Tampilkan postingan dengan label Mpu Asthapaka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mpu Asthapaka. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 April 2013

Perjalanan Mpu Brahmaraja atau Mpu Bumi Sakti keturunan Mpu Rajakertha

Bhagawan Pandya Mpu Bhumi Sakti keturunan Mpu Rajakertha

Adapun Mpu Dwijendra atau Mpu Rajakertha berputra 3 orang laki-laki, masing masing bernama 
  1. Gagakaking,
  2. Bukbuksah dan
  3. Mpu Brahma Wisesa atau Mpu Gni.
Kemudian Mpu Brahma Wisesa berputra 2 orang laki-laki, masing-masing bernama 
  1. Mpu Gandring tinggal di Lalumbang dan
  2. Mpu Saguna atau Mpu Patih Jaya.
Apa sebab disebut Mpu Gandring, sebab tugas atau pekerjaan beliau ‘angandring’ yaitu ahli membuat senjata dan barang/benda tajam lainnya. Mpu Gandring wafat ditikam oleh Ken Arok raja Singasari (1220-1227), dengan keris buatannya sendiri, sebab Mpu Gandring dalam membuat keris tersebut tidak memenuhi ‘catur dharma krya’.

Seterusnya Mpu Saguna atau Mpu Patih Jaya berputra
  1. Mpu Tusan, menurunkan Pande Tusan
  2. Mpu Lumbang,
  3. Mpu Galuh berputra seorang laki-laki bernama Mpu Brahmaraja.
  4. Mpu Gandu.
Adapun Mpu Brahmaraja (pada pemerintahan Hayam Wuruk di Majapahit 1350-2389) sangat terkenal, sering melakukan tapa brata, dan banyak orang datang ke pasaramannya di Silasanyane Madura mohon nasehat dan ajaran ajaran terutama yang berkaitan dengan kadyatmikan, kerohanian serta memohon beliau muput yajna yang disleenggarakan.

Diantaranya seorang patih kerajaan Madura bernama Patih Madhu datang menghadp Mpu Brahmaraja, mohon agar Sira Mpu berkenan memuja dan muput upacara pitrayajna yang akan diselenggarakan bagi leluhurnya. Mpu Brahmaraja memenuhi permohonan Patih Madhu dan berhasil baik serta selesai tuntas, tidak kurang suatu apapun. Seusai upacara pitrayajna itu Patih Madhu ingin mengetahui hasil daripada upacaranya itu, lalu ia bertanya kepada Mpu Brahmaraja, kepada siapa masalah itu harus ditanyakan. Diberitahu oleh Mpu Brahmaraja agar patih Madhu menanyakan kepada benda-benda yang ada dihadapan beliau. Benda yang ada dihadapan beliau adalah layang-layang, maka Patih Madhu bertanya kepada layang-layang tersebut, apakah upacara pitrayajna yang baru dilaksanakan sudah memenuhi syarat atau belum, dan bagaimana nasib para leluhurnya yang diupacarai itu. Tiba-tiba layang layang tersebut mengeluarkan suara, lalu menjawab bahwa upacara yang diselenggarakan oleh Patih Madhu tersebut sudah berhasil dengan baik, karena sudah memenuhi syarat dan seluruh arwah suci leluhurnya sudah memperoleh tempat yang baik di sorga. Namun Patih Madhu belum puas akan jawaban layang-layang tersebut, lalu ia bertanya kepada batu, pohon-pohonan dan sebagainya, dan ia mendapatkan jawaban yang sama dengan yang dijawab laying-layang. Para tamu, termasuk Dalem Gelgel Sri Smara Kepakisan yang juga hadir pada upacara tersebut merasa sangat takjub terhadap kemampuan Mpu Brahmaraja dan sejak saat itu Mpu Brahmaraja diberi gelar Bhagawan Pandya Mpu Bhumi Sakti (sekitar tahun 1380 M).

Setelah upacara Patih Madhu selesai, para tamu kembali ketempatnya masing-masing, sedangkan Mpu Brahmaraja atau Bhagawan Pandya Mpu Bhumi Sakti beberapa hari kemudian baru meninggalkan tempat upacara, dan sesudah minta diri, sendirian beliau berjalan menyusuri jalan setapak. Tiba ditepi sebuah kuburan, di tengah perjalanan tersebut, beliau bertemu dengan seorang anak gembala yang sedang menangis. Melihat keadaan anak tersebut timbul rasa kasihan dihati beliau, lalu bertanya kepada anak itu, mengapa ia menangis. Dijawab oleh anak itu bahwa gigi bajaknya patah akibat mengenai batu, nanti bila ayahnya tiba, pasti ia akan dimarahi. Mpu Brahmaraja berkata, bahwa janganlah merasa takut atau waswas, karena gigi bajak tersebut akan diperbaiki. Mendengar perkataan Mpu Brahmraja, anak tersebut sangat senang seraya menyerahkan gigi bajak yang patah untuk diperbaiki.

Mpu Brahmaraja sebagai seoang keturunan Bhatara Brahma dengan tingkat ilmu yang tinggi, lalu memusatkan pikiran dan tenaga serta kekuatan gaibnya melakukan yoga semadi. Lalu tiba tiba dari mata kanan keluar api yang menyala nyala jatuh tepat dihadapan beliau, dari hidung kiri keluar angin yang kencang, sedangkan hidung kanan tmpat masuknya angin. Adapun tangan kanan sebagai palu dan paha sebagai landasan, jari jari tangan sebagai jepitan dan air keringat sebagai untuk mendinginkan besi yang panas. Setelah mata bajak selesai diperbaiki, terlihat seperti semula, lalu diserahkan kepada anak gembala tadi. Anak itu menerimanya dengan senang sekali, sambil mengucapkan terimakasih, kemudian Mpu Brahmaraja melanjutkan perjalanannya.

Tidak diceritakan dalam perjalanan, kemudian beliau tiba di Aksobya, Pasraman Panditha Bhudda Bhairawa bernama Mpu Asthapaka. Ketika Mpu Brahmaraja tiba disana, dijumpai Mpu Asthapaka sedang memuja Hyang Amoghasidhi. Dalam pemujaan itu Mpu Asthapaka mempergunakan swambha (tempat air suci) dari tengkorak manusia, bersemayur usus besar, bertajuk bunga hati, berbaju kulit harimau. Setelah selesai melakukan puja, Mpu Asthapaka melihat Mpu Brahmaraja sedang berdiri dibawah pohon kepuh, lalu dilambai tangan supaya mendekat. Kemudian Mpu Asthapaka bertanya, siapa namanya, darimana asalnya dan hendak kemana serta apa tujuannya. Dijawab oleh Mpu Brahmaraja bahwa tujuan kedatangannya untuk berguru kepada Mpu Asthapaka. Mpu Asthapaka mengatakan sangat bahagian dengan kedatangan Mpu Brahmaraja, lalu mengatakan ingin memperoleh ilmu juga dari Mpu Brahmaraja, dengan menyampaikan pertanyaan, dari mana keluarnya api, dimana tempatnya angin, apa yang dipergunakan sebagai palu dan landasan pada saat mengerjakan pekerjaan Pande.

Mpu Brahmaraja dengan rendah hati mengatakan, akan memperlihatkan jawaban dari semua pertanyaan tersebut. Lalu duduk bersila menyatukan pikiran, tiba tiba keluar api dari mata kanan, keluar angin dari kedua lubang hidung, kemudian ada anugrah dari para Dewa berupa emas dan perak, lalu Mpu Brahmaraja berputar tiga kali, emas dan perak telah berubah menjadi bhusana dan perhiasan untuk Mpu Asthapaka. Disana Mpu Asthapaka sangat kagum dengan kemampuan Mpu Brahmaraja. Kemudian Mpu Asthapaka menyerahkan putrinya yang bernama Dyah Amrtatma untuk diperistri oleh Mpu Brahmaraja. Selama tinggal di Aksobya Mpu Brahmaraja membangun sebuah purtha histha, yaitu sebuah kolam dengan pancuran dan balai pemujaan untuk memuja Hyang Eka Agni, Tryagni dan Kundagni. Sesudah cukup lama tinggal disana Mpu Brahmaraja dan Dyah Amrtatma meninggal Aksobya kembali ke Madura dan membangun sebuah pasraman yang diberi nama Pasraman Kayumanis.

Menjadi Guru Dalem Gelgel

Dalem Gelgel , Dalem Ktut Ngelesir yang bergelar Sri Smara Kepakisan yang dinobatkan pada tahun Isaka 1320 (1380 M), setelah kembali dari menghadiri upacara pitra yadnya Patih Madhu di Madura, selalu terkenang dengan kemampuan Mpu Bumi Sakti yang memuja dan muput yajna tersebut. Beliau ingin menyucikan diri melalui upacara pudlaga (dwijati). Lalu Dalem mengirim utusan ke Madura, yaitu seorang dari warga Pasek Gelgel yang bernama Pasek Beya, keturunan dari Ki Gusti Pasek Gelgel dari Banjar Pegatepan Desa Gelgel.

Setibanya di Pasraman Kayumanis Madura, lalu disapa oleh Sira Mpu Bumi Sakti (Mpu Brahmaraja) dengan sopan santun dan ramah tamah, semabari menanyakan siapa nama, dari mana dan apa keperluannya. Selanjutnya Ki Pasek Beya menyatakan sebagai utusan Dalem Gelgel agar Sira Mpu berkenan datang ke Bali untuk menjadi guru Dalem gelgel, karena Beliau sangat kagum dengan kemampuan Sira Mpu yang dibuktikan ketika mupu upacara pitra yajna Patih madhu dahulu, dimana ketika itu Dalem gelgel ikut hadir menyaksikan. Kemudian Sira Mpu Bumi Sakti mengatakan bahwa beliau masih berkerabat dengan Ki Pasek Beya, karena beraal dari leluhur Bhatara Kawitan yang sama.

Sira Mpu Bumi Sakti mengatakan bahwa beliau bersedia memenuhi keinginan Dalem gelgel, namun beliau bertangguh karena akan mencari hari yang baik untuk berangkat ke Gelgel dan mempersilakan Ki Pasek Beya berangkat terlebih dahulu ke Bali. Sesudah mpohon diri Ki pasek Beya akhirnya kembali ke Bali dan dengan selamat tiba di Gelgel dan segera melapor kepada Dalem Gelgel hasil perjalanannya ke Pasraman Kayumanis Madura.

Selang beberapa minggu kemudian Sira Mpu Bumi Sakti berangkat dari Pasraman Kayumanis Madura menuju Bali. Entah berapa lama dalam perjalanan, pada suatu hari Sira Mpu tiba di gunung Agung. Sira Mpu sangat takjub melihat cahaya gemerlap di atas padmasana manik, lalu Sira Mpu melakukan persembahyangan yang ditujukan kepada Bhatara Tohlangkir. Kemudian terdengar sabda gaib yang datang dari cahaya padmasana manik, yang menanyakan maksud dan tujuan Sira Mpu datang kesini. Dijawab oleh Sira Mpu bahwa kedatangannya atas undangan Dalem Gelgel yang ingin menyucikan diri melalui upacara pudlaga. Kemudian sabda itu bertanya lagi, apakah Sira Mpu mengetahui ada apa ditelapak tangan kanan Bhatara, apabila Sira Mpu mampu menjawabnya barulah boleh menyucikan Dalem Gelgel, seketika tampak sebuah tangan dihadapan beliau. Sira Mpu minta ijin untuk menjawab bahwa yang ada ditelapak tangan kanan itu adalah ‘Panca Brahma’. Lagi pertanyaan, dimanakah tangan kanan itu harus dipukulkan, dijawab oleh Sira Mpu bahwa beliau tidak berani mengatakannya. Tiba-tiba cahaya dan tangan itu hilang seketika.

Sira Mpu mohon diri kepada Bhatara Tohlangkir serta melanjutkan perjalanan ke Gelgel. Tidak diceritakan dalam perjalanan, akhirnya Sira Mpu tiba di Gelgel dan diterima dengan baik oleh Dalem Gelgel, Sri Smara Kepakisan. Kemudian dipersilakan duduk sejajar dengan Dalem. Disana Sira Mpu kembali menanyakan maksud Dalem mengundang Sira Mpu ke Gelgel. Dijawab oleh Dalem bahwa Dalem ingin menyucikan diri seperti leluhurnya terdahulu. Sira Mpu sangat mendukung niat Dalem, karena Dalem adalah keturunan seorang brahmana, yang bersumber dari satu kawitan dengan Sira Mpu dan Pasek. Setelah menyelesaikan permintaan Dalem Gelgel, entah berapa lama Sira Mpu tinggal di Gelgel, akhirnya kembali ke Pasraman Kayumanis Madura.

Kemudian diceritakan Sira Mpu Bumi Sakti berputra dua orang laki dan perempuan, yang sulung laki laki bernama
  1. Brahma Rare Sakti kemudian dikenal dengan gelar Mpu Gandring Sakti
  2. Diah Kencanawati, kemudian diberi gelar Mpu Galuh
Adapun Brahma Rare Sakti sangat pandai seperti ayahnya, dan beliau diberi gelar Mpu Gandring Sakti (bukan yang wafat ditikam Ken Arok). Sedangkan Dyah Kencanawati memiliki sifat sifat seperti Bhatari Uma, pandai dalam hal weda serta gemar melakukan tapa brata kemudian diberi gelar Mpu Galuh. Setelah cukup umur Mpu Bumi Sakti menganugerahkan pusaka bertuah kepda kedua putranya. Mpu Gandring Sakti diberikan cincin emas bermatakan manic bang, yang bertuah dalam tugas Mpu Gandring Sakti membuat senjata dan benda benda tajam. Sedangkan kepada Mpu Galuh diberikan cincin dengan permata ratna cempaka, sebab beliau menguasi ilmu Kusumadewa. Itulah anugerah Mpu Bumi Sakti kepada anak-anaknya.

Setelah pemberian itu, lama kelamaan timbul rasa iri hati pada diri Mpu Gandring Sakti dan kurang senang dengan cincin pemberian ayahandannya, karena cincin tersebut dianggap tidak bertuah dan tidak berguna baginya. Lalu timbul rasa sakit hati kepada adiknya, yang dianggap tidak pantas memiliki cincin dengan permata ratna cempaka itu. Kemudian Mpu Gandring Sakti memanggil adiknya serta mengatakan, karena Mpu galuh masih muda, jadi belum boleh memiliki cincin itu, dan sebaiknya cicin itu diserahkan kepada beliau (Mpu Gandring Sakti). Namun Mpu galuh menolak permintaan itu. Walaupun berkali kali diminta tetap saja Mpu Galuh menolak. Akibatnya Mpu Gandring Sakti sangat marah lalu menganiaya adiknya. Kendatipun demikian Mpu Galuh yang memiliki sifat tenang dan taat pada ajaran agama, tidak mau mengadakan perlawanan tetapi juga tetap mau menyerahkan cincin permata mirah cempaka tersebut. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, maka pada suatu malam, secara sembunyi-sembunyi Mpu Galuh meninggalkan pasraman Kayumanis menuju gunung Renggakusuma, disana beliau melakukan tapa brata. Pada saat itu kebetulan Hyang Mahadewa sedang bersenang-senang disana, dan melihat Mpu Galuh melakukan tapa brata, kemudian didekati dan menanyakan siapa nama, dan mengapa melakukan tapa brata di hutan belantara. Dijawab oleh Mpu Galuh, bahwa bahwa beliau adalah seorang brahmani dari pasraman Kayumanis, anak dari Bhagawan Pandeya Mpu Bumi Sakti, dan melakukan tapa brata untuk melepaskan diri dari kehidupan duniawi guna mencapai sorga bila meninggal dunia. Kemudian bersabda Hyang Mahadewa “Wahai Mpu Galuh kamu adalah seorang wanita brahmani uttama, gunawan dan ahli dalam ajaran dan filsafat, sekarang aku perintahkan kamu agar pergi ke gunung Agung di Bali, disanalah pasramanku”.

Lanjut Hyang Mahadewa “Disana engkau supaya menggantikan kedudukan brahmana Sang Kulputih selaku pelayan disana, karena Sang Kulputih sudah tua dan akan segera kembali ke akhirat”. Mpu Galuh member hormat dan mengikuti perintah Hyang Mahadewa, berangkat dari gunung Renggakusuma ke pulau Bali.

Tidak diceritakan dalam perjalanan Mpu Galuh telah sampai di gunung Agung, disana Mpu galuh mengabdi kepada Hyang Mahadewa di Pura Besakih. Setiap hari melakukan persembahyanngan terhadap Ida Sang Hyang Widhi Wasa seperti yang dilakukan oleh Sang Kulputih terdahulu. Sejak saat itu Mpu Galuh diberi gelar Dyah Kulputih. Setiap hari Mpu Galuh memepersiapkan sesajen untuk persembahyangan dan selalu dibantu oleh seekor kera putih binatang piaraan Hyang Mahadewa.

Lahirnya Brahmana Dwala

Oleh karena Mpu Galuh menghilang, Mpu bumi Sakti lalu memerintahkan Mpu Gandring Sakti untuk mencarinya. Sesudah berbulan-bulan Mpu Gandring sakti menyusuri jalan, masuk hutan, mencari ke desa-desa, namun tetap tidak berhasil menemukan Mpu Galuh. Akhirnya Mpu Gandring melakukan yoga semadi. Mohon petunjuk Ida Sang Hyang Widhi, akhirnya diberikan petunjuk, tampak dalam yoga semadi beliau Mpu Galuh berada di gunung Agung Bali.

Mpu Gandring Sakti menghentikan yoga semadinya, lalu segera berangkat ke Bali. Tidak diceritakan dalam perjalanan, pada saat matahari akan tenggelam, Mpu Gandring Sakti tiba disuatu tempat, disana Mpu Gandring Sakti beristirahat dibawah pohon randu. Tiba-tiba muncul raksasi, wajahnya sangat menyeramkan dan menakutkan, dia berteriak teriak “wahai manusia, laki laki yang rupawan, siapakah engkau gerangan, dari mana asalmu dan apa maksud kedatanganmu kemari. Aku adalah raksasi yang sangat ingin memakan daging manusia”. Mendengar teriakan raksasi tersebut, Mpu Gandring Sakti lalu mengucapkan matra Wisnu Pajaramurti, mantra itu menghilangkan sifat raksasa seseorang, sehingga raksasi itu tiba-tiba menjadi ramah. Mpu Gandring Sakti lalu mengatakan siapa dirinya serta tujuannya untuk mencari adikanya. Mendengar jawaban Mpu Gandring Sakti, raksasi tersebut lalu jatuh cinta dengan Mpu Gandring Sakti, dan ingin diperistri, dengan permohonan agar Mpu Gandring Sakti memberinya seorang anak sebagai penyupatan dosa-dosanya. Mendengar hal tersebut Mpu Gandring Sakti memenuhi permintaan raksasi tersebut dengan syarat agar melepas sifat keraksasan terlebih dahulu.

Mendengar jawaban Mpu Gandring Sakti, sangat gembira hati raksasi tersebut, dan seketika berubah wajah menjadi seorang wanita yang cantik jelita. Kemudian wanita itu menjelaskan bahwa dia adalah seorang bidadari yang bernama Dyah Giri Sewaka yang dikutuk oleh dewata menajdi seorang raksasi karena melakukan suatu dosa. Kemudian Dyah Giri Sewaka mengajak Mpu Gandring Sakti ke rumahnnya. Disana Mpu Gandring Sakti tinggal beberapa hari sampai Dyah Giri Sewaka hamil. Hingga pada suatu hari Mpu Gandring Sakti mengatakan kepada istrinya Dyah Giri Sewaka, bahwa dia akan melanjutkan perjalanan mencari adiknya, sebagaimana perintah ayahandanya. Dan meminta istrinya menunggunya disini dan menjaga anak dalam kandungannya.

Akhirnya diceritakan bahwa Mpu Gandring Sakti sudah tiba di Besakih, dan dilihat adiknya Mpu Galuh sedang melakukan yiga semadi, hal itu membuat Mpu Gandring Sakti menjadi takjub dan semakin menyesali perbuatannya terdahulu. Sesudah selesai melakukan yoga semadi Mpu Galuh turun dari tempat duduknya, begitu melihat Mpu Gandring Sakti, Mpu Galuh segera menyongsong kedatangan kakaknya, dengan ramah tamah dan sopan santun menyapa, serta menyatakan kegembiraannya atas kedatangan Mpu Gandring Sakti.

Setelah dipersilakan duduk, Mpu Gandring Sakti lalu menjelaskan kedatangannya adalah mengemban tugas ayahanda. Namun kini ternyata Mpu Galuh sudah menjadi pengikut ajaran Sang Kulputih, selalu melakukan pemujaan terhadap Ida Sang Hyang Widhi sebagai Siwa Budha. Om Nama Siwa Bhuda Ya. Mpu Gandring Sakti lanjut menyarankan supaya adiknya meneruskan cita-citanya yang mulia, yaitu mencapai tujuannya untuk manunggal kepada Sang Pencipta. Mendengar kata-kata Mpu Gandring Sakti tersebut, amatlah senang hati Mpu Galuh atau Dyah Kulputih.

Entah berapa lama Mpu Gandring Sakti tinggal di pasraman Mpu Galuh, lalu beliau permisi kepada adiknya untuk kembali ke pasraman Kayumanis, Madura, guna mempermaklumkan kepada ayahanndanya mengenai kabar baik tentang adiknya. Setelah cukup lama melakukan perjalanan meleati hutan belantara, samapailah Mpu Gandring Sakti di rumah istrinya Dyah Giri Sewaka, dan disambut dengan baik, sambil menggendong puteranya laki-laki yang baru beberapa pekan lahir. Mpu Gandring Sakti gembira sekali, menimang nimang puteranya, kemudian memberitahu istrinya tentang hasil perjalanannya. Lalu mengatakan bahwa beliau harus segera kembali ke Madura menyampaikan kabar baik ini. Dijawab oleh istrinya bahwa ia tidak mungkin ikut ke Madura dan akan menyerahkan puteranya untuk ikut ke Madura sebagai ganti atau bukti pengganti jiwanya. Puteranya itu kemudian diberi nama Brahmana Dwala.

Pada hari yang telah ditentukan untuk berangkat ke Madura, Mpu Gandring Sakti menggendong Brahmana Dwala. Kepada puteranya, Dyah giri Sewaka berucap, “anakku semoga engkau panjang usia, menurunkan pratisentana baik, dan dalam perjalananmu di hutan rimba tidak mendapat bahaya, begitu juga di kuburan, di sungai dan di laut tidak dihadang oleh mahluk jahat dan buas. Aku ibumu akan segera kemabali ke sorga, karena kutukan ibu sudah disupat oleh ayahmu” kemudian Dyah Giri Sewaka secara gaib hilang dari pandangan.

Adapun Mpu Gandring Sakti di dalam perjalanannya dengan menggendong puteranya melalui hutan rimba, tidak sedikit menghadapi rintangan, dan akhirnya beliau sampai di Pasaraman Kayumanis, Madura dengan selamat bersama puteranya. Setelah menghadap ayahandanya, beliau menyampaikan secara singkat hasil perjalannnya. Karena Mpu Gandring Sakti sudah tahu bahwa ayahandanya memiliki ilmu ‘duradarsana’ atau memiliki pengelihatan jauh. Mendengar laporan puteranya Mpu Bumi Sakti merasa sangat senang, karena beliau mengetahui apa maksud dan tujuan Mpu Galuh atau Dyah Kul Putih memilih jalan tersebut. Dan beliau berkeinginan untuk mendatangi pasraman Mpu Galuh di Besakih Bali.

Kemudian diceritakan bahwa Mpu Bumi Sakti memanggil Mpu Gandring Sakti, lalu berkata bahwa tugasnya sudah selesai di dunia fana ini, dan akan segera kemabli ke sorga. Setelah berkata tersebut Mpu Bumi Sakti secara tiba-tiba lenyap dari pandangan (moksa). Tinggalah Mpu Gandring Sakti bersama Brahmana Dwala.

Adapun Brahmana Dwala diceritakan sekarang sudah beranjak dewasa, beliau terkenal dalam hal melaksanakan pekerjaan Pande dan mengarang syair. Pada suatu hari Brahmana Dwala pergi ke Gunung Indrakila mengunjungi ayahandanya yang sejak lama melakukan tapa brata disana, memuja Dewa Hyang Agni. Disana Brahmana Dwala melihat ayahandanya sedang melakukan pranayama, Mpu Gandring Sakti dalam keadaan kurus karena melakukan brata makan dan minum, melihat hal itu timbul kasihan dihati Brahmana Dwala, bahkan sampai meneteskan air mata, bahkan sampai timbul niat beliau untuk ikut ayahandanya ke sorga meninggalkan bumi ini. Lalu Brahmana Dwala ikut duduk melakukan yoga semadi disamping ayahandannya. Setelah beberapa saat, tiba tiba dari angkasa berjatuhan bunga yang sangat harum semerbak disertai wedamantra dan sesat tampak roh suci Mpu Saguna atau Mpu patih Jaya berdiri didepan Brahmana Dwala, kemudian bersabda “Wahai cucuku Dwala, dengarkanlah baik-baik, aku datukmu Mpu Saguna atau Mpu Patih jaya, dan aku acapkali datang di Pura Penataran pande di Besakih, jangan sekali-kali engkau lupa kepada kawitan di Besakih sampaikan kepada anak cucu dikemudian hari.

Apabila engkau sungguh sungguh melakukan kewajiban Pande, harus dipelajari Dharma Kapandean seperti Mpu Bumi Sakti leluhurmu, begitu pula mengenai pekerjaan membuat senjata tajam, harus mengetahui ilmu ‘Batur Kamulan’ terutama tentang ajaran ‘Panca Bayu’. Yang dimaksud Panca Bayu adalah prana, apana, samana, udana dan byana. Dalam melaksanakan Dharma Kapandean, harus mengetahui tangan sebagai palu, jari tangan sebagai penjepitnya. Dan harus dapat melepaskan ‘asta candhala’ dari diri pribadi, itulah pantangan-pantangan yang harus diketahui, dan ditaati dalam melakukan tugas Kapandean. Kecuali itu ada lagi pantangan-pantangan, yaitu:
tidak boleh makan keleketu (dedalu/laron), ikan pinggulan (deleg/gabus) dan buah kaluwih (timbul). 
Selanjutnya apabila ayahmu Mpu Gandring Sakti meninggal dunia, tidak perlu dibuatkan upacara apa-apa lagi, karena ia sudah sempurna baik jiwa maupun raganya, dan jangan dimohonkan tirta pandita brahamana lagi, karena dikhawatirkan Pandita Brahmana itu belum sempurna, yang mengakibatkan atma ayahandamu jatuh ke neraka.

Kecuali itu harus kamu ketahui ‘kamandaka carita’”, demikian antara lain sabda roh suci Mpu Saguna atau Mpu Patih Jaya terhadap Brahmana Dwala, lalu Brahmana Dwala menyembah sambil berkata “ya datuk Pandita, seakan-akan mendapat tirta kamandalu rasanya”. Semua sabda Mpu Saguna atau Mpu Patih Jaya itu diingat oleh Brahmana Dwala, lalu beliau berjanji akan selalu taat mengikuti sabda arwah suci Mpu Saguna atau Mpu Patih Jaya sebagai leluhurnya, dan akan diteruskan kepada sanak keluarga dan keturunannya nanti. Jangan sampai ada sanak keluarga dan pratisantananya yang melanggar atau tidak mengikuti seperti sabada roh suci Mpu Saguna atau Mpu Patih Jaya.

Lahirnya Pande Bratan dan Pande Sadhaka

Beberapa lama setelah wafatnya Mpu Gandring Sakti, ada niat Brahmana Dwala untuk melaksanakan pudgala (dwijati) untuk menjadi seorang brahmana (pandhita), akan tetapi tidak ada satu orangpun yang dianggap patut menjadi gurunya (nabe). Untuk itu lalu dibuatlah arca pralingga Bhatara Kawitan yaitu Bhagawan Pandya Mpu Bumi Sakti dan istrinya Dyah Amertatma, kemudian arca tersebut ditempatkan di depan Padmasana di Pasraman Kayumanis Madura. Setiap hari Brahmana Dwala selalu memuja Bhatara kawitan, demikian taatnya melakukan yoga semadi, akhirnya Bhatara kawitan berkenan menganugerahkan ‘pustaka bang’ kepada Brahmana Dwala yaitu ajaran atau pustaka yang berisi cara cara untuk mencapai kebahagian hidup dan mati, sehingga hidup menjadi tenang dan tuntunan bekerja dengan baik dan benar. Demikian halinya Brahmana Dwala melakukan pekerjaan pande, sehingga beliau dijuluki ‘putra bhagawan Wiswakarma’, dan setelah melaksanakan pudgala dengan cara demikian, akhirnya Brahmana Dwala diberi gelar Mpu Dwala.

Setelah kawin berumah tangga, Mpu Dwala kemudian berputra 2 orang laki laki:
  1. Arya Pande Beratan
  2. Arya Pande Wulung yang kemudian bergelar Mpu Sadhaka
Pada saat ini Mpu Dwala membuat pasraman di Desa Beratan. Ketika itu yang bertahta di Bali adalah Dalem Waturenggong yang bergelar Sri Jaya Kresna Kepakisan yang dinobatkan pada tahun Isaka 1382 dan berkuasa sampai dengan tahun ISaka 1472 (1460-1550 M). Pemerintahan beliau dibantu oleh I Gusti Agung Widya dan I Gusti Dawuh Bale Agung.

Pada tahun 1478 M dalam pemerintahan Dalem Waturenggong, akan diselenggarakan upacara besar di Pura Besakih, yaitu Eka Dasa Rudra, atas nasihat DangHyang Nirartha selaku cudamani Dalem. Namun pada masa itu tidak tidak ada Pande Mas yang mumpuni di sekitar puri. Dalam keadaan bingung tersebut, tiba-tiba ada berita bahwa di Beratan ada seorang Pande yang bernama Arya Pande Wulung, Pande asal Madura putera Brahmana Dwala. Arya Pande Wulung adalah nama lain dari Arya pande Sadhaka, setelah madwijati bergelar Mpu Sadhaka adalah ahli dalam ilmu Kapandeyan terutama dalam membuat busana dan perhiasan dari emas dan perak, serta ahli dalam permata manik manikin.

Mpu Sadhaka lalu diundang oleh Dalem Waturenggong, setibanya di Gelgel, Dalem Waturenggong lalu minta bantuan Mpu Sadhaka untuk membantu pekerjaan persiapan yajna Eka Dasa Rudra di Besakih. Mpu Sadhaka menyatakan bersedia membantu sesuai kemampuan yang dimiliki. Kemudian upacara Eka Dasa Rudra berlangsung lancar dan sukses, lalu Dalaem Waturenggong menganugerahkan hadiah kepada semua orang yang dianggap berjasa, termasuk Mpu Sadhaka yang juga diberi gelar Mpu Swarnangkara. Setelah semuanya selesai Mpu Sadhaka kembali ke pasaraman di Beratan.

Tidak diceritakan lebih lanjut, Mpu Sadhaka menurunkan pratisentana, masing masing bernama:
  1. Arya Danu,
  2. Arya Suradnya setelah madwijati bergelar Mpu Pande Rsi,
  3. Pande Tusta,
  4. Pande Tonjok yang ahli membuat senjata tajam,
  5. Ida Wana ahli dalam pekerjaan sangging. Kemudian ada yang menjadi Kepala Desa di Beratan bernama I Gusti Pande Beratan.

Pada suatu hari, sabtu kliwon, diceritakan Arya Pande Beratan sedang asyiknya menyapu dihalaman Pura Ulun Danu Beratan, desa Candikuning, tiba tiba beliau merasa dikagetkan dengan kedatangan enam orang pedagang keliling (pengalu) dari desa Batur Kintamani, yang menambatkan kudanya di jaba sisi Pura Ulun Danu. Tampak dalam pandangan Arya Pande Beratan, pedagang tersebut begitu saja menambatkan kudanya tanpa memperhatikan bahwa itu adalah sebuah pura atau tempat suci. Dengan perlahan dan penuh kesopanan Arya pande Beratan menegur pedagang tersebut, meminta agar jangan menambatkan kudanya di halaman pura. Namun pedagang tersebut menjawab dengan kasar, seraya mengatakan tidak akan memindahkan kudanya. Karena tersinggung dan merasa ditantang, Arya pande Beratan memanggil saudara-saudaranya yang cepat datang lengkap dengan senjata ditangan. Akhirnya pedagang tersebut diserang. Satu orang tewas, sedangkan sisanya melarikan diri.

Pedagang yang selamat, yang melarikan diri akhirnya sampai juga di Batur. Mereka melaporkan kepada seluruh sanak keluarganya, bahwa mereka diserang dan dirampok oleh warga Pande Beratan yang mengakibatkan seorang temannya tewas. Mendengar laporan tersebut, seluruh sanak keluarganya yang merupakan keturunan dari Pasek Kayu Selem, menjadi sangat marah. Akhirnya kentongan dibunyikan, maka berkumpulah seluruh sanak keluarga mereka seraya membawa senjata lengkap guna menyerang warga Pande Beratan. Maka terjadilah pertempuran yang sangat sengit di Beratan, banyak korban jatuh dikedua belah pihak. Namun karena kalah jumlah, akhirnya warga Pande Beratan dibuat kocar kacir, banyak keluarga yang tewas, yang selamat melarikan diri dan bersembunyi di desa-desa yang tidak terjangkau oleh musuh. Peristiwa ini terjadi tahun 1570 M pada masa pemerintahan Dalem Bekung.

Diantara warga Pande yang melarikan diri itu, antara lain:
  • Mpu Jagarosa dengan membawa ‘Pustaka Bang’ melarikan diri ke desa Taman.
  • Pande Sarwadha ke desa Kapal,
  • Arya Pande Ramaja mengungsi ke desa Mengwi,
  • Arya Karsana ke Badung.
  • Arya Pande Swarna ke Buleleng, lalu mengabdi kepada Raja Buleleng I Gusti Agung Panji Sakti. Ada pula yang pindah ke desa Tusan daerah Klungkung,
  • Arya Pande Ruktya ke Bangli dengan membawa 2 arca kawitan, saudara sepupunya pindah ke Samu
  • Ida Arya Wana ke Bayan dan menjadi seorang undagi.
  • Mpu Tarub pindah ke desa Marga,
  • Arya Pande Dhanuwangsa pindah ke Desa Gadung Tabanan. 
Mpu Tarub yang sudah tinggal di desa Marga, pada hari Sabtu Kliwon wara Kuningan bertepatan dengan Suklapaksa melakukan yoga semadi di Pura Penatarannya, disana beliau mendengar sabda dari bhatara Kawitan yang mengatakan “janganlah engkau terlalu bersedih hati karena tertimpa musibah, sebab peristiwa ini merupakan kutukan dari Hyang Widi merupakan karmaphala, sebab kamu sebagai keturunan seorang brahmana telah melakukan kejahatan membunuh seseorang. Dan yang menjadi korbannya adalah warga Pasek keturunan Mpu Ketek yang juga keturunan brahmana dan masih kerabatmu yang berasal dari satu kawitan. Kemudian bilamana engkau menyelenggarakan yajna jangan mempergunakan tirta brahmana (pedanda), sebab kalau engkau memakai tirta brahmana sama dengan kamu melupakan atau melalaikan kawitanmu, aku adalah Brahmana Dwala atau Mpu Dwala leluhurmu. Semua sabdaku ini agar disampaikan kepada anak cucu keturunanmu” demikian sabda Brahmana Dwala kepada Mpu Tarub.
Begitu juga Arya Pande Ruktya di Bangli, tetap setia kepada dharmanya yaitu Pande emas dan perak, dan ketika itu yang berkuasa sebagai Anglurah di Bangli adalah I Gusti Paraupan, dibantu oleh sanak keluarganya bernama I Gusti Pemamoran, I Gusti Baingin dan lain lainnya. Sedangkan di Tamanbali yang bertahta sebagai raja ialah keturunan Tirtha Arum dan waktu itu terjadi perselisihan antara Anglurah Bangli dengan raja Tamanbali. Lalu I Gusti Paraupan di Bangli diserang oleh oleh raja Tamanbali bersama keluarganya, antara lain I Dewa Pering dari Nyalian, I Dewa Pindi dari Pegesangan. Maka terjadilah pertempuran yang sengit antara rakyat Bangli melawan rakyat Tamanbali, Nyalian, Pegesangan dan lain lain. Akhirnya I Gusti Peraupan menderita kekalahan dan gugur dalam pertempuran bersama sanak saudaranya. Sedangkan I Gusti Pemamoran disertai Arya Pande Ruktya dan Arya Pande Likub serta sanak saudaranya melarikan diri ke desa Camenggaon Gianyar, kemudian Arya Pande Likub melanjutkan perjalanan ke desa Timbul dengan membawa dua buah arca Kawitan. Akan tetapi di desa Timbul Arya pande Likub merasa kurang mendapat simpati dari masyarakat disana.

Karena terus dikejar musuh, Arya Pande Ruktya yang semula satu rombongan dengan I Gusti Pemamoran, akhirnya terpisah. Arya Pande Ruktya seterusnya bertempat tinggal di Blahbatuh berlindung kepada I Gusti Ngurah Jelantik. Tidak lama kemudian Arya pande Ruktya meninggal dunia karena sakit kena racun. Sanak keluarga Arya Pande Ruktya yang lain, lama kelamaan lupa dan lalai terhadap Bhatara Kawitan, akibatnya tidak menentu hidupnya, kemudian akhirnya mereka mengerti dan menjalankan dharma dan bakati kepada Bhatara Kawitan, sebab itu mereka membangun parahyangan ”Ratu Kepandean” dan “Dalem Bangli”, sejak saat itu hidup mereka berangsur-angsur membaik dan semakin bahagia.

Adapun Lurah Kepandean berputra 6 orang, yang sulung bernama:
  1. Pande Galuh
  2. Pande Bendesa Twa
  3. Pande Taman Bungbungan
  4. Pande Sasana Taman Bali
  5. Pande Bang Ngaran Banjar.
Kemudian mereka membangun Parahyangan di Banjar Jelantik desa Tojan Klungkung sebagai Penataran warga Pande, sekaligus Pura Kawitan. Pura Penataran ini mempergunakan kusen dan daun pintu dari batu, oleh sebab itu pura ini sering disebut Pura Penataran Kori Batu atau Sila Dwara.

Sekarang keturunan Pande Galuh, Pande Bendesa Twa, Pande Taman Bungbungan, Pande Sasana Taman Bali, Pande Bang Ngaran Banjar dan Pande Anom sudah tersebar keberbagai desa. Mereka memiliki keahlian dalam berbagai bidang seperti membuat senjata dan alat alat rumah tangga dari besi, sehingga mereka disebut Pande Besi. Yang ahli membuat busana, perhiasan dan alat alat dari yang terbuat dari logam emas dan perak disebut sebagai Pande Emas. Dan yang ahli membuat tetabuhan seperti gong, terompung, kempur dan gangsa disebut Pande Gong.

Selanjutnya mereka ini dikenal dengan Warga Pande, yang pada umumnya diikuti oleh bidang keahlian atau tempat domisili, sehingga akhirnya dikenal dengan nama Pande Beratan, Pande Tusan, Pande Kamasan, Pande Tamanbali, Pande Beng, Pande Tatasan dan lain lain. Mereka semua berasal dari satu kawitan yaitu Mpu Dwijendra atau Mpu Rajakertha
Dikutip dari buku: Prasati dan Babad Pande
Karya: Pande Made Purnajiwa

Minggu, 16 Desember 2012

Babad Bali Kisah Gde Pasar Badung

Babad Bali Kisah Gde Pasar Badung

Tersebutlah keturunan Gde Pasar badung diangkat menjadi Bandesa di Desa Kayuan (Karangasem). Sebab itu ia disebut Bandesa Kayuan. Entah berapa lama ia menjadi Bandesa di desa Kayuan, ia lalu menurunkan du anak laki-perempuan yang bernama:

  1. Luh Kayuan
  2. De Kayuan. 
Selagi jejaka, De Kayuan meninggal dunia. Bandesa Kayuan sangat sedih hatinya, karena ditinggal oleh anaknya. Jenazahnya sudah diupakarakan sebagai mana mestinya. Kemudian datanglah brahmana Buddha dari pasraman dalam Wanakeling, Madura. Brahmana yang sedang melakukan perjalanan dharma wisata itu bernama Danghyang Kanaka. Di dalam perjalanannya keliling Bali, beliau sampai di desa Kayuan dan beristirahat di depan rumah Bandesa Kayuan.


Ketika Bandesa Kayuan keluar rumah, ia menjumpai Danghyang Kanaka. Danghyang Kanaka menjelaskan, bahwa beliau datang ke sana di dalam perjalanannya berdharma wisata ingin mengetahui keadaan sebenarnya. Danghyang Kanaka juga menjelaskan, Pulau Bali sangat terkenal keindahannya.


Bandesa Kayuan lalu mempersilahkan Danghyang Kanaka memasuki rumahnya. Bagi Danghyang Kanaka, rumah itu terasa sunyi. Danghyang Kanaka lalu bertanya mengapa rumah Bandesa terasa sepi. Danghyang Kanaka juga melihat Bandesa Kanaka memendam kesedihan. Bandesa Kayuan lalu menjelaskan bahwa anaknya yang laki-laki meninggal dunia saat masih jejaka. Yang masih hidup adalah anaknya yag perempuan saja. Yang juga menyedihkan, Bandesa Kayuan sudah lanjut umur sehingga tidak mungkin lagi menurunkan parati Santana. Danghyang Kanaka lalu bertanya apakah Bandesa Kayuan menginginkan keturunan lagi. Bandesa kayuan menjawab ia. Oleh sebab itu, Luh kayuan lalu dinikahkan dengan Danghyang Kanakaa. Mereka mengadakan upacara perkawinan di rumah Bandesa kayuan.

Kemudian dari perkawinannya, lahir 2 orang anak laki-laki yang benama:

  1. Pangeran Mas, diserahkan kepada Bandesa Kayuan sebagai keturunanya.
  2. Pangeran Wanakeling,  diajak kembali ke Wanakeling, Madura. 
Sebelum berangkat, Danghyang Kanaka berpesan kepada Bandesa Kayuan, supaya desa tersebut mulai saat itu diganti namanya menjadi Desa Kayumas. Sedang pangeran Mas sudah menggantik kedudukan menjadi Bandesa,bergelar Bandesa Kayumas. Lama-kelamaan seketal Mpu Asthapaka (penganut agama Buddha) datang di Bali dan bertemnpat tinggal di desa Kayumas, desa Kayumas kemudian diubah namanya menjadi Desa Budakeling. Nama itu dijadikan sebagai kenang-kenangan bahwa beliau berasal dari Keling yang memeluk Agama Buddha. Sekarang Mpu Asthapaka disebut Brahamana Buddha.


Pada tahun Caka 1768(tahun 1846 M) yang berkuasa di Pejeng adalah Cokorda Pinatih. Salah seorang putrinya dipinang oleh I Dewa Manggis Dhirangki, Raja Gianyar. Namun pinanganya ditolak Cokorda Pinatih, I Dewa Manggis Dhirangki menjadi sangat marah. 

Panglima pasukan Gianyar I Gusti Ngurah Jelantik XVIII mohon izin kepada Raja Gianyar untuk menggempur Pejeng. Permohonan ini disetujui Raja Gianyar. Sebab itu I Gusti Ngurah Jelantik dengan pasukan pilihannya mendatangi Pejeng dan melakukan penyerbuan. Akan tetapi pihak lawan tidak melakukan perlawanan. Sebaliknya I Gusti Ngurah Jelantik diterima dengan ramah oleh Cokorda Pinatih serta dipersilahkan masuk ke Puri Pejeng. Dengan kejadian ini, I Gusti Ngurah Pejeng berpendapat bahwa sengketa antara Pejeng dengan Gianyar tidak perlu diselesaikan dengan kekerasan. Mengingat keramah-tamahan Cokorda Pinatih, sengketa ini dapat diselesaikan melalui perundingan.

I Gusti Ngurah Jelantik dengan seluruh pasukanya lalu tinggal di Puri Pejeng pada malam hari itu. Disana dibahas tentang rencana perkawinan tersebut, untuk menghindari pertumpahan darah. Tatkala hari mulai gelap, pasukan Belahbatuh sedang beristirahat. Namun tiba-tiba pasukan Pejeng bersenjata lengkap mengurung Puri Pejeng. Sekeliling Puri dibakar. Lalu I Gusti Ngurah Jelantik memerintahkan agar pasukannya menerobos blockade pasukan Pejeng. Karena memakan waktu yang sangat lama, pertempuran sampai di tengah sawah di sebelah selatan Pejeng. Adik I Gusti Ngurah Pejeng gugur, dan akhirnya bantuan pasukan dari Gianyar tiba dibawah pimpinan putra mahkota Gianyar.

Dengan tibanya Pasukan Gianyar, pasukan Pejeng menyerah kalah setelah menderita kerugian, baik harta benda maupun jiwa. Sedang Cokorda Pinatih menyelamatkan jiwanya di tengah hutan. Karen tidak tahan bersembunyi di hutan, lalu ia menyerah dan Cokorda Pinatih dihukum selong ke Nusa Penida. Sesudah pejeng kalah,saudaranya bernama Cokorda Oka penguasa di desa Belusung ingin membalaskan dendam karena kekalahan adiknya. Begitu pula Cokorda Rembang di Pejengaji Tegalalang menyatakan melepaskan diri dari kekuasaan Gianyar. Rakyat Pejeng sebanyak 6oo orang melarikan diri dan memohon perlindungan kepada Raja Bangli. Yang mohon perlindungan termasuk Pasek Gelgel keturunan Bandesa Pejeng.

Adapun perbedaan jati diri atau sebutan yang terdapat pada Pasek Gelgel keturunan I Gusti Pasek Gelgel di Banjar Pegatepan desa Gelgel (Klungkung), yang tidak lain akibat perbedaan fungsi yang dijabat, antara lain:

  1. Bandesa Manik mas yaitu Pasek Gelgel yang berhasil menyelamatkan harta kekayaan Dalem Gelgel di antaranya berupa perhiasan yang terdiri dari permata manik dan mas
  2. Pasek Pegambuhan yaitu Pasek Gelgel yang berwenang mengatur bidang kebudayaan dan kesenian. Kata gambuh diambil dari nama tarian gambuh yang sangat terkenal.
  3. Pasek Galengan yaitu Pasek Gelgel yang berwenang mengatur dan menentukan batas suatu wilayah. Kata galengan berasal dari kata galeng yang artinya batas. 
  4. Pasek Bea yaitu Pesek Gelgel yang berwenang mengatur dan menentukan upacara atiwa-tiwa atau Pitra Yadnya atau Palebon. Upacara ini juga lazim disebut mbeanin dan kata bea diambil dari kata mbeanin
  5. Pasek Dawuh dan sering disebut Pasek Dawuhalang yaitu Pasek Gelgel yang berwenang menentukan dan nibakang dawuh atau dewasa (memberikan hari baik) untuk melakukan sesuatu.

Demikian antara lain keturunan I Gusti Pasek Gelgel di Banjar Pegatepan Desa Gelgel (Klungkung), yang memakai berbagai jati diri atau sebutan.

Kamis, 05 Juli 2012

Dalem Waturenggong (Caka 1382 – 1472 atau 1460 – 1550 M)

Dalem Shri Aji Batur Enggong

Kemangkatan Gajah Mada pada tahun 1364, yang disusul pula kemudian dengan kemangkatannya Sri Hayam Wuruk pada tahun 1389, ternyatalah kedua peristiwa itu membuka jalan bagi runtuhnya kerajaan Majapahit dikemudian hari. 

Sejak itu sebenarnya kerajaan Majapahit sudahmulai mengalami kemunduran, karena tanpa adanya lagi muncul pemimpin-pemimpin baru yang cakap dan bijaksana untuk menggantikan Gajah Mada sebagai patih Mangkubumi.   Adanya usaha Baginda raja Sri Haya Wuruk ketika itu untuk mengadakan musyawah besar di istana Majapahit, ternyata tiada memberi hasil yang diharapkan. Malah sebaliknya, kemunduran yang dialami oleh kerajaan Majapahit ketika itu, dipergunakan oleh para Adipati di Daerah-daerah untuk memperkuat kedudukannya, terbukti dengan tindakan Sri Smara Kepakisan yang menjadi Adipati di Bali. Beliau menobatkan dirinya sebagai raja Rsi, dengan suatu upacara besar yang disebut Abhiseka. Walaupun demikian suatu perubahan yang terjadi, namun kerajaan Majapahit pernah menguasai Bali yang lamanya tiada kurang kira-kira dari 60 tahun. 


Hal itu diperkirakan dari mulai jatuhnya kerajaan Bedaulu pada tahun 1343 dan kemudian dengan terdapatnya 2 buah prasasti, yang kini sebuah masih disimpan di pura Abang di desa Batur bertahun 1384 M, dan yang sebuah lagi disimpan di pura Batur di desa Gobleg bertahun 1398 M. Agama Islam dikerajaan Pasuruan pada tahun 1546, penyerangan tentara kerajaan Gelgel ke Blangbangan pada tahun 1569 dan lain sebagainya. Selanjutnya kitab perpustakaan kuna yang berjudul “BABAD DALEM” dan "KIDUNG PAMANCANGAN” menyebutkan antara lain bahwa Sri Batur Enggong adalah putra Sri Smara Kapakisan. 

Pada Masa Pemerintahan Dalem Ketut Ngulesir telah dinobatkan putra beliau yaitu Dalem Waturenggong sebagai Raja Muda tahun caka 1380 atau tahun 1458 M. Dengan wafatnya ayah beliau pada tahun 1460 maka Dalem Waturenggonglah yang menggantikan kedudukan beliau sebagai Raja di Kerajaan Gelgel dengan kekuasaan penuh terhadap Pulau Bali.

Pemerintah Dalem Waturenggong pada abad XVI (sekitar tahun 1550 M) merupakan awal lepasnya ikatan dan pengaruh Majapahit terhadap kerajaan Bali seiring runtuhnya kerajaan Majapahit oleh Kerajaan Islam Demak. Dengan runtuhnya Kerajaan Majapahit yang merupakan pemerintahan Pusat pada tahun 1478 yang dicandra sengkala Sirna Hilang Kertaning Bhumi atau caka 1400, maka Bali melepaskan diri dan menjadi wilayah yang merdeka. Kerajaan Gelgel kemudian memperluas wilayah kekuasaannya dengan menundukkan kerajaan Blambangan pada tahun 1512 M dan menguasai Pulau Lombok tahun 1520 M.

Dalem Waturenggong  menggantikan kedudukan ayahnya di Bali, mengemudikan sebuah kerajaan besar, yang luas wilayahnya meliputi dari barat Puger, Pasuruhan, Belambangan, hampir seluruh Jawa Timur dan sebelah Timur yaitu Sasak, Sambawa, Gurun dan Gowa. Dalem Waturenggong adalah raja yang sangat ditakuti oleh raja Pasuruan dan Raja Mataram.Baginda Dhalem Baturenggong sangat mahir dalam keagamaan dan sangat sakti, bisa berjalan di atas air dan kalau menaiki pedati, hanya tenggelam sampai mata kuku pedati tersebut.

Untuk menjaga wilayah timur, Baginda menempatkan putra-putranya menjadi raja yaitu
  1. I Dewa Mas Pakel menjadi raja di Sambawa 
  2. I Dewa Mas Panji menjadi raja di Gowa, 
  3. sedangkan putra-putranya di Bali yang terlahir dari Wini Ayu Midar masih sangat kecil yaitu Ida I Dewa Pemayun dan Ida I Dewa Dimade Sagening. 
  4. Dari istri baginda yang bernama Ni Ayu Tengenan melahirkan Ida Tebuwana, d 
  5. Dari istrinya Ni Gusti Ayu Ularan melahirkan putra bernama I Dewa Ularan.
Dalem Waturenggong mewarisi keris pusaka Ki Lobar , Si tandang langlang dan Si begawan Canggu yang diberikan oleh Patih Gajahmada kepada Kakek beliau Dalem Sri Kresna Kepakisan pada saat pertama kali memegang pemerintahan di Pulau Bali yang mana keberadaan senjata sakti tersebut sangat ditakuti oleh musuh musuh beliau karena dapat mencari sasarannya sendiri atas perintah si empunya. Kebangkitan sebuah kerajaan besar di Bali dibawah kekuasaan Sri Batur Enggong,dapat menunjukkan bahwa beliau adalah seorang raja yang cakap dan bijaksana di dalam mengemudikan pemerintahan.

Pada masa pemerintahan Dalem Waturenggong Kerajaan Bali mencapai masa keemasannya hal tersebut tercapai berkat kebijaksanaan beliau dalam mengatur pemerintahan dan penegakan hukum serta perhatian beliau terhadap kesejahteraan rakyat. Begitu juga orang orang Bali aga (asli) diberikan kedudukan dalam pemerintahan dan diperlakukan secara adil.

Menteri Mentri pada Jaman pemerintahan ayahnya yang sudah berusia lanjut digantikan oleh putra putranya diantaranya Ki Gusti Batan Jeruk sebagai patih Agung digantikan oleh oleh putranya yaitu Rakyan petandakan juga Ki Gusti Abian Tubuh dan Ki Gusti Pinatih telah menunjukkan rasa baktinya menuruti jejak orang tuanya masing masing kehadapan Dalem Waturenggong. Sedagkan para arya lainnya menduduki jabatan Menteri dengan sebutan Anglurah.

Ketertiban dan keamanan dapat dijada dengan baik. Pencuri dan perampok dijatuhi hukuman yang berat, sedangkan orang miskin mendapat bantuan dari pemerintah. Apabila terdapat pengemis berkeliaran pada suatu daerah, maka kepala di daerah itu yang bersalah karena tiada sanggup menciptakan kemakmuran di daerahnya sendiri. Ketegasan Baginda Sri Batur Enggong bertindak di dalam menegakkan keadilan dankebenaran, dimungkinkan dengan adanya sepasukan tentara pengawal kuat.

Pasukan pengawal itu disebut “Dulang Mangap”, beranggautakan 1600 orang dibawah pimpinan Ki Ularan sebagai panglima Perangnya yang merupakan warga Bali Aga (Bali Asli) keturunan Ki Pasung Grigis yang merupakan patih Kerajaan Bedulu sebelum dikalahkan Majapahit.

Sri Batur Enggong ketika masih muda pernah kedatangan seorang pemuka Agama Islam, yang megnaku dirinya adalah utusan dari Mekka. Pemuka Agama itu mendesak Baginda agar suka memeluk Agama Islam. Akan tetapi desakan pemuka Agama Islam itu ditolak mentah-mentah oleh Baginda. Kiranya pemuka Agama Islam yang datang itu tiada lain dari Pelatehan atau Fatahillah yang kemudian disebut Sunan Gunung Jati. Dugaan itu didaarkan atas perkembangan Agama Islam kira-kira pada tahun 1546 yang terjadi di Jawa Timur, pada jamannya Sultan Trenggono menjadi Sultan di kerajaan Demak. Pada waktu itulah banyak orang-orang Jawa yang masih memuliakan Agama Siwa maupun Buddha, terpaksa mengadakan perpindahan besar-besaran ke Bali. Diantaranya ada pula yang mengungsi ke pegunungan Tengger dan daerah-daerah pegunungan lainnya di Jawa Timur. Kisah perjalanan seorang Pendeta yang kemudian amat masyur namanya di Bali, terjadi pula pada masa itu.

Akibat jatuhnya Majapahit maka banyak para arya dan Brahmana dari Majapahit yang datang ke Bali diantaranya Dang Hyang Nirarta yang di Bali terkenal dengan sebutan Pedanda Sakti Wawu Rauh / Dang Hyang Dwijendra dan di Lombok terkenal dengan sebutan Sangupati dan di Pulau Sumbawa beliau disebut dengan Tuan Semeru.

Kedatangan Dang Hyang Nirarta ke Bali disambut oleh I Gusti Dauh Bale Agung. Beliau kemudian diangkat sebagai Bagawanta Kerajaan Gelgel. Peranan belaiu sebagai Bagawanta sangat besar dalam bidang keagamaan, arsitektur dan kesusatraan sehingga Kerajaan Gelgel pada abad ke 6 tersebut mencapai puncak kejayaannya. Beliau selalu memberikan petunjuk dan nasehat kepada Dalem Waturenggong dalam menjalankan pemerintahan, dan salah satu ajaran beliau yang diwarisi sampai sekarang adalah konsep TRI PURUSA (Siwa, Sada Siwa dan Parama Siwa yaitu :
  1. Parama Siwa yaitu Sifat Tuhan sebagai Brahma yang merupakan sumber dari segala sumber di alam semesta 
  2. Sada Siwa yaitu sifat Tuhan sebagai Asta Iswara dan Cadu Sakti 
  3. Siwa yaitu Sifat Tuhan sebagai jiwa alam semesta.
Dalam wujud tempat persembahyangan dinamakan Padmasana yang memadukan ajaran Tri Murti dari Mpu Kuturan dan Konsep Tri Purusa dari Dang Hyang Nirarta yang dipergunakan hingga saat ini.

Baginda raja Sri Batur Enggong sesudah berusia lanjut, lalu menjadi raja Rsi denan suatu upacara penobatan yang disebut Abhiseka. Bertindaklah Mpu Nirartha dalam memimpin upacara perayaan besar itu sebagai pendeta Siwa Budha, karena Mpu Angsoka seorang Pendeta Buddha yang diundangnya pada waktu itu tidak hadir. Beliau mempersilahkan Mpu Nirartha untuk merangkapnya. Karena itulah Mpu Nirartha dapat bertindak sebagai Pendeta Siwa-Buddha sebagai diterangkan diatas. Dan mulai saat itulah Mpu Nirartha baru diangkat menjadi “Purohito” (Pendeta kerajaan) dari Baginda raja Sri Batur Enggong yang sudah menjadi raja Rsi.

Tiada lama berselang sesudah Baginda Sri Batur Enggong menjadi Raja Rsi, datanglah dari Jawa ke Bali seorang Pendeta Agama Buiddha yang bernama Mpu Asthapaka, yakni anak dari Mpu Angsoka. Keberangkatan beliau ke Bali, disebabkan karena desakan Agama Islam yang makin meluas di Jawa Timur.
Akhirnya beliau menetap pada suatu tempat yang kini disebut Buddha Keling (Karangasem). Nama itu mengesankan bahwa Mpu Asthapaka mengikuti ajaran Agama Buddha yang bersal dari Kalingga (India Timur). Semenjak itu berkembanglah lagi Agama Buddha di Bali, disamping Agama Siwa yang dipimpin oleh Mpu Nirartha.

Perkembangan Agama Siwa dan Buddha di Bali pada waktu itu mengalami kemajuan yang pesat, lebih-lebih setelah Baginda Sri Batur Enggong megndakan suatu upacara keagamaan yang disebut “Homa”, yakni suatu upacara pemujaan terhadap Desa Api atau Hyang Agni.

Setelah selesai upacara Boma itu dilangsungkan, maka makurlah keadaan di pulau Bali sejak itu. Pohon kelapa dan padi berbuah lebat sepanjang masa, tiada pernah suatu hama penyakit yang menyerangnya.
Pama masa itu sekalian penduduk pulau Bali mengalami jaman keemasan, hidup berbhagia dibawah pemerintahan Baginda raja Sri Batur Enggong, yang selalu bertindak tegas, adil dan bijaksana.

Dalam keadaan yang demikian itulah Mpu Nirartha dan Mpu Asthapaka, dapat meneruskan usaha leluhurnya dimasa lampau, untuk menanamkan kesadaran rakyat dibidang beragama. Hingga kini nama Mpu Nirartha yang lebih terkenal dengan sebutan Padanda Wawu Rawuh sangat masyur di Bali.

Beliau banyak menulis karanganyang mengandung filsafat dan ajaran-ajaran Agama Siwa, seperti tersebut didalam kitab Karangannya yang berjudul : Gugutuk Menur, Sarakusua, ampik, Ewer, Legarang, Dharmatatwa, mahesa-Langit, kasisthasraya, Anjang Nirartha, Mahisamegat Kung, dan Kewidharma Putus.

Sedangkan Kiyai Panulisa Dawuh Bale Agung yang menjadi muridnya mengikuti juga jejak Maha gurunya. Diantara Karanganya yang bernilai ialah : Wukir Opadelengan, Tan Dhirga, Pupuh Sumaguna, Rareng Canggu, Wilet Majura, Anting-anting Timah, Karas Negara, Sagara Gunung dan Jagul Tuha.

Berkat keahliannya Kiyai panulisan Dawuh Bale Agung didalam karang mengarang, lalu pemerintah di kerajaan Gelgel memberi gelar kehormatan dnean sebutan “Rakryan Manguri”. Demikianlah keadaan pulau Bali dibawah kekusaan Baginda Raja Sri Batur Enggong, yang dialam menjalankan pemerintahannya beliau dibantu oleh seorang Patih Agung Yakni Kiyai Batan Jeruk. Patih Agung inilah yang keudian mengadakan pemberontakan, setelah keraton Gelgel dipimpin oleh sebuah Badan peraakilan, karena putra Mahkota yang akan dinobatkan masih kecil. Baginda raja Sri Batur Enggong yang masyhur namanya itu, mangkat kira-kira tiada antara lama sebelum tahun 1586).

Pada Masa Pemerintahan Dalem Waturenggong wafatlah Ida Shri Aji Tegal Besung yang merupakan Paman beliau atau anak dari Dalem Kresna Kepakisan Raja Bali I setelah ekspedisi Majapahit tahun 1343 M.  Pemerintahan Dhalem Baturenggong, dibantu oleh saudara sepupunya putra dari Ida Shri Aji Tegal Besung, dengan jabatan Manca Agung atau Dewan Penasehat Raja: yaitu Ida I Dewa Anggungan, Ida I Dewa Gedong Artha, Ida I Dewa Pagedangan, Ida I Dewa Nusa dan Ida I Dewa Bangli.

Putra putra beliau senantiasa mengabdikan diri kepada Dalem Waturenggong karena masih bersepupu dengan beliau dan oleh Dalem Waturenggong ke lima saudara sepupunya masing masing diberikan tempat tinggal dan sandang pangan secukupnya.

Pembangunan Pura di Masa Pemerintahan Dalem Waturenggong

Pura-pura yang dibangun atas petunjuk Dang Hyang Dwijendra adalah :
  • Pura Purancak di Jembrana 
  • Pura Rambut Siwi di dekat desa Yeh Embang dibangun kembali atas petunjuk beliau dan di sana disimpan potongan rambut Dang Hyang Dwijendra, 
  • Pura Pakendungan di desa Braban Tabanan, di sini disimpan keris beliau. 
  • Pura Sakti Mundeh dekat desa Kaba-kaba Tabanan 
  • Pura Petitenget di pantai laut dekat desa Kerobokan (Badung) di sini disimpan pecanangan (kotak tempat sirih) 
  • Pura Dalem Gandhamayu yang terletak di desa Kamasan (Klungkung) di tempat itu beliau menemukan bau harum sebagai isyarat dari Hyang widhi. 

Akhir Masa Pemerintahan Dalem Waturenggong

Dalem Baturenggong Berpulang ke Sunyaloka pada sangkala ” Saparenge Sang Pandita muang catur jadma yaitu caka 1472 atau 1550 Masehi, dengan meninggalkan putra yang masih kecil-kecil,yaitu :
  1. Raden Pangharsa/ Dalem Bekung 
  2. Raden Anom Sagening/ Dalem Sagening 
  3. Seorang putri tidak diceritakan
Setelah Dalem Watur Enggong Wafat maka putra tertua yaitu Raden Pangharsa dinobatkan sebagai Raja Gelgel tahun 1560 dengan Gelar Sri Aji Pamahyun / Dalem Bekung karena beliau tidak mempunyai keturunan.