Tampilkan postingan dengan label wewaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wewaran. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Juni 2013

makna Dwi Wara dalam Wariga

Dwi Wara

Dwiwara adalah daur dua harian dalam pawewaran. Unsurnya ada 2, yaitu Menga dan Pepet. Dwiwara ini adalah wewaran imbas, artinya terbentuk dari adanya wewaran lain, yaitu urip pancawara dan saptawara. Karena itu kandungan spiritualnya lebih tinggi dari yang kedua wewaran itu, karena boleh dikatakan merupakan kesimpulan interaktif keduanya.
  1. Menga artinya terbuka, hari ini umumnya baik untuk bersosialisasi. Pekerjaan yang dikerjakan secara kolektif akan menemui hasil yang lebih baik. Tidak baik untuk mengikuti kata hati tanpa mempertimbangkan pendapat orang lain. Yang lahir pada hari ini berkepribadian terbuka, mudah menerima kritik tetapi juga mudah terbawa emosi.
  2. Pepet artinya tertutup. Baik sekali untuk introspeksi. Mendekatkan diri kepada Tuhan dan merenungkan dulu kata-kata yang hendak diucapkan, agar tidak berdampak buruk bagi diri sendiri maupun orang lain. Pertimbangan hati akan lebih baik dituruti daripada nasehat orang. Kerjakan apa saja yang dapat dilakukan sendiri untuk melatih kemandirian dan kemampuan diri. Yang lahir pada hari ini pandai menyimpan perasaannya. Tidak mudah terombang-ambing dan tegas dalam menyikapi sesuatu
dalam wariga, Uku Sinta dan Sungsang dikatakan yang mengadakan Dwi wara. Sesungguhnya, kita belum mengetahui makna apa sebenarnya yang dimaksud. Sebagai generasi pewaris, ada baiknya belajar untuk mengkaji kembali apa yang dirintis oleh para tetua dahulu. Yang paling utama mesti disadari, bahwa bahasa hakekat ( istilah ) yang dikenal saat ini sejatinya merupakan bahasa yang biasa digunakan pada masa itu. Seiring waktu berjalan, di mana pengetahuan manusia berkembang, yang cenderung menjadikan segala sesuatu yang memang irasional menjadi rasional. Maksudnya, untuk memudahkan memahami sesuatu yang tidak nyata, lalu dinyatakan dengan wujud yang nyata ( seperti kebendaan ). Namun sayang, seringkali di dalam proses alih bahasa ada hal-hal yang sangat penting untuk disertakan justru dilupakan. Pada akhirnya, apa yang sudah diwujud nyatakan dari yang semula tidak nyata ini dijadikan sesuatu yang mutlak. Kemudian, mulai ditambahkan dogma-dogma serta diklaim seolah menjadi milik kaum tertentu, yang pada akhirnya justru menjadikan pengetahuan yang bersifat universal tersebut kurang dipahami makna yang sebenarnya.

Mencermati kata Sinta yang berarti Sintakasih, sesungguhnya merupakan nama lain daripada Matahari ( mittra ). Begitu pula dengan mendengar kata Sungsang yang terbayang adalah kelahiran bayi, di mana bahagian kaki yang keluar terlebih dahulu. Dahulu, sungsang yang dimaksud oleh para Maha Rsi adalah sinar balik matahari setelah terpantul dari bumi ; Prabawati dalam konteks ini juga berarti daya hidup Bumi yang melepaskan keempat unsurnya, yakni : unsur Amretha, Api, Air, dan unsur Hawa. Keempat unsur inilah menjadi salah satu Daya gerak Bumi, yang berputar pada porosnya, serta menyebabkan terjadinya siang dan malam.

Dwi wara ngaran Menga, Pepet. Dalam salah satu sumber menyebutkan, bahwa Sanghyang Rau yang mengadakan wengi ( malam ) dan Sanghyang Ketu mengadakan rahina ( siang ). Menga artinya terbukalah Siang ( Galang ) juga disebut lemah. Dan berarti malam, jika dikaitkan dengan keberadaan siang dan malam, di mana Matahari terbit dari Timur dan terbenam di Barat. Maka Menga urip-nya 5 karena urip Kangin ( Timur ) 5, dan Pepet urip-nya 7, karena urip Kauh ( Barat ) 7. Di sisi lain, ada juga menganggap Menga itu berada di Timur, sedangkan pepet adanya di Utara. Di mana gelap ( simbul Dewa Wisnu ) dan Damuh turun adanya di Utara, di mana urip-nya 4. Maka, Pepet jumlah urip-nya 4, konotasinya Utara. Sumber lain juga ada yang mengartikan bahwa Menge-pepet tersebut bermakna mata atangi lan aturu.

Pengaruh Dwi Wara terhadap Watak Kelahiran

( Prewatekan manut Dwi Wara )

Menge berada di bawah naungan Sanghyang Kalima,

yang mana Sanghyang Kalima berasal dari lima sinar ( dewa/div ). Seseorang yang terlahir kembali pada dina menge, salah satunya menandakan bahwa dia sudah banyak mempunyai tabungan karma yang baik dan benar. Menge urip-nya 5.

Pepet dinaungi Sanghyang Timira. 

Seseorang yang lahir pada dina pepet disinyalir karena saratnya beban duniawi yang dibawanya mati pada kehidupan terdahulu, yang tercatat pada alam bawah sadarnya. Keterikatan duniawi, atau pun melakukan perbuatan di wilayah sapta timira di antaranya menjadi penyebab kelahiran berulang-ulang. Pepet urip 4.

Solusi. Terus tingkatkan segala perbuatan yang baik dan benar pada kesempatan hidup saat ini. Tuntunlah diri dengan suatu penyadaran, bahwa hidup di mayapada ini tidaklah bersifat kekal, dan hanya sesaat. Yakini hal itu, niscaya akan dapat mengurangi kesempatan lahir berulang-ulang ( reinkarnasi ).

makna Tri Wara dalam Wariga

Tri Wara

Triwara Wewaran
Triwara adalah siklus tiga harian dalam pawewaran. Unsurnya ada tiga yaitu Pasah, Beteng, dan Kajeng. Sifat ketiga unsur ini lebih nyata dalam kehidupan kita. Unsur keduniawian lebih dominan karena umumnya baik buruknya masih dapat kita kendalikan asalkan dengan kesungguhan.
  1. Pasah atau Dora artinya tersisih. Baik untuk dewa-yadnya. Baik untuk mengerjakan hal-hal yang kaitannya dengan masa depan. Tidak baik mengungkit masa lalu, juga mengadili orang berdasarkan masa lampau. Baik untuk merencanakan pekerjaan besar dan penting. Hindari penghamburan waktu yang berharga karena masa yang akan datang sangat tergantung kepada hari ini. Tingkatkan perhatian kepada keluarga dan saudara dekat, tetapi jangan terlalu memanjakan mereka secara langsung. Baik untuk mengadakan sangkep atau rapat. Tidak baik untuk mengupacarai kematian atau memperingati yang sudah meninggal di masa lalu. Baik untuk memupuk kepercayaan masa datang. Baik untuk berniaga yang tidak memerlukan pembayaran kontan, baik untuk mempertimbangkan rekanan baru. Yang lahir pada hari ini sifatnya riang, harapannya besar dan tidak mudah berputus asa, tetapi kurang dapat menjaga kepercayaan.
  2. Beteng atau Waya artinya makmur. Baik untuk manusa-yadnya. Baik untuk mengerjakan hal-hal yang kaitannya dengan masa lalu, misalnya memperbaiki hubungan yang kurang baik, meluruskan kesalahpahaman dan sebagainya. Baik untuk mencatat dan menganalisa hasil kerja dan situasi diluar. Juga merupakan hari yang baik untuk memperkuat kehandalan diri, belajar dan berdoa. Baik untuk berniaga, utamakan pembayaran kontan dan berhati-hatilah dengan hutang-piutang. Baik untuk mengadakan rapat evaluasi. Tingkatkan perhatian terhadap rekan sekerja serta tetangga. Yang lahir pada hari ini sifatnya tenang, percaya diri dan kasih terhadap orang tua, tetapi kurang dapat menguasai emosi.
  3. Kajeng atau Biantara artinya tekanan yang tajam. Baik untuk buta-yadnya. Baik untuk mengerjakan hal-hal yang kaitannya dengan masa sekarang, misalnya membenahi dan merapikan perabot dan peralatan. Hindari memulai sesuatu yang baru, apa lagi jika dampaknya akan besar dan menyangkut banyak orang dalam waktu yang lama. Tingkatkan kewaspadaan karena kekuasaan alam dan faktor luar mengancam yang kurang berhati-hati. Jaga kesehatan dan keselamatan. Hindari menghamburkan uang untuk hal yang tidak perlu karena hari ini pertimbangan kita dalam menentukan yang perlu dan tidak perlu, sangat lemah. Yang lahir pada hari ini sifatnya humoris, pemaaf dan tidak mudah marah, tetapi kurang pandai berhemat.
dalam wariga, Pecah lagi hitungan dwi ( dua ), muncul Uku Tambir yang mengadakan Tri Wara : Dora, Waya, dan Byantara. Tri wara dikatakan mempunyai dua karakter ; yang pertama :
  1. Dora, artinya Jaba sisi,
  2. Waya, artinya Jaba Tengah,
  3. Byantara, artinya Jeroan.
Karakter yang kedua :
  1. Dora, yang berarti Kala; maksudnya, jika kemarahan itu dipendam di dalam diri, maka ekspresi tubuhnya akan terlihat dari luar ( jaba sisi-nya ), seperti : wajah memerah, mau pun gerak tangan secara spontan mengepal dan segera mengayun.
  2. Waya, yang berarti Manusa; maksudnya, bahwa kesejatian manusia ada di tengah-tengah hati nuraninya ( sarira, di jaba tengah ). Dan Suara Hati Nurani adalah suara kejujuran manusia, di mana jujur itu sebagai Lingga daripada Dewa ( div, sinar ).
  3. Byantara, yang berarti Dewa; digunakan dalam konteks padewasan.
Di sisi lain, Tri wara terdiri dari Pasah, Beteng, Kajeng, di mana :
  1. Pasah berarti Dora ; dewanya Sanghyang Cika, urip 9.
  2. Beteng berarti Waya ; dewanya Sanghyang Wacika, urip 4.
  3. Kajeng berarti Byantara ; dewanya Sanghyang Manacika, urip 7.
Padewasan dari sudut pandang Tri wara dibilah menjadi tiga bagian, yakni :
  1. Pasah artinya pisah, juga berarti sah. Dan dina pasah ini digunakan untuk dewasa Dewa yajnya, sebab Pasah juga artinya Alam Langit, sebagai tempat bersemayamnya para Dewa ( Alam Swah ).
  2. Beteng berarti Apah ( Embang, Bhuwana ), disebut juga Alam Tengah ( Alam Bwah ). Terletak di bawah Langit dan di atas Bumi, dan dina beteng digunakan untuk dewasa Manusa yajnya.
  3. Kajeng berarti Alam Bhur ( Bhawana ), dikatakan juga sebagai alam berwujud ( alam nyata ). Dina kajeng digunakan sebagai dewasa Bhuta yajnya.
Sumber lain mengatakan, bahwa Tambir caraking tahun ( umur ) yang mengadakan Tri Wara, dalam konteks Tiga Taya. Makna Tambir juga diungkap dengan istilah lain, yakni Tambur ( Bhs. Bali Kuna ) yang berarti pantulan. Maksudnya, oleh karena manusia mengkonsumsi isi alam, maka mendapat pantulan dari alam melalui Tri Taya daripada Alam. Terjadi perpaduan Tri Wara, yakni perpaduan antara kekuatan Alam Langit ( swah ), Alam Tengah ( bwah ) dan Alam Bumi ( bhur ) ini masuk dan berstana di tengah-tengah hati. Makanya Tri wara disebut juga Uriping Ageni.

Berdasarkan bacaan hakekat Alam tersebut hendaknya manusia dapat menyesuaikan dirinya dengan pergeseran pengaruh sifat Alam, terutama terhadap psikisnya ( mental ). 
Mengapa ? 
karena perkembangan hidup manusia selalu berada di bawah pengaruh Alam semesta.

Demikianlah penjabaran Wariga sebagai metoda warisan dari masa dulu, yang telah dijadikan pegangan di Bali dalam segala bentuk kegiatan. Dewasa dibilah menjadi tiga bagian dari sudut pandang metoda Tri Wara yakni ;
  1. Dora, ada pada penampilan di luar ( ekspresi tubuh ).
  2. Waya, ada pada sarira, fisik ( sehat atau lemah )
  3. Byantara, ada pada isi hati.
Tri Wara mempengaruhi kedudukan dari panca gati, yang sering dikatakan sebagai Parhyanganing Rat kabeh : dora, waya, byantara. Selain itu, Tri Wara ini selalu terkait ( sebagai dasar ) dalam pemilihan padewasan. Contoh, pada hari Pasah Tungleh dan Pasah Paniron, serta hari Kajeng Mahulu dan Kajeng Urukung, merupakan hari ( dewasa ) di mana pengaruh Matahari dan Bulan tersebut dikatakan naik atau turun. Bila naik, berarti matahari atau bulan berpengaruh terhadap Alam Apah. Sedangkan jika turun akan berpengaruh kepada Bumi. Seperti itulah metode yang dipakai untuk menentukan dewasa untuk bercocok tanam. Jika Amretha-nya dominan berpengaruh ke Bumi, seperti dina Kajeng Mahulu, maka cocok untuk tanaman yang menghasilkan umbi-umbian. Sebaliknya, Kajeng Urukung adalah dewasa untuk tanaman yang berbuah.

Pengaruh Tri Wara terhadap Watak Kelahiran

( Prewatekan manut Tri Wara )

Kelahiran pada waktu Pasah ( dora ) di bawah naungan Sanghyang Cika. 

Dora dalam arti kala, diatasi oleh Cika, konotasinya cipta dan cita, sebagai pencetus perbuatan yang menjadi kayika. Maksudnya, terlahir pada waktu Dora dikuasai oleh cika, yang menandakan bahwa di masa lalunya dia adalah orang pemalas.
Saran. Sebaiknya dalam kehidupan ini lebih banyak berbuat ( mlaku ) daripada hanya berkutat pada pembuatan rencana kerja saja ( hanya berkelana dengan mengandalkan pikiran, tanpa pernah berbuat ).

Kelahiran pada waktu Beteng ( Waya ) diayomi oleh Sanghyang Wacika. 

Kelahirannya dikendalikan oleh watak Waya-nya, artinya pada kehidupan terdahulu seseorang tidak waspada dalam berbicara ; atau dengan kata-kata dia sering menyakiti orang lain – berkata kasar mau pun dengan fitnah. Jadi, dengan kata-kata, seseorang dapat menjadi tertawa, atau marah. Dengan memfitnah atau berkata kasar membuat lawan bicara marah. Ini berarti, secara tidak sadar kita sesungguhnya memasukkan amarah orang lain ke dalam alam bawah sadar. Hal ini dapat menjadi bumerang ( beban psikis ), di mana setiap kali bertemu akan ada ganjalan di dalam diri, atau merasa risih, merasa dihakimi, dan lain sebagainya.
Saran. Waspadalah dalam mengungkapkan isi hati, sehingga tidak menyakiti perasaan orang lain. Ingatlah bahwa wicara itu sejatinya adalah api, karena dapat membakar amarah ; tajam, setajam silet hingga dapat menyayat perasaan kedua belah pihak, baik diri kita mau pun lawan bicara.

Kelahiran pada waktu Kajeng ( Byantara ) dinaungi oleh Sanghyang Manacika. 

Byantara diatasi oleh Manacika, artinya pada kehidupan terdahulu seseorang banyak berbuat salah dalam mencapai tujuannya. Hal ini karena ego personalnya yang mendominasi. Watak Kajeng umumnya kurang senang berbasa-basi, dan biasanya langsung menukik kepada persoalan pokok, serta bersikap realita, nyata.
Saran. Latihlah intuisi, karena intuisi ( bahasa hati nurani ) itu adalah kejujuran yang sejati. Setelah melatih intuisi, yakini dan berpeganglah pada kebenaran bahasa kalbu tersebut. Kebiasan memakai ungkapan “ saya pikir “ dirubah menjadi “ saya rasa “, karena sang pikir itu berasal dari Jnyana yang setiap saat mudah berubah. Sedangkan saya rasa itu adalah ungkapan hati ( ajnya ) yang jujur, yang angkat bicara.

makna Catur Wara dalam Wariga

Catur Wara

Caturwara Wewaran
Catur wara adalah nama dari sebuah pekan atau minggu yang terdiri dari 4 hari, dalam budaya Jawa dan Bali. dibali merupakan siklus empat harian dalam wewaran. Unsurnya ada empat yaitu Sri, Laba, Jaya dan Menala.
  1. Sri atau Seri artinya kemakmuran. Hari yang baik untuk para petani atau sektor agro. Hari ini panen dapat diandalkan, bibit akan mudah bersemi dan hama akan mudah ditaklukkan. Ternak lebih gemuk dan daging lebih lembut. Sebaiknya hari ini tidak baik untuk mengolah kayu atau bambu karena serat akan menguat dan logam akan aus serta tumpul. Yang lahir pada hari ini beroleh sifat sopan santun dan ramah tamah. Harus lebih banyak belajar dan rajin mencari pengetahuan baru.
  2. Laba artinya berhasil atau pemberian. Hari yang baik untuk para pedagang dan pengusaha non-agro. Logam dan bahan buatan akan berumur panjang, nampak lebih menarik dan mencapai kemampuan puncaknya. Sebaliknya hari ini tidak baik untuk membuat peralatan karena bahannya akan mengeras dan sulit dibentuk. Yang lahir pada hari ini beroleh sifat pantang menyerah dan dermawan. Harus lebih rendah hati dan membuka diri terhadap kritik dan saran.
  3. Jaya artinya kemenangan atau unggul. Hari yang baik untuk para prajurit dan pamong praja. Hari ini peraturan dan ketertiban akan dipandang sebagai hal penting, perintah dan anjuran akan ditanggapi dengan hormat. Sebaliknya hari ini tidak baik untuk menyatakan janji karena kalau meleset tidak akan ada yang bisa melupakan dan memaafkan. Yang lahir pada hari ini beroleh gagah berani dan berwibawa. Harus lebih mendalami keagamaan dan banyak bergaul dengan orang bijak.
  4. Menala atau Mandala berarti lingkungan atau daerah. Hari yang baik untuk para guru, orang tua dan seniman. Hari ini nasehat akan terdengar sampai lubuk hati, kejujuran akan mudah digali dan keindahan akan mudah dinikmati. Sebaiknya hari ini tidak baik untuk mencari untung karena banyak orang akan merasa dirugikan dan merasa tertipu. Yang lahir pada hari ini dikaruniai sifat teduh dan bersahaja. Harus memperluas pergaulan dan menjalin silaturahmi.

dalam sastra wariga, Uku Klau yang dikatakan mengadakan Catur Wara : 1. Shri, 2. Laba, 3. Jaya, 4. Mandala. Klau Linus artinya pusaran angin. Di Bali sendiri dikenal yang namanya angin ngelinus, maksudnya angin yang berputar, dan sekarang lebih popular disebut angin puting beliung. Adanya pusaran angin juga disebabkan oleh dominasi intensitas sinar Matahari yang berasal dari Alam Langit ke Bhuwana ( Alam Tengah ). Itu sebabnya Catur wara disebut juga Uriping Bayu ( Power Air ). Sesungguhnya, makna Catur Wara yang ada di Bhuwana Agung, sebagai petunjuk arah Mata Angin, yang muncul karena pancaran sinar Matahari yang berada di Garis Katulistiwa. 

Agar pengetahuan yang telah diwariskan itu dapat dibuktikan, cobalah amati perjalanan matahari:
  • pada Sasih Kasa, di mana Matahari terbit di Timur, bergerak mulai dari titik 23,5 derajat Lintang Utara dan terbenam di Barat Daya.
  • pada Sasih Kapat matahari bergerak tepat di tengah-tengah Garis Katulistiwa, dan terbenam masih tetap di Barat Daya. 
  • Setelah Sasih Keenem, Matahari akan berbalik ke Utara, terbit di Timur Laut, terbenam pada petang hari di Barat Daya. 
Berarti, ada dua sisi kebenaran dari Catur Wara, yakni satu pihak yang menyatakan bahwa kedudukan Shri di Timur Laut, karena memang Matahari terbit dari arah Timur Laut pada posisi 23,5 derajat Lintang Utara. Namun pada malam hari menuju ke arah Tenggara, dan terbenamnya semakin ke Barat Daya, secara bolak-balik. Di pihak lain dikatakan bahwa Matahari juga ada pada titik 23,5 derajat Lintang Selatan. Jadi, Catur Wara di Bhuwana Agung mempunyai dua urip yang berbeda, yakni :
  1. Shri, berkedudukan Timur Laut, urip-nya 6,
  2. Laba, berkedudukan di Barat Daya, urip-nya 3,
  3. Jaya, berkedudukan di Barat Laut, urip-nya 1,
  4. Mandala, berkedudukan di Tenggara, urip-nya 8
Di pihak lain ada juga kebenaran seperti berikut ini :
  1. Shri, berkedudukan di Utara, urip-nya 4,
  2. Laba, berkedudukan di Timur, urip-nya 5,
  3. Jaya, berkedudukan di Selatan, urip-nya 9,
  4. Mandala, berkedudukan di Barat, urip-nya 7
Namun makna intinya adalah bahwa Alam Langit selalu menurunkan berkah kehidupan, sehingga dunia selalu dalam keadaan Shri. Laba, artinya berkat kasih alam yang selalu menguntungkan semua makhluk hidup. Jaya, artinya berkat alam selalu menang karena kuasaNya. Mandala, artinya alam selalu memvibrasikan amreta-nya ke Bhuwana yang maha luas. 
Kebenarannya diungkap dengan :
  • Shri, disimbulkan dengan Bhatari Gangga sebagai Dewi Kemakmuran, di mana kemakmuran itu berasal dari Amretha yang terkandung di air yang terjatuh dari Alam Langit, dan di waktu pagi menjadi embun ( damuh ) yang membasahi bumi
  • Laba, dengan simbolis Bhatara Bayu sebagai Dewa Penggerak Semesta – suatu kekuatan yang menggerakkan kehidupan di alam ini. Secara kodrati berperan sebagai energi – daya penggerak alam. Dan pada Manusia adalah sebagai daya penggerak fisik
  • Jaya ( keunggulan ) disimbulkan dengan Sanghyang Sangkara. Berkat alam semesta karena kuasa Tuhan selalu mendominasi alam kehidupan
  • Mandala ( wewidangan, wawasan yang luas ) yang disimbolkan dengan Sanghyang Kencana Widhi, yakni berkat alam semesta yang menjangkau seluruh ruang lingkup alam kehidupan
Pengaruh Catur Wara di Bhuwana Agung terhadap Bhuwana Alit :
  1. Shri, sebagai penikmat pandangan ( mata )
  2. Laba, penikmat pendengaran ( telinga )
  3. Jaya, sebagai penikmat penciuman ( hidung )
  4. Mandala, sebagai ungkapan mimik muka ( wajah )

Mithologi Catur Wara

Mitos yang sering dituturkan, bahwa:
  • Hyang Angga “ dibunuh “ empat kali, dan urip sebanyak empat kali pula, makanya Shri urip-nya 4. 
  • Sanghyang Bayu terbunuh lima kali, dan urip lima kali, makanya Laba urip-nya 5. 
  • Sanghyang Purusa terbunuh sembilan kali, urip sembilan kali, makanya Jaya urip-nya 9. 
  • Sanghyang Kencana Widhi terbunuh delapan kali, urip delapan kali, makanya Mandala urip-nya 8.

Pengaruh Catur Wara di Bhuwana Alit terhadap Watak Kelahiran

( Prewatekan manut Catur Wara )
Catur wara dinaungi oleh sifat-sifat Bhagawan ( Bhaga dan wan – hak dan wewenang pribadi ). Jelasnya, Catur wara menandakan manusia dilahirkan akibat perbuatan yang sewenang-wenang, terutama dalam menggunakan hak dan kewenangan yang telah diberkatkan oleh alam ( Sanghyang Embang ).

Shri, di bawah naungan Bhagawan Bregu. 

Shri artinya amretha. Semua manusia membutuhkan santapan untuk dapat bertahan hidup. Kelahiran pada waktu Shri menandakan bahwa di kehidupan terdahulu dia sudah hidup berkecukupan secara material, namun kurang bisa mengelolanya, dalam arti segalanya hanya untuk memuaskan egonya sendiri. Apa yang dimakan dan diminum serta nafas yang dihirupnya menjadi Tri mala, yakni : Moha, Mada dan Kasmala, bukannya menjadi Tri Kaya Parisudha. Hal ini berbanding terbalik dengan keberadaan Shri yang ada di Bhuwana agung yang memberkatkan sifat kasih alam kepada semua kehidupan. Pembawaan kelahiran Shri adalah kepuasannya didapat hanya dengan memandang sesuatu. Tajam penglihatannya.
Saran. Apa pun yang anda miliki pada kesempatan hidup ini cobalah untuk berbagi kepada sesama, tanpa membeda-bedakan. Kewibawaan dan kharismatik merupakan potensi yang melekat dalam diri, serta dapat dijadikan landasan yang baik sebagai seorang enterprenur, human resources, public relation, dan sejenisnya. Karena dengan berbuat seperti itu berarti pelunasan dari hutang karma masa lalu yang pada kesempatan hidup ini seharusnya bisa dilunasi.

Laba, dianungi oleh Bhagawan Kanwa. 

Kelahiran pada waktu Laba menandakan bahwa dulunya dia lebih banyak hanya menikmati hidup daripada melakukan tugas dan kewajibannya dengan baik dan benar. Watak kelahiran laba umumnya periang, murah rejeki, karena di alam bawah sadarnya masih banyak melekat kenikmatan duniawi masa lalunya. Sesungguhnya, watak yang terbawa lahir saat ini merupakan pahala dari masa lalu yang menghukum dirinya, maka dia dilahirkan kembali pada dina laba. Namun kelahirannya saat ini merupakan suatu keberuntungan, karena diberikan kesempatan untuk menghapus karma wasana yang buruk tersebut, yakni dengan lebih banyak melakukan aktifitas yang bermanfaat buat orang banyak. Pembawaan kelahiran Laba adalah tajam pendengarannya.
Saran. Renungkan motto ini : manusia lahir ringan bagaikan kapuk, saat tumbuh dan berkembang menjadi berat seberat batu. Kemudian, saat ajal menjelang sepatutnya menjadi ringan seringan kapuk. Artinya, pada kehidupan saat ini menjauhlah dari kenikmatan duniawi secara perlahan, serta kikislah beban psikis yang tertumpuk di alam bawah sadar ini.

Jaya, dinaungi Bhagawan Janaka. 

Watak kelahiran Jaya, sangat cerdik dan unggul, serta gagah berani. Terlahir kembali, karena kecerdikan dan keberanian di masa lalunya dikendalikan oleh ego personalnya. Maksudnya, digunakan untuk tujuan yang kurang baik, arogan, serta suka menindas yang lemah. Pembawaan kelahiran Jaya, tajam atau sensitif dengan penciumannya.
Saran. Kendalikan ego personal, manfaatkan kecerdikan sejajar jujur, dan pandanglah hidup sebagai sebuah kompetisi, serta tunjukkan keberanian di mana saja untuk tujuan yang baik dan benar.

Mandala, dinaungi Bhagawan Narada. 

Pembawaan kelahiran Mandala, berwawasan luas, suka berpetualang. Cenderung sebagai penikmat hidup, kurang menyukai kehidupan yang monoton, mau menang sendiri dan susah diatur, lebih menyenangi hidup bebas, serta peduli dengan penderitaan orang lain. Sejatinya, dengan kebebasan yang tidak terarah itulah yang menghukumnya sehingga terlahir kembali pada dina Mandala. Pembawaan kelahiran Mandala suka dukanya nampak pada ekspresi mimiknya ( wajahnya ).
Saran. Hiduplah secara bebas dan terkendali, dalam pengertian jangan sekali-kali melompati “ pagar pendek “, karena hanya kita sendiri yang mampu membatasi atau pun mengendalikan ego personal tersebut. Gunakan kebebasan itu di mana saja untuk tujuan yang baik dan benar.
demikian ulasan wewaran - Catur Wara, semoga bermanfaat

Selasa, 04 Juni 2013

makna Sapta Wara dalam Wariga

Sapta Wara

saptawara wewaran
adalah nama dari satu pekan atau minggu yang terdiri dari 7 hari. Memiliki nama yang berbeda dengan hari Masehi, walaupun sistemnya sama dan bisa disejajarkan. Tidak perlu dijelaskan panjang lebar karena sudah mendarah daging dalam hati kita. Konon nama dan sifat-sifatnya diambil dari nama benda-benda langit.
  1. radite-raditya: matahari, Minggu (eng: sun-day; fr: di-manche) - Urip 5
  2. soma: bulan, Senin (eng: moon-day; fr: lun-di) - Urip 4
  3. anggara: mars, Selasa (eng:tues-day; fr: mar-di) - Urip 3
  4. budha: merkurius, Rabu (eng: wednes?-day; fr: mercre-di) - Urip 7
  5. wrespati-bagaspati: jupiter, Kamis (eng: thurs-day; fr: jeu-di) - Urip 8
  6. sukra: venus, Jumat (eng: fri-day; fr: ven-di atau vendre-di) - Urip 6
  7. saniscara: saturnus, Sabtu (eng: satur-day; fr: satur-di) - Urip 9

adapun sifat secara umum dari saptawara yaitu:

  1. Redite Sifatnya seperti surya. Terang terus dan terus terang (seperti iklan). Memberikan penerangan dan kehangatan tanpa menuntut pembalasan.
  2. Soma Sifatnya seperti bulan. Berubah-ubah, menghanyutkan perasaan, indah. Melankolis.
  3. Anggara Sifatnya seperti api. Mungkin betul juga seperti Mars, dewatanya peperangan. Panas, membara, mempralina, membasmi, meluluhkan segala sesuatu.
  4. Buddha Sifatnya seperti bumi. Diam, tenang, berwibawa, menyangga, memuat segala sesuatu, menerima dengan rela.
  5. Wrespati Sifatnya seperti halilintar. Menakutkan, mengerikan? Sepertinya seharusnya menjadi hari pendek karena halilintar juga lambang kecepatan. Lambang PLN juga.
  6. Sukra Sifatnya seperti air. Mendinginkan, segar, tetapi dapat melanda segala sesuatu dan menghanyutkan sampai tandas.
  7. Saniscara Sifatnya seperti angin. Meniupkan kesejukan, kerindangan, nafas baru.

Watak Manusia ditinjau dari Sapta Wara

(Prewatekan manut Sapta Wara)
Dikatakan bahwa, Uku Bala-Megadrawela (mendung) yang mengadakan Sapta Wara. Yang dimaksud Bala, perputaran unsur/zat yang berasal dari Bumi dengan unsur-unsur zat dari Alam Apah dan Langit, yang mana lebih didominasi oleh unsur-unsur yang berasal dari zat Bumi dan Apah. Keadaan ini berakibat sinar Langit terhalang, sebagian besar memantul kembali ke Alam Langit. Dan, ada sebagian kecil berhasil menembus lapisan Megadrawela. Akibatnya, hawa di bawah lapisan tersebut menjadi panas/penat, dan oleh para maha Rsi Agung terdahulu diperingati dengan tanda nama Durga. Namun kebijakan Alam selalu menyertai, di mana akan berakhir menjadi hujan atau berubah menjadi embun. Ini berarti sebagai sumber air tawar bagi kehidupan semua makhluk, atau pun sebagai sumber kesuburan Bumi dan tumbuh-tumbuhan, serta aliran air juga menghanyutkan banyak kotoran yang berserakan di permukaan bumi. Karena penuh dengan kebijakan alam, maka Sapta Wara disebut juga Uriping Pandita.

Lebih lanjut dikatakan, vibrasi Sapta wara di Bhuwana Agung secara kodrati selalu turun ke Bumi, memberi berkah kepada semua yang hidup (sarwa tumuwuh). Kronologisnya :
  1. Radite berada di bawah naungan Hyang Banu, memberi berkah kepada sarwa soca/sarwa mabuku.
  2. Soma di bawah naungan Hyang Candra, memberi berkah kepada sarwa bungkah/umbi-umbian.
  3. Anggara di bawah naungan Hyang Manggala, memberi berkah kepada sarwa daun.
  4. Buda di bawah naungan Hyang Buda, memberi berkah kepada sarwa bunga.
  5. Wraspati di bawah naungan Hyang Wraspati, memberi berkah kepada sarwa wija/Biji-bijian.
  6. Sukra di bawah naungan Bhagawan Sukra, memberi berkah kepada sarwa buah.
  7. Saniscara di bawah naungan Dewi Gori, memberi berkah kepada sarwa me-akah/turus.

Nah, bagaimana keberadaan Sapta Wara di Bhuwana alit ?
lebih cenderung mengarah kepada kodrati hidup, dengan fungsi pokoknya :
  1. Radite ada pada Roma (rama rena, artinya lupa dan ingat),
  2. Soma ada pada Banyu (cairan tubuh),
  3. Anggara ada pada Laku (langkah),
  4. Buda ada pada Rasa dan perasaan,
  5. Wrhaspati ada pada Adegan (jelegan, sosok),
  6. Sukra ada pada Untu (gigi), konotasinya Kala, yang berarti cerdas dan kuat.
  7. Saniscara ada pada Cangkem, merupakan esensi dari Wacika.
Selain itu, Sapta wara yang masuk ke dalam diri manusia turut berperan membentuk jasmani dan rohani (lahir batin). Penjabarannya sebagai berikut :

Raditya/Redite, urip-nya 5, diayomi oleh Sanghyang Bhaskara

Raditya merupakan matahari yang masuk ke dalam diri manusia, menjadi : kedua mata yang ada di kepala, mata hati, dan mata batin (pandangan pikiran). Yang menjadi dasar pandangan tersebut, akibat dari mata melihat sesuatu, karena memikirkan, atau merasakan sesuatu. Di Bhuwana Agung, matahari merupakan mata dari hari, dan menerangi semesta. Sedangkan di dalam diri, mata hati yang menjadi suluh bagi Bhuwana alit. Seseorang yang terlahir pada dina redite/raditya sebagai akibat perilaku pada kehidupan terdahulu lebih banyak meniru dari apa yang dilihatnya. Bukannya dipelajari mau pun dihayati terlebih dahulu.

Soma, urip-nya 4, diayomi oleh Sanghyang Candra

Tindak lanjut dari suatu pandangan sebagai dasar untuk mengungkap, karena manusia punya kemampuan memandang. Dari apa yang dilihatnya, kemudian bisa diungkapkan melalui kata-kata, atau dengan perbuatan (karena keberadaan bayu). Semestinya semua itu diimbangi dengan suatu kesabaran, seperti sifat-sifat Sanghyang Candra itu sendiri sebagai simbol Dewi Kesabaran. Terlahir pada dina Soma, akibat perilaku di masa lalunya bersikap kurang sabar, baik dalam ucapan mau pun perbuatan. Itulah yang menjadi tuduh atas laku dan di-titah kembali ke marcapada.

Anggara, urip-nya 3, diayomi oleh Sanghyang Angkara

Anggara sesungguhnya adalah Rudra yang ada di Bhuwana Agung. Dan setelah masuk ke dalam diri manusia berubah menjadi Ludra, yakni panasnya darah yang dikendalikan oleh Angkara. Angkara sendiri sebagai penyebab amarah (naik darah). Akibat “tertuduh” karena ke-angkara murka-annya yang melingkupi kehidupannya di masa lalu, maka ia saat ini terlahir pada dina anggara.

Budha, urip-nya 7, diayomi oleh Sanghyang Udaka

Udaka artinya sila. Kelahiran seseorang pada dina Budha menandakan bahwa di masa lalunya ia lebih banyak berbuat tidak menuruti aturan, tidak tahu sopan santun.

Wrhaspati, urip-nya 8, diayomi oleh Sanghyang Sukra Guru

Guru dalam konteks ini merupakan suatu catatan dari pengalaman hidup yang pernah dilakoni. Saat ini terlahir pada dina wrhaspati karena dulunya ia tidak pernah belajar dari pengalaman hidupnya, dalam artian tidak mengindahkan nasehat gurunya.

Sukra, urip-nya 6, diayomi oleh Sanghyang Breghu

Sukra merupakan Bhagawan yang mempunyai wewenang sebagai pengatur sifat moha dan loba. Makanya Bhagawan Breghu dipakai simbol “ Dewa judi “. Jadi, sifat moha dan loba tersebut yang mengikatnya di masa lalu, sehingga pada kelahiran saat sekarang ini diberi kesempatan untuk memperbaikinya. Itulah yang melatarbelakangi seseorang dilahirkan pada dina sukra.

Saniscara, urip-nya 9, dewanya Sanghyang Wasu

Saniscara merupakan sifat Durga ( baik dan buruk ) yang dikendalikan oleh Wasu, dimana wasu merupakan bagian dari kedelapan dewa yang dikuasai oleh Dewa Wisnu. Terlahir pada dina saniscara lebih dikarenakan pada masa lalunya ia hidup dipenuhi gejolak suka dan duka ( labil ).

Dalam suatu tinjauan yang berasal dari salah satu sumber lontar koleksi pribadi dikatakan perihal perwatakan sapta wara sebagai berikut :

Redite - Minggu

Kelahiran seseorang pada dina Redite, bisa berasal dari titisan orang laki-laki menjadi wanita, atau sebaliknya dari wanita bisa jadi laki-laki. Jadi, kelahiran tersebut bisa memiliki dualitas sifat, di mana orangnya cenderung pintar, dan bisa melakukan pekerjaan untuk laki-laki mau pun wanita. Bicaranya sering goyah, bisa benar atau bisa salah, bisa serius atau bisa cuek.
  • Dewa Indra sebagai Dewa pengayomnya, berarti mempunyai wawasan yang luas. 
  • Kayu-nya, kayu putih (kayu obat). Terlahir dina redite, seringkali menjadi korban kerabat mau pun teman seperjuangannya, karena ia sendiri kurang waspada. 
  • Manuk-nya Siyung, artinya mudah meniru kata-kata orang lain. Tutur katanya banyak dipengaruhi oleh lingkungan sekitar mau pun pergaulannya.
  • Kala-nya, Dora Kala, artinya bersikap apatis terlebih dulu sebelum dilakukan pengamatan dengan benar. Bhuta-nya Catuspata, maksudnya kejiwaannya sering seperti berada di persimpangan jalan ; Orang tersebut merasa seperti maju kena mundur kena, sehingga kemajuannya sering terhambat, apalagi kalau sebelumnya pernah tersandung oleh suatu masalah, dia akan mengalami trauma. 
  • Lintang-nya, Tendas marengreng, kelemahannya sering dengan keputusan tidak perduli, mudah putus asa, dan kwalat. Kurang bakti terhadap leluhur (bapak-ibu, kakek-nenek dari salah satunya). 
Akan menderita sakit yang berawal dari bentrok dengan keluarga/istri sendiri, kemudian ia akan menderita sakit lemayang lemayung, sakit menahun, sakit kepala, sakit ngibuk (ngancuk-ancuk), susah tidur.
Obatnya:
  1. kalau menderita sakit kepala, gunakan daun sirih yang muda dengan sedikit maswi (baca, masuwi), lekatkan pada dahi. 
  2. Kalau ngibuk karena badan panas, gunakan sirih yang tua/sudah kuning, ditambah gamongan, beras yang sudah direndam, kemudian diolah menjadi boreh dan dioleskan ke seluruh tubuh. Sebagai usug-nya dipakai jenis daun-daunan, seperti daun : awar-awar, dadap, pancersona, empag ; kelapanya dibakar, lalu diparut terus disadah, sesudah itu bisa dipakai usug pada seluruh tubuh. Kalau sakitnya tidak mengkhawatirkan seperti sakit ngancuk-ancuk, obatnya : daun juwet, sindrong, diolah menjadi boreh. Pada bagian tulang belakang di-simbuh dengan daun dusakeling, daun jajartanah, temu tis, diramu dengan beras yang sudah direndam, tingkih yang sudah dibakar, bawang metambus pada abu, dan ditambah adas. 
  3. Kalau perutnya terasa sakit ngilut-ngilut, dibuatkan loloh babakan pule, babakan dadap, diisi kelapa yang sudah dibakar, dan sarilungid, lalu di-simbuh-kan pada perut. Kalau sakitnya parah sampai menyebabkan si penderita bingung, obatnya : daun dusakeling, pucuk liligundi ini digiling sampai lumat, lalu diperas dan disaring. Aturan pakai : teteskan pada hidung dan mata.

Soma - Senin

Kelahiran Soma merupakan titisan dari mendiang sang kakek dari pihak keluarga laki-laki, sedikit bicaranya (pendiam). Perasaannya, banyak kasih sayang bagaikan seorang kakek dengan cucunya, juga ramah terhadap lingkungannya.
  • Dewanya : Bhetara Soma / Dewa Bulan. Pengaruh Bulan terhadap orang yang lahir hari soma biasanya berwatak pendiam, 
  • Kala-nya, Kala Jerang yang mempengaruhi sifat dewanya, maka pada waktu ia marah tidak bisa dikendalikan. Tapi marahnya hanya sebatas omongan saja. Kebiasaan negatif lainnya, suka membeberkan di sana sini kejelekan orang yang pernah dimarahi. 
  • Bhutania : ulu kebo, kalau marah bisa sampai pada gelap hati, dan putus asa, 
  • Kayunia : kayu pule, artinya mempunyai watak suka menolong, tetapi suka juga memperhatikan kesalahan orang lain ; dia sendiri jarang mengevaluasi kekurangan atas dirinya. 
  • Wayang-nya : togog, maksudnya pada saat melamun sering membayangkan kemewahan. 
  • Maya-nya : wulan, artinya ingin mendapatkan ketenangan, kedamaian yang menjadi tujuan pokoknya tanpa pernah disadari bahwa hidup itu harus berjuang terus tanpa hentinya, sepanjang tenaga ini masih mendukung. 
  • Lintangnia : naga, artinya sulit diatasi bila tiada bukti atas apa yang dilakukannya itu terbukti salah. Dia harus berbicara berdasarkan fakta.

Penyakit orang-orang kelahiran hari Soma disebabkan oleh bhuta Banaspati. Karena arogansinya, maka sakit yang diderita bisa mengakibatkan anrawang-anruwung perasaannya (sakit hati), tidak enak makan. Badan terasa nyeri, bahkan sampai kesemutan/keram ngancuk-ancuk, nek di hulu hati, puruh, parang, ngibuk, anyang-anyangan. Obatnya,
  • kalau sakit kepala obatnya daun sirih yang masih muda, ditambahkan sedikit maswi (masui). Lolohnya : pucuk kecemcem, isen, bawang putih, air jeruk, cuka tahun, air asaban cendana, bawang metambus pada bara api. Lalu dilumatkan dan diisi air, kemudian disaring lalu diminum. Boreh pada badan, bahan yang diolah berasal dari bunga cempaka putih, sindrong, ditambahkan air asaban cendana. Cara pemakaian : usapkan pada siksikan, daun jambu putih, buah jebug, bawang adas. Boreh pada kaki : serbuk bata jalikan, daun jeruk, daun pule, kasuna dan jangu,

Anggara - Selasa

Watak kelahiran dina Anggara, pintar bicaranya.
  • Dewanya Rudra, artinya berwatak keras kepala. 
  • Wayang-nya cupak, artinya berpenampilan berani, namun kurang hati-hati/agak ceroboh. Besar kemarahannya, bebotoh, dan kalau tidak bebotoh pengeluarannya tidak dihitung-hitung, sama dengan boros. 
  • Kayu-nya pule, artinya suka menolong sahabatnya. 
  • Manuk-nya, burung gagak, mempunyai firasat/filling yang baik. 
  • Mayania luwang, artinya suka mencari kesempatan/peluang. 
  • Lintang-nya celeng, tidak cocok mempunyai usaha beternak babi/hewan berkaki empat, oleh karena dia punya hutang karma berupa kaul babi guling yang belum dibayar pada kehidupan masa lalunya di kamulan. 
  • Bhutanya Banaspatiraja, artinya pada saat dia sedang kalap ia berani mengambil jalan pintas karena tidak peduli. 
karena bhuta Banaspatiraja yang menyakiti, sebab di masa lalunya tidak senang membersihkan diri (melukat) yang menyebabkan sakit pada masa kelahiran sekarang. Penyakitnya sering dialami dalam perjalanan, seperti sakit ngreges, sebuku-buku, batuk-batuk, sakit di bagian perut dan dada.
  • Obatnya; daun miana cemeng, daun pule yang muda, sulasih merik, sumanggi gunung, bungan blingbing buluh, montong isen nyuh metunu, temu tis, sari lungid. Semuanya dilumatkan, diisi air, disaring, untuk diminum. Lainnya, sakit mata, rumpuh, gatal-gatal, sakit pinggang kenyat. Obatnya, boreh yang terbuat dari babakan ancak, pulesai, sindrong, airnya asaban cendana. Boreh pada kaki terbuat dari daun simbukan, hatinya isen, kasuna, dan jangu, airnya asaban cendana.

Buda - Rabu

Yan wadon Dewa-nya Bhetari Uma, yan lanang Dewa-nya Mahedewa dan Wisnu. Wataknya sangat keras pada saat keras hatinya, dan sangat lembut pada saat lembut. Bisa jadi berwatak waria/banci.
  • Wayang-nya Wirun, artinya berpenampilan lugu, suka merendah, namun sering labil, atau sering berbeda dengan kenyataannya (suka jahil). 
  • Kayu-nya bunut, sering ditafsirkan seram. 
  • Manuk-nya Dara, suka pergi jauh. 
  • Sato-nya lembu, artinya tidak bisa dilukai, kalau dilukai bisa kalap. 
  • Kala-nya Anggapati, keinginannya dan juga bercita-cita tinggi – bisa jadi loba-nya juga tinggi. 
  • Mayania Pertiwi, kalau tidak dilukai dia cenderung sabar. 
  • Lintang-nya keris, sakitnya makan hati, juga kalau bicara sering menusuk hati orang dengan halus, dan sering luka, galakin desti, miwah pemali, doyan alih endih. Kesusahannya dalam bentuk financial, punya hutang kaul di kemulan berupa babi guling yang belum terbayar dari kakeknya yang sudah meninggal.

Orang kelahiran Rabu sakitnya ada di kepala, obatnya daun pepe, bawang dan adas. Sakitnya juga pada saluran kencing, obatnya empol pandan, bungan malinjo, bawang dan adas. Sakitnya juga pada perut,
  • obatnya selasih merik, air jeruk, isen ginten cemeng, air asaban cendana. Boreh untuk badannya babakan dadap dan sindrong wayah/jangkep. Boreh pada kakinya terbuat dari babakan pangi, babakan kelor, kasuna dan jangu, abu dapur dan idu bang.

Wraspati - Kamis

Wataknya banyak bicara, cocok sebagai guru, sekalipun dia bodoh tapi masih senang ngajarin orang lain. kadang-kadang lakunya mrekak/congkak dan tegar menghadapi masalah.
  • Wayang-nya semar, artinya dia sebagai abdi kebenaran, semar ini yang menyebabkan dia tabah. 
  • Kayunia bingin, maksudnya menjadi sosok yang aman dan teduh bagi orang-orang yang membutuhkan perlindungan / punya masalah. Dengan kata lain, suka melindungi orang yang menderita. 
  • Manuknya : merak, artinya sedikit suka pamer kemewahan. 
  • Sato-nya macan, artinya bertampang serem, kalau dipaksakan marahnya bersungguh hati. 
  • Kala-nya Anggapati, artinya orang yang bercita-cita tinggi dan agak loba pada sesuatu yang diinginkan (harus bisa atau harus tercapai). 
  • Bhuta-nya Ulusinga yang menyebabkan sakit. 
Bhuta Ulusinga dalam konteks ini maksudnya kelemahannya ingin berkuasa atas diri orang lain, kalau tidak bisa dia akan menyesal, maka sakitnya di perut muntaber (ngutah mising), maag, tuju, pemali, nglempuyeng, buduh, dekah, perot. obatnya:
  • Kalau batuk obatnya padang lepas, tingkih, beras mes, simbuh pada bagian dada. 
  • Kalau sakit perut, simbuh-kan kunyit, musi, daun kepasilan. Loloh-nya akah dadap, akah selegwi, akah sandat, sindrong muda dilumatkan, airnya asaban cendana, di saring lalu di minum. Boreh untuk badannya berasal dari ramuan daun dadap yang sudah kuning, daun bunut kuwang, kulit pohon majegau yang dikerik, dan sindrong wayah, lulurkan pada siksikan empol pandan, pucuk daun malinjo, bawang dan adas. 
  • Kalau kena gangguan jiwa, obatnya air kencing kuda hitam atau kuda putih, telor semut sidem, daun dusakeling, daun jajar tanah, diulek, lalu disaring dengan kain putih. Boreh pada kaki dengan ramuan daun tuju musna, kasuna dan jangu, airnya cuka. Kwalat-nya di kemulan di-tebusin seperangkat pakaian (rantasan saperadeg).

Sukra - Jumat

Dewa-nya Bhetari Sri.
  • Wayang-nya sangut, artinya suka melucu, dan seninya menonjol, banyak akalnya, pintar mencari solusi. 
  • Kayu-nya ancak, artinya pohon obat, memang kelahiran hari jumat suka menolong namun bicaranya agak panas. 
  • Manuk-nya titiran, artinya tutur katanya menarik perhatian orang lain. 
  • Kala-nya Kala Jerang, artinya suka ngomel dan suka menginformasikan kesalahan orang lain. 
  • Maya-nya yeh, artinya pikirannya susah dihentikan, mengalir terus bagaikan air mengalir sehingga membuat dirinya labil, banyak idenya. 
  • Lintang-nya kabutaan, kelemahannya pada kelupaan, pikirannya sering kosong hingga menyebabkan sakit. 
Sakitnya mudah kemasukan energi negatif/kadestiaan. Sakitnya ngibuk/gerah, panas dalam, sakit kepala ngreges, sakit kelamin.
  • Obatnya loloh daun sembung, daun pule, selasih merik, miana cemeng, sindrong, airnya santen dan air jeruk purut, semuanya di kukus. Semburkan pada badannya ramuan daun dusakeling, temutis, daun jajar tanah, tingkih metunu, beras kering, ketumbar, bawang, dan adas. 
  • Kalau sakit kelamin, obati dengan babakan kepah, daun nangka hijau, jebugarum, kasuna dan jangu, semuanya disangrai (dinyanyah) lalu dipakai bubuk. Kwalat-nya pada gedong Sari / linggih Bhetari Tri Upasedana.

Saniscara - Sabtu

Dewania Bhetari Durga ; bawaan kelahirannya bersifat dualitas, di mana sifat buruknya muncul terlebih dahulu atau sebaliknya. Baiknya, suka menolong orang, namun jeleknya berani jahat kalau dilawan. Sulit meredakan amarah, caranya hanya dengan menjauhi masalah, bahayanya kalau diajak berdebat argumentasi, dia tidak akan mau mengalah. Kelahiran orang pada hari sabtu adalah berumur pendek (cendek tuwuh).
  • Wayang-nya Delem, kalau sedang marah tidak perduli ada orang lain, mau pun situasi dan kondisi (ngawur, tidak kepalang tanggung bicara). 
  • Kayu-nya kepuh rangdu, artinya bertampang sadis atau serem. 
  • Manuk-nya tuhu-tuhu. Firasatnya ada pada mata, suka membaca tingkah laku orang lain, pemerhati aksi orang lain. 
  • Kalanya barong, sukanya sebagai penyelamat keluarga dan sahabat. 
  • Maya-nya bianglalah (pelangi) mempunyai kebiasaan menghilang, namun muncul pada saat yang tak pernah diduga. Cendrung labil, artinya sulit ditebak lihainya sebagai pengatur laku, sutradara kelompok/politik. 
  • Bhuta-nya Raksasa, artinya kurang waspada, banyak cerobohnya yang menyebabkan dia sakit, sakit hati dan akan menyesal di belakang hari. 
Lintang-nya lintang Rhu, dialah sebagai penyebab sakit, seperti sakit perut kembung (bengkang) atau melilit, badan menggigil, kepek, pemalinan/ngancuk-ancuk, gatal-gatal, sakit pada kelaminnya.
  • Obat pametuan, loloh-nya (jamu) juwuk purut, juwuk lengis, isen, kapur, temupoh, miana cemeng, Ginten cemeng, selasih miyik, yehnya asaban cendana ; semuanya ditumbuk halus, lalu disaring dipakai loloh. Boreh pada kaki babakan Tibah, tabya bun, suna jangu, dan beras merah, borehkan terutama pada telapak kaki sampai pada pergelangan kaki. 
  • Kalau sakit perut, semburlah pada perutnya dengan don kakap/daun sirih yang sudah tua, buah jebug. Lulurkan boreh ke seluruh tubuh yang dibuat dari : babakan ancak, ketumbah bolong, airnya asaban cendana. 
  • Kalau sakit bagian kelaminnya, gunakan babakan kepah, jebugarum, daun nangka hijau, disangrai (nyanyah) sampai kering, dipakai bubuk/herbal.
Sebagai tambahan, dalam rumus perhitungan wariga pada kalender bali disebutkan pula bahwa
Jejepan ; (Bilangan WUKU x 7 + bilangan Saptawara yang dicari) : 6 = sisa
  1. Mina (ikan)
  2. Taru (kayu)
  3. Sato (hewan)
  4. Patra (tumbuhan merambat/menjalar)
  5. Wong (manusia)
  6. Paksi (burung/unggas)
kesimpulannya, Sapta wara terdiri dari 7 dgn wara (hari) pertama Redite berikut Soma, Anggara, Budha, Wrhaspati, Sukra, dan Saniscara yang terakhir. Dengan Sapta Wara. Ini menjadi panjang hari dalam satu wuku.