Tampilkan postingan dengan label Kisah Mualaf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Mualaf. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Desember 2012

Amy Perez : Islam bukan sekedar agama, tapi Ia adalah suatu jalan hidup

Islam Makin Berkembang di Amerika Latin
Kalau di Amerika ada Amina wadud yang nyeleneh dan insulting agamanya sendiri dengan berkhotbah dan mengimami sholat di Gereja, tapi justru Amy Perez meninggalkan gereja jauh jauh dan menemukan kedamaian dalam Islam.

Makin dibenci justru makin berkembang. Kata-kata itu cocok dengan perkembangan semakin banyaknya muallaf di Amerika, khususnya di Amerika Latin. Amy Perez mengaku tak pernah lupa menghadiri kegiatan Gereja tiap hari Minggu. Namun menurutnya, kegiatannya di gereja Katolik, agama yang dipeluknya sejak kecil tidak pernah dirasakan begitu mencukupi untuk menjawab kalbunya yang terus dipenuhi berbagai pertanyaan.

Pada umur 12 tahun, Perez kemudian memutuskan meninggalkan sekolahnya di Webb Middle School di Universal Academy of Florida. Ia kemudian melanjutkan sekolah di Tampa, ingin belajar lebih banyak tentang Islam. Setelah melakukan banyak pencarian dan perenungan, Perez kemudian mengucapkan dua kalimah syahadah dan memutuskan memeluk Islam. Saat itu, umurnya baru 14 tahun.


“Aku akhirnya menemukan kedamaian,” kata Perez (22). “Suatu kedamaian yang belum pernah aku kenal sebelumnya. Bagi saya, segalanya rasional. Tiap pertanyaan yang aku ajukan, selalu ada suatu jawaban untuk itu. Ini benar-benar luar biasa.”

Kasus Peres bukan hal baru. Angka pemeluk Islam di negara ini kian hari terus di bertambah. Mereka berbagung dalam pelukan Islam --yang oleh kebanyakan warga Amerika-- hanya dianggap milik warga kulit hitam.

“Mereka dengan pasti melihat lebih banyak warga Latin memeluk Islam, “ ujar Ahmed Bedier, direktur Council on American Islamic Relations di Central Florida. “Adalah benar-benar sebuah fenomena sebab citra Islam dianggap menekan kaum wanita, jadi kenapa mereka akan ingin memilih suatu agama yang akan –justru diaggap membatasi gaya hidup mereka?”

Tapi Moharram Mohamed, pemimpin komunitas lokal Muslim Amerika tidak mengaku terkejut melihat makin berkembangnya jumlah pemeluk Islam di Amerika Latin.

“Dalam open house terakhir kita telah mendapatkan sedikitnya empat warga Amerika Latin memeluk Islam dalam sehari,” ujarnya. “Fakta menunjukkan, Islam mengangkat status wanita-wanita. Wanita-wanita Islam melihat itu bentuk pembebasan dari penderitaan dan beban dari masyakarat kepadanya.”

Ketika Perez memeluk Islam delapan tahun yang lalu, dia hanya salah satu dari sekian orang warga Latin penghuni masjid. Sekarang dia melihat lebih banyak.

“Ketika itu, hanya aku ibu ku, dan empat para teman ku dan mereka ibunya yang memeluk Islam,'' ujar Perez. “Dan sekarang ada banyak lebih lagi.”

Ada banyak alasan kenapa warga Amerika Latin memeluk Islam. Sebagain orang yang memeluk Islam karena menikah dengan orang Islam. Namun sebagaian karena pencarian ruhani. Namun kebanyakan, mereka menemukan Islam karena pencarian spiritual dan mendapatkan kedamaian karenanya.

“Kamu diajarkan untuk menghormati yang lebih tua. Diantaranya, ibu mu. Kamu dilarang menaikan suara mu ke ibu mu, " ujar Perez.


Mempertanyakan Gereja

Alexandra Briones adalah seorang penganut Katolik sejak lahir. Dia menghadiri gereja secara teratur dengan orang tua nya dan menerima komuni pertama nya. Tetapi ketika remaja, dia mulai banyak mempertanyakan doktrin Katolik yang dianutnya.

“Mengapa aku harus mengaku pada manusia lain yang statusnya adalah sama sepertiku?” tanyanya.

Alexandra kemudian mencari jawaban itu di dalam Islam. Dan dia mendapatkannya jawaban itu melalui Internet dan membaca al-Qur’an. Alexandra (30), berasal dari Ecuador. Menurutnya, Islam begitu terhormat menghargai wanita, katanya.

“Aku harus lebih dulu kelihatan baik hingga kemudian pria melihat dan menginginkanku,” ujarnya. “Tuhan tidak menciptakan aku untuk itu. Jika seorang laki-laki ingin denganku karena badan ku dan wajahku, itu bukan laki-laki yang aku inginkan.

“Itu semua memberikan kesadaran bagiku,'' ujar Alexandra .

Dan ketika Alexandra mengunjungi sebuah masjid untuk pertama kalinya, wanita ini mengaku menangis dan menemukan rasa damainya.

“Aku menangis,'' ujarnya. “Aku merasakan sangat nyaman untuk pertama kali.''

Alexandra kemudian memeluk Islam sebulan kemudian. Alexandra Briones kemudian menikah dengan teman dekatnya, Radoune. Dia kemudian menjadi istri yang taat dan bangga menyenangkan suami. “Aku belum pernah membuat perubahan yang sedramatis ini untuk menyenangkan orang lain. Aku lakukan itu untuk diriku sebab itu benar bagiku.''

Leslie Centeno (23) wanita keturunan Puerto Rica mengatakan, dia mengaku memutuskan keluar dari komunitasnya di geraja Pantekosta. Seorang teman, kata Leslie, mengundangnya untuk mengunjungi suatu masjid, dan mengajaknya membaca al-Qur’an . Ketika dia menceritakan kepada pastor dan pihak keluarga nya tentang perasaan barunya mengenai Islam, mereka bahkan mendukung nya untuk memeluk tinggal iman barunya itu.

Enam tahun yang lalu, dia memutuskan memeluk Islam. Ketiadaan perantara untuk langsung berhadapan dengan sang pencipta membuatnya harus merasa tertarik memeluk Islam dibanding agamanya yang dulu.

“Aku dapat secara langsung berhubungan dengan Tuhan,'' ujarnya. “Itu membunyikan sangat kebangkitan minat dan ketertarikan saya. Sangat berbeda dibanding apapun yang pernah aku dengar. Aku memikirkan nya berhari-hari sebelum kemudian aku membuat keputusan itu, " tambahnya.

Transisi Sulit

Menurut Jane I. Smith, professor Islamic Studies di Hartford Seminary Connecticut and dan pengarang “Islam in America” para pemeluk Islam ini biasanya menghadapi masa transisi yang sulit. Diantaranya adalah masalah keluarga.

“Itu memotong dua arah, antara ketaatan dan cultural.''

Bagi kalangan keluarga-keluarga Katolik Roma dan Protestan, ujar Smith, berita soal banyak warga Amerika Latin yang lebih tertarik dengan Islam ini datang sebagai pukulan.

Selain itu, menggembirakan, namun, perkembangan ini sedikit mencemaskan seiring isu dan fitnah-fitnah terhadap kaum muslimin di negara itu peristiwa 11 September.

“Peristiwa 11 September telah mengangkat kecurigaan orang Amerika termasuk warga Latin menyangkut Islam,'' ujar Bedier.

“Bagaimanapun, reaksi sikap anti-Muslim reaksi yang tak menyenangkan menyebabkan para muallat Islam merasa cemas menyangkut keselamatan mereka.''

Menurut Perez, dengan pakaian barunya menggunakan hijab, dan rambutnya yang dimasukkan rapi di balik jilbab, orang sering salah mengira dirinya adalah perempuan Timur Tengah sampai dia menunjukkan bahasa aslinya.

“Ketika orang non-muslim Hispanik mendengarkanku berbicara Spanyol, mereka kaget dan mengatakan, , “Oh my God, kamu bicara bahasa Spanyol?'

Dia menambahkan, “Ini benar-benar sebuah kesempatan untuk mendidik banyak orang dan menunjukkan pada mereka bahwa dapat menjadi seorang keturunan Hispanik sekaligus menjadi muslim.”

Dia berharap, agar putri kesayangannya, Anisah Miranda, yang sering ditimang dalam pelukannya, agar suatu hari memeluk agama itu.

Kini, dengan agama barunya itu, Perez tak merasa kehilangangan apapun. Terutama kebiasaan lamanya yang dianggap buruk.

"Aku tidak kehilangan kebiasaan pesta itu, klub, mabuk-mabukan, dan apapun menyangkut itu,'' katanya. “ Aku tidak membutuhkan berada di luar sana. Islam bukan sekedar agama, tapi Ia adalah suatu jalan hidup.''

Islam dan Latino

Biro Sensus mengatakan bahwa orang kulit “putih” termasuk “Latino putih, ” berlanjut sebagai segmen terbesar penduduk A.S. yaitu 197,3 juta. Tetapi proyeksi demografis mengindikasikan bahwa pada tahun 2005 kulit putih akan mewakili porsi yang serupa dengan penduduk keseluruhan yang sekarang adalah kaum “minoritas.”

Bertambah pentingnya komunitas Latino di Amerika Serikat tidak saja disadari oleh para politisi dan pejabat dinegara tersebut, tetapi juga oleh rekan mereka di Meksiko.

Biro Sensus AS melaporkan pada 14 Juni bahwa komunitas Latino—mereka yang lahir di Amerika Latin atau yang berdarah Amerika Latin—berjumlah 39,9 juta dari penduduk A.S. sebesar 290,8 juta orang. Ini berarti penduduk Latino tumbuh 13 persen dalam hubungan dengan angka dari 2000.

Menurut badan tersebut, orang Latino, dimana orang Meksiko adalah 65 persen, merupakan kelompok sosial dengan pertumbuhan penduduk terbesar di Amerika Serikat: 4,5 juta dalam 39 bulan terakhir.

Di Amerika Serikat saja misalnya, terdapat sekitar 400 bahasa Indian yang digunakan oleh kira-kira 500 suku dan sub-suku. Suku yang satu tidak memahami bahasa yang dipakai suku lainnya.

Mengenai percampuran dengan bangsa lain: di benua Amerika bagian tengah dan selatan yang lazim disebut Amerika Latin percampuran darah Indian dan kulit-putih, terutama Spanyol dan Portugis, sudah berlangsung ratusan tahun.

Keturunan campuran ini yang disebut mestis kini merupakan mayoritas penduduk negara-negara Amerika Tengah seperti Honduras, Nikaragua dan El Salvador. Di Amerika Selatan, negara-negara yang mayoritas penduduknya campuran Indian dan pendatang adalah: Venezuela, Colombia, Ecuador, Peru dan Bolivia

Islam mempunyai sejarah panjang di Spanyol. Banyak istilah-istilah serapan bahasa Spanyol yang berasal dari Islam. Seperti abuelo (kakek), arroz (beras) dan naranjas (jeruk), yang ditengarai berasal dari bahasa Arab.

Meski Islam selalu dicitrakan buruk di AS semenjak kasus 11 September 2001, namun hikmah pencitraan itu justru membuat banyak orang Amerika tertarik mengenal Islam. Menurut American Muslim Council, ada puluhan ribu Latino-Amerika yang memeluk Islam. Hingga Diperkirakan ada antara 20.000 hingga 60.000 Muslim keturunan Latino di AS yang kini menyebar di New York City, Chicago, Miami, Southern California, and Texas. Walhasil, Islam makin berkembang di Amerika meski penguasanya mencari cara untuk terus membenci. (tampa tribune/cha/Hidayatullah.com)

Torquato Cardelli Dubes Pertama Eropa Yang Masuk Islam

Tiga tahun yang lalu masyarakat talia, termasuk kalangan teras pemerintahan Roma, dikejutkan oleh pengurnurnan seorang staf kedubesnya di Riyadh, Arab Saudi. Bos mereka, yakni Dubes Torquato Cardelli, yang selama beberapa minggu sebelumnya memperlihatkan gelagat yang mencurigakan dalam kaitan kepercayaan agama, menyatakan diri sebagai seorang Muslim.

Ini merupakan yang pertama kali dilakukan seorang dubes negara Barat. Ada dua dubes negara Barat sebelumnya juga masuk Islam. Yakni, Harald Hofmaan, Dubes Jerman untuk Maroko, dan Osman Siddique, Dubes Amerika Serikat untuk Fiji-Nauru-Tonga-Tuvalu. Namun mereka ini masuk Islam sebelum menjabat dubes.

Dubes Torquato Cardelli masuk Islam tepatnya pada tanggal 15 Nopember 2001, sehari menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, atau tidak lama setelah mengikuti "Close reading of the Holy Qur'an" dan "Study of Islamic Culture". Demikian dikatakan Nouh bin Nasser, direktur The Batha Center, kepada kantor berita Perancis, AFP.

Ia datang ke Batha Centrer, instansi yang sudah lama menangani para calon mualaf. Di sana ia membaca dua kalimat syahadat dengan fasih karena memang sudah dikenalnya sejak lama.

Dalam 34 tahun karir politiknya, Cardelli yang fasih berbahasa Arab itu sudah ditugaskan sebagai diplomat untuk beberapa negara Timur Tengah, antara lain Sudan, Suriah, Irak, Libia, Tanzania, bahkan Albania, Ia menjadi Dubes untuk Arab Saudi berkedudukan di Riyadh sejak tahun 2000.

Cardelli, yang berusia 62 tahun, serta dikaruniai dua orang anak itu belum bersedia dimintai keterangan, kecuali ketika meninggalkan Riyadh ke Roma. Dalam pernyataannya, ia mengungkapkan kebahagiaannya setelah menjadi Muslim, Peralihan agama, katanya, ia putuskan dengan penuh keyakinan dan tanpa penekanan dari siapa pun. ia merasakan kesucian kandungan Al Quran.

Kabarnya di Roma, ia menjelaskan kepada perdana menteri, Silvio Berlusconi, mengapa ia memutuskan masuk Islam. Sebagian pihak di Italia mengharapkan keputusan sang dubes tidak sampai memberi angin kepada para teroris. Sementara pihak lainnya mengharapkan masyarakat Italia dapat menghargainya serta tidak mengaitkannya dengan tragedy WTC.

Yang menjadi sorotan bukan sekedar perpindahan keyakinan agama, tapi juga keputusannya yang berdekatan dengan peristiwa serangan 11 September 2001 di New York, sementara di Italia sendiri muncul rasa sentimen terhadap umat Islam. Maka wajarlah ada pihak yang menganggapnya masuk Islam karena pengaruh tragedi tersebut.

Sebulan sebelumnya pun di Milan ada sebuah gerakan anti-orang Islam, menggulung tikar masjid dan merusak beberapa perlengkapan lain yang biasa digunakan jamaah untuk kegiatan ibadah.

Mungkin di tiga negara yang jumlah Muslimnya signifikan seperti Jerman, Inggris, dan Perancis, figur publik yang masuk Islam semakin biasa. Tetapi Italia mempunyai nilai kesensitifan tersendiri, terlebih karena di sana terdapat negara Vatikan, pusat Katolik dunia, sehingga wajarlah bila sejumlah pendeta mengkhawatirkannya akan menjadi preseden buruk.

Dari 58 juta penduduknya sekarang, Italia mempunyai satu persen warganegara Muslim, sekitar 60 ribu orang di antaranya bermukim di Roma.

Peresmian Islamic Center tahun 1973 merupakan peritiwa penting bagi terciptanya dialog orang Italia dengan orang Islam, yang kemudian berlanjut dengan terbentuknya Islamic Council tahun 1999.

Tidak kurang empat ribu masjid sudah berdiri di sana, termasuk bangunan bekas gereja. Yang terbesar tentu saja Masjid Roma di mana azannya tidak asal bunyi, tetapi benar-benar rnengandung kesejukan, keindahan, dan kelembutan. Speaker pun diperhitungkan dengan cermat sehingga terhindar dari nada-nada sumbang. (Amanah online)

Yusuf Islam : Bagaimana saya memeluk Islam

Nama : Cat stevens. Setelah memeluk agama islam ia bernama YOUSEF ISLAM. Lahir di London, dijantung kota Inggris. Terlahir di zaman telah adanya tehnologi canggih dan di negara modern yg. terkenal di dunia. Dari lingkungan yg. demikian itu. saya tumbuh dan hidup. Pendidikan saya selesaikan di sekolah2 Katholik .

Saya memahami benar ajaran kehidupan dan ajaran agama kristen. Saya mengimani adanya Tuhan, Isa almasih. takdir, jalan yg. baik dan buruk. Gereja banyak mengajarkan dan menekankan pd. saya untuk percaya kpd. Allah, sedikit pd. Isa Almasih dan mengurangi sedikit dari kepercayaan pd. roh kudus .

Pd. waktu itu kehidupan di sekitar saya masyarakatnya berfikiran sempit dan picik . Mereka waktu itu banyak mengajarkan pd. generasi semasa saya bahwa kekayaan adalah suatu kehormatan dan hak yg. hakiki sedang kemiskinan adalah suatu kekalahan yg. total dan memalukan.

MENCIPTA FALSAFAH HIDUP SENDIRI

Kami mencontoh Amerika yang mana kami beranggapan bahwa Amerikalah suatu lambang kekayaan yg. nyata dan negara2 dunia ke 3 adalah sbg. Contoh dari kemiskinan, kesengsaraan, keterbelakangan, kebodohan dan kesesatan. Dikarnakan ini, saya mencari jalan untuk menjadi kaya agar dapat hidup bahagia.

Kemudian saya menciptakan falsafah hidup yaitu : Antara kehidupan tidak ada hubungannya dengan agama. Dan saya jalankan falsafah ini.


MULAI MENCARI JALAN HIDUP

Mulailah saya mencari jalan untuk hidup sukses. Dan ketika itu cara yg. paling murah adalah mempunyai gitar.

Kemudian saya membelinya dan mulailah menciptakan syair dan iramanya, melalui gitar. Melesatlah saya dari sekian penyanyi2 yg. ada. Ini saya lakukan tepat setelah saya bernama CAT STEVENS.

Saat itu umur saya 18 thn. Dan telah mencetak 8 album lagu . Mulailah saya melakukan show dan mengumpulkan banyak ketenaran dan kekayaan, hingga sampai pd. puncaknya. Saya yg. pd. waktu itu ada di puncak ketenaran dan kejayaan, sering melihat keadaan yg. dibawah, saya takut jatuh . Maksud saya takut kehilangan semua Sejak itu mulailah ada rasa tak tenang dan was-was dalam jiwa saya. Dan sejak itu pula mulainya saya menenggak minuman botolan setiap hari . Maksud saya minuman inilah yg. memberi semangat dalam karier dan hidup saya. Waktu itu saya merasa sepertinya semua org. memakai topeng . Mereka sudah pasti adalah orang2 munafik hingga bisa menjual untuk mendapatkan keuntungan agar tetap hidup.

Saya merasakan semua ini adalah sesuatu yg. merugikan dan kejam . Sejak saat itu mualai membenci kehidupan saya sendiri. Mulailah saya menjalani hidup menyendiri. Dan sejak itu jiwa saya terasa sakit tak terkendalikan dan benar-benar jiwa saya dalam keadaan sakit . Kemudian, saya dipindahkan kerumah sakit dan ternyata saya terdapat mengidap penyakit batuk TBC. Selama tinggal dirumah sakit, mereka telah banyak memberi kebaikan pd. saya dikarnakan banyak mengajarkan pd. saya menuju cara untuk berfikir secara positip.

Ketika itu ada datang perasaan beriman kepada Tuhan. Tetapi gereja tak mengajarkan secara jelas siapa Tuhan itu sebenarnya. Dan lumpuhlah fikiran saya untuk mengetahui siapa Tuhan dan apa itu Tuhan yg. pernah disebut-sebut digereja dulu.

Ketika itu pemikiran saya masih gelap . Mulailah berfikir untuk mengalihkan kehidupan ke suatu cara hidup baru. Waktu itu saya muali membaca kepercayaan dan Timur (kurang jelas apa maksudnya.pen). Dan waktu itu saya mencari ke dunia yg. nyata. Datanglah suatu perasan pd. saya suatu tujuan tetapi saya tak memahami apa tujuan yg. datang pd. saya saat itu. Secara tak saya sadari, saya duduk menyendiri dalam lamunan yg. panjang.

Mulailah berfikir untuk mencari kebahagiaan yg. tak pernah saya dapatkan dari kekayaan yg. saya dapatkan atau kejayaan dan kemashuran yg. pernah saya raih atau pula dalam kehidupan gereja .

MULAI MEMELUK AGAMA BUDHA

Mulailah saya memeluk agama Budha dan ajaran pemikiran cina. Belajar memahaminya dgn perkiraan saya kemungkinan kebahagiaan inilah yg. akan menunjukkan isyarat untuk kejadian pd. esok hari agar dapat menghindar dari suatu kerugian atau kehancuran atau kejahatan. Mulailah saya menjadi seorang yg. berserah kpd. keadaan dan mempercayai pd. bintang-bintang. Saya juga percaya para peramal. Tetapi semua ini ternyata omong kosong belaka.

MENJADI KOMUNIS

Pindah dan masuklah saya menjadi seorang yg. berfaham komunis. Logika saya menduga kebahagiaan akan terwujud jika kekayaan dibagi rata ke seluruh manusia di dunia ini. Tetapi saya merasakan faham komunisme ini tidak selaras dgn. Naluri kemanusiaan saya yaitu tidak adanya keadilan . Yang adil adalah yg. berhak atas sesuatu setelah ia mendapatkannya dari jerih payahnya. Bukannya setelah bersusah payah mendapatkan hasilnya kemudian larinya kpd. org. yg. tak bersusah payah, untuk mendapatkan itu.

Beberapa waktu kemudian saya berkeputusan bahwasanya tidak adanya ajaran atau kepercayaan sbg.jawaban yg. saya temukan dan yg. menjelaskan pd. saya sbg. Suatu kenyataan dimana saya selama ini dalam pencarian untuknya. Berputus asalah saya, sebab waktu itu saya belum mengetahui Islam.


KEMBALI MASUK GEREJA

Kemudian kembali pd. kepercayaan saya semula ke gereja. Dikarnakan semua ajaran itu adalah kosong belaka dan gereja masih lebih baik dari semua yg. pernah saya temukan selama dalam pencarian waktu itu.

Kembali lagi pd. dunia musik dan mulai dari bawah lagi, dgn. Menetapkan hati bahwasanya inilah agama saya dan tidak ada agama lain. Dan berusahalah saya dgn. Ikhlas hati pd. agama ini dgn. Berusaha untuk memperbaiki musik agar menjadi sesuatu yg. terbaik. Saya ambil satu keputusan dari ajaran gereja, yaitu : Jika ingin mencapai kedudukan spt. Tuhan maka berusahalah untuk ikhlas menyelesaikan suatu pekerjaan.

HADIAH AL QURAN ASAL MULA

Pd. thn. 1975 terjadinya keajaiban yaitu kakak saya yg. tertua memberi hadiah berupa Al-qur‘an. Dan hadiah itu hingga saya jalan-jalan ke Quds / Yerussalem (Palestin) tetap ada. Sejak dari sinilah saya mulai serius pd. Al-qur‘an pemberian dari kakak saya ini.

Saat itu saya tak memahami isi dan maksud dari Qur‘an tsb. Dari sinilah saya mulai mencari penterjemah untuk menterjemahkannya pd. saya dan menjelaskan apa maksud darinya. Sejak itu mula pertama kalinya saya berfikir ttg. Islam. Islam dalam pandangan org2 barat adalah faham rasialis dan muslimin adalah org. asing dari Turki dan Arab walaupun mereka adalah warga negara di Eropa. Orang tua saya asli dari Yunani. Orang Yunani sangatlah membenci orang Turki muslim. Seharusnya saya membenci agamanya org. Turki yg. sbg. Warisan dari turunan mereka, tetapi saya melihat dan memperhatikan pd. ayat2 dalam Al-qur‘an terjemahan tidak ada larangan untuk mengetahui isi dari Qur‘an itu sendiri.


KATA BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM YANG BERPENGARUH KEPADA JIWA

Lembaran pertama pd. Al-qur‘an ketika saya buka, tercantum jelas dgn nama Allah dgn lanjutannya adalah maha pengasih lagi maha penyayang. Kalimat ini sangatlah berpengaruh pd. jiwa saya . Setelah itu terbaca surat Alfatihah yg. artinya Pembukaan pd. al-kitab (Al-qur‘an), (Alhamdulillaahirrabbil‘alamin, yg. artinya semua bersykur pd. Allah saja, pencipta alam semesta dan Tuhan semua makhluk).

Pd. saat membaca kalimat ini, perasaan diri dan jiwa ini terasa amatlah kecil dan lemah dihadapan Allah SWT. Hal ini disebabkan dulu mereka mengajarkan bahwa Allah adalah satu dan terbagi menjadi tiga . Bagaimana terjadinya ? saya tak tahu ! Mereka juga mengatakan bahwa Allah kaum nasrani lain dgn. Allahnya kaum Yahudi.

Selebihnya Qur‘anul karim adalah ibadah kpd. Allah yg. Esa. Tuhan semesta alam. Dan Qur‘an menegaskan bahwa Allahlah yg. Tunggal Tuhan semesta alam . Juga menegaskan bahwa Allah sendirilah yg. menciptakan Alam semesta ini tanpa bantuan dari siapapun dan tanpa membagi kekuasaan-nya pd. siapapun . Hal ini adalah sesuatu yg. baru bagi saya.

Saya memahami (sebelum mengenal Al-qur‘an) bahwa disitu ada pemahaman / kecocokan,kekuatan/kemampuan dan keajaiban. Tetapi sekarang dgn. Pemahaman Islam bahwa Allah adalah maha Tunggal dan maha berkehendak dan maha berkuasa atas segalanya, bersamaan dgnnya adalah keimanan yaitu iman kpd Hari akhir dan kehidupan setelah hari akhir sbg. Tujuan hidup yg. utama dan kekal selama2nya .

Dan juga, manusia bukanlah terbentuk perbandingan besar dari daging yg. pd. suatu hari akan berganti menjadi debu, spt. Para ahli biologi mengatakannya. Tetapi yg. pasti adalah segala sesuatu pekerjaan yg. menentukan keadaan pd. kehidupan ini yg. pasti akan menentukan kehidupan di hari akhir .


AL QURAN YANG MENUNJUKKAN PADA ISLAM

Qur‘anul karim yg. menunjukkan saya pd. islam. Dan saya menyetujui petunjuknya. Semua bermula dari gereja yg. telah menghancurkan saya yaitu yg. mengaitkan saya pd. kesengsaraan dan kepedihan. Dari dialah yg. membawa saya kpd. Al-qur‘an . Disebabkan tidak adanya jawaban yg. saya dapatkan dari pertanyaan yg. timbul di jiwa sebelum ini .

Qur‘an adalah sesuatu yg. asing. Tidak sama dgn. Kitab-kitab yg. ada. Didalamnya tidak adanya pragraf atau alenia atau penjelasan spt. Yg. terdapat pd. kitab-kitab lainnya yg. ada. Pd. Qur‘an tidak tercantum nama pencatat atau penulisnya . Dari sini saya yakin dan percaya ini adalah wahyu Allah kpd. seorang rosul utusan-Nya


PERBEDAAN AL QURAN DENGAN INJIL

Disini terlihat juga perbedaan dgn. Injil , yg. berbeda-beda penulis danpencatat dan banyak perbedaan pula dalam kisah2. Saya telah berusaha mencari kesalahan pd. Qur‘an tetapi, disana tak saya temukan, walau berupa kesalahan kecil . Semua kalimat dan maksudnya tersusun rapi tidak ada yg. bertentangan satu sama lainnya dan bersamanya menyatakan bahwa Allahlah yg. maha Esa. Sejak itu mulailah saya memahami apa itu islam. Al-qur‘an bukan satu utusan saja, tetapi semua nabi2 yg. pernah diutus Allah ada didalamnya yg. dikasihi dan tinggi derajatnya di sisi-Nya. Tidak ada yg. dibedakan diantara mereka .

Ini adalah suatu pemahaman yg. masuk akal . Seandainya kamu mengimani pd satu nabi tanpa mengimani yg. lainnya sama artinya menghancurkan risalah/ ajaran/ pesan2 dari ajaran-Nya . Sejak ini saya memahami pertalian hidup dan kehidupan sejak adanya kehidupan didunia ini , yaitu dari adanya sejarah dunia bahwa manusia ada dua golongan yaitu golongan yg. beriman dan golongan yg. kafir.


AL QURAN MENJAWAB SEMUA PERTANYAAN

Qur‘an telah menjawab semua pertanyaan saya selama ini. Dari sini saya merasakan adanya kebahagiaan. Kebahagiaan ini datangnya setelah mendptkan kenyataan yg. hakiki.

Setelah membaca dan memahami secara lengkap dari Al-qur‘an selama 1 tahun . Mulailah saya mencari cara dari mana saya untuk memahami isi Qur‘an ini. Setelah itu, saya merasakan bahwa hanya saya sajalah seorang muslim di dunia ini.

Kemudian saya berfikir, bagaimana saya seharusnya menjadi seorang muslim yg. benar-benar muslim. Lalu saya pergi kemasjid di London dan berserah diri pd. Islam, dgn membaca kesaksian bahwa tidak Tuhan selain Allah dan Mhammad bahwasanya seorang hamba dan utusan Allah.

Sejak itu saya meyakini bahwa jalan yang saya pilih adalah ajaran yg. berat dan ini bukanlah kalimat yg. ringan sbg. tanggung jawabnya dan sbg. Jawaban darinya untuk menyelesaikan tugas sbg. Muslim. Sptnya saya baru terlahir kembali. Dan saya mengetahui jalan yg. saya tempuh sama spt. Saudara seiman lainnya.

Saya tak pernah bertemu dgn. Mereka. Dan jika saya bertemu dgn muslim lainnya yg. berusaha menunjukkan pd. saya ttg. Islam tak pernah saya hiraukan . Semua ini di sebabkan kebanyakan nafsu diri dari muslimin telah menguasai mereka. Dan pengaruh negatip dari pemberitaan dunia barat dan juga pengaruh negatip dari pemberitaan negara2 muslim yg. meng-kaburkan hakiki adanya ajaran islam, yg. mana mereka banyak mendukung pd. orang2 atau golongan atau gerakan yg. merendahkan islam.

Kesemuanya ini melumpuhkan kebaikan dari rakyat mereka yg. artinya berniat menghancurkan akhlak dan kehidupan kemanusiaan muslimin mereka sendiri .


MEMPELAJARI KEROSULAN MUHAMMAD SAW

Unsur utama islam yg. saya ambil dari Al-qur‘an, setelah itu saya mulai mempelajari ttg. Kerosulan Muhammad SAW. Yg. mana jalur dan sunnahnya mengajarkan muslimin yg. intinya dari unsur islam .

Sejak itu saya mengetahui jalur yg. maha berharga dalam kehidupan adalah rosullah SAW dan Sunnahnya. Tanpa saya sadari lupalah saya pd. musik. Suatu hari saya tanyakan pd. saudara saya (seiman). Apakah saya boleh melangsungkan kehidupan dalam musik ? Saudara saya itu menasehatkan untuk berhenti. Katanya,” Musik akan mengambil waktumu untuk berzikir kpd.Allah, dan ini adalah sesuatu yg. amat berbahaya bagimu .”

Saya melihat anak2 muda meninggalkan keluarga mereka dan hidup untuk musik dan lagu. Ini didalam islam sangat dilarang dan islam meyakinkan bahwa kekuatan ada pd. lelaki muslim. Sejak itu, semua harta kekayaan yg. saya miliki, saya serahkan untuk DAKWAH ISLAM. (R. Shahrir)

--------------------------------------------------------------------------------

How I Came To Islam - Yusuf Islam (Cat Stevens)

by Yusuf Islam (formerly Cat Stevens)
All I have to say is what you know already, to confirm what you already know of the message of the Prophet (sallallahu alaihi wa sallam) as given by God – the Religion of Truth. As human beings we are given a consciousness and a duty that has placed us at the top of creation. Man is created to be God's deputy on earth and it is important to realize the obligation to rid ourselves of all illusions and to make our lives a preparation for the next life. Anyone who misses this chance is not likely to be given another, to be brought back again, for it says in the Qur'an Majeed that when man is brought to account, he will say, "O Lord, send us back and give us another chance.' The Lord will say, 'If I send you back, you will do the same.'"

My early religious upbringing

I was brought up in the modern world of all the luxury and the highlight of show business. I was born into a Christian home.

We know that every child is born in his original nature, and it is only his parents that turn him to this religion or that. I was given this religion (Christianity) and thought this way. I was taught that God exists, but there was no direct contact with God, so we had to make contact with Him through Jesus, and Jesus was in fact the door to Good. This was more or less accepted by me, but I did not swallow it all.

I looked at some of the statues of Jesus; they were just stones with no life. When they said that God is three, I was puzzled even more but could not argue. I believed it, simply because I had to have respect for the faith of my parents.

Pop star

Gradually, I became alienated from this religious upbringing, and started making music. I wanted to be a big star. All those things I saw in the films and on the media took hold of me, and perhaps I thought this was my god: the goal of making money. I had an uncle who had a beautiful car, and I thought "Well, he has it made". He had a lot of money. The people around me influence me though think that this was it, this world was their God.

I decided then that this was the life for me, to make a lot of money, to have a 'great life'. My examples were the pop stars, and so I started making songs. But deep down, I had a feeling for humanity, a feeling that if I became rich, I would help the needy. (It says in the Qur'an that we make a promise, but when we make something, we want to hold on to it and become greedy)

So it happened that I became very famous, as a teenager, and my name and photo were splashed in all the media. They made me larger than life, so I wanted to live larger than life, and the only way to do that was to be intoxicated (with liquor and drugs).

In the hospital

After a year of financial success and 'high' living, I became very ill, contracted TB and had to be hospitalized. It was then that I started to think: what was to happen to me? Was I just a body and my goal in life was merely to satisfy this body? I realized now that this calamity was a blessing given to me by Allah, a chance to open my eyes, 'why am I here, why am I in bed', and I started looking for some of the answers. At that time there was great interest in great interest in the Eastern mysticism. I began reading and the first thing I began to become aware of was of death, and that the soul moves on, it does not stop. I felt I was taking the road to bliss and high accomplishment. I started meditating and even became a vegetarian. I now believed in 'peace and flower power', and this was the general trend. But what I did believe in particular was that I was not just a body, this awareness came to me at the hospital.

One day when I was walking and I was caught in the rain, I began running to the shelter and I realized, 'wait a minute, my body is getting wet, my body is telling me I am getting wet.' This made me think of a saying that the body is like a donkey and it has to be trained where it has to go, otherwise the donkey will lead you where it wants to go.

Then I realized I had a will, a God given gift: follow the will of God. I was fascinated by the new terminology I was learning in the Eastern religion. By now I was fed up with Christianity. I started making music again and this time.

I started reflecting my own thoughts. I remember the lyric of one of my songs. It goes like this: 'I wish I knew, I wish I knew what makes the Heaven, what makes the Hell, do I get to know You in my bed or some dusty cell while others reach the big hotel?' and I knew I was on the Path.

I also wrote another song 'The way to find God out.' I became even more famous in the world of music. I really had a difficult time because I was getting rich and famous and at the same time I was sincerely searching for the Truth. Then I came to a stage where I decided that Buddhism is alright and noble, but I was not ready to leave the world, I was too attached to the world and was not prepared to become a monk and to isolate myself from society.

I tried Zen and Ching, numerology, tarot cards and astrology. I tried to look back into the Bible, and could not find anything. At this time I did not know anything about Islam, and then, what I regarded as a miracle occurred. My brother had visited the mosque in Jerusalem, and was greatly impressed that while on the one hand it throbbed with life (unlike the churches and synagogues which were empty), on the other hand, an atmosphere of peace and tranquility prevailed.

The Qur'an

When he came to London he brought back a translation of the Qur'an, which he gave to me. He did not become a Muslim, but he felt something in this religion, and thought I might find something in it too.

And when I received the Book, (a guidance that would explain everything to me: who I was, what the purpose of life was, what reality was, and where I came from), I realized that this was the true religion – religion not in the sense the West understands it, not the type for only your old age. In the West, whoever wishes to embrace a religion and make it his only way of life is deemed a fanatic. I was not a fanatic, I was at first confused between the body and the soul. Then I realized that the body and soul are not apart and you don't have to go to the mountain to be religious; we must follow the will of God, then we can rise even higher than the angels. The first thing I wanted to do now was to be a Muslim.

I realized that everything belongs to God, that slumber does not overtake Him. He created everything. At this point I began to lose the pride in me, because hereto I had thought the reason I was here was because of my own greatness. But I realized that I did not create myself, and the whole purpose of my being here was to submit to the teaching that has been perfected by the religion we know as Al-Islam. At this point I started discovering my faith. I felt that I was a Muslim, on reading the Qur'an. I now realized that all the Prophets sent by God brought the same message. Why then were the Jews and Christians different? I know now how the Jews did not accept Jesus as the Messiah and that they had changed His Word. Even the Christians misunderstand God's Word and called Jesus the son of God. Everything made so much sense. This is the beauty of the Qur'an: it asks you to reflect and reason, and not to worship the sun or moon but the One who has created everything. The Qur'an asks man to reflect upon the sun and moon and God's creation in general. Do you realize how different the sun is from the moon? They are at varying distances from the earth, yet appear the same size to us; at times one seems to overlap the other.

Even when many astronauts go to space, they see the insignificant size of the earth and vastness of space, and they become very religious, because they have seen the Signs of Allah.

When I read the Qur'an further, it talked about prayer, kindness and charity. I was not a Muslim yet, but I felt that the only answer for me was the Qur'an, and God had sent it to me and I kept it a secret. But the Qur'an speaks on different levels. I began to understand it on another level, where the Qur'an says "Those who believe don't take disbelievers for friends and the believers are brothers." Thus at this point I wished to meet my Muslim brothers.

Conversion

Then I decided to journey to Jerusalem (as my brother had done). At Jerusalem, I went to the mosque and sat down. A man asked me what I wanted. I told him I was a Muslim. He asked what was my name; I told him 'Stevens'. He was confused. I then joined the prayer though not so successfully. Back in London, I met a sister called Nafisa. I told her I wanted to embrace Islam and she directed me to the New Regent Mosque. This was in 1977, about 1½ years after I received the Qur'an. Now I realized that I must get rid of my pride, get rid of Iblis and face one direction. So on a Friday, after Jummah I went to the Imam and declared my faith (the Kalima) at his hands. You have before you someone who had achieved fame and fortune. But guidance was something that eluded me, no matter how hard I tried, until I was shown the Qur'an. Now I realize I can get direct contact with God, unlike Christianity or any other religion. As one Hindu lady told me, 'You don't understand the Hindus, we believe in one God, we use these objects (idols) to merely concentrate.' What she was saying was that in order to reach God one has to create associates that are idols for the purpose. But Islam removes all these barriers, the only thing that moves the believers from the disbelievers is the Salat. This is the process of purification.

Finally I wish to say that everything I do is for the pleasure of Allah and pray that you gain some inspirations from my experiences. Furthermore I would like to stress that I did not come into contact with any Muslim before I embraced Islam. I read the Qur'an first and realized no person is perfect, Islam is perfect, and if we imitate the conduct of the Holy Prophet (peace and blessings of God be upon him), we will be successful. May Allah give us guidance to follow the path of the Ummah of Muhammad (peace and blessings be upon him). Ameen!

Fabienne Bahagia Menjadi Muslimah

 Ia memperoleh hidayah dari Allah di saat berjaya sebagai peragawati dan model kelas dunia di Perancis Fabienne! Itulah nama seorang , peragawati, sekaligus model, kelas dunia asal Perancis. Sejumlah majalah yang sering menjadi acuan kaum wanita Eropa pernah memuatnya, termasuk sebagai sampul dengan tubuh yang bisa membuat jakun lelaki naik turun di lehernya karena menelan liur.

Tetapi justru pada puncak kejayaan itulah. Fabienne memperoleh hidayah dari Allah, tepatnya ketika usianya mencapai 28 tahun. Ia tidak bisa menundanya, apalagi menampiknya, Karirnya dilepaskan tidak secara drastis.

Gejala perpindahan agama antara lain tampak ketika ia menuju Afghanistan sebagai sukarelawan. Maksudnya tenaga medis amatiran bagi korban perang.

Ia mengaku, kalau saja bukan rahmat dari Tuhan, entah bagaimana kehidupannya. Walaupun ia sering memperoleh sanjungan dari publik melalui berbagai entertainment, toh ia menganggap rendah atas hakikat dirinya. Malah dengan tegas ia menganggapnya lebih rendah ketimbang hewan-hewan di sekitarnya (mungkin maksudnya hewan piaraan). Untuk apa karir bila naluri dengan famili terdistorsi.

Sambungnya, ia atau umumnya peragawati dan model hidup dalam dunia gelap serta kotor. Hanya saja di antara mereka sepertinya tidak berani mengungkapkan kenyataan tersebut.

Saat bekerja sebagai sukarelawan, ia ketika diwawancarai wartawan sempat melihat kukunya. Ia tidak menyangka bahwa telapak tangan, kuku tajam dan kulit tangan yang sebelumnya dipelihara secara rutin kini dipakai untuk menangani korban perang di pegunungan.

Sebelumnya ia ke Beirut di Libanon untuk urusan show. Kota itu diporak-porandakan oleh tentara Israel, sementara penduduk sedang membangun rumah dan hotel.

Suatu kali dengan mata kepalanya sendiri Fabienne melihat rumah sakit anak-anak hancur di Beirut, Semakin sadarlah Fabienne akan kepopuleran dan kehidupan di mana di dalamnya banyak kepalsuan.

Ia tidak kembali ke hotel meskipun ia tahu bahwa teman-temannya seprofesi sedang menunggu untuk manggung. Ia malah menuju korban dengan segera. menolong bocah-bocah dari timpaan benda-benda keras.

Lalu menolong, mengangkat, serta merawatnya.

Terlepas dari itu memang Fabienne sejak kecil bermimpi menjadi tenaga medis professional. Di sinilah titik tolak perjalannya menuju cahaya Islam.

Selanjutnya Fabienne menuju Pakistan. Di perbatasan dengan Afghanistan inilah ia menjalani atau mendalami akan hidup hakiki, termasuk tentang bagaimana menjadi manusia dalam arti sebenarnya.

Selama tinggal di sana sekitar delapan bulan itu kegiatannya di samping menerima ilmu keislaman juga menolong dan merawat para korban perang. Meskipun bentuknya jauh 180 derajat dengan profesi Fabienne, ia sungguh-sungguh menyenanginya.

Di sana pun ia mempelajari bahasa Arab demi memperlancar pemahamannya akan kandungan Al Quran.

Minggu demi minggu telah dilewatinya. Perubahan atas dirinya pun sangat tampak. Khusus tentang karirnya sebagai peragawati dan model sudah jauh ditinggalkan, karena ia sudah merasa kehidupannya berdasarkan norma Islam.

Ia tidak lagi dikungkung oleh penyebaran gambar tubuh dirinya di tempat-tempat stategis seperti di berbagai lorong di Paris. Belum lagi macam-macam gosip maupun fitnah menimpa dirinya pada saat kejayaannya.

Sayangnya, berita yang dikutip tidak menjelaskan tentang kapan dan di mana Fabienne berikrar menjadi seorang Muslimah. Mernang adanya warga Perancis masuk Islam sudah menjadi berita rutin di media massa sana. Tetapi muslimnya Fabienne menjadi fenomena tersendiri. Ini berhubung karirnya sebagai peragawati dan model kelas dunia. (amanah online)

Theresia Delli Sujarmini : Hidayah Allah Dari Buku Islam

THERESIA DELLI SUJARMINI nama saya. Lahir di Gunung Kidul, 7 Mei 1981. Saya terlahir dari keluarga non-Islam yang fanatik. Karena orang tua saya, Bapak Herominus Samino dan Ibu Lusia Jumini, adalah aktifis agama yang saya anut waktu itu, sehingga orang tua saya pun mendidik saya secara fanatik pula.

Mengalami Kegoncangan Hati
Waktu saya kelas 1 SMU, saya sempat merasa ragu, bimbang dengan agama yang saya anut. Dan itu membuat saya jarang pergi ke tempat ibadah. Jarangnya saya ke tempat ibadah ini, membuat orang tua marah pada saya. Tapi anehnya, kemarahan orang tua tidak pernah saya pedulikan. Bahkan, hal tersebut membuat saya semakin malas beribadah. Sempat suatu waktu, saya kembali membaca Al Kitab dan mempelajarinya dengan sungguh-sungguh. Dengan alasan untuk lebih meyakinkan akan kebenaran agama yang saya anut.

Dan saya pun mulai aktif lagi ke tempat ibadah. Karena saya menganggap keraguan serta kebimbangan yang saya alami saat ini karena saya jauh dari Tuhan. Tapi, bukan ketenangan yang saya dapatkan. Justru keraguan dan kebimbangan itu semakin bertambah, dan itu membuat saya mengalami kegoncangan hati.

Mencari Kebenaran

Saya sangat suka membaca. Buku apapun sering saya baca. Dan untuk mengisi kegelisahan serta kegoncangan hati saya, saya sering pergi ke Shopping Centre hanya untuk membaca buku-buku. Shopping Centre adalah Pusat buku terlengkap di Yogyakarta. Dan secara tidak sengaja, tiba-tiba saya tertarik pada buku-buku agama Islam. Dan secara diam-diam, tanpa sepengetahuan orang tua, saya pun mulai mempelajari Islam lewat buku-buku yang saya beli di shopping Centre.

Di Shopping Centre, saya sering bertemu dengan Atin teman sekolah saya. Ia seorang muslimah yang taat.

Dan itu saya ketahui dari pakaiannya yang selalu menutupi kepala (Jilbab) dan seringnya saya melihat Atin Shalat. Ada sesuatu yang membuat saya tertarik dari gerakan-gerakan shalat Atin. Ya, gerakan-gerakan shalat Atin menunjukkan sebuah kepasrahan dan penyembahan yang sungguh-sungguh sari seorang makhluk kepada penciptanya.Atin kepada Tuhannya. Dari situ saya mulai giat lagi membaca tentang keislaman. Atas bantuan Atin pula saya bisa memahami sedikit demi sedikit tentang Islam. Dan Subhanallah, Buku-buku tentang Islam yang saya baca ternyata dapat menjawab semua persoalan yang saya hadapi dan dapat pula menenangkan kegelisahan serta kegoncangan hati saya.

Saya Yakin Islam Pilihan Terbaik

Buku-buku Islam yang saya baca, sangat mempengaruhi keadaan hati saya. Lalu timbullah keinginan saya untuk memeluk Islam. Dan hal itu saya utarakan pada Atin. Atin tidak langsung menyambut keinginan saya tersebut selain menyarankan saya untuk lebih banyak lagi membaca tentang Islam. Agar lebih yakin katanya.

Dan akhirnya Atin mengajak saya ke Perpustakaan Mabullir milik Bapak H. Dauzan Farouk di daerah Kauman.

Karena menurut Atin buku-buku tentang Islam sangat lengkap di Perpustakaan tersebut.

Kami berkenalan dengan Pak Dauzan pemilik perpustakaan tersebut. Dan Alhamdulillah pak Dauzan sangat antusias membantu saya. Dan Beliau pula yang sengaja menyediakan buku-buku tentang Islam untuk saya baca serta membimbing dan membina saya. Berkat pembinaan dan bimbingan serta buku-buku yang disediakan Pak Dauzan, alhamdulillah keyakinan saya untuk memeluk agama Islam pun semakin kuat. Dan pada tanggal 6 Agustus 2001, saya berikrar dengan mengucapkan dua kalimah syahadat di Masjid Gedhe Yogyakarta, yaitu

dihadapan Ketua Takmir Masjidnya, Drs. H. Marwazi NZ yang di saksikan oleh Pak Dauzan dan Pak Rahman Kusuma MA. Dan subhanallah, perasaan yang mengganjal selama ini pun sirna.

Orang Tua Mengetahui Keislaman Saya

Saya berusaha untuk menyembunyikan keislaman saya pada keluarga. Tapi akhirnya orang tua mengetahui juga. Dan mereka sangat marah dan kecewa pada saya. Sampai pada akhirnya, mereka tak mau mengakui saya lagi sebagai anaknya dan mengusir saya dari rumah.

Dengan berat hati, sayapun pergi dari rumah. Namun, Alhamdulillah Allah memberi kekuatan pada saya.

Kecintaan saya pada Islam, mengalahkan rasa cinta saya pada keluarga yang selama ini memanjakan saya.

Berat memang, tapi apa boleh buat, konsekuensi berat harus saya ambil.

Saya pun akhirnya menumpang di rumah nenek di Pati. Satu bulan saya di sana. Karena merasa tidak kerasan, saya pun pamit untuk pergi ke Lamongan ke tempat teman saya. Dan Alhamdulillah keluarga teman saya di Lamongan sangat baik pada saya. Mereka orang-orang yang taat pada Islam. Oleh karena itu mereka mengajari saya mengaji. Sehingga banyak hal yang saya dapatkan dari mereka.

Karena malu terlalu lama menumpang, akhirnya saya pamit untuk pulang ke Yogyakarta. Di Yogyakarta, saya ikut Pak Dauzan Farouk mengelola perpustakaan Mabulir. Subhanallah, pak Dauzan yang baik mengangkat saya sebagai anaknya.

Pak Dauzan yang baik, tidak pernah berhenti membantu saya. Beliau sering mengajak saya untuk mengikuti kajian tentang keislaman di berbagai Majelis Ta'lim. Saya kembali belajar mengaji kepada beliau. Dan alhamdulillah sedikit demi sedikit, saya sudah mulai bisa membaca Alquran. Semoga Allah membalas kebaikan Pak Dauzan. amieen.

sumber: Tabloid MQ EDISI 12/TH.2/April 2002

Rudy Mulyadi Foorste S.Th: Tertarik Islam justru saat sedang mengKristenkan seorang Muslim

Dua Kalimat Syahadat Membisik di Telingaku"
Sebagai seorang mantan pendeta Pantekosta, aku dulu sangat membenci Islam, hingga aku senantiasa berusaha merusak akidah umat nabi Muhammad SAW, melalui ekabaran Injil kepada umat yang beragama Islam khususnya. Sering aku mengatakan bahwa agama Islam adalah agama penyesat, dan sungguh tidak bisa dijadikan pedoman atau dasar iman bagi kehidupan manusia.

Pada suatu hari, aku harus membaptis satu keluarga muslim. Sebelumnya, aku sudah banyak memberikan bantuan materi untuk hidup mereka sehari-hari. Tentu saja bantuan itu tidak kuberikan secara cuma-cuma, tetapi dengan imbalan, keluarga ini harus masuk kristen.

Ketika aku bertanya kepada keluarga ini, apakah mereka sungguh menerima yesus sebagai Tuhan dan juruselamat? Mereka akhirnya mengangguk setuju, hingga seminggu kemudian, aku membaptis seluruh keluarga ini, dan menyuruh mereka membakar semua atribut yang berbau Islam. Saat itu mataku tiba-tiba tertuju pada satu tulisan kaligrafi AlQuran yang ditempel didinding. Aku bertanya pada si pemilik rumah yang hendak kubaptis, tulisan apa itu ?.

Ia menjawab kalau itu adalah tulisan dua kalimat syahadat, yang artinya "Tiada Tuhan Selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah".

Tiba-tiba dadaku terasa bergemuruh saat mendengar makna dari tulisan Arab itu. Niatku yang ingin merobek kertas itu mendadak lenyap. Dalam perjalanan kembali ke rumah, ada satu peristiwa yang sungguh di luar jangkauan manusia, karena saat itu kurasakan di telingaku berbisik sebutan dalam bahasa Indonesia "Tiada Tuhan Selain Allah, dan Muhammad utusan Allah".

Lama aku termenung memikirkan bisikan itu. Pikiranku tertuju pada kalimat "Tiada Tuhan Selain Allah". Kalimat itu dimulai dengan kata tidak, suatu makna yang menandakan penolakan terhadap Tuhan-tuhan lain selain Allah.

Sejak itulah, aku mulai tertarik pada Islam. Dan otomatis, ketertarikanku pada Islam sangat mempengaruhi aktivitasku sebagai pendeta.

Istriku yang juga penginjil, ternyata tanggap dengan perubahan yang terjadi dalam diriku, dan mempertanyakannya padaku. Kupikir, alangkah baiknya kalau kuceritakan saja mengenai kegelisahanku ini, dan mengajaknya berdoa bersama sebagai seorang pendeta. Namun anehnya, saat berdoa bersama itu konsentrasiku hilang, saat kalimat itu kembali terngiang ditelingaku.

Akhirnya, aku sadar kalau batinku menuntut untuk mencari kebenaran yang ada pada Islam, salah satunya dengan membeli buku-buku bacaan tentang Islam, yang berhasil kutemukan di daerah Senen, Jakarta.

Dari beberapa buku yang kupilih, ada satu buku yang menarik minatku, yaitu buku berjudul "Hidup Sesudah Mati" karangan almarhum Bey Arifin. Setiap buku yang kubaca, pasti didukung oleh referensi ayat-ayat AlQuran, yang sungguh kukagumi karena semuanya tidak bertentangan dengan fitrah manusia.

Sementara asyik dengan buku-buku mengenai Islam, kegiatanku berkhotbah di gereja tetap kujalani, meski otomatis jadi sedikit ngawur. Materi ceramahku tidak lagi bicara mengenai Yesus, melainkan lebih kepada hubungan antar manusia.

Selain itu, rapat-rapat kependetaan pun perlahan-lahan mulai kutinggalkan. Melihat semua ini, rekan-rekanku yang lain tentu saja mulai curiga, dan memanggilku dalam pertemuan khusus para pendeta. Singkat cerita, aku dipecat dari kedudukan sebagai seorang pendeta, dan resikonyaadalah meninggalkan kemewahan.

Di daerah Depok I, Jawa barat, tempatku menginap saat usia senja ini terdapat masjid yang letaknya persis di depan rumah.

Ketika kulihat masjid hanya penuh pada saat sholat Jumat, aku sempat jadi bimbang, apa bedanya dengan agama Kristen yang gerejanya penuh jamaat hanya pada hari Minggu. Namun setelah kukaji Al Quran, ternyata perintah sholat telah jelas diwajibkan, hanya saja manusianya saja yang senantiasa melalaikan kewajiban itu. Akupun tenang kembali.

Semula istriku tidak setuju dengan keinginanku menjadi seorang muslim. Bahkan ketika malam hari sebelum aku mengucapkan dua kalimat syahadat, kukatakan keinginanku padanya, ia malah menghardikku sebagai pengkhianat. Aku tak peduli. Bahkan aku cuma bisa berharap istri dankedua anak-anakku ikut jejakku masuk Islam.

Akhirnya pada tanggal 13 Februari 1994, di Beji, Depok, aku resmi menjadi muslim. Dan namaku pun berganti menjadi Rudi Mulyadi Foorste, yang semula bernama Rudy Rudolf Otto Foorste. (beliau keturunan Belanda, orang tuanya berasal dari Galela, Halmahera Utara - red).

Selang tiga bulan kemudian, istri dan kedua anakku pun mengikuti jejakku, masuk Islam. Ternyata Allah SWT kembali memberikan taufik dan hidayah kepadaku dengan berkumpulnya kami sekeluarga, dalam naungan Islam. Dan yang paling aku syukuri adalah kerelaan istri dan anak-anakku untuk hidup sederhana, jauh dari kemewahan seperti yang dulu pernah kami alami.

Islam telah memberiku jalan, kebenaran dan kehidupan yang sesungguhnya. Dan kebahagiaan seperti ini, tidak kuperoleh dari Yesus Kristus.

Karena hanya melalui agama Islam, aku dapat memperoleh keselamatan di dunia dan akhirat nanti. Kepada mereka yang pernah kubaptis, aku mohon dibukakan pintu maaf sedalam-dalamnya. Dan mari kembali pada Islam.

Sumber: ibokdenis@hotmail.com



Irawan Budi Cahyono : Mengapa Diriku Dibaptis?

“Mengapa sejak lahir diriku sudah dibaptis?” Kalimat tanya ini bagi seorang remaja yang bernama Irawan Budi Cahyono selalu menjadi kegelisahan dan ingin sekali mengetahui jawabannya. Sementara Maryati sebagai ibu yang melahirkannya tak pernah memberikan jawaban kepastian. Mengapa anak terakhirnya yang berusia 17 tahun itu dibaptis.

Allah SWT menciptakan manusia di muka bumi ini penuh dengan variasi kehidupan, baik itu kisah dan cerita. Kehidupan yang layak, tercukupi dan jauh dari penderitaan, semua manusia memimpikan harapan itu. Tak kecuali pada diri Budi nama panggilan dari Irawan Budi Cahyono, pria asal kelahiran Lumajang Jawa Timur.

Remaja ini bersama orang tuanya hidup selalu dalam perantauan dengan berpindah-pindah dari kota satu ke kota yang lain hanya sekedar untuk mempertahankan hidup.

Pada tahun 2000 mereka merantau ke Palembang, Sumatera Selatan. Tapi di Palembang tidak begitu lama, karena tidak cocok dengan kondisi peran­tauan dan akhirnya Suripto, ayah dari budi ini, ber­sama dengan keluarganya pindah lagi ke Lumajang.

Di Lumajang Suripto hanya berprofesi sebagai pengayuh becak, sedangkan istrinya sebagai ibu rumah tangga biasa. Keluarga Suripto dikaruniai 4 anak. Hanya Budi satu-satunya anak yang beragama Kristen sedangkan 2 anak yang lain beragama Islam. Entah mengapa Budi berbeda dengan saudara-saudaranya yang lain?

Menurut Budi, dahulu kedua orang tuanya beragama Islam. Tapi dia tidak tahu, apa penyebab kedua orang tuanya pindah ke agama Kristen Protestan.

Sejak kecil Budi sudah terbiasa dengan ajaran-ajaran Nasrani dan sering melakukan kebaktian di hari minggu. Rutinitas kegiatan tersebut dilakukannya hingga ia beranjak remaja.

Pada usia remaja, Budi tidak seriang dan ceria seperti remaja-remaja seusianya. Sebab dengan usia remaja tersebut, Budi sudah bekerja sebagai seorang pembantu rumah tangga pada seorang majikan beragama Katolik. Majikan itulah yang membiayai kehidupan dan menyekolahkan Budi di SMPK Santo Paulus Lumajang, sebuah sekolah menengah milik yayasan Katolik. Di sekolah tersebut Budi sering mendapatkan ajaran-ajaran agama Katolik. Pada saat kelas 3 SMP, majikannya menyuruhnya untuk memeluk agama Katolik. Akhirnya Budi juga masuk agama Katolik dan meninggalkan agama Kristen Protestan.

Memeluk agama Katolik, kata Budi, bukan merupakan pilihannya. Sebab semenjak ia masuk di sekolah menengah hati kecilnya selalu bertanya-tanya: “Tuhan itu satu. Kenapa dalam ajaran Kristen Tuhan itu tiga yang disebut Trinitas? Tuhan satu itu hanya pada ajaran Islam yaitu Allah.” Itulah yang selalu pertanyaan ganjil yang sering muncul pada kebenaran hati seorang remaja yang polos dan lugu ini. “Selain itu juga saya merenung, mengapa kalau orang Muslim selalu ingat Tuhannya dengan sering melakukan shalat 5 waktu. Sedangkan orang Kristen hanya hari minggu saja dengan kebaktian dan habis kebaktian terus tidur,” ungkapnya tertegun.

Pertanyaan dalam hatinya itulah yang selalu menyertai dirinya selama tiga tahun sekolah di SMPK Santo Paulus. Hingga akhirnya ada ilham yang memberikan kerinduan Budi untuk memeluk agama Islam. Tapi sebelum niat itu dilakukannya, pada suatu hari ia meminta ijin kepada ibundanya untuk memeluk agama Islam. Saat meminta ijin pada ibunya, orangtuanya itu tidak keberatan jika Budi memeluk agama Islam. “Ibu saya berpesan jika memeluk agama Islam harus bersunguh-sungguh dan rajin melakukan ibadah,” tuturnya.

Keseriusan memeluk agama Islam masih menjadi cita-citanya, kala ia telah lulus di SMPK Santo Paulus. Habis lulus ia nekad meninggalkan kampung halamannya dan berangkat ke Jakarta untuk bekerja. Di Jakarta, ia tinggal di Bekasi bersama dengan saudaranya. Di Jakarta Budi tidak meneruskan sekolah SMU karena tak ada biaya untuk itu, ia memilih bekerja daripada sekolah. Akhirnya ada sebuah konveksi tailor di Cilandak Jakarta-Selatan, menerimanya sebagai karyawan. Di tailor tersebut merupakan awal berjumpaannya dengan Redy Suwanto, aktivis pemuda Muhammadiyah.

Redy selalu memperhatikan Budi selama bekerja di tailornya, seperti pada saat waktunya shalat. Mengapa Budi tidak shalat? Pertanyaan Redy memang wajar, sebab Redy belum tahu kalau Budi non Muslim. Kemudian di dekatilah anak tersebut oleh Redy dan Budi memberikan keterangan pada Redy, bahwa ia bukan Muslim dan ia ingin masuk agama Islam. Mendengar peryataan Budi, tergugahlah hati Redy. Sebagai seorang aktivis Muslim merupakan kewajiban untuk menolong sesama umat manusia untuk mengarahkan jalan kebenaran dan jalan lurus yang diridhai oleh Allah SWT.

Akhirnya, Redy mengajak Budi ke Kantor MTDK-PP Muhammadiyah-Menteng untuk meneruskan niat Budi masuk agama Islam. Di kantor MTDK seperti biasanya mereka menemui pengasuh MTDK, Buya Risman Mucktar. Dalam kesempatan itu Buya Risman memberikan taushiah pada Budi, bahwa Allah telah memberikan rahmat-Nya berupa kebenaran kepada Budi untuk memilih Islam sebagai agamanya. “Saat Budi masuk Islam, maka Budi akan terlahir kembali seperti bayi yang baru lahir. Maka tidak usah cemas dengan dosa-dosa yang pernah Budi lakukan sebelum masuk Islam. Sebab Allah akan selalu memberikan pengampunan pada umatnya.” kata Buya Risman.

Selama memberikan taushiah, Buya mem­berikan syarat-syarat untuk masuk Islam di antaranya membaca kalimat Syahadat, dengan menyebut: Tiada Tuhan Selain Allah dan Muham­mad utusan Allah. Selain itu melaksanakan rukun-rukun yang ada pada Rukun Islam.

Tepat pada pukul 13.30 di masjid At-Taqwa Muhammadiyah setelah selesai menunaikan shalat Zuhur, Budi dengan dibantu oleh Buya Risman dan disaksikan oleh para jamaah dengan tulus ikhlas memeluk agama Islam dan Ia mengakui, Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah. Setelah itu para jamaah memberikan selamat kepada Budi yang telah masuk dalam kaum muslimin. “Selamat bergabung di jalan Allah, saudaraku,” ucap salah satu jamaah. Laporan: Agus Yuliawan (majalah Tabligh)



“Mama Keluar dari Islam Aku Malah Masuk Islam”

Sebuah Pengakuan ex. Aktivis Militan Gereja
Mimpi ternyata bukan sekedar kembang tidur. Melalui mimpi, Anna Marcelina, mantan aktivis gereja dapat memilih jalan hidupnya yang hakiki. Ia beralih ke Islam meski menghadapi ancaman yang tak ringan.

Di sebuah aula, tempat pembinaan muallaf, Anna Marcelina akhirnya bersedia diwawancarai Amanah, padahal sebelumnya ia sempat mengkhawatirkan keselamatan diri dan keluarganya dari ancaman orang yang tidak senang dengan perpindahan agamanya ke Islam. Maklum, Anna baru setahun menjadi seorang muallaf. Terlebih, ia dulunya sempat menjadi seorang aktivis gereja yang tergolong fanatik dan militan. Ia sudah mengkristenkan beberapa Muslim. Kini ia merasa berdosa, dan ingin menebus kesalahannya di masa lalu dengan jalan bertaubat kepada Allah yang Maha Pengasih. Berikut penuturan Anna di kediamannya di bilangan Kampung Bugis, Jakarta Utara

Saya anak kelima dari tujuh bersaudara, iahir daiam keluarga Kristen (Protestan) yang tergolong fanatik. Semula mama saya seorang Muslimah, tapi kemudian masuk Kristen karena desakan ekonomi. Mama lebih mengorbankan akidahnya ketimbang harus berpisah dengan ayah.

Yang saya ketahui tentang keluarga mama hingga saat ini, mereka masih mempertahankan agama Islam, hanya mama saja yang tergoda pindah agama menjadi Kristiani, mengikuti ayah.

Setelah ayah meninggal dunia, mama saya kurang menjalani agamanya yang baru sebagai Kristiani. Suatu ketika, saya menegur, kenapa mama tak pernah berdoa dan ikut kebaktian. Tapi teguran saya itu tak digubris oleh mama.

Seiring perjalanan waktu, saya menikah dengan seorang laki-laki Muslim. Sebagai istri, saya bertekad untuk tetap mempertahankan iman Kristiani saya. Dan suami saya pun tetap pada akidah Islamnya. Meski berbeda akidah, saya tetap menghormati suami, begitu pula suami saya tidak memaksa saya pindah agama. Saya tahu, daiam Islam, tidak ada paksaan dalam beragama. Bagiku agamaku bagimu agamamu. Prinsip itu diikuuti oleh suami saya.

Memang dulu, saya menikah dengan cara Islam. Tapi saya tidak menjadikan itu sebagai jalan untuk menjadi seorang Musilmah. Selama mengarungi rumah tangga yang baru seumur jagung, suami saya banyak membimbing saya dengan kesabaran dan kelembutan. Padahal, jujur saja, saya sempat 'berpikir untuk mengkristen dia, termasuk mengkristenkan saudara ibu saya. Tapi pikiran itu selaiu gagal untuk diwujudkan.

Sebelum menikah, saya adalah seorang aktivis gereja di Bandung. Boleh dibiiang, saya bukan sekadar penganut Kristen biasa. Saya tergolong seorang yang militan kata teman-teman di gereja saya punya kharisma. Entahlah. Yang jelas, saya sering mengajak dan menyampaikan kebenaran Kristen. Bahkan ketika saya masih kuliah, saya sempat mendirikan persekutuan doa dan kebaktian di kampus. Padahai sebelumnya tak pernah ada kegiatan kerohanian Kristen.

Lebih dari itu, saya bahkan pernah mengkristenkan dua orang Muslim, yang kebetulan dari golongan yang kurang educated. Tanpa melalui diskusi atau debat, cukup saya memberi pengertian tentang ajaran kaslh terhadap sesama. Dengan kata lain, saya menggunakan cara-cara yang halus dan lebih menggunakan pendekatan yang simpatik. Berbeda dengan lapisan masyarakat yang educated, mereka harus dihadapi melalui perdebatan lebih dulu. Alhasil saya dapat merangkul beberapa Muslim lainnya.

Dalam dakwah Kristen dikenal istilah “Jadilah penjala ikan." Ikan itu adalah manusia, dan kitalah yang menjalanya. Ketika, sudah menjadikan diri sebagai penjaia ikan, maka harus ada follow-upnya. Sebagai penjala ikan, saya belum sampai menggunakan uang atau materi untuk mengajak mereka yang Muslim. Saya hanya menggunakan pendekatan yang lebih persuasif.

Lagipula, saya bukanlah seorang missionaris. Saya hanya jadi pengikut saya. Artinya, saya memang beium menjadi seorang misionaris dalam pengertian sesungguhnya, yang menyampaikan ajaran Kasih Kristus ke penjuru dunia, mulai dari kota hingga daerah terpencil. Sejauh itu, saya hanya menyampaikan firman Allah, dan mengajarkan nyanyian puji-pujian saja.

Mimpi Mendengar La Ilaha Illallah

Asli, sejak saya Iahir, saya tidak pernah mengenal apalagi mencari tahu tentang Islam. Meskipun mama saya awalnya Muslimah, saya tak ingin menyentuh hal-hal yang berkaitan dengan Islam. Itu, mungkin, karena saya seorang Kristen fanatik.

Lalu, apa yang membuat saya ingin memeluk Islam? Kedengarannya sepele, Suatu malam saya bermimpi dikelilingi oleh ibu-ibu berbusana Muslim - mengenakan jilbab putih bersih dan menggenggam tasbih seraya melafazkan La Ilaha Illallah. Gemuruh suara itu membuat hati saya bergetar dan membuat saya terisak-isak. Saat terbangun, saya pun bertanya-tanya tentang takwil mimpi saya semalam, terutama kalimat La Ilaha Illallah. Setelah saya mencari tahu, ternyata saya baru memahami, bahwa kalimat tauhid itu bermakna Tiada Tuhan Selain Allah.

Entah kenapa. saya yang dikenal sebagai seorang Kristiani yang fanatik, merasa yakin bahwa mimpi itu bukan sembarang mimpi atau bukan sekadar kembang tidur. Anehnya, saya langsung percaya. Dalam hati kecil saya, ini seperti petunjuk dan jalan terang bagi saya.

Kalau ditanya, kenapa saya langsung percaya? Karena memang, saya selalu meyakini setiap mimpi sebagai firasat dan petunjuk dari Yang Kuasa. Boleh dibiiang, saya punya kelebihan untuk menjadikan mimpi saya sebagai petunjuk. Sebelumnya, pernah saya bermimpi adik saya sedang dirawat di sebuah rumah sakit di Jakarta. Anehnya, mimpi saya itu selalu menjadi kenyataan. Waktunya pun berlangsung cepat Maiamnya bermimpi, esoknya betul-betul terjadi. Bahkan jauh sebeiumya, saya pernah bermimpi saudara saya meninggal, esok harinya benar-benar terjadi. Umumnya, seseorang yang bermimpi sekitar pukul 2.00 pagi hingga menjelang Subuh, biasanya akan menjadi kenyataan. Karena pada saat itu, bukan sekedar mimpi tapi sebuah firasat yang sangat kuat.

Setelah mimpi yang pertama, kegelisahan saya semakin bertambah ketika saya mendengar adzan Subuh berkumandang. Saya merasakan keanehan. Setiap kail saya mendengar adzan Subuh, pasti saya terbangun dan tidur saya. Padahal, sebelumnya saya selalu bangun agak siang, saat matahari mulai meninggi.

Untuk-kedua kalinya, saya lagi-lagi bermimpi, seseorang berlutut (bersujud) dengan mengenakan sorban putih. Kemudian orang itu berdoa: "Semoga kamu meraih kebahagiaan di dunia yang sekarang dan kebahagiaan di akhirat kelak."

Setelah mimpi berturut-turut, saya tak kuat menyimpannya sendiri. Saya menceritakannya kepada suami saya. Suami saya agak surprise dan mendengarnya dengan penuh perhatian. Akhirnya, tahun 2004, saya memutuskan untuk masuk Islam. Saya diislamkan dr sebuah pulau terpencil di luar Jawa. Sejak saya menjadi Muslimah, saya berganti nama menjadi Siti Masitoh.

Saya teringat, ketika pertama kali shalat, hati saya terasa bergetar. Apalagi jika ayat-ayat Tuhan diperdengarkan, hati saya pun semakin bertambah bergetar. Masa transisi dari Kristen menuju Islam, saya rasakan ujian yang sangat berat Di samping berpisah dengan keluarga, silaturahim terputus, saya juga mendapat kesulitan ekonomi. Hingga suatu malam, saya memohon dan bermunajat kepada Allah, agar Allah memberi kemudahan dan menguatkan kesabaran saya. Alhasil, doa saya langsung dijawab Allah, betul-betul instan. Sebagai seorang guru, saya belum menerima gaji bulan. Padahal, uang saya ketika itu tinggal Rp. 15,000, sementara tanggal 30 masih jauh. Mengandalkan suami, tentu tidak mungkin, mengingat suami saya berprofesi sebagai wiraswasta kecil-kecilan.

Begitu saya shalat Tahajud dan bermunajat kepada Allah dengan penuh kesungguhan, tanpa diduga saya menerima telepon dari teman segereja saya dulu yang sedang berada di Arab Saudi untuk mentransfer uang sebesar Rp 1 juta. Saat itu, saya bertambah yakin, Allah sungguh Maha Hidup. Dia tahu kegelisahan dan penderitaan hambaNya. Padahai kawan saya itu belum tahu, bahwa saya sudah menjadi seorang Muslimah.

Pasrah pada Allah

Setahun berjalan menjadi Muslimah, saya sering mengenang dosa-dosa yang telah saya perbuat di masa lalu. Dalam kesendirian, di tengah malam yang sunyi, jiwa saya merintih, air mata ini tak mampu lagi saya bendung. Sedih, kalau saya ingat bahwa saya dulu bukan orang baik, apalagi sempat mengkristen beberapa orang Islam. Ingin sekali, saya menebus dosa-dosa saya, meski saya harus memulai hidup ini dari nol lagi. Apa pun yang terjadi, saya serahkan seluruh hidup saya kepada Allah. Saya hanya ingin mendapat ampunan dan ridhaNya.

Terakhir, saya ingat, saya sempat pamit pada ibu saya. Terus terang, hanya ibu yang tahu dengan keislaman saya. Sementara saudara-saudara saya yang lain belum mengetahui. Sejak saya menikah, hubungan saya dengan saudara-saudara yang lain terputus. Saya memang berusaha menyembunyikan keislaman saya. Saya khawatir dengan keselamatan diri saya dan keluarga saya. Karena saya tahu, keluarga dari pihak kakak-kakak saya adalah orang-orang keras. Mereka tidak segan-segan mendecerai saya, kalau tahu saya memeluk Islam. Tapi, bagi saya, kebenaran itu harus diungkapkan, jangan disembunyikan. Hanya Allah Ian, sebaik-baik Pelindung.

Banyak hal yang saya dapatkan setelah masuk Islam. Selain rasa ketenangan, saya juga menilai Islam adalah agama yang mengutamakan disiplin. Setiap saya bangun malam untuk shaiat Tahajud, saya merasa dekat dengan Tuhan. Terlebih, saat Subuh, saya selalu berjamaah dengan suami. Kemantapan iman saya semakin kokoh, ketika saya mengikuti workshop ESQ pimpinan Ary Ginanjar. Dengan pelatihan itu, iman saya seperti di-ces kembali. (amanahonline)

Dituturkan kembali oleh Adhes SS

Gary Miller : Sebuah kesaksian Mantan Pendeta dari Canada yang masuk Islam

Seorang ahli Mathematika yang menemukan Islam melalui metode Matematika Sederhana : Adalah suatu kehancuran karena mengatakan bahwa Tuhan dapat melakukan sesuatu yang bukan dari sifat ketuhanan (perlakuan yang merendahkan tuhan)
using the word 'Elohim' to fool yourselves into thinking Jesus was God

Gary Miller (Abdul Ahad Omar) membuktikan bagaimana dirinya menemukan kebenaran sejati hanya dengan "Kebenaran yang Standard". Dia mengilustrasikan metode sederhana dalam menemukan arah yang benar dalam mencari Kebenaran.

Beliau seorang ahli Mathematika. Tinggal di Toronto, Kanada. Sebelum memeluk islam, beliau adalah seorang yang bekerja pada sebuah gereja di Kanada. Seorang penyiar di radio dan televisi siaran di Kanada sebagai pencermah agama. Selain itu juga beliau adalah aktivis gereja dalam urusan pencarian kebenaran sesuai misinya sebagai pendeta. Belakangan beliau banyak menemukan Ketidak Konsistenan didalam injil. Semua pekerjaannya ini berhubungan langsung dengan Gereja.

Pada tahun 1978, beliau membaca Al-qur‘an. Dengan perasaan yang antusias dengan setengah tak meyakini bahwasanya isinya adalah dari percampuran antara kebenaran dan kepalsuan. Ternyata beliau menemukan banyak hal yang dicarinya tentang kebenaran itu, pesan pesan didalam Al Quran banyak persamaannya dengan inti kebenaran yang disaringnya dari Injil.

Akhirnya beliau menjadi Muslim dan sejak itulah beliau selalu aktif dalam banyak negara di setiap kesempatan yaitu memberikan penerangan tentang Islam pada masyarakat disana termasuk di media Radio dan Televisi. Beliau juga mengarang berbagai Artikel dan Buku mengenai Kebenaran Islam.

Dakwah islamnya kebanyakan dalam masalah penyelesaian, perdebatan dengan Non muslim (kristen) dan tanya jawab tentang. Islam di radio dan televisi, khususnya di Kanada. Dengan kalimat jelasnya, ia adalah seorang DA‘I.

Berikut ini adalah sebuah cuplikan dari beberapa pemikirannya TRUTH AND FALSE dalam sub judul pada bukunya yaitu : suatu pembuktian yang biasa saja.

Ketika seorang kristen menyatakan bahwa Tuhan akan “menolong orang untuk percaya” ia
mengargumentasikan hal ini dalam satu masalah kecil .

Tuduhannya adalah dasar dari pembuktiannya dan pembuktiannya adalah dasar pada tuduhannya.

Tanya jawab terjadi, sbb :
Kristen :” Saya mempunyai bukti.”
Muslim:” Tetapi disana ada pembukaan dalam argumentasi anda ?”
Kristen :” Tanya pada Tuhan untuk menolongmu agar percaya.”
Muslim: “ Apa yang. seharusnya saya lakukan?” ( tuduhan atas dasar dari pembuktian).
Kristen: “ Karena saya dapat melihat hal ini pada anda ”
Muslim: “ Tetapi hal ini bukanlah pembuktian untuk segala sesuatu. “ (pembuktian atas dasar pd. tuduhan).

Satu lagi saya kutipkan disini dari sub judul dari tulisannya yaitu penjabaran point.

“Pada Tuhan tiada sesuatu yg. mustahil.”

Disini ia berkesimpulan cara dari injil adalah cara yang mengambil dari sesuatu pemikiran bukan dari kalimat Tuhan (Yesus).

Hal ini seharusnya dan yang sebenarnya melawan kepercayaan kristen. Ini adalah suatu kehancuran karena mengatakan bahwa Tuhan dapat melakuakn sesuatu yang bukan dari sifat ketuhanan (perlakuan yang merendahkan). Dimana seharusnya argumentasi ini adalah hal yang menghancurkan.

Contoh:
Kristen : “ Sifat Tuhan adalah Trinity.”
Muslim: “ Bagaimana mungkin 1+1+1=1? “
Kristen : “Pada Tuhan tidak ada sesuatu yg. tak mungkin…”
Muslim : “Kalau begitu TRINITY adalah bukan sifat-Nya, bagaimana seharusnya Dia. Ini kemungkinan ada beberapa pilihan. Mungkin Ia adalah 3,5,9 atau banyak kemungkinan.”

Demikianlah uraian diatas menjelaskan, mengingat Dr. GR. Miller adalah seorang ahli Matematik yang merangkap juga seorang pendeta, beliau telah mengimplementasikan ilmunya untuk mencari kebenaran yang tidak pernah beliau temukan didalam Injil. Akhirnya Alhamdulillah, beliau telah dituntun Allah SWT menemukan kebenaran itu dalam Islam. Sekarang beliau menjadi DAI bersahabat dengan Dai Dai dunia lainnya seperti Ahmad Deedat, Yusuf Islam, Murod Hoffman dan Dai kondang lainnya menyampaikan Kebenaran dalam Islam.
Salah satu buku karya beliau adalah "The Amazing Qur'an"

Muhammad Reynold Hamdani, Gagal Meneruskan Cita-cita Oma Jadi Pendeta

Hidayah Islam ternyata tak kenal usia dan waktu. Jika Allah menghendaki, tak ada yang tak mungkin. Segalanya serba mungkin. Kendati masih belia, Reynold telah menemukan kebenaran Islam yang selama ini ia cari. Padahal, omanya sangat mengharapkan cucu kesayangannya itu mengikuti jejaknya menjadi pendeta. Tapi, Allah berkehendak lain. Usia muda memang tak menghalangi seseorang untuk mampu bersikap kritis. Adalah Reynold Hamdani, lelaki kelahiran 11 Mei 1981, sejak duduk di bangku SMR sudah rrtulai bertanya tentang Tuhan, Ia punya segudang pertanyaan tentang Tuhan sebenar-benar Tuhan. Tuhan yang dicari adalah Tuhan yang bisa diterima secara logika, bukan konsep Tuhan yang membuatnya bingung dan semakin gelisah.

Untuk menceritakan perjalanan rohaninya itu, Reynold bersedia untuk datang langsung ke redaksi Amanah untuk diwawancarai. Katanya, kampusnya tak jauh dari kantor Amanah. "Usai wawancara, saya bisa langsung meluncur ke kampus untuk kuliah," ujar Reynold saat membuka percakapan, Berikut penuturan Reynold kepada Amanah usai menunaikan shalat Ashar, beberapa waktu lalu;

Awal ketertarikan saya pada agama Islam, sebetulnya karena peran mama (Yetty Pangau) yang lebih dahulu memeluk Islam. Sebagai keturunan Tionghoa, keluarga saya adalah penganut Kristen Pantekosta yang taat, kecuali papa. Oma dan opa saya, misalnya, keduanya adalah seorang pendeta.

Saya sendiri, anak ketiga dari empat bersaudara. Dibanding saudara yang lain, boleh dibilang, saya anak yang paling dekat dengan oma (Theresia Pangau). Mengingat, sejak kecil, saya sering tinggal di rumah oma ketimbang mama-papa. Dekatnya rumah oma dengan gereja, membuat saya banyak menghabiskan waktu di lingkungan gereja. Dalam keseharian, Oma adalah orang yang paling berperan dalam mendidik iman Kristiani saya. Oma pula, yang melatih saya untuk berpikir kritis teniang segala hal. Di sekolah minggu misalnya, saya sudah bias memimpin, dan bercerita kepada anak-anak tentang Al Kitab.

Keinginan oma, kelak saya menjadipendeta, makanya oma terus mendorong saya agar masuk sekolah khusus pendeta di Surabaya, setelah lulus SD nanti. Didikan oma agar saya mampu berpikir kritis, akhirnya malah berbalik: mengkritisi dogma Kristen yang selama ini saya terima dari oma.

Bagaimana pun, oma adalah orang yang sangat saya sayangi. Begitu juga oma sangat menyayangi saya. Dari kedekatan emosional saya dengan oma, telah membuat saya shock, ketika mendengar kabar oma meninggal dunia (tahun 1992). Saat menyaksikan tubuh oma rebah tanpa nyawa, saya sempat tidak bisa berjaian karena shock yang saya rasakan saat itu. Dengan meningga/nya oma, saya merasa kehilangan seorang yang saya cintai, dan orang yang mencintai saya.

Namun, di balik meninggalnya oma, ternyata Tuhan punya rencana dan kehendak lain. Semu/a oma yang mengharapkan saya melanjutkan jej'aknya menjadi pendeta, akhirnya takpemah terwujud. Begitu oma meninggal, saya justru mempelajari Islam, bahkan memeluk Islam. Saya berpikir, kalau saja oma masih hidup, boleh jadi saya akan memantapkan keinginan oma menjadi pendeta. Juga boleh jadi oma sangat membenci saya, karena telah menanggalkan iman Kristiani saya.

Pada tahun yang sama, selang beberapa hari wafatnya oma, Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (BPPS), tempat saya melakukan kebaktian dan sekolah minggu di bilangan Tanjung Priok pun digusur. Sejak itu, praktis saya terpaksa tidak ke gereja lagi.

Benci Mama

Setelah wafatnya oma, Reynold tinggal bersama mama-papanya. Ketimbang papanya, ia lebih dekat dengan mamanya. Itulah sebabnya, Reynold banyak meiuangkan waktu bersama mamanya. Semula Reynold betul-betul tidak tahu, bahwa mamanya ternyata diam-diam telah memeluk Islam. Hebatnya, sang mama pandai menyembunyikan kerahasiannya memeluk Islam kepada keluarga dalam beberapa tahun. Suatu ketika, Reynold memergoki mamanya shalat di rumah tetangga. Begitu kepergok, Reynold mulai mencari tahu, ihwal sang mama tertarik dengan Islam. Berikut penuturan Reynold tentang mamanya:

Begitu saya memergoki mama sedang shalat di rumah tetangga, spontan saya bertanya pada mama. Kenapa mama masuk Islam? Lalu dijawab mama, "Mama mimpi berteriak Allahu Akbar. Mimpi itu bukan hanya datang sekali, tetapi beberapa kali. Mama pikir, mungkin ini sudah panggilan untuk memeluk Islam." Singkat cerita mama memutuskan menjadi Muslimah.

Mendengar pengakuan mama, saya betul-betul marah dan membenci mama. Bagaimana tidak marah, saya yang selama ini mendapat doktrin gereja tentang konsep ketuhanan Yesus, mama justru bertolak belakang dengan apa yang saya terima selama ini. Sebelum meninggalkan mama, tetangga saya yang Muslim menganjurkan saya untuk mempelajari Islam, katanya: Apa benar Yesus itu Tuhan. Bukankah Yesus itu manusia biasa. Karena itu, terla/u tinggi kalau Yesus dijadikan Tuhan.

Sekalipun saya marah dan pergi meninggalkan mama begitu saja, tapi marahnya saya, tetap menyimpan banyak. pertanyaan. Berbekal sikap kritis yang diajarkan oma, saya mulai mengkritisi ajaran Kristiani. Sesampai di rumah, dalam keadaan gelisah, saya banyak bertanya dalam hati. "Kenapa mama masuk islam?Ada apa dengan Islam?"

Ke Toko Buku Islam

Saat saya renungkan soal korssep ketuhanan, secara tak sadar saya melontarkan pertanyaan nakal yang tak seharusnya saya lontarkan kepada diri saya sendiri. Dalam hati kecil, saya berkata: secara logika, saat Yesus disalib, dihina, diludahi, sebetulnya di mana sebenamya letak ketuhanan Yesus? Seharusnya, Tuhan tidak layak diperlakukan seperti itu.

Untuk mencari jawaban dari pertanyaan yang saya lontarkan sendiri, diam-diam saya masuk ke toko buku Islam di Sarinah, Jakarta dengan hati dag dig dug. Saat itu, saya can buku yang berhubungan dengan pertanyaan saya tentang konsep Tuhan. Secara kebetulan, saya menemukan buku berjudul "Bibel dalam Timbangan". Dan tepat, saya menemui jawaban dari pertanyaan saya seiama ini. Begitu saya beli buku tersebut, lantas saya baca isinya sampai habis. Selain itu, saya juga membuka tafsir Al Our'an dan Al Kitab untuk saya pelajari dan bandingkan.

Yang pasti, mama tidak tahu, saya sedang mempelajari Islam diam-diam. Adapun, tujuan saya mempelajari Islam awalnya adalah agar saya bisa menyerang balik mama tentang Islam, agama baru yang mama anut. Tegasnya, saya ingin mengcounter mama. Tapi belum saya mengcounter, iman Kristiani saya justru malah goyah. Terlebih, ketika saya membuka ayat Al Qur'an tentang keesaan Tuhan. Dari situ, entah kenapa, saya seperti diyakinkan, bahwa Tuhan itu Esa. Sedangkan Yesus itu hanyalah seorang perantara atau messenger (utusan) yang menghantarkan manusia menuju Tuhan.

Secara logika, saya juga berpikir, Tuhan itu tidak ada perantara. Yesus hanyalah utusan saja yang mengajak kita mengenal Tuhan. Saya menyadari, ternyata dalam Islam, menjelaskan konsep ketuhanan itu lebih gampang ketimbang Kristiani. Maka, dalam kurun waktu setahun, saya betul-betul mempeiajari Islam, dan mencari hakikat Tuhan yang sejati.

Sebelum masuk Islam, mama mengajak saya ke Yayasan Islam Haji Kariem Oei, sebuah komunitas untuk Tionghoa Muslim, di bilangan Sawah Besar, Jakarta. Setiap minggu, mama memang selalu ke sana. Anehnya saya menurut saja. Di Yayasan Karim Oei itulah, saya berkenalan dengan banyak keiuarga Tionghoa Muslim.

Saya akui, dalam pandangan Tionghoa non-Muslim, Islam adalah agama yang rendah, terbelakang, dan menakutkan. Padahal, sebetulnya, bukan Islamnya yang rendah, tapi umatnya yang merendahkan diri. Di Karim Oei, ada upaya untuk menjembatani antara pribumi dengan keturunan Tionghoa soal terjadinya misinformasi. Di Yayasan inilah, disampaikan syiar di kalangan Cina non-Muslim, tentang ajaran Islam yang indah, sejuk, dan bermartabat.

Kenapa ke Karim Oei? Karena, biasanya kaum Tionghoa akan merasa nyaman bila berada di lingkungan dan budaya yang sama, yakni dengan sesama keturunan Tionghoa. Saya sendiri merasa nyambung dalam berkomunikasi, dan seperti di rumah sendiri.

Ketika dibentuk wadah untuk remaja Islam bernama Hirko (Himpunan Remaja Islam Karim Oei) tahun 1995, saya terlibat di daiamnya. Padahal waktu itu saya belum masuk Islam, tapi lucunya saya malah ikut-ikutan. Akhirnya tahun 1996 saya memutuskan untuk masuk Islam. Sebelum mengucapkan dua kalimat syahadat di rumah Hartono, mantan KASAD dengan dibimbing oleh Imam Besar Al Aznar (tepat bulan Ramadhan), saya lebih dulu memberi tahu mama. Kata saya, "Ma, saya mau masuk Islam." Ah betul nih? tanya mama. "Betul! Sudah setahun saya mempelajari Islam, Ma," jawab saya.

Tahun pertama saya masuk islam, mulanya baik-baik saja, tapi setelah itu, teman dekat saya mulai menjauh. Lebih menyakitkan lagi, saya didiamkan oleh teman-teman saya satu kelas, termasuk guru saya. Saat itu saya masih cuek saja. Tapi, lama-lama saya mulai merasa tidak betah. Meski begitu, saya tetap meneruskan sekolah, hingga tamat.

Sejak awal mama masuk Islam, tidak ada keluarga papa dan mama pun yang tahu. Apalagi saya. Suatu ketika, mama tampil di salah satu stasiun televisi swasta sebagai narasumber untuk diwawancara tentang keislamannya. Kebetuian saja, tetangga saya ada yang menonoton tayangan itu. Akhimya tersebarlah kabar mama masuk Islam hingga semua orang tahu, tak terkecuali, saudara papa dan saudara mama. Tapi keluarga papa lebih menghormati ketimbang keluarga mama. Sebab, sampai saat ini, saudara mama, betul-betul telah putus hubungan, karena mereka menjaga jarak dengan kami.

Setelah Reynold memeluk Islam, ia memilih nasyid sebagai jalur dakwahnya. Di Tim Nasyid "Lampion", Reynold, berdakwah melalui pendekatan budaya. Menurut Reynold, jalur budaya sangat efektif untuk berdakwah. "Di Kristen saja, ada paduan suara, ada drama tentang pengorbanan Yesus. Pola ini, terbukti bisa diterima oleh banyak orang, Sebagai Muslim, saya berharap, Islam kian berkembang. Dalam dakwah pun, kita harus memperkenalkan Islam lebih indah, sejuk dan damai. Dengan demikian, Islam tidak dinilai dalam kacamata personal atau pribadi semata. Kerena itu, kita harus merubah pola pikir di kalangan non Muslim, Islam adalah agama rendah, buruk dan terbelakang. Terpenting, tantangan dakwah di kalangan Tionghoa non-Muslim adalah dengan memberi keteladanan dan akhlak yang baik," tandas Reynold yang kini kuliah di Universitas Islam Jakarta. (amanahonline)

Abigael Mitaart : Aku Yakin Yesus Kristus Bukan Allah

Nama saya Abigael Mitaart, lahir di Pulau Bacan, Maluku Utara, 30 Maret 1949, dari pasangan Efraim Mitaart dan Yohana Diadon. Latar belakang agama keluarga kami adalah Kristen Protestan. Ketika beragama Kristen Protestan, saya sama sekali tidak pernah membayangkan untuk memilih agama Islam sebagai iman kepercayaan saya. Hal ini dapat dilihat dari situasi keluarga kami yang sangat teguh pendiriannya pada keimanan Kristus.

Bagi saya, saat itu tidak mudah untuk hidup rukun berdampingan bersama umat Islam, karena sejak masa kanak-kanak telah ditanamkan oleh keluarga agar menganggap setiap orang Islam sebagai musuh yang wajib diperangi. Bahkan kalau perlu, seorang bayi Kristen diberikan pelajaran bagaimana caranya membuang ludah ke wajah seorang muslim. Hal ini mereka lakukan sebagai perwujudan dari rasa kebencian kepada umat Islam. Disanalah, saya tumbuh dalam lingkungan keluarga Kristen yang sangat tidak bersahabat dengan warga muslim.

Tentu saya tidak pernah absen pergi ke gereja setiap hari Minggu. Bahkan, saya berperan dalam setiap Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR). Misalnya, saya selalu diminta tampil di berbagai kelompok paduan suara untuk pelayanan lagu-lagu rohani di gereja. Selain itu, saya kerap mengikuti kegiatan “Aksi Natal” yang diselenggarakan oleh gereja dalam rangka pelebaran sayap tugas-tugas misionaris (kristenisasi).

TERTARIK PADA ISLAM

Ihwal ketertarikan saya pada agama Islam berawal dari rasa kekecewaan kepada ajaran-ajaran Kristen dan isi Alkitab yang hanya berisikan slogan-slogan. Bahkan, menurut saya, apabila para pendeta menyampaikan khotbah diatas mimbar, mereka lebih terkesan seperti seorang penjual obat murahan. Ibarat kata pepatah, ” tong kosong nyaring bunyinya.”

Sekalipun saya sudah menekuni pasal demi pasal, ayat demi ayat dalam Alkitab, tetapi tetap saja saya sulit memahami maksud yang terkandung mengenai isi Alkitab. Misalnya, tertulis pada Markus 15:34, “Dan pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: "Eloi, Eloi, lama sabakhtani?", yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”

Lalu, siapakah Yesus Kristus sesungguhnya? Bukankah ia adalah paribadi (zat) Allah yang menjelma sebagai manusia? Lalu, mengapa ia (Yesus) berseru dengan suara nyaring dan mengatakan, ”Eli, Eli,..lama sabakhtani? “ (Tuhanku,..Tuhanku,.. mengapa Engkau tinggalkan aku?)

Akhirnya saya yakin bahwa Yesus Kristus bukanlah Tuhan. Walaupun sebelumnya iman kepada Yesus Kristus sangat berarti dalam kehidupan saya. Apalagi, ketika itu didukung dengan ayat-ayat dalam Alkitab, seperti tertulis,”Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia (Yesus Kristus). Sebab dibawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita diselamatkan.” Kisah Para Rasul 4:12

Kemudian dilanjutkan lagi dengan Yohanes 14:6, ”Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapak, kalau tidak melalui Aku (Yesus).”

Setelah membaca ayat ini, kemudian saya mencoba membanding-bandingkan dengan satu ayat yang tertulis dalam QS. 3:19, ”Sesungguhnya agama (yang diridhai) pada sisi Allah ialah Islam.”

Entah mengapa, saya merasakan pikiran saya beru-bah, mungkin ini suatu keajaiban yang luar biasa terjadi dalam diri saya, karena selesai membaca ayat al-Qur’an tersebut, saya mulai merasa yakin bahwa ayat yang tertulis dalam QS. 3:19 itu bukanlah ‘ayat rekayasa’ dari Nabi Muhammad, tetapi ayat tersebut sesungguhnya adalah firman Allah yang hidup dan kehadiran agama Islam langsung mendapat ridha dari Allah SWT.

Betapa sulitnya seorang Kristen seperti saya bisa memeluk agama Islam, tetapi saya yakin dengan keputusan untuk masuk agama Islam, karena saya berkesimpulan apabila seorang beragama Kristen kemudian memilih agama Islam, selain karena mendapat hidayah, ia juga termasuk umat pilihan Allah SWT. Alhamdulillah, singkat cerita pada tanggal 22 Desember 1973, disebuah pulau terpencil bernama Pulau Moti di wilayah Makian, Maluku Utara dengan disaksikan warga muslim setempat, saya mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat. Tanpa terasa air mata kemenangan berlinang, sehingga suasana menjadi hening sejenak, keharuan amat terasa saat peristiwa bersejarah dalam hidup saya itu berlangsung. Usai mengucap dua kalimat syahadat, nama saya segera saya ganti menjadi Chadidjah Mitaart Zachawerus.

Keputusan saya untuk memilih Islam harus saya bayar dengan terusirnya saya dari lingkungan rumah, pengusiran ini tidak menggoyahkan iman dan Islam saya, karena saya yakin akan kasih sayang Allah SWT, senantiasa tetap memelihara saya dalam lindungan-Nya.

“Jika Allah menolong kamu, maka tak ada orang yang dapat mengalahkan kamu. Jika Allah tidak menolong kamu, maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu selain dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin berserah diri.” QS. 3:160

Alhamdulillah, pada bulan Juni 1996, saya bersama suami, Sulaiman Zachawerus, menunaikan rukun Islam kelima, pergi haji ke Baitullah. ( al-islahonline.com )

Stefanus R Sumangkir : Surat Imamat 11 ayat 7 mengantarku pada Hidayah Islam

Sudah sekitar tiga tahun terakhir, Stefanus R Sumangkir, bergerak membangun kelompok yang menjadi ajang berkumpulnya para mualaf (orang yang baru masuk Islam), di Tegal, Jawa Tengah. Kelompok ini disebut sebagai Paguyuban Mualaf Kallama. Kini anggotanya sudah mencapai 19 orang. Kelompok itu berusaha untuk mandiri dengan berupaya semampunya. Dana untuk organisasi didapat dari iuran anggota dan sumbangan dermawan. ''Paguyuban ini untuk ajang komunikasi dan juga wahana mendalami Islam,'' ujar Sumangkir.

Jalan yang ditempuh Sumangkir untuk bisa membangun komunitas mualaf ini cukup berliku. Mulanya, Sumangkir yang kini berusia 56 tahun itu adalah seorang penginjil. Ajaran Kristen memang telah melekat pada keluarga Sumangkir sejak dia masih kecil. Pada 1986-1987, Sumangkir dikirim untuk menuntut ilmu di sekolah teologi di Malang, Jawa Timur. Ilmu-ilmu yang diperlukan untuk jadi penginjil pun diserapnya. Hingga 1988, Sumangkir dipercaya Gereja Maranatha Slawi untuk membimbing jemaat.

Dia sempat dikirim ke Desa Karanggedang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, untuk misi pengkristenan. Di desa yang mayoritas penduduknya eks-tapol Pulau Buru itu, Sumangkir rajin mendekati warga agar masuk Kristen. Dengan semangat tinggi, Sumangkir bisa meluluhkan sebagian hati warga sehingga ada yang memeluk Kristen. Di Karanggedang ini, Sumangkir mengaku pertama kali mendapat hidayah dari Tuhan. ''Saat saya menemui seorang yang akan kami Kristenkan, orang itu bertanya kepada saya tentang Tuhan yang katanya satu tetapi mencipta dua hukum. Contohnya tentang babi, di mana Kristen menghalalkan dan Islam mengharamkan. Atas pertanyaan itu saya kebingungan,'' ujarnya mengenang.

Sejak itu dia mencoba membuka-buka Injil yang menjadi pedoman bagi agama Kristen. Ternyata Surat Imamat 11 ayat 7 menyebutkan babi haram karena memiliki dua kuku yang terbelah. Namun para pendeta Kristen, saat mengajar di gereja-gereja tak menyatakan babi haram bagi umat Kristen. Beberapa tahun berlalu. Sumangkir mendapat tugas mengajar di Gereja Maranata dan GPPS Budimulya di Slawi, Kabupaten Tegal. Di situ Sumangkir berceramah di hadapan jemaat tentang babi yang diharamkan. Ternyata ceramah itu menjadi tidak berkenan bagi majelis gereja yang langsung menskorsnya. Nama Stepanus Sumangkir dihapus dari daftar penceramah tanpa alasan.

Saat itu Sumangkir tidak langsung berganti agama, namun tetap saja pada pendirian sebagai penginjil. Secara mandiri dia aktif mencari sasaran di tengah masyarakat yang miskin. Kehidupan sebagai penginjil cukup menopang ekonominya pada waktu itu. Dua anaknya, Euneke Alfa Lidia (16 tahun) dan Critoper Pitagoras (13 tahun) bisa sekolah dan hidup layak. Di tengah kegalauan jiwanya tentang keyakinan dalam beragama, Sumangkir mendapat hidayah yang kedua. Kali ini lewat tayangan televisi Indosiar yang memutar film Ramadhan berjudul Jamaludin Al Afghani. Film tentang tokoh Islam itu mengetuk hati keluarga Sumangkir untuk memeluk Islam. Dari sinilah ghirah Islamnya terus tumbuh, sampai akhirnya dia membangun Paguyuban Mualaf Kallama.

Mulanya, kelompok ini menggelar pengajian rutin setiap malam Senin, bertempat di rumah Sumangkir di Jalan Murbei No 16, Kelurahan Kraton, Kecamatan Tegal Barat, Kota Tegal. Mereka biasanya memanggil ustadz untuk menambah ilmunya. Anggota paguyuban mualaf yang dipimpin Sumangkir terkadang harus lapang dada diperlakukan tidak adil. Perlakuan seperti ini, misalnya, pernah dialami Gunawan yang bekerja di sebuah toko emas di Kota Tegal. Sejak lama Gunawan menjadi penganut Katolik yang taat, namun akhirnya dia memilih masuk Islam. Saat masih memeluk Katolik, lingkungan tempatnya bekerja terbilang kondusif. Namun, begitu Gunawan ketahuan setiap Jumat pamit ke masjid untuk shalat Jumat, pemilik toko menjadi kurang berkenan. Akhirnya Gunawan dipecat.

Karena kebutuhan ekonomi, akhirnya para mualaf yang semula aktif mengikuti kegiatan pengajian menjadi berkurang. ''Ya saya maklum, mereka harus bisa menghidupi keluarga. Sehingga, mereka memilih keluar kota mencari pekerjaan,'' tutur Sumangkir. Sumangkir sendiri menggantungkan hidupnya sebagai penceramah dibantu istrinya, Siti Fatimah, juga mualaf, yang tiap hari berjualan nasi gudeg. Karena faktor kesibukan itu, aktivitas Paguyuban Mualaf Kallama tak lagi rutin. Namun, Sumangkir tetap ingin menjalankannya. Kini sedang dirintis agar paguyuban itu bisa menjadi ajang usaha bersama.

Beberapa anggota yang memiliki keahlian akan dirangkulnya. Sumangkir yang piawai dalam membuat papan reklame dan sablon, akan merintis usaha dalam bidang tersebut. Cuma, katanya, kini belum punya modal. Untuk membangun usaha reklame memang diperlukan peralatan seperti kompresor, dan peralatan sablon yang harganya cukup mahal. Bersama anggotanya, dia akan terus berupaya agar ada penghasilan yang bisa menghidupi keluarganya dan Paguyuban Mualaf Kallama. (RioL)

Ahmad Dzulkiffi Mandey (d/h Abraham David Mandey) : Pendeta TNI AD yang mendapat Hidayah Allah

Saya begitu tertarik dengan konsepsi ketuhanan Islam yang disebut "tauhid". Konsep itu begitu sederhana, lugas, dan tuntas dalam menjelaskan eksistensi Tuhan yang oleh orang Islam disebut Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Sehingga, orang yang paling awam sekalipun akan mampu mencemanya. Berbeda dengan konsepsi ketuhanan Kristen yang disebut Trinitas. Konsepsi ini begitu rumit, sehingga diperlukan argumentasi ilmiah untuk memahaminya.

Barangkali tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa perjalanan hidupnya merupakan suatu kasus yang langka dan unik. Betapa tidak, Abraham David Mandey yang selama 12 tahun mengabdi di gereja sebagai "Pelayan Firman Tuhan ", istilah lain untuk sebutan pendeta, telah memilih Islam sebagai "jalan hidup" akhir dengan segala risiko dan konsekuensinya. Di samping itu, ia yang juga pernah menjadi perwira TNI-AD dengan pangkat mayor, harus mengikhlaskan diri melepas jabatan, dan memulai karir dari bawah lagi sebagai kepala keamanan di sebuah perusahaan swasta di Jakarta. - Cerita Beliau ini, - mohon maaf - tidak bermaksud untuk menjelek-jelekan Institusi tertentu karena apa yang telah terjadi Beliau terima dengan ikhlas dan tawakal, Beliau hanya ingin menceritakan proses bagaimana Beliau mendapat hidayah dan tantangannya sebagai mualaf - red.

Saya terlahir dengan nama Abraham David di Manado, 12 Februari 1942. Sedangkan, Mandey adalah nama fam (keluarga) kami sebagai orang Minahasa, Sulawesi Utara. Saya anak bungsu dan tiga bersaudara yang seluruhnya laki-laki. Keluarga kami termasuk keluarga terpandang, baik di lingkungan masyarakat maupun gereja. Maklum, ayah saya yang biasa kami panggil papi, adalah seorang pejabat Direktorat Agraria yang merangkap sebagai Bupati Sulawesi pada awal revolusi kemerdekaan Republik Indonesia yang berkedudukan di Makasar. Sedangkan, ibu yang biasa kami panggil mami, adalah seorang guru SMA di lingkungan sekolah milik gereja Minahasa.

Sejak kecil saya kagum dengan pahlawan-pahlawan Perang Salib seperti Richard Lion Heart yang legendaris. Saya juga kagum kepada Jenderal Napoleon Bonaparte yang gagah perwira. Semua cerita tentang kepahlawanan, begitu membekas dalam batin saya sehingga saya sering berkhayal menjadi seorang tentara yang bertempur dengan gagah berani di medan laga.

Singkatnya, saya berangkat ke Jakarta dan mendaftar ke Mabes ABRI. Tanpa menemui banyak kesulitan, saya dinyatakan lulus tes. Setelah itu, saya resmi mengikuti pendidikan dan tinggal di asrama. Tidak banyak yang dapat saya ceritakan dari pendidikan militer yang saya ikuti selama 2 tahun itu, kecuali bahwa disiplin ABRI dengan doktrin "Sapta Marga"-nya telah menempa jiwa saya sebagai perwira remaja yang tangguh, berdisiplin, dan siap melaksanakan tugas negara yang dibebankan kepada saya.

Meskipun dipersiapkan sebagai perwira pada bagian pembinaan mental, tetapi dalam beberapa operasi tempur saya selalu dilibatkan. Pada saat-saat operasi pembersihan G-30S/PKI di Jakarta, saya ikut bergabung dalam komando yang dipimpin Kol. Sarwo Edhie Wibowo (almarhum).

Setelah situasinegara pulih yang ditandai dengan lahirnya Orde Baru tahun 1966, oleh kesatuan saya ditugaskan belajar ke STT (Sekolah Tinggi Teologi) milik gereja Katolik yang terletak di Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat. Di STI ini, selama 5 tahun (1966-1972) saya belajar, mendalami, mengkaji, dan diskusi tentang berbagai hal yang diperlukan sebagai seorang pendeta. Di samping belajar sejarah dan filsafat agama Kristen. STT juga memberikan kajian tentang sejarah dan filsafat agama-agama di dunia, termasuk studi tentang Islam.

Menjadi Pendeta.

Sambil tetap aktif d TNI-AD, oleh Gereja Protestan Indonesia saya ditugaskan menjadi Pendeta II di Gereja P***** (edited) di Jakarta Pusat, bertetangga dengan Masjid Sunda Kelapa. Di gereja inilah, selama kurang lebih 12 tahun (1972-1984) saya memimpin sekitar 8000 jemaat yang hampir 80 persen adalah kaum intelektual atau masyarakat elit.

Di Gereja P***** (edited) ini, saya tumpahkan seluruh pengabdian untuk pelayanan firman Tuhan. Tugas saya sebagai Pendeta II, selama memberikan khutbah, menyantuni jemaat yang perlu bantuan atau mendapat musibah, juga menikahkan pasangan muda-mudi yang akan berumah tangga.

Kendati sebagai pendeta, saya juga anggota ABRI yang harus selalu siap ditugaskan di mana saja di wilayah Nusantara. Sebagai perwira ABRI saya sering bertugas ke seluruh pelosok tanah air Bahkan, ke luar negeri dalam rangka tugas belajar dari markas, seperti mengikuti kursus staf Royal Netherland Armed Forces di Negeri Belanda. Kemudian, pada tahun 1969 saya ditugaskan untuk mengikuti Orientasi Pendidikan Negara-negara Berkembang yang disponsoni oleh UNESCO di Paris, Prancis.

Dilema Rumah Tangga

Kesibukkan saya sebagai anggota ABRI ditambah tugas tugas gereja, membuat saya sibuk luar biasa. Sebagai pendeta, saya lebih banyak memberikan perhatian kepada jemaat. Sementara,kepentingan pribadi dan keluarga nyaris tergeser. Istri saya, yang putri mantan Duta Besar RI di salah satu negara Eropa, sering mengeluh dan menuntut agar saya memberikan perhatian yang lebih banyak buat rumah tangga.

Tetapi yang namanya wanita, umumnya lebih banyak berbicara atas dasar perasaan. Karena melihat kesibukan saya yang tidak juga berkurang, ia bahkan meminta agar saya mengundurkan diri dan tugas-tugas gereja, dengan alasan supaya lebih banyak waktu untuk keluarga. Tenth saja saya tidak dapat menerima usulannya itu. Sebagai seorang "Pelayan Firman Tuhan" saya telah bersumpah bahwa kepentingan umat di atas segalanya.

Problem keluarga yang terjadi sekitar tahun 1980 ini kian memanas, sehingga bak api dalam sekam. Kehidupan rumah tangga saya, tidak lagi harmonis. Masalah-masalah yang kecil dan sepele dapat memicu pertengkaran. Tidak ada lagi kedamaian di rumah. Saya sangat mengkhawatirkan Angelique, putri saya satu-satunya. Saya khawatir perkembangan jiwanya akan terganggu dengan masalah yang ditimbulkan kedua orang tuanya. Oleh karenanya, saya bertekad harus merangkul anak saya itu agar ia mau mengerti dengan posisi ayahnya sebagai pendeta yang bertugas melayani umat. Syukur, ia mau mengerti. Hanya Angeliquelah satu-satunya orang di rumah yang menyambut hangat setiap kepulangan saya.

Dalam kesunyian malam saat bebas dan tugas-tugas gereja, saya sering merenungkan kehidupan ramah tangga saya sendiri. Saya sering berpikir, buat apa saya menjadi pendeta kalau tidak mampu memberikan kedamaian dan kebahagiaan buat rumah tangganya sendiri. Saya sering memberikan khutbah pada setiap kebaktian dan menekankan hendaknya setiap umat Kristen mampu memberikan kasih kepada sesama umat manusia. Lalu, bagaimana dengan saya?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu semakin membuat batin saya resah. Saya mencoba untuk memperbaiki keadaan. Tetapi, semuanya sudah terlambat. Istri saya bahkan terang terangan tidak mendukung tugas-tugas saya sebagai pendeta. Saya benar-benar dilecehkan. Saya sudah sampil pada kesimpulan bahwa antara kami berdua sudah tidak sejalan lagi.

Lalu, untuk apa mempertahankan rumah tangga yang sudah tidak saling sejalan? Ketika niat saya untuk "melepas" istri, saya sampaikan kepada sahabat-sahabat dekat saya sesama pendeta, mereka umumnya menyarankan agar saya bertindak lebih bijak. Mereka mengingatkan saya, bagaimana mungkin seorang pendeta yang sering menikahkan seseorang, tetapi ia sendiri justru menceraikan istrinya? Bagaimana dengan citra pendeta di mata umat? Begitu mereka mengingatkan.

Apa yang mereka katakan semuanya benar. Tetapi, saya sudah tidak mampu lagi mempertahankan bahtera rumah tangga. Bagi saya yang terpenting saat itu bukan lagi persoalan menjaga citra pendeta. Tetapi, bagaimana agar batin saya dapat damai. Singkatnya, dengan berat hati saya terpaksa menceraikan istri saya. Dan, Angelique, putri saya satu-satunya memilih ikut bersama saya.

Mencari Kedamaian

Setelah kejadian itu, saya menjadi lebih banyak melakukan introspeksi. Saya menjadi lebih banyak membaca literatur tentang filsafat dan agama. Termasuk kajian tentang filsafat Islam, menjadi bahan yang paling saya sukai. Juga mengkaji pemikiran beberapa tokoh Islam yang banyak dilansir media massa.

Salah satunya tentang komentar K.H. E.Z. Muttaqin (almarhum) terhadap krisis perang saudara di Timur Tengah, seperti di Yerusalem dan Libanon. Waktu itu (tahun 1983), K.H.E.Z. Muttaqin mempertanyakan dalam khutbah Idul Fitrinya, mengapa Timur Tengah selalu menjadi ajang mesiu dan amarah, padahal di tempat itu diturunkan para nabi yang membawa agama wahyu dengan pesan kedamaian?

Saya begitu tersentuh dengan ungkapan puitis kiai dan Jawa Barat itu. Sehingga, dalam salah satu khutbah saya di gereja, khutbah Idul Fitni K.H. E.Z. Muttaqin itu saya sampaikan kepada para jemaat kebaktian. Saya merasakan ada kekagetan di mata para jemaat. Saya maklum mereka terkejut karena baru pertama kali mereka mendengar khutbah dari seorang pendeta dengan menggunakan referensi seorang kiai Tetapi, bagi saya itu penting, karena pesan perdamaian yang disampaikan beliau amat manusiawi dan universal.

Sejak khutbah yang kontroversial itu, saya banyak mendapat sorotan. Secara selentingan saya pemah mendengar "Pendeta Mandey telah miring." Maksudnya, saya dinilai telah memihak kepada salah satu pihak. Tetapi, saya tidak peduli karena yang saya sampaikan adalah nilai-nilai kebenaran.

Kekaguman saya pada konsep perdamaian Islam yank diangkat oleh KH. E.Z. Muttaqin, semakin menarik saya lebih kuat untuk mendalami konsepsi-konsepsi Islam lainnya. Saya ibarat membuka pintu, lalu masuk ke dalamnya, dan setelah masuk, saya ingin masuk lagi ke pintu yang lebih dalam. Begitulah perumpamaannya. Saya semakin "terseret" untuk mendalami, konsepsi Islam tentang ketuhanan dan peribadahan

Saya begitu tertarik dengan konsepsi ketuhanan Islam yang disebut "tauhid". Konsep itu begitu sederhana, lugas, dan tuntas dalam menjelaskan eksistensi Tuhan yang oleh orang Islam disebut Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Sehingga, orang yang paling awam sekalipun akan mampu mencemanya. Berbeda dengan konsepsi ketuhanan Kristen yang disebut Trinitas. Konsepsi ini begitu rumit, sehingga diperlukan argumentasi ilmiah untuk memahaminya.

Akan halnya konsepsi peribadatan Islam yang disebut syariat, saya melihatnya begitu teratur dan sistematis. Saya berpikir seandainya sistemper ibadatan yang seperti ini benar benar diterapkan, maka dunia yang sedang kacau ini akan mampu di selamatkan.

Pada tahun 1982 itulah saya benar-benar mencoba mendekati Islam. Selama satu setengah tahun saya melakukar konsultasi dengan K.H. Kosim Nurzeha yang juga aktif di Bintal (Pembinaan Mental) TNI-AD. Saya memang tidak ingin gegabah dan tergesa-gesa, karena di samping saya seorang pendeta, saya juga seorang perwira Bintal Kristen dilingkungan TNI-AD. Saya sudah dapat menduga apa yang akan terjadi seandainya saya masuk Islam.

Tetapi, suara batin saya yang sedang mencari kebenaran dan kedamaian tidak dapat diajak berlama-lama dalam kebimbangan. Batin saya mendesak kuat agar saya segera meraih kebenaran yang sudah saya temukan itu.

Oh, ya, di samping Pak Kosim Nurzeha, saya juga sering berkonsultasi dengan kolega saya di TNI-AD. Yaitu, Dra. Nasikhah M., seorang perwira Kowad (Korps.Wanita Angkatan Darat) yang bertugas pada BAIS (Badan Intelijen dan Strategi) ABRI.

Ia seorang muslimah lulusan UGM (Universilas Gajah Mada) Yogyakarta, jurusan filsafat. Kepadanya saya sering berkonsultasi tentang masalah-masalah pribadi dan keluarga. Ia sering memberi saya buku-buku bacaan tentang pembinaan pribadi dan keluarga dalam Islam. Saya seperti menemukan pegangan dalam kegundahan sebagai duda yang gagal dalam membina rumah tangganya.

Akhirnya, saya semakin yakin akan hikmah dibalik drama rumah tangga saya. Saya yakin bahwa dengari jalan itu, Tuhan ingin membimbing saya ke jalan yang lurus dan benar. Saya bertekad, apa pun yang terjadi saya tidak akan melepas kebenaran yang telah saya raih ini.

Akhimya, dengan kepasrahan yang total kepada Tuhan, pada tanggal 4 Mei 1984 saya mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat dengan bimbingan Bapak K.H. Kosim Nurzeha dan saksi Drs. Farouq Nasution di Masjid Istiqlal. Allahu Akbar. Hari itu adalah hari yang amat bersejarah dalam hidup saya. Hari saat saya menemukan diri saya yang sejati.

Menghadapi Teror

Berita tentang keislaman saya ternyata amat mengejutkan kalangan gereja, termasuk di tempat kerja saya di TNI-AD. Wajar, karena saya adalah Kepala Bintal (Pembinaan Mental)Kristen TNI-AD dan di gereja, saya adalah pentolan.

Sejak itu saya mulai memasuki pengalaman baru, yaitu menghadapi teror dan berbagai pihak. Telepon yang bernada ancaman terus berdening. Bahkan, ada sekelompok pemuda gereja di Tanjung Priok yang bertekad menghabisi nyawa saya, karena dianggapnya telah murtad dan mempermalukan gereja.

Akan halnya saya, di samping menghadapi teror, juga menghadapi persoalan yang menyangkut tugas saya di TNI AD. DGI (Dewan Gereja Indonesia), bahkan menginim surat ke Bintal TNT-AD, meminta agar saya dipecat dan kedinasan dijajaran ABRl dan agar saya mempertanggung jawabkan perbuatan saya itu di hadapan majelis gereja.

Saya tidak perlu menjelaskan secara detail bagaimana proses selanjutnya, karena itu menyangkut rahasia Mabes ABRI. Yang jelas setelah itu, saya menerima surat ucapan terima kasih atas tugas-tugas saya kepada negara, sekaligus pembebas tugasan dan jabatan saya di jajaran TNT-AD dengan pangkat akhir Mayor.

Tidak ada yang dapat saya ucapkan, kecuali tawakal dan ménerima dengan ikhlas semua yang tenjadi pada diri saya. Saya yakin ini ujian iman.

Saya yang terlahir dengan nama Abraham David Mandey, setelah muslim menjadi Ahmad Dzulkiffi Mandey, mengalami ujian hidup yang cukup berat. Alhamdulillah, berkat kegigihan saya, akhirnya saya diterima bekerja di sebuab perusahaan swasta. Sedikit demi sedikit kanin saya terus menanjak. Setelah itu, beberapa kali saya pindah kerja dan menempati posisi yang cukup penting. Saya pernah menjadi Manajer Divisi Utama FT Putera Dharma. Pernah menjadi Personel/General Affairs Manager Hotel Horison, tahun 1986-1989, Dan, sejak tahun 1990 sampai sekarang saya bekerja di sebuah bank ternama di Jakarta sebagai Safety & Security Coordinator.

Kini, keadaan saya sudah relatif baik, dan saya sudah meraih semua kebahagiaan yang selama sekian tahun saya rindukan. Saya sudah tidak lagi sendiri, sebab Dra. Nasikhah M, perwira Kowad itu, kini menjadi pendamping saya yang setia, insya Allah selama hayat masih di kandung badan.

Saya menikahinya tahun 1986. Dan, dan perikahan itu telah lahir seorarig gadis kedil yang manis dan lucu, namariya Achnasya. Sementara, Angelique, putri saya dari istri pertama, sampai hari ini tetap ikut bersama saya, meskipun ia masih tetap sebagai penganut Protestan yang taat.

Kebahagiaan saya semakin bertambah lengkap, tatkala saya mendapat kesempatan menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci bersama istri tercinta pada tahun 1989.