Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri Mantra. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri Mantra. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Februari 2011

Ebook Mantra Pelet

Bagaimana cara pelet pria / wanita? Sehingga cewek / cowok secakep apapun bisa jatuh ke pangkuan anda dengan mudah. Ada rahasianya! Dan Ebook Mantra Pelet adalah Solusinya bagaimana anda mendayagunakan kemampuan supranatural melalui amalan khusus berupa mantra memikat pria / wanita. Jika mau silahkan baca-baca artikel dan arsip kumpulan tentang Mantra Pelet. Disana kamu bisa mendapatkan pengetahuan hal - hal tentang mantra pelet meraih cinta. Mengenai Ebook Mantra Pelet disini bagaimana anda diajarkan tutorialnya untuk menguasai ilmu pelet sebagai bentuk usaha secara spiritual dalam meraih cinta secara mudah tanpa bantuan orang lain…tidak pergi ke dukun pelet!! Anda sedang patah hati? Di tinggal pacar! Kekasih kecantol orang lain! Pusing 7 keliling urusan cinta asmara! Sulit dapat jodoh,dsb.

Disini diajarkan bagaimana cara mendapatkan pacar cantik / tampan tanpa bantuan paranormal karena kemampuan itu ada dalam diri anda sendiri. Perlu diketahui bahwa di dunia ini masih banyak cowok / cewek yang tidak laku. Maka daripada itu, Ebook Mantra Pelet akan membeberkan kunci ilmu cara memelet nya. Disini anda akan diberitahu rahasia kunci ilmu pelet secara lengkap dan jelas.i

Buat Kaum Pria:
Wanita memang penuh dengan teka-teki dan tidak bisa di tebak. apakah dengan cara-cara lama untuk mendapatkan hati sicantik yang banyak beredar selama ini masih bisa menjamin untuk mendapatkan wanita idaman anda ? wanita secantik apapun, sesexy apapun, kaya, gaul, ja'im itu semua bisa anda dapatkan dan bisa jatuh cinta kepada anda dengan metode rahasia kunci ilmu pelet yang kami miliki saat ini.

Namun saya yakin andapun menginginkan semua itu. sebagian orang ada juga yang tidak perduli dengan wajah cantik dan diapun lebih memlih cantik hatinya ketimbang wajahnya. tapi akankah semua itu bisa anda dapatkan jika anda hanya memiliki metode itu-itu saja untuk
PDKT terhadap sicantik tersebut ? mungkinkah jika anda punya rahasia yang lain, yang lebih unik dan yang akan banyak menjadikan surprise bagi calon pacar / cewek yang anda sukai saat ini ?

Cewek manis Wanita Tidak Hanya Ingin Di Puja Ataupun Di Manja, Tapi Masih Ada Rahasia Lain Di Balik Semua Itu. Untuk Itu Wanita SECANTIK APAPUN bisa merasa nyaman dan BISA jatuh cinta kepada anda. 

Buat Kaum Wanita
Pria rata-rata sok jaim, cuek, sok jual mahal, bahkan ada yang cuma modal rayuan gombal! Namun tidak dipungkiri juga ada wanita yang minder dengan cowok, merasa kurang PD, merasa jelek, merasa ini dan itu! Namun jika anda sadari semua itu sebenarnya tidak perlu anda alami! Sudah saatnya anda kaum wanita juga medayagunakan potensi kekuatan alami spiritual agar inner beauty dapat memancar, wajah tampak anggun mempesona sehingga setiap pria yang memandang akan merasa nyaman bahkan tidak mau pindah ke lain hati.

Kami mengajak anda untuk meraih impian bersama kami dengan menerapkan sebuah metode sederhana berupa tutorial ilmu-ilmu pelet yang sudah teruji mampu membantu mereka mendapatkan hati sicantik dambaannya:

*Apakah anda telah merasa bosan hidup sendiri tanpa cinta & kasih sayang seorang wanita. alias jomblo ?
*Apakah anda mau menjadi pria yang di dambakan oleh setiap wanita? atau bagi wanita anda mau menjadi idola kaum pria?
*Anda ingin memikat pria ganteng /wanita cantik tanpa harus kaya, dan tampan ? juga tanpa bantuan seorang dukun / paranormal!!
*Anda ingin menjadi laki-laki sejati yang sebenarnya banyak di kejar-kejar dalam hati setiap wanita ? atau anda ingin jadi wanita yang jadi pusat perhatian kaum pria!
*Anda sering tidak percaya diri atau minder saat berhadapan / berbicara bahkan saat akan mendekati cewek cantik / cowok tampan ?
*Anda ingin mendapatkan pujaan hati anda ?
*Anda mau tahu cara jitu memikat hati dan meluluhkan hati setiap pria / wanita dengan cara spiritual ?
*Anda sudah lama memendam perasaan anda ? perasaan cinta pada salah seorang pria / wanita, akan tetapi anda tidak berani untuk mengungkapkan semua itu ?

" RAHASIA AMALAN-AMALAN PENAKLUK CINTA"

Produk ini Berisi Amalan-amalan terbaik penakluk cinta dan kami tidak tanggung jawab atas penggunaanya, tujuan nya hanya memberikan pengetahuan bagi anda tentang rajah rajah ini saja, jika anda ingin memperaktekanya itu semua semua tergantung Anda saya tidak bertanggung jawab isi dari Ebook sebagai Berikut:

Pelet Jaran Goyang, Pelet Setan Kober, Pelet Puter Giling, Pelet Nini Blorong, Pelet Pancer Sukma, Pelet Kidang Kencana, Pelet Lindu Purnama, Pelet Kijing Kemat(santet cinta) Pelet Teja Asmara, Pelet Dayak Jagoi Babang, Pelet Lanang Jagad, Pelet Semar Kuning, Pelet Arjuna Nampang, Pelet Dewi Smoro, Pelet Asmara Bulan, Pelet Srikandi Gandrung, Pelet Tepuk Bantal, Aji Semar Nangis, Pelet Selasih Ireng,Pelet Mahabbah Raja, Pelet Yusuf Manitis, Pelet Segoro Bayu, Pelet Langlang Buana, Pelet Sinduka (mimpi),dan Kumpulan Ilmu Pelet Ampuh lainnya, Pelet Kejawen Kuno, Pelet Tanah Melayu. DLL

Ilmu ini kami dapatkan dari pencarian yang panjang dari berbagai sumber yang sangat dapat dipercaya dan sangat terbukti keampuhanya, sehingga kami mengumpulkan menjadi koleksi terampuh untuk anda. Banyak orang mengeluarkan banyak biaya hanya untuk ilmu mendapat ilmu pelet (Coba saja anda cek diluar dan iklan-iklan paranormal), Namun disini kami akan memberikan hal yang berbeda untuk anda karena selain mantra/doanya kami akan beberkan detail tatacara ritualnya yang mudah dipahami oleh siapapun, selain itu kami memberikan rahasia bahkan kunci keilmuannya. Jika anda tidak percaya buktikan pesan dilain tempat terlebih dahulu,anda cuma dapat kumpulan mantra dan tatacara yang tidak jelas bahkan kunci ilmu anda tidak tahu,karena apa? yang jual coppy paste sana sini lebih-lebih tidak punya dasar pengetahuan khasanah rahasia mantra supranatural. Bila anda berminat segera pesan Ebook Mantra Pelet.

Minggu, 23 September 2012

Prenawa OM dan pembangunan sejarah simbol Om

Prenawa OM dan pembangunan sejarah simbol Om


Pranawa Om adalah mantram sakral yang paling banyak disenandungkan oleh umat Dharma di seluruh pelosok bumi ini. Konon kata Amen, Amind dan Omen dikatakan berasal dari kata OM ini. Semua mantram Hindu-Buddhis dimulai dengan Om karena Omkara sebenarnya menyiratkan Sri Ganeshya dan berbagai maknanya, selain Dewa yang paling maha dalam jajaran dewata maka dewa ini adalah penghubung umat manusaia, dewa dan Hyang Maha Tunggal. Om juga dipergunakan pada awal setiap sapaan yang bersifat sakral, seperti Om Sai Ram, Hari Om dan sebagainya.

Aum , menurut Hindu filsafat, adalah suara primordial dari mana alam semesta diciptakan. Aum, juga disebut Pranava, adalah Firman asli Power, dan dibacakan sebagai mantra. Mantra adalah serangkaian suara lisan yang memiliki suara daya melekat yang dapat menghasilkan efek fisik atau psikologis tertentu, bukan hanya sesuatu yang memiliki arti intelektual yang ditugaskan. Kata mantra berasal dari ekspresi bahasa Sansekerta 'mananaath thraayathe' yang longgar berarti "mengubah pikiran", secara harfiah, "yang, ketika pikiran, membawa salah satu di [lautan duniawi kesedihan]". Kekuatan mantra terletak pada kemampuannya untuk menghasilkan perubahan, tujuan jelas di yogi yang mengulanginya dengan benar.

Dalam tradisi yoga, Aum adalah yang paling suci kata-kata suci, mantra tertinggi. Aum juga disebut Pranava, sebuah kata Sansekerta yang berarti kedua controller kekuatan hidup (prana) dan pemberi hidup (infuser prana). "Itu yang menyebabkan semua Pranas untuk sujud di hadapan dan bisa bergabung di Paramatman, sehingga untuk mencapai identitas dengan-Nya, adalah karena alasan itu dikenal sebagai Pranava tersebut." -. Atharvashikha Upanishad 1:10 a. Aum disebut Shabda Brahman - Tuhan sebagai Suara / Getaran. Menurut teori yoga, alam semesta telah berasal dari gerakan ini primal dalam Tuhan. Dengan mengikuti benang Aum kembali dalam meditasi ke tingkat yang lebih dan lebih halus dari kesadaran, yogi mendapatkan kembali bersatu dengan Brahman.

Upanishad (baik besar dan kecil) yang penuh dengan referensi untuk Aum dan meditasi pada Aum. Di bawah ini adalah contoh kecil:
  • "Dia yang mengucapkan Om dengan maksud 'aku akan mencapai Brahman' tidak sesungguhnya mencapai Brahman." - Taittiriya Upanishad 1.8.1
  • "Diri adalah sifat dari Om Sukukata ... Renungkan Om sebagai Diri" - Mandukya Upanishad 1.8.12, 2.2.3)
  • "Bentuk meditasi yang datang ke bermanifestasi sebagai yang paling utama dari semua, untuk regenerasi semua pencari, adalah Firman Pertama, menunjukkan Brahman [Tuhan]:. Om Sukukata Meditasi Om harus terpaksa oleh pencari setelah pembebasan. Sukukata ini adalah Brahman Agung. " - Atharvashikha Upanishad 1:1,2
  • "Brahman adalah Om Suku kata, keluar dari-Nya berlangsung Pengetahuan Agung." - Svetdsvatara Upanishad 4:17
  • "Om adalah Brahman, Yang Primeval Ini adalah Veda yang knowers dari Brahman tahu,. Melalui itu yang tahu apa yang harus diketahui." - Brihadaranyaka Upanishad 5.1.1
  • "Orang harus merenungkan Sukukata ini [Om]." - Chandogya Upanishad 1.1.1
  • "Om Suku kata adalah busur:... Diri seseorang, memang, adalah panah Brahman disebut sebagai target yang Perlu memukul tanpa membuat kesalahan demikian seseorang menjadi bersatu dengan itu [Brahman] sebagai panah menjadi satu dengan target. " - Mundaka Upanishad 2.2.4

Om adalah hasil dan sekaligus inti-sari dari shahtra-widhi kita, yaitu berbagai Weda, Upanishad dan Bagavat-Gita. Om atau Aum berasal dari aksara A-U-M dan diwujudkan dalam berbagai aksara di India dan di dunia sesuai huruf-huruf yang berlaku di daerah-daerah tersebut tanpa mengurangi makna dan kesakralannya. Ada berbagai makna yang diartikan dari ketiga kata-kata tersebut di atas, masing-masing secara berurutan seperti berikut ini.
  • AUM dapat diartikan Bhur . . . Bwah . . . Swah
  • AUM dapat diartikan Alam sadar . . . alam mimpi . . . alam tidur lelap
  • AUM dapat diartikan Rig, Yajur dan Sama Weda
  • AUM dapat diartikan Brahma (Pencipta), Wishnu (Pemelihara), Shiwa (Pendaru ulang). Dengan masing-masing shaktinya : Saraswati – Laksmi – Parwati.
Di atas konsep ini, para yogi berkesimpulan bahwasanya Om hadir di dalam meditasi kita di dalam spasi kekosongan yang berada di antara satu sebutan Om ke lainnya (antara satu tarikan nafas dan hembusan nafas). Om disebut pranawa yang berarti “simbol atau suara, atau sabda yang bersifat Maha Esa) dan berbagai manifestasinya. Dikatakan di dalam shastra-widhi kita bahwasanya seluruh jagat-raya dan isinya menyebut AUM (OM). Itulah sebabnya Bhagavat-Gita menjabarkan Om ini secara lebih luas : OM (atas nama Hyang Maha Esa) . . . Tat (setiap pelaksanaannya yang dilakukan atas nama dan demi Hyang Maha Esa) . . . pastilah benar (Sat) dan suci sifatnya. Inilah adalah mantram Purusha yang tertinggi, mantram Prakritinya adalah Gayatri Mantram.

Berbicara dari perspektif Makhluk Tak Terbatas, pencacahan utamanya manifestasi-perwujudan, Krishna mengatakan: "Akulah Om suku kata." (Gita 7:8) Ia juga mengatakan hal yang sama di 09:17 ("I am ... kata bersuku satu yang suci ") dan 10:25 (" Di antara kata-kata Aku adalah Om kata bersuku satu ").

Apa yang harus "melakukan" dengan aum kemudian diuraikan oleh Krishna: "Terlibat dalam praktek konsentrasi ... mengucapkan kata bersuku satu Om - Brahman - mengingat Aku selalu, dia ... mencapai ke tujuan tertinggi saya dengan mudah. dicapai oleh yang pernah-teguh Yogi yang terus-menerus dan setiap hari mengingat-Ku "- Bhagavad Gita 6:13;. 8:12-14

Yoga Sutra Patanjali, teks yang paling kuno dan otoritatif tentang Yoga, menguraikan tujuan dan proses yoga sebagai berikut:

"Ishwara [Allah] adalah Purusha tertentu [Roh, Orang] Siapa yang tak tersentuh oleh penderitaan kehidupan, tindakan, dan hasil dan tayangan yang dihasilkan oleh tindakan ini. Dalam Dia adalah batas tertinggi kemahatahuan 36 Menjadi dikondisikan oleh waktu Dia. adalah guru bahkan orang dahulu penanda-Nya [vachaka] adalah Pranava [Om] 37 Its.. japa [pengulangan konstan] dan bhavanam adalah cara [atau: harus dilakukan]. Dari hasil itu [datang] hilangnya hambatan dan Penyakit batin kesadaran. balik, kelesuan, diragukan, kecerobohan, kemalasan, keduniawian, delusi, non-pencapaian panggung, ketidakstabilan, ini menyebabkan gangguan pikiran dan mereka adalah hambatan. [Mental] nyeri, putus asa , gugup, dan agitasi adalah gejala dari kondisi terganggu pikiran. Untuk menghilangkan hambatan-hambatan [harus ada] praktek konstan prinsip satu [yang japa dan bhavanam dari Om]. " - Yoga Sutra Patanjali dari 1:24-32

Simbol Om ini juga menyiratkan seluruh jaga raya yang hadir di dalam Hyang Maha Esa. Titik di Pranawa Om berarti bumi (Bhur), bulan sabit berarti jagad raya (berbagai planet dan bintang) sama dengan Bwah, dan Swah yang merupakan lengkungan di sebelah kanan aksara tiga berarti kekosongan yang meliputi Bhur dan Bwah, betulkan kekosongan tersebut kosong? Seandainya kosong bagaimana mungking dapat menunjang seluruh orbit ini. Ternyata kekosongan itu bukanlah kekosongan namun Zat Yang Maha Agung dari mana semua ini tercipta.

Dahulunya titik di atas Pranawa Om konon berbentuk bintang bersudut enam, di setiap sudut terdapat satu aksara, dan kekosongan (OM) berada di tengah-tengah bintang tersebut. Ini adalah simbol kedigjayaan dan spiritualnya Dewa Subramaniyam, dikenal sebagai Skanda, penegak dharma dan sekaligus komandan perang para dewata. Beliau sebenarnya adalah Putra Dewa Shiwa dan masih bersaudara dengan Sri Ganeshya, yang adalah adik beliau. Lambang ini menjadi lambing Israel, kisah David dan Goliath mirip dengan kisah Subramaniyam mengalahkan seorang raksasa Asura. Seperti David, maka Subramaniyam pun berbadan kecil layaknya seorang anak laki-laki berwajah dan berpenampilan Sri Krishna sewaktu kecil. Namun di Israel lambing bintang ini tidak bermantram lagi, akibatnya perang di antara mereka tidak akan habis, selain mantram tersebut dikembalikan. Angka 3 di Pranawa Om melambangkan semua tiga unsur yang hadir di Pranawa dan juga Tri-loka.

Kalau saudara-saudara kita kaum Judea menggunakan bintang dari Om ini, maka saudara-saudara kita kaum Muslimin menurut para yogi menggunakan bintang dan bulan sabit sebagai lambing ajaran agama Islam, kemudian kedua unsur ini diletakkan di atas kubah masjid yang berbentuk setengah lingkaran, simbol dari bumi atau bagian atas aksara 3. Para yogi Hindu juga mengatakan bahwasanya Ka’baah adalah simbol lingga yoni terbesar di dunia, dan air zam-zam adalah simbol tirta keabadian (ambrosia) yang berasal dari perpaduan lingga dan yoni. Itulah sebabnya kaum Hindu merasa masih bersaudara dekat sekali dengan kaum Muslimin, apalagi nabi Besar Mohammad S.A.W juga mengajarkan adanya nabi-nabi dan berbagai buku-buku suci lainnya sebelum beliau hadir, dan Nabi Adam sebagai nabi pertama yang berasal dari jazirah India. Pada zaman Nabi Adam (dikenal dengan nama Manu, asal kata manusia), maka bangsa Arab dan Yahudi belum hadir.

Wangsa Yahudi baru hadir kemudian, dan di zamannya Pandawa berkuasa kembali, jazirah ini masuk ke dalam wilayah jajahan mereka (baca Srimad Bhagawatam). Seandainya semua ini bukan teori belaka, maka seharusnya umat manusia bersyukur untuk kesinambungan ini yang menunjukkan betapa dekatnya keta semua ini sebenarnya. Perang antar suku dan antar umat beragama seharusnya dapat dihentikan, apalagi wangsa-wangsa di Timur Tengah bukan saja adat-istiadatnya dan bentuk profilnya sama denga wangsa India, namun secara genetika juga identic bahkan merekapun memiliki rhesus darah negatif seperti saudara-saurdaranya di India. Ternyata Pranawa AUM (OM) lebih luas jangkauan dan maknanya kalau ditelusuri dari sudut ini. Mungkinkah di masa-masa mendatang Pranawa ini dapat menyatukan seluruh bangsa di dunia, karena pada saat ini Om sangat popular di Eropa dan Amerika serta sebagian Australia yang didominasi oleh kaum kulit putih yang sedang meninggalkan ajaran Kristiani dan lebih menyukai gaya Hindu yang bersifat universal. Mengapa begitu? Jawabannya hanya Beliau yang tahu.

simbol sakral Hindu

Buddhisme, Jainisme, Sikhisme dan Zoroastrianisme. Hal ini digunakan baik sebagai simbol dan sebagai suara dalam ibadah, ritual nyanyian, kinerja sakramen dan ritual, yoga dan tantra. Dalam agama Hindu itu dihormati sebagai Brahman dalam bentuk word (askshara) dan suara (sabda).

Dalam praktek yang sebenarnya jarang dinyanyikan dalam isolasi dan sebagian besar berkaitan dengan mantra lain, doa, nama-nama dewa dan dewi, baik sebagai akhiran atau awalan, di bawah keyakinan bahwa hal tersebut akan meningkatkan potensi mereka, semangat, kesucian dan kemurnian. Menurut Mantrayoga Samhita, Om dengan sendirinya memiliki potensi ada jika diucapkan oleh seseorang yang belum dimulai di jalan spiritual oleh seorang guru. Ini tetap tidak efektif sebagai kendaraan realisasi diri, kecuali secara pribadi disampaikan oleh seorang guru yang tercerahkan (guru) ke memulai sebagai bagian dari mantra (bija) benih. Pandangan serupa dipegang oleh beberapa modern sekte seperti Satsang Rahdasaomi.

Samhita Taittirya menjelaskan penggunaannya dan signifikansi dalam ritual Veda dengan cara berikut:
Aum adalah Brahman. Aum adalah semua. Aum, ini sesungguhnya adalah kepatuhan. pada mengucapkan, 'membaca', mereka membaca. Dengan Aum, mereka menyanyikan nyanyian saman. Dengan Aum, som, mereka melafalkan doa-doa. Dengan Aum imam mengucapkan Advaryu respon. Dengan Aum satu assents dengan penawaran untuk menembak. Withy Aum seorang Brahmana mulai membaca, mungkin saya mendapatkan Brahman, dengan demikian berharap, brahman, sesungguhnya ia memperoleh

Asal usul Om atau Aum

Ada banyak teori mengenai asal-usul suku kata Om. Max Mueller mengusulkan bahwa mungkin telah berasal dari kata kuno "Avam", yang digunakan pada zaman prasejarah dalam arti Thatto mengacu pada obyek yang jauh. Menurut Swami Sankarananda, kata mungkin telah berasal dari nama seorang dewa Somathe penting yang disebutkan dalam Weda sering dan dengan siapa ritual esoterik banyak terkait. Kata ini juga terkait dengan suara napas dan getaran halus dan potensi tinggi universal yang dapat didengar secara internal dalam pesawat halus sebagai suara yang mendalam (Pranava nada) oleh pakar sepanjang waktu. Ada kemungkinan bahwa kata mungkin telah diintegrasikan ke dalam agama Veda dari beberapa tradisi pertapa India kuno. Upanishad Chandogya menceritakan bagaimana Aum suku kata yang dikeluarkan keluar dari Brahma saat ia merenung atas dunia yang ia ciptakan dalam tahap awal penciptaan. Dari merenung yang pertama muncul pengetahuan tiga kali lipat (trayi vidya) dan kemudian bhur suku kata, bhuvah dan suvah. Ketika ia merenung atas mereka (bhur, bhuvah dan suvah), Aum suku dikeluarkan keluar dari mereka. Dengan demikian secara simbolis, Aum mewakili seluruh ciptaan diwujudkan dalam tiga pesawat, yaitu bumi, wilayah pertengahan dan langit.

sejarah pembangunan

The Om kata tidak disebutkan secara langsung dalam himne paling awal dari Rgveda, namun disebutkan dalam Weda dan Upanishad lainnya beberapa yang terkait dengan mereka. Awalnya, pada periode awal Weda, karena kesucian yang terkait dengan itu, kata disimpan sebagai rahasia dan tidak pernah diucapkan di depan umum. Itu digunakan dalam percakapan pribadi dan diteruskan dari guru ke murid atau ayah ke anak secara langsung dan dalam kerahasiaan. Itu juga tidak digunakan dalam ritual. Karena tidak diizinkan untuk menggunakan kata secara langsung, beberapa Upanishad awal disebut secara tidak langsung sebagai udgita (Suara) atau Pranava (memanggil), menyinggung pentingnya dalam pernapasan diatur dan agama nyanyian masing-masing. Ungkapan lain yang digunakan dalam tulisan suci dalam referensi untuk itu adalah vācaka (simbol), Taraka (crossing) dan Akshara (kata binasa). Hal ini juga digambarkan sebagai Brahman dalam bentuk suara (Sabda Brahman). Dalam Bhagavadgita Krishna menyatakan bahwa dari ujaran Dia adalah Aum kata bersuku satu.

Pranava dan Udgita

Dalam kitab suci Veda, kata disebutkan untuk pertama kalinya secara terbuka dalam himne pertama Shukla (putih) Yajurveda. Beberapa percaya ini mungkin seru hari kemudian, karena dalam Samhita Taittiriya (5.2.8) dari Yajurveda Putih, itu adalah sill disebutkan secara tidak langsung sebagai kualitas ilahi (deva lakshna) memiliki tiga mode ekspresi (tri-alikhita), sebuah ekspresi yang umumnya terkait dengan Aum.

Kami menemukan referensi meningkat untuk itu dalam Upanishad banyak yang disusun pada periode Rigvedic Pos seperti Brihadaranyaka, Chandogya, Taittiriya dan Mandukya Upanishad. Ini Upanishad menarik makna simbolik oleh mengaitkannya dengan Diri Universal atau Brahman Yang Agung.

Mereka langsung menyebutnya sebagai Om, Aum, Udgita, Pranava dan Omkara. Dalam beberapa ayat dari Upanishad Brihadaranyaka, Om digunakan sebagai penegasan dalam arti Ya saya setuju. Upanishad Chandogya (Bagian 3) menginformasikan berbagai cara di mana udgita dapat bermeditasi dan manfaat yang timbul dari mereka. Ini menyatakan bahwa dengan bermeditasi atasnya seseorang dapat menghalau kegelapan dan ketakutan, memperoleh kekuatan, menjadi kaya dalam keabadian makanan dan keuntungan. Dalam beberapa ayat itu sama dengan Aum ruang (akasa).

Patanjali Yogasutra menyatakan bahwa Isvara (Diri) dinyatakan sebagai Pranava. Its kontinyu nyanyian (japa) akan mengarah pada penguasaan pengetahuan yang benar dan penghapusan interupsi (antarayas) yang muncul dalam bentuk gangguan (vikshepas) seperti penyakit dan kusam. Tradisi Yoga menyatakan bahwa nyanyian kata terus akan membawa banyak manfaat, seperti pemurnian pikiran, tubuh dan lingkungan, penghapusan dosa, keseimbangan pikiran, penghapusan keinginan, delusi dan lampiran dan pencapaian dari semua empat tujuan dari kehidupan manusia, yaitu tugas wajib (dharma), kekayaan (artha), kesenangan (kama) dan pembebasan (moksha).

Aum dan Om dalam Upanishad

Kedua Upanishad mayor dan minor berulang kali menyebutkan makna simbolis dan spiritual dari Aum atau Om dan merekomendasikan meditasi atasnya sebagai sarana untuk mencapai keadaan Brahman. Deskripsi dari aum di Upanishad besar dan kecil berbagai disebutkan di bawah ini.

Mandukya Upanishad

Dalam literatur Veda kita menemukan suatu evolusi bertahap dari Om Aum. The aum Kata ini digunakan untuk pertama kalinya dalam Upanishad Mandukya untuk menjelaskan Brahman sebagai satu-satunya dan realitas terakhir, sebuah konsep yang menjadi dasar selanjutnya bagi munculnya Advaita Vedanta atau filsafat monisme. Gaudapada menguraikan filosofi ini melalui komentarnya di whcih Upanishad dikenal sebagai Mandukya Karika.
Dalam ayat pembukaan yang sangat nya, Upanishad Mandukya menggambarkan pentingnya Aum di mana ia menyatakan Omkara sebagai segala sesuatu (idam Sarvam), masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang dan juga apa yang ada di luar tiga kali waktu. Sebagai brahmana utama memiliki empat kuartal, keadaan sadar (Jagrata) dipimpin oleh Vaisvanara (man universal), keadaan mimpi (svapna) dipimpin oleh taijasa (diterangi menjadi), sleep negara dalam (susupta) dipimpin oleh prajna (makhluk cerdas) dan negara transendental (Turiya) dipimpin oleh Diri individu (atman) yang pada kenyataannya hanyalah Brahman sendiri.
Kita bisa melihat keempat negara yang diwakili dalam AUM suku kata. Keadaan sadar diwakili oleh huruf pertama A, negara impian oleh U surat kedua, keadaan tidur nyenyak dengan huruf M ketiga dan keempat negara (Self) oleh AUM suku kata itu sendiri. Seperti Patanjali, Gaudapada menyamakan Aum dengan Isvara dan menunjukkan bahwa dengan menyembah-Nya sebagai Aum kita akan melampaui menderita.
Sifat empat kali lipat dari Aum juga diwakili jujur ​​dalam simbol Aum, yang terdiri dari empat kurva dan satu lingkaran. Keempat kurva mewakili empat negara bagian dari kesadaran dan lingkaran mewakili Diri. Semakin rendah kurva mewakili keadaan sadar, kurva tengah keadaan mimpi, kurva atas keadaan tidur nyenyak, setengah lingkaran terlepas dari ketiga mewakili negara transendental sementara lingkaran di atas semua adalah Diri menyaksikan atau Diri Agung. Simbolisme Aum digambarkan dalam diagram di bawah ini.

Brihadaranyaka Upanishad

Upanishad Briahadaranyaka dimulai dengan kata Aum. Dalam beberapa ayat itu menyebutnya sebagai udgita dan menyatakan cara yang tepat untuk mengucapkan itu dalam hubungannya dengan pidato dan dengan napas bagian atas yang mendalam (atau inhalasi di mana dada ditarik ke atas). Upanishad Chandogya menyarankan, dalam bentuk cerita (bagian 2), cara terbaik untuk merenungkan udgita untuk menstabilkan pikiran.
Ini dimulai dengan bagaimana para dewa mencoba berbagai metode sia-sia untuk merenungkan udgita dan bagaimana mereka terganggu kemenangan dengan berbagai cara oleh setan, sampai para dewa menemukan metode yang tepat untuk merenungkan sebagai nafas. Ketika para dewa mulai bermeditasi dengan cara ini, iblis berusaha untuk mengganggu mereka dan langsung hancur seolah-olah mereka memukul diri terhadap batuan padat. Pada bagian berikutnya (3.7) dari Upanishad kita menemukan simbolisme tiga kali lipat dari udgita, Surga (dyaur) adalah ut, atmosfer (antarisksham) adalah gi dan bumi (prithvi) adalah tha. Matahari adalah ut, yang gi udara dan api tha.
The Samaveda adalah ut, yang gi Yajurveda dan Rgveda, tha. Untuk menghilangkan keraguan kita mungkin memiliki mengenai arti sebenarnya dari udgita, Upanishad tegas menyatakan, sesungguhnya Sekarang, apa udgita adalah Aum tersebut. Apa Aum adalah udgita tersebut.

Dalam Maitri Upanishad

Upanishad Maitri (4.22) menjelaskan bagaimana kita dapat mencapai non-suara (asabda) melalui suara (sabda) oleh merenungkan Aum dengan cara yang berbeda. dalam satu Metode, bergerak ke atas oleh salah satu naik ke non-suara dan menjadi abadi.

Menurut metode lain, dengan menutup telinga dengan jempol kita dapat mendengar suara dari ruang dalam hati dalam tujuh cara yang berbeda, yaitu suara sungai mengalir, suara roda bergerak, suara bel, dari kuningan kapal, Ruak katak, suara hujan dan suara pidato. Dia yang mendengar suara-suara yang berbeda dalam dirinya akhirnya akan bergabung dengan tertinggi non-suara dan menjadi abadi. Dengan demikian, dengan bantuan sabda (suara) Brahman ia mencapai ayat (tertinggi) brahman. Upanishad ini juga menjelaskan akhir dari meditasi pada Aum sebagai negara yang tenang, tanpa suara, tak kenal takut, tanpa kesedihan (Asokam), bahagia, puas, teguh, tak bergerak, abadi, unshaking, abadi, dan yang sebanding dengan Wisnu karena keduanya lebih rendah dan lebih tinggi dari segala sesuatu dan juga tanpa suara dan batal. Kondisi ini dicapai dengan menggunakan tubuh sebagai haluan, Aum sebagai panah, pikiran sebagai titik dan kegelapan sebagai tanda. Ketika kegelapan ditusuk dengan panah dari Aum seseorang mencapai apa yang tak diselimuti kegelapan di mana Brahman berkilau seperti roda api, dari warna matahari, penuh semangat dan luar kegelapan

Atharvasikha Upanishad

Upanishad Atharvasikha menunjukkan meditasi yang harus dilakukan pada huruf Om tunggal karena dalam dirinya sendiri mantra untuk meditasi. Kaki empat adalah empat dewa dan empat Veda sedangkan suku kata itu sendiri sama dengan Para Brahman (realitas Ultimate). Ini menyatakan, "Kelima dewa Brahma, Wisnu, Rudra, Ishwara dan Siwa harus disembah dalam bentuk Pranava Aum dikenal sebagai Pranava karena membuat busur orang sebelum dan (+ Aa Uu + suara Ma + + setengah Bindu.) sebagai Omkara karena mengirimkan sebagainya arus kekuatan hidup-atas. Upanishad mengidentifikasi suara konstituen dari Aum suku kata dengan Brahma, Wisnu dan Siwa, dan Brahman, dan menjelaskan simbolisme mereka dengan cara berikut
Suara mewakili bumi, himne pujian (ric), Rgveda, Brahma, delapan dewa yang dikenal sebagai Vasus, mantra Gayatri suci, api garhyapatya, warna merah dan didedikasikan untuk Brahma.
U suara mengacu pada atmosfer (antariksha), rumus kurban yang dikenal sebagai Yajus, yang Yajurveda, Dewa Wisnu, dewa-dewa atmosfer yang dikenal sebagai Rudras, yang trishtbhu meter, api Dakshina, kecerahan, dan didedikasikan untuk Rudra.
M suara merupakan surga, nyanyian saman suci, Samaveda, Dewa Wisnu, dewa 12 surya yang dikenal sebagai Aditya, yang jagati meter, api ahavaniya, warna hitam dan didedikasikan untuk Wisnu.
Bagian ternasal setengah dari m suara yang membiarkan keluar sementara Aum melantunkan digambarkan sebagai nyanyian Atharvan, yang Atharvaveda, api kehancuran universal, dewa angin dikenal sebagai Marut, yang Virat universal, seperti petir, warna-warni dan didedikasikan untuk Brahman atau Purusha

Aum dalam Tantra dan Upanishad kecil

Para tantra menggambarkan Aum suara primordial sebagai getaran murni (spanda), tanpa sebab dan sumber dari semua suara dan getaran. Mereka menjelaskan asal suara purba seperti dhvani, nada dan huruf halus yang disebut matrikas dan hubungan mereka dengan Siva dan Shakti. Sharada Tilaka Tantra mengungkapkan sumber dari semua suara menjadi bindu (titik) yang memiliki tiga bagian, yaitu nada (suara halus), bija (biji) dan bindu (titik). Nada memiliki dominasi Siva kesadaran (Siva), bindu memiliki dominasi energi atau Shakti sementara bija mengandung keduanya di bagian yang sama. The Tantra Kirana menggambarkan Aum sebagai ilahi dalam dirinya sendiri, yang berada di tenggorokan Siva dan yang merupakan akar dari semua mantra dan juga sumber dari semua pidato (VAC).

Upanishad Amritabindu membedakan antara Om terdengar (Svara) dan yang tak terdengar Om (asvara), yang tak terlihat di dunia sadar tapi jelas dalam pesawat halus dalam keadaan yang lebih dalam meditasi. The Om terdengar adalah fana (kshara), sedangkan yang halus yang binasa (Akshara). Hanya dengan merenungkan yang terakhir, adalah mungkin untuk mencapai keadaan keseimbangan kesatuan dan pengalaman dengan Allah. Upanishad Amritanadabindu menggambarkan Om sebagai kereta untuk mencapai Mutlak. Dengan melantunkan suara suci, terlepas dari tiga huruf pertama dari Aum, memasuki satu negara halus melalui m surat terakhir yang juga merupakan bindu (benih atau focal point). Penarikan indera, berlatih kontrol napas, duduk di tanah, bebas dari cacat dan menjaga diri dari pemikiran yang berbahaya, seseorang harus memusatkan perhatian seseorang sepenuhnya pada Om dan merenungkan atasnya. Om tidak boleh dihembuskan karena memiliki kemampuan untuk memurnikan dan menghilangkan cacat.

Upanishad Nadabindu menggambarkan Aum sebagai suara dengungan gemilang (Vairaja Pranava), memiliki empat bagian di mana seseorang dapat mencapai suara batin (nada) di telinga kanan. Ketika terdengar semua suara eksternal menghilang dan satu dapat mendengarkan suara halus berbagai dimana ia menjadi videhamukta (dibebaskan dari tubuh).

Menurut Hamsa (swan) Upanishad, nada memanifestasikan dirinya sebagai sepuluh suara yang berbeda, yang didengar oleh pakar dan yogi di pesawat halus dalam tahap progresif kemajuan rohani mereka. Mendengar mereka adalah tanda pasti sukses di jalan.

Suara ini adalah suara cini, dari cini cini-, bel, dari kerang, harpa, cymbal, seruling, ketel drum, dari Tabor dan bertepuk tangan guntur. Dari jumlah tersebut hanya yang terakhir harus dibudidayakan. Gejala fisik yang berbeda dikatakan muncul dalam pikiran dan tubuh sebagai suara-suara yang didengar, seperti gemetar dari kepala dan manis di mulut. Ketika akhirnya suara yang disebutkan terakhir (petir) terdengar, seseorang menjadi identik dengan Diri transendental (para brahmana). Tantra Shastra mengakui Aum sebagai benih (bija) mantra dan menyarankan hubungannya dengan mantra lain dan nama Siva, Shakti dan dewa lainnya sehingga dapat meningkatkan potensi dan getaran dan mempercepat proses pemurnian dan realisasi diri. Beberapa mantra terkenal dan kuat yang digunakan dalam hubungan dengan Aum sebagai awalan yang disebutkan di bawah
  • Om namah Sivayah
  • Om namo bhagavate Vasudevaya
  • Om Ganesaya namah or Om namoh Ganesaya
  • Om namo Pundarikakshaya
  • Om srimatre namah
  • Om sat-cit-ekam-brahma
  • Om Durgaih namah
Mahanirvana Tantra berbicara tentang pentingnya soham atau Hamsa digunakan dalam meditasi baik dan nyanyian sebagai sarana untuk realisasi diri. Kedua kata melambangkan realitas tertinggi tersembunyi dalam penciptaan nyata dan mengandung dalam dirinya baik aspek maskulin dan feminin dari penciptaan, yaitu Siva dan Shakti, diwakili oleh ham suara dan sa masing. Hamsa, angsa berarti dan juga Akulah Dia. Hal ini disamakan dengan suara pernapasan alami karena suara pernapasan alam kita sangat mirip dengan suara hamsa.

Ketika berulang kali meneriakkan hamsa (Akulah Dia) terdengar seperti soham (Dia adalah saya) atau sebaliknya. Dengan demikian dikatakan bahwa dengan bernapas secara alami setiap makhluk hidup nyanyian sadar dan spontan, salah satu mantra yang paling kuat di dunia, yang dianggap sebagai Pranava sendiri. Melalui napas semua makhluk terus menyembah Tuhan, mengingatkan diri dari sifat sejati mereka dan hubungan dengan Tuhan dan mengidentifikasi diri mereka dengan-Nya, meskipun mereka mungkin atau mungkin tidak menyadarinya sama sekali. Kami menemukan penjelasan yang sama dalam Upanishad Dhyanabindu, yang menggambarkan nyanyian hamsa sebagai japa Gayatri atau gayatri dilantunkan

Om dalam Buddhisme

Buddhisme tidak mengakui adanya Diri individu maupun Diri universal. Sang Buddha melarang praktek Veda menggunakan mantra dan mantra magis untuk keuntungan pribadi atau spiritual. Namun dengan munculnya Mahayana dan Vajrayana Buddhisme praktek menggunakan mantra dalam nyanyian dan meditasi sebagai sarana perlindungan diri, pemurnian dan spiritual kesejahteraan menjadi latihan yang teratur dalam beberapa sekte agama Buddha. Salah satu mantra paling terkenal ditemukan dalam Buddhisme adalah mantra teratai yang dimulai dengan kata Om. Hal ini menyanyi saat, Om mani padme ham

Ada juga mantra lain yang dimulai dengan Om yang digunakan oleh para biarawan Budha di berbagai belahan dunia, seperti, hum wagishwari Om, Om dhrung Svaha, Om hum Vajrapani dan Om Vajrasattva hum. Untuk Buddhis kata Aum atau Om tidak mewakili realitas mutlak atau diri yang kekal. Sebaliknya itu merupakan aspek luar dari makhluk hidup, yaitu tubuh ucapan dan pikiran masing-masing.

Pendapat orang bijak tentang Aum

Sri Anandamoyi Ma

"[Peringatan bagi para Pranava] harus menjadi begitu otomatis bahwa Anda tidak dapat bernapas tanpa mengingat itu."
"Om adalah akar dari semua suara. Setiap suara lainnya yang terkandung dalam itu, dan ini digunakan untuk mengambil satu melampaui semua suara ".

Sri Aurobindo

"OM adalah mantra, yang ekspresif suara-simbol Kesadaran Brahman dalam empat domain dari Turiya ke pesawat eksternal atau materi. Fungsi mantra adalah untuk menciptakan getaran dalam kesadaran batin yang akan mempersiapkan untuk realisasi dari apa mantra melambangkan dan seharusnya memang untuk membawa dalam dirinya sendiri. Mantra OM karena itu harus mengarah ke arah pembukaan kesadaran untuk pandangan dan perasaan Kesadaran Satu dalam segala hal materi, dalam batin dan di dunia supraphysical, pada bidang kausal atas sekarang superconscient kepada kami dan, akhirnya, tertinggi membebaskan transendensi atas semua eksistensi kosmik. Yang terakhir biasanya keasyikan utama dengan mereka yang menggunakan mantra "Letters on Yoga, Vol.. II, p. 745-46

AC Bhaktivedanta Swami Prabhupada

"Jika Anda seorang mahasiswa yang serius dari mantra Weda, Anda akan mengucapkan mantra Om karena Vedic dimulai dengan Om. Om, atau Omkara, adalah Krishna. Banyak orang yang menyukai nyanyian Omkara. Itu juga bagus, karena Omkara adalah Krishna. Jika kita hanya ingat, 'adalah ini Omkara Krishna,' maka kita menjadi sempurna, karena tujuannya adalah untuk menjadi Krishna sadar. Jadi Anda bisa menjadi Krishna sadar sambil melantunkan Om ".

Swami Dayananda Saraswati

"Om adalah Nama tertinggi dari Tuhan, dan terdiri Nama lain dari Tuhan. Perlu diingat bahwa Om adalah Nama Allah eksklusif-dan tidak ada obyek material lain atau spiritual-sementara yang lain hanyalah judul deskriptif dan bukan nama sebenarnya yang tepat. "

Kabir

"Ini adalah Firman Ultimate: tetapi setiap dapat mengekspresikan mengagumkan menikmati? Dia yang telah menikmati sekali, dia tahu apa yang dapat memberikan sukacita. Kabir mengatakan: Mengetahui hal itu, orang bodoh menjadi bijaksana, dan orang bijak menjadi terdiam dan diam ".

Lahiri Mahasaya

"Japa Konstan dari fokus Pranava, Omkar, Yang sendiri yang dapat mengungkapkan, dan konstan pada Ini sebagai bentuk Ishvara, dan mendedikasikan semua tindakan untuk itu seolah-olah Anda tidak pelaku sendiri, adalah Kriya Yoga."

Avadhuta Nityananda Paramhansa

"Mengikuti jalan diskriminasi, biarkan pikiran yang murni akan tegas tetap dalam Om."

Sri Ramakrishna Paramhansa

"'Apa yang akan Anda dapatkan', beberapa orang bijak bertanya, 'hanya dengan mendengar suara ini?' Anda mendengar deru laut dari kejauhan. Dengan mengikuti gemuruh Anda dapat mencapai laut. Selama ada gemuruh, juga harus ada laut. Dengan mengikuti jejak Om Anda mencapai Brahman, yang adalah Firman simbol. Itu Brahman telah dijelaskan oleh Veda sebagai tujuan akhir ".

Ramana Maharshi

"Maksud dari resep meditasi pada Pranava adalah ini. Pranava adalah Omkara ... advaita-mantra yang merupakan esensi dari semua mantra .... Dalam rangka untuk mendapatkan ini makna sebenarnya, kita harus merenungkan Pranava tersebut. The ... hasil dari proses ini adalah samadhi yang menghasilkan rilis [moksha], yang merupakan keadaan kebahagiaan tak terkalahkan ".

Amit Ray

Dalam buku Om Chanting dan Meditasi: Om chanting adalah seni kreatif, bukan hanya pengulangan mekanis kata. Om dikenal sebagai Pranava, yang berarti baru, yang pernah segar. Jadi, masing-masing mengucapkan mantra Om selalu baru, unik dan segar. Kita semua unik .... Oleh karena itu, ucapan kita Om harus spontan dan unik.

Jumat, 31 Mei 2013

mantra mantra pengasihan

mantra mantra pengasihan, sehubungan banyaknya peminat keilmuan pengasihan yang selalu membanjiri blog ini untuk itu kami akan memberikan kepada anda bayak sekali ilmu ilmu yang sudah sangat di kenal luas oleh masyarakat Indonesia.

mantra mantra pengasihan

di tulisan sebelumnya 30 ILMU PELET, MAHABAH, PENGASIHAN, KIRIM MIMPI BASAH sudah di bahas mantra mantra pengasihan tingkat tinggi yang bisa anda amalkan atau pelajari sendiri.

gunakanlah mantra mantra pengasihan tersebut sebaik baiknya jangan di salah gunakan lalu bila anda serius terhadap seluruh keilmuan ini bisa KUNJUNGI DI SINI

Selasa, 25 September 2012

Mantra sebagai Pembelajaran Orang Dewasa

Mantra sebagai Pembelajaran Orang Dewasa


Mempelajari Weda (dan atau mantra) mencakup kegiatan yang amat luas. Kita mulai dari belajar membaca, mendengar ucapan-ucapan yang benar, menterjemahkannya, mengertikan arti kata, menginterpretasikan, merenungkannya kembali, merumuskan hasil-hasil pemikiran yang terkandung dalam Weda, menjelaskan dengan melihat relevansinya dengan gejala-gejala alam, kesemuanya itu merupakan satu paket proses belajar weda.

Mengajar dan belajar mantra Weda tidaklah sama dengan membaca biasa. Sangat edialnya usaha belajar dimulai sejak usia masih muda. Ketentuan umur dalam sistem catur Asrama dapat dijadikan patokan pegangan kapan kita bisa mulai belajar Weda. Umur termuda empat tahun dan paling terlambat kalau telah mencapai umur 22 tahun. 

Salah satu faktor terpenting dalam belajar membaca dan mengajarkannya adalah pengenalan huruf dengan suaranya. Disamping itu masalah intonasi atau tekanan suara yang tepat akan ikut pula menentukan. Karena itu yang pertama-tama adalah menguasai huruf dengan baik sehingga seorang anak dapat dapat memodulisasi suara dengan baik dan dapat pula mendengar dengan jelas perbedaan suara yang dibaca orang lain. Adapun pengucapan hruf-huruf yang dimaksud itu adalah huruf-huruf (aksara) dewanegari yang dipakai dalam bahasa Sannskerta atau mantra-mantra baik ditulis dalam huruf Dewanegari mapun tulisan Latin. 


Secara umum huruf itu dapat dibagi menjadi dua yaitu hurf hidup dan huruf mati,
Huruf hidup adalah: q,q,i,i,u,u,e,ai, o, au, r, rr, lr, llrr,
huruf mati adalah:
k, kh, g, gh ng (n),
c, ch, j, jh, n,
t, th, d, dh, n,
t, th, d, dh#, n,
p, ph, b, dh, m
s, º (sn), œ (c), h#.
Ks (ksh), tra, jn. (Puja, 1985:112-113)

Dalam pengemasan kembali informasi, dosen tidak menulis bahan ajar sendiri dari awal (from nothing atau from scratch), tetapi dosen memanfaatkan buku-buku teks yang sudah ada di pasaran untuk dikemas kembali sehingga berbentuk bahan ajar yang memenuhi karakteristik bahan ajar yang baik, dan dapat dipergunakan oleh dosen dan mahasiswa dalam proses intruksional. Informasi yang sudah ada dipasaran dikumpulkan berdasarkan kebutuhan (sesuai dengan tujuan instruksional GBPP dan kontrak perkuliahan). Kemudian disusun kembali atau ditulis ulang dengan gaya gaya bahasa dan strategi yang sesuai untuk menjadi suatu bahan ajar (atau digubah). Paulina Pannen dan Purwanto (2001:13).

Bertitik tolak dari pernyataan Paulina Pannen dan Purwanto di atas, penulis ingin mengikuti jejak yang dilaksanakannya dalam usaha memahami Mantra dan Belajar Mantra. Penulis membeli buku, meminta dan meminjam diantaranya: 
  • Kusuma Dewa Utara anom, 
  • Sang Kulputi Kesmuda Dewa (Gambar I Made), 
  • Dasar Kepemangkuan (I Nyoman saruya Atmanadhi), 
  • Tri Sandya Bersembahyang dan Berdoa (Titib), 
  • Nganteb Piodalan Alit (Ida Pandita Empu Nabe Daksa Kertha Wisesa), 
  • Diktat Pelajaran bahasa Kawi (PGA Hindu Negeri Denpasar), 
  • Agem-Ageman Kepemangkuan (Jero Gede Pasek Ringganatha), 
  • Pengantar Menuju Pedoman Sembahyang Umat Hindu (K.M.Suhardana), 
  • Catur Yadnya (Upada Sastra), 
  • Tuntunan pengastawa (Ketut pasek Suastika), 
  • Puja Walaka-Pinandhita (I.B.Bangli), 
  • Weda Parikrama (G.Pudja), 
  • Puja Tri sandya dan Kramaning Sembah (I Made Bidja), 
  • Himpunan Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-Aspek Agama Hindu I-IX (Parisada Hindu Dharma Pusat), 
  • Panca sembah (Kejayaan), 
  • Gagelaran Pemangku (PHDI Kabupaten Karangasem), 
  • Fungsi Genta Bagi Para Sulinggih/ Pemangku di Bali (Toko Buku Ria), 
  • Doa metirta, Mesekar dan Mebija (Pustaka Manikgeni), 
  • Puja Stawa Penujang Pegangan Para Pemangku dan balian (Wayan Budha Gauitama), 
  • Nitya Karma Puja (IGK Adia Wiratmadja), 
  • Persembahyangan bagi Warga Hindu (Jro Nyoman Kanca), 
  • Upacara Panca Yadnya (Sri Empu Nabe Pramadaksa Gria Agung Bungkasa), 
  • Rancangan Keputuisan pesamuhan Agung, Parisada Hindu Dharma Indonesia Tentang Tri sandya (PHDI), 
  • Puja Trisandhya (I Gede Sura), 
  • Pedoman kramananing Sembah (Foto Copy dari I Nyoman Nasa), 
  • Tri sandya (Kepala kantor agama Propinsi Bali), 
  • Pedoman Sembahyang (Pemerintah propinsi Bali), 
  • Rg Weda Mandala IX (Wayan sadia dan Pudja), 
  • Dharma Sastra, Widhi Sastra, AUM Kitab Suci Kesuma Dewa (Sri Reshi Anandhakusuma), 
  • Sipta Gama (Ida Pedanda Gede Pemaron), 
  • Kidung panca Yadnya (Wayan Budha Gautama), 
  • Tuntunan Muspa Bagi Umat Hindu (I Gusti Ketut Jaker).

Buku-buku tersebut penulis kumpulkan, dan diambil hal-hal yang mudah untuk diaplikasikan, dalam kehidupan hari-hari dalam keluarga maupun masyarakat, sebagai bahan awal untuk memahami Mantra. Untuk latihan membaca Mantra, sebaiknya dilakukan setelah sembahyang barang satu jam atau dua jam. Selanjutnya apabila sudah merasa, tertarik barulah dilanjutkan dengan melakukan Mawinten untuk diri sendiri, agar dapat merafalkan mantram sesuai dengan iramanya. Apabila semakin hari-semakin tertarik baru dilanjutkan untuk mawinten dikalangan keluarga, kalau memang disepakati bahkan dibutuhkan oleh keluarga, demikian seterusnya sampai menjadi Sulinggih.

Pada hakekatnya belajar merupakan proses dinamik yang seyogyanya dilakukan seumur hidup. Namun demikian, sering kali dibedakan hanya dalam konteks usia perkembangan yaitu antara anak-anak dan orang dewasa. Dengan demikian dikenal dengan dua perbedaan belajar yaitu pendekatan paedagogy untuk anak-anak dan Anddragogy bagi orang dewasa, yang dapat dilihat dalam tabel berikut:
Anak-Anak - Dewasa 
  1. Ketergantungan - Kemandirian
  2. Fasilitas - Aktifitas 
  3. Subyektifitas -Obyektifitas
  4. Ketidaktahuan - Kejernihan berpikir 
  5. Kemampuan terbatas - Banyak kemampuan
  6. Sedikit tanggungjawab - Banyak tanggungjawab
  7. Minat terbatas - Minat luas
  8. Mementingkan diri - Altruisme
  9. Penolakan diri - Berdamai diri
  10. Identitas diri tidak jelas - Integrasi diri
  11. Kepedulian sepintas - Kepedulian mendalam
  12. Fokus pada hal khusus - Fokus pada hal prinsipil
  13. Imitasi - Original
  14. Butuh kepastian - Toleran kepada jelasan
  15. Imfulsifness - Rasional
Berangkat dari perbedaan tersebut, pada hakekatnya andragogy, asumsi dasar dalam belajar antara lain sebagai berikut:
  1. orang dewasa dihargai kemandiriannya, sehingga dapat memutuskan bagi dirinya sendiri (otonomi)
  2. orang dewasa memiliki banyak pengalaman, sehingga dapat menggali insight bagi dirinya; dapat berurun sartan lagi pembelajaran orang lain, tetapi juga dapat menghalanginya menerima hal-hal baru.
  3. orang dewasa mempunyai kesediaan belajar hal-hal relevan baginya bagi kurun waktu tertentu. Rentang kedewasaan cukup lebar, sehingga ajakan relevansi berbeda. Setidanya dapat dibedakan dalam: dewasa muda (18-30) tahun, dewasa (30 – 55) tahun danlanjut usia (> 55) tahun
orang dewasa mempunyai perspektif waktu “kekinian” yang cukup kuat:
  • apa yang dipejarinya dibutuhkan untuk menanganni persoalan kesehariannya.
  • Cendrung berorientasi pada penangan persolanan.
  • Belajar adalah proses peningkatan kemampuan menanganni persoalan kehidupan. (Sutjipta dan Kendran, 2006:2-6).
Menurut Bloon dan Kratwohl apa yang mungkin dikuasai (dipelajari) oleh siswa (orang dewasa), yang tercakup dalam tiga kawasan:

Kognitif terdiri dari enam tingkatan:
  • Pengetahuan (mengingat menhafal);
  • Pemahaman (menginteprestasikan);
  • Aplikasi (menggunakan konsep untuk memecah-kan suatu masalah);
  • Analsis (penjabaran suatu konsep);
  • Sintesis (menggabungkan bagian-bagian konsep menjadi konsep untuh);
  • Evaluasi (membandingkan nilai-nilai, ide, metode dan sebagainya);
Psikimotor, yang terdiri dari lima tingkatan:
  • Peniruan (menirukan gerak);
  • Penggunaan (penggunaan kosep untul melakukan gerak);
  • Ketepatan (melakukan gerak dengan benar);
  • Perangkaian (melakukan gerakan sekaligus dengan benar);
  • Naturalisasi (melakukan gerak secara wajar);
Afektif, yang terdiri dari lima tingkatan:
  • Pengenalan (ingin menerima, sadar akan adanya sesuatu);
  • Merespon (aktif berpartisipasi)
  • Penghargaan (menerima nilai-nilai, setia kepada nilai-nilai tertentu);
  • Pengorganisasian (menghubung-hubungkan nilai-nilai yang dipercayai);
  • Pengalaman (menjadikan nilkai-nilai sebagai bagian dari pola hidup).
Taksonomi Bloon ini, seperti yang telah kita ketahui berhasil memberi inspirasi kepada banyak pakar lain untuk mengembangkan teori-teori belajar dan pembelajaran. Pada tingkatan yang lebih praktis, taksonomi ini telah banyak membantu praktisi pendidikan untuk memformulasikan tujuan-tujuan belajar dengan bahasa yang mudah dipahami, operasonal, serta dapat diukur. (Prasetsetya, T.t. poto copy: 12-13).
dikutip dari buku belajar memantra

Sabtu, 16 Maret 2013

Mantra Pelet Paling Ampuh

Mencari Mantra Pelet Paling Ampuh tentunya beragam mantra menyebutkannya paling ampuh. Bicara mengenai mantra pelet paling ampuh tentunya sepintas dalam benak pikiran ampuh tidak mantra pelet tersebut? Maka dari itu kami lampirkan Mantra Pelet Paling Ampuh sebagai solusi cinta asmara guna membantu menangani berbagai ragam persoalan cinta. Maaf mantra tersebut berhurufkan jawa untuk menjaga keoriginalan Mantra Pelet Paling Ampuh.

Bingung Dengan Masalah Percintaan? Mencari Informasi Yang Tepat dan Terpercaya Dalam Membantu Problem Cinta Asmara! Mencari Solusi Menyelesaikan Masalah Rumah Tangga! Mencari Obat Patah Hati Kecewa Karena Cinta! Mencari Dimana Pusat Layanan Jasa dan Produk Pelet Pengasihan, Mungkin Ini Yang Sedang Anda Cari:

kunci pelet          dewa pelet          ♥ dewi pelet        ♥ raja pelet
ratu pelet            ♥ dukun pelet        ♥ ilmu pelet         ♥ doa pelet
mantra pelet       ♥ mantera pelet     ♥ ajian pelet        ♥ jimat pelet
ahli pelet            ♥ susuk pelet         ♥ indo pelet         ♥ pakar pelet   
pelet ampuh       ♥ ritual pelet          ♥ pelet gratis       pelet pengasihan

Sabtu, 08 September 2012

cara mengatasi Ilmu pelet pengasih atau ilmu guna guna

Cara mengatasi Ilmu pelet pengasih atau ilmu guna guna

Kali ini kami kembali lagi dengan tajuk yang agak lebih menarik untuk dibincangkan. setelah kemarin kami mencoba memaparkan tentang Ilmu pelet pengasih atau ilmu guna guna dan tentang ilmu kawisesan kiri atau Ilmu Liak (leak), berikut ini kami akan mencoba mengumpulkan cara beserta beberapa ilmu yang sempat kami baca, terapkan dan beberapa info yang biasanya digunakan untuk menghilangkan pengaruh Ilmu pelet pengasih atau ilmu guna guna tersebut.

kami ingat kan kembali, bahwa Ilmu pelet pengasih atau ilmu guna guna itu tidak akan sehebat isu yang dihembuskan bilamana yang menggunakan tersebut orangnya belum memahami tehnik kawisesan. seperti halnya mobil canggih yang lengkap dengan semua fasilitas pendukungnya. apabila dikendarai atau dipakai oleh orang awam apalagi belum pernah mengendarai mobil maka ilmu / alat tersebut tidak akan jalan, andai jalan palingan cuma sekedar jalan dan efeknya tidak seberapa. tetapi bila digunakan oleh orang yeng berkompeten dibidang kawisesan, alat tersebut akan sangat manjur.. jadi tidak usah terlalu risau.


berbahaya atau tidak, itu semua tergantung pemakainya..
analoginya sebilah pisau, bila digunakan oleh tukang masak maka akan berguna untuk orang lain, tapi bila digunakan oleh penjahat maka pisau tersebut bisa digunakan untuk menyakiti hingga membunuh orang lain.

menurut pemahaman kami, menimbang dari berbagai masukan tetua yg sempat ditemui saat mulai mengenal dunia keilmuan, Ilmu pelet pengasih atau ilmu guna guna itu boleh dipergunakan oleh:
  1. orang cacad fisik
  2. orang yang dihina atau direndahkan serta dicemooh
  3. orang yang susah mencari pasangan hidup tapi umurnya sudah mendekati masa pasif: umur 35 tahun bagi wanita (atau mendekati masa monopose) dan umur 40 tahun bagi lelaki.
jadi intinya Ilmu pelet pengasih atau ilmu guna guna boleh digunakan oleh orang yang jauh dari harapan dan andai kata terpaksa menggunakan ilmu tersebut tentunya tidak boleh sampai menyakiti.

baiklah, berikut ini cara untuk membebaskan dan memunahkan efek dari Ilmu pelet pengasih atau ilmu guna guna tersebut, baik dengan sarana benda maupun dengan menggunakan ilmu kawisesan.

tehnik menggunakan ilmu kawisesan - MANTRA

terlebih dahulu gunakanlah 2 mantra berikut ini:

Iki Pengater Mantra

Mantranya : Ong ang ung, teka ater 3x, ang ah, teka mandi 3x, ang.

Iki Pangurip Mantra (saluwiring mantra wenang)

Mantranya: Ong betare indra turun saking suargan, angater puja mantranku, mantranku sakti, sing pasanganku teka pangan, rumasuk ring jadma menusa, jeneng betara pasupati. Ong ater pujanku, kedep sidi mandi mantranku, pome.
Ang urip ung urip mang urip, teka urip 3x urip, bayu urip sabda urip idep urip, teka urip 3x, jeneng.

setelah menggunakan mantra tersebut, silahkan pilih tehnik kawisesan berikut ini:

Iki Pamancut salwiring guna (kaliput baan guna)

Sarananya: Toya ring batok areng, atau Yeh pasereyan tunun, mandikan orang yang terkena
Mantranya : idep aku meme bapa pertiwi akasa, saguna japa mantra lekas, sama kamisayan, satru musuhku wus, kabancut 3x.

Panglebur lara

Iki panglebur lara roga, mwang kenēng upa drawa, mwang dening durjana, mwang ipyan ala, kalebur dēnya
Sarananya : air putih
Mantranya : sang, bang, tang, ang, ing, tirta paritra, ang ung mang enyana, Om mrtha.

lebih lanjut, silahkan baca di KUMPULAN MANTRA BALI, walau hanya beberapa tapi cukup ampuh guna mengatasi masalah black megic secara umum.dan perlu diketahui, untuk menggunakan hal - hal tersebut, harus mengetahui juga ilmu KANDA PAT, tentang keberadaan hurup suci di semesta ini melalui DASA AKSARA yang merupakan dasar pangider jagat dewata nawa sanga serta pengetahuan tentang BALIAN usadha.

atau... yang lebih simple, mudah dan tidak terlalu ribet, yaitu dengan menggunakan jimat'ku..
kalung Ghanta Cakra
Kalung Ghanta Cakra ; yang memiliki khasiat yang sudah terbukti, banyak yang sudah menggunakannya. salah satu khasiatnya adalah meredam energi negatif (black megic) dan juga sebagai proteksi diri. lebih lanjut silahkan baca Produk Pasupati atau klik DISINI

bila dengan mantra keilmuan diatas belum juga berefek, silahkan hubungi kami KLINIK JALA SIDDHI yang selalu siap membantu anda semua dengan sukarela. dan bila ada keinginan untuk menjadi penyembuh atau belajar ilmu kawisesan, silahkan baca Balian Usada, usadha Bali - Dokter tradisional di bali

Rabu, 30 Oktober 2013

mantra mengirim mimpi basah

Mantra Mengirim Mimpi Basah atau biasa juga di kenal dengan ilmu pelet kirim mimpi basah yang terdapat dalam blog PRIMBON-ARTI.BLOGSPOT.COM ini merupakan salah satu keilmuan yang paling banyak di cari karena dapat mengirimkan suatu mimpi kepada seseorang yang dituju dengan cara yang sangat mudah.


mantra mengirim mimpi

Di halaman 30 ilmu pelet mahabah pengasihan kirim mimpi basah anda bisa mendapatkan mantra mengirim mimpi ini dan berikut mantra-mantra keilmuan pelet yang lainnya. seluruhnya merupakan keilmuan yang sangat ampuh.

Selain karena keunikan fungsinya, keilmuan ini juga menggunakan mantra mengirim mimpi yang sangat pendek jadi mudah di hafalkan dan tanpa menggunakan ritual apapun yang memberatkan seperti puasa ataupun wirid dalam jumlah yang banyak.

Jadi tunggu apa lagi bila anda berminat terhadap keilmuan ampuh nan unik ini silahkan kunjungi halamannya dan baca lebih lengkap serta ikuti petunjuk praktisnya guna mendapatkan seluruh keilmuan pelet ampuh yang berjumlah 30 jenis keilmuan lengkap dengan mantra mengirim mimpi basah tadi.

Senin, 06 Agustus 2012

Siddhi - AM I A HINDU

berikut adalah lanjutan resume dari buku 

AM I A HINDU ( Apakah Saya Hindu ? ) 

dimana dibawah ini dijelaskan tentang "Siddhi" buku ini di tulis oleh Ed. Viswanathan (Diterjemahkan oleh NP Putra) 

 

APAKAH SIDDHI? 

Kemampuan seperti 'clairaudience' (mendengar suara yang tak dapat didengar oleh telinga manusia normal), 'clairvoyance' (kemampuan untuk melihat obyek yang atidak ada didepan indrya mata), dan 'telepathy' (kemampuan untuk mengirim dan menerima pikiran) adalah beberapa Siddhi (occult power) yang dikenal oleh manusia. 


Begitu pula kemampuan untuk mengadakan dan menghilangkan sesuatu sesuai dengan keinginan disebut juga Siddhi. Menurut agama Hindu, Siddhi merupakan suatu halangan bagi pencapaian Tuhan karena ia mengembangkan ego yang tidak dikehendaki dalam diri seorang pemuja. Jadi agama Hindu memandang rendah Siddhi. Tapi beberapa orang lahir dengan Siddhi. Bagi mereka kekuatan Siddhi keluar begitu saja seperti bau harum mengalir dari bunga mawar. 

Mereka biasanya tidak menganggap hal ini penting. Mereka tidak berusaha untuk mempengaruhi masyarakat dengan Siddhinya ini. Dikatakan bahwa kekuatan 'psychic' dari tingkatan yang lebih rendah dapat dikembangkan dengan menggunakan sejenis ramuan obat (drug) tertentu. Tapi metoda yang menggunakan bahan kimia untuk mengembangkan Siddhi adalah cara yang sangat berbahaya dengan akibat-akibat yang sangat mengerikan. 

 

BAGAIMANA TEPATNYA KEKUATAN SIDDHI DIKEMBANGKAN DALAM DIRI SESEORANG? 

Menurut agama Hindu, Siddhi dikembangkan dalam diri manusia dengan mengangkat kekuatan Kundalini atau kekuatan ular melalui saraf tulang belakang. Kekuatan Kundalini ini berada pada 'Muladhara' di balik organ seksual pada dasar dari saraf tulang belakang manusia. 

Diyakini bahwa ketika seorang manusia berkembang secara spiritualitas, kekuatan ini bangkit secara perlahan dan bergerak melewati enam pusat (Chakra) di saraf tulang belakang (spinal cord) dan akhirnya menjadi satu pada titik paling atas dalam otak yang disebut 'Sahasrara'. Pada titik itu orang tersebut mengembangkan Siddhi. Jadi diyakini bahwa merangsang kekuatan itu secara artifisial dari titik istirahatnya dengan bahan kimia dapat menimbulkan kerusakan yang hebat pada badan, karena badan yang normal tidak didesain untuk bertemu dengan kekuatan yang demikian hebat. 

 

APAKAH MANTRA MEMBANTU MENGEMBANGKAN SIDDHI? 

Beberapa Mantra seperti Pranawa atau Gayatri dapat mengembangkan kesadaran dan tidak ada batas bagi pengembangan kesadaran itu. Mantra-mantra ini adalah Mantra dari tingkatan yang tertinggi dan mereka mengembangkan Siddhi secara perlahan dan alamiah, karena itu hal ini diterima dengan baik. Ada beberapa Mantra tertentu seperti Mantra Wasikarni yang dapat dipergunakan untuk tujuan khusus, yaitu untuk mempengaruhi atau menarik seseorang. 

 

AYAH, APAKAH MENURUTMU SIDDHI ITU SANGAT BERBAHAYA? 

Hampir semua orang yang tahu sedikit-sedikit mengenai spiritualitas juga berbicara mengenai Siddhi (occultisme), khususnya mengenai occultisme Hindu, dalam khotbah mereka sehari-hari. Tapi tidak seorangpun yang mengatakan kepada pendengarnya apa sesungguhnya occultisme itu - mana bagian yang berbahaya, mana bagian yang baik. 

Agama Hindu mengatakan bahwa kekuatan Siddhi tidak perlu dicari. Bila ia datang kepadamu, itu akan datang secara alamiah sebagai hasil samping (by-product) dari usaha pencarian Tuhan. Satu hal lain ingin kukatakan. Jangan berupaya melakukan semua jenis latihan Hatha Yoga. Struktur tubuh orang Barat tidak sesuai untuk semua latihan itu. Kamu harus melakukannya dibawah bimbingan dan pengawasan seorang guru Yoga yang ahli. 

Bila seseorang ingin melakukan pranayama, pengajaran atau latihan yang terbaik diberikan oleh "the Self-Realization Fellowship" di Los Angeles, California. Metoda mereka disebut Kriya Yoga dan ini adalah Pranayama 'psychic' (bathin; jiwa). 

Alamat mereka ada dalam buku "Autobiography of a Yogi" oleh Paramahamsa Yogananda yang dijual di setiap toko buku. (Telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Anand Krishna dengan judul "Otobiographi Seorang Yogi", pen). 

Dikatakan bahwa ketika Aleksander Agung menaklukan bagian utara India, dia terkagum-kagum menyaksikan kedalaman spiritualitas Hindu dan juga oleh occultisme Hindu. Asal mula dari Siddhi Hindu ini dapat ditelusuri kebelakang kepada kebudayaan Dravidia di India, jauh sebelum kedatangan orang Arya, paling sedikit lima ribu tahun sebelum masehi. 

Para teolog Hindu menganggap magi hitam (black magic), jampi-jampi untuk mencelakakan orang, dan praktek-praktek berbahaya dari Yoga sebagai occultisme. Latihan pernafasan biasa seperti metoda Hamsa atau Kriya Yoga seperti yang diajarkan oleh "Self-Realization Fellowship" bukan occultisme. Tentu saja semua teolog Hindu mengingatkan para muridnya agar tidak mempraktekkan latihan-latihan tertentu dalam buku-buku Yoga tanpa bimbingan seorang yang ahli mengenai hal itu. 

Gheranda-Samhita dan Hatha-Yoga-Pradipika kemungkinan akan mengundang penyakit dengan melakukan latihan-latihan yang keras tanpa bimbingan seorang ahli. Sirshasana, seni berdiri di atas kepala, hanya bagus bila itu dilakukan secara benar. Bila ini dilakukan secara tidak tepat, seseorang bisa mendapat masalah seperti halusinasi yang sangat menekan. 

 

APAKAH OCCULTISME ADA DIMANA-MANA DI DUNIA? 

 Ia ada dimanapun di dunia ini, termasuk dalam agama Hindu. Kepada mereka yang menyerang agama Hindu sebagai pembawa obor dari occultisme, aku hanya mempunyai satu jawaban. Mohon jangan gunakan lagi uang dollar Amerika Serikat karena uang itu membawa simbol occultisme. 

Simbol atau emblem itu terdiri dari piramid Mesir, Mata Ketiga dari Dewa Siwa (mata yang-melihat-semuanya dari gereja-gereja Kristen Inggris) dan pernyataan "Annuit Coeptis" (artinya "dia menyejahterakan usaha kita") dan "Novus Ordo Seclorum" (artinya "orde baru dari abad-abad" - abad Aquarian, menurut astrologi terjadi setelah abad Emas, Perak, Perunggu dan Baja). 

Konon dibalik dari stempel besar Amerika Serikat, dilukis emblem Masonic yang disebutkan di atas karena lebih dari lima puluh orang penanda-tangan dari Deklarasi Kemerdekaan AS adalah penganut Mason atau Rosicrusian *) dan mereka sangat gemar dengan ilmu-ilmu esoterik seperti astrologi dan Kabbalah. Nama Pentagon untuk markas besar militer AS mempunyai awal occult. Percaya atau tidak, sinar laser yang paling kuat di atas bumi ini disebut "Siva," menyimbolkan cahaya dari mata ketiga Siwa yang amat kuat, dan kata "trident" berasal dari senjata Siwa (Trisula, pen). 

Aku rasa nama-nama mitologi Hindu dibawa ke lembaga pertahanan dan luar angkasa Amerika Serikat oleh para ilmuwan Jerman yang datang ke Amerika Serikat setelah Perang Dunia Kedua. Tampaknya mereka sangat paham tentang Indology. Jadi kita dapat melihat simbol-simbol dari occultisme ada dimana di dunia ini. Kamu dapat melihat aspek metaphisik dari occultisme dalam Rig Weda dan aplikasi praktisnya dalam semua aspek Yoga. Satu kitab suci yang dapat disebut otoritas mengenai occultisme Hindu adalah Atharwa Weda, yang terdiri dari segala mantra-mantra dan juga jampi-jampi magik. Bahkan satu bagian dari Ayurweda (pengobatan Hindu), disebut Bhuta-Widaya, berkaitan dengan penyakit yang disebabkan oleh roh. Sekali lagi, agama Hindu tidak mendukung penggunaan occultisme untuk motive-motive pribadi dan menasehati setiap orang untuk tidak terlibat dalam occultisme.

Selasa, 01 Oktober 2013

MANTRA ARYO BANGAH

WIYAK BUMI WIYAK LANGIT, JAGAD SUWUNG TAN ONO BEBOYO, INGSUN SAJATINING  MANUNGSO ANUKARSO BISSEKULEM, TISSEKULEM TAN ONO BEBAYANE, TIKUR-TIKUR, TEKANE TUNDHUK, MULIHE NDHUNGKUL”.
Cara Mengamalkannva :
Puasa mutih 3 hari 3 malam dan patigeni sehari semalam, mulai puasa pada hari Rabo Pon. Mantra dibaca ketika ada bahaya, atau bila masuk hutan.
Keterangan  :
Disebut mantra Aryo Bangah, karena memang mantra ini adalah mantra Aryo Bangah. Di mana mantra ini sangat ampuh ntuk menundukkan lawan, sehingga lawan bisa menjadi tunduk patuh tidak berani melawan. Di samping itu, bila mantra ini dibaca ketika akan  masuk hutan, maka seluruh binatang buas yang ada di hutan itu menjadi takut, sehingga tidak berani mengganggu.

Rabu, 24 Juli 2013

Ajian Semar Mesem, Jurus Pamungkas Jinakkan Pasangan


[Primbon-arti.blogspot.com] - Anda lelaki sejati yang ingin dicintai oleh wanita cantik idaman Anda. Jangan bingung dan linglung, maka dengan mantra semar mesem ini semuanya akan terwujud dalam waktu yang singkat. Pokoknya manjur bin mantab. Silahkan digunakan dengan cara yang bijaksana.

INI MANTRA AJI SEMAR MESEM :

Srikandi abang iya lakinira arjuna adegku togok lungguhku semar siro welas asih andulu badan sliraku si....(nama wanita yg dituju).

Caranya :
dibaca 3x tahan nafas dibayangkan wajahnya Ditiupkan tangan diusapkan wajah.Saratnya:puasa 1 hari.Dihari kelahiran kita sendiri.Untk menjadikan wanita cinta berat pd kita.

* Mantra aji Semar mesem ini termasuk aji pengasihan yang sangat langka, di mana bila wanita terkena mantra aji ini akan sulit disembuhkan . Perlu di ingat mantra aji ini jangan di buat sembarangan , melainkan untuk kebaikan atau benar – benar wanita tersebut niat akan di nikahi .

BACAAN MANTRA AJI SEMAR MESEM ADALAH sbb :
” Ingsun amatak ajiku si semar mesem , mutmutaku inten , cahyane manjing ono pilinganku kiwo tengen , sing nyawang kegiwang , opo maneh yen sing nyawang kang tumancep kumanthil inh telenging sanubariku , yo iku si jabang bayi . . . . .( sebut nama wanita yang dimaksud ) , wis temtu welas asih marang badhan sliraku , saking kersaning allah ” .



CARA MENGAMALKANNYA :
Puasa mutih 7 hari 7 malam dan patigeni sehari semalam, mulai puasa pada hari selasa kliwon, mantra aji dibaca ketika akan tidur, seraya membayangkan wajah wanita yang di maksud.

Jangan sekali-sekali menggunakanya untuk kejahatan, Jika anda memang ingin cepat mendapatkan jodoh, berusahalah dan selalu memohon kepada Allah, dan menghindari perbuatan Syirik, maka Insya Allah kamu akan mendapatkan apa yang kamu inginkan.

Senin, 27 Mei 2013

mantra ilmu pengasihan

mantra ilmu pengasihan, sangat beragam sekali keilmuan yang berkaitan dengan masalah percintaan dan tidak bisa di pungkiri masih banyak juga masyarakat khususnya di Indonesia yang masih suka dengan dunia mistis. Untuk itu saya akan bahas sedikit tentang beberapa keilmuan pengasihan.

mantra ilmu pengasihan

Untuk mendapatkan mantra ilmu pengasihan yang memiliki efek dahsyat tentu tidak sembarangan. meskipun banyak bertebaran di Internet yang membahas tentang keilmuan namun anda harus berhati hati jangan sampai susah payah menjalankan laku ritualnya namun ternyata tidak ada hasilnya sama sekali. bisa jadi di sebabkan beberapa faktor termasuk salah menulis mantra, salah menerangkan tata cara dan tanpa pengijazahan. silahkan lihat artikel 30 ILMU PELET, MAHABAH, PENGASIHAN, KIRIM MIMPI BASAH di sana akan di jelaskan berbagai mantra dari keilmuan pengasihan.

Keilmuan yang ada disana beberapa merupakan keilmuan yang langka dan kuno, akan di bahas juga semua jenis mantra ilmu pengasihan yang ada di sana dan berjumlah 30 jenis keilmuan. silahkan ANDA KLIK DI SINI untuk info lebih lanjut.

mantra dan ilmu pelet

mantra dan ilmu pelet, ilmu pelet memang berkaitan erat dengan mantra atau bacaan atau sebutan lainnya lagi rapalan/jampi. karena setiap keilmuan tersebut menggunakan mantra yang notabene menggunakan bahasa daerah, hal ini tentu saja karena keilmuan pelet merupakan warisan tradisi dan budaya jaman dulu yang kental dengan adat dan budaya daerah.

mantra dan ilmu pelet

Banyak sekali mantra dan ilmu pelet yang ada dan bertebaran di internet namun anda perlu berhati hati. karena tidak semuanya itu merupakan ilmu pelet yang sebenarnya, jangan sampai anda sudah capek menjalankan ritual seperti puasa dan wirid namun tetap tidak memberikan hasil. anda bisa simak artikel mengenai 30 ILMU PELET, MAHABAH, PENGASIHAN, KIRIM MIMPI BASAH. di situ akan kami bahas keilmuan yang sudah sangat tersohor kekuatan dan faedahnya.

Seperti yang anda lihat di testimoni komentarnya, sudah banyak sekali yang menggunakan keilmuan keilmuan tersebut, mantra dan ilmu pelet dalam paket pdf tersebut sangat lengkap di sertai tata cara pengamalannya. bila anda berminat silahkan KLIK DI SINI

Selasa, 25 September 2012

Dewata Pawamana Soma penjelasan etika 3

Dewata Pawamana Soma


Penenang Jiwa yang Menderita

Agnestanurasi waco wisarja namdewawittaye twa grhnami wrhadgrawa’si wanasratyah sa idam dewebhyohawih samiwa susami samiswa; Hawiskrdehi hawiskrdehi.

Oh Yajna, engkau adalah badannya api; Engkau diselenggarakan dengan menguncarkan Weda Mantra, (dan) saya menyelenggarakannya untuk mendapatkan sifat-sifat mulia. Engkau adalah awan yang maha besar pemelihara atas tumbuh-tumbuhan obat. Sucikanlah sesaji kami, penenang jiwa menderita, untuk memberi kebahagiaan kepada yang pandai dan mensucikannya. Mereka yang membaca dan mengajarkan Weda, menjadi mengetahui ceritera-ceritera dalam weda, memberi inspirasi kepada kami untuk melakukan yadnya.

Ilmuwan Mengajarkan Ilmu untuk Kebaikan Manusia.

Kukuto’si madujihwa isamurjamawada twaya wayaduamsamghataduam saghatam jesma warsa wrddhamasi prati twa warsawrddham wettuparaputtraduam aratayo pahatadduamrakso wayurwo wiwinaktu dewo wah sawita hiranyapanih pratigrbhnatwacchiddrena panina.

Yadnya menjauhkan pencuri, menunjang dan memaniskan ucapan, (yajna) adalah berpahala untuk menghasilkan bahan makanan dan pemberi pengetahuan dan kekuatan. Semoga pelaksanaan yang seperti itu ditanamkan. Semoga kami dengan bantuan pahlawan orang-orang pemberani menang perang berulang kali. Yadnya adalah alat untuk menghasilkan hujan, semoga kami mengetahui engkau sebagai pengasil hujan. Kami harus berusaha menghapuskan perampok dan pemakai pikiran-pikiran yang tidak suci, seperti udara dengan gerakan tangannya tertentu yang kuat pulang pergi yang menerima persembahan dan seperti halnya matahari yang cemerlang memancarkan cahayanya mengerahkan atom-atom menjadi api, demikianlah juga Tuhan dan para ilmuwan mengajarkan ilmu untuk kebaikan kemanusiaan.

Persembahan Weda Mantra.

Agne brahma grbhniswa dharunamasyantariksam drduam ha brahmawani twa ksatrawani sajata wanyu padhami bhratwyasya wadhaya; dhartramasi diwam drduam ha brahmawani twa ksatrawani sajata wanyupadhami bharatrwyasya wadhaya; Wiswabhyastwawasbhya upadhamicita sthordhwacito bhrgunamangirasam tapasa tapyadhwam.

O Tuhan, Engkau adalah penyangga alam semesta, terimalah pujian kami dipersembahkan melalui weda mantra dan kembangkanlah pengetahuan rokhani kami yang tidak habis-habisnya. Untuk menghancur-kan musuh-musuh yang ada dalam diri, saya menyadari bahwa engkaulah yang ada dalam hati, penolong orang-orang terpelajar, Pemimpin Politik/Negara dan pembimbing pada jalan kewajiban sebagai macam golongan yang berbeda-beda. Engkau penyangga alam semesta, kami berdoa kepadaMu untuk menambah pengetahuan kami. Untuk menghancurkan musuh-musuh dalam diri, kami menghayati Mu dalam hati sebagai penolong orang-orang yang terjujur pemimpin Negara dan pembimbing atas kewajiban bagi golongan yang berbeda. Kami memuja Engkau didalam hati, Yang Maha meliputi, Pemberi kebahagiaan dari segala yang ada. O Engkau manusia, tuntunlah kejalan kehidupan tapa dengan mengendalikan nafsumu dan menuruti orang-orang yang bijak, ilmuwan dan yang terpelajar.

Arti penting Penguncaran Mantra.

Sarmasyawadhutaduam rakso, wadhuta aratayo ‘ditwastwagasi twa ‘ditirwettu; Dhisana ‘si parwati prati twa, ditastwag wettu diwaskambhanirasi dhisana,si parwateyi prati twa parwati wettu.

Yadnya adalah pemberi kebahagiaan, menjauhkan yang egois dan sifat-sifat kikir dan melindungi daerah tempat seperti kulit melindungi tubuh. Semoga yang melakukan yadnya menyadari arti pentingnya. Penguncaran Weda Mantra yang benar-benar merupakan yadnya sendiri. Yadnya yang dilakukan pada hari tertentu juga memberi perlindungan seperti kulit melindungi tubuh. Yadnya adalah pengangga matahari yang cemerlang, perwujudan dari ceritera Weda. Semoga kami menyadari yadnya sebagai pembawa hujan dan pemberi pengetahuan spiritual.

Makanan disucikan dengan Yadnya

Dhanyamasi deam pranaya two danaya twa wyanaya twa, Dirgghamanu prasitimayuse dham dewo wah sawita hiranyapanih pratigr bhnattwacchidrena panina caksuse twa mahinam payo’si.

Bahan makanan dan air disucikan dengan melaksanakan yadnya memperkuat tubuh dan indra perasa. Semoga kami bertirah pada yadnya untuk kesehatan yang baik, untuk aktivitas, untuk vitalitas, untuk umur panjang penuh kebahagiaan dan kesejahteraan. Pencipta yang Agung dan pembebas alam semesta, melalui Kemahaadaannya, rahmatilah kami dengan pengetahuan yang luhur.

Yadnya Menseimbangkan dunia

Dewasya twa sawituh prasawe,swinor bahubhyam pusno hastabhyam; Sam wapami samapa osadhibhih samosadhayo rasena Saduam rewatirjagatibhih prcyantaduam sam madhumafirmadhu matibhih prcyantam.

O Manusa, seperti halnya dengan Aku, Yang maha Kuasa, menyebarkan pengetahuan yadnya ini didunia yang diciptakan oleh Aku dan melakukannya melalui matahari yang cemerlang, menseimbangkan dunia, menghidupkan air dan bebagai macam nafas pada organisme manusia, demikian juga engkau. Semoga engkau bersiap untuk keuntunganmu, mencampur berbagai macam obat-obatan dengan air dan dengan sari buah dan mencairkan yang sama dengan air suci.

Keturunan yang melakukan Yadnya (bertambah) baik.

Ma bherma samwiktha atamerur yajno ‘timeruryajamanasya prajabhuyat tritaya twa dwitya twaikataya twa.

Jangan takut dan jangan ragu untuk melaksanakan yadnya. Semoga keturunan orang yang melakukan yadnya itu baik, setia dan bebas dari kelemahan. Kami terirah sepenuh hati pada yadnya untuk mengenal Tuhan yang maha Esa, untuk pensucian air dan udara dan untuk memperoleh rakhmat itu dari ibu, bapa dan guru.

Tuhan Pencipta Tata Surya

Prtwi dewayajanyosadhayaste mulam ma hiduam sisam brajam gaccha gosthanam warsatu te dyaurbadhana dewa sawitah paramasyam prthiwyaduam satena pasairyo’smandwesti yam ca wayam dwismastamato ma mauk.

O Tuhan, Pencipta tata surya dan wilayah yang cemerlang, kami memohon kepadaMu melalui rakhmatMu, semoga kami tidak menghancurkan tanam-tanamnan obat-obatan dibumi, dengan nama para ilmuwan melakukan yadnya itu. Semoga matahari mencurahkan hujan di bumi melalui sinarnya. O para pahlawan terikat oleh berbagai macam ikatan dari orang-orang yang jahat didunia ini yang bertentangan kepada kami dan yang ditentang oleh kami dan jangan lepaskan.

Menyebarkan sistem pendidikan dalam Weda

Apararum prthiwiwyai dewayajana dwadhyasam wrajam gaccha gosthanam warsatu te dyaurbadhana dewa sawitah paramasyam prthiwyaduam satena pasairyo smandwesti yam ca wayam dwismastedyam maskan wrajam gaccha gosthanam warastu te dyaurbadhana dewa sawitah paramsyam-prthiwyaduam setena parisaryo smandwesti yam ca wayam dwismastamato ma mauk

O Tuhan yang Maha esa mengetahui, pemberi kebahagiaan semoga kami menundukkan orang-orang jahat di bumi ini dimana para Rsi melakukan yadnya. Semoga kami bergaul dengan orang-orang terpelajar dan dengan demikian menyebar luaskan sistem pendidikan dengan bebas sebagaimana dijelaskan dalam mantra Weda seperti halnya Sinar pengetahuan saya dihargai oleh semua, demikian pula hendaknya milikku. Orang orang berdosa bergerak didalam kegelapan yang bertentangan dengan orang-orang terpelajar, dan yang tidak disetujui oleh orang-orang pandai karena bertentangan mereka kepada pengetahuan, yang harus dibawa diantara jalan kebajikan melalui beratus-ratus jalan yang ada hendaknya batasan-batasan pada mereka tidak dihilangkan sampai mereka mencapai penerangan. Semoga orang-orang yang jahat tidak dirahmati dengan kesejahteraan dan kesenangan pada ilmu. O Engkau yang patuh pada kewajiban semoga engkau mengikuti jalan kebajikan. Ibarat sinar matahari menerangi daerah tengah/antariksa, demikianlah Tuhan memenuhi keinginan kami. Matahari menguasai bumi dengan kekuatan gravitasinya pada tempat yang tepat. Yang kejam yang bertentangan pada keadilan dan bertentangan kepada cinta damai, supaya sekali-kali dibiarkan berkeliaran sampai mereka tertawa pada kesadaran mereka.

Yadnya dengan Mantra Weda dalam Gayatri.

Gayatrena twa chandasa parigrhnami traistubhena twachandasa parigrhnami jagatena twa chandasa parigrhnami; Suma casi siwa casi syona casi susuda casyurjaswati casi payaswati ca.

Saya melaksanakan yadnya dengan penguncaran mantra Weda dalam Gayatri, Tristiubh dan Chanda jagati.1 O Bumi engkau adalah indah, sumber kesejahteraan dan kebahagiaan, tempat yang cocok untuk berdiam dengan senang, penuh dengan jagung, susu, air manis dan buah-buahan.

Sabtu, 14 Agustus 2010

Lontar Usada Pamugpug 11b – 23a

Lontar Usada Pamugpug 11b – 23a

Nihàn pamugpug sanghyang dharmmà, mantra, Om nìnì mala tan pangungku sanghyang dharmmà, sing ngadêg rubuh, siing kotal rêmpak, apan àku sanghyang dharmmà, tumurun àku sang mpu pradah, saking swarggan, mayoghà aku ring akasà, arupà aku bhatarà siwà, maglang maslimpêt asawilomàn, mahanting-anting matrinàyanà, macatùr bhùjà, angagêm hulun sañjataning prêwatêk dewata kabeh, bhajrà, duppà, dandà, moksalà, pasà, angkus, cakrà, trisùlà, padmà, dêdêh ikang pritiwi [11b], bubar ikang akasà, ocak ikang sagarà, rubuh ikang gunung, rêm-rêm sanghyang rêdityà, ulan lintang trangganà, geger prêwatêk dewata kabeh, catùr lokàpalà, iswarà, nahisorà, brahmà, ludrà, mahàdewà, sangkarà, wisnu, sambu, siwà, korsikà, garggà, maitri, kurusyà, prathañjlà, indrà, bharunà, kowerà, yammà, bhewarnnà, makàngùni widyadharà widyàdhari, bhaghawan wraspatiràja, sami tumon ring kasaktyan ingulun, hulun agêmpung amugpug amunah, sagunnà pangaruhe nì calonàrang, ya tà nì calonàrang, dùk sirà mayoghà ring setra ghandàmàyu, anggêsêng kang janmà manusà kabeh, asañjata sirà bhùta-bhùti, yaksà-yaksi, pisacà pisaci, desti tuju tluh trañjanà, dete-daityà, dànawwa, gsêng kang [12a] janmà manusà kabeh, mayoghà tang hulun manih, ingùrip kang wong kabeh, mayoghà tang hulun arùpà bhatarà guru, mapunyà tang hulun madanà nortti, mawewehan maslokà, masrutthi majapà mantra tang hulun, waluyà urip kang janmà manusà, gêmpêng-gêmpung dete-daityà, danawwà, bhùta bhùtì, yaksà yaksi, pisacà pisaci, desti tuju tluh trañjanà, maring larà roghà ning janmà kabeh, Om ganggà ya nama swahà, mìdêr tang hulun anunggang lêmbu putih, akalihan lan sri mahàdewì, pinayungàn dening garuddhà, ingiring hulun dening dewata nawasanghà, tkaning sad kahyangan, ring arêpku bhuta saha sañjatà, mayoghà tang hulun, anglu tà malà pathakaning janmà manusà kabeh, atapakan bhùta sakoti-koti, amatenning [12b] nì calonarang, pjah nì calonarang matmahan awu, amyoghà tang hulun malih, angùrip nì calonarang, arùpha hulun sanghyang tunggal, hanà ta wisesà, waluyà urip nì calonarang, mapuspà mandilah, ring pinakeng hulun, ayoghà hulun malih, ONG MANG ONG MRENG, ih ya tà nì calonarang, pamulih kità maring pùrwwà desà, anêmbah kità ring bhatarà iswarà, haywà tan pangastyà ring katutùranirà sanghyang dharmmà, tutùr-tutùr haywà lali, mengêt-mengêt haywà lupà, lukat-lukat malà pathakaning janmà manusà kabeh, suruddhàkna salwiraning gunnà pangaruhmu, kryà upayà desti tuju tluh trañjanà, dete-daityà danawwà, nebo ring kita, wastu tà ngko tan tumamah sagunnà pangaruhmu ring sariran ni ngulun, yan ko sumurup soring sagarà, wastu tà ngko mtu wetan, pugpug wetan [13a] mtu kita kidul, pugpug kità kidul, mtu kita kulon, pugpug kità kulon, mtu kità lor, pugpug kità lor, mtu kità ring têngah, apan àku bhatarà guru, tan kênà ring samudrà, kumlêm aku tan àlês, awali yà tang hulun mannih, andadyà ràja yoghyà, sungaknà ring kami, apan hulun amugpug gunnà pangaruhmu, yan tkà ring dalêm kapatyastà, andadyà kità wakul, lampus sakà gunnà karyyantà, atùraknà ring kami, apan hulun anglukatà, samalaning wong kabeh, amugpug sagunnà pangwruhmu, jêg aku sakti, hyang tan padewata, hyang tan pakahyangan, aku sakti sukà salamà hning, ja. sarana, yeh anyar, mawadah jun pere, samsam dapdap, tibah, tmên, pucuk, sagi-sagi gnêp, jinah, 170, canang mrakà wohwohan [13b], jinah, 66. Nihan pamugpug, sarana, banyu tridatu, samsam kamurugan, kayu tulak, kayu tawà, gdang sabhà, banyu tuli awor kabeh, pinutêr midêr kiwà, sasantun gênêp, bras 6 kulak, ktan iñjin 5 kulak, jinah gung ngartthà 250, bnang satukêl, mantra, Om tuju tluh tkà sakà wetan, pamulih kità mangetan, putih rupantà, tuju tluh tkà sakà kidul, pamulih kità mangidul, abhang rupantà, tuju tluh kità sakà kulon, pamulih kità mangulon, kuning rupantà, tuju tluh kità sakà lor, pamulih kità manglor, irêng rupantà, tuju tluh mtu kità ring têngah, amañca warnna rupantà, pamulih kità maring sabrang mlayu, ring cêmpa kêling jamùrdhipà, tuju ning hyang tuju ning hyang tuju ning manusà, tuju ning pama[14a]li, pamulih tà maring bapà babuntà, tuju ning kumangkang kumingking, tuju ning kumalap kumilip, satus akutus, syah syah, 3, apan àku anaking bhatarà guru mahàsakti, amugpug tuju tluh trañjanà, pugpug puna, 3, sirêp, 3, Om sa ba ta a i na ma si wa yà. Nihan pangulah tuju, mantra, Om tuju tluh trañjanà, saking pùrwwà, pugpug mulih mangetan, tuju tluh trañjanà, saking kidul, pugpug mulih maring daksinnà, tuju tluh saking pascimà, pupug mulih mangulon, tuju tluh saking utarà, pupug mulih manglor, tuju tluh saking madyà, pugpug mulih maring têngah awàn, têngah danu, têngah sagarà, têngah watês, têngah setrà, yen anà tuju tluh saking ranìnì raksasà raksasi, yen anà tuju saking sabràng, anyabràng sakà lwir [14b] ning sabràng, pugpug mulih maring sabràng, anyabràng kabeh, apan àku anak bhatarà guru tunggàl, aku guru putra, putra ning hyang kabeh, Om sa ba ta a i na ma si wa yà. Nihan pamugpug tuju, sarana, jruk linglang, mantra, Om sarwwà dùk tananà akasà lawan pratiwi, dùk tananà rêdityà ulan lintang trangganà, sapàtà haranà samanà, bàyu sabdà idêp, hanà samanà, dùk tananà jagat bhùwanà, samàngundurakên bhùta dngên, desti tuju tluh trañjanà, sakwehing ilà-ilà, ring awak sariranku, tkà pugpug punah, muksah ilang larà kabeh, siddhi mandi mantranku. Pamugpug tuju, sarana, bangle, lawos, triktukà, kuning, suruh tmu rose, apuh bubuk, carmman bohok, carmman pangi, carman bhillà [15a], jruk linglang, pinipis den alêmbat, wenyà cukà tawun, wdaknà, mantra, Om manirà mangundurakên tuju tluh, tuju moro, tuju papasangan, tuju rarajahan, tuju pandestyan, tuju hlih di lampah bilang buku, tuju di pagulingan, sakwehing tuju, apan aku gurunmu, apan aku bisà amugpug, sakwehing tuju, pugpug punah êngko, dadi êngko tahi, katibà êngko kakawah, kaidêp siddhi mandi mantranku.

Nihan pamugpug tuju, sarana, we anyar mawadah payuk kêdas, samsam bijà kuning, skar warnnà, 7, sasantun gênêp, jinah, 1700, mantra, UNG ANG MANG, sanghyang puh siwàmrêtthi, mangadêg hanà ring têngah, wruh kamulaning bhùmi, dùk bhùmine sumdàng, tananà bhùmi lawan langit, karekà bhùmi jawà, mkah, madhùrà, sambawà, [15b] seran, sasak, bàli, wruh sanghyang puh siwàmrêtthi, mamañcut desti tuju tluh trañjanà, papasangan, papêndêman, rarajahan, kabañcut tuju bruwàng, tuju bêngàng, kabañcuting gunnà pandestine, kabañcut tuju smut, tuju gatêl, kabañcut bàn sanghyang puh siwàmrêtthi, gunnà pamanês barane kabañcut, tuju mañca warnnà, kabañcut saking mbàng, mulih kità kaêmbang, mtu kità saking mlayu, mulih ka mlayu, mtu sirà saking jawà, mulih sirà ka jawà, mtu sirà saking mandurà, mulih sirà ka madurà, mulih pandestyane syanu, mtu sirà saking sasak sambhawà, mulih sirà ka sasak sambhawà, mtu sirà saking jro prawu, mulih sirà kka jro prawu, mtu pandestyane saking dùrggà, mulih kità ka dùrggà, mtu kità saking bhùta kàla dngên, mulih kità ka bhùta [16a] kàla dngên, mtu kità saking pamali, mulih kità ka pamali, mtu kità pandestine sakà wetan, mulih kità ka wetan, mtu pandestine sakà kidul, mulih kità ka kidul, mtu pandestine sakà kulon, mulih kità ka kulon, mtu pandestine sakà lor, mulih kità ka hlor, mtu pandestine saking têngah, mulih kità ka têngah, mtu kità ring raghà sarirà, mulih ring raghà sariràne syanu, wruh puh siwàmrêtthi, amañcut tuju bruwàng, tuju rumpuh, tuju bêngong, tuju bêngang, tuju moro, tuju gatêl, tuju banyu, tuju smut, tuju blatuk, tuju bantà, tuju upas, kabañcut bàn sanghyang puh siwàmrêtthi, mtu amañca warnnà, pugpug pandestine punah, [16b] aduh wruh sanghyang puh siwàmrêtthi, amañcut larà roghà ring sariran syanu, wnang kabañcut kapugpug pandestine, janmà manusàne, ONG ANG MANG, wnang sirà sanghyang siwàgêndu, siwàmrêtthi, mamañcut tuju ring raghà, sanghyang prannà raghà, mamañcut tuju ring rambut, mulih ka rambutte syanu, tuju ring karnnà, mulih ring karnnane syanu, tuju ringhal, mulih ring tinghale syanu, tuju ring irung, mulih ring irung nge syanu, tuju maring cangkêm, mulih ring cangkême syanu, tuju mtu ring inêban, mulih ring inêbane syanu, tuju mtu ring hati, mulih ring hatine syanu, tuju mtu ring pupusuh, mulih ring pupusuhe syanu, tuju mtu ring ungsilan, mulih ring ungsilane syanu, tuju mtu ring ampru, mulih ring amprune syanu, tuju mtu ring walung, mulih ring walunge syanu, tuju mtu ring sumsum, mulih ring sumsume syanu, tuju mtu, wnang kabañcut bàn sanghyang [17a] siwàgêndu puh siwàmrêtthi, amañcut malà tuju mañca warnnà, tuju mtu ring pulo mañjêti, mulih ka pulo mañjêti ne syanu, pugpug punah pandestine syanu, tuju mtu ring tundun, mulih ka tundune syanu, tuju mtu ring basang wayah basang ngùddhà, mulih ka basang wayah basang ngùddhà ne syanu, tuju mtu ring limpà, mulih ring limpane syanu, tuju mtu ring daging, mulih ka daginge syanu, tuju mtu ring balung, mulih ka balunge syanu, tuju mtu ring bwa-bwahan, mulih ring bwa-bwahane syanu, pugpug punah, tuju ring cucupu manik, mulih ka cucupu manike syanu, tuju mtu ring tangan suku, mulih ka tangan sukune syanu, kabañcut bàn sanghyang siwàmrêtthi, pugpug gunnà tujune punah, mulih saking tananà, kabañcut kalêbùr punah, tuju mañca warnnà, pugpug punah, 3, ONG ANG MANG, singgah pamali, singgah dngên, si matyà [17b] singgah, malà tuju singgah, roghà kalêbùr malà, phatakà, udug, buyan, sangar, edan,, kalêbùr bàn sanghyang siwàmrêtthi, siwàgêndu, amùjà malà tuju rumpuh, amugpug amunah yà nàma swahà, ONG ANG MANG, siddhi rastu yà nàma swahà.

Nihan pamatuh agùng, sanghyang jagàtnathà, sarana, wnang, mantra, idêp àku sanghyang girinàtha, wùmah aku ring swarggàn, tumurun àku ring madyapadhà, angadêg aku ring akasà, marùpà aku sanghyang dùrgghà, matêngêran aku sanghyang sapuhjagàt, kawisesà dùrgghà kabeh, sapàtandingha ring aku, sakwehing bhùta desti, tuju tluh trañjanà, padhà ngêbhakti yà tken aku, leyak putih anêmbah ring aku, leyak bhàng anêmbah ring aku, leyak kuning anêmbah ring aku, leyak irêng anêmbah ring aku, leyak amañca warnnà nêmbah [18a] ring aku, leyak katon anêmbah ring aku, bhrare bhùta dngên, padhànêmbah ring aku, sakwehing satru musuh padhàngêbhakti yà ring aku, sakwehing krodhà asih tken aku, apan àku marùpà bhatarà girinàtha, lwih aku sakti, ring larà wisyà, alah dening aku, apan àku sanghyang sapuh jagàt, anapuh sakukwehing gunnà satru mawisesà, anapuh anàk krodhà padhà mawisesà, sakwehing sañjatà amati-amti, padhà punah-punah, 3, tkà tan pati aku luput, sakwehing kryà upayàdi, satru musuh kabeh, apan àku sanghyang wisesà, tan kataman satrunku kabeh, ANG, UNG, MANG, 3, jumnêng sanghyang rathih, jumnêng bhatarà dewà, jumnêng bhatarà brahmà, jumnêng bhatarà wisnu, jumnêng bhatarà guru ring tngah, jumnêng sanghyang ekà, sanghyang tuduh, tkà patuh, 3, ANG UNG AH, 3, ONG, sanàhahn [18b], isrìyàwe nàmu nàma siwa yà. Nihàn pamatuh agùng, sarana, tahin bsi, pêndêm den marêpat, ring paduning wumah, we kewasà ring sibuh cmêng, skarurà, ktisang kabeh, ktisang ring karang, mantra, Om nìnì bhatarì dùrggà, ingsun añjaluk pahingkup agùng, pamatuh huluning lêbah galintung, paguyanganing warak, jujut ingsun atakon, sapà arane nìnì bhatarì dùrgghà, kaki bhatarà guru, bhùta irêng aranyà, bhùta kuning, bhùta abàng, bhùta amañca warnnà, padhà mulih ring putihing hati ring pupusuh, ring hati putih, ring ungsilan putih, ring ampru putih, tkà ingkup, 3, bhùta hlaring kalasà silih asih, ring pasuddhen, galangan pangawak kàla gajah mìnnà, lomba-lombà, prêsyu nugà duyung, bhùta lêbah sireng sêndi, bhùta ngalap sireng waton, [19a] bhùta ngloh sireng likah, bhùta jangjang sireng galar, bhùta ngêbah sireng sasakà, bhùta ngarêp ring adêgan, bhùta ngundah sireng tilam, bhùta ngêt sireng cacanden, bhùta nguki sireng tutub, tkà patuh ingkup, 3, bhùta anggàpti, bhùta mrajàpati, bhùta banaspati, bhùta banaspatiràja, bhùta tayab, bhùta janggitan, bhùta wadokàla, bhùta ning kalikà, bhùtaning kaliku, bhùta pela-pelu, bhùta pamala-pamali, bhùta haru-hara, bhùta lindu, bhùta kamutug, bhùta suku tunggal, bhùta añja-añja, bhùtta raregek, bhùta mdhi-mdhi, bhùta tangan-tangan, bhùta waringin sungsang, haywà sirà amrêbheddhà,

iki sangupatintà, DWONGH, bhatarà guru jwang gumine dini, patuhang swarggà sùr-alayane, tkà patuh ingkup, 3, Om prêsaddhà swahà, Om rêsi kundali [19b] mitrê pùjà mayà dewà, Om mrêtthà siwà anggrapah sùryyà candrà lintang trangganà, karapuh de nirà watêk dewata kabeh, sanghyang tunggal manggrapuh mandadi mrêtthà yogyàng, ji, padhà mulih ring arddhàcandrà. ANG MANG UNG, 3, jöng.

Nihan pamatuh agùng, sarana, yeh anyar, mawadah sibuh cmêng, maktis bahan porosan, sasantunya gnêp, jinah, 1700, canang mrakà, jinah, 25, mantra, Om dewà sakti, tumurun maring tngahing gumi, masàmbaddhà tkening pamali, tkà patuh slat sagarà, patuh slat bukit, slat danu, ditu di slat gumi, makà kubonan manginum, dewà padhà dewà, padhà patuh ingkup, 3, bhatarà padhà bhatarà, padhà patuh ingkup, 3, pitra padhà pitrà, padhà patuh ingkup, 3, sàmpulung padhà sàmpulung, padhà patuh ingkup, 3, dngên padhà dngên [20a], padhà patuh ingkup, 3, desti padhà desti, padhà patuh ingkup, 3, papasangan padhà papasangan, padhà patuh ingkup, 3, sakeng sasawangan, umik-umikan, sami padhà patuh ingkup, 3, pakêdek pakênyung panyulingah, macandà manyamà tken àku patuh ingkup, 3, sajà ngko baribin, ring sanak rabhintà, aku manyamà, saling raksà saling êngêhang, saling jagà kita tken àku kabeh, piwkas siddà bhatarà guru, ih pomà saling raksà, nyamane tken àku kabeh, patuh ingkup, manyamà tken àku, êdà êngsap bapàne tunggal, memene tunggal, awak manyamà, ari-arine sakuronan tuwune, patuh igkup, 3, macandà malali barêng rahinà wngi, yà tunggal bàyu sabdà idêp, sapangan inume tkà patuh [20b] ingkup, 3, rumawak tunggal tken àku, ajà lali ingêt êdà nêmbah tken bhataraning bhùmi, ne nyen mandadi bhùta matunggu gumi, ne katut dadi pamali matunggu gumi, piwkas bhatarà guru, awak manyamà, êdà maibukan dini barêng di janmà padhà, ingêtang piwkas bapane bhatarà guru, tkà patuh tkà ingkup, dewà patuh, bhatarà patuh, pitra patuh, patunggal ajà mangapit manyuduk, patuh ingkup, 3, apan magumi tunggal, sapangan inume tunggal, magumi patuh ditu barêng i meme, wkas bhatarà guru, di tngah kangin kawuhe, di tngah kajà klode, tkà patuh ingkup, 3, nyamànkune paling wayah, dadi pamali patuh, ampulung patuh, kumatap-kumitip patuh, sing mahulu masocà makarnnà, mairung macangkêm, matangan masuku, mapungsêd, sing sabagà mapurus, [21a] sing masabdà mabàyu masbakan, yà padhà patuh ingkup, 3, Om siddhi pamatuh hirà bhatarà guru sakti, tkà patuh ingkup, 3.
sumber: Sastra Unud – cakepane.blogspot