Catur Wara )
Catur wara dinaungi oleh sifat-sifat Bhagawan ( Bhaga dan wan – hak dan wewenang pribadi ). Jelasnya, Catur wara menandakan manusia dilahirkan akibat perbuatan yang sewenang-wenang, terutama dalam menggunakan hak dan kewenangan yang telah diberkatkan oleh alam ( Sanghyang Embang ).

Shri, di bawah naungan Bhagawan Bregu. 

Shri artinya amretha. Semua manusia membutuhkan santapan untuk dapat bertahan hidup. Kelahiran pada waktu Shri menandakan bahwa di kehidupan terdahulu dia sudah hidup berkecukupan secara material, namun kurang bisa mengelolanya, dalam arti segalanya hanya untuk memuaskan egonya sendiri. Apa yang dimakan dan diminum serta nafas yang dihirupnya menjadi Tri mala, yakni : Moha, Mada dan Kasmala, bukannya menjadi Tri Kaya Parisudha. Hal ini berbanding terbalik dengan keberadaan Shri yang ada di Bhuwana agung yang memberkatkan sifat kasih alam kepada semua kehidupan. Pembawaan kelahiran Shri adalah kepuasannya didapat hanya dengan memandang sesuatu. Tajam penglihatannya.
Saran. Apa pun yang anda miliki pada kesempatan hidup ini cobalah untuk berbagi kepada sesama, tanpa membeda-bedakan. Kewibawaan dan kharismatik merupakan potensi yang melekat dalam diri, serta dapat dijadikan landasan yang baik sebagai seorang enterprenur, human resources, public relation, dan sejenisnya. Karena dengan berbuat seperti itu berarti pelunasan dari hutang karma masa lalu yang pada kesempatan hidup ini seharusnya bisa dilunasi.

Laba, dianungi oleh Bhagawan Kanwa. 

Kelahiran pada waktu Laba menandakan bahwa dulunya dia lebih banyak hanya menikmati hidup daripada melakukan tugas dan kewajibannya dengan baik dan benar. Watak kelahiran laba umumnya periang, murah rejeki, karena di alam bawah sadarnya masih banyak melekat kenikmatan duniawi masa lalunya. Sesungguhnya, watak yang terbawa lahir saat ini merupakan pahala dari masa lalu yang menghukum dirinya, maka dia dilahirkan kembali pada dina laba. Namun kelahirannya saat ini merupakan suatu keberuntungan, karena diberikan kesempatan untuk menghapus karma wasana yang buruk tersebut, yakni dengan lebih banyak melakukan aktifitas yang bermanfaat buat orang banyak. Pembawaan kelahiran Laba adalah tajam pendengarannya.
Saran. Renungkan motto ini : manusia lahir ringan bagaikan kapuk, saat tumbuh dan berkembang menjadi berat seberat batu. Kemudian, saat ajal menjelang sepatutnya menjadi ringan seringan kapuk. Artinya, pada kehidupan saat ini menjauhlah dari kenikmatan duniawi secara perlahan, serta kikislah beban psikis yang tertumpuk di alam bawah sadar ini.

Jaya, dinaungi Bhagawan Janaka. 

Watak kelahiran Jaya, sangat cerdik dan unggul, serta gagah berani. Terlahir kembali, karena kecerdikan dan keberanian di masa lalunya dikendalikan oleh ego personalnya. Maksudnya, digunakan untuk tujuan yang kurang baik, arogan, serta suka menindas yang lemah. Pembawaan kelahiran Jaya, tajam atau sensitif dengan penciumannya.
Saran. Kendalikan ego personal, manfaatkan kecerdikan sejajar jujur, dan pandanglah hidup sebagai sebuah kompetisi, serta tunjukkan keberanian di mana saja untuk tujuan yang baik dan benar.

Mandala, dinaungi Bhagawan Narada. 

Pembawaan kelahiran Mandala, berwawasan luas, suka berpetualang. Cenderung sebagai penikmat hidup, kurang menyukai kehidupan yang monoton, mau menang sendiri dan susah diatur, lebih menyenangi hidup bebas, serta peduli dengan penderitaan orang lain. Sejatinya, dengan kebebasan yang tidak terarah itulah yang menghukumnya sehingga terlahir kembali pada dina Mandala. Pembawaan kelahiran Mandala suka dukanya nampak pada ekspresi mimiknya ( wajahnya ).
Saran. Hiduplah secara bebas dan terkendali, dalam pengertian jangan sekali-kali melompati “ pagar pendek “, karena hanya kita sendiri yang mampu membatasi atau pun mengendalikan ego personal tersebut. Gunakan kebebasan itu di mana saja untuk tujuan yang baik dan benar.
demikian ulasan wewaran - Catur Wara, semoga bermanfaat

makna Panca Wara dalam Wariga

Panca Wara

Pancawara wewaran
adalah nama dari sebuah pekan atau minggu yang terdiri dari 5 hari, dalam budaya Jawa dan Bali. Panca wara juga disebut sebagai hari pasaran dalam bahasa Jawa karena beberapa pasar tradisional pada zaman dahulu hanya buka pada hari tertentu saja, misalkan Pasar Legi dan Pasar Pon di Solo hanya buka pada hari Legi dan Pon saja dalam satu minggu kalender Jawa (siklus 5 hari). 

Dalam sistem penanggalan Jawa dan Bali, terdapat 2 macam siklus waktu: siklus mingguan dan siklus pasaran. Dalam siklus mingguan (Sapta Wara), satu minggu dibagi menjadi 7 hari, seperti yang kita kenal sekarang (Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, dan Minggu). Dalam siklus pasaran, satu pekan terdiri dari 5 hari pasaran.

Pancawara adalah siklus lima harian dalam wewaran. 
Unsur-unsurnya adalah Pon, Wage, Kliwon, Umanis dan Paing. 
Sebagai wewaran yang berpengaruh langsung terhadap kehidupan manusia, sifat pancawara ini sangat unik. Nenek moyang kita mengumpamakan sifat hari ini sebagai sifat binatang. Bukan martabat kebinatangannya yang ditekankan disini, tetapi sebagai pencerminan agar yang bersangkutan dapat menganalisa, merenung sifat dan laku masing-masing yang di depan cermin. Asal muasal nama-nama ini sangat misterius. Konon simbolisasi dari posisi (patrap) bulan seperti:

  1. Umanis or Legi symbolizes retreat (mungkur) Rasa
  2. Paing or Pait symbolizes to face or appear in front of (madep) Cipta
  3. Pon or Petak symbolizes sleep (sare, tilem, sirep) Idep
  4. Wage or Cemeng symbolizes sit down (lenggah, negak) Angen
  5. Kliwon or Kasih symbolizes stand-up (jumeneng, mejujuk) Budi

Menurut kalender Jawa, tiap hari dan tanggal dalam sistem kalender Masehi selalu mempunyai dua macam nama hari. Misalnya 1 Januari 2001 adalah hari Senin - Paing, berikutnya tanggal 2 Januari 2001 adalah hari Selasa - Pon, kemudian diikuti hari Rabu - Wage, disusul hari Kamis - Kliwon, Jumat - Legi, Sabtu - Paing, Minggu - Pon, Senin - Wage, Selasa - Kliwon, dan seterusnya. Kombinasi dua macam hari ini sampai sekarang masih dipakai dalam penerbitan surat khabar berbahasa Jawa, seperti harian Kedaulatan Rakyat yang terbit di kota Yogyakarta, misalnya.

sifat - sifat Pancawara:

  1. Umanis (Legi) Sifatnya seperti kucing dan tikus. Sifat kucing: peka, jinak, periang seperti tidak punya beban. Jeleknya kalau dihalangi, sifatnya jadi penuh curiga. Bisa bergaul dengan siapa saja. Sifatnya tikus: Malam tidak tidur, waspada, sangat berhati-hati. Sering kebingungan oleh ulahnya sendiri. Makan hanya sedikit. Berbisa gigitannya, sebarang yang digigit cepat mati. Pendendam. Sering menjadi korban orang lain. Besar rejekinya tetapi juga besar tantangannya.
  2. Paing (Jenar) Sifatnya seperti harimau, jauh jarak jelajahnya, mandiri sekali, jarang makannya karena kuat menahan lapar sampai suatu saat menjadi piaraan raja. Banyak musuhnya, sangat berbahaya kalau didahului, tetapi kalau mendahului tidak merasa bersalah. Gemar kebersihan. Besar nafsu birahinya. Mudah diperdaya.
  3. Pon (Seta, Palguna) Sifatnya seperti kambing. Perginya tidak terlalu jauh, yang dimakan hanya rumput, tidak merugikan orang lain. Sering menanduk keluarganya sendiri, pendek pertimbangannya. Sering mengamuk, berani kepada penggembalanya. Kalau sedang marah sulit diredakan. Hidupnya tidak berlebihan tetapi berkecukupan.
  4. Wage (Cemeng, Kresna, Langking) Sifatnya seperti sapi. Menuruti apapun yang diperintahkan penggembalanya, tetapi makanannya harus disediakan, manja. Marah jika terlalu sering dicambuk. Kalau sampai menanduk resikonya besar. Tidak terlalu memburu makanan. Kalau sudah makan lupa kepada saudara. Lurus tindakannya tetapi sering kena fitnah.
  5. Kliwon (Kasih) Sifatnya seperti kera dan anjing. Kontroversial. Pandai berbicara, tajam ingatannya. Sifatnya kera: suka memanjat, galak, tidak bisa jinak. Daerah manapun dijelajahinya. Meskipun diberi makan, masih mau menggigit dan melecehkan si pemberi. Tidak bisa didekati dan diajak berkompromi. Sifatnya anjing: Setia dan menurut kepada tuannya, tetapi apapun dimakannya. Yang diburu kesenangan saja. Besar ambisinya. Tidak banyak rintangannya.
Dari salah satu sumber dikatakan bahwa Wariga-Bintang yang mengadakan Panca Wara di Bhuwana Agung, yang terdiri dari :
  1. Umanis, urip-nya 5, sebagai penggerak semesta, diayomi Sanghyang Iswara.
  2. Paing, urip-nya 9, sebagai pencipta semesta, diayomi Sanghyang Brahma.
  3. Pon, urip-nya 7, sebagai penguasa semesta, diayomi Sanghyang Mahadewa.
  4. Wage, urip-nya 4, sebagai pemelihara, diayomi oleh Sanghyang Wisnu.
  5. Keliwon, urip-nya 8, sebagai pelebur ( perubah ), diayomi oleh Sanghyang Siwa.
Selanjutnya, vibrasi Panca Wara di Bhuwana Agung ini akan turun ke Bhawana dan memasuki segala kehidupan yang ada di muka Bumi, serta mengarah kepada yang lebih baik dan benar. Nah, khusus pengaruhnya setelah masuk ke dalam tubuh manusia ( Bhuwana Alit ), maka keberadaannya menjadi sebagai berikut :
  • Pengaruh Umanis ada pada sinar mata ( soca ), sebagai penglihatan.
  • Pengaruh Paing ada pada mulut, khususnya kepada inti ( guna dari ucapan ),
  • Pengaruh Pwon ada pada daya serap telinga, sebagai pendengaran,
  • Pengaruh Wage ada pada guna hidung, penciuman ( penikmat bau ),
  • Pengaruh Keliwon ada pada daya guna olahan lidah ( pengatur ucapan ).
Istilah Wariga berasal dari bahasa Bali Kuna yang artinya Bintang. Dan makna Bintang yang dimaksud dalam konteks ini adalah Bintang Lima, yang terdiri dari :
  1. Bintang Kartika dan Bintang Uluku yang pada masa itu dipakai acuan sebagai Tengeran Sasih. 
  2. Bintang Siang yang saat ini dinamakan Bintang Timur, sebagai pertanda hari menjelang pagi. 
  3. Bintang Erang-erang sebagai pertanda hari menjelang malam. 
  4. Bintang Timbang dipakai sebagai tanda penunjuk arah Selatan, juga sebagai cermin untuk mengetahui Sang Waktu.
Sejak dulu, Bintang ini dikatakan sebagai salah satu sumber kehidupan di Alam Langit yang memberi pengaruh ambek kepada manusia. Bintang pada waktu malam hari menciptakan kelembaban hawa ( udara ) yang berbeda-beda. Dan dengan intensitas kelembaban udara yang berbeda-beda inilah menjadi penyebab timbulnya pusaran angin. Atas dasar itu Panca Wara disebut juga Uriping Angin.

Seperti ini kronologisnya. Vibrasi murni dari para Dewa ( Div, sinar ) bergerak dari Alam Langit ( Alam Swah ) menuju ke Alam Bhawana ( Alam Bhur ), dengan melintasi Bhuwana ( Alam Bwah, Embang ). Nah, pada saat melintas di Bhuwana, vibrasi para dewa ini berbaur dengan power alam raya, di antaranya dengan energi radikal yang melayang bebas dalam dimensi rupa warna : merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu. 
Jadi, keberadaan rupa warna ini selalu memenuhi Bhuwana, dan sudah pasti terjadi pembauran. Berarti, terjadi perubahan atas kemurnian dari sifat-sifat para Dewa, yakni dari Dewa ( div ) menjadi Dewata, atau disebut juga Bhatara ( Bhat-ar-a ). 
Maksudnya, kemurnian vibrasi sinar suci yang semula satwika ( transparan, tidak tampak secara kasat mata ), kini berubah diselimuti rupa warna yang selalu melayang bebas. Akibatnya berdampak pada meredupnya ke-satwika-an vibrasi sinar itu. Selanjutnya, secara nyata terlihat bak rupa warna yang mendominasi Alam Tengah, dan diberi tanda nama Panca Dewata.

Dari Bhuwana, sinar Panca Dewata ini bervibrasi turun melintasi ketujuh lapisan Embang ( Sapta loka, 7 lapisan atmosfer ) menuju ke Bhawana. Pada Bhawana vibrasi sinar ini akan terbilah dua : ada yang terbias ke bumi, serta ada yang terpantul kembali menuju Bhuwana. Begitu seterusnya, terjadi secara kodrati alam. Yang terpantul dari bhawana menuju bhuwana ini membawa unsur-unsur yang berasal dari bumi ( akibat penguapan oleh sinar matahari ). Siklus perputaran kodrati ini menyebabkan terjadinya perubahan sifat terhadap Panca Dewata/Panca wara yang ada di Bhuwana Agung dan mempengaruhi kehidupan, khususnya watak panca wara manusianya. Perubahan ini diberi kode ( signans ) Panca Gati, dengan penjelasan :
  • Perubahan dari Umanis menjadi Sang Shrigati, di mana Shri yang artinya keinginan, dan Gati artinya instan. Maksudnya, suatu keinginan yang bersifat instan. Jelasnya, keinginan yang muncul dan berasal dari pikiran umumnya bersifat revolusi – ingin selalu cepat ( instan ). Akibatnya, seseorang sering mengalami ketidakselarasan antara pola pikir dengan ucapan, mau pun perilaku.
  • Perubahan dari Paing menjadi Asuajag, merupakan keinginan yang selalu bersifat dinamis.
  • Perubahan dari Pon menjadi Sang Empas, merupakan keinginan namun bersifat evolusi. Jadi, tidak seperti sifat Asuajag.
  • Perubahan dari Wage menjadi Sang Gumarang, artinya sifat membutuhkan, namun perubahannya tepat waktu sesuai dengan ukuran standar waktunya. Contoh, seorang petani akan menunggu hasil panennya sesuai dengan jenis yang ditanam, yang waktu panennya mutlak berbeda–beda.
  • Perubahan dari Keliwon menjadi Kala Kutila, adalah suatu keinginan untuk mendahului evolusi daripada alam. Misalnya mengakali dengan daya cipta yang tidak alami untuk memperdayakan menjadi sesuatu yang instan ( teknologi canggih ).

Pengaruh Panca Wara terhadap Watak Kelahiran

( Prewatekan manut Panca Wara )
Panca wara merupakan anugerah Dewata kepada kehidupan, khususnya manusia yang diberkahi unsur-unsur kesucian serta diberikan mandat berupa hak dan wewenang mengelola alam. Nah, akibat kesalahan di dalam mempertanggungjawabkan mandat sebagai manusia, maka ia terlahir kembali. Terlahir pada dina :

Umanis, dinaungi olah:

  • Dewa Iswara, 
  • Rsi Kursika, 
  • Bhagawan Tetulak. 
Sesungguhnya, pada dina Umanis para Dewa telah secara adil memvibrasikan anugerah berupa daya guna (kemampuan) kepada manusia. Nah, justru karena anugerah tersebut tidak diberdayakan secara baik dan benar pada kehidupan yang lalu, maka dia terlahir kembali pada hari Umanis. Pembawaan watak Umanis di antaranya, sebagai tenaga penggerak (mobilisator ), suka memberi nasehat, namun jarang mampu menyadarkan orang lain.

Paing, diayomi oleh:

  • Dewa Brahma, 
  • Rsi Gharga, 
  • Bhagawan Mercukunda. 
Dewa Brahma menganugerahkan Cipta kepada manusia. Seseorang yang terlahir pada waktu paing, jelas menandakan pada kehidupan yang lalu dia salah dalam menggunakan ciptanya, sehingga dia terbebani oleh ciptanya sendiri. Wataknya tidak pandang bulu, mudah dihasut dan diadu domba. Pembawaannya sering asal bunyi, tanpa mengetahui ujung pangkal permasalahannya.

Pon, diayomi oleh:

  • Dewa Mahadewa, 
  • Rsi Maitri, 
  • Bhagawan Wrhaspati. 
Seseorang yang dilahirkan dina pwon, akibat pada kehidupan terdahulu dia bergulat dengan keimanannya, seperti ucapannya sering tidak selaras dengan kata hatinya. Wataknya kaku, kukuh dengan pendapatnya sendiri, meskipun sahabatnya salah, tetap akan dibelanya. Suka membuat susah sendiri dan boros. Pendengarannya sensitif, mudah tersulut emosinya. Kelakuannya kadang sulit diterka.

Wage, dinaungi oleh:

  • Dewa Wisnu, 
  • Rsi Kurusya, 
  • Bhagawan Penyarikan. 
Kelahiran pada dina wage karena di masa lalu banyak keliru di dalam menempatkan kasihnya. Ibarat pohon kelapa yang ditanam di pekarangan sendiri, namun tumbuhnya miring, sehingga buahnya jatuh di tetangga. Terlahir dina wage, umumnya murah rejeki, namun tetap susah karena tidak bisa mengelolanya. Suka berulah dihadapan orang banyak, apalagi untuk menjatuhkan orang yang tidak disukainya. Sensitif dengan penciuman.

Kliwon, dinaungi oleh;

  • Dewa Siwa, 
  • Rsi Prtanjala, 
  • Bhagawan Krtanjala. 
Seseorang yang terlahir dina kliwon menandakan di kehidupan terdahulu sering menyalahgunakan kebenaran budhinya, suka pilih kasih, atau kurang berlaku adil. Kekeliruan itulah yang menjadi pemicu terlahir kembali. Berwatak di antaranya suka penasaran, namun menjadi pembosan dan pemalas bila telah berhasil memenuhi rasa penasaran tersebut.

Panca wara di Bhuwana alit terletak di rongga dada, yakni :
  1. Umanis, terletak di pepusuh, terkait dengan tingkat kemampuan,
  2. Paing, terletak di Hati, sebagai tempat cipta,
  3. Pwon, terletak di Ginjal, terkait dengan tingkat idealisme,
  4. Wage, terletak di Ampru ( nyali ) sebagai katalisator / penetralisir.
  5. Keliwon, terletak di Tungtunging hati, rumah dari sang buddhi luhur.
Panca Wara adalah suatu metoda pengenalan kasih-Nya alam yang diperpanjang oleh Sang waktu. Dan welas asih Tuhan ini bukan hanya untuk umat manusia saja, melainkan diberkatkan juga kepada semua kehidupan, yang disalurkan lewat dualitas sifat dengan ungkapan ala ayuning dina. Maksudnya, setelah gelombang inti kehidupan bergerak memenuhi cakrawala, terjadilah proses kodrati alam yang menghasilkan dualitas sifat. Di dalam pandangan para Rsi Agung terdahulu dikatakan bahwa proses pembauran di Embang tersebut merupakan perubahan panca wara menjadi panca gati, yang menghasilkan ala dan ayu. Kedudukan Panca Gati ini menentukan turunnya Amretha Bhuwana yang memasuki Bhawana, khususnya mental manusia.

Dikatakan lebih lanjut, bahwa naik-turunnya Amretha beserta sifat hidupnya diungkap dengan metoda Laku. Pengertian laku merupakan cerminan dari watak yang terbawa lahir sebagai bekal karma wasana dalam melakoni hidup. Itulah sejatinya keadilan serta kejujuran alam terhadap keberadaan kejiwaan manusia itu sendiri, untuk selanjutnya dipakai dasar menjalani kodrat hidup. Jika terlahir pada saat Sang Shrigati turun ke Bumi, akan berpengaruh kepada kejiwaannya, serta punya watak kasih terhadap sesamanya. Berikut penjelasannya :
  1. Sang Shrigati artinya santapan semua mahluk hidup. Khususnya pada manusia adalah santapan mata dan pikiran – Panca Karmendrya dan Panca Budindrya yang menikmati berkah Dewa Iswara.
  2. Sang Asuajag adalah santapan perut, keinginan untuk menyantap makhluk yang berdarah untuk diolah menjadi tenaga.
  3. Sang Empas adalah fisik – kesehatan, ingin santapan, ingin istirahat/tidur.
  4. Sang Kala Gumarang, santapan untuk batin/jiwa, seperti kenyaman, kedamaian.
  5. Sang Kala Kutila, rasa yang dikecap lidah yang memerlukan santapan. Kalau di dalam adalah Panca Bhudindrya yang menikmati.
Pengaruh Panca wara dan panca gati terhadap watak kelahiran dapat dipelajari, seperti penjabaran singkat berikut ini :
  1. Terlahir pada dina Umanis, ketika Sang Shrigati turun memasuki Bumi, memiliki watak penuh kasih sayang dengan lingkungannya. Sebaliknya, kalau kedudukan Sang Shrigati munggah berada di Bhuwana, cenderung berwatak tidak peduli kasih sayang, egois, serta mengutamakan kepentingan pribadi, dan suka menceriterakan atau mencari-cari kesalahan orang lain.
  2. Terlahir pada dina Paing, ketika Sang Asuajag turun berada di Bumi, cenderung suka membuat sakit hati orang lain, sering ditakuti di lingkungannya. Sedangkan kalau Sang Asuajag munggah berada di Bhuwana, dampaknya sering dicurigai atau kena fitnah, walaupun dia sesungguhnya dalam kondisi yang santun.
  3. Terlahir dina Pon, saat Sang Empas turun berada di Bumi, umumnya menunjukkan sikap tidak senang atau kurang ramah, berwatak pendiam ( bodri, bahasa Bali ). Sebaliknya, bila Sang Empas munggah berada di Bhuwana, tabiatnya akan senang berceloteh, sering menjadi pemicu kemarahan orang lain, suka memfitnah. Suka iseng atau jahil agar temannya menjadi susah, padahal hal tujuannya sekedar bercanda.
  4. Terlahir dina Wage, dan Sang Kala Gumarang turun berada di Bumi, tabiatnya suka merusak yang sudah baik dan benar, dan paling suka bikin onar. Sebaliknya, kalau Sang Kala Gumarang munggah berada di Bhuwana, orangnya berkharisma dan disegani orang lain, karena suka melindungi sesamanya.
  5. Terlahir dina Keliwon dan Sang Kala Kutila turun berada di Bumi, karakternya senang mempelajari ilmu hitam, cenderung banyak berbuat dosa. Sebaliknya, jika Sang Kala Kutila munggah ada di Bhuwana, cenderung punya rasa dendam, namun sesungguhnya orang tersebut suka dengan kebaikan dan kebenaran.
demikian sekilas tentang wewaran - Panca Wara, semoga bermanfaat

Selasa, 04 Juni 2013

makna Sapta Wara dalam Wariga

Sapta Wara

saptawara wewaran
adalah nama dari satu pekan atau minggu yang terdiri dari 7 hari. Memiliki nama yang berbeda dengan hari Masehi, walaupun sistemnya sama dan bisa disejajarkan. Tidak perlu dijelaskan panjang lebar karena sudah mendarah daging dalam hati kita. Konon nama dan sifat-sifatnya diambil dari nama benda-benda langit.
  1. radite-raditya: matahari, Minggu (eng: sun-day; fr: di-manche) - Urip 5
  2. soma: bulan, Senin (eng: moon-day; fr: lun-di) - Urip 4
  3. anggara: mars, Selasa (eng:tues-day; fr: mar-di) - Urip 3
  4. budha: merkurius, Rabu (eng: wednes?-day; fr: mercre-di) - Urip 7
  5. wrespati-bagaspati: jupiter, Kamis (eng: thurs-day; fr: jeu-di) - Urip 8
  6. sukra: venus, Jumat (eng: fri-day; fr: ven-di atau vendre-di) - Urip 6
  7. saniscara: saturnus, Sabtu (eng: satur-day; fr: satur-di) - Urip 9

adapun sifat secara umum dari saptawara yaitu:

  1. Redite Sifatnya seperti surya. Terang terus dan terus terang (seperti iklan). Memberikan penerangan dan kehangatan tanpa menuntut pembalasan.
  2. Soma Sifatnya seperti bulan. Berubah-ubah, menghanyutkan perasaan, indah. Melankolis.
  3. Anggara Sifatnya seperti api. Mungkin betul juga seperti Mars, dewatanya peperangan. Panas, membara, mempralina, membasmi, meluluhkan segala sesuatu.
  4. Buddha Sifatnya seperti bumi. Diam, tenang, berwibawa, menyangga, memuat segala sesuatu, menerima dengan rela.
  5. Wrespati Sifatnya seperti halilintar. Menakutkan, mengerikan? Sepertinya seharusnya menjadi hari pendek karena halilintar juga lambang kecepatan. Lambang PLN juga.
  6. Sukra Sifatnya seperti air. Mendinginkan, segar, tetapi dapat melanda segala sesuatu dan menghanyutkan sampai tandas.
  7. Saniscara Sifatnya seperti angin. Meniupkan kesejukan, kerindangan, nafas baru.

Watak Manusia ditinjau dari Sapta Wara

(Prewatekan manut Sapta Wara)
Dikatakan bahwa, Uku Bala-Megadrawela (mendung) yang mengadakan Sapta Wara. Yang dimaksud Bala, perputaran unsur/zat yang berasal dari Bumi dengan unsur-unsur zat dari Alam Apah dan Langit, yang mana lebih didominasi oleh unsur-unsur yang berasal dari zat Bumi dan Apah. Keadaan ini berakibat sinar Langit terhalang, sebagian besar memantul kembali ke Alam Langit. Dan, ada sebagian kecil berhasil menembus lapisan Megadrawela. Akibatnya, hawa di bawah lapisan tersebut menjadi panas/penat, dan oleh para maha Rsi Agung terdahulu diperingati dengan tanda nama Durga. Namun kebijakan Alam selalu menyertai, di mana akan berakhir menjadi hujan atau berubah menjadi embun. Ini berarti sebagai sumber air tawar bagi kehidupan semua makhluk, atau pun sebagai sumber kesuburan Bumi dan tumbuh-tumbuhan, serta aliran air juga menghanyutkan banyak kotoran yang berserakan di permukaan bumi. Karena penuh dengan kebijakan alam, maka Sapta Wara disebut juga Uriping Pandita.

Lebih lanjut dikatakan, vibrasi Sapta wara di Bhuwana Agung secara kodrati selalu turun ke Bumi, memberi berkah kepada semua yang hidup (sarwa tumuwuh). Kronologisnya :
  1. Radite berada di bawah naungan Hyang Banu, memberi berkah kepada sarwa soca/sarwa mabuku.
  2. Soma di bawah naungan Hyang Candra, memberi berkah kepada sarwa bungkah/umbi-umbian.
  3. Anggara di bawah naungan Hyang Manggala, memberi berkah kepada sarwa daun.
  4. Buda di bawah naungan Hyang Buda, memberi berkah kepada sarwa bunga.
  5. Wraspati di bawah naungan Hyang Wraspati, memberi berkah kepada sarwa wija/Biji-bijian.
  6. Sukra di bawah naungan Bhagawan Sukra, memberi berkah kepada sarwa buah.
  7. Saniscara di bawah naungan Dewi Gori, memberi berkah kepada sarwa me-akah/turus.

Nah, bagaimana keberadaan Sapta Wara di Bhuwana alit ?
lebih cenderung mengarah kepada kodrati hidup, dengan fungsi pokoknya :
  1. Radite ada pada Roma (rama rena, artinya lupa dan ingat),
  2. Soma ada pada Banyu (cairan tubuh),
  3. Anggara ada pada Laku (langkah),
  4. Buda ada pada Rasa dan perasaan,
  5. Wrhaspati ada pada Adegan (jelegan, sosok),
  6. Sukra ada pada Untu (gigi), konotasinya Kala, yang berarti cerdas dan kuat.
  7. Saniscara ada pada Cangkem, merupakan esensi dari Wacika.
Selain itu, Sapta wara yang masuk ke dalam diri manusia turut berperan membentuk jasmani dan rohani (lahir batin). Penjabarannya sebagai berikut :

Raditya/Redite, urip-nya 5, diayomi oleh Sanghyang Bhaskara

Raditya merupakan matahari yang masuk ke dalam diri manusia, menjadi : kedua mata yang ada di kepala, mata hati, dan mata batin (pandangan pikiran). Yang menjadi dasar pandangan tersebut, akibat dari mata melihat sesuatu, karena memikirkan, atau merasakan sesuatu. Di Bhuwana Agung, matahari merupakan mata dari hari, dan menerangi semesta. Sedangkan di dalam diri, mata hati yang menjadi suluh bagi Bhuwana alit. Seseorang yang terlahir pada dina redite/raditya sebagai akibat perilaku pada kehidupan terdahulu lebih banyak meniru dari apa yang dilihatnya. Bukannya dipelajari mau pun dihayati terlebih dahulu.

Soma, urip-nya 4, diayomi oleh Sanghyang Candra

Tindak lanjut dari suatu pandangan sebagai dasar untuk mengungkap, karena manusia punya kemampuan memandang. Dari apa yang dilihatnya, kemudian bisa diungkapkan melalui kata-kata, atau dengan perbuatan (karena keberadaan bayu). Semestinya semua itu diimbangi dengan suatu kesabaran, seperti sifat-sifat Sanghyang Candra itu sendiri sebagai simbol Dewi Kesabaran. Terlahir pada dina Soma, akibat perilaku di masa lalunya bersikap kurang sabar, baik dalam ucapan mau pun perbuatan. Itulah yang menjadi tuduh atas laku dan di-titah kembali ke marcapada.

Anggara, urip-nya 3, diayomi oleh Sanghyang Angkara

Anggara sesungguhnya adalah Rudra yang ada di Bhuwana Agung. Dan setelah masuk ke dalam diri manusia berubah menjadi Ludra, yakni panasnya darah yang dikendalikan oleh Angkara. Angkara sendiri sebagai penyebab amarah (naik darah). Akibat “tertuduh” karena ke-angkara murka-annya yang melingkupi kehidupannya di masa lalu, maka ia saat ini terlahir pada dina anggara.

Budha, urip-nya 7, diayomi oleh Sanghyang Udaka

Udaka artinya sila. Kelahiran seseorang pada dina Budha menandakan bahwa di masa lalunya ia lebih banyak berbuat tidak menuruti aturan, tidak tahu sopan santun.

Wrhaspati, urip-nya 8, diayomi oleh Sanghyang Sukra Guru

Guru dalam konteks ini merupakan suatu catatan dari pengalaman hidup yang pernah dilakoni. Saat ini terlahir pada dina wrhaspati karena dulunya ia tidak pernah belajar dari pengalaman hidupnya, dalam artian tidak mengindahkan nasehat gurunya.

Sukra, urip-nya 6, diayomi oleh Sanghyang Breghu

Sukra merupakan Bhagawan yang mempunyai wewenang sebagai pengatur sifat moha dan loba. Makanya Bhagawan Breghu dipakai simbol “ Dewa judi “. Jadi, sifat moha dan loba tersebut yang mengikatnya di masa lalu, sehingga pada kelahiran saat sekarang ini diberi kesempatan untuk memperbaikinya. Itulah yang melatarbelakangi seseorang dilahirkan pada dina sukra.

Saniscara, urip-nya 9, dewanya Sanghyang Wasu

Saniscara merupakan sifat Durga ( baik dan buruk ) yang dikendalikan oleh Wasu, dimana wasu merupakan bagian dari kedelapan dewa yang dikuasai oleh Dewa Wisnu. Terlahir pada dina saniscara lebih dikarenakan pada masa lalunya ia hidup dipenuhi gejolak suka dan duka ( labil ).

Dalam suatu tinjauan yang berasal dari salah satu sumber lontar koleksi pribadi dikatakan perihal perwatakan sapta wara sebagai berikut :

Redite - Minggu

Kelahiran seseorang pada dina Redite, bisa berasal dari titisan orang laki-laki menjadi wanita, atau sebaliknya dari wanita bisa jadi laki-laki. Jadi, kelahiran tersebut bisa memiliki dualitas sifat, di mana orangnya cenderung pintar, dan bisa melakukan pekerjaan untuk laki-laki mau pun wanita. Bicaranya sering goyah, bisa benar atau bisa salah, bisa serius atau bisa cuek.
  • Dewa Indra sebagai Dewa pengayomnya, berarti mempunyai wawasan yang luas. 
  • Kayu-nya, kayu putih (kayu obat). Terlahir dina redite, seringkali menjadi korban kerabat mau pun teman seperjuangannya, karena ia sendiri kurang waspada. 
  • Manuk-nya Siyung, artinya mudah meniru kata-kata orang lain. Tutur katanya banyak dipengaruhi oleh lingkungan sekitar mau pun pergaulannya.
  • Kala-nya, Dora Kala, artinya bersikap apatis terlebih dulu sebelum dilakukan pengamatan dengan benar. Bhuta-nya Catuspata, maksudnya kejiwaannya sering seperti berada di persimpangan jalan ; Orang tersebut merasa seperti maju kena mundur kena, sehingga kemajuannya sering terhambat, apalagi kalau sebelumnya pernah tersandung oleh suatu masalah, dia akan mengalami trauma. 
  • Lintang-nya, Tendas marengreng, kelemahannya sering dengan keputusan tidak perduli, mudah putus asa, dan kwalat. Kurang bakti terhadap leluhur (bapak-ibu, kakek-nenek dari salah satunya). 
Akan menderita sakit yang berawal dari bentrok dengan keluarga/istri sendiri, kemudian ia akan menderita sakit lemayang lemayung, sakit menahun, sakit kepala, sakit ngibuk (ngancuk-ancuk), susah tidur.
Obatnya:
  1. kalau menderita sakit kepala, gunakan daun sirih yang muda dengan sedikit maswi (baca, masuwi), lekatkan pada dahi. 
  2. Kalau ngibuk karena badan panas, gunakan sirih yang tua/sudah kuning, ditambah gamongan, beras yang sudah direndam, kemudian diolah menjadi boreh dan dioleskan ke seluruh tubuh. Sebagai usug-nya dipakai jenis daun-daunan, seperti daun : awar-awar, dadap, pancersona, empag ; kelapanya dibakar, lalu diparut terus disadah, sesudah itu bisa dipakai usug pada seluruh tubuh. Kalau sakitnya tidak mengkhawatirkan seperti sakit ngancuk-ancuk, obatnya : daun juwet, sindrong, diolah menjadi boreh. Pada bagian tulang belakang di-simbuh dengan daun dusakeling, daun jajartanah, temu tis, diramu dengan beras yang sudah direndam, tingkih yang sudah dibakar, bawang metambus pada abu, dan ditambah adas. 
  3. Kalau perutnya terasa sakit ngilut-ngilut, dibuatkan loloh babakan pule, babakan dadap, diisi kelapa yang sudah dibakar, dan sarilungid, lalu di-simbuh-kan pada perut. Kalau sakitnya parah sampai menyebabkan si penderita bingung, obatnya : daun dusakeling, pucuk liligundi ini digiling sampai lumat, lalu diperas dan disaring. Aturan pakai : teteskan pada hidung dan mata.

Soma - Senin

Kelahiran Soma merupakan titisan dari mendiang sang kakek dari pihak keluarga laki-laki, sedikit bicaranya (pendiam). Perasaannya, banyak kasih sayang bagaikan seorang kakek dengan cucunya, juga ramah terhadap lingkungannya.
  • Dewanya : Bhetara Soma / Dewa Bulan. Pengaruh Bulan terhadap orang yang lahir hari soma biasanya berwatak pendiam, 
  • Kala-nya, Kala Jerang yang mempengaruhi sifat dewanya, maka pada waktu ia marah tidak bisa dikendalikan. Tapi marahnya hanya sebatas omongan saja. Kebiasaan negatif lainnya, suka membeberkan di sana sini kejelekan orang yang pernah dimarahi. 
  • Bhutania : ulu kebo, kalau marah bisa sampai pada gelap hati, dan putus asa, 
  • Kayunia : kayu pule, artinya mempunyai watak suka menolong, tetapi suka juga memperhatikan kesalahan orang lain ; dia sendiri jarang mengevaluasi kekurangan atas dirinya. 
  • Wayang-nya : togog, maksudnya pada saat melamun sering membayangkan kemewahan. 
  • Maya-nya : wulan, artinya ingin mendapatkan ketenangan, kedamaian yang menjadi tujuan pokoknya tanpa pernah disadari bahwa hidup itu harus berjuang terus tanpa hentinya, sepanjang tenaga ini masih mendukung. 
  • Lintangnia : naga, artinya sulit diatasi bila tiada bukti atas apa yang dilakukannya itu terbukti salah. Dia harus berbicara berdasarkan fakta.

Penyakit orang-orang kelahiran hari Soma disebabkan oleh bhuta Banaspati. Karena arogansinya, maka sakit yang diderita bisa mengakibatkan anrawang-anruwung perasaannya (sakit hati), tidak enak makan. Badan terasa nyeri, bahkan sampai kesemutan/keram ngancuk-ancuk, nek di hulu hati, puruh, parang, ngibuk, anyang-anyangan. Obatnya,
  • kalau sakit kepala obatnya daun sirih yang masih muda, ditambahkan sedikit maswi (masui). Lolohnya : pucuk kecemcem, isen, bawang putih, air jeruk, cuka tahun, air asaban cendana, bawang metambus pada bara api. Lalu dilumatkan dan diisi air, kemudian disaring lalu diminum. Boreh pada badan, bahan yang diolah berasal dari bunga cempaka putih, sindrong, ditambahkan air asaban cendana. Cara pemakaian : usapkan pada siksikan, daun jambu putih, buah jebug, bawang adas. Boreh pada kaki : serbuk bata jalikan, daun jeruk, daun pule, kasuna dan jangu,

Anggara - Selasa

Watak kelahiran dina Anggara, pintar bicaranya.
  • Dewanya Rudra, artinya berwatak keras kepala. 
  • Wayang-nya cupak, artinya berpenampilan berani, namun kurang hati-hati/agak ceroboh. Besar kemarahannya, bebotoh, dan kalau tidak bebotoh pengeluarannya tidak dihitung-hitung, sama dengan boros. 
  • Kayu-nya pule, artinya suka menolong sahabatnya. 
  • Manuk-nya, burung gagak, mempunyai firasat/filling yang baik. 
  • Mayania luwang, artinya suka mencari kesempatan/peluang. 
  • Lintang-nya celeng, tidak cocok mempunyai usaha beternak babi/hewan berkaki empat, oleh karena dia punya hutang karma berupa kaul babi guling yang belum dibayar pada kehidupan masa lalunya di kamulan. 
  • Bhutanya Banaspatiraja, artinya pada saat dia sedang kalap ia berani mengambil jalan pintas karena tidak peduli. 
karena bhuta Banaspatiraja yang menyakiti, sebab di masa lalunya tidak senang membersihkan diri (melukat) yang menyebabkan sakit pada masa kelahiran sekarang. Penyakitnya sering dialami dalam perjalanan, seperti sakit ngreges, sebuku-buku, batuk-batuk, sakit di bagian perut dan dada.
  • Obatnya; daun miana cemeng, daun pule yang muda, sulasih merik, sumanggi gunung, bungan blingbing buluh, montong isen nyuh metunu, temu tis, sari lungid. Semuanya dilumatkan, diisi air, disaring, untuk diminum. Lainnya, sakit mata, rumpuh, gatal-gatal, sakit pinggang kenyat. Obatnya, boreh yang terbuat dari babakan ancak, pulesai, sindrong, airnya asaban cendana. Boreh pada kaki terbuat dari daun simbukan, hatinya isen, kasuna, dan jangu, airnya asaban cendana.

Buda - Rabu

Yan wadon Dewa-nya Bhetari Uma, yan lanang Dewa-nya Mahedewa dan Wisnu. Wataknya sangat keras pada saat keras hatinya, dan sangat lembut pada saat lembut. Bisa jadi berwatak waria/banci.
  • Wayang-nya Wirun, artinya berpenampilan lugu, suka merendah, namun sering labil, atau sering berbeda dengan kenyataannya (suka jahil). 
  • Kayu-nya bunut, sering ditafsirkan seram. 
  • Manuk-nya Dara, suka pergi jauh. 
  • Sato-nya lembu, artinya tidak bisa dilukai, kalau dilukai bisa kalap. 
  • Kala-nya Anggapati, keinginannya dan juga bercita-cita tinggi – bisa jadi loba-nya juga tinggi. 
  • Mayania Pertiwi, kalau tidak dilukai dia cenderung sabar. 
  • Lintang-nya keris, sakitnya makan hati, juga kalau bicara sering menusuk hati orang dengan halus, dan sering luka, galakin desti, miwah pemali, doyan alih endih. Kesusahannya dalam bentuk financial, punya hutang kaul di kemulan berupa babi guling yang belum terbayar dari kakeknya yang sudah meninggal.

Orang kelahiran Rabu sakitnya ada di kepala, obatnya daun pepe, bawang dan adas. Sakitnya juga pada saluran kencing, obatnya empol pandan, bungan malinjo, bawang dan adas. Sakitnya juga pada perut,
  • obatnya selasih merik, air jeruk, isen ginten cemeng, air asaban cendana. Boreh untuk badannya babakan dadap dan sindrong wayah/jangkep. Boreh pada kakinya terbuat dari babakan pangi, babakan kelor, kasuna dan jangu, abu dapur dan idu bang.

Wraspati - Kamis

Wataknya banyak bicara, cocok sebagai guru, sekalipun dia bodoh tapi masih senang ngajarin orang lain. kadang-kadang lakunya mrekak/congkak dan tegar menghadapi masalah.
  • Wayang-nya semar, artinya dia sebagai abdi kebenaran, semar ini yang menyebabkan dia tabah. 
  • Kayunia bingin, maksudnya menjadi sosok yang aman dan teduh bagi orang-orang yang membutuhkan perlindungan / punya masalah. Dengan kata lain, suka melindungi orang yang menderita. 
  • Manuknya : merak, artinya sedikit suka pamer kemewahan. 
  • Sato-nya macan, artinya bertampang serem, kalau dipaksakan marahnya bersungguh hati. 
  • Kala-nya Anggapati, artinya orang yang bercita-cita tinggi dan agak loba pada sesuatu yang diinginkan (harus bisa atau harus tercapai). 
  • Bhuta-nya Ulusinga yang menyebabkan sakit. 
Bhuta Ulusinga dalam konteks ini maksudnya kelemahannya ingin berkuasa atas diri orang lain, kalau tidak bisa dia akan menyesal, maka sakitnya di perut muntaber (ngutah mising), maag, tuju, pemali, nglempuyeng, buduh, dekah, perot. obatnya:
  • Kalau batuk obatnya padang lepas, tingkih, beras mes, simbuh pada bagian dada. 
  • Kalau sakit perut, simbuh-kan kunyit, musi, daun kepasilan. Loloh-nya akah dadap, akah selegwi, akah sandat, sindrong muda dilumatkan, airnya asaban cendana, di saring lalu di minum. Boreh untuk badannya berasal dari ramuan daun dadap yang sudah kuning, daun bunut kuwang, kulit pohon majegau yang dikerik, dan sindrong wayah, lulurkan pada siksikan empol pandan, pucuk daun malinjo, bawang dan adas. 
  • Kalau kena gangguan jiwa, obatnya air kencing kuda hitam atau kuda putih, telor semut sidem, daun dusakeling, daun jajar tanah, diulek, lalu disaring dengan kain putih. Boreh pada kaki dengan ramuan daun tuju musna, kasuna dan jangu, airnya cuka. Kwalat-nya di kemulan di-tebusin seperangkat pakaian (rantasan saperadeg).

Sukra - Jumat

Dewa-nya Bhetari Sri.
  • Wayang-nya sangut, artinya suka melucu, dan seninya menonjol, banyak akalnya, pintar mencari solusi. 
  • Kayu-nya ancak, artinya pohon obat, memang kelahiran hari jumat suka menolong namun bicaranya agak panas. 
  • Manuk-nya titiran, artinya tutur katanya menarik perhatian orang lain. 
  • Kala-nya Kala Jerang, artinya suka ngomel dan suka menginformasikan kesalahan orang lain. 
  • Maya-nya yeh, artinya pikirannya susah dihentikan, mengalir terus bagaikan air mengalir sehingga membuat dirinya labil, banyak idenya. 
  • Lintang-nya kabutaan, kelemahannya pada kelupaan, pikirannya sering kosong hingga menyebabkan sakit. 
Sakitnya mudah kemasukan energi negatif/kadestiaan. Sakitnya ngibuk/gerah, panas dalam, sakit kepala ngreges, sakit kelamin.
  • Obatnya loloh daun sembung, daun pule, selasih merik, miana cemeng, sindrong, airnya santen dan air jeruk purut, semuanya di kukus. Semburkan pada badannya ramuan daun dusakeling, temutis, daun jajar tanah, tingkih metunu, beras kering, ketumbar, bawang, dan adas. 
  • Kalau sakit kelamin, obati dengan babakan kepah, daun nangka hijau, jebugarum, kasuna dan jangu, semuanya disangrai (dinyanyah) lalu dipakai bubuk. Kwalat-nya pada gedong Sari / linggih Bhetari Tri Upasedana.

Saniscara - Sabtu

Dewania Bhetari Durga ; bawaan kelahirannya bersifat dualitas, di mana sifat buruknya muncul terlebih dahulu atau sebaliknya. Baiknya, suka menolong orang, namun jeleknya berani jahat kalau dilawan. Sulit meredakan amarah, caranya hanya dengan menjauhi masalah, bahayanya kalau diajak berdebat argumentasi, dia tidak akan mau mengalah. Kelahiran orang pada hari sabtu adalah berumur pendek (cendek tuwuh).
  • Wayang-nya Delem, kalau sedang marah tidak perduli ada orang lain, mau pun situasi dan kondisi (ngawur, tidak kepalang tanggung bicara). 
  • Kayu-nya kepuh rangdu, artinya bertampang sadis atau serem. 
  • Manuk-nya tuhu-tuhu. Firasatnya ada pada mata, suka membaca tingkah laku orang lain, pemerhati aksi orang lain. 
  • Kalanya barong, sukanya sebagai penyelamat keluarga dan sahabat. 
  • Maya-nya bianglalah (pelangi) mempunyai kebiasaan menghilang, namun muncul pada saat yang tak pernah diduga. Cendrung labil, artinya sulit ditebak lihainya sebagai pengatur laku, sutradara kelompok/politik. 
  • Bhuta-nya Raksasa, artinya kurang waspada, banyak cerobohnya yang menyebabkan dia sakit, sakit hati dan akan menyesal di belakang hari. 
Lintang-nya lintang Rhu, dialah sebagai penyebab sakit, seperti sakit perut kembung (bengkang) atau melilit, badan menggigil, kepek, pemalinan/ngancuk-ancuk, gatal-gatal, sakit pada kelaminnya.
  • Obat pametuan, loloh-nya (jamu) juwuk purut, juwuk lengis, isen, kapur, temupoh, miana cemeng, Ginten cemeng, selasih miyik, yehnya asaban cendana ; semuanya ditumbuk halus, lalu disaring dipakai loloh. Boreh pada kaki babakan Tibah, tabya bun, suna jangu, dan beras merah, borehkan terutama pada telapak kaki sampai pada pergelangan kaki. 
  • Kalau sakit perut, semburlah pada perutnya dengan don kakap/daun sirih yang sudah tua, buah jebug. Lulurkan boreh ke seluruh tubuh yang dibuat dari : babakan ancak, ketumbah bolong, airnya asaban cendana. 
  • Kalau sakit bagian kelaminnya, gunakan babakan kepah, jebugarum, daun nangka hijau, disangrai (nyanyah) sampai kering, dipakai bubuk/herbal.
Sebagai tambahan, dalam rumus perhitungan wariga pada kalender bali disebutkan pula bahwa
Jejepan ; (Bilangan WUKU x 7 + bilangan Saptawara yang dicari) : 6 = sisa
  1. Mina (ikan)
  2. Taru (kayu)
  3. Sato (hewan)
  4. Patra (tumbuhan merambat/menjalar)
  5. Wong (manusia)
  6. Paksi (burung/unggas)
kesimpulannya, Sapta wara terdiri dari 7 dgn wara (hari) pertama Redite berikut Soma, Anggara, Budha, Wrhaspati, Sukra, dan Saniscara yang terakhir. Dengan Sapta Wara. Ini menjadi panjang hari dalam satu wuku.

makna Sad Wara dalam Wariga

Sad wara - Wewaran

sad wara wewaran
Siklus enam harian dari wewaran. Ditinjau dari petunjuk harinya, siklus ini rupanya menelaah sifat-sifat buruk yang sedang dominan karena dipengaruhi oleh hawa wewaran ini.

Maksud dari petunjuk ini, agar tindakan kita disesuaikan dengan apa yang sedang terjadi. Agar kita dapat mencegah hal-hal yang dapat merugikan kita, dan kalau bisa memanfaatkannya untuk kemajuan kita. Unsur-unsurnya adalah: Tungleh, Aryang, Urukung, Paniron, Was, Maulu.

adapun arti dari sadwara tersebut antara lain:
  1. Tungleh (Tungle) = tidak kekal. Hari penuh kebohongan, ingkar janji. Waspadalah terhadap kebohongan, hari ini banyak hal-hal yang tidak jujur karena mahalnya keterusterangan. Hati-hati terhadap fitnah. Jangan paksa orang lain jujur tetapi buatlah dia menyesali akibat kebohongan. Jangan ikut-ikutan berbohong dan jangan sampai tertipu.
  2. Aryang = kurus. Harinya orang lupa. Waspadalah terhadap kelupaan dan kepikunan. Buatlah catatan pribadi agar tidak terlalu mengandalkan ingatan. Tuliskan pada secarik kertas jika ingin menyampaikan pesan, dengan demikian kita menolong orang bebas dari kelupaan. Verba volant, scripta manent. Yang dikatakan akan terlupakan, tetapi yang dituliskan akan abadi.
  3. Urukung (Wurukung) = punah. Hari kecerobohan. Waspadalah terhadap kecerobohan, kealpaan akibat berkurangnya kesadaran terhadap keadaan sekitar. Kesalahan-kesalahan akan sering terjadi hari ini, kebanyakan karena ketidak sengajaan. Kecelakaan biasanya dapat merugikan kedua pihak. Semuanya hanya bisa dikurangi dengan kehati-hatian, tidak bisa dicegah karena karma akan selalu menentukan. Kurangi sedikit bermain dengan keberanian dan hindarilah tindakan yang menyerempet bahaya. Hati-hati di jalan.
  4. Paniron = gemuk. Hari kepura-puraan - fatamorgana. Waspadalah terhadap kepalsuan, mungkin bukan kebohongan, tetapi segala sesuatu bisa kelihatan seperti berbeda dari yang sebenarnya. Teliti lebih seksama segala sesuatunya sebelum berbuat dan mengambil tindakan. Pertimbangkan sebab akibat karena hal-hal yang nampaknya baik mungkin tidak baik, hal yang nampaknya kecil namun akibatnya besar.
  5. Was (Uwas) = kuat. Hari gembira. Bukan sifat buruk, tetapi tetap harus waspada. Tidak baik mengumbar kegembiraan sampai lupa bersyukur dan merenungkan keberuntungan. Pakailah hari ini untuk membahagiakan orang lain. Menjabat tangan musuh karena ia sedang berbahagia. Mungkin ia akan melupakan permusuhan selamanya. Berdermalah!
  6. Maulu (Mawulu) = membiak. Hari pitam. Waspadalah kepada kemarahan. Kemurkaan ada di mana-mana. Sebaiknya menahan diri dari tindakan yang dapat menyinggung perasaan orang lain. Pilihlah kata-kata yang teduh dan mendinginkan hati. Kalau terpaksa berhadapan dengan kemarahan, ingatlah bahwa dalam keadaan demikian, diam berarti emas. Kemarahan tidak selalu bisa memperbaiki keadaan.

Untuk menentukan SADWARA apa bertepatan dengan Saptawara (hari) apa, dapat dihitung sebagai berikut:
Sadwara = (nomor urut) wuku X 7 + (nomor urut) Saptawàra (hari) yang dikehendaki,
hasilnya lalu dibagi dengan 6 (enam) kemudian lihat sisanya sebagai berikut:
  • Sisa 1 sama dengan Tungleh
  • Sisa 2 sama dengan Aryang
  • Sisa 3 sama dengan Urukung
  • Sisa 4 sama dengan Paniron
  • Sisa 5 sama dengan Was
  • Sisa 6/0 sama dengan Maulu
Bilangan (nomor urut) wuku dihitung mulai wuku Sinta = 1 sampai dengan Watugunung = 30.
Dan bilangan (nomor urut) saptawàra dimulai dari hari
  • Radite (Minggu) = 0;
  • Soma (Senin) = 1;
  • Anggara (Selasa) = 2;
  • Budha (Rabu) = 3;
  • Wraspati (Kamis) = 4;
  • Sukra (Jumat) = 5;
  • Saniscara (Sabtu) = 6.
Contoh : Wuku Watugunung, Saptawàra Radite, Sadwara apa?
Perhitungannya yaitu: 30 X 7 = 210 + 0 = 210 : 6 = 35 sisa 0 atau = sisa 6.
Jadi Sadwara adalah Maulu.

Pengaruh Sad Wara terhadap Watak Kelahiran

( Prewatekan manut Sad Wara )

Mitos yang dikenal masyarakat pada umumnya seperti yang akan diceriterakan berikut ini. 
Dikatakan bahwa,
  • Tungleh terbunuh 7 kali, dan hidup 7 kali, maka Tungleh dikatakan mempunyai urip 7 ;
  • Aryang terbunuh 6 kali, dan hidup 6 kali pula, urip-nya 6 ;
  • Urukung terbunuh 5 kali, dan hidup 5 kali, urip-nya 5 ;
  • Paniron terbunuh 8 kali, dan hidup 8 kali, urip-nya 8 ;
  • Was terbunuh 9 kali, dan hidup 9 kali, urip-nya 9 ;
  • Mahulu terbunuh 3 kali, dan hidup 3 kali, urip-nya 3.
Sad Wara disebut juga Sad Rthu, yang berarti perubahan musim atau umur.
Kata Sad sama artinya dengan Zat, dan Rthu berarti musim. 
Maksudnya, bisa terjadi musim yang sesuai sehingga keadaan menjadi lebih baik. Atau sebaliknya, di mana musim kurang mendukung, akibatnya menjadi lebih buruk. Esensi daripada Sad wara sesungguhnya mengenai kebijakan Bhuwana dengan amretha yang melimpah ruah (sering disebut Amretha Bhuwana) yang bermafaat bagi seluruh kehidupan.
Intinya, secara kodrati terjadi perubahan di Bhuwana yang dikendalikan oleh para Dewa yang mengayomi Sad wara. Perubahan alam ini selaras dengan luasnya dunia, dan perubahan ini menyebabkan terjadi perbedaan musim di berbagai belahan bumi serta mempengaruhi kehidupan, terutama pada pembentukan sifat/watak manusia. Pada daerah katulistiwa (tropis) terjadi dua musim, yakni musim panas (kemarau) dan hujan. Di daerah subtropis selain musim panas dan hujan, juga ada musim semi, musim gugur, dan musim dingin (dengan atau tanpa disertai salju). Sedangkan di daerah kutub (Utara dan Selatan) sepanjang tahun selalu diliputi musim dingin disertai salju. Peralihan musim pada daerah subtropis sering terjadi secara ekstrem dan berdampak pada daerah tropis. Perubahan ini disebut dengan masa (musim) pancaroba.

Gambaran alam yang ditemukan oleh para Rsi Agung pada masa Bali Kuna tersebut dipersonifikasikan dengan penandaan (signans), seperti berikut ini :
  1. Tungleh, dikatakan sebagai dominasi pancaran sinar matahari mau pun Bulan kepada yang berwujud, khususnya kepada tumbuh-tumbuhan.
  2. Aryang, dominasi vibrasinya berada di Ambara (lapisan pengolahan kehidupan), pada peredaran mendung.
  3. Urukung, dominasi vibrasinya berada pada lapisan Apah, di bawah lapisan Ambara.
  4. Paniron, dominasi vibrasinya memenuhi alam yang berada di bawah langit dan di atas Bumi, atau sering disebut kolong langit.
  5. Was, dominasi vibrasinya pada air di laut, danau, maupun di sungai.
  6. Mahulu, dominasi vibrasinya bersenyawa dengan unsur api (medan magnet) pada semua wujud makhluk hidup.
Setelah Sad Wara memasuki dan berada di Bhuwana Alit akan lebih mengarah kepada segala sesuatu yang terkait dengan kenikmatan (rasa). Berikut penjabarannya :
  1. Tungleh, ada pada Lidah, sebagai pengecap rasa, selalu ingin menikmati yang enak dan sedap (terkait dengan selera),
  2. Aryang, ada pada Aksi untuk mengungkap rasa dan perasaan (kurang enak, tekanan perasaan),
  3. Urukung ada pada Gerak tubuh. Melakoni perintah pikiran karena adanya interaksi dengan keadaan yang di luar,
  4. Paniron ada pada Mata, merupakan wadah dari esensi pandangan mata (seperti menikmati suatu keindahan),
  5. Was ada pada Otak, merupakan wadah dari esensi pikiran ; pikiran yang khusus sebagai penikmat segala,
  6. Maulu ada pada idep, sebagai penyerap dari pengetahuan, atau menyerap kenikmatan.
kemudian dilanjutkan menjadi:
  1. Tungleh (Ikal, Sanghyang Indra) adalah Anta Bhuta (tenaga yang ada di rambut),
  2. Aryang (Kurus, Sanghyang Baruna) adalah Pada Bhuta (tenaga yang ada di kaki) sinar pantulan,
  3. Urukung (Puhan identik dengan Peka, Sanghyang Kwera) adalah Angga Bhuta (tenaga yang ada di badan),
  4. Paniron (Gemuk, Sanghyang Bayu) adalah Maleca Bhuta (tenaga yang ada pada Insting dan Rasa),
  5. Was (Kuat, Sanghyang Bajra) adalah Asta Bhuta (tenaga yang ada pada tangan)
  6. Mahulu (membiak, Sanghyang Erawan) adalah Mastaka Bhuta (tenaga yang ada pada kepala, pikiran).
Bagaimana pengaruh Sad Wara terhadap Watak Kelahiran manusia, berikut ini akan dicoba untuk penjabarannya :

Tungleh, urip 7

berada di bawah naungan Sanghyang Indra – terangnya Alam Langit yang dikendalikan oleh Sanghyang Indra dan tervibrasi kepada manusia. Dan di dalam diri manusia Sanghyang Indra adanya di jeroan (otak) yang berfungsi mengendalikan Panca Indera. Bedakan Indra dengan Indera. Kalau indera tersebut berfungsi sebagai alat penghubung ke dunia luar (jaba sisi) seperti : mata, telinga, hidung, mulut, dan kulit terluar. Bila seseorang terlahir pada dina tungleh, menandakan bahwa dia salah dalam mengapresiasi peran Sanghyang Indra pada kehidupan terdahulu. Tegasnya, apa yang dilihat, didengar, dirasakan, dinikmati, semuanya dikondisikan terlalu berlebihan pada panca indera, sehingga terbebani dan terikat dengan semua keberadaan duniawi tersebut. Pembawaan orang-orang yang lahir tepat pada Tungleh suka berperilaku aneh, sebab peningkatan hidupnya di malam hari atau bersifat rahasia (ke dalam diri). Tidak suka meniru karya orang lain, dan lebih bangga pada ciptanya sendiri. Sering menjadi autis, karena asyik dengan kesibukannya sendiri. Di sisi lain, mempunyai sifat tulus, suka menolong sesama, dan lebih mengutamakan kepentingan orang lain, bahkan dia rela mengorbankan dirinya. Kelemahannya, mudah dimanfaatkan oleh teman-teman dekatnya.

Aryang, urip 6

berada dalam naungan Sanghyang Baruna, di mana Baruna akar katanya adalah Aruna (Bali Kuna), artinya sinar matahari yang dapat menguapkan air laut, lalu menjadi hujan. Dalam konteks ini Baruna merupakan dewa kesuburan (bagian dari kekuatan sinar matahari – power matahari) yang dianugerahkan kepada kehidupan di mayapada, khususnya umat manusia. Jika seseorang lahir pada dina aryang, menandakan bahwa ia dulu menyalahgunakan kemewahannya, dan cenderung arogan. Orang-orang yang terlahir pada waktu Aryang, suka memutar balikkan perkara, sulit dibelokkan niatnya. Kelemahannya, mudah patah arang, dan cepat putus asa, sering mengakhiri hidupnya dengan jalan pintas.

Urukung, urip 5

diayomi oleh Sanghyang Kwera, sebagai Adhi kuasa dari kekayaan Bhuwana (embang) yang berpengaruh kepada manusia. Karena sifat loba dan serakah terhadap kekayaan di masa lalunya, maka seseorang terlahir pada dina urukung. Pembawaan bayi yang lahir tepat pada waktu Urukung adalah kurang terampil, ceroboh, boros.

Paniron, urip 8

diayomi oleh Sanghyang Bajra ; Bajra yang dimaksud adalah bajra geni, artinya petir. Munculnya petir karena adanya gesekan arus, konotasinya dengan Dewa Kematian yaitu Kala Mertyu. Ketika petir menggelegar, kilauannya berfungsi sebagai penetralisir kekeruhan udara, dan pembasmi virus penyakit. Bagi seseorang yang dilahirkan dina paniron, menandakan di masa lalunya ia menyalahgunakan ketajaman insting/firasatnya untuk menilai kesalahan orang lain. Terlahir pada dina Paniron mempunyai insting/firasat yang tajam, dan kalau ditekuni dengan baik maka kebesaran jiwanya akan tercapai.

Was, urip 9

di bawah naungan Sanghyang Bayu, di mana Bayu dalam konteks ini artinya siklus peredaran air, api, dan angin, yang menyebabkan timbulnya ambek (gaya hidup). Kelahiran pada dina was, menandakan bahwa perilaku di masa lalunya kurang santun. Seseorang yang terlahir tepat pada waktu Was, wataknya suka menutup-nutupi kesalahan/kelemahan, gengsinya tinggi.

Mahulu, urip 3

diayomi oleh Sanghyang Erawan. Maksudnya, keberadaan Sanghyang Erawan di alam semesta adanya di tengah-tengah Bhuwana (embang), berupa rasa yang ada pada hawa (udara), dan berpengaruh terhadap kehidupan manusia. Di Bhuwana alit (manusia) Sanghyang Erawan berada di tengah-tengah rongga dada – ulu hati. Seseorang terlahir pada dina maulu, berarti dulunya ia mengabaikan kejujuran kata hatinya. Kelahiran maulu berwatak labil, peka perasaannya, mudah tersulut emosinya dan meledak-ledak. Menjadi stabil bila ia mempercayai dan bertindak sesuai dengan kata hatinya. Bila seseorang berbicara, dengarkan terlebih dahulu, lalu renungkan, dan dihayati, kemudian baru diungkapkan dengan jujur.

Uku Pahang dikatakan yang mengadakan Sad Wara.
Kata Pahang merupakan Bahasa Bali Kuna yang artinya hawa (api) yang berasal dari Bumi, dan Pahang disebut juga Pegat Wakan. Arti kata pegat adalah putus, dan wak bermakna peleburan (perombakan total atau perubahan secara menyeluruh).
Jelasnya, lewatilah Kayika, Wakcika mau pun Manacika yang tidak mempunyai misi dan visi yang baik dan benar. Sad Wara yang disertai dengan Ingkel (kekurangan atau mati/pati) dijadikan sebagai metoda pengenalan pati dan urip (perubahan segala yang hidup akan mati).
Selain hal itu juga menyatakan dualitas tujuan hidup agar dapat sejalan dengan sang waktu, serta tidak terlepas dari hidup dan mati. Makanya makna padewasan itu ada dua, yakni urusan Pati dan Urip, yang biasa disebut Ala Ayuning dewasa.
Contohnya, kurang tepat memilih dewasa untuk mulai menanam tanaman ketika sang waktu menunjukkan dina Pati, yang berarti basah atau eep

Rabu, 06 Februari 2013

Hari baik Nikah 2013 Dewasa Ayu NGANTEN

Hari baik Nikah 2013 - Dewasa Ayu NGANTEN

prosesi pernikahan
Sehubungan banyaknya permintaan cara memilih dewasa ayu menikah atau dalam bahasa bali disebut dengan “nganten” “makerab kambe” “pawiwahan” untuk tahun 2013, berikut ini saya paparkan secara singkat kapan hari baik untuk melakukan “pawiwahan untuk tahun 2013 dalam artikel Hari baik Nikah 2013 ini. disini penulis tidak lagi mencantumkan hari baik melakukan senggama untuk memperoleh Putra yang suputra lagi karena artikel tersebut sudah dimuat khusus dalam "hari baik berhubungan intim suami istri"

Penulis akan memaparkan wariga dan dewasa ayu untuk perhitungan Hari baik Nikah 2013 secara berjenjang, mulai dari sasih kemudian wuku dan berikutnya dina’nya. Sehingga para semeton yang berkeinginan menikah dapat memilih hari – hari yang dikehendaki.

Alas an penulis memberikan pilihan berjenjang karena adanya permintaan yang mendesak dikalangan masyarakat yang berkeinginan untuk segera menjalankan upacara pernikahan dengan berbagai alasan yang sebenarnya secara wariga cukup berbahaya dan kurang baik dijalankan.

Tetapi apapun yang kami tulis, sudah tentu ada kekurangannya karena banyaknya sumber literature wariga yang mungkin belum kami baca dan cermati. Untuk itu dimohonkan agar dikonsultasikan lagi dengan tetua adat dan para sulinggih surya masing – masing keluarga, karena tulisan ini hanyalah sebagai bahan pertimbangan dalam memilih hari baik nikah 2013 berdasarkan wariga gemat dan wariga gede yang umumnya berlaku di bali.

Berdasarkan perhitungan dewasa ayu “wariga gemet serta wariga agung yang sudah terangkum dalam artikel "Dewasa Ayu NGANTEN, pawiwahan ato pernikahan" dan "Pemilihan Hari Baik Untuk Pernikahan" maka dapat disimpulkan bahwa hari baik nikah 2013 sebagai berikut:
Secara umum pemilihan hari baik Pernikahan menurut Sapta Wara;

  • Redite / Minggu = Buruk
  • Soma / Senin = Menemukan Kebahagiaan
  • Anggara / Selasa = Sengsara
  • Budha / Rabu = Sangat Baik
  • Wrespati / Kamis = Kinasihaning Jana
  • Sukra / Jumat = Berbahagia, Mewah
  • Saniscara / Sabtu = Percekcokan, sengsara

Jadi yang direkomendasiakan adalah hari senin, rabu, kamis dan jumat

Berikut berdasarkan Sasih / BULAN kalender


JANUARI 2013

Hari baik Nikah di bulan Januari 2013

Sasih Kapitu / Magha = Dirgayusa, langgeng
3 Januari 2013 wrespati paing dukut - pangelong ping 7

Kurang baik Nikah di bulan Januari 2013

Sasih Kaulu Phalguna = Serba kekurangan
9 Januari 2013 budha pon watugunung - pangelong ping 13
18 Januari 2013 sukra paing sinta - penanggal ping 7
21 Januari 2013 soma klion landep - Amerta Yoga, penanggal ping 10
24 Januari 2013 wrespati pon landep - penanggal ping 13
28 Januari 2013 soma paing ukir - pangelong ping 2
31 Januari 2013 wrespati klion ukir - pangelong ping 5

Hari  Nikah yang dihindari di bulan Januari 2013

2 Januari 2013 budha umanis dukut - pangelong ping 6 (purwaning sasih)
4 Januari 2013 sukra pon dukut - pangelong ping 8 (purwaning sasih)
7 Januari 2013 soma umanis watugunung - pangelong ping 11
10 Januari 2013 wrespati wage watugunung - pangelong ping 14 (purwaning sasih)
11 Januari 2013 sukra klion watugunung - pangelong ping 15, pati paten
14 Januari 2013 soma pon sinta – penanggal ping 3, sampar wangke
16 Januari 2013 budha klion sinta - penanggal ping 5 (purwanin dina)
17 Januari 2013 wrespati umanis sinta - penanggal ping 6 (purwaning sasih)
23 Januari 2013 budha paing landep – Titi Buwuk, penanggal ping 12
25 Januari 2013 sukra wage landep - penanggal ping 14 (purwaning sasih) (purwanin dina)
30 Januari 2013 budha wage ukir - pangelong ping 4
Minggu ke 2 merupakan kasebelan / kacuntakan gumi, berkaitan dengan wuku watugunung.

FEBRUARI 2013

Sasih Kaulu Phalguna = Serba kekurangan
Sasih Kasanga Caitra = Sangat Buruk, penuh penderitaan

Hari baik Nikah di bulan Februari 2013

11 Februari 2013 Soma Umanis Tolu, Penanggal ping 1, Amerta Yoga

Kurang baik Nikah di bulan Februari 2013

4 Februari 2013 Soma Wage Kulantir, Pangelong ping 9
8 Februari 2013 Sukra Pon Kulantir, Pangelong ping 13
15 Februari 2013 Sukra Klion Tolu, Penanggal ping 5

Hari Nikah yang dihindari di bulan Februari 2013

7 Februari 2013 Wrespati Paing Kulantir, Pangelong ping 12
14 Februari 2013 Wrespati Wage Tolu, Penanggal ping 4
1 Februari 2013 Sukra Umanis Ukir, Pangelong ping 6 Titi Buwuk,
6 Februari 2013 Budha Umanis Kulantir, Pangelong ping 11 Titi Buwuk,
13 Februari 2013 Budha Pon Tolu, Penanggal ping 3 Titi Buwuk,
18 Februari 2013 Soma Pon Gumbreg, Penanggal ping 8, Tanpa Guru
20 Februari 2013 Budha Klion Gumbreg, Penanggal ping 10, Tanpa Guru
21 Februari 2013 Wrespati Umanis Gumbreg, Penanggal ping 11 Titi Buwuk, Tanpa Guru
22 Februari 2013 Sukra Paing Gumbreg, Penanggal ping 12, Tanpa Guru
25 Februari 2013 Soma Klion Wariga, Penanggal ping 15 Titi Buwuk, sampar wangke, Rangda Tiga
27 Februari 2013 Budha Paing Wariga, Pangelong ping 3, Rangda Tiga
28 Februari 2013 Wrespati Pon Wariga, Pangelong ping 4, Rangda Tiga

MARET 2013


Sasih Kasanga Caitra = Sangat Buruk, penuh penderitaan
Sasih Kadasa Waisyaka = Sangat Baik, Berbahagia, berwibawa

Hari baik Nikah di bulan Maret 2013


13 Maret 2013 Budha Umanis Julungwangi, Penanggal ping 2, Kama Jaya


Kurang baik Nikah di bulan Maret 2013


14 Maret 2013 Wrespati Paing Julungwangi, Penanggal ping 3


Hari Nikah yang dihindari di bulan Maret 2013


1 Maret 2013 Sukra Wage Wariga, Pangelong ping 5, Rangda Tiga (purwaning sasih)
4 Maret 2013 Soma Paing Warigadean, Pangelong ping 8 (purwanin dina), Titi Buwuk, Rangda Tiga
6 Maret 2013 Budha Wage Warigadean, Pangelong ping 10, Rangda Tiga
7 Maret 2013 Wrespati Klion Warigadean, Pangelong ping 11, Rangda Tiga
8 Maret 2013 Sukra Umanis Warigadean, Pangelong ping 12, Rangda Tiga
11 Maret 2013 Soma Wage Julungwangi, Pangelong ping 15, Kalebu Rau, Titi Buwuk,
15 Maret 2013 Sukra Pon Julungwangi, Penanggal ping 4
18 Maret 2013 Soma Umanis Sungsang, Penanggal ping 7, Kalebu Rau,
20 Maret 2013 Budha Pon Sungsang, Penanggal ping 9 Titi Buwuk,
21 Maret 2013 Wrespati Wage Sungsang, Penanggal ping 11
22 Maret 2013 Sukra Klion Sungsang, Penanggal ping 11
25 Maret 2013 Soma Pon Dunggulan, Penanggal ping 14 (purwanin dina)
27 Maret 2013 Budha Klion Dunggulan, Pangelong ping 1, Uncal Balung, (purwaning sasih)
28 Maret 2013 Wrespati Umanis Dunggulan, Pangelong ping 2, Uncal Balung,
29 Maret 2013 Sukra Paing Dunggulan, Pangelong ping 3, Uncal Balung, Titi Buwuk,

APRIL 2013

Sasih Kadasa, Waisyaka = Sangat Baik, Berbahagia, berwibawa
Sasih Jyestha = Buruk, hidup susah
Harusnya selama bulan April 2013 tidak ada dewasa pernikahan karena masih dalam kuasa UNCAL BALUNG, tetapi bila memaksa pilihlah hari - hari berikut:

Hari paling baik Nikah di bulan April 2013


15 April 2013 Soma wage Medangsia, - penanggal ping 5, Uncal Balung, Amerta Yoga, Dina jaya

Kurang baik Nikah di bulan April 2013


12 April 2013 sukra umanis Langkir, - penanggal ping 2, Uncal Balung, cocok untuk mesakapan
17 April 2013 budha umanis Medangsia, - penanggal ping 7, Uncal Balung,
19 April 2013 sukra pon Medangsia, - penanggal ping 9 , Uncal Balung,

Hari Nikah yang dihindari di bulan April 2013


1 April 2013 Soma klion Kuningan, - pangelong ping 6 (Purwaning sasih), Uncal Balung, Tanpa guru
3 April 2013 budha paing Kuningan, - pangelong ping 8 (Purwaning sasih) , Uncal Balung, Tanpa guru
4 April 2013 wrespati pon Kuningan, - pangelong ping 9, Uncal Balung, Tanpa guru
5 April 2013 sukra wage Kuningan, - pangelong ping 10 (Purwaning dina), Titi Buwuk, Uncal Balung, Tanpa guru, Pati paten
8 April 2013 Soma paing Langkir, - pangelong ping 13, Kalebu rau, Sampar wangke, Uncal Balung,
10 April 2013 budha wage Langkir, - pangelong ping 15, Uncal Balung,
11 April 2013 wrespati klion Langkir, - penanggal ping 1, Titi Buwuk, Uncal Balung,
18 April 2013 wrespati paing Medangsia, - penanggal ping 8 (Purwaning sasih), Titi Buwuk, Uncal Balung,
22 April 2013 Soma umanis Pujut, - penanggal ping 12, Uncal Balung, Rangda tiga
24 April 2013 budha pon Pujut, - penanggal ping 14 (Purwaning sasih) , Uncal Balung, Rangda tiga
25 April 2013 wrespati wage Pujut, - penanggal ping 15, Uncal Balung, Rangda tiga
26 April 2013 sukra klion Pujut, - pangelong ping 1, Titi Buwuk, Uncal Balung, Rangda tiga
29 April 2013 Soma pon Pahang - pangelong ping 4, Kalebu rau, Uncal Balung, Rangda tiga

MEI 2013

Sasih Jyestha = Buruk, hidup susah
Sasih Sadha = Buruk, Serba kekurangan

Hari paling baik Nikah di bulan Mei 2013


16 Mei 2013 wrespati klion Merakih, - penanggal ping 7

Kurang baik Nikah di bulan  Mei 2013


6 Mei 2013 Soma klion Krulut, - pangelong ping 12, Amerta Yoga
10 Mei 2013 sukra wage Krulut, - penanggal ping 1, (Purwaning dina), Dina jaya

Hari Nikah yang dihindari di bulan Mei 2013


1 Mei 2013 budha klion Pahang, - pangelong ping 7, (Purwaning dina) , Uncal Balung, Rangda tiga
2 Mei 2013 wrespati umanis Pahang, - pangelong ping 8 (Purwaning sasih), Rangda tiga
3 Mei 2013 sukra paing Pahang, - pangelong ping 9, Titi Buwuk, Rangda tiga
8 Mei 2013 budha paing Krulut, - pangelong ping 14 (Purwaning sasih),
9 Mei 2013 wrespati pon Krulut, - pangelong ping 15, Titi Buwuk,
13 Mei 2013 Soma paing Merakih, - penanggal ping 4
15 Mei 2013 budha wage Merakih, - penanggal ping 6 (Purwaning sasih),
17 Mei 2013 sukra umanis Merakih, - penanggal ping 8
20 Mei 2013 Soma wage Tambir, - penanggal ping 11, Kalebu rau, Sampar wangke,
22 Mei 2013 budha umanis Tambir, - penanggal ping 13, Titi Buwuk,
23 Mei 2013 wrespati paing Tambir, - penanggal ping 14 (Purwaning sasih),
24 Mei 2013 sukra pon Tambir, - penanggal ping 15
27 Mei 2013 Soma umanis Medangkungan, - pangelong ping 3, Titi Buwuk, Tanpa guru, Amerta Yoga
29 Mei 2013 budha pon Medangkungan, - pangelong ping 5, Tanpa guru
30 Mei 2013 wrespati wage Medangkungan, - pangelong ping 6 (Purwaning sasih), Tanpa guru
31 Mei 2013 sukra klion Medangkungan, - pangelong ping 7, Tanpa guru

JUNI 2013

Sasih Sadha = Buruk, Serba kekurangan

Hari paling baik Nikah di bulan Juni 2013


3 Juni 2013 Soma pon Matal, - pangelong ping 10
6 Juni 2013 wrespati umanis Matal, - pangelong ping 13

Kurang baik Nikah di bulan  Juni 2013


17 Juni 2013 Soma paing Menail, - penanggal ping 9, Rangda tiga, Amerta Yoga

Hari Nikah yang dihindari di bulan Juni 2013


5 Juni 2013 budha klion Matal, - pangelong ping 12 (Purwaning dina),
7 Juni 2013 sukra paing Matal, - pangelong ping 14 (Purwaning sasih) ,
10 Juni 2013 Soma klion Uye, - penanggal ping 2, Kalebu rau,
12 Juni 2013 budha paing Uye, - penanggal ping 4
13 Juni 2013 wrespati pon Uye, - penanggal ping 5, Titi Buwuk,
14 Juni 2013 sukra wage Uye, - penanggal ping 6 (Purwaning sasih) , (Purwaning dina),
19 Juni 2013 budha wage Menail, - penanggal ping 11, Rangda tiga
20 Juni 2013 wrespati klion Menail, - penanggal ping 12, Rangda tiga
21 Juni 2013 sukra umanis Menail, - penanggal ping 13, Rangda tiga
24 Juni 2013 Soma wage Prangbakat, - pangelong ping 1, Rangda tiga
26 Juni 2013 budha umanis Prangbakat, - pangelong ping 3, Rangda tiga
27 Juni 2013 wrespati paing Prangbakat, - pangelong ping 4, Titi Buwuk, Rangda tiga
28 Juni 2013 sukra pon Prangbakat, - pangelong ping 5, Rangda tiga

JULI 2013

Sasih Sadha = Buruk, Serba kekurangan
Sasih Kasa Shrawana, = Buruk, anak sakit – sakitan

Hari paling baik Nikah di bulan Juli 2013


8 Juli 2013 Soma pon Ugu, - penanggal ping 1, Amerta Yoga
17 Juli 2013 budha paing Wayang, - penanggal ping 10

Kurang baik Nikah di bulan Juli 2013


5 Juli 2013 sukra klion Bala, - pangelong ping 13
10 Juli 2013 budha klion Ugu, - penanggal ping 3 (Purwaning dina), Dina jaya, Kama jaya
12 Juli 2013 sukra paing Ugu, - penanggal ping 5
29 Juli 2013 Soma wage Dukut, - pangelong ping 7, Amerta Yoga
31 Juli 2013 budha umanis Dukut, - pangelong ping 9

Hari Nikah yang dihindari di bulan Juli 2013


1 Juli 2013 Soma umanis Bala, - pangelong ping 8 (Purwaning sasih), Kalebu rau,
3 Juli 2013 budha pon Bala, - pangelong ping 11, Titi Buwuk,
4 Juli 2013 wrespati wage Bala, - pangelong ping 12
11 Juli 2013 wrespati umanis Ugu, - penanggal ping 4
15 Juli 2013 Soma klion Wayang, - penanggal ping 8 (Purwaning sasih),
18 Juli 2013 wrespati pon Wayang, - penanggal ping 11
19 Juli 2013 sukra wage Wayang, - penanggal ping 12 (Purwaning dina),
22 Juli 2013 Soma paing Kelawu, - penanggal ping 15, Kalebu rau, Tanpa guru
24 Juli 2013 budha wage Kelawu, - pangelong ping 2, Tanpa guru
25 Juli 2013 wrespati klion Kelawu, - pangelong ping 3, Tanpa guru
26 Juli 2013 sukra umanis Kelawu, - pangelong ping 4, Tanpa guru

AGUSTUS 2013

Sasih Kasa Shrawana, = Buruk, anak sakit – sakitan
Sasih Karo, Bhadrapada = Buruk, Sengsara

Kurang baik Nikah di bulan Agustus 2013


15 Agustus 2013 Wrespati Umanis Pon Sinta, Penanggal ping 9
16 Agustus 2013 Sukra Paing Pon Sinta, Penanggal ping 10
19 Agustus 2013 Soma Kliwon Landep, Penanggal ping 13, Amerta Yoga
22 Agustus 2013 Wrespati Pon Landep, Pangelong ping 1
26 Agustus 2013 Soma Paing Ukir, Pangelong ping 5
28 Agustus 2013 Budha Wage Ukir, Pangelong ping 7
1 Agustus 2013 Wrespati Paing Dukut, Pangelong ping 10
7 Agustus 2013 Budha Pon Watugunung, Penanggal ping 1
8 Agustus 2013 Wrespati Wage Watugunung, Penanggal ping 2, Dina jaya,
9 Agustus 2013 Sukra Kliwon Watugunung, Penanggal ping 3

Hari Nikah yang dihindari di bulan Agustus 2013


2 Agustus 2013 Sukra Pon Dukut, Pangelong ping 11
5 Agustus 2013 Soma Umanis Watugunung, Pangelong ping 14 (Purwanin Sasih)
12 Agustus 2013 Soma Pon Sinta, Penanggal ping 6 (Purwanin Sasih) Kalebu rau, Sampar Wangke
14 Agustus 2013 Budha Kliwon Pon Sinta, Penanggal ping 8 (Purwanin Sasih) (Purwanin Dina)
21 Agustus 2013 Budha Paing Landep, Penanggal ping 15, Titi Buwuk, Dasa Guna
23 Agustus 2013 Sukra Wage Landep, Pangelong ping 2 (Purwanin Dina) Pati paten,
29 Agustus 2013 Wrespati Kliwon Ukir, Pangelong ping 8 (Purwanin Sasih)
30 Agustus 2013 Sukra Umanis Ukir, Pangelong ping 9, Titi Buwuk,

SEPTEMBER 2013

Sasih Karo, Bhadrapada = Buruk, Sengsara
Sasih Katiga, Asuji = Banyak memiliki keturunan

Hari baik Nikah di bulan September 2013


5 September 2013 Wrespati Paing Kulantir, Penanggal ping 1
6 September 2013 Sukra Pon Kulantir, Penanggal ping 2, Dewasa MESAKAPAN
9 September 2013 Soma Umanis Tolu, Penanggal ping 5, Amerta Yoga, Dina jaya
13 September 2013 Sukra Kliwon Tolu, Penanggal ping 9

Kurang baik Nikah di bulan September 2013


11 September 2013 Budha Pon Tolu, Penanggal ping 7, Titi Buwuk,
20 September 2013 Sukra Paing Gumbreg, Pangelong ping 1, Tanpa guru,
26 September 2013 Wrespati Pon Wariga, Pangelong ping 7, Rangda tiga,

Hari Nikah yang dihindari di bulan September 2013


2 September 2013 Soma Wage Kulantir, Pangelong ping 12, Kalebu rau,
4 September 2013 Budha Umanis Kulantir, Pangelong ping 15, Titi Buwuk,
12 September 2013 Wrespati Wage Tolu, Penanggal ping 8 (Purwanin Sasih)
16 September 2013 Soma Pon Gumbreg, Penanggal ping 12, Tanpa guru,
18 September 2013 Budha Kliwon Gumbreg, Penanggal ping 14 (Purwanin Sasih) (Purwanin Dina) Tanpa guru,
19 September 2013 Wrespati Umanis Gumbreg, Penanggal ping 15, Titi Buwuk, Tanpa guru, Dewa Mentas
23 September 2013 Soma Kliwon Wariga, Pangelong ping 4, Kalebu rau, Sampar wangke, Titi Buwuk, Rangda tiga,
25 September 2013 Budha Paing Wariga, Pangelong ping 6 (Purwanin Sasih) Rangda tiga,
27 September 2013 Sukra Wage Wariga, Pangelong ping 8 (Purwanin Dina) Rangda tiga,
30 September 2013 Soma Paing Warigadean, Pangelong ping 11, Titi Buwuk, Rangda tiga,

OKTOBER 2013

Sasih Katiga, Asuji = Banyak memiliki keturunan
Sasih Kapat, Kartika = murah rejeki

Hari baik Nikah di bulan Oktober 2013


9 Oktober 2013 Budha Umanis Julungwangi, Penanggal ping 5
11 Oktober 2013 Sukra Pon Julungwangi, Penanggal ping 7
17 Oktober 2013 Wrespati Wage Sungsang, Penanggal ping 13
21 Oktober 2013 Soma Pon Dunggulan, Pangelong ping 2

Kurang baik Nikah di bulan Oktober 2013


2 Oktober 2013 Budha Wage Warigadean, Pangelong ping 13, Rangda tiga,
7 Oktober 2013 Soma Wage Julungwangi, Penanggal ping 3, Titi Buwuk,
14 Oktober 2013 Soma Umanis Sungsang, Penanggal ping 10, Kalebu rau,

Hari Nikah yang dihindari di bulan Oktober 2013


3 Oktober 2013 Wrespati Kliwon Warigadean, Pangelong ping 14 (Purwanin Sasih) Rangda tiga,
4 Oktober 2013 Sukra Umanis Warigadean, Pangelong ping 15, Pati Paten, Rangda tiga,
10 Oktober 2013 Wrespati Paing Julungwangi, Penanggal ping 6 (Purwanin Sasih)
16 Oktober 2013 Budha Pon Sungsang, Penanggal ping 12, Titi Buwuk,
18 Oktober 2013 Sukra Kliwon Sungsang, Penanggal ping 14 (Purwanin Sasih)
23 Oktober 2013 Budha Kliwon Dunggulan, Pangelong ping 4 (Purwanin Dina) Uncal Balung,
24 Oktober 2013 Wrespati Umanis Dunggulan, Pangelong ping 5, Uncal Balung,
25 Oktober 2013 Sukra Paing Dunggulan, Pangelong ping 6 (Purwanin Sasih) Uncal Balung, Titi Buwuk,
28 Oktober 2013 Soma Kliwon Kuningan, Pangelong ping 9, Uncal Balung, Tanpa guru,
30 Oktober 2013 Budha Paing Kuningan, Pangelong ping 11, Uncal Balung, Tanpa guru,
31 Oktober 2013 Wrespati Pon Kuningan, Pangelong ping 12, Uncal Balung, Tanpa guru,

NOVEMBER 2013

Sasih Kalima, Margasirsa = Berlimpah, mewah
sehubungan dengan bertepatan dengan UNCAL BALUNG, seharusnya bulan November 2013 tidak ada dewasa ayu melaksanakan upacara pernikahan, tetapi bila bersikeras, berikut alternatifnya

Kurang baik Nikah di bulan November 2013


11 November 2013 Soma Wage Medangsia, Penanggal ping 9, Uncal Balung, Amerta Yoga,
15 November 2013 Sukra Pon Medangsia, Penanggal ping 13, Uncal Balung,

Hari Nikah yang dihindari di bulan November 2013


1 November 2013 Sukra Wage Kuningan, Pangelong ping 13 (Purwanin Dina) Uncal Balung, Titi Buwuk, Tanpa guru,
4 November 2013 Soma Paing Langkir, Penanggal ping 1, Kalebu rau, Uncal Balung, Sampar wangke,
6 November 2013 Budha Wage Langkir, Penanggal ping 4, Uncal Balung,
7 November 2013 Wrespati Kliwon Langkir, Penanggal ping 5, Uncal Balung, Titi Buwuk,
8 November 2013 Sukra Umanis Langkir, Penanggal ping 6 (Purwanin Sasih) Uncal Balung,
13 November 2013 Budha Umanis Medangsia, Penanggal ping 11, Uncal Balung,
14 November 2013 Wrespati Paing Medangsia, Penanggal ping 12, Uncal Balung, Titi Buwuk,
18 November 2013 Soma Umanis Pujut, Pangelong ping 1, Uncal Balung, Rangda tiga,
20 November 2013 Budha Pon Pujut, Pangelong ping 3, Uncal Balung, Rangda tiga,
21 November 2013 Wrespati Wage Pujut, Pangelong ping 4, Uncal Balung, Rangda tiga,
22 November 2013 Sukra Kliwon Pujut, Pangelong ping 5, Uncal Balung, Titi Buwuk, Rangda tiga,
25 November 2013 Soma Pon Pahang, Pangelong ping 8 (Purwanin Sasih) Kalebu rau, Uncal Balung, Rangda tiga,
27 November 2013 Budha Kliwon Pahang, Pangelong ping 10 (Purwanin Dina), Uncal Balung, Rangda tiga,
28 November 2013 Wrespati Umanis Pahang, Pangelong ping 11, Rangda tiga,
29 November 2013 Sukra Paing Pahang, Pangelong ping 12, Titi Buwuk, Rangda tiga,

DESEMBER 2013

Sasih Kanem, Pausya = Buruk, susah memiliki keturunan

Hari baik Nikah di bulan Desember 2013


4 Desember 2013 Budha Paing Krulut, Penanggal ping 2, Kama jaya,

Kurang baik Nikah di bulan Desember 2013


9 Desember 2013 Soma Paing Merakih, Penanggal ping 7
11 Desember 2013 Budha Wage Merakih, Penanggal ping 9
12 Desember 2013 Wrespati Kliwon Merakih, Penanggal ping 10
19 Desember 2013 Wrespati Paing Tambir, Pangelong ping 2
20 Desember 2013 Sukra Pon Tambir, Pangelong ping 3
30 Desember 2013 Soma Pon Matal, Pangelong ping 13

Hari Nikah yang dihindari di bulan Desember 2013


2 Desember 2013 Soma Kliwon Krulut, Pangelong ping 15, Kalebu rau, Amerta Yoga
5 Desember 2013 Wrespati Pon Krulut, Penanggal ping 3, Titi Buwuk,
6 Desember 2013 Sukra Wage Krulut, Penanggal ping 4 (Purwanin Dina)
13 Desember 2013 Sukra Umanis Merakih, Penanggal ping 11
16 Desember 2013 Soma Wage Tambir, Penanggal ping 14 (Purwanin Sasih) Kalebu rau, Sampar wangke,
18 Desember 2013 Budha Umanis Tambir, Pangelong ping 1, Titi Buwuk,
23 Desember 2013 Soma Umanis Medangkungan, Pangelong ping 6 (Purwanin Sasih) Titi Buwuk, Tanpa guru, Amerta Yoga
25 Desember 2013 Budha Pon Medangkungan, Pangelong ping 8 (Purwanin Sasih) Tanpa guru,
26 Desember 2013 Wrespati Wage Medangkungan, Pangelong ping 9, Tanpa guru,
27 Desember 2013 Sukra Kliwon Medangkungan, Pangelong ping 10, Pati paten, Tanpa guru,

Hari baik Nikah atau Dewasa Ayu NGANTEN terbaik di tahun 2013

jadi kesimpulannya di tahun 2013, dewasa ayu yang paling memungkinkan mendapatkan keselamatan dalam mengawali kehidupan baru yaitu upacara pernikahan adalah:

  • 13 Maret 2013 Budha Umanis Julungwangi, Penanggal ping 2, Kama Jaya Sasih Kedasa
  • 5 September 2013 Wrespati Paing Kulantir, Penanggal ping 1 Sasih katiga
  • 6 September 2013 Sukra Pon Kulantir, Penanggal ping 2, Dewasa MESAKAPAN Sasih katiga
  • 9 September 2013 Soma Umanis Tolu, Penanggal ping 5, Amerta Yoga, Dina jaya Sasih katiga
  • 13 September 2013 Sukra Kliwon Tolu, Penanggal ping 9 Sasih katiga
  • 9 Oktober 2013 Budha Umanis Julungwangi, Penanggal ping 5 Sasih Kapat
  • 11 Oktober 2013 Sukra Pon Julungwangi, Penanggal ping 7 Sasih Kapat
  • 17 Oktober 2013 Wrespati Wage Sungsang, Penanggal ping 13 Sasih Kapat




dari delapan tanggal diatas ada 3 tanggal yang sangat menarik perhatian penulis dan merupakan kombinasi terbaik di tahun 2013 yaitu:

  • 13 Maret 2013 Budha Umanis Julungwangi, Penanggal ping 2, Kama Jaya Sasih Kedasa
  • Paket tanggal 5 dan 6 september 2013, sang sangat jarang di temukan. dimana di hari kamis pasangan penganten dapat melaksanakan upacara pekalan-kalan (nikah) dan besoknya jumat merupakan hari baik "mesakapan".
demikian dulu sekilas tentang Hari baik Nikah 2013 Dewasa Ayu NGANTEN, semoga para semeton yang mempunyai rencanakan upacara pernikahan memiliki gambaran untuk menjalankan upacara manusa yadnya tersebut. semoga bermanfaat.