Tampilkan postingan dengan label Maha Warga Bhujangga Waisnawa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Maha Warga Bhujangga Waisnawa. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Juni 2014

Jejak Wangsa Bhujangga Waisnawa

Jejak Panjang Wangsa Bhujangga Waisnawa di Bali

Jejak Panjang Wangsa Bhujangga Waisnawa di Bali

Sekte Waisnawa dan Tri Sadaka
Menurut Dr. Goris, sekte-sekte yang pernah ada di Bali setelah abad IX meliputi Siwa Sidhanta, Brahmana, Resi, Sora, Pasupata, Ganapatya, Bhairawa, Waisnawa, dan Sogatha (Goris, 1974: 10-12).
Di antara sekte-sekte tersebut, yang paling besar pengaruhnya di Bali sekte Siwa Sidhanta. Ajaran Siwa Sidhanta termuat dalam lontar Bhuanakosa.
Sekte Siwa memiliki cabang yang banyak. Antara lain Pasupata, Kalamukha, Bhairawa, Linggayat, dan Siwa Sidhanta yang paling besar pengikutnya. Kata Sidhanta berarti inti atau kesimpulan. Jadi Siwa Sidhanta berarti kesimpulan atau inti dari ajaran Siwaisme. Siwa Sidhanta ini megutamakan pemujaan ke hadapan Tri Purusha, yaitu Parama Siwa, Sada Siwa dan Siwa. Brahma, Wisnu dan dewa-dewa lainnya tetap dipuja sesuai dengan tempat dan fungsinya, karena semua dewa-dewa itu tidak lain dari manifestasi Siwa sesuai fungsinya yang berbeda-beda. Siwa Sidhanta mula-mula berkembang di India Tengah (Madyapradesh), yang kemudian disebarkan ke India Selatan dipimpin oleh Maharesi Agastya.
Sekte Pasupata juga merupakan sekte pemuja Siwa. Bedanya dengan Siwa Sidhanta tampak jelas dalam cara pemujaannya. Cara pemujaan sekte Pasupata dengan menggunakan Lingga sebagai simbol tempat turunnya/berstananya Dewa Siwa. Jadi penyembahan Lingga sebagai lambang Siwa merupakan ciri khas sekte Pasupata. Perkembangan sekte Pasupata di Bali adalah dengan adanya pemujaan Lingga. Di beberapa tempat terutama pada pura yang tergolong kuno, terdapat lingga dalam jumlah besar. Ada yang dibuat berlandaskan konsepsi yang sempurna dan ada pula yang dibikin sangat sederhana sehingga merupakan lingga semu.
Adanya sekte Waisnawa di Bali dengan jelas diberikan petunjuk dalam konsepsi Agama Hindu di Bali tentang pemujaan Dewi Sri. Dewi Sri dipandang sebagai pemberi rejeki, pemberi kebahagiaan dan kemakmuran. Di kalangan petani di Bali, Dewi Sri dipandang sebagai dewanya padi yang merupakan keperluan hidup yang utama. Bukti berkembangnya sekte Waisnawa di Bali yakni dengan berkembangnya warga Rsi Bujangga.
Adanya sekte Bodha dan Sogatha di Bali dibuktikan dengan adanya penemuan mantra Bhuda tipeyete mentra dalam zeal meterai tanah liat yang tersimpan dalam stupika. Stupika seperti itu banyak diketahui di Pejeng, Gianyar. Berdasarkan hasil penelitian Dr. W.F. Stutterheim mentra Budha aliran Mahayana diperkirakan sudah ada di Bali sejak abad ke 8 Masehi. Terbukti dengan adanya arca Boddhisatwa di Pura Genuruan, Bedulu, arca Boddhisatwa Padmapani di Pura Galang Sanja, Pejeng, Arca Boddha di Goa Gajah, dan di tempat lain.
Sekte Brahmana menurut Dr. R. Goris seluruhnya telah luluh dengan Siwa Sidhanta. Di India sekte Brahmana disebut Smarta, tetapi sebutan Smarta tidak dikenal di Bali. Kitab-kitab Sasana, Adigama, Purwadigama, Kutara, Manawa yang bersumberkan Manawa Dharmasastra merupakan produk dari sekte Brahmana.
Mengenai sekte Rsi di Bali, Goris memberikan uraian yang sumir dengan menunjuk kepada suatu kenyataan, bahwa di Bali, Rsi adalah seorang Dwijati yang bukan berasal dari Wangsa (golongan) Brahmana. Istilah Dewarsi atau Rajarsi pada orang Hindu merupakan orang suci di antara raja-raja dari Wangsa Ksatria.
Pemujaan terhadap Surya sebagai Dewa Utama yang dilakukan sekte Sora, merupakan satu bukti sekte Sora itu ada. Sistem pemujaan Dewa Matahari yang disebut Suryasewana dilakukan pada waktu matahari terbit dan matahari terbenam menjadi ciri penganut sekte Sora. Pustaka Lontar yang membentangkan Suryasewana ini juga terdapat sekarang di Bali. Selain itu yang lebih jelas lagi, setiap upacara agama di Bali selalu dilakukan pemujaan terhadap Dewa Surya sebagai dewa yang memberikan persaksian bahwa seseorang telah melakukan yajnya.
Sekte Gonapatya adalah kelompok pemuja Dewa Ganesa. Adanya sekte ini dahulu di Bali terbukti dengan banyaknya ditemukan arca Ganesa baik dalam wujud besar maupun kecil. Ada berbahan batu padas atau dai logam yang biasanya tersimpan di beberapa pura. Fungsi arca Ganesa adalah sebagai Wigna, yaitu penghalang gangguan. Oleh karena itu pada dasarnya Ganesa diletakkan pada tempat-tempat yang dianggap bahaya, seperti di lereng gunung, lembah, laut, pada penyebrangan sungai, dan sebagainya. Setelah zaman Gelgel, banyak patung ganesha dipindahkan dari tempatnya yang terpencil ke dalam salah satu tempat pemujaan. Akibatnya, patung Ganesa itu tak lagi mendapat pemujaan secara khusus, melainkan dianggap sama dengan patung-patung dewa lain.
Sekte Bhairawa adalah sekte yang memuja Dewi Durga sebagai Dewa Utama. Pemujaan terhadap Dewi Durga di Pura Dalem yang ada di tiap desa pakaman di Bali merupakan pengaruh dari sekte ini. Begitu pula pemujaan terhadap Ratu Ayu (Rangda) juga merupakan pengaruh dari sekte Bhairawa.
Sekte ini menjadi satu sekte wacamara (sekte aliran kiri) yang mendambakan kekuatan (magic) yang bermanfaat untuk kekuasaan duniawi. Ajaran Sadcakra, yaitu enam lingkungan dalam badan dan ajaran mengenai Kundalini yang hidup dalam tubuh manusia juga bersumber dari sekte ini.
Pada tahun Saka 910 (988 M), Bali diperintah raja Dharma Udayana. Permaisurinya berasal dari Jawa Timur bernama Gunapria Dharmapatni (putri Makutawangsa Whardana). Pemerintahan Dharma Udayana dibantu beberapa pendeta yang didatangkan dari Jawa Timur. Antara lain Mpu Kuturan. Mpu Kuturan diserahi tugas sebagai ketua majelis tinggi penasehat raja dengan pangkat senapati, sehingga dikenal sebagai Senapati Kuturan.
Seperti telah diuraikan sebelumnya, sebelum pemerintahan suami istri Dharma Udayana/Gunapria Dharmapatni (sejak awal abad ke 10), di Bali telah berkembang berbagai sekte. Pada mulanya sekte-sekte tersebut hidup berdampingan secara damai. Lama-kelamaan justru sering terjadi persaingan. Bahkan tak jarang terjadi bentrok secara fisik. Hal ini dengan sendirinya sangat menganggu ketentraman Pulau Bali. Sehubungan dengan hal tersebut, raja lalu menugaskan kepada Senapati Kuturan untuk mengatasi kekacauan itu. Atas dasar tugas tersebut, Mpu Kuturan mengundang semua pimpinan sekte dalam suatu pertemuan yang dilakukan di Bataanyar (Samuan Tiga). Pertemuan ini mencapai kata sepakat dengan keputusan Tri Sadaka dan Kahyangan Tiga.
Nah, terkait dengan Bujangga Waisnawa sampai masuk ke Bali, sejarahnya tentu harus dicari lagi. Ternyata, walaupun tidak khusus juga terdapat di buku Leluhur Orang Bali karangan I Nyoman Singgih Wikarman tentang perjalanan Maharsi Markandya ke Bali.
Perjalanan Beliau ke Bali pertama menuju Gunung Agung. Di sanalah maharsi dan murid-muridnya membuka hutan untuk pertanian. Tapi sayang, murid-muridnya kena penyakit, banyak di antaranya meninggal. Akhirnya Beliau kembali ke Pasramannya di Gunung Raung. Di sanalah beryoga, ingin tahu apa sebabnya hingga bencana menimpa para pengikutnya. Hingga mendapat pawisik bahwa terjadinya bencana itu adalah karena Beliau tidak melaksanakan upacara keagamaan sebelum membuka hutan itu.
Setelah mendapat pawisik, Maharsi Markandya pergi kembali ke Gunung Tahlangkir (Tohlangkir) Bali. Kali ini mengajak serta pengikut sebanyak 400 orang. Sebelum mengambil pekerjaan, terlebih dahulu menyelenggarakan upacara ritual, dengan menanam Panca dhatu di lereng Gunung Agung itu. Demikianlah akhirnya semua pengikutnya selamat. Maka, itu wilayah ini lalu dinamai Besuki, kemudian menjadi Besakih, yang artinya selamat. Tempat maharsi menanam Panca dhatu, lalu menjadi pura, yang diberi nama Pura Besakih.
Entah berapa lamanya Maharsi Markandya berada di sana, lalu Beliau pergi menuju arah Barat dan sampai di suatu daerah yang datar dan luas, di sanalah lagi merabas hutan. Wilayah yang datar dan luas ini lalu diberi nama Puwakan. Kemungkinan dari kata Puwakan ini lalu menjadi Swakan dan terakhir menjadi subak.
Di tempat ini Rsi Markandya menanam jenis-jenis bahan pangan. Semuanya bisa tumbuh dan menghasilkan dengan baik.
Oleh karenanya tempat itu juga disebut Sarwada yang artinya serba ada. Keadaan ini bisa terjadi karena kehendak Sang Yogi. Kehendak bahasa Balinya kahyun atau adnyana. Dari kata kahyun menjadi kayu. Kayu bahasa Sansekertanya taru, kemungkinan menjadi Taro. Taro adalah nama wilayah ini kemudian.
Di wilayah Taro ini Sang Yogi mendirikan sebuah pura, sebagai kenangan terhadap pasraman Beliau di Gunung Raung. Puranya sampai sekarang disebut Gunung Raung. Di sebuah bukit tempatnya beryoga juga didirikan sebuah pura yang kemudian dinamai Pura Payogan, yang letaknya di Campuan Ubud. Pura ini juga disebut Pura Gunung Lebah.
Berikutnya Rsi Markandya pergi ke Barat dari Payogan itu, dan sampai di sana juga membangun sebuah pura yang diberi nama Pura Murwa dan wilayahnya diberi nama Pahyangan, yang sekarang menjadi Payangan.
Orang-orang Aga, murid Sang Yogi, menetap di desa-desa yang dilalui. Mereka bercampur dan membaur dengan orang-orang Bali Asli. Mereka mengajarkan cara bercocok tanam yang baik, menyelenggarakan yajna seperti yang diajarkan oleh Rsi Markandya. Dengan demikian Agama Hindu pun dapat diterima dengan baik oleh orang-orang Bali Asli itu.
Sebagai Rohaniawan (Pandita), orang Aga dan Bali Mula, adalah keturunan Maharesi Markandya sendiri yang disebut Warga Bujangga Waisnawa.
Dalam zaman raja-raja berikutnya, Bujangga Waisnawa ini selalu menjadi Purohita mendampingi raja, ada yang berkedudukan sebagai Senapati Kuturan, seperti Mpu Gawaksa dinobatkan menjadi Senapati Kuturan oleh Sang Ratu Adnyanadewi tahun 1016 Masehi, sebagai pengganti Mpu Rajakerta (Mpu Kuturan). Ratu ini pula yang memberikan kewenangan kepada Sang Guru Bujangga Waisnawa untuk melakukan pacaruan Walisumpah ke atas. Karena sang pendeta mampu membersihkan segala noda di bumi ini. Lalu Mpu Atuk yang masih keturunan Rsi Markandya, di masa pemerintahan Sri Sakala Indukirana (1098 M), dinobatkan sebagai Senapati Kuturan dari Keturunan Bujangga Waisnawa.
Pada masa pemerintahan Suradhipa (1115-1119 M), yang dinobatkan sebagai Senapati Kuturan dari keturunan Sang Rsi Markandya adalah Mpu Ceken, kemudian diganti oleh Mpu Jagathita. Kemudian ketika pemerintahan Raghajaya (1077 M), yang diangkat sebagai Senapati Kuturan yakni Mpu Andonaamenang, dari keluarga Bujangga Waisnawa. Demikianlah seterusnya.
Ketika pemerintahan raja-raja selanjutnya, selalu saja ada seorang Purohita Raja atau Dalem yang diambil dari keluarga Bujangga Waisnawa, keturunan Maharsi Markandya. Sampai terakhir masa pemerintahan Dalem Batur Enggong di Bali. Ketika itu yang menjadi Bagawanta Dalem, mewakili sekte Waisnawa, adalah dari Bujangga Waisnawa pula dari Griha Takmung. Namun sayang dan mungkin sudah kehendak Dewata Agung, terjadi kesalahan Sang Guru Bujangga, di mana Beliau selaku Acarya (Guru) telah mengawini sisyanya sendiri yakni Putri Dalem yaitu Dewa Ayu Laksmi. Atas kesalahan ini sang Guru Bujangga Waisnawa akan dihukum bunuh. Tapi Beliau segera menghilang dan kemudian menetap di wilayah Tabanan.
Semenjak kejadian inilah Dalem tidak lagi memakai Bhagawanta dari Bujangga Waisnawa keturunan Sang Rsi Markandya. Setelah kedatangan Danghyang Nirartha di Bali, posisi Bhagawanta diambil alih Brahmana Siwa dan Budha. Selesailah sudah peranan Bujangga Waisnawa sebagai pendamping raja di Bali. Bahkan setelah strukturisasi masyarakat Bali ke dalam sistem wangsa oleh Danghyang Nirartha atas restu Dalem, keluarga Bujangga Waisnawa tidak dimasukkan lagi sebagai Warga Brahmana.
Namun sisa-sisa kebesaran Bujangga Waisnawa dalam peranannya sebagai pembimbing masyarakat Bali, terutama dari kalangan Bali Mula dan Bali Aga masih dapat kita lihat sampai sekarang. Pada tiap-tiap pura dari masyarakat Bali aga/mula itu, selalu ada palinggih sebagai Sthana Bhatara Sakti Bhujanga. Alat-alat pemujaan selalu siap pada palinggih itu. Orang-orang Bali aga/mula, cukup nuhur tirtha (mohon air suci), terutama tirtha pangentas melalui palinggih ini. Sampai sekarang para warga ini tidak berani mempergunakan atau nuhur Pedanda Siwa.
Warga Bujangga Waisnawa, keturunan Maharsi Markandya sekarang telah tersebar di seluruh Bali. Pura Padarmannya di sebelah Timur Penataran Agung Besakih, sebelah Tenggara Padharman Dalem. Demikian juga pura kawitannya tersebar di seluruh Bali, seperti di Takmung Kabupaten Klungkung, Batubulan Kabupaten Gianyar, Jatiluwih Kabupaten Tabanan dan lain-lain tempat lagi.
Begitulah Maharsi Markandya, leluhur Warga Bujangga Waisnawa penyebar Agama Hindu pertama di Bali, dan warganya sampai sekarang ada saja yang melaksanakan Dharma Kawikon dengan gelar Ida Rsi Bujangga Waisnawa.

Senin, 03 Desember 2012

Pura Luhur Bhujangga Waisnawa

Pura Luhur Bhujangga Waisnawa

Berkaitan dengan Perjalanan Rsi Markendheya

Pura luhur Bhujangga Waisnawa terletak di Dusun Gunung Sari, Jati Luwih, Penebel. Pura ini disungsung oleh pertisentana Bhujangga Waisnawa atau lebih dikenal dengan Maha Warga Bhujangga Waisnawa yang berdomisili baik di Bali maupun luar Bali. Keberadaan pura yang kini berstatus pura kawitan ini, erat kaitannya dengan perjalanan Rsi Markandheya ke Bali sekitar abad VIII. Setelah kedatangannya yang kedua ke Bali yang diawali dengan upacara mendem Panca Datu di sekitar Pura Besakih sekarang, beliau meneruskan perjalanannya untuk mengajarkan penduduk tata cara upacara agama, ilmu pertanian dan keahlian lainnya pada berbagai tempat di Bali.

Selain pura di Jati Luwih, masih ada beberapa pura lainnya yang erat kaitannya dengan perjalanan beliau, di antaranya:

  • Pura Luhur Sebang Dahat di Desa Puakan, 
  • Pura Gunung Raung di Desa Taro, 
  • Pura Dalem Murwa di Desa Payangan, 
  • Pura Segara Kidul Batu Bolong, 
  • Pura Pedharman di Gunung Agung dan beberapa pura lainnya. 

Jika ditilik dari perjalanan Rsi Markandheya yang pada mulanya berpesraman di Gunung Raung Jawa Timur itu, beliau membangun tempat pemujaan di sekitar danau, laut, desa dan hutan atau gunung yang merupakan titik-titik strategis di daerah Bali.


Pura Luhur Waisnawa Jati Luwih pada mulanya merupakan tempat tapa wana, 

yakni tempat beliau melakukan tapa dan meditasi memuja kebesaran Hyang Widhi serta kemakmuran jagat Bali di tengah hutan. Sementara beberapa pura yang terletak di Danau Batur, Beratan dan Tamblingan menjadi pura sungsungan jagat. Pura Luhur Waisnawa Jati Luwih terletak di pegunungan yang memiliki udara sejuk serta hawa pegunungan.

Hingga kini, letak pura jauh dari pemukiman penduduk dan menjadi tempat aktivitas spiritual bagi para warga Bhujangga Waisnawa. Letaknya yang berada pada ketinggian membuat indahnya pemandangan. Dari Pura Patali yang dalam sejarahnya dibangun oleh Rsi Bhujangga Canggu bersama-sama dengan Arya Wangbang, pemedek harus melewati jalan menanjak beberapa ratus meter untuk mendapatkan pura ini.

Seperti halnya pura pada umumnya, areal pura yang cukup luas ini terbagi atas nista mandala, madya mandala dan utama mandala. Di madya mandala terletak pelinggih Hyang Guru yang merupakan sarana pemujaan guru yang memberikan pencerahan bagi segenap pemedek. Sementara di utama mandala, selain Gedong terdapat dua Meru yakni Meru Tumpang Pitu dan Meru Tumpang Solas. Areal utama mandala yang cukup luas dan udara yang sejuk membuat pemedek nyaman untuk melakukan persembahyangan. Selain pura ini, menurut beberapa catatan sejarah bahkan nama Jati Luwih dan Gunung Sari erat kaitannya dengan kisah Ida Bagus Angker atau Ida Bhujangga Rsi Canggu yang merupakan putra dari Rsi Wesnama Mustika melakukan yoga semadi. Dikisahkan sekitar tahun Icaka 1320, setelah kematian Rsi Wesnama Mustika, Ida Bagus Angker pindah dari Sengguhan Klungkung menuju Giri Kusuma. Di sana beliau melakukan yoga semadi. Tempat tersebut akhirnya dikenal dengan Gunung Sari. Sementara tempat tinggal Ida Bagus Angker dinamakan Jati Luwih karena beliau sudah di-dwijati.

Arti Bhujangga

Bhujangga berarti ilmuwan atau cendekiawan, yakni orang-orang yang mempelajari, mengetahui dan mengamalkan ilmu pengetahuan Weda. Weda yang dimaksud baik dalam konteks mantra puja, tatwa agama maupun ilmu pengetahuan seperti pemerintahan, ekonomi, sosial dan sebagainya. Selain itu bhujangga juga berarti pandita. Warga Bhujangga Waisnawa awalnya penganut Hindu Ciwa Waisnawa sehingga menjadi Bhujangga Waisnawa.

Leluhur Bhujangga Waisnawa antara lain:

  • Maha Rsi Markandheya, 
  • Maha Rsi Waisnawa Mustika, 
  • Maha Rsi Madura dan 
  • maha rsi Bhujangga Waisnawa yang lain. 

Para rsi ini sangat tersohor dalam penanaman pendidikan spiritual di Bali dan peranannya bagi perkembangan Hindu dinilai sangat penting. Selain itu terdapat pula para kesatria Bali yang merupakan penganut Hindu Waisnawa seperti Raja Jaya Pangus dan Raja Dalem Tamblingan. Seluruh keturunan baik maha rsi maupun para kesatria Bali tersebut kini terhimpun dalam Maha Warga Bhujangga Waisnawa.

Sesuai dengan keberadaan awalnya, hingga kini keluarga besar Bhujangga Waisnawa masih tetap menekuni tugasnya selaku cendekiawan maupun pandita. Di Bali terdapat sekitar 21 sulinggih Bhujangga Waisnawa yang melayani umat dalam berbagai aktivitas keagamaan. Sementara Ida Bhujangga Rsi Istri Netri dari gGia Babut, Nyitdah Tabanan yang merupakan nabe dari seluruh sulinggih Bhujangga Waisnawa ini. Keberadaan sulinggih bagi maha warga ini dinilai sangat penting peranannya.

Secara berkala maha warga ini menggelar pertemuan sulinggih yang bernama Sabha Agung Sulinggih Maha warga Bhujangga Waisnawa. Dalam pertemuan ini dibahas sesana sulinggih dan berbagai hal yang dianggap penting demi pembinaan para pasemetonan maupun umat secara umum. Selain itu, untuk lebih meningkatkan kualitas sulinggih para calon diksita juga dipersiapkan dengan pola pendidikan tertentu.

Salah satu cendekiawan Hindu Raka Santeri merupakan salah satu cendekiawan yang banyak memberikan pendidikan dalam lingkup Bhujangga Waisnawa. Raka Santeri kerap memberikan telaah keilmuan baik sejarah maha rsi maupun ajaran Weda kepada kelompok ini. Ia sependapat bahwa para sulinggih hendaknya mampu memberikan pencerahan umat selain muput karya. Selain itu, pendidikan agama, menurutnya, hendaknya diterapkan mulai kelompok kecil seperti keluarga, lingkungan atau kelompok dan masyarakat pada umumnya.

Ketua Umum Moncol Pusat Maha Warga Bhujangga Waisnawa Mayjen (Purn) I Ketut Wirdhana menyatakan keberadaan pasemetonan ini bukan merupakan perkumpulan yang eksklusif, melainkan upaya untuk memperkokoh jati diri kehinduan. Mantan Pangdam Dwikora Irian Jaya ini menyatakan ada tiga program pokok yang sedang diupayakan oleh organisasi ini yakni peningkatan ekonomi, rasa aman serta peningkatan pemahaman ajaran agama. Ketua Umum Prajaniti Pusat ini menegaskan ajaran pokok Waisnawa adalah berupa kesetaraan, kesetiaan, kebijaksanaan dan kasih sayang.

Menurutnya, paham yang dianut oleh Bhujangga Waisnawa adalah catur warna yang didasari rasa saling menghormati dan kasih sayang. Selain itu, tata cara pelaksanaan upacara agama lebih ditekankan pada konsep kesederhanaan dengan tanpa menghilangkan makna yang terkandung di dalamnya. Pilosofi yadnya yang dianut oleh maha warga ini lebih merupakan pada kemampuan pribadi masing-masing tanpa harus memaksakan diri