Tampilkan postingan dengan label Kerajaan Badung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kerajaan Badung. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 Juni 2013

Kesiman Dalam Sejarah Politik dan Ekonomi Abad XIX

Kesiman Dalam Sejarah Politik Abad XIX

Pada tahun 1809-1810 ketika Mengwi berada di bawah kekuasaan I Gusti Agung Ngurah Made Agung, Kerajaan Badung menyerbu Sibang yang merupakan daerah kekuasaan Puri Sibang yang merupakan negara bagian Kerajaan Mengwi. Kerajaan Badung yang dimotori oleh tentara bayaran Belanda mampu menaklukkan Sibang. Kerajaan Mengwi tidak mampu memberikan bantuan kepada Sibang seperti dulu ketika Badung menaklukan Padangluah. Dengan ditaklukkannya Puri Sibang, walaupun tidak seluruh kekuasaannya berhasil dilucuti, namun kerajaan Badung akhirnya memperoleh kuasa untuk melakukan penggalian sebuah saluran tambahan yang mengalirkan air dari sungai Ayung ke daerah persawahan di Badung. Pada periode kepemimpinan Raja I Gusti Agung Ngurah Made Agung itu, Raja Mengwi tidak lebih dari pemimpin satelit dari Raja Badung. Ia harus menyetorkan sebagian dari penghasilan kerajaan untuk dan mengirimkan bahan-bahan yang diperlukan untuk menyelesaikan pembangunan Puri Denpasar dan diharapkan memberikan sumbangan pada upacara pengebenan di Badung. [Nordholt, p.139]


Penaklukan Sibang (1809-1810) merupakan awal dari peperangan antara Badung melawan Mengwi. Pada tahun 1820, Badung menjadi pesaing Mengwi yang sangat kuat dan paling ditakuti, karena kerajaan itu berkoalisi dengan Raja Tabanan, Gianyar, dan penguasa dari desa Banjar (Buleleng Tengah). Sementara, Mengwi hanya bersekutu dengan Kerajaan Klungkung dan Karangasem, Jadi, Mengwi dikepung oleh musuh-musuhnya dari segala penjuru. Tahun 1823 I Gusti Agung Ketut Agung tampil sebagai raja Mengwi menggantikan kakaknya. Raja ini memberikan kebebasan kepada rakyatnya menggunakan air sungai Ayung untuk kepentingan pertanian. Raja ini juga tak berbuat apa-apa ketika petani Mengwi merusak beberapa empangan air para petani Badung, sehingga merugikan kepentingan kerajaan Badung. [Gora Sirikan, op. cit., p. 64]

Persoalan pengairan berkembang menjadi persoalan politik. Raja Badung menuduh Raja Mengwi sengaja merusak empangan supaya rakyat Badung kelaparan dan pada akhirnya mengabdikan diri mereka pada Raja Mengwi. Raja Badung (Kesiman, Denpasar, dan Pemecutan) menyampaikan nota protes kepada raja Mengwi, namun tidak dindahkan. Karena itu raja-raja Badung bermufakat menyerang kerajaaan Mengwi. Sebelum penyerangan dilakukan, Raja Badung menghubungi Raja Tabanan dan Gianyar. Kerajaan Tabanan dapat mengusai Desa Marga, Gianyar merebut Desa Kadewatan, dan Badung memperoleh beberapa desa di wilayah selatan. Menyadari dirinya akan kalah, Raja Mengwi segera mengusulkan genjatan senjata yang berlanjut dengan perdamaian. Perdamaian itu disahkan pada tahun 1828 melalui pasebaya, surat perjanjian yang menyatakan bahwa Raja Mengwi bersedia menghormati kedaulatan Kerajaan Badung.

Pada tahun 1829 Raja Mengwi mencabut kembali surat itu, sebab ia menemukan peluang Badung tidak akan mampu bereaksi. Saat Badung sedang berduka, karena rajanya dari Puri Denpasar mangkat. Karena itu raja dan rakyat Badung lebih disibukkan oleh upacara dan upakara kematian. Tahun 1830 disusul oleh mangkatnya raja Badung dari Puri Pemecutan. Ketika kesempatan sudah terbuka, kerajaan Mengwi sudah berkoalisi dengan Kerajaan Klungkung, sehingga posisinya pun aman dari serangan musuh-musuhnya.

Menurut Henk Schulte Nordholt, penghentian perang melawan Mengwi juga disebabkan oleh sikap putra raja yang mangkat tahun 1828. Pangeran itu tidak bisa menerima penyebab kepergian ayahnya, yang mangkat karena diracun, yang disebut sebagai kasus kedua dari tiga pembunuhan dalam pengambilalihan kekuasaan dinasti Badung. Raja muda itu berbalik melawan pamannya, Raja Badung I Gusti Gde Ngurah Kesiman alias I Gusti Ngurah Made Pemecutan, yang dianggap merampas kekuasaan ayahnya dan ia memutuskan melarikan diri ke Mengwi. Sebagai ahli waris penerus ayahnya, dia meniadakan kewajiban para raja bawahan memberikan penghormatan pada pusat Kerajaan Badung. Dengan demikian Raja Badung tidak mampu mendesak rakyat mendukung dirinya untuk menggempur Mengwi. Jadi, status Mengwi sebagai sebuah kerajaan yang lebih rendah daripada Badung, dengan sendirinya sudah dicabut. [Henk, op. cit., pp. 144-145]

Dalam Sejarah Ekonomi Abad XIX

Perubahan ekonomi diawali dengan keinginan pemerintah kolonial Belanda menjajagi kemungkinan membuka kantor perdagangan di Bali. [Goa Sirikan, op. cit , p. 66] 

Menurut Ide Anak Agung Gde Agung, penjajagan itu sudah dilakukan sejak tahun 1808 ketika mereka menugaskan Kapten Van der Wahl ke Bali. Ia berhasil mengadakan perjanjian persahabatan dengan Raja Badung I Gusti Ngurah Made Pemecutan. Dalam perjanjian itu antara lain disebutkan Wahl mengakui Gusti Ngurah Made Pemecutan sebagai susuhunan, junjungan raja seluruh pulau Bali. Keputusan itu disebut sebagai kesalahan politik Wahl karena status itu dipegang oleh Raja Klungkung sebagai penerus dinasti Dalem Gelgel. Sebagai imbalan atas dukungan itu, pihak Raja Badung memberikan persetujuan kepada Belanda membuat benteng-benteng, pangkalan meriam, dan mendaratkan pasukan tak terbatas di wilayah kerajaan Badung. [Gde Agung, p. 42]

Ide Anak Agung Gde Agung menyebutkan raja-raja Bali menentang isi perjanjian itu, karena akan dapat membahayakan kekuasaan mereka masing-masing. Perjanjian itu tidak disetujui oleh Gubernur Jenderal Willem Herman Daendels di Batavia. Tantangan itu mengakibatkan I Gusti Ngurah Made Pemecutan mengundurkan diri sebagai Raja Badung pada tahun 1810 dan kekuasaannya digantikan oleh putranya. Tujuh tahun kemudian, tanggal 1 Desember tahun 1817 Komisaris H.A. van den Broek datang ke Bali untuk mengunjungi Raja Kerajaan Buleleng. Ia kemudian meneruskan perjalanan ke timur. Tanggal 18 Desember 1817 ia mengadakan pertemuan dengan Raja Kerajaan Karangasem dan tanggal 23 Januari 1818 dengan Raja Badung I Gusti Gde Ngurah Kesiman. Raja Badung memanfaatkan kedatangan Broek untuk kepentingan politik dan ekonomi. Secara politik, ia mendesak Belanda supaya mau membantunya dalam menghadapi Lombok. Sebagai imbalannya, Raja Badung menginjinkan Belanda membangun kantor perdagangan di Badung, namun bukan dipelabuhan, melainkan di pantai. Namun rencana itu dibatalkan karena Raja Badung khawatir akan menimbulkan kecemburuan raja-raja lain di Bali.

Raja Badung sempat mengajukan naskah pejanjian kepada Broek, namun ditolak karena tidak menguntungkan Belanda secara politik dan ekonomi, karena menempatkan seolah-olah Kerajaan Belanda lebih kecil daripada Kerajaan Badung dan teksnya tidak menyebutkan perjanjian izin membangun kantor pedagangan di Badung. Sebagai gantinya, Broek yang mengajukan naskah perjanjian, namun ditolak oleh Raja Badung. Dengan demikian, misi Belanda menguasai Badung dengan bersembunyi di balik kepentingan ekonomi gagal. Pada tahun 1824, Belanda mengulangi lagi usaha menjalin persahabatan dengan Raja Badung. Kali ini yang dikirim orang keturunan Arab bernama Pangeran Said Hasan al Habeshi. Ia datang bersama sekretarisnya Abdullah bin Muhammad el Mazrie. Mereka tinggal di Bali dari tahun 1820-1824.

Utusan Belanda itu menyampaikan laporan kepada tuannya, bahwa raja-raja Bali sedang bertengkar satu sama lain untuk merebut kekuasaan. Jadi, ada peluang untuk meluaskan kekuasaan ke Bali, namun tidak semudah membalikkan tangan, karena raja-raja Bali umumnya tidak senang jika orang-orang Belanda ada di Bali. Mereka juga menyampaikan informasi, bahwa di antara semua kerajaan di Bali, Badung yang paling makmur. Kerajaan ini punya tiga pelabuhan yakni Sanur, Benoa, dan Kuta. Ketiganya ramai dikunjungi oleh saudagar asing, sehingga sangat menguntungkan Badung. [Goa Sirikan,op. cit., pp. 66-67]

Laporan itu akhirnya mendorong kembali Belanda menjalin hubungan dengan Raja Badung. Karena itu, tahun 1826 mereka mengirim Kapten J.S Wetters. Ia berhasil menjalin persahabatan dengan Raja Badung melalui sebuah surat perjanjian. Sebagai implementasinya, Belanda mengangkat Dubois sebagai pejabat perekrutan calon prajurit Bali. Saat itu Belanda membutuhkan tentara Bali untuk dipakai dalam Pangeran Dipanagara di Jawa Tengah. Dubois mendapat izin dari raja Badung untuk menetap di desa Kuta dan tinggal di rumah biasa. Rupanya ia curang, karena bukan hanya merekrut para calon tentara asal Bali, tetapi menyelundupkan para budak. Atas kesalahannya itu ia oleh Raja Badung. [Ide Anak Agung Gde Agung, op. cit., p. 77]

Raja Badung I Gusti Gde Ngurah Kesiman akhirnya memberlakukan undang-undang pelarangan perbudakan yang dikeluarkan oleh Belanda tahun 1815. Pemberlakuan undang-undang ini merugikan sektor perdagangan raja-raja Bali, karena selain candu, komiditas ini sangat sangat menguntungkan. Sebelum tahun 1815, dalam setahun sekitar 2000 orang budak ditukar dengan uang kepeng, senjata, dan sejumlah besar candu. Setelah itu Raja Badung menjalin hubungan dagang dengan Singapura yang kemudian diikuti oleh raja-raja lain. Tahun 1830 bahkan terjadi perdagangan langsung antara Bali dengan Singapura, tanpa singgah di Jawa. Para pedagang berlabuh di Kuta. Belanda pun cemas dan ingin segera menaklukkan Bali, sebab tidak ingin didahului Inggris. Mereka lalu mengirim mata-mata bernama Jembrong. Ia berangkat dari Banyuwangi dan tiba di Kuta tanggal 18 Agustus 1835. Sembilan hari kemudian ia tiba kembali di Banyuwangi dan melaporkan hasil penelitiannya kepada Belanda. [Henk, op. cit., p. 82-84]

Belanda kemudian merancang strategi menguasai Bali. Pada awalnya, mereka meminta NHM (Nederlandsche Handelmaatschappij) supaya segera membuka kantor dagang di Bali. Sebagai imbalannya, NHM akan diberikan bantuan finasial jika sampai mengalami kerugian atau kegagalan di Bali. Kantor NHM akhirnya berdiri di Kuta tanggal 1 Agustus 1939. NHM di Bali mengalami kerugian di Bali, yang disebabkan oleh adanya persaingan ketat dengan George Morgan King, Mads J. Lange, dan pedagang Bugis. George Morgan King adalah seorang pedagang Inggris mulai menetap di Lombok tahun 1835. Ia berjasa dalam kemenangan Raja Mataram melawan musuh-musuhnya.[Tagel Eddy, p. 31] 
Sedangkan Mads J. Lange adalah seorang pedagang asal Denmark sebelumnya tinggal di Lombok. Dia berpihak dan membantu kerajaan Karangasem-Sasak ketika berperang melawan Kerajaan Mataram. Seteleh kerajaan Karangsem-Sasak kalah dalam peperangan itu, Lange melarikan diri dan tinggal di Kuta. [Ida Anak Agung Gde Agung, op. cit., p. 145]

Kegagalan itu juga disebabkan oleh perintah Raja Badung yang melarang rakyatnya tidak menjalin hubungan perdagangan dengan NHM. Selain itu, juga disebabkan oleh pangeran Puri Kesiman, I Gusti Ngurah Ketut yang tidak setuju terhadap keinginan NHM membangun tembok batu di lingkungan kantornya. [Lekkerkeker, afc. 1 an 2] 
Biarpun gagal secara ekonomi, namun NHM Bali berhasil secara politik. Itu disebabkan karena dua raja Badung, yakni Pemecutan dan Kesiman datang ke kantor NHM untuk meminta bantuan mesiu dan timah hitam kepada Belanda yang akan digunakan melawan Klungkung. Sebagai imbalannya mereka memberikan izin membangun sebuah benteng kecil yang dikamuplase dalam bentuk rumah kantor supaya tidak dicurigai oleh raja-raja Bali lainnya. [Ida Anak Agung Gde Agung, op. cit., pp. 88-89]

daftar bacaan:
  • Nordholt, Henk Schulte, 2006. The Spell of Power: Sejarah Politik Bali 1650-1940, Denpasar: Pustaka Larasan.
  • Gora Sirikan, “Pulau Bali dalam Masa-masa Jang Lampau, Jilid IV” Manuskrip, Gianyar 1956.
  • Gde Agung, Ide Anak Agung, 1989. Bali pada Abad XIX: Perjuangan Rakyat dan Raja-raja Menentang Kolonialisme Belanda 1808-1908, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1989.
  • Tagel Eddy, I Wayan, 1992. “Bara Lombok di Seberang Bali (Sebuah Studi Pemberontakan Praya) 1891-1894,” Tesis S-2, Sekolah Pasca Sarjana UGM.
  • Lekkerkeker, C. , “Het Voorspel er Vestiging van de Nederlndsch Macht op Bali en Lombok (dicetak kembali dari Bijdragen tot de Taal, Land-en Volkenkunde van Ned. Indie, dell 79, afc. 1 an 2.

Sejarah Lahirnya Puri Kesiman

Sejarah Lahirnya Puri Kesiman

PURI KESIMAN: Saksi Sejarah Kejayaan Kerajaan Badung

Kehadiran Puri Kesiman, menurut Gora Sirikan diawali dengan sikap politik I Gusti Ngurah Made. Ia adalah salah seorang cucu I Gusti Gde Oka alias I Gusti Ngurah, seorang Manca Puri Kaleran Kawan, yang merupakan pejabat tinggi di bawah punggawa dalam kerajaan Badung. Diceritakan oleh Sirikan, I Gusti Gde Made tidak puas dengan jabatannya sebagai seorang manca. Ia ingin memperoleh kekuasaan yang lebih tinggi, karena menganggap dirinya pantas memperolehnya, mengingat kebesaran kerajaan Badung terjadi berkat cicitnya, putri raja Mengwi yang dibekali sejumlah desa saat menikah dengan Raja Pemecutan. Ia pun melirik kekuasaan I Gusti Ngurah Jambe di Puri Kesatria.[Gora Sirikan, p. 79]

Jangan pernah membayangkan istana Jambe Merik itu di Puri Kesatria adalah Puri Satria yang terwariskan sampai sekarang itu. Puri Satria yang dihuni oleh keluarga Anak Agung Ngurah Puspayoga, yang sekarang menjabat sebagai Wakil Gubernur Bali, dibangun oleh Pemerintah Kolonial Belanda pada tahun 1929 di atas areal pura peninggalan I Gusti Jambe Merik. Puri Satria dimaksudkan sebagai tempat tinggal regent (wali pemerintahan) yang tiada lain adalah datuk Anak Agung Ngurah Puspayoga, salah satu keturunan raja Badung yang dapat menyelamatkan diri dalam perang 1906, kemudian ditawan Belanda di Lombok. Sementara Puri Kesatria yang dikisahkan dalam tulisan ini berasal dari Puri Peken Badung yang didirikan oleh I Gusti Jambe Merik. Setelah I Gusti Jambe Merik mangkat, ia digantikan oleh putranya, I Gusti Jambe Tangkeban. I Gusti Jambe Tangkeban digantikan lagi I Gusti Jambe Ketewel. Pada masa Jambe Ketewel, kekuasaan Puri Peken Badung meluas, yang disebabkan karena Raja Sukawati menghadiahinya daerah Batubulan. Hadiah itu diberikan sebagai balas budi atas jasanya mendamaikan pertengkaran antara Tjokorda Made dan Tjokorda Anom di Kerajaan Klungkung, yang kemudian menjadi penyebab dari lahirnya Kerajaan Sukawati.[Gora Sirikan, p. 23]


Sayangnya, I Gusti Ngurah Jambe Ketewel tidak memiliki keturunan. Sebagai jalan keluarnya, ia pun menghaturkan seorang istrinya kepada Raja Sukawati Dewa Agung Anom. Setelah istrinya hamil, lalu dipulangkan ke Puri Peken Badung. Istrinya itu, melahirkan seorang anak laki-laki yang kemudian diangkat sebagai putra mahkota dan selanjutnya menjadi Raja Peken Badung dengan gelar I Gusti Jambe Aeng. Raja inilah yang mendirikan Puri Kesatria yang saat itu dijuluki Puri Kesatrya Jambe Merik sekaligus menjadi rajanya dengan gelar I Gusti Ngurah Jambe Merik. Konon, I Gusti Agung Jambe Merik memiliki dua orang anak, yakni Ida Sakti Jambe dan Ida Sakti Made. Ida Sakti Jambe menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Raja Ksatria, sedangkan adiknya membangun istana baru yang diberi nama Puri Agung Jero Kuta Turunan Dalem Sukawati. Menurut Gora Sirikan, sejak munculnya Puri Ksatria, kekuasaan Puri Pemecutan mulai surut, namun bukan berarti musnah, sebab rakyat Badung masih menghormatinya sebagai titik awal berdirinya Kerajaan Badung. Istana yang dibangun oleh I Gusti Jambe Aeng alias I Gusti Jambe Merik itu yang sedang diincar oleh I Gusti Ngurah Made, cucu pendiri Puri Kaleran Kawan.[Gora Sirikan, p. 79]

Versi lain menyebutkan, I Gusti Ngurah Made bukan cucu pendiri Puri Kaleran Kawan, melainkan anaknya. Ia juga bukan orang yang ingin mengincar kekuasaan Raja Puri Ksatria, melainkan adiknya yang bernama I Gusti Ngurah Rai, yang juga disebut Kiyai Agung Rai. Semula hubungan antara Puri Kaleran dengan Puri Ksatria berjalan dengan baik, namun menjadi renggang setelah istri kesayangan Raja Kesatria berselingkuh dengan I Gusti Ngurah Rai. Karena saking cintanya, istri raja itu menyerahkan cincin pemberian suaminya kepada kekasih gelapnya, I Gusti Ngurah Rai. Cinta terlarang ini akhirnya bocor ke telinga Raja Ksatria, maka terjadilah permusuhan antara Puri Kesatria dengan Puri Kaleran. I Gusti Ngurah Rai menjadi target pembunuhan. Ia pun bersembunyi di Celagigendong, kemudian lari ke Kuta, Petitenget, Legian, sampai akhirnya mencari suaka politik ke Raja Lombok. Namun Raja Lombok, tidak berani menerimanya, dan hanya diberikan izin tinggal. Akhirnya, I Gusti Ngurah Rai kembali ke Bali, berlindung pada Kerajaan Gianyar (Dewa Agung Manggis). [Widura.AA. p. 81-82]

Sebagai orang yang pandai berjudi sabungan, I Gusti Ngurah Rai ditantantang oleh Raja Gianyar untuk adu jangkrik. Raja Gianyar kebetulan memiliki seekor jangkrik siluman. Mengetahui hal itu, ia pun meminta pertolongan kepada saudara iparnya di Griya Jero Gde Sanur. Oleh saudara iparnya itu, I Gusti Ngurah Rai diminta bersemadi di Pura Dalem Kedewatan, sehingga mendapat anugrah seekor jangkrik, yang kemudian dapat mengalahkan jangkrik Raja Gianyar. Dengan demikian, terjalin hubungan yang harmonis antara Gianyar dan I Gusti Ngurah Rai, yang dilanjutkan dengan kesedian raja Gianyar membantu I Gusti Ngurah Rai menghancurkan kekuasaan Puri Kesatria.

Menurut Gora Sirikan, rencana pernyebuan ke Puri Ksatrya memang mendapat dukungan dari Raja Gianyar. Setelah ada bantuan dari Raja Gianyar, semakin kuat I Gusti Ngurah Rai menyerang Puri Ksatria. Puri Ksatria pun mulai dikepung. I Gusti Ngurah Rai juga dibantu oleh saudara iparnya dari Griya Jero Gde Sanur, sehingga pasukan Kesatria yang dipimpin oleh pemangku Pura Dalem Kesiman dapat dihancurkan. Pasukan Ngurah Rai bergerak sampai ke Kreneng. Setelah itu, ia mengirimkan ultimatum, apakah Raja Kesatria memilih menyerah atau gugur dalam pertempuran. Ternyata Raja Puri Kesatria memilih berperang. Ternyata I Gusti Ngurah Rai menggunakan siasat adu domba dengan adiknya di Puri Jero Kuta. Penguasa Puri Jero Kuta diintimidasi dan dijanjikan kedudukan yang lebih tinggi oleh I gusti Ngurah Rai. Selanjutnya, dibuatkan rencana agar Raja Ksatria keluar dari istananya menuju Puri Jero Kuta tanpa pengawalan ketat, namun secara diam-diam ia sudah ditunggu oleh laskar I Gusti Ngurah Rai. Raja Puri Ksatria akhirnya dapat dibunuh oleh I Gusti Ngurah Rai di Puri Jero Kuta. Kakak I Gusti Ngurah Rai yang bernama I Gusti Ngurah Made yang juga disebut Kyai Anglurah Made Pemecutan tampil sebagai Raja Ksatria menggantikan Ida Sakti Jambe. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1778.[Widura.AA. p. 83]

Sejak itu berdiri Kerajaaan Denpasar. Menurut Gora Sirikan, dengan hancurnya Puri Ksatria derajat I Gusti Ngurah Made pun terangkat. Ia mendapat pengakuan sebagai Raja Badung oleh seluruh rakyat. Sesudah dinobatkan menjadi Raja Badung, I Gusti Ngurah Made menggunakan gelar I Gusti Ngurah Made Pemecutan. Biarpun muncul kerajaan baru, namun karena keberadaannya hanya menggantikan Puri Ksatria, maka sifat dan bentuk kerajaan Badung tetap seperti sedia kala. Dilihat dari dalam, kedua kerajaan ini menampakkan diri sebagai kerajaan kembar yang berpusat di Puri Denpasar, namun dari luar keduanya nampak sebagai satu kesatuan. Kedua dapat bekerjasama dan saling menghormati kedaulatan masing-masing.[Widura.AA. p. 80]

Pada tahun 1813 pendiri Raja Denpasar I Gusti Ngurah Made Pemecutan mangkat. Setelah kepergiannya terjadi perubahan konstalasi politik di kerajaan Badung yang diawali dengan keputusan putra sulung I Gusti Gde Kesiman pergi meninggalkan istana dan membangun istana baru di Kesiman (di Puri Agung Kesiman sekarang) dan sekaligus menjadi rajanya dengan gelar I Gusti Gde Ngurah Kesiman. Sementara posisi Raja Denpasar II diserahkan kepada adiknya, I Gusti Gde yang setelah dinobatkan menjadi raja bergelar I Gusti Gde Ngurah. Dengan demikian sejak tahun 1813, kerajaan Badung tidak lagi berbentuk dwitunggal, melainkan tritunggal. Pada tahun 1817, setelah berkuasa selama empat tahun, I Gusti Gde Ngurah mangkat dan kedudukan Raja Denpasar III dipegang oleh putranya yang bernama I Gusti Made Ngurah. [Widura.AA. p. 64]

Sejak raja Denpasar II mangkat, kebesaran atau kewibawaan Raja Kesiman I Gusti Gde Ngurah Kesiman di Kerajaan Badung semakin meningkat, seolah-olah Raja Pemecutan I Gusti Ngurah Pemecutan tunduk kepadanya. Oleh karena itu, menurut Gora Sirikan, pimpinan tertinggi kerajaan Badung berada di tangan I Gusti Gde Kesiman. Keistimewaan Raja Kesiman dibandingkan dengan Raja Denpasar dan Pemecutan bukan hanya terletak pada kemahirannya atau kebijaksanaannya dalam memegang tampuk pemerintahan tetapi juga kemampuannya dalam bercakap-cakap dalam bahasa Melayu. Dengan kelebihan itu, maka orang-orang asing yang berkunjung ke Badung, memandangnya sebagai raja yang paling berkuasa di Badung yang harus mereka segani.

Menurut Anak Agung Ngurah Widura dan Anak Agung Ngurah Gde Agung, yang tampil sebagai Raja Denpasar II itu adalah I Gusti Ngurah Gde Pemecutan yang tiada lain adalah anak dari Raja Kesatria, I Gusti Jambe Sakti. Itu terjadi karena saat dinikahi oleh I Gusti Ngurah Made, janda I Gusti Jambe Sakti itu sedang mengandung. Jika demikian adanya, maka sangat masuk akal jika putra I Gusti Ngurah Denpasar dari sitri lainya meninggalkan istana lalu mendirikan istana baru yang bernama Puri Kesiman. [Widura.AA. p. 79] 

daftar bacaan: 
  • Gora Sirikan, “Pulau Bali dalam Masa-masa Jang Lampau, Jilid IV” Manuskrip, Gianyar 1956. 
  • Widura, Anak Agung Ngurah dan Anak Agung Ngurah Gde Agung, 1999. “Eksistensi Arya Dhamar (Adityawarman) di Bali,” manuskrip, Denpasar.

Puri Kesiman

Puri Kesiman: Saksi Sejarah Kejayaan Kerajaan Badung

Artikel ditulis dalam rangka menyambut acara “Restorasi Makna, Nilai, Jatidiri Puri Agung Kesiman Sebagai Benteng Pelestari dan Pengembangan Primbon-arti.blogspot.com” di Puri Agung Kesiman, tanggal 2 Juli 2011. 

“Tuanku I Gusti Ngurah Mayun,andai tuan masih ada hari penghabisan itu, apakah tuan kuasa tak akan membakar istana, seperti dilakukan dua saudara tuan,di Denpasar dan Pemecutan.” 

“Itulah sebab aku mendahului pergi,aku tak mau bakar membakar,mati tertembak peluru lawan.” 

“Jadi, karena itukah Tuan titahkan pandita,menikam keris pusaka ke dada.” 


“Engkau benar, tapi bukan satu-satunya sebab,aku tak mampu rubuhkan kokoh hati raja,aku sarankan raja melawan pakai otak bukan otot,aku ingatkan raja taktik leluhurku,bersama Lange sang pedagang negeri asing,berhasil luluhkan hati walanda,lima puluh tahun silam,sesudah berhasil rebut Buleleng, Jembrana, Karangasem,walanda angkat senjata,arahkan moncong-moncong meriam ke Puri Klungkung,leluhurku I Gusti Gde Ngurah Kesiman,mampu yakinkan Dewa Agung Klungkung,tak ada guna melawan walanda,pertempuran sehebat apapun akan berakhir derita,walanda pasti menang,tombak dan keris pusaka hanya mampu tikam bangsa sendiri,tak akan dapat kalahkan senapan dan meriam,Dewa Agung Klungkung sadar,perdamaian Bali lebih penting dari ambisi pribadi,bersamaan dengannya, melalui Lange,leluhurku tebar ancaman pada walanda,jika paksakan diri serang Klungkung,pasukan Badung, Tabanan, dan Mengwi, akan berdiri di garis depan acungkan tombak,siap menumpahkan darah,perdamaian pun tercipta.” 

“Apakah tuanku sendirian kehendaki perdamaian?" 

“Tidak, aku tak sendirian,Brahmana-brahmana yang utamakan damai,ksatria-ksatria yang tak suka berpura-pura, wesia-wesia yang cari muka di depan raja, padu katakan, tak ada yang lebih sempurna dari mengalah, mengalah bukan berarti kalah, mengalah untuk menang, orang-orang cina dan arab, siap kirimkan uang tiga ribu ringgit untuk bayar perdamaian, sayangnya raja bergeming, aku kecewa, lebih baik mati ditangan pandita daripada di ujung bedil, lebih baik wariskan istana utuh daripada puing-puing, aku tahu, begitu tinggalkan istana dalam puing-puing, tak lama kemudian, walanda akan bangunkan gedong kantor, mengangkangi merajan suci warisan leluhur, lihatlah sekarang, istana saudaraku di Denpasar, menjelma menjadi hotel, istana saudaraku di Pemecutan, jadi pusat pertokoaan, tak ada bangga di dada, peninggalan masa lampau hilang di balik gemerlap rupiah.” 

“Tetapi….tetapi tuanku.” 

“Sudah…sudahlah tak perlu diperpanjang lagi, alam kita berbeda, aku mau pulang ke kahyangan, lanjutkan perjuanganmu, pengabdianmu, penuhi satu permintaanku, jika esok engkau bertemu cicitku, Kusuma Wardhana, katakan dia sudah tak selayaknya sebut diri, Anak Agung Ngurah Gde, sepantasnya cicitku busung dada sebut diri, I Gusti Gde Ngurah, nama kebesaran leluhur kami turun temurun, bukan tuk kembali duduki singgasana, kebesaran masa lampau, namun, tuk kebesaran masa kini, melangkah ke masa depan, benahi kekurangan bangsa Bali, terlena kemewahan upacara upakara, terjebak riuh suara gamelan, lemah gemulai tari legong, lupa ilmu pengetahuan dan teknologi, jangan ulangi lagi pengalaman kami di masa lampau, sibuk melirik kelengahan lawan, mengasah tombak menghunus keris, bukan semata demi merebut singgasana lawan, tetapi juga kawula tergadai, tuk dijual sebagai budak, yang lebih mahal dari sekantong opium, ingatkan dia cicitku, I Gusti Gde Ngurah Kesiman Kusuma Wardhana, kebudayaan dan orang-orang berbudaya, bukan hanya bergelut upakara dan upacara, bukan hanya memukul gamelan dan menarika legong, ilmu pengetahuan dan teknologi juga kebudayaan, karena itu, gali sedalam mungkin bakat ilmu pengetahuan bangsa Bali, yang terpendam dalam, tersembunyi di balik belenggu hukum adat, peninggalan orang-orang di zamanku, penuh rekayasa untuk selamatkan penguasa, jadikan 20 September hari kebangkitan bangsa Bali, bukan hari perayaan atas kekalahan, bangkitkan puri dengan selenggarakan, lomba-lomba kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, bukan teknologi perang, cukup teknologi tepat guna, yang menguasai hajat hidup orang banyak.

Latar Belakang

Empat orang tokoh Puri Kesiman Denpasar dipimpin Anak Agung Ngurah Gde Kusuma Wardhana mengadakan pertemuan dengan Chusmeru di kampus D4 Pariwisata Jalan Dr. Goris 7 Denpasar. Pertemuan itu membicarakan pernyataan Chusmeru yang merasa dijebak dalam pertemuannya dengan Hartono di Puri Kesiman, beberapa waktu lalu. Kusuma Wardhana memaparkan banyak pihak yang mempermasalahkan dan tersinggung dengan pernyataan itu karena dapat dipandang mencemarkan nama puri. Sementara itu, Chusmeru tidak sependapat dengan pernyataan itu karena dia tak menduga Hartono akan hadir dalam pertemuan yang akan membahas perkembangan isu Jembatan Jawa Bali (JJB). Menurut Chusmeru, kehadiran Hartono di Puri Kesiman membuat dirinya kaget, dan tak bisa mengelak, sehingga hanyut dalam pembicaraan tentang dia dan Planet Bali, kepunyaannya. Jika hal itu memang itu membuat pihak Puri Kesiman tersinggung, Chusmeru meminta maaf.

Kusuma Wardhana mengaku merasa plong dan menerima permintaan maaf Chusmeru. Dia menegaskan bahwa tidak pernah merekayasa pertemuan antara Hartono bersama Chusmeru dan kawan-kawan. Sementara itu, Ketua Umum Forum Pemerhati Hindu Dharma Indonesia (FOHDI) I Dewa Gede Ngurah Swastha, mendukung pernyataan pengamat budaya Profesor I Gusti Ngurah Bagus agar Pemerintah Daerah Badung mencabut izin Planet Bali. Jika Hartono keberatan, bisa mem-PTUN-kan Pemda Badung. Akan tetapi dengan berbagai bukti penyelewengan di Planet Bali dan promosi “ayam” Hartono lewat internet, I Gusti Ngurah Bagus yakin Pemda Badung akan mampu mempertahankan keputusannya. Dukungan lainnya datang dari LPPH Pemuda Pancasila Bali. Melalui ketuanya Drs. Made Buktiyasa, LPPH Bali dikatakannya siap membeking Bupati Badung menghadapi tuntutan Hartono. Itu dilakukan karena LPPH Pemuda Pancasila Bali ingin memberantas perbuatan yang melecehkan agama Hindu dan primbon-arti.blogspot.com.

Tulisan tersebut di atas adalah salah satu dari puluhan berita tahun mengenai Puri Kesiman dan Anak Agung Ngurah Gde Kusuma Wardhana sebelum dan sesudah masa Reformasi. Saat itu Kusuma Wardhana adalah ketua FIP2B, yang getol mengawasi penyimpangan-penyimpangan konsep pembangunan di Bali. Jadi, tahun 1990-an sampai dengan awal 2000-an, Puri Kesiman adalah markas perjuangan kaum reformis. Jika, ditelusuri lebih jauh, ternyata bukan hanya pada periode itu, melainkan jauh sebelumnya Puri Kesiman sudah pernah tampil sebagai markas perjuangan. Saat itu, tahun 1945-1949, yang disebut sebagai periode Revolusi Fisik, Puri Kesiman tampil sebagai salah satu markas perjuangan pemuda revolusioner. I Gusti Ngurah Kusuma Yudha, yang merupakan ayah kandung Kusuma Wardhana, yang merupakan bagian dari pimpinan pejuang kemerdekaan Bali. Ia membiarkan istana warisan leluhurnya sebagai markas perjuangan, karena kuatnya semangat nasionalisme pada dirinya.

Suatu saat para pemuda revolusioner yang sedang berkumpul di Puri Kesiman tidak menyadari dirinya sudah dikepung oleh pasukan Jepang. Biarpun sudah terkepung, namun mereka berhasil meloloskan diri. Begitu para gerilyawan yang sebelumnya sudah terjepit di Puri Kesiman, Puri Satria, dan beberapa tempat lainnya di Denpasar bisa meloloskan diri, mereka langsung menuju ke Peguyangan atau desa-desa lain yang diperkirakan lebih aman. Di tempat persembunyiannya, para gerilyawan akhirnya sadar, bahwa mereka bertindak terlalu gegabah, melaksanakan suatu kegiatan besar tanpa konsep yang jelas dan dasar-dasar perjuangan yang teratur dan rapi. Oleh karena itulah pimpinan TKR di bawah I Gusti Ngurah Rai mulai memikirkan landasan, strategi, dan siasat perjuangan. Sejak itu para gerilyawan mulai masuk ke desa-desa dan dusun yang jauh dari kota, agar bisa bertemu dengan rakyat, tidak saja untuk mensosialisasikan arti kemerdekaan, tetapi juga mencari dukungan untuk membangun gerakan massa yang lebih kuat dari sebelumnya.

Lebih jauh dari itu, para pimpinan TKR juga mengambil kesepakatan untuk mencari bantuan senjata ke Jawa. Pada hari Rabu, tanggal 19 Desember 1945 rombongan ekspedisi yang dipimpin oleh I Gusti Ngurah Rai berangkat ke Jawa. Sementara itu, para pemimpin yang berada di Bali, selain berusaha merebut hati rakyat, mereka juga membenahi struktur organisasi, kemudian melahirkan suatu konsep baru berupa induk perjuangan yang mengkoordinir para gerilyawan dalam menghadapi musuh. Induk perjuangan ini disebut Markas Besar(MB), yang membawahi beberapa cabang yang ada pada satu atau dua distrik, disebut staf. Cabang membawahi ranting yang tersebar di desa-desa. Cara kerjanya, cabang, memperoleh informasi dan pengarahan dari MB yang kemudian diteruskan ke ranting, yang selanjutnya meneruskan ke anak buah masing-masing. Akhir Juli 1946 Induk Pasukan bergerak ke selatan, melintasi leher Gunung Batukaru(Tabanan), lewat Bukit Keladin, menuju suatu tempat di Tabanan. Di sini, di Sarinbuana induk pasukan dipecah: sebagian ke staf Kesiman markas Badung.

Dengan demikian, sudah dua periode dalam sejarah Bali abad XX, Puri Kesiman berfungsi sebagai markas perjuangan. Sebagai satu-satunya istana Raja Badung yang tersisa sampai sekarang ini, tentu sangat menarik untuk mengkaji bagaimana Puri Kesiman bisa bertahan cukup lama dan apa kiprahnya di masa kini, awal abad XXI, terutama dalam kaitannya dengan kedudukan dan peran puri dalam masyarakat Bali, khususnya Desa Kesiman yang semakin majemuk. Karena itu, dalam studi ini akan dibahas sejumlah pertanyaan penelitian, yakni:
  1. bagaimana sejarah berdirinya Puri Kesiman;
  2. Apa peran Puri Kesiman dalam sejarah Bali pada umumnya dan sejarah Badung khususnya; dan
  3. Bagaimana kedudukan Puri Kesiman pada awal zaman kemerdekaan sampai sekarang ini.

Pertanyaan penelitian itu tampak sangat sederhana, namun jika mampu menjawabnya secara maksimal, maka setidaknya akan memberikan gambaran yang relatif utuh mengenai sejarah Puri Kesiman. Tulisan ini memang dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan penelitian itu, namun kualitas jawabannya belum maksimal hanya bertumpu pada sumber sejarah sekunder, bahkan tersier. Artinya, jawaban yang dikemukakan dalam tulisan ini masih sangat umum, karena memang merupakan pengetahuan umum mengenai sejarah Puri Kesiman. Karena itu diperlukan sejumlah sumber primer baik yang tradisional maupun modern, terutama dokumen-dokumen rahasia pemerintah kolonial Belanda. Jadi, tepatnya tulisan ini dapat disebut sebagai sebuah proposal terbuka yang ditujukan kepada siapapun yang merasa memiliki sumber-sumber primer yang dimaksud.
sumber: Nyoman Wijaya (sejarawan UNUD)