Tampilkan postingan dengan label pengasih dan guna - guna. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pengasih dan guna - guna. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 September 2012

Ilmu pelet pengasih atau ilmu guna guna

Ilmu pelet pengasih atau ilmu guna guna

Bila cinta ditolak, pengasih dan ilmu guna-guna bertindak!!!

Om swastyastu Om a no bhadrah kratawo yantu wiswatah
semoga pikiran yang baik datang dari semua penjuru

Kali ini saya kembali lagi dengan tajuk yang agak menarik untuk dibincangkan. Pastinya ramai sahabat di luar sana yang pernah gagal dalam percintaan dan mungkin juga cinta tertolak dan membuatkan anda sakit hati dan kecewa. ilmu pelet, Pengasih dan ilmu guna-guna pastinya altenatif terbaik bagi mereka yang tidak punya iman dalam jiwanya bagi mengubat segala guris di hati.

Semua kita maklum dengan kata-kata ini :
“ Sakitnya luka di jasad, mudah saja di ubati. Sakitnya hati, mungkin saja dibawa ke mati!!”

Justru, mungkin ramai diantara kita yang terfikir untuk berbuat sesuatu yang bisa mengubat sakitnya hati termasuk saya sendiri. Saya juga punya hati dan perasaan. Bila mana disakiti, sukar untuk disembuhkan.


Selama kita hidup, tahukah kita apakah itu pengasih dan ilmu guna-guna?
Penting sangatkah untuk kita ketahui?

Menurut saya sendiri, ilmu pengasih adalah satu ilmu yang digunakan oleh seseorang untuk mendapatkan cinta seseorang dengan mudah. Contohnya, minyak dagu, pengasih purnama, pengasih arjuna,pengasih jiwa dan banyak lagi jenis pengasih. Kebanyakan pengasih terdiri daripada mentera dan jampi.

Pengasih-asih adalah cabang ilmu pangiwa yang bertujuan membuat orang jatuh cinta kepada orang yang melaksanakan ilmu pangiwa. Hal ini biasanya menggunakan srana berupa guna2 (guna).

Orang Bali mengenal beberapa jenis guna, yaitu Guna Lilit, Guna Jaran Nguyang, Guna Tuntung Tangis, I Cekcek Putih, dan lain sebagainya.

Guna tuntung tangis 

menggunakan srana air mata duyung (Konon bisa memakai air mata bayi/anak kecil yang menangis ketika sandikala atau maghrib).
Rerajahan guna tuntung tangis

Jaran Guyang

Srananya tangkai sirih, setelah selesai dimantrai kepada orang yang dituju, jangan menoleh.
Mantranya:
Om ingsun angaji ajine I Jaran Guyang, angamuk ka tengahin lalatane Si Anu (nama korban), den suduk lata lan atine Si Anu (nama korban), Si Anu (nama korban) plek mati kapisanan, urung Si Anu (nama korban) mati, sida edan urung Si Anu (nama korban) edan, sida Si Anu (nama korban) maring awakku dan seterusnya.................
Rerajahan guna jaran guyang

Cekcek Putih

Srananya menggunakan clebingkah (pecahan barang2 tanah liat) yang didapat di kuburan. Kemudian digambar sesuai dengan rerajahan di atas. Lalu ditutupi dengan selembar daun sirih. Setelah dimantrai, ditanam di jalan keluar masuk rumah si korban.
Mantranya:
Hiang sira Sanghiang Cekcek Putih, ingsun msangakena sira ring lawannge Si Anu (nama korban), yan urung lian anglangkahin gunankune, I Cekcek Putih, aja sira culig silih gawe, yan Si Anu (nama korban) anglangkahin gunane, I Cekcek Putih majingakena sira, maring gwagarbane Si Anu (nama korban), cucuken basang wayahe Si Anu (nama korban), dan seterusnya..........
Rerajahan una I Cekcek Putih
Srananya menggunakan gana (air liur) ular tatkala akan mendapatkan mangsanya. Maaf, tiyang tidak mempunyai mantranya....
Rerajahan Guna Lilit
Disamping semua guna2 tersebut, ada pula yang disebut pangolesan (minyak colek). 
Salah satu jenisnya yaitu Pangolesan I Lare Asih. Dengan minyak yang dimantrai ini, dapat membuat wanita tergila2....Biasanya minyak ini dijual kepada yang membutuhkan. 
Mantranya: 
Ih cai Sang Lare Asih, ih cai angulati Si Anu (nama korban), aku wus awruha ring kadadeana Si Anu (nama korban), ih Si Anu (nama korban) duk sira lagi ring jero weteng ibunira, Sang Kamareka aranira, Si Anu (nama korban), duk sira lagi ana ring gedong kusuma, wawu sira matuwuh nembulan, dan seterusnya..............

ada juga yang mengunakan sarana rokok
mantranya: Sa : roko upinang ping 3, Ma : Om sangiang gni rumusup atine Si Anu (nama korban) gadak uyang atine Si Anu (nama korban) aningalin awak sariranku dan seterusnya..
atau dengan menggunakan Mantra berikut : Ih, Semar lungha ametan atmanne Si Anu (nama korban) ring tengahing (telenging) soca kiwa tengen dan seterusnya..

selain itu, bisa juga dengan menggunakan sarana PIS ARJUNA (uang kepeng dengan gambar arjuna), untuk lebih jelasnya bisa dibaca di "Pis Arjuna, salah satu uang magis di masyarakat Bali"

ada juga dengan menggunakan mantra memuja Hyang Semara Ratih, karena atas anugrahnyalah benih cinta akan bersemi, berikut mantranya..
mantra: ih sang hyang semara ratih, aku anganggo piolasmu, awaku sang arjuna, asihku asih arjuna, teke lengleng bungeng buduh paling meguyang mekyayangan hatine si anu aningalin awak sariranku, sedurunge ketemu aku, buduh hatin ye maring aku dan seterusnya....
atau menggunakan mantra ini: ong sang hyang asmara, ong sang hyang semara ratih, aku angetus sekar merik rumusup harine si anu, teke buduh paling hati ye si anu aningalin awak sariranku, teke buduh ye angucah dan seterusnya...

TAPI...
kesemua mantra dan sarana tersebut serta merta dapat digunakan dengan seenaknya saja, ada beberapa syarat yang harus dijalankan sehinga khasiat mantra tersebut bisa terlaksana dengan baik. syarat - syaratnya itu bisa penambahan bahan (serana) baik berupa pis bolong maupun puasa.
perlu diingat dan tidak usah takut. di dunia ini ada dua sisi... ada baik tentu ada buruk, ada penyakit sudah tentunya pasti ada obatnya. demikian juga guna - guna, sudah tentu ada pemunah ilmu tersebut yang dapat dibaca disini: cara mengatasi Ilmu pelet pengasih atau ilmu guna guna

Kamis, 08 Juli 2010

Ilmu Kewisesan Pengiwa Leak Desti

Ilmu Kewisesan Pengiwa Leak Desti


Kata Pengiwa berasal dari bahasa jawa kuno; yang asal katanya kiwa dalm bahasa Jawa Kuno yang artinya kiri; kiwan; sebelah kiri, Ngiwa = Nyalanang aji wegig (menjalankan aliran kiri), seperti ; pengeleakan penestian, Menggal Ngiwa = nyemak (melaksanakan) gegaen dadua (pekerjaan kiri dan kanan).

Pengertian Kiwa dan Tengen artinya ilmu hitam dan ilmu putih, Ilmu Hitam disebut juga ilmu pengeleakan, tergolong aji wegig. Aji berarti ilmu, Wegig berarti begig yaitu suatu sifat yang suka mengganggu orang lain. Karena sifatnya negatif, maka ilmu itu sering disebut “ngiwa”. Ngiwa berarti melakukan perbuatan kiwa alias kiri.

Aji Penengen (Ilmu putih) sangat bertentangan dengan ilmu hitam. 

Ilmu putih sebagai lawannya, yang disebut pula ilmu penangkal leak yang bisa dipakai untuk memyembuhkan orang sakit karena diganggu leak, sebab aji usadha berhaluan kanan, disebut haluan “tengen” berarti kanan. Ilmu putih ini mengandung ilmu “kediatmika”.

Leak Desti yang merupakan bagian dari Ilmu Pengiwa dari jaman dulu kala yang memiliki proses belajar nge-leak dan sudah menjadi fenomena yang tak pernah sirna dimakan jaman, keberadaannya dari dulu menjadi momok yang menakutkan masyarakat. Leak Desti adalah perwujudan tingkat ilmu leak paling bawah yaitu perwujudannya bisa berbentuk binatang. adapun nama – nama yang sangat popular adalah:
  • Lelakut yaitu sejenis kadal yang besar berbadan hitam loreng-loreng, berkepala manusia berwajah seram dan hitam, rambutnya terurai, taringnya panjang, giginya runcing, matanya lebar dan menyala keluar api berwarna hijau, mempunyai ekor panjang warnannya loreng hitam putih.
  • Bebae yaitu sejenis binatang kambing berbulu putih mulus, mempunyai telinga panjang menjulur kebawah sampai menyentuh tanah.
Leak Desti ini sasarannya adalah orang-orang yang penakut sehingga kalau orang yang ketakutan ini melihat leak Desti maka ia akan lari terbirit-birit dan bisa terjatuh dan pada saat jatuh itulah maka Leak Desti ini akan menyerang dan akan mengisap darah orang yang terjatuh tadi.

Disamping orang yang ketakutan juga bisa disasar anak-anak kecil terutama bayi-bayi sehingga bayi-bayi itu bisa menangis terus-menerus dan tidak mau menyusu pada ibunya dan lama-lama sampai anak kecil tersebut jatuh sakit. Leak Desti ini di Bali ada penangkalnya yaitu melalui orang-orang Wiku yaitu orang yang sudah menguasai ilmu pengobatan yang disebut ilmu Usada Bali (pengobatan tradisional Bali).

“Ngereh” 

artinya proses perubahan wujud dari manusia menjadi Leak. Leak desti adalah wujud siluman jahat (setan) dimana prosesi ngereh leak dilakukan di kuburan. Desti adalah perwujudan binatang siluman manusia dalam bentuk binatang yang aneh dan seram.

Adapun Tehnik Ngereh Leak Desti tersebut adalah sebagai berikut : Dalam ajaran Agama Hindu mengenal tiga Kerangka Dasar yaitu:
  • Tatwa berarti orang yang menjalankan ilmu pengeleakan harus menyadari tentang ajarannya.
  • Etika berarti orang yang menjalankan ilmu pengeleakan pasti akan melaksanakan mengenai tehnik-tehnik tingkah lakunya.
  • Upakara berarti orang yang menjalankan ilmu pengeleakan sudah tentunya melaksanakan upakara-upakara seperti menghaturkan sesajen (banten dalam bahasa bali) sebagai sarana upakara.

Sebelum Ngereh (proses perubahan wujud) menjadi Leak Desti, orang yang menjalankan pengeleakan terlebih dahulu melaksanakan beberapa tahapan kegiatan dengan melakukan berbagai permohonan. Adapun tahapan-tahapan kegiatan ngereh tersebut adalah sebagai berikut :
  1. Memasang pasirep yaitu mengeluarkan ilmu kesaktian agar semua mahluk hidup yang ada di sekitarnya semuannya tertidur lelap.
  2. Mencari tempat ngereh yaitu mencari tempat yang paling strategis dan aman seperti misalnya di Kuburan, pada perempatan jalan, atau bisa di sawah yang penting tempat tersebut sepi.
  3. Mempersiapkan upakara berupa sarana banten yang berkaitan dengan ilmu pengeleakan.
  4. Melakukan permohonan-permohonan agar proses ngereh dapat berlangsung sesuai dengan yang diinginkan kepada Tuhan dalam segala bentuk menifestasinya yaitu :
Pertama mohon kepada yang bernama Butha Peteng (perwujudan unsur alam gelap) untuk memagari tempatnya agar siapa yang lewat supaya tidak melihat, dilanjutkan kemudian dengan memasang ilmu pengreres (ilmu penakut) agar yang lewat menjadi ketakutan.
Kedua mohon kepada yang bernama Butha Keridan (perwujudan unsur alam terbalik) agar pengelihatan orang bisa terbalik yaitu yang di atas bisa terlihat di bawah.
Ketiga secara berturut-turut mohon kepada yang bernama Sang Kala Jingkrak, Butha Lenga, Butha Ringkus, Butha Jengking dan terakhir mohon kepada yang bernama sang Butha Kapiragan, agar segala permohonannya bisa terkabul.
Sang Kala Jingkrak, Butha Lenga, Butha Ringkus, Butha Jengking dan Butha Kapiragan adalah nama-nama Butha Kala yang menguasai Ilmu Pengleakan.
Keempat setelah proses permohonan selesai, dilanjutkan dengan kegiatan muspa (sembahyang) dengan posisi badan terbalik yang dilanjutkan dengan nengkleng (berdiri dengan kaki satu) berjalan nengkleng mengitari "sanggah cucuk" (tempat menaruh sesajen yang terbuat dari batang bambu), sesuai dengan tingkat ilmunya dengan posisi putaran berjalan nengkleng kearah kiri.

Dengan melalui ngereh tersebut diatas maka orang yang menguasai ilmu pengeleakan bisa berubah wujud sesuai tingkat ilmu pengeleakan yang dikuasainya yaitu kalau tingkat Desti maka orang tersebut bisa berubah wujud menjadi binatang yang aneh-aneh dan seram

setelah menguasai Ilmu Pengiwa Leak Desti, penekun akan dengan mudah membuat sarana pengleakan yang biasa di gunakan oleh pengikut aliran kiri ini. Sarana tersebut seperti :
  1. Pengasren” (semacam pelet), yakni sarana magis agar orang yang bersangkutan menjadi kelihatan selalu cantik dan tampan, awet muda dan mempunyai daya pikat yang tinggi. Dengan sarana tersebut orang akan mudah dapat memikat lawan jenis yang dikehendakinya.
  2. Pengeger” (semacam penglaris) yang dapat menyebabkan si pemakai menjadi laris dalam berdagang atau berusaha, dengan harapan si pemakai menjadi semakin kaya.
  3. Pengasih-asih”, yakni sarana yang dapat membuat orang menjadi jatuh cinta kepada orang yang menggunakan sarana tersebut. Atau dapat pula disebut dengan sarana guna-guna. Seperti misalnya : guna lilit, guna jaran guyang, guna tuntung tangis, dan lain-lain macamnya.
  4. Penangkeb”, yakni sarana gaib atau mistis agar orang lain atau orang banyak menjadi tunduk. Dengan demikian orang tersebut dapat mengendalikan, mengarahkan, menguasai, atau menyetir orang lain atau orang banyak sesuai dengan keinginannya. Orang yang telah terkena ilmu penangkeb tak ubahnya seperti kerbau yang dicocok hidungnya, sehingga akan menjadi penurut sesuai perintah atau keinginan dari orang yang mengenakan ilmu penangkeb.
  5. Pepasangan”, yakni sarana yang ditanam pada tempat tertentu oleh orang yang bisa melakukan pengiwa. Tujuannya adalah untuk mengenai korbannya sesuai dengan yang diingini si pemasang. Dapat berupa sarana tulang manusia yang dibungkus, atau berupa bubuk tulang yang ditaburkan pada pekarangan rumah orang yang akan dijadikan korban. Dengan adanya pepasangan itu menjadikan situasi rumah tersebut menjadi agak lain, agak seram, penghuninya sakit-sakitan, sering cekcok, dan lain-lain.
  6. “Sesawangan”, yakni kemampuan seseorang yang mempraktekkan ilmu pengiwa hanya dengan membayangkan wajah atau hanya nama dari calon korban. Sesawangan juga disebut dengan umik-umikan atau acep-acepan atau doa-doa. Dengan kemampuan ini seseorang yang melaksanakannya dapat mencapai korbannya, walaupun dia bersembunyi di balik dinding beton yang tebal dan kuat. Adanya ilmu ini makanya sering kita mendengar kalimat seperti berikut : “walaupun engkau berlindung di dalam gedong batu yang terkunci rapat, aku akan dapat mencapaimu”. Mungkin ilmu sesawanganlah yang digunakan orang tersebut.
  7. Ilmu Cetik” (racun) merupakan cara meracun orang atau korban. Ada cetik sekala dan ada cetik niskala. Cetik sekala diartikan bahwa meracun dengan menggunakan sarana tertentu yang tampak nyata, seperti cetik gringsing, cetik cadang galeng, cetik kerikan gangsa, dan lain-lain. Kemudian cetik niskala adalah meracun korban atau orang dengan sarana yang tidak kelihatan. Cetik ini hanya mampu dilakukan oleh orang yang memiliki ilmu Leak yang sudah tinggi. Hanya dengan memandangi makanan atau minuman saja, maka korbannya akan menjadi sakit seperti yang dikehendaki. Jadi boleh dibilang cetik ini tanpa memerlukan sarana, karena tidak kelihatan.


Kewisesan yang diporolehnya kemudian disebarluaskan secara rahasia dengan menggunakan sarana seperti mas, mirah, tembaga, kertas merajah, dan lain-lain. Ada pula dalam bentuk bebuntilan (bungkusan kecil yang berisikan sarana tertentu). Si pemakai pengiwa tersebut juga diberikan rerajahan ongkara sungsang (ongkara terbalik) pada lidah, gigi, kuku, atau bagian tubuh tertentu lainnya. Atau ada pula penggunaan pengiwa dengan jalan maled (menelan sarana yang diberikan oleh gurunya). Sarana pengiwa tersebut dibakar sebelumnya, kemudian abunya dibungkus dengan buah pisang mas, dan kemudian ditelan. Setelah itu didorong masuk ke dalam tubuh dengan menggunakan tirta atau air suci.

Dalam kemajuan teknologi yang berkembang pesat saat ini ternyata di masyarakat masih mejadi trend penggunaan alat-alat kekebalan dalam berbagai bentuk baik yang dipakai maupun yang masuk dalam tubuhnya.

Adapun fungsi dari alat tersebut untuk menambah kepercayaan diri agar merasa lebih mampu dibandingkan dengan yang lainnya. Harus disadari fungsi dari alat ini bagaikan pisau bermata dua. Kalau tujuanya untuk kepentingan umum dalam hal menolong masyarakat tidak menjadi masalah. Yang menjadi masalah adalah jika alat itu digunakan untuk pamer dan menguji orang lain, ini yang sangat riskan. Karena setiap alat yang kita pakai memiliki kadar tersendiri, tergantung dari sang pembuatnya. Karena ini berhubungan dengan kekuatan niskala yang berupa panengen dan pengiwa. Atau dalam istilah lainnya mengandung kekuatan pancaksara maupun dasaksara. Tidak sembarang orang bisa membuat alat seperti ini apalagi memasangnya karena berhubungan dengan pengraksa jiwa. Kalau berupa sesabukan (tali pinggang) menggunakan bahan-bahan tersendiri, berupa biji-bijian seperti kuningan, timah, perak, bahan panca datu. Ditambah sarana yang lainnya sebagai persyaratannya. Untuk menghidupkan ini perlu mantra pasupati biar benda tersebut menjadi hidup. Disinilah kekuatan penengen dan pengiwa berjalan sebagai satu kesatuan yang menjadi kekuatan panca dhurga.

Kalau sabuk pengeleakan lagi berbeda, di sini kekuatan pengiwa murni dipakai, sehingga yang memakainya akan memasuki dunia lain, tanpa disadari ia akan berubah secara sikap. Dan kita diolah oleh alat itu tanpa disadari kita menjadi kehilangan kontrol. Ini yang sangat berbahaya, jika tidak segera ditolong ia akan terjerumus, disinilah kekuatan penengen akan berjalan sebagai penetralisir. Di sinilah perlunya kita pemahaman apa itu penengen dan pengiwa jangan sepengal-sepenggal.

Kalau yang memasukan dalam tubuh juga hampir sama prosesnya dengan yang memakai alat, yang menjadi perbedaan adalah kalau yang memakai alat berada di luar tubuh dan yang memasukan berada di dalam tubuh, inipun prosesnya tidak gampang perlu orang yang tahu untuk memasangnya, memang tubuh menjadi kebal tapi perlu proses. Tidak langsung jadi. Disinilah kejelian seorang senior terhadap yuniornya apakah sudah siap secara mental atau tidak. Kalau sudah siap secara mental maka akan cepat benda itu bereaksi dan bisa dikontrol oleh dirinya sendiri, jika tidak akan sebaliknya akan membahayakan dirinya sendiri. Karena alat-alat yang dipasang akan menjadi energi. Di sinilah muncul keegoissan kita jika sudah merasa hebat seolah-olah kita yang paling unggul di antara orang lain, padahal kita tahu ilmu seperti ini sangat banyak.

Pengendalian diri sangat penting untuk membawa hal yang positif bagi kita sendiri, jangan terjebak oleh keinginan sesaat. Tapi sebaiknya kita gunakan alat-alat itu untuk kepentingan yang lebih baik seperti untuk jaga diri.

Untuk mendapatkan ilmu tersebut, harus mengadakan upacara yang disebut madewasraya. Apabila ingin menggunakan pangiwa, supaya dapat sakti dan manjur, mujarab dan digjaya, terlebih dahulu harus menyucikan diri. Setelah itu tatkala malam diadakannya madewasraya dahulu di kayangan pangulun setra (pura yang ada di dekat kuburan), memohon anugrah kehadapan Hyang Nini Betari Bagawati atau Ida Betari Durga Dewi. Adapun sarananya:
1. Daksina 1 buah
2. Uang kepeng sebanyak 17.000
3. Ketupat 2 kelan (1 kelan = 6 biji)
4. Arak & brem
5. Ketan hitam
6. Canang 11 biji
7. Canang tubungan, burat wangi lenga wangi, nyanyah (goreng tanpa minyak) gagringsingan, geti-getih (darah), dan biu mas (pisang kecil yang biasanya dipakai untuk membuat canang)

kemudian dipersembahkan secara niskala. Setelah itu bersila di depan paryangan, bersemadi dan tidak lupa dengan dupa menyan astanggi, heningkan batin. Kemudian ucapkan mantra:
“Om Ra Nini Batari Bagawati, turun ka Bali; ana wang mangkana; aminta kasih ring Paduka Batari, sira nunas turun ka mrecapada. Ana wang mangkana anunas kasaktian, manusa kabeh ring Bagawati, Sang Hyang Guru turun ka mrecapada. Ana wang manusa angawe Batara kabeh, turun ka Bali Sang Hyang Bagawati. Ana buta wilis, buta abang, ana buta jenar, ana buta ireng, ana buta amanca warna, mawak I Kalika, ya kautus antuk Batari Bagawati, teka welas asih ring awak sarinankune, pakulun Paduka Bagawati. Om Mam Am Om Mam, ana Paduka Batara Guru, teka welas asih, Bagawati manggih ring gedong kunci manik, teka welas asih ring awak dan seterusnya....

Apabila sudah berhasil mendapatkan ilmu gaib tersebut, maka ada aturan yang harus dipatuhi. Orang yang memiliki ilmu gaib tersebut akan digjaya tidak terkalahkan, tidak bisa diungguli, dan semua akan tunduk kepadanya. Apabila mampu merahasiakannya, maka dalam 100 kali kelahiran akan menemui kebahagiaan dan kebebasan tertinggi. Dan bila meninggal dapat kembali ke sorga Brahmaloka, Wisnuloka, dan Iswaraloka. Tetapi bila ketahuan, apalagi sampai suka membicarakan, menyebarluaskan, dan tidak mampu merahasiakannya, maka dalam 1000 kali kelahiran akan menemui hina, neraka, disoroti oleh masyarakat, dan sudah pasti terbenam dalam kawah neraka Si Tambra Goh Muka.

by cakepane.blogspot - berbagai sumber