Tampilkan postingan dengan label cerita misteri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita misteri. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Mei 2014

Sejarah cerita CINTA GEBES RAJA JAYABAYA RAJA KEDIRI

Maharaja Jayabhaya adalah raja Kadiri yang memerintah sekitar tahun 1135-1157. Nama gelar lengkapnya adalah Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya Sri Warmeswara Madhusudana Awataranindita Suhtrisingha Parakrama Uttunggadewa. Pemerintahan Jayabhaya dianggap sebagai masa kejayaan Kadiri. Peninggalan sejarahnya berupa prasasti Hantang (1135), prasasti Talan (1136), dan prasasti Jepun (1144), serta Kakawin Bharatayuddha (1157).
Pintu Gerbang Petilasan Jayabaya
Pada prasasti Hantang, atau biasa juga disebut prasasti Ngantang, terdapat semboyan Panjalu Jayati, yang artinya Kadiri menang. Prasasti ini dikeluarkan sebagai piagam pengesahan anugerah untuk penduduk desa Ngantang yangsetia pada Kadiri selama perang melawan Janggala. Dariprasasti tersebut dapat diketahui kalau Jayabhaya adalah raja yang berhasil mengalahkan Janggala dan mempersatukanny a kembali dengan Kadiri.
Kemenangan Jayabhaya atas Janggala disimbolkan sebagai kemenangan Pandawa atas Korawa dalam kakawin Bharatayuddha yang digubah oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh tahun 1157. Nama besar Jayabhaya tercatat dalam ingatan masyarakat Jawa, sehingga namanya muncul dalam kesusastraan Jawa zaman Mataram Islam atau sesudahnya sebagai Prabu Joyoboyo.
Contoh naskah yang menyinggung tentang Prabu Joyoboyo adalah Babad Tanah Jawi dan Serat Aji Pamasa. Dikisahkan Joyoboyo adalah titisan Wisnu. Negaranya bernama Widarba yang beribu kota di Mamenang. Ayahnya bernama Gendrayana, putra Yudayana, putra Parikesit, putra Abimanyu, putra Arjuna dari keluarga Pandawa. Permaisuri Joyoboyo bernama Dewi Sara. Lahir darinya Jayaamijaya, Dewi Pramesti, Dewi Pramuni, dan Dewi Sasanti. Jayaamijaya menurunkan raja-raja tanah Jawa, bahkan sampai Majapahit dan Mataram Islam. Sedangkan Pramesti menikah dengan Astradarma raja Yawastina, melahirkan Anglingdarma raja Malawapati.
Joyoboyo turun takhta pada usia tua. Ia dikisahkan mokshadi desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri. Tempat petilasannya tersebut dikeramatkan oleh penduduk setempat dan masih ramai dikunjungi sampai sekarang. Prabu Joyoboyo adalah tokoh yang identik dengan ramalan masa depan Nusantara. Terdapat beberapa naskah yang berisi “Ramalan Joyoboyo”, antara lain Serat Joyoboyo Musarar, Serat Pranitiwakya, dan lain sebagainya.
Kirab di Petilasan Jayabaya
Dikisahkan dalam Serat Joyoboyo Musarar, pada suatuhari Joyoboyo berguru pada seorang ulama bernama Maolana Ngali Samsujen. Dari ulama tersebut, Joyoboyo mendapat gambaran tentang keadaan Pulau Jawa sejak zaman diisi oleh Aji Saka sampai datangnya hari Kiamat. Dari nama guru Joyoboyo di atas dapat diketahui kalau naskah serat tersebut ditulis pada zaman berkembangnya Islam di Pulau Jawa.
Tidak diketahui dengan pasti siapa penulis ramalan-ramalan Joyoboyo. Sudah menjadi kebiasaan masyarakat saat itu untuk mematuhi ucapan tokohbesar. Maka, si penulis naskahpun mengatakan kalau ramalannya adalah ucapan langsung Prabu Joyoboyo, seorang raja besar dari Kediri. Tokoh pujangga besar yang juga ahli ramalan dari Surakarta bernama Ranggawarsita sering disebut sebagai penulis naskah-naskah Ramalan Joyoboyo. Akan tetapi, Ranggawarsita biasa menyisipkan namanya dalam naskah-naskah tulisannya, sedangkan naskah-naskah Ramalan Joyoboyo pada umumnya bersifat anonim.
Ramalan Joyoboyo atau seringdisebut Jangka Joyoboyo adalah ramalan dalam tradisi Jawa yang salah satunya dipercaya ditulis oleh Joyoboyo, raja Kerajaan Kediri.Ramalan ini dikenal pada khususnya di kalangan masyarakat Jawa yg dilestarikan secara turun temurun oleh para pujangga.Asal Usul utama serat jangka Joyoboyo dapat dilihat pada kitab Musasar yg digubah olehSunan Giri Prapen. Sekalipun banyak keraguan keasliannya tapi sangat jelas bunyi bait pertama kitab Musasar yg menuliskan bahwasanya Joyoboyolah yg membuat ramalan-ramalan tersebut. “
Kitab Musarar dibuat tatkala Prabu Joyoboyo di Kediri yanggagah perkasa, Musuh takut dan takluk, tak ada yang berani.” Meskipun demikian, kenyataannya dua pujangga yang hidup sezaman dengan Prabu Joyoboyo, yakni Mpu Sedah dan Mpu Panuluh, sama sekali tidak menyebut dalam kitab-kitab mereka:
Kakawin Bharatayuddha, Kakawin Hariwangsa dan Kakawin Gatotkacasraya, bahwa Prabu Joyoboyo memiliki karya tulis. Kakawin Bharatayuddha hanya menceritakan peperangan antara kaum Korawa dan Pandawa yang disebut peperangan Bharatayuddha. Sedangkan Kakawin Hariwangsa dan Kakawin Gatotkacasraya berisi tentang cerita ketika sang prabu Kresna, titisan batara Wisnu ingin menikah dengan Dewi Rukmini, dari negeri Kundina, putri prabu Bismaka. Rukmini adalah titisan Dewi Sri.
Dari berbagai sumber dan keterangan yang ada mengenai Ramalan Joyoboyo, maka pada umumnya para sarjana sepakat bahwa sumber ramalan ini sebenarnya hanya satu, yakni Kitab Asrar (Musarar) karangan Sunan Giri Perapan (Sunan Giri ke-3) yang kumpulkannya pada tahun Saka 1540 = 1028 H = 1618 M, hanya selisih 5 tahun dengan selesainya kitab Pararaton tentang sejarah Majapahit dan Singosari yang ditulis di pulau Bali 1535 Saka atau 1613 M.
Jadi penulisan sumber ini sudah sejak jamannya Sultan Agung dari Mataram bertahta (1613-1645 M). Kitab Jangka Joyoboyo pertama dan dipandang asli, adalah dari buah karya Pangeran Wijil I dari Kadilangu (sebutannya Pangeran Kadilangu II) yang dikarangnya pada tahun 1666-1668 Jawa = 1741-1743 M. Sang Pujangga ini memang seorang pangeran yang bebas. Mempunyai hak merdeka, yang artinya punya kekuasaan wilayah “Perdikan” yang berkedudukan di Kadilangu, dekat Demak.
Memang beliau keturunan Sunan Kalijaga, sehingga logis bila beliau dapat mengetahui sejarah leluhurnya dari dekat, terutama tentang riwayat masuknya Sang Brawijaya terakhir (ke-5) mengikuti agama baru, Islam, sebagai pertemuan segitiga antara Sunan Kalijaga, Brawijaya ke-V dan Penasehat Sang Baginda benama Sabda Palon dan Nayagenggong. Disamping itu beliau menjabat sebagai Kepala Jawatan Pujangga Keraton Kartasura tatkala jamannya Sri Paku Buwana II (1727-1749). Hasil karya sang Pangeran ini berupa buku-buku misalnya, Babad Pajajaran, Babad Majapahit, Babad Demak, Babad Pajang, Babad Mataram, Raja Kapa-kapa, Sejarah Empu, dll.
Tatkala Sri Paku Buwana I naik tahta (1704-1719) yang penobatannya di Semarang, Gubernur Jenderalnya benama van Outhoorn yang memerintah pada tahun 1691-1704. Kemudian diganti G.G van Hoorn (1705-1706), Pangerannya Sang Pujangga yang pada waktu masih muda. Didatangkan pula di Semarang sebagai Penghulu yang memberi Restu untuk kejayaan Keraton pada tahun 1629 Jawa = 1705 M, yang disaksikan GG. Van Hoorn. Ketika keraton Kartasura akan dipindahkan ke desa Sala, sang Pujangga diminta pandapatnya oleh Sri Paku Buwana II. Ia kemudian diserahi tugas dan kewajiban sebagai peneliti untuk menyelidiki keadaan tanah di desa Sala, yang terpilih untuk mendirikan keraton yang akandidirikan tahun 1669 Jawa (1744 M).
Sang Pujangga wafat pada hari Senin Pon, 7 Maulud Tahun Be Jam’iah 1672 Jawa 1747 M, yangpada jamannya Sri Paku Buwono 11 di Surakarta. Kedudukannya sebagai Pangeran Merdeka diganti oleh puteranya sendiri yakni Pangeran Soemekar, lalu berganti nama Pangeran Wijil IIdi Kadilangu (Pangeran Kadilangu III), sedangkan kedudukannya sebagai pujangga keraton Surakarta diganti oleh Ngabehi Yasadipura I, pada hari Kemis Legi,10 Maulud Tahun Be 1672 Jawa = 1747 M. Jangka Joyoboyo yang kita kenal sekarang ini adalah gubahan dari Kitab Musarar, yang sebenarnya untuk menyebut “Kitab Asrar” Karangan Sunan Giri ke-3 tersebut.
Selanjutnya para pujangga dibelakang juga menyebut nama baru itu. Kitab Asrar itu memuat lkhtisar (ringkasan) riwayat negara Jawa, yaitu gambaran gilir bergantinya negara sejak jaman purbakala hingga jatuhnya Majapahit lalu diganti dengan Ratu Hakikat ialah sebuah kerajaan Islam pertama di Jawa yang disebut sebagai ”Giri Kedaton”. Giri Kedaton ini nampaknya Merupakan jaman peralihan kekuasaan Islam pertama di Jawa yang berlangsung antara1478-1481 M, yakni sebelum Raden Patah dinobatkan sebagai Sultan di Demak oleh para Wali pada 1481 M.
Namun demikian adanya keraton Islam di Giri ini masih bersifat ”Hakikat” dan diteruskan juga sampai jaman Sunan Giri ke-3. Sejak Sunan Giri ke-3 ini praktis kekuasaannya berakhir karena penaklukkan yang dilakukan oleh Sultan Agung dari Mataram; Sejak Raden Patah naik tahta (1481) Sunan Ratu dari Giri Kedatan ini lalu turun tahta kerajaan, diganti oleh Ratu seluruh jajatah, ialah Sultan di Demak, Raden Patah. Jadi keraton di Giri ini kira-kiraberdiri antara 1478-1481 M ataulebih lama lagi, yakni sejak Sunan Giri pertama mendirikannya atau mungkin sudah sejak Maulana Malik Ibrahim yang wafat pada tahun1419 M (882 H).
Setelah kesultanan Demak jatuh pada masa Sultan Trenggono, lalu tahta kerajaan jatuh ke tangan raja yang mendapat julukan sebagai “Ratu Bobodo”) ialah Sultan Pajang. Disebut demikian karena pengaruh kalangan Ki Ageng yang berorientasi setengah Budha/Hindu dan setengah Islam di bawah pengaruh kebatinan Syech Siti Jenar, yang juga hendak dibasmi pengaruhnya sejak para Wali masih hidup. SetelahKerajaan ini jatuh pula, lalu di ganti oleh penguasa baru yakni, Ratu Sundarowang ialah Mataram bertahta dengan gelar Prabu Hanyokro Kusumo(Sultan Agung) yang berkuasa di seluruh Jawa dan Madura.
Di kelak kemudian hari (ditinjau, dari sudut alam pikiran Sri Sultan Agung dari Mataram ini) akan muncullah seorang raja bertahta di wilayah kerajaan Sundarowang ini ialah seorangraja Waliyullah yang bergelar Sang Prabu Herucakra yang berkuasa di seluruh Jawa-Madura, Patani dan Sriwijaya. Wasiat Sultan Agungitu mengandung kalimat ramalan, bahwa kelak sesudahbeliau turun dari tahta, kerajaan besar ini akan pulih kembali kewibawaannya, justru nanti dijaman jauh sesudah Sultan Agung wafat. Ini berarti raja-raja pengganti beliau dinilai (secara pandangan batin) sebagai raja-raja yang tidak bebas merdeka lagi.
Bisa kita maklumi, karena padatahun-tahun berikutnya praktis Mataram sudah menjadi negara boneka VOC yang menjadi musuh Sultan Agung (ingat perang Sultan Agung dengan VOC tahun 1628& 1629 yang diluruk ke Jakarta/Batavia oleh Sultan Agung). Oleh Pujangga, Kitab Asrar digubah dan dibentuk lagi dengan pendirian dan cara yang lain, yakni dengan jalan mengambil pokok/ permulaan cerita Raja Joyoboyo dari Kediri. Nama mana diketahui dari Kakawin Bharatayudha, yang dikarang oleh Mpu Sedahpada tahun 1079 Saka = 1157 M atas titah Sri Joyoboyo di Daha/ Kediri.
Setelah mendapat pathokan/data baru, raja Joyoboyo yang memang dikenal masyarakat sebagai pandai meramal, sang pujangga (Pangeran Wijil) lalu menulis kembali, dengan gubahan “JANGKA JOYOBOYO” dengan ini yang dipadukan antara sumber Serat Bharatayudha dengan kitab Asrar serta gambaran pertumbuhan negara-negara dikarangnya sebelumnya dalam bentuk babad. Lalu dari hasil, penelitiannya dicarikan Inti sarinya dan diorbitkan dalam bentuk karya-karya baru dengan harapan dapat menjadi sumber semangat perjuangan bagi generasi anakcucu di kemudian hari.
Cita-cita yang pujangga yang dilukiskan sebagai jaman keemasan itu, jelas bersumber semangat dari gambaran batin Sultan Agung. Jika kita teliti secara kronologi, sekarang ternyata menunjukan gambaran sebuah negara besar yang berdaulat penuh yang kini benama “REPUBLIK INDONESIA”!. Kedua sumber yang diperpadukan itu ternyata senantiasa mengilhami para pujangga yang hidup diabad-abad kemudian, terutama pujangga terkenal R.Ng., cucu buyut pujangga Yasadipura I pengganti Pangeran Wijil I.
Jangka Joyoboyo dari Kitab Asrar ini sungguh diperhatikan benar-benar oleh para pujangga di Surakarta dalam abad 18/ 19 M dan sudah terang Merupakan sumber perpustakaan dan kebudayaanJawa baru. Hal ini ternyata dengan munculnya karangan-karangan baru, Kitab Asrar/Musarar dan Joyoboyo yang hanya bersifat ramalan belaka. Sehingga setelah itu tumbuh bermacam-macam versi teristimewa karangan baru Serat Jayabaya yang bersifat hakikat bercampur jangka atau ramalan, akan tetapi dengan ujaran yang dihubungkan dengan lingkungan historisnya satu sama lain sehingga merupakan tambahan riwayat buat negeri ini.
Semua itu telah berasal dari satu sumber benih, yakni Kitab Asrar karya Sunan Giri ke-3 dan Jangka Jayabaya gubahan dari kitab Asrar tadi, plus serat Mahabarata karangan Mpu Sedah & Panuluh. Dengan demikian, Jangka Jayabaya ini ditulis kembali dengan gubahan oleh Pangeran Wijil I pada tahun 1675 Jawa (1749 M) bersama dengan gubahannya yang berbentuk puisi, yakni Kitab Musarar. Dengan begitu menjadi jelaslah apa yang kita baca sekarang ini. Kitab Musarar dibuat tatkala Prabu Jayabaya di Kediri yang gagah perkasa, Musuh takut dan takluk, tak ada yang berani.
Beliau sakti sebab titisan Batara wisnu. Waktu itu Sang Prabu menjadi raja agung, pasukannya raja-raja. Terkisahkan bahwa Sang Prabu punya putra lelaki yang tampan. Sesudah dewasa dijadikan raja di Pagedongan. Sangat raharja negara-nya. Hal tersebut menggembirakan Sang Prabu. Waktu itu tersebutkan Sang Prabu akan mendapat tamu, seorang raja pandita dari Rum bernama, Sultan Maolana. Lengkapnya bernama Ngali Samsujen. Kedatangannya disambut sebaik-baiknya. Sebab tamu tersebut seorang raja pandita lain bangsa pantas dihormati.
Setelah duduk Sultan Ngali Samsujen berkata: “Sang PrabuJayabaya, perkenankan saya memberi petuah padamu mengenai Kitab Musarar. Yang menyebutkan tinggal tiga kali lagi kemudian kerajaanmu akan diganti oleh orang lain”. Sang Prabu mendengarkan dengan sebaik-baiknya. Karena beliau telah mengerti kehendak Dewata. Sang Prabu segera menjadi murid sang Raja Pandita. Segala isi Kitab Musarar sudah diketahui semua. Beliaupun ingat tinggalmenitis 3 kali. Kelak akan diletakkan dalam teken Sang Pandita yang ditinggal di Kakbah yang membawa Imam Supingi untuk menaikkan kutbah, Senjata ecis itu yang bernama Udharati. Kelak kemudian hari ada Maolana masih cucu Rasul yang mengembara sampai ke P. Jawa membawa ecis tersebut.Kelak menjadi punden Tanah Jawa.
Raja Pandita pamit dan musnahdari tempat duduk. Kemudian terkisahkan setelah satu bulanSang Prabu memanggil putranya. Setelah sang putra datang lalu diajak ke gunung Padang. Ayah dan putra itu setelah datang lalu naik ke gunung. Di sana ada Ajar bernama Ajar Subrata. Menjemput Prabu Joyoboyo seorang raja yang berincoknito termasuk titisan Batara Wisnu. Karenanya Sang Prabu sangat waspada, tahu sebelum kejadian mengenai raja-raja karena Sang Prabu menerima sasmita gaib.
Bila Islam seperti Nabi. Prabu Jayabaya bercengkrama di gunung sudah lama. Bertemu dengan Ki Ajar di gunung Padang. Yang bertapa brata sehingga apa yang dikehendaki terjadi.Tergopo h-g opoh menghormati. Setelah duduk Ki Ajar memanggil seorang endang yang membawa sesaji. Berwarna-warni isinya. Tujuh warna-warni dan lengkap delapan dengan endangnya. Jadah (ketan) setakir, bawang putih satu talam, kembang melati satu bungkus, darah sepitrah, kunir sarimpang, sebatang pohon kajar dan kembang mojar satu bungkus.Kedelapan endang seorang.
Kemudian Ki Ajar menghaturkan sembah : “Inilah hidangan kami untuk sang Prabu”. Sang Prabu waspada kemudian menarik senjata kerisnya. Ki Ajar ditikam mati. Demikian juga endangnya. Keris kemudian dimasukkan lagi. Cantrik-cantrik berlarian karena takut. Sedangkan raja putra kecewa melihat perbuatan ayahnya. Sang putraakan bertanya merasa takut. Kemudian merekapun pulang. Datang di kedaton Sang Prabu berbicara dengan putranya. Heh anakku. Kamu tahu ulah si Ajar yang saya bunuh. Sebab berdosa kepada guru saya Sultan Maolana Ngali Samsujentatkala masih muda. Dia itu sudah diwejang (diberitahu) oleh guru mengenai kitab Musarar. Sama seperti saya. Namun dia menyalahi janji, musnah raja-raja di P. Jawa. Toh saya sudah diberitahu bahwa saya tinggal 3 kali lagi.
Bila sudah menitis tiga kali kemudian ada jaman lagi bukan perbuatan saya. Sudah dikatakan oleh Maolana Ngali tidak mungkin berobah lagi. Diberi lambang Jaman Catur semune segara asat. Itulah Jenggala, Kediri, Singasari dan Ngurawan. Empat raja itu masih kekuasaan saya. Negaranya bahagia diatas bumi. Menghancurkan keburukan. Setelah 100 tahun musnah keempat kerajaan tersebut. Kemudian ada jaman lagi yang bukan milik saya, sebab saya sudah terpisah dengan saudara-saudara ditempat yang rahasia.
Di dalam teken sang guru Maolana Ngali. Demikian harap diketahui oleh anak cucu bahwa akan ada jaman Anderpati yang bernama Kala-wisesa. Lambangnya: Sumilir naga kentir semune liman pepeka. Itu negara Pajajaran. Negara tersebut tanpa keadilan dan tata negara,Setelah seratus tahun kemudian musnah. Sebab berperang dengan saudara. Hasil bumi diberi pajak emas. Sebab saya mendapat hidangan Kunir sarimpang dariki Ajar. Kemudian berganti jaman di Majapahit dengan rajanya Prabu Brawijaya.
Demikian nama raja bergelar Sang Rajapati Dewanata. Alamnya disebut Anderpati, lamanya sepuluh windu (80 tahun). Hasil negara berupa picis (uang). Ternyata waktu itu dari hidangan ki Ajar. Hidangannya Jadah satu takir. Lambangnya waktu itu Sima galak semune curiga ketul. Kemudian berganti jaman lagi. Di Gelagahwangi dengan ibukota di Demak. Ada agama dengan pemimpinnya bergelarDiyati Kalawisaya. Enam puluh lima tahun kemudian musnah. Yang bertahta Ratu Adil serta wali dan pandita semuanya cinta. Pajak rakyat berupa uang. Temyata saya diberi hidangan bunga Melati oleh ki Ajar.
Negara tersebut diberi lambang: Kekesahan durung kongsi kaselak kampuhe bedah. Kemudian berganti jaman Kalajangga. Beribukota Pajang dengan hukum seperti di Demak. Tidak diganti oleh anaknya. 36 tahun kemudian musnah. Negara ini diberi lambang: cangkrama putung watange. Orang di desa terkena pajak pakaian dan uang. Sebab ki Ajar dahulu memberi hidangan sebatang pohon kajar. Kemudian berganti jaman di Mataram. Kalasakti Prabu Anyakrakusuma. Dicintai pasukannya. Kuat angkatan perangnya dan kaya, disegani seluruh bangsa Jawa. Bahkan juga sebagai gantinya Ajar dan wali serta pandita, bersatu dalam diri Sang Prabu yang adil.
Raja perkasa tetapi berbudi halus. Rakyat kena pajak reyal.Sebab waktu itu saya mendapat hidangan bawang putih dari ki Ajar. Rajanya diberi gelar: Sura Kalpa semune lintang sinipat. Kemudian berganti lagi denganlambang: Kembang sempol Semune modin tanpa sreban. Raja yang keempat yang penghabisan diberi lambang Kalpa sru kanaka putung. Seratus tahun kemudian musnah sebab melawan sekutu. Kemudian ada nakhoda yang datang berdagang.
Berdagang di tanah Jawa kemudian mendapat sejengkaltanah. Lama kelamaan ikut perang dan selalu menang, sehingga terpandang di pulau Jawa. Jaman sudah berganti meskipun masih keturunan Mataram. Negara bernama Nyakkrawati dan ibukota di Pajang. Raja berpasukan campur aduk. Disegani setanah Jawa. Yang memulai menjadi raja dengan gelar Layon keli semune satriya brangti. Kemudian berganti raja yang bergelar: semune kenya musoni. Tidak lama kemudian berganti.
Nama rajanya Lung Gadung Rara Nglikasi(Raja yang penuh inisiatif dalam segala hal, namun memiliki kelemahan suka wanita) kemudian berganti Gajah Meta Semune Tengu Lelaki (Raja yang disegani/ ditakuti, namun nista.) Enam puluh tahun menerima kutukan sehingga tenggelam negaranya dan hukum tidak karu-karuan. Waktu itu pajaknya rakyat adalah Uang anggris dan uwang. Sebab saya diberi hidangan darah sepitrah. Kemudian negara geger. Tanah tidak berkasiat, pemerintah rusak. Rakyat celaka. Bermacam-macam bencana yang tidak dapat ditolak.
Negara rusak. Raja berpisah dengan rakyat. Bupati berdiri sendiri-sendiri . Kemudian berganti jaman Kutila. Rajanya Kara Murka(Raja-raja yang saling balas dendam.). Lambangnya Panji Loro Semune Pajang Mataram(Dua kekuatan pimpinan yang saling jegal ingin menjatuhkan). Nakhoda (Orangasing)ikut serta memerintah. Punya keberanian dan kaya. Sarjana (Orang arif dan bijak) tidak ada. Rakyat sengsara. Rumah hancur berantakan diterjang jalan besar. Kemudian diganti dengan lambang Rara ngangsu , randa loro nututi pijer tetukar(( Ratu yang selalu diikuti/ diintai dua saudara wanita tua untuk menggantikannya ).
Tidak berkesempatan menghias diri(Raja yang tidak sempat mengatur negara sebab adanya masalah-masalah yang merepotkan ), sinjang kemben tan tinolih itu sebuah lambang yang menurut Seh Ngali Samsujen datangnya Kala Bendu. Di Semarang Tembayat itulah yang mengerti/ memahami lambang tersebut. Pajak rakyat banyak sekali macamnya. Semakin naik. Panen tidak membuat kenyang. Hasilnya berkurang. orang jahat makin menjadi-jadiOrang besar hatinya jail. Makinhari makin bertambah kesengsaraan negara.
Hukum dan pengadilan negara tidak berguna. Perintah berganti-ganti. Keadilan tidak ada. Yang benar dianggap salah. Yang jahat dianggap benar. Setan menyamar sebagai wahyu. Banyak orang melupakan Tuhan dan orang tua. Wanita hilang kehormatannya. Sebab saya diberi hidangan Endang seorang oleh ki Ajar. Mulai perang tidak berakhir. Kemudian ada tanda negara pecah. Banyak hal-hal yang luar biasa. Hujan salah waktu. Banyak gempa dan gerhana. Nyawa tidak berharga. Tanah Jawa berantakan. Kemudian raja Kara Murka Kutila musnah.
Kemudian kelak akan datang Tunjung putih semune Pudak kasungsang(Raja berhati putih namun masih tersembunyi). Lahir di bumi Mekah(Orang Islam yang sangat bertauhid). Menjadi raja di dunia, bergelar Ratu Amisan, redalah kesengsaraan di bumi, nakhoda ikut ke dalam persidangan. Raja keturunan waliyullah. Berkedaton dua di Mekah dan Tanah Jawa(Orang Islam yang sangat menghormati leluhurnya dan menyatu dengan ajaran tradisi Jawa (kawruh Jawa)). Letaknya dekat dengan gunung Perahu, sebelah barat tempuran. Dicintai pasukannya. Memang raja yang terkenal sedunia.
Waktu itulah ada keadilan. Rakyat pajaknya dinar sebab saya diberi hidangan bunga seruni oleh ki Ajar. Waktu itu pemerintahan raja baik sekali. Orangnya tampan senyumnya manis sekali.
RAMALAN JOYOBOYO
Besuk yen wis ana kreta tanpajaran — Kelak jika sudah ada kereta tanpa kuda.
Tanah Jawa kalungan wesi — Pulau Jawa berkalung besi.
Prahu mlaku ing dhuwur awang-awang — Perahu berjalandi angkasa.
Kali ilang kedhunge — Sungai kehilangan mata air.
Pasar ilang kumandhang — Pasar kehilangan suara.
Iku tandha yen tekane zaman Jayabaya wis cedhak — Itulah pertanda zaman Jayabaya telah mendekat.
Bumi saya suwe saya mengkeret — Bumi semakin lama semakin mengerut.
Sekilan bumi dipajeki — Sejengkal tanah dikenai pajak.
Jaran doyan mangan sambel — Kuda suka makan sambal.
Wong wadon nganggo pakeyan lanang — Orang perempuan berpakaian lelaki.
Iku tandhane yen wong bakal nemoni wolak-waliking zaman— Itu pertanda orang akan mengalami zaman berbolak-balik
Akeh janji ora ditetepi — Banyak janji tidak ditepati.
keh wong wani nglanggar sumpahe dhewe— Banyak orang berani melanggar sumpah sendiri.
Manungsa padha seneng nyalah— Orang-orang saling lempar kesalahan.
Ora ngendahake hukum HyangWidhi— Tak peduli akan hukum Hyang Widhi.
Barang jahat diangkat-angkat — Yang jahat dijunjung-junju ng.
Barang suci dibenci— Yang suci (justru) dibenci.
Akeh manungsa mung ngutamakke dhuwit— Banyak orang hanya mementingkan uang.
Lali kamanungsan— Lupa jati kemanusiaan.
Lali kabecikan— Lupa hikmah kebaikan.
Lali sanak lali kadang— Lupa sanak lupa saudara.
Akeh bapa lali anak— Banyak ayah lupa anak.
Akeh anak wani nglawan ibu— Banyak anak berani melawan ibu.
Nantang bapa— Menantang ayah.
Sedulur padha cidra— Saudara dan saudara saling khianat.
Kulawarga padha curiga— Keluarga saling curiga.
Kanca dadi mungsuh — Kawan menjadi lawan.
Akeh manungsa lali asale — Banyak orang lupa asal-usul.
Ukuman Ratu ora adil — Hukuman Raja tidak adil
Akeh pangkat sing jahat lan ganjil— Banyak pejabat jahat dan ganjil
Akeh kelakuan sing ganjil — Banyak ulah-tabiat ganjil
Wong apik-apik padha kapencil— Orang yang baik justru tersisih.
Akeh wong nyambut gawe apik-apik padha krasa isin — Banyak orang kerja halal justrumerasa malu.
Luwih utama ngapusi — Lebih mengutamakan menipu.
Wegah nyambut gawe — Malas untuk bekerja.
Kepingin urip mewah — Inginnyahidup mewah.
Ngumbar nafsu angkara murka, nggedhekake duraka — Melepas nafsu angkara murka, memupuk durhaka.
Wong bener thenger-thenger — Orang (yang) benar termangu-mangu.
Wong salah bungah — Orang (yang) salah gembira ria.
Wong apik ditampik-tampik — Orang (yang) baik ditolak ditampik (diping-pong).
Wong jahat munggah pangkat— Orang (yang) jahat naik pangkat.
Wong agung kasinggung— Orang (yang) mulia dilecehkan
Wong ala kapuja— Orang (yang) jahat dipuji-puji.
Wong wadon ilang kawirangane— perempuan hilang malu.
Wong lanang ilang kaprawirane— Laki-laki hilang jiwa kepemimpinan.
Akeh wong lanang ora duwe bojo— Banyak laki-laki tak mau beristri.
Akeh wong wadon ora setya marang bojone— Banyak perempuan ingkar pada suami.
Akeh ibu padha ngedol anake— Banyak ibu menjual anak.
Akeh wong wadon ngedol awake— Banyak perempuan menjual diri.
Akeh wong ijol bebojo— Banyak orang gonta-ganti pasangan.
Wong wadon nunggang jaran— Perempuan menunggang kuda.
Wong lanang linggih plangki— Laki-laki naik tandu.
Randha seuang loro— Dua janda harga seuang (Red.: seuang = 8,5 sen).
Prawan seaga lima— Lima perawan lima picis.
Dhudha pincang laku sembilan uang— Duda pincang laku sembilan uang.
Akeh wong ngedol ngelmu— Banyak orang berdagang ilmu.
Akeh wong ngaku-aku— Banyak orang mengaku diri.
Njabane putih njerone dhadhu— Di luar putih di dalam jingga.
Ngakune suci, nanging sucine palsu— Mengaku suci, tapi palsubelaka.
Akeh bujuk akeh lojo— Banyak tipu banyak muslihat.
Akeh udan salah mangsa— Banyak hujan salah musim.
Akeh prawan tuwa— Banyak perawan tua.
Akeh randha nglairake anak— Banyak janda melahirkan bayi.
Akeh jabang bayi lahir nggoleki bapakne— Banyak anaklahir mencari bapaknya.
Agama akeh sing nantang— Agama banyak ditentang.
Prikamanungsan saya ilang— Perikemanusiaan semakin hilang.
Omah suci dibenci— Rumah sucidijauhi.
Omah ala saya dipuja— Rumah maksiat makin dipuja.
Wong wadon lacur ing ngendi-endi— Perempuan lacur dimana-mana.
Akeh laknat— Banyak kutukan
Akeh pengkianat— Banyak pengkhianat.
Anak mangan bapak—Anak makan bapak.
Sedulur mangan sedulur—Saudara makan saudara.
Kanca dadi mungsuh—Kawan menjadi lawan.
Guru disatru—Guru dimusuhi.
Tangga padha curiga—Tetangga saling curiga.
Kana-kene saya angkara murka — Angkara murka semakin menjadi-jadi.
Sing weruh kebubuhan—Baran gsiapa tahu terkena beban.
Sing ora weruh ketutuh—Sedang yang tak tahu disalahkan.
Besuk yen ana peperangan—Kela k jika terjadi perang.
Teka saka wetan, kulon, kidul lan lor—Datang dari timur, barat, selatan, dan utara.
Akeh wong becik saya sengsara— Banyak orang baik makin sengsara.
Wong jahat saya seneng— Sedang yang jahat makin bahagia.
Wektu iku akeh dhandhang diunekake kuntul— Ketika itu burung gagak dibilang bangau.
Wong salah dianggep bener—Orang salah dipandang benar.
Pengkhianat nikmat—Pengkhia nat nikmat.
Durjana saya sempurna— Durjana semakin sempurna.
Wong jahat munggah pangkat— Orang jahat naik pangkat.
Wong lugu kebelenggu— Orang yang lugu dibelenggu.
Wong mulya dikunjara— Orang yang mulia dipenjara.
Sing curang garang— Yang curang berkuasa.
Sing jujur kojur— Yang jujur sengsara.
Pedagang akeh sing keplarang—Pedagang banyak yang tenggelam.
Wong main akeh sing ndadi—Penjudi banyak merajalela.
Akeh barang haram—Banyak barang haram.
Akeh anak haram—Banyak anak haram.
Wong wadon nglamar wong lanang—Perempua n melamar laki-laki.
Wong lanang ngasorake drajate dhewe—Laki-laki memperhina derajat sendiri.
Akeh barang-barang mlebu luang—Banyak barang terbuang-buang.
Akeh wong kaliren lan wuda—Banyak orang lapar dan telanjang.
Wong tuku ngglenik sing dodol—Pembeli membujuk penjual.
Sing dodol akal okol—Si penjual bermain siasat.
Wong golek pangan kaya gabah diinteri—Mencar i rizki ibarat gabah ditampi.
Sing kebat kliwat—Yang tangkaslepas.
Sing telah sambat—Yang terlanjur menggerutu.
Sing gedhe kesasar—Yang besar tersasar.
Sing cilik kepleset—Yang kecil terpeleset.
Sing anggak ketunggak—Yang congkak terbentur.
Sing wedi mati—Yang takut mati.
Sing nekat mbrekat—Yang nekatmendapat berkat.
Sing jerih ketindhih—Yang hati kecil tertindih
Sing ngawur makmur—Yang ngawur makmur
Sing ngati-ati ngrintih—Yang berhati-hati merintih.
Sing ngedan keduman—Yang main gila menerima bagian.
Sing waras nggagas—Yang sehat pikiran berpikir.
Wong tani ditaleni—Orang (yang)bertani diikat.
Wong dora ura-ura—Orang (yang) bohong berdendang.
Ratu ora netepi janji, musna panguwasane—Raj a ingkar janji, hilang wibawanya.
Bupati dadi rakyat—Pegawai tinggi menjadi rakyat.
Wong cilik dadi priyayi—Rakyat kecil jadi priyayi.
Sing mendele dadi gedhe—Yang curang jadi besar.
Sing jujur kojur—Yang jujur celaka.
Akeh omah ing ndhuwur jaran—Banyak rumah di punggung kuda.
Wong mangan wong—Orang makan sesamanya.
Anak lali bapak—Anak lupa bapa.
Wong tuwa lali tuwane—Orang tua lupa ketuaan mereka.
Pedagang adol barang saya laris—Jualan pedagang semakin laris.
Bandhane saya ludhes—Namun harta mereka makin habis.
Akeh wong mati kaliren ing sisihe pangan—Banyak orang mati lapar di samping makanan.
Akeh wong nyekel bandha nanging uripe sangsara—Banyak orang berharta tapi hidup sengsara.
Sing edan bisa dandan—Yang gila bisa bersolek.
Sing bengkong bisa nggalang gedhong—Si bengkok membangun mahligai.
Wong waras lan adil uripe nggrantes lan kepencil—Yang waras dan adil hidup merana dan tersisih.
Ana peperangan ing njero—Terjadi perang di dalam.
Timbul amarga para pangkat akeh sing padha salah paham—Terjadi karena para pembesar banyak salah faham.
Durjana saya ngambra-ambra—K ejahatan makin merajalela.
Penjahat saya tambah—Penjahat makin banyak.
Wong apik saya sengsara—Yangbaik makin sengsara.
Akeh wong mati jalaran saka peperangan—Bany ak orang matikarena perang.
Kebingungan lan kobongan—Karena bingung dan kebakaran.
Wong bener saya thenger-thenger —Si benar makin tertegun.
Wong salah saya bungah-bungah—S i salah makin sorak sorai.
Akeh bandha musna ora karuan lungane—Banyak harta hilang entah ke mana
Akeh pangkat lan drajat pada minggat ora karuan sababe—Banyak pangkat dan derajat lenyap entah mengapa.
Akeh barang-barang haram, akeh bocah haram—Banyak barang haram, banyak anak haram.
Bejane sing lali, bejane sing eling—Beruntung lah si lupa, beruntunglah si sadar.
Nanging sauntung-untung e sing lali—Tapi betapapun beruntung si lupa.
Isih untung sing waspada—Masih lebih beruntung si waspada.
Angkara murka saya ndadi—Angkara murka semakin menjadi.
Kana-kene saya bingung—Di sana-sini makin bingung.
Pedagang akeh alangane—Pedaga ng banyak rintangan.
Akeh buruh nantang juragan—Banyak buruh melawan majikan.
Juragan dadi umpan—Majikan menjadi umpan.
Sing suwarane seru oleh pengaruh—Yang bersuara tinggi mendapat pengaruh.
Wong pinter diingar-ingar—S i pandai direcoki.
Wong ala diuja—Si jahat dimanjakan.
Wong ngerti mangan ati—Orang yang mengerti makan hati.
Bandha dadi memala—Harta benda menjadi penyakit
Pangkat dadi pemikat—Pangkat menjadi pemukau.
Sing sawenang-wenang rumangsa menang — Yang sewenang-wenang merasa menang
Sing ngalah rumangsa kabeh salah—Yang mengalah merasa serba salah.
Ana Bupati saka wong sing asor imane—Ada raja berasal orang beriman rendah.
Patihe kepala judhi—Maha menterinya benggol judi.
Wong sing atine suci dibenci—Yang berhati suci dibenci.
Wong sing jahat lan pinter jilat saya derajat—Yang jahat dan pandai menjilat makin kuasa.
Pemerasan saya ndadra—Pemerasa n merajalela.
Maling lungguh wetenge mblenduk — Pencuri duduk berperut gendut.
Pitik angrem saduwure pikulan—Ayam mengeram di atas pikulan.
Maling wani nantang sing duwe omah—Pencuri menantang si empunya rumah.
Begal pada ndhugal—Penyamu n semakin kurang ajar.
Rampok padha keplok-keplok—P erampok semua bersorak-sorai.
Wong momong mitenah sing diemong—Si pengasuh memfitnah yang diasuh
Wong jaga nyolong sing dijaga—Si penjaga mencuri yang dijaga.
Wong njamin njaluk dijamin—Si penjamin minta dijamin.
Akeh wong mendem donga—Banyak orang mabuk doa.
Kana-kene rebutan unggul—Di mana-mana berebut menang.
Angkara murka ngombro-ombro—A ngkara murka menjadi-jadi.
Agama ditantang—Agama ditantang.
Akeh wong angkara murka—Banyak orang angkara murka.
Nggedhekake duraka—Membesar -besarkan durhaka.
Ukum agama dilanggar—Hukum agama dilanggar.
Prikamanungsan di-iles-iles—Pe rikemanusiaan diinjak-injak.
Kasusilan ditinggal—Tata susila diabaikan.
Akeh wong edan, jahat lan kelangan akal budi—Banyak orang gila, jahat dan hilang akalbudi.
Wong cilik akeh sing kepencil—Rakyat kecil banyak tersingkir.
Amarga dadi korbane si jahat sing jajil—Karena menjadi kurban si jahat si laknat.
Banjur ana Ratu duwe pengaruh lan duwe prajurit—Lalu datang Raja berpengaruh dan berprajurit.
Lan duwe prajurit—Dan punya prajurit.
Negarane ambane saprawolon—Leba r negeri seperdelapan dunia.
Tukang mangan suap saya ndadra—Pemakan suap semakinmerajalela.
Wong jahat ditampa—Orang jahatditerima.
Wong suci dibenci—Orang suci dibenci.
Timah dianggep perak—Timah dianggap perak.
Emas diarani tembaga—Emas dibilang tembaga
Dandang dikandakake kuntul—Gagak disebut bangau.
Wong dosa sentosa—Orang berdosa sentosa.
Wong cilik disalahake—Raky at jelata dipersalahkan.
Wong nganggur kesungkur—Si penganggur tersungkur.
Wong sregep krungkep—Si tekun terjerembab.
Wong nyengit kesengit—Orang busuk hati dibenci.
Buruh mangluh—Buruh menangis.
Wong sugih krasa wedi—Orang kaya ketakutan.
Wong wedi dadi priyayi—Orang takut jadi priyayi.
Senenge wong jahat—Berbahagi alah si jahat.
Susahe wong cilik—Bersusahl ahrakyat kecil.
Akeh wong dakwa dinakwa—Banyak orang saling tuduh.
Tindake manungsa saya kuciwa—Ulah manusia semakin tercela.
Ratu karo Ratu pada rembugannegara endi sing dipilih lan disenengi—Para raja berunding negeri mana yang dipilih dan disukai.
Wong Jawa kari separo—Orang Jawa tinggal setengah.
Landa-Cina kari sejodho — Belanda-Cina tinggal sepasang.
Akeh wong ijir, akeh wong cethil—Banyak orang kikir, banyak orang bakhil.
Sing eman ora keduman—Si hemat tidak mendapat bagian.
Sing keduman ora eman—Yang mendapat bagian tidak berhemat.
Akeh wong mbambung—Banyak orang berulah dungu.
Akeh wong limbung—Banyak orang limbung.
Selot-selote mbesuk wolak-waliking zaman teka—Lambat-lau n datanglah kelak terbaliknya zaman
PETILASAN JOYOBOYO
Petilasan Sri Aji Joyoboyo terletak di desa Menang, Pagu,kabupaten Kediri, Jawa Timur, sekitar ± 8 km ke arah timur dari kota Kediri. Jadilah tempatdimana Sri Aji Joyoboyo loka mukso. Loka mukso artinya hilang bersama dengan jasadnya.
Saat ini setiap 1 Suro diadakan upacara adat yang dilakukan oleh Yayasan Hontodento – Yogyakarta bersama dengan pemerintah kabupaten Kediri, dan menjadi obyek wisata yang selalu penuh pengunjungnya. Di obyek wisata ini pengunjung dapat menyaksikan bangunan peninggalan kerajaan Kediri, seperti tempat mukso, bangunan balai – balai dan kulukdengan tinggi 4 meter.
Upacara adat itu berupa kirab atau iring-iringan dari kraton Yogyakarta. Kirab Tombak Kiai Bimo menjadi salah satu ritual di dalamnya. Sekitar 500 orang yang menghadirinya berebut kembang sisa ritual, dengan harapan menjadi berkah dalamkehidupannya.
Tombak Kiai Bimo sendiri merupakan salah satu peninggalam Prabu Sri Aji Joyoboyo yang penemuannya terjadi hampir bersamaan dengan ditemukannya petilasan tempat Prabu Joyoboyo muksa. Pusaka ini berwujud kayu melengkung yang terbuat dari batang pohon sambi, yang konon berdiri di sekitar petilasan. Selama ini Tombak Kiai Bimo disimpan di Kantor Yayasan Hontodento yang didirikan sekelompok orang pengikut setia sang prabu, dan berkedudukan di Yogyakarta.
Kirab Tombak Kiai Bimo sendiri diawali dari Balai Desa Pamenang ke lokasi pamuksan yang berjarak sekitar 300 meter. Sesampainya di lokasi, kegiatan dilanjutkan dengan tabur kembang setaman oleh 16 bocah perempuan yang belum baligh, sehingga diyakini masih suci. Setelah tabur bunga oleh 16 bocah, acara puncak diawali dengan pemanjatan niat oleh pimpinanritual, caos dahar berupa taburbunga oleh pengurus Yayasan Hontodento, dan diakhiri dengan penyemayaman Tombak Kiai Bimo di lokasi pamuksan, sebelum akhirnya dibawa kembali ke Balai Desa Pamenang dan disimpan ulangdi Yogyakarta.
Seiring berakhirnya ritual, ratusan orang yang hadir di dalamnya diizinkan berebut kembang setaman dan melati yang disebar di lokasi pamuksan dan halaman di sekitarnya. Muncul kepercayaan, kembang tersebut akan menghadirkan ketenangan dalam menjalani hidup, serta memudahkan untuk terkabulkannya sebuah permintaan. Menurut cerita, Tirta Kamandanu ini adalah tempat mandinya atau bersucinya Sri Aji Jayabaya sebelum beliau muksa.
Beberapa tahun yang lalu, sumber air di Tirta Kamandanuini masih mengeluarkan air, tapi entah mengapa sekarang sumber air itu ditutup dengan batu, kolamnya kering.

Selasa, 16 Agustus 2011

Kisah Misteri : Hampir menjadi tumbal pesugihan

Sekitar seminggu yang lalu saya terlibat pembicaraan yang menarik dengan salah satu pengunjung warkop(warung kopi).Entah bagaimana awal mulanya,pembicaraan yang tadinya hanya mengobrol biasa malah berakhir dengan pembicaraan mengenai dunia primbon-arti.blogspot.com.
Dia pun menceritakan pengalamannya yang hampir menjadi tumbal pesugihan.Semua nama yang ada dalam cerita ini adalah nama samaran.Begini ceritanya : 


Sebutlah pria ini dengan nama sutejo,sutejo adalah seorang pedagang mainan anak-anak yang sering menjajakan dagangannya di emperan jalan alun-alun kota sumedang.Dengan penghasilan yang tidak tentu,membuat sutejo belum memiliki rumah dan terpaksa harus mengontrak. 

Bertahun-tahun hidup sebagai pedagang membuat sutejo mengenal banyak orang dan ada orang yang baik hati mengajarkannya ilmu kebathinan untuk menjaga dirinya dari marabahaya.



Pada suatu waktu,sutejo dan keluarganya berpindah kontrakan.Pada mulanya sutejo tidak tahu menahu mengenai desas desus yang berkembang mengenai pemilik rumah kontrakannya hingga pada suatu hari ada tetangganya yang memberitahu bahwa pemilik rumah kontrakan tersebut melakukan pesugihan kepada buto ijo.

Dan yang membuat sutejo tambah waspada,buto ijo tersebut meminta tumbal yang wedalnya hari sabtu.Secara kebetulan sutejo dan anaknya lahir di hari sabtu tentu saja ini cukup merisaukan sutejo.namun,karena tidak ingin membuat resah istrinya,hal tersebut di pendam sendiri tapi sutejo selalu bersikap waspada.

Hingga pada suatu malam,tiba-tiba sutejo merasakan keanehan yang terjadi.Tubuhnya tiba-tiba menggigil dan kepanasan padahal saat itu suhu udara sedang dingin karena merasa ada sesuatu yang akan terjadi,dia pun segera mengambil wudhu dan bersembahyang malam.Tidak lama setelah sutejo bersembahyang,hawa panas yang tadi mendera mendadak menghilang.malam itu dilalui sutejo dengan rasa was-was.

Esoknya terjadi hal yang sangat tidak diinginkan oleh sutejo,kini anaknya yang mendadak sakit dan panas karena sudah tahu itu adalah perbuatan dari buto ijo maka sutejo pun segera melakukan antisipasi.Ilmu yang pernah dipelajarinya langsung di praktekan,tidak lupa dia mengambil wudhu dahulu dan kemudian membaca doa yang diajarkan oleh gurunya,setelah cukup lama.Anaknya kembali normal dan sembuh.

Karena tidak terima anaknya hampir menjadi tumbal dari pesugihan buto ijo.Sutejo bertekad akan mengembalikan guna-guna tersebut ke pemiliknya.Dan pada malam jumat,sutejo mengurung dirinya dikamar melakukan ritual untuk melawan pengaruh jahat dari buto ij0(proses ini tidak bisa saya jelaskan secara rinci karena narasumber tidak menceritakan apa yang terjadi di malam itu).Singkat cerita sutejo berhasil mengalahkan buto ijo tersebut dan mengembalikannya ke orang yang melakukan pesugihan.

Esok harinya warga di daerah tempat tinggal sutejo geger,karena anak dari pemilik rumah kontrakan tersebut tiba-tiba meninggal tanpa ada sebab dan alasan.posisi meninggalnya pun bisa dibilang cukup aneh,yaitu dalam posisi duduk.

Sutejo pun mafhum bahwa itu karena buto ijo tidak berhasil mengambil nyawa dirinya dan anaknya maka dari itu,buto ijo mengambil nyawa anak pemilik rumah kostan tersebut.

Karena tidak ingin terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan kepada keluarganya,sutejo lantas berinisiatif untuk pindah rumah kontrakan.Tidak lama setelah dirinya pindah,sutejo mendengar kabar bahwa pemilik rumah kontrakan yang dulu ditempatinya kini telah miskin secara mendadak.

Kini suteju pun meneruskan kehidupan seperti biasanya,menjajakan mainan anak-anak.Meski penghasilannya tidak seberapa namun selama itu halal pasti akan dilakukan,itulah prinsip yang menjadi pegangan sutejo.Tamat.

Kaya dari perbuatan yang menyimpang dari agama dan menyekutukan tuhan tidak akan bertahan lama.Miskin tapi bekerja dengan halal lebih mulia dari menjadi kaya dengan melakukan hal yang kotor dan berdosa.

Rabu, 29 Desember 2010

4 Cerita Horor & Seram Di Jalan Tol Cipularang

Cerita 1

Tadi jam 22.00 dape SMS dari temen yang pulang ke Bandung via Cipularang, kalo di KM 70-an (deket waduk Jatiluhur) ada KIA Visto silver B 8878 xx yang posisinya ada di depan dia, tiba-tiba mengerem mendadak dan terguling di jalur sebelah kanan.


Padahal siangnya baru rame-rame membahas imel horor dari milis luar yang isinya sbb :

Mo nambahin, ati2 kalo mo jalan malem di Cipularang, terutama setelah waduk jatiluhur ke arah Bandung. Ada mobil misterius ngedim2. Pengalaman saya waktu itu mo bailk keJakarta lewat Cipularang malem hari. Saat itu saya di jalur kanan, tiba2 dari belakang ada mobil ngedim2. Abis itu saya minggir ke kiri ngasih jalan, eh itu mobil ikutan ke kiri juga sambil tetep ngedim2.


Karena kesel saya bejek mobil saya, eh dia ikut2an kenceng juga. Tetep dia masih ngedim2 juga. Karena kesel di dim mulu, saya intip dari spion tengah itu mobil apa sih, eh sehabis ngintip spion tengah, saya terus liat jalan di depan, udah ada buntut truk tinggal beberapa ratus meter lagi.

Kaget saya rem abis. Untung gak ngguling. Abis ngerem saya intip spion tengah, mobil tadi udah nggak ada lagi. Saya salip truk ternyata kendaran yang ada cuman mobil saya ama truk tadi. Depan gelap nggak ada mobil sama sekali huaaaa... serem abis. Abis itu merinding abis. Saya cerita ke kakak yang lagi kuliah di Bandung, dia ternyata juga pernah ngalamin kejadian yang kayak gt...

Cerita 2
Saya ingin berbagi cerita ini kejadian yang terjadi pada hari ke 4 lebaran, temen saya bersama om dan tantenya pergi dari Jakarta menuju Bandung melewati Tol Cipularang pada siang hari.... pada kecepatan 60Km/jm melewati KM 69, 70 tiba-tiba si sopir yg kebetulan omnya sendiri yang membawa kendaraan (mobil panther baru) seperti tidak sadarkan diri dan mengacu kendaraan semakin kencang sehingga kendaraan tersebut tidak stabil lalu membentur trotoar dan terbalik, pada waktu kejadian di dalam mobil tantenya sudah mengingatkan utk memelankan kendaraan namun semakin kencang membawanya sehingga terjadilah kecelakaan tersebut

Untungnya tidak ada yg terluka parah walaupun mobil tersebut keadaannya rusak berat dan kejadian terjadi di KM 72, kendaraan yg berada dibelakangnya bisa mengerem (mobil honda CRV) kemudian sipengemudi kendaraan tersebut turun dari mobil, anehnya si pengemudi menyalami om temen saya dan berkata "selamat pak untung tidak apa2, saya juga sempat hilang sebentar namun krn melihat kndraan bpk saya kaget dan mengerem".

Setelah beberapa lama pihak Jasa Marga datang, lalu anehnya lagi mereka berkata "untung bapak di KM 72 kl di KM 68 pasti bapak sudah lewat kali sebelumnya ada 2 kecelakan di KM 68 meninggal, memang daerah rawan di 68-72 pak sebaiknya di KM ini lebih berhati-hati dan jangan sampe pikiran kosong", percaya atau tidak dan bukannya menakut2ti tapi ini kejadian sungguhan jadi teman2 dr arah Jakarta menuju Bandung melewati Tol Cipularang lebih baik berhati-hati pada KM 68-76.

Cerita 3
Pada suatu hari ada sekeluarga pergi ke bandung.Keluarga tersebut terdiri dari ayah,ibu dan 1 orang anak yg masih berumur 8 thn an. Mereka berangkat dari jakarta sekitar jam 9 an,malam sabtu.Nah tiba2 anaknya kebelet kencing ampe aduh2an..

Bapaknya bilang "udah nanti aja pas di pintu tol,dsini gelaap!".

tp krn anaknya gk kuat,berhentilah mereka. lalu turunlah anak itu,sambil ibunya bilang "jgn jauh2 y nak.." , iya.. saud si anak"

Tp kedua org tuanya merasa kok anak ini smakin jauh dan menjauh jalannya..
"eh jangan jauh2..,d depan mobil aja!" kata si ibu. lalu saud anaknya..iya mah..!"
lalu tak lama kemudian anak itu..balik k mobilnya dan duduk d belakang,sambil ayahnya bilang..
"kamu nih gimana sih..,kencing kok jauh2 amat.."
"malu pah..,diliat orang"

Setelah mereka sampai di bandung ,orang tuanya melakukan aktifitas biasa selama 2 hari hingga hr minggu. Kaya belanja,makan, mandi,tidur dll pokoknya liburan lah. tp dsela2 liburan mereka,orangtuanya rada2 melihat kejanggalan dr anaknya.Yg biasa anaknya ingin berenang d hotel,ini tidak. Dan anaknya terlihat murung, pucat dan berubah jd diem.. tidak seperti biasanya.

"kamu sakit..??" tanya si ibu,tp anaknya dieeemm aja...

Akhirnya ayahnya memutuskan untuk pulang k jakarta , dr rencana sebelumnya hingga hari senen,akhirnya pulang hari minggu.Di dalam perjalanan pulang sekitar jam 10 an..kembali si anak kebelet kencing sampe aduh2an..

"aduh pah..kencing. .,papah kenciiing.." kata si anak

Akhirnya mereka berhentilah kembali.Anehnya mereka berhenti di KM yg sama seperti anaknya kencing sebelumnya, hanya saja di jalur yg berbeda.Tetapi kali ini si anak tidak balik2 k mobil..,sehingga membuat bingung orang tuanya. Setelah mereka menunggu 1 jam di pinggir tol,akhirnya mereka melapor k petugas melalui no.tlp pengaduan tol.
Dalam percakapannya di tlp,petugas memberikan ciri2 pakaian si anak tersebut.. dan ternyata benar!.

Akhirnya kedua orang tua tersebut langsung menuju pos tersebut,sambil ter heran2..

"kok bisa ada dsanaaa..,saud ayahnya.."
Sesampainya di pos, ibunya langsung memeluk erat anaknya..dan memarahinya
"kamu kemana sih! kok tiba2 dsini.."

"loh..! mamah yang kemana aja..aku ditinggal,aku teriak2 mamah gk denger..!" sambil nangis..

And guess what..!, Petugas polisi berkata..
"bu jangan dimarahi bu,anak ibu sudah di kantor kami selama 2 hari sejak hari jumat malam.."

seketika ibu dan ayahnya duduk lemas dan saling memandang..

Ternyata pada waktu anaknya kencing dalam perjalanan ke bandung, dia hanya kencing di samping kiri mobil di balik pintu belakang, tetapi ibu dan ayahnya melihat dia berjalan di depan mobil dan menjauh.. setelah balik anak yg masih kencing ditinggal begitu saja..sampai anaknya teriak2 tp tidak terdengar..

"Pertanyaannya, lalu siapa yang ikut ke bandung ???"

Cerita 4

Saat itu tanggal 1 Juni 2008. Gue dan istri, Herman "Wong"(band tahun 97an), anak (usia 5th) dan istrinya, gingin (operator Qubu Studio,Bdg) berangkat menuju Jakarta dari Bandung menuju Sony BMG Jakarta , selama perjalanan dari Bandung alhamdullilah tidak ada masalah.

Kita di Sony sampai pukul 16.30. Beres di Sony BMG, kita langsung masuk tol DalKot dan menuju Cikampek, sampai Km 63 gue terima telpon dari Produser Kalamoa Band, menanyakan progress. Gue bilang gue lagi nyetir dan gue serahin ke bini gue, dia ngobrol dan menanyakan sdh dimana? kata bini gue km 64, trus gue liat, emang betul.

Pembicaraan langsung beralih ke herman, dlm hitungan kurang lebih 10 detik saja berakhir. Saat itu Herman mencium bau anyir dan berkata :"kok bau darah ya? gue noleh ke belakang,trus gue bilang,knapa? Gingin trus ngomong ke anaknya herman :"tuh liat ada kereta!"(Gingin duduk dibelakang).

Gue Kaget dan sadar kan sepanjang km 64 ga ada REL di kanan (kalo dari arah jkt) memang sekelebat gue liat bayangan kreta... Pas gue sadar, didepan gue ada truk warna hitam, besar banget,tapi kayak siluet, disamping gue truk fuso dan dibelakang ada truk gandeng sibuk ngedim2 dan nglakson gue,karena ternyata gue sudah berada di jalur berlawanan. Si truk gandeng udah kagok, langsung nyalip di antara truk fuso dan gue, sementara gue sibuk buang gas untuk menyeimbangkan kecepatan agar keburu masuk kembali ke jalur seharusnya sebelum dihantam truk hitam itu.

Alhamdullilah berhasil, kita semua selamat, dan pas gue liat gue ada di km 70. Semua pada kayak orang bego, bingung belokan ke bandung di km 67nya kemana??? Pas gue liat jam menunjukkan pukul 18.00 tepat.. DALAM 10 DTK gue lompat 6 kilometer, Sumpah ga masuk akal...

Gue langsung nanya ama orang diloket tol, ini dimana? dia malah bingung ngeliatin gue dan anak2 ... Astagfirullah...sumpah menyeramkan...Besoknya gue telpon teman gue wartawan, ternyata memang sering kejadian seperti itu di antara km 64-70 tepatnya, dan selalu berakhir dengan kecelakaan maut...

Hiiiii Serem banget ya cerita2nya....

Berhati-hatilah rekan2 semua...banyak rahasia alam di dunia ini yang tidak masuk akal, termasuk dimensi dan waktu... Bagi yang sering lewat sana dan sama sekali tidak mengalaminya, mudah2an memang tidak akan mengalaminya... karena sumpah...menyeramkan sekali...

Buat temen-temen yang suka mondar-mandir Jakarta-Bandung lewat Cipularang, mau percaya atau tidak, itu terserah kepada nalar anda sendiri untuk mencernanya.

Senin, 11 Oktober 2010

Sumpah pocong

Sumpah pocong yang konon merupakan tradisi masyarakat pedesaan adalah sumpah yang dilakukan oleh seseorang dengan kondisi terbalut kain kafan layaknya orang yang telah meninggal.Sumpah ini tak jarang dipraktekkan dengan tata cara yang berbeda, misalnya pelaku sumpah tidak dipocongi tapi hanya dikerudungi kain kafan dengan posisi duduk.


Sumpah pocong biasanya dilakukan oleh pemeluk agama Islam dan dilengkapi dengan saksi dan dilakukan di rumah ibadah (mesjid). Di dalam hukum Islam sebenarnya tidak ada sumpah dengan mengenakan kain kafan seperti ini. Sumpah ini merupakan tradisi lokal yang masih kental menerapkan norma-norma adat. Sumpah ini dilakukan untuk membuktikan suatu tuduhan atau kasus yang sedikit atau bahkan tidak memiliki bukti sama sekali.


Di dalam sistem pengadilan Indonesia, sumpah ini dikenal sebagai sumpah mimbar dan merupakan salah satu pembuktian yang dijalankan oleh pengadilan dalam memeriksa perkara-perkara perdata,

walaupun bentuk sumpah pocong sendiri tidak diatur dalam peraturan Hukum Perdata dan Hukum Acara Perdata. Sumpah mimbar lahir karena adanya perselisihan antara seseorang sebagai penggugat melawan orang lain sebagai tergugat, biasanya berupa perebutan harta warisan, hak-hak tanah, utang-piutang, dan sebagainya.

Dalam suatu kasus perdata ada beberapa tingkatan bukti yang layak diajukan, pertama adalah bukti surat dan kedua bukti saksi. Ada kalanya kedua belah pihak sulit menyediakan bukti-bukti tersebut, misalnya soal warisan, turun-temurunnya harta, atau utang-piutang yang dilakukan antara almarhum orang tua kedua belah pihak beberapa puluh tahun yang lalu. Bila hal ini terjadi maka bukti ketiga yang diajukan adalah bukti persangkaan yaitu dengan meneliti rentetan kejadian di masa lalu. Bukti ini agak rawan dilakukan. Bila ketiga macam bukti tersebut masih belum cukup bagi hakim untuk memutuskan suatu perkara maka dimintakan bukti keempat yaitu pengakuan. Mengingat letaknya yang paling akhir, sumpah pun menjadi alat satu-satunya untuk memutuskan sengketa tersebut. Jadi sumpah tersebut memberikan dampak langsung kepada pemutusan yang dilakukan hakim.

Sumpah ada dua macam yaitu Sumpah Suppletoir dan Sumpah Decisoir. Sumpah Supletoir atau sumpah tambahan dilakukan apabila sudah ada bukti permulaan tapi belum bisa meyakinkan kebenaran fakta, karenanya perlu ditambah sumpah. Dalam keadaan tanpa bukti sama sekali, hakim akan memberikan sumpah decisoir atau sumpah pemutus yang sifatnya tuntas, menyelesaikan perkara. Dengan menggunakan alat sumpah decisoir, putusan hakim akan semata-mata tergantung kepada bunyi sumpah dan keberanian pengucap sumpah. Agar memperoleh kebenaran yang hakiki, karena keputusan berdasarkan semata-mata pada bunyi sumpah, maka sumpah itu dikaitkan dengan sumpah pocong. Sumpah pocong dilakukan untuk memberikan dorongan psikologis pada pengucap sumpah untuk tidak berdusta.

Senin, 13 September 2010

Kisah nyata!!Di Pontianak,Kuntilanak Melayang Sambil Membawa Peti Mati Dihadapan Penjual Bensin Eceran!!


PONTIANAK - Pengalaman ini tak akan pernah hilang dari ingatan Agus Wandi (25), seorang satpam yang bekerja di kantor sebuah perusahaan swasta di Kota Pontianak. Dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, sesosok kuntilanak melayang sambil menyeret peti mati dengan rantai.


"Waktu itu, sekitar jam 4 subuh, saya bersama lima teman nongkrong di jembatan Simpang Benteng di Kota Mempawah," ujar Agus kepada Tribun, Minggu (12/9/10).

Agus kelahiran Kota Mempawah, ibu kota Kabupaten Pontianak, sekitar 67 kilometer dari Kota Pontianak. Sekitar 1,5 tahun lalu, dia masih tinggal di Mempawah dan belum bekerja sebagai satpam.

Dia dan teman-temannya sering nongkrong di jembatan yang terletak di daerah yang biasa disebut Simpang Benteng. Meski namanya Simpang Benteng, tutur Agus, tapi daerah itu bukanlah persimpangan. Memang, sekitar 50 meter dari tempat itu, dijumpai persimpangan tiga, yang satu di antaranya merupakan akses menuju Kota Singkawang.

Di areal yang diyakini angker dan ada penunggunya itu, berdiri sebuah jembatan besi untuk melintasi anak sungai yang memotong, disebut Jembatan Benteng. Nah, di situlah ada belokan mematah yang sangat tajam menuju ke kanan, jika ditempuh dari arah Kota Pontianak.

Meski letaknya sudah di Kota Mempawah, areal itu gelap di malam hari. Kala itu, ujar Agus, di sekitar Simpang Benteng, ada tiga buah rumah toko (ruko) di kiri jalan. Kemudian di sebelah kanannya, ada sebuah rumah penduduk.

"Agak sepi, karena pemukiman penduduk agak ke arah dalam. Lagi pula sekitar beberapa puluh meter dari jembatan itu, ada kuburan," kata dia.

Malam itu, seingat Agus, merupakan malam Jumat. Dia dan lima temannya nongkrong di Jembatan Benteng, menemani seorang rekannya yang berjualan bensin eceran di pinggir jembatan itu.

"Kalau malam sering pengendara melintas, dan kadang-kadang mereka beli bensin juga," ujar Agus.

Menjelang pukul 04.00, dia dan lima temannya melihat sesosok putih melintasi tempat itu. Agus yakin, dia tidak salah lihat. Sosok itu persis gambaran kuntilanak yang sering diceritakan orang- orang.

"Pakaiannya putih, rambutnya panjang hingga kaki. Saya dan kelima teman melihat sejelas- jelasnya dalam jarak sekitar 10 meter," ucap Agus, yang mengaku masih merinding jika mengingatnya.

Sosok kuntilanak itu melintas dengan cara melayang. Dia tampak menyerat peti mati dengan rantai. Tanpa suara, karena dalam penglihatan mereka, sosok kuntilanak dan peti mati itu seperti melayang.

"Kami segera lari menjauh menuju ruko yang ada di situ. Kuntilanak itu melayang ke arah kuburan. Setelah hilang dari pandangan kami, bensin eceran jualan teman saya segera dikemas, dan kami kabur naik sepeda motor, pulang," tutur Agus.

Sebelumnya, Agus mengaku pernah diceritakan oleh para orangtua, kalau Simpang Benteng itu angker dan ada penunggunya. Dia pun pernah mendengar cerita, sering muncul kuntilanak menyeret peti, pertanda akan ada korban jiwa esok harinya.

"Ini benar terjadi, besoknya sekitar pukul 10 pagi, saya dengar ada pengendara sepeda motor yang kecelakaan dan meninggal seketika di Jembatan Benteng. Saya dan teman-teman sampai tiga pekan tak berani muncul ke situ," ucap Agus.

Menurut catatan Tribun Pontianak, daerah tersebut memang rawan kecelakaan. Meski dalam tahun ini tidak terjadi korban jiwa, tapi kecelakaan kecil nyaris terjadi tiap pekan. Jalan dengan belokan mematah yang cukup tajam, dan lagi ruas itu merupakan lintasan akses dari Kota Pontianak menuju Singkawang, dan sebaliknya.
Source :  http://regional.kompas.com/read/2010/09/13/08135918/Agus.Melihat.Kuntilanak.Seret.Peti.Mati-7

Minggu, 12 September 2010

Gambar Jenglot

Hingga kini saya masih bingung untuk mendeskripsikan kalau jenglot itu apa,gan???Namun dari berbagai informasi yang saya dapat,jenglot adalah penjelmaan dari Batara Karang!!Nanti di post yang akan datang saya akan mencoba untuk menjelaskan mengenai jenglot,untuk saat ini silahkan anda semua melihat-lihat beberapa gambar jenglot yang saya dapat dari hasil searching di mbah google!!














 





Tunggu aja ya,sob!!Artikel mengenai asal-usul jenglot pasti kan menyusul ^^