Tampilkan postingan dengan label Prasasti Bhujangga Waisnawa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Prasasti Bhujangga Waisnawa. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Juni 2014

Jejak Wangsa Bhujangga Waisnawa

Jejak Panjang Wangsa Bhujangga Waisnawa di Bali

Jejak Panjang Wangsa Bhujangga Waisnawa di Bali

Sekte Waisnawa dan Tri Sadaka
Menurut Dr. Goris, sekte-sekte yang pernah ada di Bali setelah abad IX meliputi Siwa Sidhanta, Brahmana, Resi, Sora, Pasupata, Ganapatya, Bhairawa, Waisnawa, dan Sogatha (Goris, 1974: 10-12).
Di antara sekte-sekte tersebut, yang paling besar pengaruhnya di Bali sekte Siwa Sidhanta. Ajaran Siwa Sidhanta termuat dalam lontar Bhuanakosa.
Sekte Siwa memiliki cabang yang banyak. Antara lain Pasupata, Kalamukha, Bhairawa, Linggayat, dan Siwa Sidhanta yang paling besar pengikutnya. Kata Sidhanta berarti inti atau kesimpulan. Jadi Siwa Sidhanta berarti kesimpulan atau inti dari ajaran Siwaisme. Siwa Sidhanta ini megutamakan pemujaan ke hadapan Tri Purusha, yaitu Parama Siwa, Sada Siwa dan Siwa. Brahma, Wisnu dan dewa-dewa lainnya tetap dipuja sesuai dengan tempat dan fungsinya, karena semua dewa-dewa itu tidak lain dari manifestasi Siwa sesuai fungsinya yang berbeda-beda. Siwa Sidhanta mula-mula berkembang di India Tengah (Madyapradesh), yang kemudian disebarkan ke India Selatan dipimpin oleh Maharesi Agastya.
Sekte Pasupata juga merupakan sekte pemuja Siwa. Bedanya dengan Siwa Sidhanta tampak jelas dalam cara pemujaannya. Cara pemujaan sekte Pasupata dengan menggunakan Lingga sebagai simbol tempat turunnya/berstananya Dewa Siwa. Jadi penyembahan Lingga sebagai lambang Siwa merupakan ciri khas sekte Pasupata. Perkembangan sekte Pasupata di Bali adalah dengan adanya pemujaan Lingga. Di beberapa tempat terutama pada pura yang tergolong kuno, terdapat lingga dalam jumlah besar. Ada yang dibuat berlandaskan konsepsi yang sempurna dan ada pula yang dibikin sangat sederhana sehingga merupakan lingga semu.
Adanya sekte Waisnawa di Bali dengan jelas diberikan petunjuk dalam konsepsi Agama Hindu di Bali tentang pemujaan Dewi Sri. Dewi Sri dipandang sebagai pemberi rejeki, pemberi kebahagiaan dan kemakmuran. Di kalangan petani di Bali, Dewi Sri dipandang sebagai dewanya padi yang merupakan keperluan hidup yang utama. Bukti berkembangnya sekte Waisnawa di Bali yakni dengan berkembangnya warga Rsi Bujangga.
Adanya sekte Bodha dan Sogatha di Bali dibuktikan dengan adanya penemuan mantra Bhuda tipeyete mentra dalam zeal meterai tanah liat yang tersimpan dalam stupika. Stupika seperti itu banyak diketahui di Pejeng, Gianyar. Berdasarkan hasil penelitian Dr. W.F. Stutterheim mentra Budha aliran Mahayana diperkirakan sudah ada di Bali sejak abad ke 8 Masehi. Terbukti dengan adanya arca Boddhisatwa di Pura Genuruan, Bedulu, arca Boddhisatwa Padmapani di Pura Galang Sanja, Pejeng, Arca Boddha di Goa Gajah, dan di tempat lain.
Sekte Brahmana menurut Dr. R. Goris seluruhnya telah luluh dengan Siwa Sidhanta. Di India sekte Brahmana disebut Smarta, tetapi sebutan Smarta tidak dikenal di Bali. Kitab-kitab Sasana, Adigama, Purwadigama, Kutara, Manawa yang bersumberkan Manawa Dharmasastra merupakan produk dari sekte Brahmana.
Mengenai sekte Rsi di Bali, Goris memberikan uraian yang sumir dengan menunjuk kepada suatu kenyataan, bahwa di Bali, Rsi adalah seorang Dwijati yang bukan berasal dari Wangsa (golongan) Brahmana. Istilah Dewarsi atau Rajarsi pada orang Hindu merupakan orang suci di antara raja-raja dari Wangsa Ksatria.
Pemujaan terhadap Surya sebagai Dewa Utama yang dilakukan sekte Sora, merupakan satu bukti sekte Sora itu ada. Sistem pemujaan Dewa Matahari yang disebut Suryasewana dilakukan pada waktu matahari terbit dan matahari terbenam menjadi ciri penganut sekte Sora. Pustaka Lontar yang membentangkan Suryasewana ini juga terdapat sekarang di Bali. Selain itu yang lebih jelas lagi, setiap upacara agama di Bali selalu dilakukan pemujaan terhadap Dewa Surya sebagai dewa yang memberikan persaksian bahwa seseorang telah melakukan yajnya.
Sekte Gonapatya adalah kelompok pemuja Dewa Ganesa. Adanya sekte ini dahulu di Bali terbukti dengan banyaknya ditemukan arca Ganesa baik dalam wujud besar maupun kecil. Ada berbahan batu padas atau dai logam yang biasanya tersimpan di beberapa pura. Fungsi arca Ganesa adalah sebagai Wigna, yaitu penghalang gangguan. Oleh karena itu pada dasarnya Ganesa diletakkan pada tempat-tempat yang dianggap bahaya, seperti di lereng gunung, lembah, laut, pada penyebrangan sungai, dan sebagainya. Setelah zaman Gelgel, banyak patung ganesha dipindahkan dari tempatnya yang terpencil ke dalam salah satu tempat pemujaan. Akibatnya, patung Ganesa itu tak lagi mendapat pemujaan secara khusus, melainkan dianggap sama dengan patung-patung dewa lain.
Sekte Bhairawa adalah sekte yang memuja Dewi Durga sebagai Dewa Utama. Pemujaan terhadap Dewi Durga di Pura Dalem yang ada di tiap desa pakaman di Bali merupakan pengaruh dari sekte ini. Begitu pula pemujaan terhadap Ratu Ayu (Rangda) juga merupakan pengaruh dari sekte Bhairawa.
Sekte ini menjadi satu sekte wacamara (sekte aliran kiri) yang mendambakan kekuatan (magic) yang bermanfaat untuk kekuasaan duniawi. Ajaran Sadcakra, yaitu enam lingkungan dalam badan dan ajaran mengenai Kundalini yang hidup dalam tubuh manusia juga bersumber dari sekte ini.
Pada tahun Saka 910 (988 M), Bali diperintah raja Dharma Udayana. Permaisurinya berasal dari Jawa Timur bernama Gunapria Dharmapatni (putri Makutawangsa Whardana). Pemerintahan Dharma Udayana dibantu beberapa pendeta yang didatangkan dari Jawa Timur. Antara lain Mpu Kuturan. Mpu Kuturan diserahi tugas sebagai ketua majelis tinggi penasehat raja dengan pangkat senapati, sehingga dikenal sebagai Senapati Kuturan.
Seperti telah diuraikan sebelumnya, sebelum pemerintahan suami istri Dharma Udayana/Gunapria Dharmapatni (sejak awal abad ke 10), di Bali telah berkembang berbagai sekte. Pada mulanya sekte-sekte tersebut hidup berdampingan secara damai. Lama-kelamaan justru sering terjadi persaingan. Bahkan tak jarang terjadi bentrok secara fisik. Hal ini dengan sendirinya sangat menganggu ketentraman Pulau Bali. Sehubungan dengan hal tersebut, raja lalu menugaskan kepada Senapati Kuturan untuk mengatasi kekacauan itu. Atas dasar tugas tersebut, Mpu Kuturan mengundang semua pimpinan sekte dalam suatu pertemuan yang dilakukan di Bataanyar (Samuan Tiga). Pertemuan ini mencapai kata sepakat dengan keputusan Tri Sadaka dan Kahyangan Tiga.
Nah, terkait dengan Bujangga Waisnawa sampai masuk ke Bali, sejarahnya tentu harus dicari lagi. Ternyata, walaupun tidak khusus juga terdapat di buku Leluhur Orang Bali karangan I Nyoman Singgih Wikarman tentang perjalanan Maharsi Markandya ke Bali.
Perjalanan Beliau ke Bali pertama menuju Gunung Agung. Di sanalah maharsi dan murid-muridnya membuka hutan untuk pertanian. Tapi sayang, murid-muridnya kena penyakit, banyak di antaranya meninggal. Akhirnya Beliau kembali ke Pasramannya di Gunung Raung. Di sanalah beryoga, ingin tahu apa sebabnya hingga bencana menimpa para pengikutnya. Hingga mendapat pawisik bahwa terjadinya bencana itu adalah karena Beliau tidak melaksanakan upacara keagamaan sebelum membuka hutan itu.
Setelah mendapat pawisik, Maharsi Markandya pergi kembali ke Gunung Tahlangkir (Tohlangkir) Bali. Kali ini mengajak serta pengikut sebanyak 400 orang. Sebelum mengambil pekerjaan, terlebih dahulu menyelenggarakan upacara ritual, dengan menanam Panca dhatu di lereng Gunung Agung itu. Demikianlah akhirnya semua pengikutnya selamat. Maka, itu wilayah ini lalu dinamai Besuki, kemudian menjadi Besakih, yang artinya selamat. Tempat maharsi menanam Panca dhatu, lalu menjadi pura, yang diberi nama Pura Besakih.
Entah berapa lamanya Maharsi Markandya berada di sana, lalu Beliau pergi menuju arah Barat dan sampai di suatu daerah yang datar dan luas, di sanalah lagi merabas hutan. Wilayah yang datar dan luas ini lalu diberi nama Puwakan. Kemungkinan dari kata Puwakan ini lalu menjadi Swakan dan terakhir menjadi subak.
Di tempat ini Rsi Markandya menanam jenis-jenis bahan pangan. Semuanya bisa tumbuh dan menghasilkan dengan baik.
Oleh karenanya tempat itu juga disebut Sarwada yang artinya serba ada. Keadaan ini bisa terjadi karena kehendak Sang Yogi. Kehendak bahasa Balinya kahyun atau adnyana. Dari kata kahyun menjadi kayu. Kayu bahasa Sansekertanya taru, kemungkinan menjadi Taro. Taro adalah nama wilayah ini kemudian.
Di wilayah Taro ini Sang Yogi mendirikan sebuah pura, sebagai kenangan terhadap pasraman Beliau di Gunung Raung. Puranya sampai sekarang disebut Gunung Raung. Di sebuah bukit tempatnya beryoga juga didirikan sebuah pura yang kemudian dinamai Pura Payogan, yang letaknya di Campuan Ubud. Pura ini juga disebut Pura Gunung Lebah.
Berikutnya Rsi Markandya pergi ke Barat dari Payogan itu, dan sampai di sana juga membangun sebuah pura yang diberi nama Pura Murwa dan wilayahnya diberi nama Pahyangan, yang sekarang menjadi Payangan.
Orang-orang Aga, murid Sang Yogi, menetap di desa-desa yang dilalui. Mereka bercampur dan membaur dengan orang-orang Bali Asli. Mereka mengajarkan cara bercocok tanam yang baik, menyelenggarakan yajna seperti yang diajarkan oleh Rsi Markandya. Dengan demikian Agama Hindu pun dapat diterima dengan baik oleh orang-orang Bali Asli itu.
Sebagai Rohaniawan (Pandita), orang Aga dan Bali Mula, adalah keturunan Maharesi Markandya sendiri yang disebut Warga Bujangga Waisnawa.
Dalam zaman raja-raja berikutnya, Bujangga Waisnawa ini selalu menjadi Purohita mendampingi raja, ada yang berkedudukan sebagai Senapati Kuturan, seperti Mpu Gawaksa dinobatkan menjadi Senapati Kuturan oleh Sang Ratu Adnyanadewi tahun 1016 Masehi, sebagai pengganti Mpu Rajakerta (Mpu Kuturan). Ratu ini pula yang memberikan kewenangan kepada Sang Guru Bujangga Waisnawa untuk melakukan pacaruan Walisumpah ke atas. Karena sang pendeta mampu membersihkan segala noda di bumi ini. Lalu Mpu Atuk yang masih keturunan Rsi Markandya, di masa pemerintahan Sri Sakala Indukirana (1098 M), dinobatkan sebagai Senapati Kuturan dari Keturunan Bujangga Waisnawa.
Pada masa pemerintahan Suradhipa (1115-1119 M), yang dinobatkan sebagai Senapati Kuturan dari keturunan Sang Rsi Markandya adalah Mpu Ceken, kemudian diganti oleh Mpu Jagathita. Kemudian ketika pemerintahan Raghajaya (1077 M), yang diangkat sebagai Senapati Kuturan yakni Mpu Andonaamenang, dari keluarga Bujangga Waisnawa. Demikianlah seterusnya.
Ketika pemerintahan raja-raja selanjutnya, selalu saja ada seorang Purohita Raja atau Dalem yang diambil dari keluarga Bujangga Waisnawa, keturunan Maharsi Markandya. Sampai terakhir masa pemerintahan Dalem Batur Enggong di Bali. Ketika itu yang menjadi Bagawanta Dalem, mewakili sekte Waisnawa, adalah dari Bujangga Waisnawa pula dari Griha Takmung. Namun sayang dan mungkin sudah kehendak Dewata Agung, terjadi kesalahan Sang Guru Bujangga, di mana Beliau selaku Acarya (Guru) telah mengawini sisyanya sendiri yakni Putri Dalem yaitu Dewa Ayu Laksmi. Atas kesalahan ini sang Guru Bujangga Waisnawa akan dihukum bunuh. Tapi Beliau segera menghilang dan kemudian menetap di wilayah Tabanan.
Semenjak kejadian inilah Dalem tidak lagi memakai Bhagawanta dari Bujangga Waisnawa keturunan Sang Rsi Markandya. Setelah kedatangan Danghyang Nirartha di Bali, posisi Bhagawanta diambil alih Brahmana Siwa dan Budha. Selesailah sudah peranan Bujangga Waisnawa sebagai pendamping raja di Bali. Bahkan setelah strukturisasi masyarakat Bali ke dalam sistem wangsa oleh Danghyang Nirartha atas restu Dalem, keluarga Bujangga Waisnawa tidak dimasukkan lagi sebagai Warga Brahmana.
Namun sisa-sisa kebesaran Bujangga Waisnawa dalam peranannya sebagai pembimbing masyarakat Bali, terutama dari kalangan Bali Mula dan Bali Aga masih dapat kita lihat sampai sekarang. Pada tiap-tiap pura dari masyarakat Bali aga/mula itu, selalu ada palinggih sebagai Sthana Bhatara Sakti Bhujanga. Alat-alat pemujaan selalu siap pada palinggih itu. Orang-orang Bali aga/mula, cukup nuhur tirtha (mohon air suci), terutama tirtha pangentas melalui palinggih ini. Sampai sekarang para warga ini tidak berani mempergunakan atau nuhur Pedanda Siwa.
Warga Bujangga Waisnawa, keturunan Maharsi Markandya sekarang telah tersebar di seluruh Bali. Pura Padarmannya di sebelah Timur Penataran Agung Besakih, sebelah Tenggara Padharman Dalem. Demikian juga pura kawitannya tersebar di seluruh Bali, seperti di Takmung Kabupaten Klungkung, Batubulan Kabupaten Gianyar, Jatiluwih Kabupaten Tabanan dan lain-lain tempat lagi.
Begitulah Maharsi Markandya, leluhur Warga Bujangga Waisnawa penyebar Agama Hindu pertama di Bali, dan warganya sampai sekarang ada saja yang melaksanakan Dharma Kawikon dengan gelar Ida Rsi Bujangga Waisnawa.

Senin, 03 Desember 2012

Prasasti Bhujangga Waisnawa ring Sekartaji Nusa Penida

Prasasti Bhujangga Waisnawa ring Sekartaji Nusa Penida

1.a. Ong awighnam mastu namā śidyam. Ong prânamyam sirā sang widyam, bhukti bhukti hitartwatam, prêwaksyā tatwam widayah, wişņu wangsā pādāyā śiwanêm, sirā ghranā sitityam waknyam. Rajastryam mahā bhalam, sāwangsanirā mongjawam, bhupa-lakam, satyamloka. Ong namadewayā, pānamaskaraning hulun, ri bhatarā hyang mami. Ong kara panga bali puspanam. Prajā pasyā.

1.b. nugrah lakam, janowa papā wināsayā, dirghga premanaming sang ngadyut, sembahing ngulun ri sanghyang bhumi patthi, hanugrahaneng hulun, muncar anākna ikang tatwa, prêtthi entananira sang bhujanggā wişņawa, tan katamanan ulun hupadrawa, tan kêneng tulah pāmiddi, wastu pari purņā hanmu rahayu, ratkeng kulā warggā sāntanannirā, mamastu jagatitayā. Ong namasiwaya, ong nama bhuddayā.

2.a. Ong namā bhujanggā bħuddayā. Nyan têgêsing prihagem pañungsungan, krananya hana prigêm (ha) pañungsungan, panugrahan sakêng griya pajaten, titanen mangke ida bagus citrā, hangamet sêtri, listuhayu paripurnna, sutanirā aryyā damar, sakêng kadiri, wus alamā lamā hatmu rabyā, mijil sutanning karwa laki-


2.b. laki kang panwa hapanngêran ida bagus ngurah, kang hari, hapaniah ida bagus driyā, rimangke ganti wasāsyanirā ring pajaten, mwang kādiri tabanan, mangda ida bagus citrā māpyuwitthā, wus ida māpyuwittā (maprohita) hinaranan bhujangga guru jati lêwih. Titanên mangke ida bagus ngurah, malinggih ring griyā.

3.a. bahan sari. Titanên ida bagus driyā, kesah sakêng griyā pajaten, malinggih ring griyā batubwah, gunungrattha kusiman, tur kasungsung hantuk sāsya (si) kabeh, raris idā ngamet s• âtri listuhayu paripūrņnā. Slamā-lamā hatmu rabyā. mijil sutannirā hakurambyan, kang panwa, hapaniah ida bagus hungu, kang hantân idā bagus kibul, sami widagda.

3.b. Mahukir ukiran, raris idābagus hungu kāpanikāyang mākaryyā arcla ring ida cokordda kusiman, malakar hantuk taru candana jênggi māpindā śiwā mwang ghanna, wus putus idā mākaryyā wus katur ring cokordda puri kusiman. Kawarņnā mangke cokorda kusiman pdêk ring idā dalêm smarāpura klungkung, singgih padukā

4.a. daļêm, kadyang punapa durung hana pamdal rikang padaļêman, yeki patih tā hadrêbe tukang wong dwijā, kang ngaran ida bagus j hungu, mwang ida bagus kibul, garggittha yun sirā dalêm, yan i samangkana hatūrtā tuhu mabnêr hature kittha, ri mangke hana. sadna (j) sirā dalêm, ri coharddā kusiman, nanging warahên ring bagus hungū //o// Tita-

4.b. nên mangke ida bagus hungu, tangkil rijêng paduka dalêm, raris humatūr ida bagus hungu, singgih padukā daļêm, mānawi hana swaraja karyyā rikang padaļêman, weh hanakna patihta mangke, Lingira daļêm ri sirā bagus manawi hana swaraja karyyā rikang padalêman, wehanakna patih mangke. Lingira daļêm, ri sirā bagus hungu, yeki hulun huminta sih rikitthā, hulun huminta karyyā ri kitthā, hangŗedyakên pamdal rikang pādaļêman.

5.a. ida ngiring patih padukā daļêm. Titanen mangke ida hungu, hangrêdyakên gêlung agung ring smarapurā klungkung apanêngêran idā idewā agung śakţi. Titanên mangke ida bagus hungu hakaryyā, tumut harine ida bagus kibul, sampun wus idā bagus hungu hakaryyā, kagyat ida daļêm, ih bagus, iki pamdal songgeng maring daksinā, nanging bongkar

5.b. ya rumuhun têmbenin malih bagus akaryyā, singgih padukā daļêm, hapan patih hadrêbe kanti wwong cina, sahodarasayā makaryya pamdal rikang padaļêman, nanging pamdal ika songgeng maring daksinā, kandikayang mongkar ring ida dalêm, raris humatur wwong cinā ring ida bagus hungu, sampunang ika bodkara (podgala), hapanya nunas panugrahan

6.a. ri sang hyang sinuhun kidung mangke sayaga ngalih akên timah katanah cinā, tan kacarita datêng wong cinā ika, angawa timah makweh, ika tinangge angêor pamêdal ika, nanging jêjêg pagêh pamêdal ika, nanging garjita hyun sirā dalêm, tuhu luih kita bagus hungu, kita maka cihnaning bhuwana, samangkana katattwania nguni, katama katta katêkeng ma-

6.b. ngke raris humatur idā bagus wungu, singih paduka dalêm patik huminta pamit ri paduka daļêm, asadnya ida dalêm aywa doh rikang pādaļêman, amwit ida bagus wungu, mwang harin idā ida bagus kibul, angalih prades• a sênggwan, klungkung, samangkana katattwanira ida bagus wungu mwang ida bagus kibul ktama katêkeng mangke.//0//

7.a. Ong awighnamastu namā śidyêm. Nyan tegêsing prihagêm pañungsungan, nga, krananya hana prihagêm pañungsungan, pratêgâsing bhandhesā nusā, nunas pamutêring jagat nusā, ring idha dalêm smarāpura klungkung, ring i dewa agung sakti, mangda hana kangelingakên, kahyangan tiga ring nusā, panataran agung, batu madahu, mwang puncak mundhi, apan maswe idā

7.b. daļêm dukut nywargga rohanna. Titanên mangkē ida daļêm, ngrauhang pramañca punggawa maka sami, ngawon pamuterin jagat nusā, wus puput ikang bebawosan, idā bagus hungu kawnangang, amutêr jagat ri nus• ā, apan idā bagus hungu katurunan bhujangga guru jati ļêwih, kahiring antuk harin idā, kang ngaran idā bagus kibul. Mangke ha -

8.a. nā manugrahan sirā daļêm, ida bagus hungu yan wkasan sir pjah, wnang sirā hamatuh ring daļêm, mābade matumpang salu, maļêmbu cemeng mulus, yan wkasan sirā rnaprawita, māpogalā, wnang sirā hanganggo padmā śaņnā, mānagā catur mahêmpas, nanging elingakna panugrahan sirā daļêm, katêkeng sapŗêtisantanan ta angelingakna, titanen mang –

8.b. ke ida bagus hungu, lunga mareng nus• ā nanging lunga mareng sasak rumuhun, prāpta ring wades• a tanah bêt, irika raris kajaya-jayā ring wonging tanah bêt, raris katurin pabuktyan, wus mangkana raris ida lungā mareng nusā, kahiring dening pasêk, mwang pandhe wadeşā tan sah pamargginida angawā pdoman, Iwirnyā, taru buhu, bdil, kulkul, pareret prasama maśwa.

9.a. ra tan sah mapatêh lampahnyā, kadi ring majapahit, titanen mangke datêng ri wadeşā nusā, kang arane pdoman ped, wus hana ida hagriya ring pdoman ped, raris ida ngardyakên paryangan, kang pura camara, hapan maswe ri wadeşā pdoman ped, mijil putranirā asta diri laki-laki, kang panwa ngaran ida bagus gede cakrā wiśuddha, kang madyāmā panengêran ida –

9.b. Bagus ngurah candra wijayā, kanğ ñoman mapanlah ida bagūs ñoman murddhana, iti sutanyang pangarêp, suta byang kwalon, kang panwa ida bagus gde lanang, kang madyā idā bagus gde mantêb, kang ñomanan idā bagus ñoman manesā, kang pangêtut ida bagus ktut cucukan, suta mabibi panawing, ida bagu -

10.a. s putu cacaran, prasama ka asta diri kawehing pangeling sling maka cihnaning wiakti, samangkana panugrahan ida bagus hungu ri sutan nira makabehan. Harawas rawas ida bagus gde hungu, angrengê ikang wreţta hana tucapa wong panca srawa, angrusak panagara ring nuşā, dadia pramangke kasahar sutanira kabeh ri panepining panegara ring nu –

10.b. sā, sutanira kang panwa ida bagus gde cakra wisudda, jumenek ring wadesā pdoman ped, ida bagus ngurah candra wijaya angungsi wadeşā mawaşţa pangkung, ida bagus ñoman murddana, angungsi wadeşā mawaşţa sêkartaji, ida bagus gde lanang, angungsi wadeşā mawaşţa sompang, ida bagus made manteb, angungsi wadeşā mawaşţa sakti.

11.a. Ida bagus ñoman maneşā, angungsi wadeşā swana, ida bagus ktut cucukan angungsi wadeşā bucang, ida bagus putu cacaran, angungsi wadeşā pulagan. Pŗêsama sanak ira kawehin kasta pangeling eling maka cihnaning wiakti, wastu prasama eling ring linggihnya, kaunggahang ring lontar kaya iki, wastu wruh sirā ring Hnggih, wruh si –

11.b. ra ring laluhur ta, yan sirā kalalen ring laluhur ta, laluhur ta juga kalalen ring sirā, rusak kang swanegaran ta, apan sirā hempu kuturan, apasang pastu rikang swanegara, samangkana elingakêna, aywa lupa. Titanen mangke hana wong prapts maharan ki made ketta, nya ngaran pasêk totok nanging pangungsinya, ida bagus ngurah candra wijaya ring pangkung‘ ka-

12.a. gênahang ring macang, tang sah i pande wsi mangiring kagênahang ring subya. Yan ida bagus ngurah candra wijaya mretista sang Una wênang angangge bade matumpang salu, malembu cemeng mulus, i pasêk ngaturang sarwa daun, i pande wêsi ngaturang ayam alit, samangkana pidartanya nguni, ktama katekeng mangke. i pasêk yan mreteka wong pejah, wênang matumpang lima, anganggo ratun alas.

12.b. Apan i pasêk gumalak ring nabe, samangkana panugrahan riira bhujangga wişņawa, ri sasyan (sisyan) nira nguni, yan ida bagus ngurah maŗêp ring pradewā, satrya, deşāk, asah basanya, apan ida bagus ngurah brahmaņā mackeg, yan ida maŗêp ring cokordda, ring i dewa agung, yan kaiwanganya kapatipati, wênang ya sinundung tigang rahina, yan kaiwanganya tan kamati, wênang kasinampurā yadya –

13.a. n hana arsan ida cokordda, ping kalih ida i dewa agung nibakang swala patra, gumêntos, ping, 7, ping, 8, nora gumandêl pacang iwang, sinundung tigang rahina, yan hana reñcang tan pasentana nora katuring ida cokordda, ping kalih ring ida i dewa agung, ida bagus ngurah, wênang ngambil, yan ida maŗêk ring ida cokordda, ping kalih ring ida i dewa agung ngo –

13.b. jog tan pawekasan, nora iwang, yadyan sirā angadêg wênang sirā kasinampurā. Mangke hana atur ida bagus ñoman murdana, ri yayah ira, mwang ri akang an makabehan apan sirā angêyut giri, anibak akên sêkar, rawuh ring sêkar angên, mangda tan gapuk mangde makanten wewidangan ida bagus ñoman murddana ring sêkar taji. Sahaning mawaşţa sêkar, ika –

14.a. ika wawidangan ida bagus ñoman ring sêkar taji. Titanen mangke wawidangan ida bagus ngurah ring pangkung, sahananing mawaşţa pangkung, mwang sahananing mawaşţa jurang, ika wawidangan ida bagus ngurah ring pangkung, hana malih wewidangan ida bagus ngurah ring pangkung, doh mwang kapaŗêk, mangde makantenan antuk ida, waşţan bukti ika hana ring jlijih, ring batang, ring bungan hurip, ring taba, ri toya-

14.b. pakêh, ring crokcok, ring kayu buluh, ring sban binga, ring batu pamor, ring prapat, rawuh ring sasak ida madwe pabuktian, mawaşţa ring tanah hêmbêt, samangkana putusing pangeling heling, bukti druwen ida bagus ring pangkung. Hana malih salawanya, hana wong wadeşā nusā, pêdêk tangkil ring icfo bagus ngurah ring pangkung, angaturakên sariranya, mwang deweknya apan ida ba-

15.a. gus ngurah ring pangkung wisesa, akweh wong wadeşā nayah ri ida, wadeşā paguyangan, wadeşāntapan, wadeşā lipa, ring wadeşā sabuluh, mwang wadeşā batu madeg, yan ida bagus ngurah anangun kang swaraja karyya, prasama ngaturang ayah, malih ring pasayatan ida bagus ngurah ring pangkung, ring dina, ş, umanis watugunung, tingkahnya nyayatin, nakêni tirta panglukatan pabŗêsi-

15.b. han anganggo sarwa putus, brahmaņā bhujangga wenang amutus, yan tan samangkana, edan pwa sirā. Malih ida bagus ngurah ring pangkung anrebe kang pānagi, ring kayanganya, pānagi angrencah, arganya, 5000, yan mungkulan hargania, 500, jarimpên lanang wadon, matalap, 7, mwang matalap, 9, nanging sasyan (sisyan) ida sami haŗêp ngaturang ayah, pasêk, pande, pañarikan.

16.a. Mañca deşā, sami arep, karana ida bagus ngurah madwe pānagi, kemulan asiki, ri mangke anadi satak. Priagem iki, tan wenang kiningsarang, ring mrajan kawitan, yaning wentên maraanah mangde huning, ring daging prihagem puniki, mangkn kabawosin ring pamrajan kawitan, yaning wentên purun amurug prihagem puniki, kasisipan hantuk, bha-

16.b. tara kawitan sane munggah ring prihagem puniki, Om wastiastu Om Santi Santi Santi Om. Puput sinurat ring rahina, bu, kli, matal, tang, ping, 3, śaśih, 2, rah, 9, saka 1903. //0//